Contoh Novel: Petikan Novel Prabu Nala dan Damayanti

Bagi Anda yang sedang mencari referensi contoh novel, berikut ini adalah contoh novel dari petikan novel Petikan Novel Prabu Nala dan Damayanti.

Petikan Novel Prabu Nala dan Damayanti
Karya Sutardi MS Dihardjo

7
SEMAKIN JAUH TERSESAT

Setelah mengalami peristiwa yang membuatnya marah dan menyakitkan hati karena hendak diperkosa pak pemburu tua yang lupa diri setelah menolongnya lepas dari lilitan ular besar, Dewi Damayanti melanjutkan perjalanan di dalam hutan seorang diri. Berjalan di antara gerumbul-gerumbul perdu dan semak belukar, kadang harus melewati rimbun pepohonan dan  menyingkap batang-batang perdu berduri, tak jarang kakinya terperosok di tanah rawa berlumpur, atau terpeleset karena menginjak tanah berlumut yang licin. Pernah juga Dewi Damayanti lewat jalan yang menanjak, terantuk batu hingga jatuh berguling-guling. Sungguh amat kasihan.
Kalau merasa lelah Dewi Damayanti lalu diam saja duduk di atas batu atau di akar pohon besar sambil merenungi nasibnya. Ia merasa sedih dan bingung memikirkan kenapa sang Prabu tega meninggalkan dirinya, seorang perempuan lemah, sendirian di tengah hutan. Apakah benar Sinuwun kekasih hatinya itu sudah merelakan kematiannya dimakan binatang buas di tengah hutan ini? Kalau memang demikian, apa boleh buat, ia pun tak perduli kepada hidup dan matinya. Dewi Damayanti berjalan pelan-pelan. Melangkah menurutkan kaki kemanapun arah yang hendak dituju. Niat hatinya tetap, ingin mencari sang suami kekasih hati. Ia berkeras tak ingin ke negara Widarba menurutkan petunjuk dan ancar-ancar yang sudah berulang kali ditunjukkan sang suami. Ia terus melangkah, semakin jauh tersesat di tengah hutan, tanpa pedoman, tanpa tahu arah. Suara binatang-binatang hutan, cericit dan kicauan burung, teriakan-teriakan kera di atas pepohonan, ringkikan kuda liar, lenguh sapi atau banteng liar, dan auman harimau dan singa yang ganas, gemuruh suara kawanan gajah berlari di tengah hutan, atau suara burung brenggi, yang sebelumnya sangat menakutkan dan menciutkan nyalinya, lama-lama karena sudah terbiasa, apalagi Dewi Damayanti sudah sampai pada keadaan pasrah jiwa raga, mati hidup kepada Dewata Agung, sekarang sudah tidak berarti apa-apa. Semuanya hanya terdengar sebagai simponi alam yang tak berarti apa-apa.
Karena sudah merasa sangat menderita, dan sudah bosan mengalami penderitaan hidup yang tak diketahui ujung pangkalnya, Dewi Damayanti yang sudah dalam keadaan pasrah, tidak lagi lari tunggang langgang apabila melihat suatu bahaya yang menghadang, tetapi justru dengan gembira menghampiri datangnya bahaya. Maka ketika ia bertemu dengan harimau loreng di tengah perjalanan, ia tidak lari, tapi justru datang mendekat sambil berkata, “Kebetulan aku bertemu denganmu, wahai harimau loreng. Sekarang terkamlah aku! Makanlah dagingku yang empuk, gurih dan wangi ini! Biarkan aku mati meninggalkan dunia yang tak henti-hentinya memberikan kesengsaraan pada hidupku. Daripada aku terus hidup hanya mengalami kesengsaraan dan malu, lebih baik aku segera mati menghadap Dewata Agung, melalui taring-taringmu yang runcing dan tajam.”
Harimau loreng yang melihat Dewi Damayanti semakin mendekat, tidak segera berlari mendekat dan menerkamnya. Tapi ia justru berpaling ke arah lain lalu menyimpang mencari jalan lain. Harimau loreng berjalan melenggang tak mempedulikan Dewi Damayanti yang berteriak-teriak memanggilnya menawarkan tubuhnya untuk disantap. Dewi Damayanti melihat harimau berjalan menjauhinya bukannya gembira telah terlepas dari bahaya, tetapi justru ia merasa aneh dan sedih, “O, yatalah, kenapa harimau itu menghindar, tidak mau memakanku? Apa dikira kalau tubuhku bau dan kotor, dagingnya tidak empuk, gurih dan lezat? Apakah daging mantan sekar kedaton kerajaan Widarba dan mantan permaisuri kerajaan Nisadha, tidak lebih enak daripada daging rusa atau babi hutan? Atau apakah Dewata Agung memang sengaja masih melindungiku agar aku masih merasakan penderitaan berkepanjangan tersesat berputar-putar di tengah hutan ini? Apakah memang demikian cobaan Dewata Agung kepada istri yang tetap setia kepada suaminya?” kata Dewi Damayanti kepada diri sendiri.
