Contoh Novel: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan Bagian 10

Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan yang ditulis berdasarkan legenda cerita rakyat terjadinya pesugihan Bulus Jimbung dan Perayaan Syawalan di Waduk Rawa Jombor Klaten

10. GEROMBOLAN PERAMPOK SAPU JAGAT

Kawasan hutan Telaga Watu di lereng Gunung Merapi tampak tenang. Orang-orang tidak akan mengira kalau ketenangan itu menyimpan bara api yang sering membakar pedukuhan-pedukuhan di sekitarnya. Rimbun pepohonan yang sudah berusia ratusan tahun menjadi tempat persembunyian yang rapat, sekaligus  benteng yang kuat yang melindungi penghuninya. Ditambah tanahnya yang berjurang-jurang membuat keberadaan sarang gerombolan perampok itu tidak terlacak prajurit Kerajaan Prambanan. Padahal gerombolan yang dipimpin Ki Sapu Jagat itu sudah sering melakukan pencegatan dan penjarahan iring-iringan para demang yang akan mempersembahkan upeti ke Keraton Prambanan. Bukan itu saja, anak buah Ki Sapu Jagat dalam kelompok-kelompok kecil juga sering melakukan perampokan-perampokan di pedukuhan-pedukuhan sekitarnya. Aksi mereka bahkan sampai jauh melampaui beberapa kademangan. Karena banyaknya kelompok-kelompok perampok anak buah Ki Sapu Jagat, dan jauhnya wilayah operasi mereka, maka adalah hal biasa kalau satu kelompok sampai tidak kelihatan selama tiga sampai empat hari terhitung semenjak mereka pergi meninggalkan sarangnya untuk melakukan perampokan di suatu pedukuhan.
Tetapi kali ini Ki Sapu Jagat merasa kehilangan salah satu kelompoknya yang terbaik yang sudah berkali-kali memberikan hasil rampokan yang terbaik kepadanya. Kelompok yang dipimpin Si Brewok dengan wakilnya Si Botak itu sudah satu pekan lebih terhitung dari saat kepergiannya hingga kini belum kembali. Anak istri mereka sudah berkali-kali datang kepadanya menanyakan keberadaan mereka. Dan ia pun telah memerintahkan anak buahnya yang sering ditugasi sebagai semacam telik sandi untuk melacak keberadaan Si Brewok dan anggota kelompoknya.
”Bagaimana, Ki, sudah satu pekan lebih suami saya pergi belum juga pulang? Jangankan pulang, kabar di mana keberadaan Kang Parto Brewok pun belum juga diketahui,” kata istri Si Brewok mengadukan masalah hilangnya suaminya kepada Ki Sapu Jagat.
”Sabar, Nyai, aku sudah memerintahkan Sukra yang dulu ditugasi untuk madik-madik mencari sasaran yang akan dirampok Parto Brewok dan kawan-kawannya. Kita tunggu saja, dalam satu dua hari ini ia pasti sudah akan melaporkan keberadaan suamimu dan teman-temannya. Aku yakin, suamimu pasti masih hidup dan baik-baik saja, karena suamimu itu termasuk anak buahku yang terbaik, yang kesaktiannya dapat diandalkan. Tidak mudah mencari orang yang dapat mengalahkan suamimu. Jangankan rakyat biasa atau jaga baya pedukuhan, pimpinan laskar pengawal kademangan pun belum tentu dapat mengalahkan suamimu. Jadi Nyai tidak usah khawatir. Tunggu saja di rumah, nanti kalau sudah ada laporan dari Sukra dan kawan-kawannya, aku kabari. Sukur-sukur mereka kembali dengan membawa suamimu dan kawan-kawannya,” ujar Ki sapu Jagat menenangkan istri Si Brewok.
”Kalau begitu, saya permisi pulang dulu, Ki,” kata istri Parto Brewok. Setelah Ki Sapu Jagat menjawab dengan anggukan kepala, ia pun pulang ke pondoknya yang ada di belakang rumah Ki Sapu Jagat.
Meskipun dirinya dapat memberi nasehat kepada istri Parto Brewok untuk bersabar, sambil menunggu kabar dari anak buahnya yang sudah ditugaskan untuk melacak keberadaan Parto Brewok dan kawan-kawannya, sesungguhnyalah hati Ki Sapu Jagat pun gelisah. Ia merasa, kali ini agaknya Parto Brewok dan anak buahnya ketanggor orang yang dapat memberikan perlawanan. Bahkan tidak mustahil saat ini mereka sedang tertawan atau bahkan terbunuh. Memikirkan kemungkinan terakhir ini Ki Sapu Jagat jadi uring-uringan sendiri, ia tidak mau kehilangan anak buahnya yang terbaik.
Hari-hari berjalan amat lambat. Matahari pun bergulir seperti siput yang enggan berjalan. Panasnya membuat gerah orang-orang yang terbakar gelisah di bawahnya. 
 Ki Sapu Jagat duduk dengan gelisah di pendopo rumahnya. Sudah sepuluh hari lamanya Parto Brewok dan kawan-kawannya yang merupakan anak buah kepercayaannya pamit untuk melakukan perampokan. Meraka tidak mengatakan malam hari itu akan merampok ke mana. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka akan beroperasi ke daerah selatan. Mohon diberi doa restu agar mereka berhasil melakukan perampokan dengan membawa hasil banyak harta benda berharga. Tetapi ternyata semenjak itu mereka tak lagi memperlihatkan batang hidungnya.
Biasanya memang di dalam melakukan operasi perampokan anak buahnya tidak tentu dapat pulang hanya dalam waktu satu dua hari saja. Karena sebelumnya mereka harus melakukan pengintaian, mencari kelengahan mereka yang akan dirampok, di samping menentukan sasaran yang paling menguntungkan. Kalau perampokan mendapat perlawanan yang berat, mungkin pelaksanaan perampokan itu sendiri dapat memakan waktu separo malam sampai menjelang pagi.  Setelah berhasil melakukan perampokan, perjalanan pulang dapat memakan waktu setengah hari, karena jauhnya jarak yang ditempuh, ditambah harus mengambil jalan yang sepi yang jarang dilalui patroli prajurit. Biasanya sepulang dari merampok, seharian mereka akan tidur di rumahnya sendiri. Baru pada malam harinya mereka datang menghadap kepadanya untuk melaporkan apa saja yang telah dikerjakan, sekaligus untuk memberikan setoran. Tetapi sampai lebih sepuluh hari ini kelompok Si Brewok belum juga datang menghadap. Apakah mereka gagal melakukan perampokan? Apakah masih ada penduduk yang dapat mempertahankan diri kalau kelompok Si Brewok yang menjadi andalannya sudah melakukan aksi perampokannya?
Ki Sapu Jagat berkali-kali menengok ke arah jalan. Ia berharap Si Sukra yang diperintahkannya untuk melacak keberadaan Si Brewok dan kawan-kawannya, datang menghadap kepadanya. Tapi ini sudah berjam-jam ia duduk di pendopo rumahnya yang menjadi sarang gerombolannya, yang dinanti-nanti tidak juga kunjung memperlihatkan batang hidungnya.
Ketika kebosanan yang sedikit demi sedikit menggerogoti hatinya, bertumpuk-tumpuk hampir membakar habis kesabarannya, kira-kira pukul tiga sore, Sukra yang ditunggu-tunggu pun datang dengan tergopoh-gopoh menghadap Ki Sapu Jagat. Di belakang Sukra mengikut beberapa orang anggota gerombolan perampok yang juga ingin mendengar kabar keberadaan kawan-kawannya dari orang pertama yang telah ditugasi melacak. Tidak sabar ingin segera mendengar kabar yang dibawa anak buahnya, pimpinan gerombolan perampok yang jarang turun gunung sendiri itu berdiri menyongsong kehadiran Sukra.
”Lama sekali! Ke mana saja kamu melacak keberadaan Si Brewok dan kawan-kawannya, Sukra?” tanya Ki Sapu Jagat.
”Maafkan saya, Ki! Perjalan saya cukup jauh, panjang dan melelahkan, Ki, jadi saya tidak dapat segera memberi laporan ke mari,” jawab Sukra.
”Duduklah, lalu ceritakan apa yang kamu ketahui tentang keberadaan Si Brewok dan kawan-kawannya!,” perintah Ki Sapu Jagat sambil duduk di tengah pendopo.
Sukra dan kawan-kawannya duduk di hadapan pimpinannya.
”Minumlah dulu untuk menghilangkan dahagamu, agar kamu lancar bercerita!” perintah Ki Sapu Jagat sambil menyodorkan kendi kepada Sukra.
Sukra menerima kendi lalu membasahi tenggorokannya dengan air putih yang keluar dari moncong kendi. Terasa dingin dan segar air itu menggelontor tenggorokannya lalu masuk ke dalam perutnya.
”Sekarang ceritakan apa yang kamu lihat dan kamu dengar tentang keberadaan Parto Brewok dan kawan-kawannya!” perintah Ki Sapu jagat lagi.
”Baik, Ki. Sebagaimana informasi terakhir yang telah saya berikan kepada Parto Brewok  dan kawan-kawan sebelum mereka berangkat untuk merampok, saya telah mendatangi beberapa tempat. Pertama saya mendatangi pedukuhan di sekitar hutan Jala Tunda. Tidak ada kabar apa-apa di sana. Saya lalu ke daerah sekitar Peukuhan Karangwuni. Di sana pun tidak terdengar adanya perampokan yang dilakukan Parto Brewok. Saya lalu ke Pedukuhan Kalikebo. Di sana juga tidak terlacak keberadaan Parto Brewok. Saya lalu ke Pedukuhan Jotangan. Di sini saya mendengar adanya latihan perang-perangan di bawah Gunung Butak. Karena tertarik saya lalu menuju tempat itu melalui celah Gunung Tugel. Ternyata benar, di Pedukuhan Jiwan di bawah Gunung Butak banyak orang sedang melakukan latihan perang-perangan. Dari masyarakat setempat saya mendapat informasi kalau latihan perang-perangan itu sebagai persiapan menghadapi serangan balasan dari gerombolan perampok Sapu jagat....”
”Kurang ajar! Orang-orang pedukuhan sudah berani menantang gerombolan perampok sapu Jagat?!” sahut Ki Sapu Jagat marah. ”Lalu apa maksudnya mereka mempersiapkan diri menghadapi serangan balasan gerombolan kita?” tanya Ki sapu Jagat minta penjelasan lebih lanjut.
”Inilah, Ki, kabar penting yang akan saya sampaikan. Ternyata kelompok Parto  Brewok telah melakukan perampokan di Pedukuhan Jiwan. Tak ada perlawanan berarti dari penduduk. Tetapi ketika akan pulang mereka berpapasan dengan dua orang pengembara. Parto Brewok bermaksud merampas kuda-kuda mereka yang tampak gagah-gagah. Terjadi pertempran lima kawan kita melawan dua orang pengembara tersebut. Ternyata dua orang pengembara itu, terutama yang muda, mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi.” Sukra menghela nafas panjang. Raut mukanya menunjukkan kesedihan. Hal ini menarik perhatian Ki Sapu Jagat dan anak buahnya yang hadir di situ. Ketika Ki Sapu Jagat akan meminta penjelasan lebih lanjut, terdengar Sukra pelan melanjutkan laporannya, ”Kawan kita, Tugiyo Krempeng mati terbunuh oleh pemuda pengembara itu. Sedangkan empat orang yang lainnya kehabisan tenaga, tak berdaya, lalu dapat mereka tangkap.”
”Babo-babo! Jadi Si Brewok dan kawan-kawannya sekarang ditawan di Pedukuhan Jiwan?” tanya Ki Sapu Jagat tak sabar. Anak buah Ki Sapu jagat yang ada di tempat itu pun menjadi gusar dan marah.
”Tidak, Ki”
”Tidak, bagaimana? Tadi kamu katakan mereka tertangkap pemuda pengembara di Pedukuhan Jiwan. Kenapa kamu katakan mereka tidak ditawan di sana? Apakah mereka telah mereka bunuh sebagai hukuman? Bicara yang jelas!” selidik Ki sapu Jagat agak membentak.
Sukra agak ketakutan mengetahui reaksi pimpinannya yang mulai memperlihatkan sifat aslinya, berangasan. Kawan-kawannya juga menunduk semakin dalam, ketakutan.
”Sabar, Ki, biarkan saya melanjutkan laporan saya dulu. Yang terang, kawan-kawan kita yang tertangkap itu sampai saat ini masih hidup,” kata Sukra menyabarkan pimpinannya.
Ki Sapu Jagat mengelus dada, menyabarkan diri, lalu ganti mengelus kumisnya. Situasi ini membuat Sukra kembali berani melanjutkan ceritanya.
”Setelah saya selidiki lebih lanjut dengan menanyakan sana-sani kepada penduduk Pedukuhan Jiwan, saya mendapat informasi kalau kawan-kawan kita itu telah diserahkan ke Kademangan Wanabaya untuk mendapat pengadilan,” kata Sukra kemudian.
”Jadi saat ini Si Brewok dan kawan-kawannya ditahan di Kademangan Wanabaya?” tanya Ki sapu Jagat minta ketegasan.
”Begitulah, Ki, yang saya dengar dari penduduk.”
”Terus kamu tidak mencoba melacak ke sana, apakah Si Brewok hanya ditahan saja, ataukah sudah dihukum mati, atau diserahkan ke Keraton Prambanan untuk ditahan atau dihukum di sana?”
”Sudah, Ki. Memang ada rencana Si Brewok itu akan diserahkan ke Kraton Prambanan malam ini, untuk dimintakan pengadilan di sana. Karena Ki Demang takut memberikan hukuman kepada Si Brewok dan yang lainnya. Mereka takut mendapat balasan dari kita. Mungkin juga di Keraton Prambanan, mereka akan dimintai keterangan dan petunjuk untuk menemukan markas kita, agar para prajurit Prambanan dapat menggulung gerombolan kita. Rencananya mereka akan dibawa memakai dua buah kereta kuda, diiringi beberapa orang pengawal kademangan mengendarai kuda.”
Ki Sapu Jagat nampak gelisah. Ia berdiri lalu berjalan mondar-mandir di pendopo rumahnya itu. Ada kekhawatiran yang besar menyergap perasaannya.
“Gawat! Ini sungguh gawat! Bisa habis kita! Sukra, dan kalian semua! Kumpulkan semua kawan-kawan kita di pendopo ini sekarang juga! Ki Sapu Jagat amat sangat mengharapkan kehadiran mereka segera!” perintah Ki Sapu Jagat.
“Baik, Ki, perintah akan kami laksanakan sekarang juga,” jawab Sukra dan kawan-kawannya serentak. Mereka lalu permisi keluar untuk melaksanakan perintah pimpinannya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan anak buah Ki Sapu Jagat. Sebentar saja lima puluh orang laki-laki berwajah sangar dan sepuluh orang berwajah sedikit halus telah berkumpul di pendopo rumah Ki Sapu Jagat. Lima puluh orang  berwajah sangar dengan postur tubuh beraneka, ada yang tinggi besar, ada yang tambun, ada yang kerempeng, adalah kelompok pasukan perampok yang tugasnya melakukan perampokan di pedukuhan-pedukuhan atau pencegatan di jalan-jalan. Kebanyakan mereka sengaja membiarkan rambut yang ada di tubuhnya tumbuh semaunya, termasuk yang tumbuh di wajahnya, agar nampak sangar dan menakutkan para korbannya. Tingkah laku mereka pun menunjukkan kebiasaan-kebiasaan yang aneh-aneh. Ada yang suka menggerak-gerakkan kepalanya miring ke kiri atau ke kanan, sampai terdengar seperti suara otot-otot leher tertarik, ada yang suka menekuk-nekuk buku-buku jari tangan sehingga mengeluarkan suara keras. Ada pula yang suka memicing-micingkan sebelah mata, atau mengembang-kempiskan cuping hidungnya, atau kebiasaan-kebiasaan lain yang tidak biasa dilakukan orang biasa, sehingga terkesan menjijikkan atau menakutkan. 
Sedangkan sepuluh orang yang berwajah sedikit halus, cenderung seperti warga pedusunan biasa, adalah kelompok mata-mata yang tugasnya madik-madik, mengumpulkan informasi  di mana ada pedukuhan yang baru saja memanen padinya, atau orang-orang yang baru saja mendapat untung besar dari perdagangannya, atau jalan mana yang sering dilalui para saudagar besar tetapi jarang dilalui prajurit patroli, untuk dapat dirampok. Dalam menjalankan tugasnya mereka sering menyamar sebagai pedagang keliling, yang menjual barang-barang keperluan rumah tangga dari kota yang dibutuhkan masyarakat desa. Meskipun mereka tidak pernah melakukan perampokan, tetapi berkat informasi yang diberikannya kawan-kawannya yang melakukan perampokan dengan mudah akan mendapatkan sasaran. Sehingga dari hasil rampokan yang diperoleh, para mata-mata ini juga mendapat bagian yang cukup besar.
Meskipun tidak melakukan perampokan tugas mereka juga mengandung resiko yang cukup berbahaya, apalagi mereka sering bertugas sendirian atau berdua saja, maka mereka pun dibekali ilmu bela diri yang memadai. Selain ilmu bela diri untuk melawan bahaya yang datang, mereka juga dibekali cara-cara menghindari bentrokan, cara-cara melarikan diri, cara-cara menyamar, berbagai logat bicara, sampai cara bunuh diri untuk menghindari pemerasan informasi untuk membocorkan rahasia markas gerombolan dan kekuatannya, apabila mereka tertangkap dan tidak mungkin dapat melarikan diri. Untuk melakukan tugas yang berbahaya ini mereka telah disumpah setia oleh pimpinan gerombolan, yaitu Ki Sapu Jagat yang mereka anggap mempunyai kesaktian tak tertandingi.
Enam puluh orang anak buah Ki Sapu Jagat sudah berkumpul di pendopo, siap menerima perintah pimpinannya. Ki Sapu Jagat duduk di hadapan mereka, menyapukan pandangan ke anak buahnya. Nampak dari sorot mata dan raut wajahnya, pimpinan perampok itu memendam  dendam sekaligus kekhawatiran. Ki Sapu Jagat memandangi anak buahnya satu persatu untuk memastikan siapa yang hadir dan siapa yang belum hadir. Setelah diketahuinya semua sudah lengkap berkumpul, pimpinan gerombolan perampok lereng Gunung Merapi itu pun mulai menyatakan maksudnya mengumpulkan anak buahnya secara mendadak.
“Anak-anak semua, dengarkanlah perintahku! Sukra sudah datang membawa kabar bahwa Parto Brewok dan kawan-kawannya telah tertangkap ketika mereka merampok di Pedukuhan Jiwan. Bahkan kawan kita Tugiyo Krempeng sudah mati terbunuh dalam perampokan itu. Saat ini Parto Brewok dan kawan-kawannya yang masih hidup ditawan di Kademangan Wanabaya. Yang lebih gawat lagi, rencananya mereka akan diserahkan ke Keraton Prambanan! Ada kemungkinan mereka akan dihukum mati setelah sebelumnya akan diperas informasi dari mulut mereka mengenai letak dan kekuatan markas kita ini,” ujar Ki Sapu Jagat.