Berbagai penderitaan dan cobaan masih terus mengikuti perjalanan Dewi Damayanti siang dan malam. Suara-suara binatang hutan yang semula menakutkan sekarang tidak lagi dianggap ancaman bagi Dewi Damayanti, tetapi justru mengingatkan pada suaminya. Ia mengkhawatirkan keselamatan suaminya. Bayang-bayang wajah dan tingkah laku Prabu Nala yang mengibakan karena langkah-langkahnya adalah langkah orang putus asa yang tak tahu harus berbuat apa, tercetak di dasar hatinya, selalu memanggil-manggil untuk meneruskan perjalanan untuk mencarinya. Tiga hari setelah peristiwa Dewi Damayanti akan diperkosa pemburu tua yang telah menyelamatkan dirinya dari lilitan ular besar, ia melihat di kejauhan ada terlihat padepokan para pertapa. Padepokan itu terletak di atas bukit yang teduh dan indah, di kelilingi taman bunga beraneka warna yang menyejukkan siapapun yang memandangnya.
“Barangkali di sinilah akan berakhir penderitaanku. Aku akan nyantrik di padepokan para pertapa ini, sambil menanti barangkali Sinuwun Prabu lewat dan singgah di padepokan ini,” kata Dewi Damayanti dalam hati. Dengan semangat ia berjalan menuju ke padepokan yang asri dan indah pemandangannya itu. Sebelum sampai ke padepokan, jalan yang akan dilalui harus menurun terlebih dahulu melewati tepi kolam yang jernih airnya, memantulkan bayang-bayang wajahnya yang berayun-ayun bersama bayang-bayang aneka warna bunga-bungaan yang bermekaran tumbuh asri di tepi kolam. Gemericik suara pancuran di ujung kolam memantulkan sunyinya suasana, seakan memang sudah diatur untuk mensucikan diri, lahir dan batin, sebelum memasuki tempat yang suci  di atas sana. Setelah membersihkan wajah dan tubuhnya serta meresapi suasana sepi dan syahdu di sekitar kolam penyucian, Dewi Damayanti menaiki tangga batu yang naik ke atas bukit tempat padepokan pertapa berada. Padepokan yang tampak sederhana, terbuat dari papan kayu sederhana dengan atap ilalang, nampak sejuk dan menyenangkan karena terlindung oleh pepohonan rindang dan tanaman obat-obatan, sayur-sayuran, buah-buahan dan bunga-bungaan di halaman maupun di sekelilingnya.
Seorang pendeta yang melihat kedatangan Dewi Damayanti, segera menyongsong kehadirannya dan mempersilakan duduk di pendopo padepokan. Tak lupa pendeta itu segera memerintahkan para cantrik untuk menghidangkan makanan dan minuman kepada tamunya.
“Siapakah Ni Sanak ini? Dan kenapa Ni Sanak seorang wanita sendirian tanpa teman bisa sampai di padepokan yang ada di tengah hutan ini?” tanya pendeta keheranan ada perempuan cantik sendirian, hanya berkain yang sudah tidak utuh lagi, bisa sampai di padepokannya. 
“Ketahuilah, Bapa Pendeta, saya ini adalah Dewi Damayanti, puteri negara Widarba yang sudah diambil istri Prabu Nala dari kerajaan Nisadha. Karena khilaf,  Sinuwun bermain judi sampai habis-habisan melawan saudaranya sendiri. Akhirnya semua harta benda dan bahkan negaranya habis dipertaruhkan. Kemudian kami terlunta-lunta sampai ke tengah hutan ini. Kami pun tertidur di rumah gubuk tempat peristirahatan para pemburu. Tapi ketika saya bangun ternyata suami saya sudah pergi diam-diam meninggalkan saya seorang diri di tengah hutan ini. Memang saya sudah berkali-kali ditunjukkan jalan menuju ke negara ayahanda Prabu di Widarba, tapi saya tidak berniat pergi ke sana. Sebagai istri yang setia kepada suami, dalam suka maupun duka kami harus menjalaninya bersama. Saya tetap berniat terus mencarinya. Oleh karena itu saya ingin bertanya, apakah suami saya ada di sini? Atau apakah ia pernah singgah di sini? Kalau iya, tunjukkan saya kemana saya dapat menemui suami saya!” tanya  Dewi Damayanti.
“Sayang sekali Prabu Nala belum pernah sampai di padepokan ini. Jadi aku tak tahu di mana Sinuwun sekarang berada atau ke mana Sinuwun sekarang pergi,” kata pendeta. Sang pendeta amat terharu mendengar cerita Dewi Damayanti. Ia pun jadi tahu seberapa besar cinta dan kesetiaan Dewi Damayanti kepada suaminya.
Mendengar jawaban pendeta, puteri yang seolah sudah terbuang tanpa pedoman  dan tak tahu arah itu menyatakan maksudnya untuk istirahat sejenak dari pencarian yang tak berujung pangkal.
“Sekarang ini saya sudah lelah jiwa raga. Dan saya tidak tahu arah yang mesti saya tuju. Di padepokan ini saya merasakan ketenangan, ketentraman dan kenyamanan. Bisa saya gunakan untuk memulihkan tenaga dan menyegarkan jiwa raga saya. Oleh karena itu, Bapa Pendeta, kalau Bapa berkenan mengijinkan, saya ingin nyantrik di padepokan ini sambil menunggu barangkali Sinuwun Prabu sampai dan singgah di padepokan ini,” pinta Dewi Damayanti menyampaikan niatnya.