”Kalau kawan-kawan kita itu tak kuat menanggung siksaan para prajurit yang ditugaskan memeras informasi dari kawan-kawan kita, lalu mereka membocorkan seluruh rahasia kita, termasuk kelemahan-kelemahan kita, bisa habis kita. Mereka akan menggulung dan meghancurkan kita. Kalau cuma laskar pengawal kademangan, jaga baya atau pengawal pedukuhan, kita tidak pernah takut. Tetapi kalau para prajurit dan senopati perang yang sakti-sakti, yang piawai dalam mengatur strategi perang, kita mungkin tidak berdaya menghadapi mereka. Kita memang sudah terbiasa berkelahi dan membunuh musuh dengan pedang kita. Tetapi itu adalah pertempuran dalam sekala kecil. Kita berlima atau paling banyak bersepuluh menghadapi penduduk pedukuhan yang tidak biasa berperang. Untuk menghadapi ratusan prajurit terlatih dengan strategi perang jitu, kita belum siap. Gerombolan kita ini memang hanya kita persiapkan untuk melakukan perampokan kepada penduduk dan pedagang, bukan untuk melakukan pemberontakan, jadi kita belum siap untuk melawan para prajurit dalam jumlah besar,” ujar Ki Sapu Jagat.
”Jadi harus terus kita usahakan agar tempat persembunyian kita ini tetap tidak diketahui pihak Kraton Prambanan. Oleh karena itu, Parto Brewok dan kawan-kawanya harus segera kita rebut. Jangan sampai jatuh ke tangan prajurit Prambanan, agar mereka tidak terpaksa membuka rahasia yang berkaitan dengan keberadaan gerombolan kita. Bagaimana, kalian semua sanggup?” tanya Ki Sapu Jagat.
”Sanggup!!!!” jawab mereka serentak.
Seiring dengan gemuruh teriakan mereka yang membahana, hati mereka pun bergemuruh dengan semangat untuk mempertahankan hidup mereka. Kemudian mereka menggeram. Tetapi meskipun gigi-gigi mereka gemeretak menunjukkan kemarahan,  sebenarnya ada rasa gentar dalam suara geraman mereka. Mereka takut kalau Parto Brewok dan kawan-kawannya sampai membuka rahasia tempat persembunyian mereka yang sebenarnya tidak jauh dari Keraton Prambanan. Hanya karena jalan yang harus dilalui melewati medan yang sulit dan tempat persembunyian mereka yang benar-benar tersembunyi, sampai saat ini para prajurit itu belum dapat menemukan sarang mereka. Atau mungkin karena keberadaan mereka belum dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan para penguasa Prambanan, maka mereka tidak perlu memerintahkan para prajuritnya susah-susah mencari sarang mereka. Entahlah.
Di anatara anak buah Ki Sapu Jagat ada juga yang menyesalkan kenapa Parto Brewok dan kawan-kawannya sampai dapat tertangkap, padahal lima orang kelompok Parto Brewok adalah kelompok terbaik dalam barisan perampok anak buah KI Sapu Jagat.
”Kita tidak perlu menyesali kenapa Parto Brewok dan kawan-kawannya sampai dapat tertangkap. Bahkan kenapa Tugiyo Krempeng sampai dapat terbunuh. Itu memang sudah menjadi resiko yang mungkin dialami setiap perampok yang melaksanakan aksinya. Bahkan resiko itu pun mungkin saja dialami kita yang sedang enak-enaknya tidur di rumah, kalau terjadi penggerebegan tiba-tiba. Jadi tidak perlu menyesalkan apa yang sudah terjadi. Yang penting sekarang, bagaimana caranya agar Parto Brewok dan kawan-kawannya dapat kita bebaskan, sebelum mereka diserahkan ke Kraton Prambanan. Aku yakin, selama mereka masih ditahan di Kademangan Wanabaya, tidak ada yang berani memaksa Parto Brewok dan kawan-kawannya buka mulut. Apalagi saat ini lima orang pengawal Kademangan Wanabaya sedang berada di Pedukuhan Jiwan untuk melatih ilmu kanuragan warga pedukuhan yang akan menghadapi kita,” ujar Ki Sapu Jagat. Sambil tersenyum ia pun melanjutkan, ”Lucu bukan, lima tikus sawah dikirim untuk melatih para cecurut untuk menghadapi kita si macan garong?! Padahal mereka menawan macan garong yang sewaktu-waktu dapat menjebol krangkeng dan memangsa semua penghuni kademangan!”
Ki Sapu Jagat berhenti sejenak. Tenggorokannya terasa kering. Ia meraih kendi di sampingnya. Dibasahinya tenggorokannya dengan air dingin yang keluar dari moncong kendi itu.
”Sekarang yang paling penting, yang terlebih dahulu harus kita laksanakan adalah bagaimana caranya kita membebaskan Parto Brewok dan kawan-kawannya yang dipenjara di Kademanagan Wanabaya. Bukan hanya karena mereka itu kawan-kawan kita, bahkan yang terbaik di antara kalian, tetapi yang lebih penting lagi adalah agar rahasia tempat persembunyian kita ini tidak terbongkar di hadapan para prajurit Keraton Prambanan. Sehingga keberadaan kita tetap aman-aman saja. Sedangkan serangan balasan untuk menghukum warga Pedukuhan Jiwan dan sekitarnya yang katanya sekarang ini sedang giat berlatih perang-perangan untuk menghadapi kita, kita pikirkan kemudian. Itu masalah kecil! Tidak mungkin cecurut-cecurut itu dalam waktu singkat akan menjelma menjadi macan gembong, meskipun yang melatih gajah dan cadak, apalagi yang melatih hanya tikus sawah!” ujar Ki sapu Jagat. Kemudian ia memandangi anak buahnya satu per satu, ingin mengetahui apa pendapat mereka.
”Sekarang aku ingin tahu apa pendapat kalian?”
”Setuju, Ki, kita bebaskan dulu Kang Parto Brewok dan kawan-kawan. Lalu, kapan kita akan mengadakan penyerbuan?” tanya salah seorang anak buah Ki Sapu jagat yang berpostur tinggi kurus.
”Menurut informasi yang berhasil didengar Sukro, Parto Brewok dan kawan-kawan akan dikirim ke Kraton Prambanan malam ini, dengan mengendarai dua buah kereta kuda. Nah, bagaimana kalau kita adakan penyergapan di sungai pasir Pandansimping?”
”Setuju, Ki, kita adakan penyergapan di jalan menuju Prambanan. Untuk itu mulai petang nanti kita harus sudah ada di sekitar sungai pasir Pandansimping, mencari persembunyian untuk melakukan penyergapan secara tiba-tiba,” jawab Si Tinggi Kurus.
   ”Kenapa harus secara sembunyi-sembunyi? Secara terang-terangan pun kita tidak mungkin dikalahkan para pengawal kademangan yang ilmu bela dirinya masih rendah itu,” sahut anak buah Ki Sapu Jagat yang berpostur tubuh gendut. Mungkin ia khawatir akan kesulitan untuk menyembunyikan tubuhnya yang gendut akalau harus menghadang dengan cara sembunyi-sembunyi.
”Kamu jangan jumawa, nDut! Mungkin sikap seperti ini yang cenderung meremehkan lawan, yang menyebabkan Parto Brewok dan kawan-kawannya dapat dikalahkan sampai tertangkap. Kita tidak tahu, apakah di antara iring-iringan orang yang mengawal Parto Brewok dan kawan-kawan nanti ada juga prajurit atau bahkan senopati  dari Prambanan yang sengaja dikirim untuk menjemput tawanan. Jadi sikap hati-hati tetap harus kita jaga. Mengerti kamu, nDut?” ujar Ki sapu Jagat memperingatkan Si Gendut.
Si Gendut menunduk malu. ”Mengerti, Ki, saya mengaku salah.”
”Kalau begitu sekarang kalian pulang dulu, pamitan kepada anak – istri. Lalu persiapkan senjata kalian masing-masing. Makan secukupnya. Setelah matahari tenggelam nanti kita berangkat ke sungai pasir Pandansimping, mudah-mudahan kita tidak terlambat sampai di sana. Oh ya, aku tugaskan Sukra dan Polo memata-matai perjalanan iring-iringan yang akan membawa para tawanan dari Kademangan Wanabaya ke Keraton Prambanan. Kalau sudah dekat dengan persembunyian kita di sekitar sungai pasir Pandansimping beri kode dengan suara burung kolik bersahut-sahutan dengan suara burung tuhu. Kami akan melakukan penyergapan pada saat kode kalian terdengar semakin gencar. Kalian aku perbolehkan berangkat lewat jalur lain, yang terdekat ke arah Kademangan Wanabaya,” perintah Ki Sapu Jagat.
”Baik, Ki, kami akan segera berkemas untuk berangkat ke Kademangan Wanabaya,” jawab Sukra dan Polo bersama.
Anak buah Ki Sapu Jagat bubar kembali ke rumah mereka masing-masing. Setelah berpamitan kepada keluarga mereka sendiri-sendiri, lalu makan dan mempersiapkan senjata mereka masing-masing, di keremangan senja setelah matahari mulai tenggelam di peraduannya, mereka mengendarai kuda menuju tempat yang sudah disepakati. Lepas dari kawasan hutan, memasuki pedukuhan, agar tidak menarik perhatian warga yang dilewati, mereka sengaja mengambil jarak satu sama lainnya, atau melewati jalan yang berbeda-beda. Yang penting mereka nanti akan bertemu di satu titik yang sudah direncanakan, yaitu di   sungai pasir Pandansimping di pinggir jalan menuju Prambanan.
Sampai di tempat yang dituju, mereka segera bersembunyi mengambil posisi di utara dan selatan jembatan, di sebelah barat dan timur sungai pasir. Dalam persembunyian, kesabaran mereka diuji diantara dengungan nyamuk yang sesekali menggigit tubuhnya  dan sepinya malam yang hanya dihiasi nyanyian belalang di balik rimbun pepohonan.
***
Sukra dan Polo yang ditugaskan memata-matai perjalanan iring-iringan laskar pengawal Kademangan Wanabaya yang membawa tawanan Si Brewok dan kawan-kawannya sudah sampai di pinggir jalan menuju Prambanan di wilayah Kademangan Wanabaya. Mereka lalu bersembunyi di balik gerumbul yang ada di mulut jalan arah dari Kademangan Wanabaya. Kuda mereka disembunyikan agak jauh dari tepi jalan, setelah sebelumnya dicekoki dengan ramuan yang dapat membuatnya berhenti meringkik untuk sementara waktu.
Seperti yang telah direncanakan, tak lama kemudian, setelah kentongan di Kademangan dipukul sembilan kali, tanda waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, iring-iringan pembawa tawanan berbahaya itu pun berangkat dari halaman Kademangan Wanabaya. Sengaja mereka memilih waktu malam hari, ketika orang-orang sudah tidak berlalu-lalang di jalan, agar tidak menarik perhatian orang. Mereka khawatir kalau sampai perjalanannya diketahui mata-mata gerombolan perampok Sapu Jagat. Lalu mata-mata itu mengabarkan kepada pimpinannya yang lalu melakukan pencegatan bersama anak buahnya, mungkin mereka tidak akan mampu mengahadapinya. Maka mereka melakukan perjalanan yang berbahaya ini pada malam hari agar dapat selamat sampai tujuan.
Meskipun begitu, mereka masih mengkhawatirkan keselamatan para pengawal yang mengawal para tawanan ini. Untuk itu mereka telah meminta penjemputan beberapa prajurit untuk mengawal perjalanan para perampok yang sudah tertawan ini. Empat orang prajurit terlatih dan seorang senopati telah dikirim dari Keraton Prambanan untuk melaksanakan tugas ini. Dua orang prajurit dan seorang senopati bertugas di depan, bersama tiga orang pengawal Kademangan Wanabaya bertindak sebagai penyapu. Siap menghadapi bahaya yang datang dari arah depan. Dua orang prajurit di belakang bersama beberapa orang pengawal kademangan mengawal di belakang, berjaga-jaga kalau ada serangan dari belakang. 
Iring-iringan yang mengangkut tawanan Si Brewok dan kawan-kawan itu mulai memasuki jalur jalan menuju ke Kraton Prambanan. Di depan sekali naik kuda adalah prajurit Prambanan berpangkat senopati, yang ditugaskan melakukan penjemputan. Di belakangnya, berkuda dua orang prajurit Prambanan dan berjalan kaki tiga orang pengawal Kademangan Wababaya. Di belakangnya adalah dua buah pedati yang masing-masing dihela dua ekor sapi yang besar-besar dan kuat. Dua buah pedati yang masing-masing membawa dua orang perampok itu berjalan beriringan. Yang di depan, membawa Si Brewok dan  Si Tambun duduk saling memunggungi. Kedua tangan mereka diikat di belakang menjadi satu dengan ikatan yang kuat. Kedua kaki mereka pun diikat agar tidak dapat berulah untuk menggagalkan perjalanan yang mungkin akan mejadi jalan untuk menggulung gerombolan mereka. 
Selain kusir pedati dan para tawanan, di dalam pedati itu juga ada seorang pengawal di depan dan dua orang pengawal di belakang. Para pengawal itu siap dengan senjata terhunus, berjaga-jaga kalau para tawanan tersebut berulah untuk melepaskan diri.
Demikian pula pada pedati yang di belakang. Si Bongkok dan Si Tambun duduk saling membelakangi dengan kedua tangan diikat di belakang menjadi satu ikatan. Masing-masing dengan kedua kaki diikat. Dijaga seorang pengawal di depan bersama kusir pedati, dan dua orang pengawal di belakang siap dengan senjata terhunus. Dua orang prajurit Prambanan berkuda dan tiga orang pengawal berjalan di depan pedati.
Di samping pedati, masing-masing dijaga empat orang pengawal berjalan di kanan kiri pedati, berjajar muka belakang. Di belakang masing-masing pedati dijaga enam orang pengawal, siap menjaga segala kemungkinan yang datang dari arah belakang.
Iring-iringan itu berjalan cepat melewati jalan besar menuju Prambanan, melalui bulak-bulak panjang yang di kanan kirinya masih jarang dihuni penduduk. Bunyi kelonthong (genta) di leher-leher sapi penarik pedati terdengar nyaring dan teratur di tengah-tengah kesunyian malam yang menyelimuti sepanjang perjalanan. Udara dingin yang ditaburkan angin malam yang bertiup lembut menggigiti kulit yang sedang melakukan perjalanan malam. Sampai beberapa ratus tombak perjalanan mereka tidak memnemui kendala sesuatu apa pun. Perjalanan mereka lancar dan aman-aman saja. Tidak seperti yang semula mereka khawatirkan, ternyata sampai melewati beberapa pedukuhan perjalanan mereka aman-aman saja. Kalau tahu seperti ini, mestinya persiapan tidak harus dibuat bertele-tele, pikir mereka Dibuat gampang saja. Nyatanya tidak ada apa-apa. Tidak seperti yang dikhawatirkan. Mendapat pikiran seperti itu, maka para pengawal itu lalu mengurai ketegangan, mengendorkan syaraf-syarafnya.
Pendapat seperti itu, yang telah merasuki semua pengawal, ternyata mengurangi kewaspadaan mereka. Iring-iringan pedati yang semula saling berdekatan merupakan satu kesatuan, kini melonggar. Mereka membentuk dua iring-iringan yang berjarak satu sama lainnya. Mereka tidak menyadri adanya bahaya yang mengintai dari balik gerumbul di tepi-tepi jalan.
Semakin dekat dengan sungai pasir Pandansimping, bunyi burung kolik dan burung tuhu bersahutan mulai terdengar. Suara burung malam yang seolah seperti mengikuti perjalanan iring-iringan pembawa tawanan itu tidak membangunkan  kewaspadaan para pengawal yang sudah telanjur mengendor santai. Keadaan tenang dan aman-aman saja sepanjang perjalanan yang telah dilalui menumpulkan naluri keprajuritan yang biasanya peka terhadap segala sesuatu yang nampak aneh tidak biasanya. Jarak antara rombongan pedati yang membawa tawanan Si Brewok dan Si Tambun semakin jauh dengan rombongan pedati yang membawa tawanan Si Bongkok dan Si Botak. Mereka berjalan dengan santainya tanpa mewaspadai gerumbul tepi-tepi jalan yang kelihatan bergerak-gerak. Mereka juga tidak mendengar adanya suara sepatu kuda di belakang mengikuti perjalanan mereka, biar pun hanya pelan.
***
Mendengar suara burung kolik dan suara burung tuhu berashut-sahutan, Ki Sapu Jagat segera memberikan perintah bersiap-siap kepada anak buahnya. Sesuai rencana yang telah disusun, mereka bersiap di sebelah barat jembatan dan di sebelah timur jemabatan di kanan kiri jalan. Ada yang menggenggam senjata berupa tombak, pedang, golok, maupun keris. Ada yang sudah ditugaskan untuk melakukan penyergapan, membunuh para kusir pedati dalam sekali lemparan tombak, ada pula yang ditugaskan membebaskan para tawanan. Ketika suara burung kolik dan suara burung tuhu makin gencar terdengar di sela-sela suara kelontong yang dikalungkan di leher sapi, para perampok siap meloncat ke tengah jalan, tinggal menunggu aba-aba dari pemimpinnya.
***
Sementara itu iring-iringan prajurit Prambanan dan para pengawal kademangan itu masih belum menyadari adanya bahaya yang mengintai. Mereka masih berjalan dengan santainya. Maka ketika dekat jembatan sungai pasir Pandansimping bunyi burung kolik dan burung tuhu itu bersahut-sahutan semakin gencar, para pengawal itu belum menyadari  situasi. Lalu ketika salah satu pedati yang mengangkut tawanan sudah melewati jembatan Pandansimping, tiba-tiba terdengar desingan tombak mengarah ke kusir pedati yang langsung menewaskan kusir yang malang itu, mereka baru sadar. Dengan sorak sorai membahana, dari balik gerumbul-gerumbul di sepanjang jalan sekitar jembatan sungai pasir Pandansimping bermunculan orang-orang berpakaian hitam-hitam dengan senjata telanjang di tangan, langsung mengepung mereka. Hanya dalam waktu sekejap mereka sudah terkepung. Ada dua kepungan, satu gerombolan perampok bersenjata dengan jumlah tak kurang dari dua puluh orang mengepung rombongan pedati yang membawa tawanan Si Brewok dan Si Tambun, yang posisinya ada di sebelah barat jembatan. Satu gerombolan perampok lagi yang berjumlah lebih dari dua puluh orang pula mengepung rombongan pedati yang membawa tawanan Si Bongkok dan Si Botak, yang posisinya ada di sebelah timur jembatan.