Mendengar permintaan Dewi Damayanti yang disampaikan dengan penuh pengharapan itu, bapa pendeta tidak mengiyakan atau menolak. Yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata penghiburan dan harapan, “O, wanita yang sangat mencintai dan setia kepada lelakinya, janganlah kamu terlalu bersedih hati! Janganlah kamu terlalu menyiksa jiwa dan ragamu! Terimalah semua cobaan ini dengan hati pasrah dan legawa. Ketahuilah, kelak kamu pasti akan bertemu dengan suami yang amat kamu kasihi. Tapi sabar dulu, saat ini belum sampai waktunya. Kelak kamu dan Sinuwun pasti akan bertemu dan mengalami kemuliaan lagi.”
Ketika berbicara tadi Dewi Damayanti menundukkan kepala. Demikian pula ketika mendengarkan jawaban Bapa Pendeta yang tidak menerima atau menolak tetapi memberi harapan, Dewi Damayanti tetap menundukkan kepala, memperlihatkan sikap sopan dan hormat agar diterima permintaannya. Dewi Damayanti belum puas menerima jawaban yang mengambang, ia mengharapkan jawaban yang pasti, diterima atau tidak, nyantrik di Padepokan yang asri, teduh dan nyaman menentramkan hati ini. Tetapi ditunggu-tunggu jawaban dari pendeta, bisa-tidaknya, menerima atau menolak permintaannya, tidak juga terucapkan, kecuali nasihat yang menghibur dan memberi harapan tadi. Setelah lama menunggu tak ada jawaban, akhirnya Dewi Damayanti mengangkat kepalanya memandang pendeta yang diajak bicara di depannya. Tetapi alangkah terkejut Dewi Damayanti melihat dan merasakan perubahan suasana sekitar. Tiba-tiba semua yang dilihatnya tadi, pemandangan indah, suasana teduh, nyaman dan menentramkan, seolah hanya fatamorgana. Hilang lenyap semuanya, berganti pemandangan yang tak ubahnya seperti pemandangan dan suasana hutan yang dilihat dan dirasakan selama ini. Padepokan yang asri ternyata hanya padang ilalang di atas bukit terjal yang di belakangnya adalah jurang dalam. Taman bunga, tanaman sayur-sayuran, buah-buahan dan obat-obatan, ternyata hanya semak belukar berduri tajam. Kolam yang jernih di kelilingi taman bunga ternyata hanya sungai kecil bertaburan batu-batu licin.
“O, lantas kemana perginya Bapa Pendeta dan padepokan yang indah tadi? Apakah tadi aku hanya salah memandang? Semua hanya angan-anganku yang terlalu mengharapkan segera lepas dari penderitaan ini? Atau memang apa yang aku alami tadi merupakan petunjuk Dewata Agung kalau aku kelak dapat bertemu dengan Sinuwun Prabu dalam keadaan bahagia dan mulia?” kata Dewi Damayanti dalam hati.
Dewi Damayanti kembali diliputi kesedihan, lalu beranjak meninggalkan tempat itu, kembali berjalan tak tentu arah. Ketika kemudian melihat gunung yang tinggi menjulang berselimut mega putih, Dewi Damayanti yang sudah bagaikan orang linglung bertanya kepada gunung di depannya.
“O, gunung yang tinggi dan perkasa,  kamu tinggi menjulang sampai ke angkasa raya, dan kamu luas sampai memenuhi kaki langit, tentu kamu tahu apa yang ada di bawahmu dan yang ada di sekitarmu. Sekarang aku ingin bertanya, apakah kamu melihat ke mana perginya Sinuwun Prabu Nala?” Tak ada jawaban. Hanya sunyi dan suara-suara alam, kemersik daun-daun, kesiur angin dan binatang-binatang hutan menyanyikan simfoni alam.
“O, gunung, kenapa kamu diam saja seperti orang yang angkuh tak mau mendengarkan perkataan orang lain. Kenapa kamu pura-pura tidak mendengar pertanyaanku? Padahal aku tahu Gusti Prabu pasti lewat di kakimu atau bahkan mendaki sampai di gigirmu. Tapi kenapa kamu diam saja menyembunyikannya? Kenapa kamu tidak mau memberitahukannya kepadaku dimana kamu menyembunyikannya?” kata Dewi Damayanti setelah menunggu beberapa saat ternyata gunung di hadapannya tetap diam membisu, hanya mengirimkan kesiur angin menggoyang daun-daunan dan kicauan burung-burung yang merdu untuk menghibur hatinya.
“O, gunung yang tinggi, berbuatlah kebajikan dengan menunjukkan kepadaku dimana Sinuwun Prabu Nala berada! Atau kamu berbuat baik, memberitakan kepada Sinuwun Prabu, kalau istrinya Dewi Damayanti sekarang sedang hidup sengsara di sini, di kakimu ini.”
Demikianlah Dewi Damayanti selalu linglung hatinya, terbawa perasaan cinta dan kesetiaannya kepada suaminya, ngomyang, ndaleming,  bicara sendiri seperti orang kehilangan kesadaran, pikiran kemana-mana. Baru diam kalau hatinya terhibur melihat pemandangan yang indah-indah, seperti melihat pancuran yang airnya jernih atau mendengarkan kicauan burung yang merdu. Tetapi hatinya terhibur itupun tidaklah lama, setelah ingat nasib yang menimpanya dan ingat penderitaan yang dialami suaminya, hatinya kembali bersedih. Sehingga keluar dari mulutnya sumpah serapah kepada roh jahat yang telah membuat sengsara Prabu Nala suaminya.