Kemudian Ki Sapu Jagat, pimpinan gerombolan perampok itu meloncat ke tengah-tengah jembatan yang letaknya lebih tinggi dari tanah di sekitarnya. Setelah memperdengarkan tawanya yang seolah memekakkan telinga karena dilambari tenaga dalam yang kuat, pimpinan perampok itu berteriak lantang melontarkan ancaman, ”Aku peringatkan! Kalian berhadapan dengan gerombolan perampok pimpinan Ki Sapu Jagat, yang langsung dipimpin Ki Sapu Jagat sendiri. Jumlah kami berlipat-lipat dibanding jumlah kalian. Aku minta baik-baik, lepaskan anak buahku, Si Brewok dan kawan-kawannya! Kalian akan aku ampuni setelah meninggalkan semua yang kalian bawa, termasuk kuda, pedati, dan sejata-senjata kalian. Kalian boleh kembali ke Kademangan hanya dengan berjalan kaki dan memakai pakaian kalian saja, tanpa perhiasan, senjata dan kuda-kuda kalian. Ini adalah pembebasan tawanan sekaligus perampokan!”
Para pengawal Kademangan Wanabaya yang merasa terjebak di sarang macan gemetaran. Kaki-kaki mereka gemetar seolah tidak kuat menopang tubuh mereka. Otot-otot dan persendian mereka serasa lumpuh tak berdaya. Tangan mereka yang memegang senjata mengeluarkan keringat dingin, sehingga hulu senjata itu terasa menjadi licin seperti akan terlepas. Tiga orang prajurit Prambanan yang ditugaskan melakukan penjemputan para tawanan menyadari posisinya yang terjepit. Ia berhitung, memang kekuatan mereka tidak berimbang. Kekuatan musuh jauh lebih kuat, selain lebih banyak juga lebih menang pengalaman dalam bertempur. Apalagi gertakan pimpinan perampok tadi telah meruntuhkan nyali para pengawal Kademangan Wanabaya yang menyertainya. Tetapi tiga orang prajurit yang sudah digembleng lahir dan batinnya sebagai prajurit yang tangguh ini tidak mau menyerah begitu saja. Mereka merasa bertanggung jawab untuk membawa para tawanan sampai ke penjara Keraton Prambanan. Oleh karena itu mereka merasa perlu memompa semangat juang para pengawal Kademangan yang sudah telanjur melempem.
Senopati Prambanan yang berada di ujung barisan para pengawal yang membawa Si Brewok dan Si Tambun yang merupakan pemimpin prajurit penjemput itu maju mendekati Ki Sapu Jagat. Kemudian ia pun berteriak menjawab kata-kata Ki Sapu Jagat, sekaligus berusaha memompa semangat tempur para pengawal Kademangan Wanabaya yang menyertainya, ”Ki Sapu Jagat, kami para prajurit Prambanan dan para pengawal Kademangan Wanabaya adalah para laki-laki dan prajurit. Kami diberi kepercayaan mengawal para tawanan, berarti kami adalah orang-orang terpilih yang dipandang mampu untuk melaksanakan tugas ini. Sebagai seorang prajurit dan pengawal yang dipercaya, kami akan melaksanakan tugas kami dengan sekuat tenaga. Kami akan membabat semua aral melintang yang menghadang, dan kami akan mempertahankan semua yang menjadi tanggung jawab kami sampai titik darah penghabisan. Para tawanan adalah tanggung jawab kami, sampai kami mengantarkannya di hadapan Gusti Prabu di Prambanan. Kami akan tunaikan tugas ini dengan penuh tanggung jawab. Tak ada yang bisa menghalangi kami karena kami tidak takut mati. Bagi seorang prajurit, termasuk juga bagi seorang pengawal Kademangan, mati dalam menjalankan tugas adalah kematian yang mulia. Gugur dalam menjalankan tugas bagi seorang prajurit adalah bagian dari pilihan hidup kami, kematian seorang pahlawan, yang akan mendapat balasan di alam sana. Jadi aku, Senopati Gagak Jingga, beserta dua orang prajurit kawanku dan para pengawal Kademangan Wanabaya, tidak akan melepaskan para tawanan. Si Brewok dan kawan-kawannya sangat berguna bagi kami. Apabila Ki Sapu Jagat ingin melepaskan mereka, silakan langkahi dulu mayat kami!”
Mendengar kata-kata Senopati Gagak Jingga itu merah padam muka Ki Sapu Jagat dan anak buahnya. Rasa-rasanya mereka ingin segera membungkam mulut yang terus nerocos mengeluarkan kata-kata yang bernada menantang itu. Tapi di telinga para prajurit dan para pengawal Kademangan Wanabaya yang bersama-sama mengawal para tawanan, kata-kata itu bagaikan tambahan aliran minyak tanah ke dalam obor yang hampir padam karena kehabisan minyak. Kini keberanian dan semangat tempur mereka menyala kembali.
”Keparat! Kalian Senopati Gagak Jingga, para prajurit Prambanan dan para pengawal kademangan tak tahu diri! Lihatlah, jumlah kalian kalah banyak! Belum lagi kemampuan tempur dan pengalaman tempur kalian. Aku yakin, kemampuan kalian dalam bertempur hanya pantas untuk menakut-nakuti para pencuri kecil, para pencuri kampung yang bisanya hanya lari bersembunyi. Tentu tidak untuk menghadapi kami, para perampok yang sudah biasa mencegat para pedagang besar yang dikawal para pendekar, atau para prajurit yang mengawal utusan raja bawahan yang akan mengirim upeti kepada raja. Pikirkan dulu, kalau kalian akan melawan kami!” gertak Ki Sapu Jagat.
Para pengawal Kademangan Wanabaya itu kembali turun nyalinya. Mereka adalah para pengawal yang belum teruji kemampuan tempurnya. Mereka menyadari kelemahan mereka. Pengalaman tempur mereka memang kurang, karena biasanya mereka hanya bertugas menjaga keamanan wilayah kademangan, dan sesekali latihan perang-perangan untuk meningkatkan kemampuan tempur mereka. Untuk bertempur yang sesuangguhnya, biarpun hanya melawan kawanan perampok, mereka hampir tidak pernah. Tapi sebelum keberanian para pengawal itu turun kembali sampai ke titik terendah, Senopati Gagak Jingga kembali memompa keberanian dan semangat tempur para pengawal yang kelihatan mbleret (turun voltasenya) kembali.
”Kawan-kawan jangan takut gertakan mereka! Kita ini adalah para prajurit dan pengawal kademangan yang terlatih. Biarpun belum pernah bertempur melawan para perampok sebanyak itu, jangan takut! Mereka bukanlah orang-orang yang tidak dapat dikalahkan. Ingatlah, para tawanan kita berlima nyatanya dapat dikalahkan hanya oleh dua orang pengembara yang tak dikenal! Ini membuktikan bahwa mereka bukanlah orang-orang yang tidak terkalahkan. Mereka pun tentu dapat kita kalahkan,” ujar Senopati gagak Jingga, pimpinan prajurit Prambanan yang ditugaskan menjemput tawanan.
Agaknya kata-kata pimpinan prajurit Prambanan itu telah membuat tidak sabar para perampok yang ingin segera mendapat komando pimpinannya untuk menyerang para prajurit dan pengawal yang telah berani menawan kawan-kawan mereka. Salah seorang di antara mereka tiba-tiba berteriak kepada pimpinannya, ”Sudahlah, Ki Sapu Jagat, tak ada gunanya kita berlama-lama berbicara dengan mereka. Mari segera saja kita hancur lumatkan mereka yang sudah berani menawan kawan-kawan kita!”
Ki Sapu Jagat menyadari sifat-sifat anak buahnya yang hampir semuanya tidak sabaran. Maunya mereka tidak usah banyak bicara, langsung saja gempur, bunuh dan rampas!
”Ya ya ya, agaknya kalian semua sudah tidak sabar. Pedang-pedang dan golok-golok kalian sudah haus darah rupanya,” ujar Ki Sapu Jagat.
”Tunggu apalagi, Ki, nanti kita juga akan bunuh mereka. Sekarang, kita juga akan bunuh mereka! Kasihan, anak istri Si Brewok dan  kawan-kawan kita yang lain, sudah terlalu lama menanti-nanti kedatangan Si Brewok dan kawan-kawan, ” kata salah seorang perampok.
”Ya sudah, kalau begitu sekarang kalian semua aku ijinkan segera bertindak. Bunuh semua prajurit Prambanan dan semua pengawal Kademangan Wanabaya yang ada di sini! Jangan sisakan satu orang pun! Ini adalah hukuman bagi mereka, dan peringatan bagi kademangan-kademangan lain yang berani menentang kita,” ujar Ki Sapu Jagat. Kemudian ia mengangkat tangannya sambil memberi aba-aba, ”Sekarang, gempur mereka! Amuk! Bunuh mereka semua!”
Setelah mendapat aba-aba dari pimpinannya maka para perampok itu segera bergerak. Dengan senjata terhunus, pedang, keris, golok, atau tombak, mereka berloncatan menyerang para prajurit dan pengawal, sambil melontarkan kata-kata kasar, umpatan dan caci maki untuk semakin menciutkan nyali lawan-lawannya. Di antara para perampok yang menyerang itu ada yang lalu meloncat ke kereta kuda untuk membebaskan kawan-kawan mereka. Para pengawal yang ditugaskan menjaga tawanan itu segera menyongsong serangan para perampok itu. Tanpa mereka sadari, tahu-tahu kaki-kaki para tawanan yang terikat itu menjulur, bergerak menghantam kaki-kaki para pengawal yang sedang meladeni serangan para perampok yang datang mendekat. Tak ayal lagi, para pengawal yang dalam posisi membelakangi tawanannya itu jatuh berguling-guling dari atas kereta. Dalam kondisi bergulingan, mereka langsung diserang para perampok lawannya. Sementara itu beberapa orang perampok lainnya tiba-tiba meloncat ke atas dua buah pedati yang membawa para tawanan. Dengan cepat tapi penuh perhitungan, mereka menebas tali-tali yang mengikat tangan dan kaki para tawanan. Kini dua orang tawanan telah bebas dari ikatan. Mereka langsung meloncat ke luar pedati.
Kebetulan waktu itu para perampok yang mengejar para pengawal yang jatuh terguling dari atas pedati telah berhasil menghujamkan pedang-pedang mereka ke dada dua orang pengawal yang sedang sial itu. Langsung saja Si Brewok dan Si Tambun memungut pedang-pedang yang sudah terlepas dari genggaman para pengawal yang terbunuh.
Si Brewok dan Si Tambun yang kini sudah bersenjata segera memburu para prajurit Prambanan yang ada di dekat mereka. Dendam yang dibawa sejak dari Kademangan Prambanan ingin mereka lunaskan sekarang juga di seberang jembatan Pandansimping ini. Dua orang prajurit yang tadinya melawan empat orang perampok, kini mereka masing-masing harus menghadapi tiga orang perampok. Satu di antaranya adalah Si Brewok atau Si Tambun yang membawa dendam membara di atas dada mereka, dan menyala di sorot mata-mata mereka yang merah penuh amarah.
Sementara itu, di sebelah timur jembatan, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, para perampok yang mengepung para pengawal dan pedati yang membawa Si Bongkok dan Si Botak menggunakan taktik yang sama untuk membebaskan para tawanan. Setelah Si Bongkok dan Si Botak berhasil melepaskan diri, dan berhasil merampas senjata para pengawal yang terbunuh kena tusuk tombak para perampok, mereka segera mengeroyok para prajurit Prambanan yang tadi mengawalnya. Mereka pun membentuk dua lingkaran pertempuran, dimana masing-masing prajurit Prambanan harus menghadapi tiga orang perampok, yang satu diantaranya adalah Si Bongkok atau Si Botak.
Di tengah jembatan, Ki Sapu Jagat dan Senopati Gagak Jingga tidak segera bertempur. Sebagai pimpinan perampok Ki Sapu Jagat perlu melihat situasi pertempuran secara keseluruhan. Demikian pula dengan Senopati Gagak Jingga. Sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam pengawalan para tawanan dari Kademangan Wanabaya sampai Kraton Prambanan, ia perlu melihat situasi pertempuran keseluruhan, memperhitungkan kemungkinan terburuk, dan upaya untuk dapat membawa para tawanan dengan selamat sampai ke Kraton Prambanan. Tetapi begitu ia melihat para tawanan sudah berhasil melepaskan diri, tidak ada pilihan lain selain harus segera memenangkan pertempuran, dan membawa satu atau dua orang tawanan ke Kraton Prambanan untuk diperas informasinya.
Senopati Gagak Jingga segera menggebrak kudanya, menyerang Ki Sapu Jagat dengan pedangnya yang besar. Ia berharap, apabila dapat mengalahkan dan menawan pimpinannya maka anak buahnya akan patah semangat perlawanannya. Oleh karena itu, dalam gebrakan pertama ini ia langsung mengerahkan kekuatan yang besar. Tenaga saktinya ia salurkan ke dalam pedang besarnya dan langsung dijulurkan lurus mengarah ke dada lawannya yang kelihatannya sedang tidak bersiaga karena sedang asyik memperhatikan situasi pertempuran secara keseluruhan.
Melihat situasi pertempuran secara keseluruhan, wajah Ki Sapu Jagat nampak berseri-seri, tawa-kepongahannya bergema, menunjukkan kepuasan karena anak buahnya berhasil membebaskan para tawanan. Ketika dilihatnya anak buahnya yang lain beramai-ramai mengepung dan mengeroyok para pengawal kademangan yang jumlah dan pengalaman tempurnya kalah banyak, sehingga satu persatu para pengawal itu bertumbangan kena tikam, tawa pimpinan perampok itu semakin nyaring bernada penuh ejekan. Hal itu dikira kurang waspada oleh Senopati Gagak Jingga, sehingga di atas kudanya langsung menggebrak dengan serangan yang mematikan. Tetapi Ki Sapu Jagat adalah pimpinan perampok yang sudah kenyang dengan pengalaman tempur. Sejak mulai sebagai perampok kecil sampai menjadi pimpinan perampok ia sudah malang melintang di dunia kejahatan yang penuh pertumpahan darah. Nalurinya untuk mempertahankan diri dan menghindari setiap bahaya yang datang tiba-tiba sudah terbangun dengan sendirinya apabila menghadapi bahaya yang akan menimpa dirinya. Oleh karena itu begitu terasa ada serangan angin yang mengandung tenaga sakti disertai derap kaki kuda akan menerjangnya, ia tahu ada serangan yang mendahului serangan yang lebih berbahaya. Maka ia segera menghindar. Dengan sigap ia meloncat ke kiri menghindari terjangan kuda dan serangan pedang Senopati Gagak Jingga. Kemudian Ki Sapu Jagat meloncat kembali menghantamkan sikunya ke pergelangan tangan penyerangnya. Untuk menghindari pukulan siku tangan Ki Sapu Jagat yang bisa berakibat lepasnya pegangan pedangnya, Senopati Gagak Jingga cepat-cepat menarik tangannya sambil merundukkan  tubuhnya menempel ke punggung kuda. Senopati Gagak Jingga segera membalikkan kudanya menghadap ke Ki Sapu Jagat.
Kini dua orang pimpinan kelompok yang sedang bertempur itu dalam posisi yang sama-sama siaganya. Tetapi Ki sapu jagat bersiaga di tanah, sedangkan Senopati Gagak Jingga masih duduk di atas kudanya. Ki Sapu Jagat segera mengeluarkan senjatanya, berupa tombak pendek yang mengeluarkan cahaya kemerah-merahan. Lain dengan lingkaran-lingkaran kecil yang ada dalam pertempuran itu, Ki Sapu Jagat tidak perlu dibantu perampok-perampok lain untuk menghadapi lawannya. Selain Ki Sapu Jagat tidak membutuhkan bantuan anak buahnya, keikutsertaan anak buahnya mengeroyok Senopati Gagak Jingga hanya akan mengganggu, ngribet-ngribeti, dan merendahkan martabat pimpinan perampok yang sudah sangat terkenal itu.
Tidak mau kedahuluan musuhnya Ki Sapu Jagat mendahului menyerang Senopati Gagak Jingga. ”Tidak sopan, bertempur di atas kuda!” teriak Ki Sapu Jagat. Bersamaan dengan itu, dengan kecepatan yang tidak terduga sebelumnya, tahu-tahu ia telah melontarkan sebuah pisau belati yang langsung menembus leher kuda yang dinaiki Senopati Gagak Jingga. Karuan saja kuda itu langsung terloncat lalu terbanting ke tanah. Darah memancar deras dari leher yang tertembus dan dari mulut kuda itu. Tubuhnya berkelojotan beberapa saat sebelum akhirnya diam kaku. Senopati gagak Jingga yang tak menyangka mendapat serangan tiba-tiba itu, begitu kuda tungganganya terloncat, sebelum terbanting ke tanah, ia secara reflek mendahului loncat turun ke tanah, sehingga tubuhnya tidak ikut terbanting bersama kudanya.
Tetapi sebelum senopati Prambanan itu mengokohkan kesiap-siagaannya, dengan ganasnya Ki Sapu Jagat meloncat sambil menusukkan tombaknya ke perut pimpinan pengawalan tawanan ke Prambanan itu. Senopati Gagak Jingga tidak mau perutnya tertembus golok lawannya, maka ia segera meloncat ke samping sambil mengirimkan tendangan memutar mengarah ke dada musuhnya. Ki Sapu Jagat menangkis tendangan itu dengan tangan kirinya. Benturan tak dapat dielakkan. Dua-duanya terdorong surut ke belakang beberapa langkah. Kini sedikit banyak mereka sudah dapat mengukur kekuatan lawan masing-masing. Maka kehati-hatian dan perhitungan yang cermat agar tak salah langkah perlu diambil dalam setiap penyerangan.
Sementara itu di bagian lain para pengawal Kademangan Prambanan yang terpaksa harus berhadapan dengan lawan yang jumlahnya berlipat dengan pengalaman tempur yang sudah teruji, dan dengan cara tempur yang kasar sambil mengumpat-umpat, tidak dapat memberikan perlawanan yang maksimal. Perasaan takut karena seolah berperang melawan orang yang sedang kesurupan, mengurangi kewaspadaan dan daya tahannya. Sehingga dengan mudah mereka berjatuhan tertusuk golok atau tombak perutnya atau terpenggal pedang lehernya. Jerit dan lolongan kesakitan melengking di antara bau anyir darah yang menguar di jalan sekitar jembatan Pandansimping. Mayat-mayat bergelimpangan bersimbah darah. Korban kebanyakan dari pihak pengawal Kademangan Wanabaya, meskipun ada juga satu dua dari pihak para perampok.