“O, Dewata Agung, hamba ini orang yang teraniaya, dibiarkan hidup sendiri sengsara di tengah hutan gung liwang liwung. Ini semua adalah ulah roh jahat Hyang Kali yang telah merasuki suamiku Prabu Nala. Hamba mohon ya Dewata Agung tempat memohon keadilan, siksalah roh jahat yang telah membuat sengsara hidupku! Hukumlah ya Dewata Agung, Hyang Kali dan Hyang Dwapara yang telah menjahili suamiku, sehingga membawa kesengsaraan pada hidupku pula!,” doa Dewi Damayanti kepada Dewata Agung sesembahannya.
Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar di siang hari yang cerah, tanpa mendung ataupun tanda-tanda akan turun hujan. Rupanya alam raya turut mengamini doa Dewi Damayanti yang disampaikan dari jiwa suci yang menderita dan teraniaya.
Dewi Damayanti terus berjalan ditemani angan-angannya yang nglambrang kemana-mana. Pikirannya kacau. Ingatan masa lalu yang indah penuh kebahagiaan, kenyataan yang dihadapi yang penuh kepahitan dan kesengsaraan tak putus-putus, serta angan-angan masa depan yang bahagia lepas dari penderitaan, saling tumpang tindih berebut menguasai pikirannya. Sebentar-sebentar tersenyum, tertawa, tapi tak lama kemudian hatinya diliputi kesedihan dan kebimbangan. Lalu ndeprok di tanah menyelunjurkan kedua kakinya sambil menangis memelas, bahkan tak jarang bergulung-gulung di rerumputan sambil menangis memilukan.
Setelah berjalan lagi beberapa langkah, kemudian ia melihat pohon asoka yang berada di tanah lapang. Pohon besar yang rindang berdaun lebat itu menjadi tempat bertengger berbagai burung penghuni hutan. Burung-burung itu berteduh sambil berkicau menurut bahasanya sendiri-sendiri. Kicau burung itu bagaikan suara musik suatu konser sehingga menyenangkan bagi yang mendengarkannya. Kelihatannya di bawah pohon asoka  sering dijadikan tempat peristirahatan para musyafir yang melalui tempat itu, terbukti tempat itu nampak bersih serta menentramkan. Kemudian ia berjalan menuju pohon yang rindang itu. Ia berdiri di depan pohon yang telah memberi perlindungan kepada banyak musyafir itu.
“O, pohon asoka yang sangat indah, menjadi tempat singgah semua orang yang lewat di tempat ini. Apakah kamu melihat ada laki-laki tampan, gagah, berbudi bahasa halus, dan sabar lewat di dekatmu ini? Atau apakah mungkin ia justru singgah di bawah mahkota daunmu yang teduh? Ketahuilah, ia adalah suamiku, Prabu Nala Raja Nisadha. Sudah lama aku kehilangan jejaknya, sekarang tunjukkan kepadaku kemana aku harus mencarinya! Barangkali kamu sempat mencuri dengar rerasannya akan melanjutkan perjalanan kemana, ketika ia sedang duduk berteduh di bawahmu. Sekarang tunjukkan kepadaku kemana aku dapat menemukan gegantilaning atiku itu?” ujar Dewi Damayanti seperti orang ndaleming berbicara sendiri.
“Asoka, kamu jangan diam saja seperti orang angkuh tak tahu menghormati lawan bicara! Ketahuilah, aku ini Dewi Damayanti puteri negara Widarba. Dahulu aku terkenal kecantikanku, sampai-sampai raja sewunegara, para bupati dan pangeran rajaputera, berebut ingin menyuntingku. Tetapi sekarang wujudku seperti ini, seperti orang sudra yang miskin dan sengsara, tetapi janganlah kamu menghinaku dengan menganggap sepi kehadiranku. Tak mau menjawab pertanyaanku. Tak mau menunjukkan kemana sinuwun prabu pergi setelah lewat dan singgah di bawah mahkota daunmu yang rindang. Kasihanilah aku wahai pohon asoka, tunjukkan kepadaku kemana aku harus mencari pujaan hatiku?”
Sepi, tak ada jawaban. Hanya angin yang bertiup semilir menggoyang reranting dan dahan asoka, menggugurkan daun-daunnya yang sudah menguning dimakan usia.
Setelah tidak mendapat jawaban dari pohon asoka dan setelah lepas lelahnya, Dewi Damayanti melanjutkan perjalanannya. Semakin jauh masuk ke dalam hutan. Tidak takut tertusuk duri-duri atau batang-batang perdu dan daun-daun ilalang yang tajam menyayat kulit. Terus saja berjalan tanpa arah yang jelas, tetapi hanya satu tujuannya, yaitu mencari suami tercinta sampai ketemu.
Setelah cukup lama berjalan, Dewi Damayanti melihat ada barisan orang-orang yang kelihatannya sedang mengadakan perjalanan jauh. Barisan itu adalah rombongan para pedagang yang membawa dagangan banyak sekali dimuatkan di atas kuda, onta, ataupun gajah yang jumlahnya banyak sekali. Karena banyaknya para pedagang dalam barisan itu, sehingga  kalau dilihat dari kejauhan seperti barisan semut beriring.  Melihat barisan orang-orang itu Dewi Damayanti merasa sangat gembira.
“Itu ada barisan orang banyak. Nampaknya mereka para pedagang yang akan berdagang di suatu kota. Mungkin tempat yang dituju baru hari pasaran atau bahkan sedang bulan baik untuk berdagang karena sedang panen raya, makanya mereka berduyun-duyun ke sana. Kebetulan aku sudah lama tak tahu arah keluar dari hutan ini, baiklah sekarang aku ikuti saja para pedagang itu, entah kemana yang dituju, yang pasti tentu aku akan sampai di suatu kota yang dihuni manusia. Tidak seperti di sini, di tengah hutan, yang kutemui hanya pepohonan dan binatang,” kata Dewi Damayanti dalam hati.
Setelah dekat dengan barisan para pedagang, Dewi Damayanti segera menggabungkan diri berjalan bersama barisan orang-orang itu. Tapi begitu mantan puteri keraton itu muncul dari balik gerumbul perdu di tepi jalan, lalu masuk kedalam barisan, segera disambut berbagai macam prasangka dan tanggapan dari para pedagang  dan pengawalnya yang melihatnya.
“Siapa itu, perempuan yang ikut bergabung dalam barisan kita?” tanya salah seorang pedagang.  
“Tidak tahu ‘Gan. Tadi saya lihat dia muncul dari balik gerumbul di sana, lalu tahu-tahu dia sudah ikut menggabung dalam barisan kita,” kata pengawalnya kepada pedagang yang dipanggilnya juragan.
“Kelihatannya dia seperti orang gila. Rambutnya gimbal awut-awutan seperti tak pernah kenal sisir dan minyak rambut. Badannya kotor dan bau seperti tak pernah mandi. Pakaiannya pun hanya selembar kain yang sudah tidak utuh lagi. Sungguh menyebalkan, baunya membuat aku sesak nafas kalau berdekatan dengannya!” ujar pedagang yang lainnya.
“Tapi dia nampaknya cantik, lho ‘Gan. Tubuhnya juga tinggi semampai tapi agak kurus karena agaknya kurang makan dan sedang bersedih,” kata pengawalnya.
“Cantik tapi kotor, bau, dan Gila! Untuk apa memelihara orang gila? Kalau kita guyur dengan air lalu dicuci bersih atau disuruh mandi sendiri, kotor dan baunya memang bisa hilang, tapi gilanya mana bisa hilang. Kalau kita memperkosanya atau mengajaknya baik-baik setelah bau dan kotornya hilang, dia akan cerita di mana-mana kepada siapa saja. Apa kita tidak akan mendapat malu?” ujar salah seorang pedagang yang lainnya lagi.
“Usir saja dia! Bisa bawa sial dia nanti. Ya kalau dia orang baik-baik, tidak mengganggu atau mengambil apa-apa dari kita, kalau ternyata dia itu pencuri yang pura-pura gila sambil mengintip kelenaan kita? Kalau barang-barang kita ada yang hilang, baru tahu rasa kita!” kata juragan penuh curiga.
“Ya, usir saja dia! Usir saja dia! Usir! Usir…!” teriak para pedagang dalam barisan itu bersahut-sahutan.
“Nanti dulu! Jangan usir dia! Aku khawatir dia itu bukan manusia biasa. Mungkin dia itu setan alas, anak yang bahureksa penunggu hutan ini. Kalau dia kita usir takutnya nanti kita akan kena marah orang tuanya dan bala tentaranya. Bisa kacau barisan para pedagang ini,” kata salah seorang pedagang yang lainnya.
“Kenapa kamu punya pendapat seperti itu?” tanya pedagang yang lainnya.
“Sekarang coba pikir! Di tengah hutan lebat seperti ini, mana ada seorang perempuan yang benar-benar manusia berani hidup sendirian tanpa teman ataupun pengawal. Apalagi dia itu wanita cantik tetapi dandanannya seadanya, tidak seperti umumnya wanita cantik. Segila-gilanya seorang wanita yang dicerai atau ditinggal mati suaminya, atau seorang gadis yang diputus pacarnya, dia tidak akan berani masuk ke tengah hutan lebat seperti ini untuk hidup mangasingkan diri. Karena dia akan segera mati kelaparan atau mati dimakan binatang buas atau dipatuk ular berbisa. Jadi aku mengira dia itu bukan manusia, tapi sebangsa setan, jin atau siluman. Jadi biarkan saja! Kalau nanti dia sudah bosan bermain-main ikut dalam barisan kita, dia tentu akan kembali ke tempat tinggalnya sendiri. Mungkin pohon asoka sana tadi keratonnya,” kata pedagang yang tadi melarang mengusir Dewi Damayanti. Dan karena mendengar kata-kata pedagang ini, banyak pedagang dalam barisan itu yang tidak berani mendekati Dewi Damayanti. Mereka mempercepat langkah menjauh atau justru memperlambat agar tidak beriringan atau berjajar. Kalau terpaksanya harus berjajar, maka begitu sampai di dekat Dewi Damayanti merekapun segera memanjangkan langkah agar segera menjauh dari orang yang mereka kira puteri penunggu hutan itu.