Perlawanan yang agak berimbang adalah perlawanan yang dilakukan para prajurit Prambanan yang masing-masing dibantu seorang  pengawal kademangan. Tetapi musuh mereka berjumlah dua kali lipat, di mana yang ada di sebelah barat jembatan ada Si Brewok dan Si Tambun, sedangkan yang ada di sebelah timur jembatan ada Si Botak dan Si Bongkok. Yang ada di sebelah barat jembatan yang semula ada dua lingkaran  pertempuran, lama-lama bergeser mendekat sehingga kemudian membentuk satu lingkaran, dua orang prajurit Prambanan dan dua orang pengawal kademangan dikepung  delapan orang perampok yang dikuati Si Brewok dan Si Tambun. Yang di sebelah timur jembatan pun juga bergeser mendekat menjadi satu lingkaran pertempuran, dua orang prajurit Prambanan yang dibantu dua orang pengawal kademangan dikepung delapan orang perampok yang dikuati Si Bongkok dan Si Botak.
Di Sebelah barat jembatan, Si Brewok yang amat dendam kepada prajurit Prambanan terus mencecar prajurit Prambanan dengan serangan-serangan yang mematikan. Pedangnya, biarpun hanya rampasan dari pengawal kademangan yang terbunuh, bukan pedangnya sendiri yang biasa ia gunakan untuk mencabut nyawa korban-korbannya, di tangannya pedang rampasan itu bagaikan tangan-tangan maut yang siap mencabut nyawa musuh-musuhnya. Apabila tidak gesit menghindar prajurit yang juga harus menangkis serangan perampok-perampok lainnya itu tentu sadah mati tertebas kepalanya sejak dari tadi. Tetapi ia adalah prajurit yang sudah terlatih dan berpengalaman, bukan pengawal kademangan yang miris mendengar umpatan dan caci maki musuh-musuhnya yang kasar dan sengaja untuk menjatuhkan mental. Prajurit itu cepat menghindar dari serangan Si Brewok yang mematikan. Bahkan pada kesempatan berikutnya ia melancarkan serangan balik mengarah ke dada Si Brewok. Yang diserang menghindar dengan berjumpalitan di udara. Kemudian dengan serempak para perampok lainnya ganti menyerang prajurit tersebut. Untung pengawal kademangan yang menyertainya buru-buru membantu menangkis serangan para perampok tersebut, sehingga prajurit tersebut dapat
Meskipun kalah jumlah dan agak berat bagi prajurit Prambanan dan kawan-kawannya, tetapi ternyata Si Brewok dan Si Tambun dan kawan-kawannya tidak segera dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Dua orang prajurit Prambanan itu cukup gigih mempertahankan diri dan bahkan sering merepotkan kalau ada kesempatan balik menyerang. Hampir saja salah seorang perampok pengeroyoknya dapat ditebas kepalanya ketika ia sedang terperosok di sebuah lubang yang ada di jalan itu. Untung si Brewok segera meloncat menangkis tebasan pedang itu, sehingga perampok yang terperosok dapat berkelit menghindar. Namun situasi ini segera berubah ketika para perampok yang hanya berhadapan dengan para pengawal kademangan sudah menyelesaikan tugasnya. Mereka yang sudah kehilangan musuh-musuhnya segera membantu Si Brewok dan Si Tambun. Karuan saja dua orang prajurit dan dua orang pengawal kademangan yang sebelumnya sudah sangat kerepotan itu, kini menjadi semakin tak berdaya. Tak berapa lama setelah pengepungnya bertambah, dua orang pengawal kademangan yang masih gigih memberi perlawanan terjungkal dengan dada tertembus tombak. Lolongan panjang menghiasi malam yang sudah semakin dalam bersamaan dengan muncratnya darah dari luka-luka yang menganga dan dari mulut yang segera tak dapat melolong lagi.
Sesakti apapun dua orang prajurit Prambanan itu menghadapi pengepung yang semakin bertambah sementara mereka telah kehilangan dua orang pengawal yang membantunya, lama-lama tenaganya semakin terkuras. Para perampok yang mengeroyoknya, terutama Si Brewok dan Si Tambun yang sudah berhari-hari memeram dendam di dadanya, tak sabar menunggu musuhnya berhenti memberi perlawanan karena kehabisan tenaga, dengan penuh semangat, tanpa ampun lagi membabatkan pedangnya ke arah leher dua orang prajurit yang sudah sempoyongan kehabisan tenaga. Tawa mereka berderai penuh kemenangan melihat dua kepala prajurit Prambanan itu menggelinding tanpa sempat mengaduh.
Si Brewok dan Si Tambun dan kawan-kawannya setelah menjilati darah yang membasahi pedangnya untuk menambah kekuatan dan keberaniannya, segera berlari ke sebelah timur jembatan untuk membantu kawan-kawan mereka menyelesaikan tugasnya.
Mendapat tambahan tenaga yang besar jumlahnya, Si Bongkok dan Si Botak dan kawan-kawannya tambah bersemangat menyerang dua orang Prajurit Prambanan dan dua orang pengawal kademangan yang sudah hampis kehabisan tenaga. Hanya karena berpegang pada keyakinan bahwa mereka berada di pihak yang benar, dan bahwa menyerah atau terus melakukan perlawanan, akan mempunyai akibat yang sama: mati terbunuh, maka para prajurit dan pengawal kademangan itu tetap bertahan dan melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan. Mereka mempunyai keyakinan, mati terbunuh dalam keadaan melakukan perlawanan lebih terhormat dari pada mati dibunuh setelah menyerah. Itulah sebabnya meskipun saat ini mereka sudah tidak dapat melihat kemungkinan untuk menang ataupun kemungkinan untuk meloloskan diri, mereka tetap memberikan perlawanan dengan sekuat tenaga.
Tapi ternyata kemudian kawanan perampok itu sudah tidak telaten lagi mempermainkan musuh-musuhnya, maka seperti tidak mau kedahuluan Si Brewok dan kawan-kawannya yang baru saja bergabung, Si Bongkok dan Si Botak dan kawan-kawannya segera menusukkan tombak, golok dan pedangnya ke perut lawannya yang sudah tak berdaya. Kembali malam yang naas itu diwarnai jeritan menyayat bersamaan dengan menyemburnya darah segar dari luka-luka dan mulut para prajurit dan pengawal yang segera roboh bergelimpangan di jalan.
Tawa puas segera ramai diperdengarkan para perampok yang berhasil menumpas musuh-musuhnya itu. Tanpa dikomando mereka segera melucuti barang-barang berharga yang ada pada musuh-musuh yang telah dikalahkannya. Mereka tertawa-tawa kegirangan kalau menemukan barang berharga pada mayat-mayat yang sudah tidak dapat mempertahankan hak miliknya itu.
Sementara itu perlawanan Senopati Gagak Jingga yang semula cukup tangguh, terpengaruh keadaan di sekelilingnya. Kawan-kawannya sudah dapat dikalahkan, bahkan dibantai dengan kejam oleh kawanan perampok yang tidak berperikemanusiaan. Hal ini membuat semangat tempurnya jadi semakin melemah. Ngeri juga rasanya membayangkan dirinya mendapat perlakuan kejam seperti yang dialami kawan-kawannya. Bagaimana kalau dirinya seorang diri dicincang kawanan perampok sebanyak itu? Yah kalau dirinya sudah mati lalu dipotong-potong dipenggal-penggal oleh perampok sebanyak itu, tidak apa. Toh sudah mati, tidak dapat merasakan sakit apa-apa. Tapi kalau masih hidup lalu mereka semua mengarahkan senjatanya kepadanya, dan tidak dapat membuatnya mati seketika, tentu amat sakit mengerikan merasakan luka arang keranjang di sekujur badan!
Lain dengan pertempuran di bagian-bagian lain yang dilakukan secara keroyokan, pertempuran antara Ki Sapu Jagat dengan Senopati Gagak Jingga, meskipun para perampok yang lain sudah kehilangan lawan-lawannya, tetap dilakukan secara perang tanding. Agaknya anak buahnya sudah sangat percaya kalau Ki Sapu Jagat pasti dapat memenangkan perang tanding melawan senopati dari Prambanan itu. Mereka berdiri melingkari yang sedang berperang tanding seperti menonton adu jago, atau menonton tukang obat menjajakan barang dagangannya. Mereka memperhatikan bagaimana pimpinannya yang juga guru silatnya itu memperagakan jurus-jurus silat untuk menyerang atau menangkis serangan musuhnya. Sambil menonton mereka belajar untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada gerakan silatnya sendiri. Kesempatan ini amat langka, karena selama ini jarang sekali KI Sapu Jagat ikut turun gunung melakukan perampokan. Sehingga kesempatan ini tidak mereka sia-siakan begitu saja.
Sangat menakjubkan melihat pertempuran anatara Ki Sapu Jagat melawan Senopati gagak Jingga. Tombak Ki Sapu Jagat yang memncarkan sinar kemerah-merahan mematuk-matuk mengarah ke dada, peruta leher dan kepala lawannya berganti-ganti dengan gencarnya. Namun lawannya yang dengan lincahnya berkelit, meloncat surut dan menghindar, sesekali juga melakukan perlawanan yang membahayakan dengan pedangnya yang menyambar-nyambar ke bagian-bagian berbahaya tubuh lawannya. Pertempuran yang sebetulnya dapat lebih cepat diakhiri apabila seluruh anak buahnya yang berilmu tinggi mau bergabung untuk mengeroyok senopati Prambanan itu, jadinya berjalan lebih lama. Agaknya Ki Sapu Jagat memang sengaja memberi pelajaran kepada anak buahnya dengan memperagakan jurus-jurus silat bersenjata tombak untuk menyerang musuh, musuh yang sebenar-benarnya, bukan hanya musuh kawan berlatih. Dengan demikian maka serangan-serangan Ki Sapu Jagat menjadi bervariasi untuk menunjukkan kekayaan jurus yang berbahaya dan mematikan yang dimilikinya kepada murid-muridnya.
Senopati Gagak Jingga yang mengetahui bahwa dirinya dijadikan alat peraga sebagai sasaran untuk memperagakan jurus-jurus silat bersenjata tombak yang mematikan, tak ingin terus menerus dijadikan bulan-bulanan. Ia semakin gencar meningkatkan ilmunya untuk menghentikan serangan musuhnya. Ia ingin membuktikan bahwa jurus pedangnya lebih baik dari jurus tombak pendek musuhnya. Tetapi hal ini justru menguntungkan bagi Ki Sapu Jagat. Perlawanan yang semakin meningkat justru semakin mengembangkan jurus-jurus tombak Ki Sapu Jagat. Kekayaan jurus tombak itu justru dapat diperlihatkan kepada murid-muridnya lebih banyak lagi.
Meskipun sudah mengerahkan ilmu yang dimiliki tetap tidak dapat mengimbangi ilmu tombak lawannya, ditambah melihat masih banyaknya musuh yang mengepungnya, meskipun saat ini mereka hanya menonton, membuat Senopati Gagak Jingga jadi putus asa. Sambaran pedangnya ke tubuh lawannya sudah tidak garang lagi. Agaknya tenaganya sudah mulai susut. Hal ini membuat permainan ini sudah tidak menarik lagi bagi Ki sapu Jagat maupun bagi anak buahnya. Bosan mempermainkan musuhnya, kini Ki sapu Jagat bermaksud akan segera mengakhiri pertempuran.
Ki Sapu Jagat segera meningkatkan serangannya. Tombak pendeknya melingkar-lingkar di depan wajah Senopati Gagak Jingga. Ketika senopati Prambanan itu meloncat ke belakang untuk menghindarinya, tiba-tiba tombak yang memancarkan aura panas itu telah menggores lengan Senopati Gagak Jingga yang memegang pedang. Darah mengucur dari luka memanjang di lengannya. Akibat racun yang terkandung dalam ujung tombak Ki Sapu Jagat, tangan senopati Prambanan itu mengejang, pedangnya terlepas karena jari-jarinya tak mampu lagi menggenggam pedang besar itu. Belum habis rasa terkejutnya, tahu-tahu tombak di tangan Ki sapu Jagat sudah mematuk menusuk dada senopati Prambanan itu, tembus mengenai jantungnya. Lolongan kesakitan melengking memecah suasana malam di atas jembatan Pandansimping itu. Tubuh senopati yang merupakan benteng pertahanan terakhir pengawalan tawanan dari Kademangan Wanabaya ke Keraton Prambanan itu berkelojotan sebentar, lalu diam tak bergerak.
Sorak sorai menyambut kemenangan pimpinan perampok Ki Sapu Jagat yang sudah berhasil membunuh musuh utamanya.
Keringat masih membanjir membasahi seluruh tubuh dan pakaian Ki Sapu Jagat. Namun agaknya pimpinan perampok itu masih cukup kuat. Belum menunjukkan tanda-tanda kehabisan tenaga. Tubuhnya masih segar bugar.
”Para prajurit Prambanan dan para pengawal yang akan membawa Si Brewok dan kawan-kawan sudah dapat kita binasakan. Malam masih panjang. Sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Ki sapu Jagat kepada anak buah yang mengelilinginya.
Anak buah Ki Sapu Jagat tanggap pada kata-kata pimpinannya. Pernyataan bahwa malam masih panjang berarti perampokan dapat dilanjutkan. Masih cukup waktu untuk mencari sasaran dan kemudian mengangkut barang-barang hasil rampokan ke sarang mereka.
”Saya punya usul, Ki!” teriak Si Brewok.
”Coba katakan, apa usulmu, Brewok?” tanya Ki Sapu Jagat.
”Bagaimana kalau kita merampok sekaligus membinasakan seluruh isi Kademangan Wanabaya? Dengan perginya sebagian pengawal Kademangan Wanabaya ke Prambanan, dan ternyata dapat kita binasakan di sini, berarti kekuatan Kademangan Wanabaya sudah menjadi ringkih! Tinggal beberapa orang pengawal saja yang ada. Ki Demang yang sudah tua saya kira tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Dengan mudah kita akan dapat menghancurkan mereka,” usul Si Brewok.
”Usul yang bagus. Barangkali juga karena kamu masih dendam kepada Ki Demang dan para pengawalnya maka kamu punya usul seperti itu,” ujar Ki Sapu Jagat.
”Benar, Ki, saya, mungkin juga kawan-kawan yang lain yang sudah tertawan di Kademangan Wanabaya, punya dendam kepada mereka. Ki Demang dan para pengawal sempat menyiksa kami untuk menunjukkan sarang kita, kekuatan kita, dan jalan menuju ke sana. Mereka kira apa, berani-beraninya memaksa kami untuk menjawab semua pertanyaan mereka. Meskipun mereka menyakiti tubuh kami, tetap saja kami  bungkam. Dan akhirnya mereka mengirim kami ke Prambanan. Meskipun akhirnya sekarang kami dapat bebas, tetapi rasa-rasanya bekas pukulan, tamparan dan tendangan, serta bentakan-bentakan mereka masih terasa sakit di hati kami. Maka untuk menuntaskan dendam kami, sebaiknya malam ini juga kita hancurkan mereka hingga tak bersisa. Kita bakar kademangan setelah kita rampok isinya. Bagaimana, kawan-kawan, setuju tidak?”
Tanpa menunggu persetujuan dari Ki sapu Jagat selaku pimpinan mereka, serentak para perampok yang sedang mabuk kemenangan itu berteriak, ”Setuju!!! Mari kita rampok dan hancurkan Kademangan Wanabaya!”
Ki Sapu Jagat merasa bahwa keinginan semua anak buahnya yang sudah disampaikan secara serempak sudah tidak dapat dibendung lagi. Tak ada kata lain yang dapat disampaikan selain persetujuan.
”Baiklah, kalau itu sudah menjadi keinginan kalian bersama. Lagian, Kademangan Wanabaya tidak jauh letaknya dari  sini. Sekaligus ini kita lakukan untuk memberi pelajaran kepada kademangan-kademangan lain, agar tidak berani main-main dengan kita gerombolan perampok pimpinan Ki Sapu Jagat,” ujar Ki Sapu Jagat.
”Betul, Ki, kita ini gerombolan perampok besar, tidak boleh dibuat main-main! Siapa yang berani main-main dengan Ki sapu Jagat dan anak buahnya, coba-coba menghalangi kesenangan kita, pasti kuwalat! Kita tumpas mereka!” kata Si Brewok penuh semangat, yang lalu disambut dengan teriakan-teriakan menyetujui dari kawan-kawannya. Seakan tidak merasa lelah, meskipun baru saja selesai bertempur mengadu nyawa, mereka semua sudah siap bertempur kembali untuk menghancurkan Kademangan Wanabaya.
”Sekarang marilah kita bersiap-siap menuju ke Kademangan Wanabaya. Yang sakit, terluka, tak dapat berjalan, naik ke pedati. Kita bersama-sama menuju ke Kademangan Wanabaya sekarang juga. Mumpung malam masih panjang. Sebelum fajar menyingsing kita sudah harus kembali dari kademangan yang akan kita buat menjadi karang abang setelah kita kuras isinya,” kata Ki Sapu Jagat mengajak anak buahnya.
Iring-iringan yang semula membawa tawanan para perampok menuju ke barat dari Kademangan Wana Baya ke Kraton Prambanan kini kembali ke timur, dalam jumlah yang lebih banyak. Iring-iringan itu bukan dipimpin senopati Prambanan membawa tawanan perampok, tetapi justru dipimpin pimpinan gerombolan perampok yang paling ditakuti di lereng Merapi, Ki Sapu Jagat, diikuti gerombolan perampok anak buahnya. Jalannya iring-iringan ini menjadi lebih cepat karena para perampok yang mengikuti jalannya pedati tidak berjalan kaki, tetapi naik kuda yang tadinya mereka sembunyikan di sekitar sungai pasir Pandansimping. Si Brewok dan Si Botak yang mengusiri pedati pun tidak ingin berlambat-lambat menjalankan pedatinya. Tanpa rasa kasihan, mereka terus mencambuki sapinya agar berjalan dengan cepat menuju ke Wanabaya. Sapi yang besar dan kuat itu pun kemudian tidak hanya berjalan cepat, tetapi berlari dengan kencang karena tidak tahan menahan sakit kena cambuk bertubi-tubi di punggungnya. Yang menjalankan pedati maupun sapinya tidak peduli ada orang sakit ikut menumpang di dalam pedati. Yang sakit hanya dapat mengaduh-aduh terguncang-guncang di dalam pedati yang melaju dengan cepat. Mereka maklum karena kawan-kawannya berpacu dengan waktu, agar cukup waktu untuk melakukan penjarahan di Kademangan Wanabaya.
***

NB: Novel ini belum pernah diterbitkan, penulis sedang mencari penerbit yang mau menerbitkannya.

Penulis: Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD
PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan
KLATEN 57422
Nomor HP. 085642365342
Email: sutardimsdiharjo@yahoo.com

Related posts:

No response yet for "Contoh Novel: Petikan Novel Pangeran Jaka Patahwan Bagian 10"

Post a Comment