Merasakan ada keanehan pada tanggapan orang-orang di sekitarnya, Dewi Damayanti diam saja. Yang penting ia bisa ikut dalam barisan ini keluar dari hutan lebat  yang tidak diketahui simpul keluarnya, itu baginya sudah  sangat berterima kasih. Perkara orang-orang pada menjauh darinya karena mengira ia adalah orang gila, atau orang mengira ia puteri  penunggu hutan, itu bahkan kebetulan. Coba kalau mereka tahu kalau dirinya itu adalah Dewi Damayanti puteri negara Widarba yang pernah mengadakan sayembara pilih yang diikuti raja sewunegara, para bupati, dan pangeran putera raja dari berbagai negara, dan sekarang mereka tahu kalau Dewi Damayanti itu berada sendirian di tengah hutan karena ditinggal suaminya, tentu mereka akan saling berkelahi untuk memperebutkan dirinya. Hutan ini akan menjadi lautan darah yang mengerikan dengan mayat-mayat bergelimpangan. Ya, para pedagang yang rukun saling tolong menolong, bekerja bahu-membahu terutama saat melewati hutan lebat, agar tidak diganggu perampok, bisa saling bunuh untuk memperebutkan dirinya kalau mereka mengetahui jati dirinya. Berpikir seperti itu, untuk menjaga kebaikan semuanya, maka Dewi Damayanti berusaha akan terus  menutupi jati dirinya dengan bersikap dan berbuat aneh-aneh agar dikira seperti yang mereka sangka tadi.
Ketika malam datang, sesuai perhitungan yang sudah biasa mereka lakukan, para pedagang itu sudah sampai di padang ilalang yang luas. Di tengah padang itu ada tanah lapang yang rumput-rumputnya pendek dan lembut. Di dekat tanah lapang itu ada sungai yang airnya mengalir jernih, bisa untuk menambah bekal minum dan memasak makanan. Mereka berhenti untuk mendirikan perkemahan di situ.  Barang-barang dagangannya dikumpulkan jadi satu di tengah tanah lapang dekat api unggun yang segera mereka nyalakan. Barang-barang itu ditunggui para pengawal yang jumlahnya cukup banyak. Sedangkan kuda-kuda, onta-onta, dan gajah-gajah pengangkut barang itu diberi kesempatan untuk istirahat, makan dan minum yang cukup agar besok dapat melanjutkan perjalanan dengan lebih segar dan cepat.
Tetapi mereka tidak tahu kalau tempat yang dekat sungai yang airnya banyak dibutuhkan binatang-binatang hutan itu adalah tempat tinggal gajah-gajah hutan yang masih hidup liar. Gajah-gajah itu memang berkeliaran sampai ke tempat-tempat yang jauh. Tapi pada waktu-waktu tertentu mereka memerlukan kembali ke tempat tinggalnya. Nah, ketika gajah-gajah yang jumlahnya banyak sekali itu kembali ke tempatnya, mereka terkejut melihat ada banyak binatang sebangsanya yang sekarang tidak hidup liar seperti dirinya lagi, tetapi mereka jinak menurut segala perintah manusia yang kadang semena-mena. Mereka marah, kenapa binatang sebangsanya kini mau dibodohi, mau diperbudak oleh manusia, disuruh angkut-angkut barang. Mereka khawatir, jangan-jangan gajah-gajah jinak itu dijadikan pancingan untuk mengajak gajah-gajah liar di hutan agar mengikuti jejaknya, dijadikan gajah jinak yang menurut saja kepada segala perintah manusia. Maka gajah-gajah liar yang marah dan dendam itu segera menghubungi teman-temannya yang masih liar untuk merencanakan suatu aksi.
Ketika malam masuk semakin dalam, gajah-gajah liar yang jumlahnya tak terhitung itu pun melancarkan aksinya. Mereka mengamuk. Sasaran utamanya adalah gajah-gajah jinak yang telah mengkhianati kehidupan gajah liar. Mereka bertarung ramai sekali. Suaranya bergemuruh hiruk pikuk dan pating jlerit. Karena kalah jumlah, banyak gajah-gajah jinak itu yang mati atau terpaksa melarikan diri  tanpa arah. Binatang-binatang lainnya seperti kuda dan onta yang juga sudah menjadi jinak mau dipekerjakan manusia, ada pula yang digading gajah atau dibelalai dan diinjak-injak gajah hingga mati. Yang lainnya yang ingin selamat segera melarikan diri masuk hutan tanpa arah. Sementara itu gajah-gajah liar lainnya yang tidak mendapat musuh mendatangi api unggun. Dengan belalai dan gadingnya mereka membuat kayu-kayu yang terbakar itu terlempar tersebar ke mana-mana sehingga menimbulkan kebakaran di mana-mana. Barang dagangan yang dikumpulkan para pedagang di tempat itu sebagian besar ikut terbakar. Para pengawal yang melihat hal itu tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan mereka berlari sembunyi  mencari selamat.
Setelah puas membuat kocar-kacir semua binatang-binatang yang sudah mau diperbudak manusia dan membuat kerusakan-kerusakan, bahkan kebakaran di perkemahan para pedagang tanpa perlawanan yang berarti, gajah-gajah yang jumlahnya tak terhitung itu pun meninggalkan tempat itu dengan memperdengarkan suaranya yang  pating jlerit, entah itu suara kepuasan, kemarahan, atau ancaman, atau aba-aba untuk terus maju mengelilingi hutan yang menjadi wilayah kekuasaannya, tidak jelas. Langkah-langkah kakinya yang berlarian meninggalkan perkemahan para pedagang terdengar bergemuruh  pating gedebug menggetarkan alam sekelilingnya.
Sepeninggal gajah-gajah liar itu para pedagang dan pengawal keluar dari persembunyiannya. Mereka segera berlari untuk melihat barang-barang dagangan yang mereka kumpulkan di dekat api unggun. Ternyata sebagian besar barang dagangan mereka telah hangus terbakar. Melihat sebagian besar barang dagangannya sudah hangus terbakar, bahkan ada yang masih menyala dimakan api, mereka segera bekerja bersama, ada yang mengusung barang-barang yang masih utuh ke tempat lain yang lebih aman, ada yang mengambil air di sungai untuk menyiram api yang masih menyala membakar sebagian barang dagangannya, agar padam. Setelah api dapat dipadamkan, dihitung-hitung ternyata barang dagangan yang masih utuh tinggal sepertiganya saja. Sedangkan dagangan yang rusak tapi masih bisa dijual ada seperlima dari keseluruhan. Sisanya sudah hangus terbakar tidak dapat dimanfaatkan lagi. Memang kejadiannya amat cepat. Gajah-gajah itu tidak lama membuat kekacauan di tempat itu, seolah hanya suatu peringatan saja mereka melaksanakan aksinya, setelah itu pergi.
Para pedagang itu dheleg-dheleg, duduk diam menyesali nasib yang telah terjadi. Ada yang menggaruk-garuk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal. Ada yang narik-narik rambutnya sendiri atau memijit-mijit pelipisnya yang terasa pening memikirkan besarnya kerugian yang harus ditanggungnya. Karena mereka merasa senasib sepenanggungan, sama-sama musyafir dagang mencari untung, tak ingin yang satu untung besar karena dagangannya masih utuh sementara yang lainnya rugi besar karena dagangannya habis terbakar sebelum sampai ke pasar, maka pimpinan rombongan mengajak para pedagang untuk musyawarah memecahkan masalah yang dihadapi.
“Kita ini para pedagang yang sama-sama mencari untung. Sebagai pedagang untung atau rugi adalah hal biasa. Sebagai pedagang besar yang berdagang di tempat-tempat yang jauh, melewati hutan yang penuh bahaya, baik itu perampok ataupun binatang buas, dan juga melewati sungai yang kadang banjir atau dihuni buaya-buaya yang ganas, kita sudah berusaha membayar pengawal-pengawal yang jumlahnya tidak sedikit untuk mengamankan perjalanan kita, untuk keselamatan jiwa kita dan dagangan kita. Itu semua usaha kita yang kita biayai bersama. Tapi kejadian tadi itu di luar perhitungan dan kemampuan kita. Apa artinya para pengawal menghadapi gajah-gajah liar yang jumlahnya tak terhitung seperti tadi. Jadi kita tidak usah menyalahkan para pengawal. Mereka bisa selamat kita juga sudah cukup bersyukur. Masih ada yang akan mengawal kita pada perjalanan selanjutnya. Sekarang yang terpenting kita bisa menyepakati bersama, bagaimana untung rugi yang tidak disebabkan transaksi jual beli ini dapat kita pikul dan nikmati bersama. Nah aku ingin tahu apa usul Saudara-saudara semua?” kata pimpinan rombongan.
“Aku usul, bagaimana kalau barang yang masih ada ini kita kumpulkan jadi satu, lalu kita bagi rata diantara para pedagang yang ikut dalam rombongan ini?” usul salah seorang pedagang.
“Nanti dulu! Kita ini pedagang yang berbeda-beda dagangannya. Ada yang dagang pakaian, ada yang dagang bahan makanan atau hasil bumi, ada yang dagang perhiasan, dan lain-lain yang besarnya modal berbeda-beda. Bagaimana mungkin pedagang yang modalnya cuma kecil akan mendapat bagian dagangan yang sama banyaknya dengan pedagang yang modalnya besar? Tidak bisa seperti itu! Oleh karena itu aku mengusulkan bagaimana kalau pembagian itu hanya untuk pedagang yang menjual dagangan sejenis?” usul salah seorang pedagang yang lainnya.
“Maksudmu pedagang sembako sama pedagang sembako? Pedagang perhiasan sama pedagang perhiasan? Pedagang pakaian sama pedagang pakaian, begitu?” salah seorang pedagang yang lainnya lagi minta penjelasan.
“Betul! Aku kira begitu lebih adil. Coba bayangkan seorang pedagang sembako sekarang tiba-tiba harus menjual perhiasan, tentu sulit melakukan tawar menawar yang menguntungkan. Bisa-bisa tidak laku karena menawarkan terlalu tinggi, atau tidak untung karena menawarkan dagangan terlalu rendah, dan mematikan pasaran pedagang yang lainnya yang menjual dagangan dengan harga sesuai harga yang semestinya, tapi kemudian menjadi kelihatan kemahalan,” pendapat pedagang yang lainnya lagi.
“Ya sudah, kalau semua sudah setuju pendapat ini, mari segera kita laksanakan pengumpulan, penghitungan dan pembagiannya secara adil,” kata pemimpin rombongan. Kemudian para pedagang itu dibantu para pengawalnya melakukan pengumpulan, penghitungan dan pembagian secara adil. Dengan jujur mereka memberi keterangan berapa besar modal masing-masing dalam perdagangan kali ini. Hal ini penting untuk menentukan berapa besar bagian yang akan mereka terima.
Setelah pembagian barang dagangan selesai, mereka merasa masih ada masalah yang mengganjal yang mereka kira menjadi penyebab kesialan yang mereka terima.
“Aku merasa kesialan yang menimpa kita ini diakibatkan kita ini diikuti puteri bahureksa penunggu hutan ini. Puteri yang ikut dalam barisan kita seperti orang gila itu diam-diam memanggil bala tentaranya berupa gajah-gajah siluman untuk mengusir gajah-gajah, onta-onta, dan kuda-kuda kita agar berlarian meninggalkan kita. Tidak cukup begitu, gajah-gajah siluman itu juga disuruh merusak dan membakar barang-barang dagangan kita. Oleh karena itu sebaiknya kita usir saja siluman perempuan itu!” kata pimpinan rombongan pedagang.
“Ya kita usir saja perempuan sundel bolong itu!” teriak salah seorang pedagang.
“Betul, kita usir saja peri anak danyang penunggu hutan itu!” teriak salah seorang pedagang yang lainnya lagi.
“Aku sudah bilang dari kemarin, perempuan gila itu tentu akan membawa sial kepada kita. Sekarang baru kita sadar setelah kita mendapat celaka dan rugi tak terkira. Jangan tunda-tunda lagi, ayo segera kita usir perempuan gila dan bau, anak wewe gombel itu!” teriak pedagang yang sejak bertemu dengan Dewi Damayanti sudah memperlihatkan sikap tidak senang.
“Ya, usir! Usir! Usir! Usir dedemit perempuan pembawa sial itu!” teriak para pedagang dan pengawal serentak.
Mereka ternyata tidak hanya berteriak-teriak, tetapi betul-betul bertindak mengusir Dewi Damayanti keluar dari barisan. Bahkan mereka dengan menggunakan pedang yang terhunus mengusir perempuan lemah yang dikiranya siluman dedemit itu jauh meninggalkan barisan. Dewi Damayanti karena merasa takut dan memang tidak mempunyai kemampuan untuk melawan, menurut saja mereka giring masuk ke tengah hutan menjauhi jalan yang akan dilalui para pedagang.
Setelah tidak diikuti perempuan yang mereka kira siluman penunggu hutan, para pedagang itu lalu melanjutkan perjalanan menuju kota yang sedang musim berdagang. Sementara itu Dewi Damayanti yang berusaha mengikuti jejak mereka akhirnya menemukan jejak mereka juga. Namun demikian agar tidak diusir lagi ia tidak mempercepat langkah untuk mengejarnya. Cukup berjalan mengikuti dari jarak yang terjaga dengan maksud agar tidak diketahui sehingga tidak diusir lagi.  Di sepanjang jalan Dewi Damayanti tak henti bermawas diri, melakukan introspeksi, bermawas diri metani diri sendiri, mencari-cari kesalahan dan dosa-dosa yang telah dilakukan baik disengaja maupun tidak disengaja.
“Kenapa aku sekarang mengalami lelakon menyedihkan yang berkepanjangan seperti ini? Padahal menurut perasaanku aku ini sejak kecil tidak pernah menyakiti hati orang lain. Aku juga tidak pernah memfitnah orang lain. Aku juga tidak pernah membenci kepada orang lain. Aku tidak pernah membuat iri hati orang lain. Eh… nanti dulu! Benarkah aku tidak pernah membuat iri hati orang lain? Memang aku tidak pernah pamer sesuatu yang kumiliki kepada orang lain, tetapi kecantikanku… ya kecantikanku yang ada padaku sejak lahir, dan terus aku pelihara serta aku bangun setiap hari, sebagai wujud rasa syukurku kepada sang Pencipta, sang Pemberi Hidup, sang Pemberi Kecantikan, sehingga setiap hari tambah bercahaya dan tambah sempurna… apakah tidak mungkin menimbulkan rasa iri hati kepada orang lain? Tetapi kecantikan itu adalah karunia Dewata Agung. Aku tidak minta, tetapi aku dikaruniai sejak lahir. Salahkah jika aku kemudian mensyukurinya dengan memelihara dan menyempurnakan ciptaan-Nya? Lalu apakah aku juga tidak pernah membuat serik atau sakit hati orang lain? Ya… apakah sayembara pilih yang telah aku lakukan, memilih satu dengan menyisihkan atau menolak ratusan lainnya yang sudah ikut sayembara, bahkan ribuan orang yang sebetulnya juga menginginkan tetapi tidak sempat ikut sayembara, bukan berarti telah mencacat mereka yang tidak terpilih?   Apakah perbuatanku itu tidak berarti aku sudah membuat serik atau sakit hati ribuan orang yang tersisih itu? Ya, Dewata Agung, apabila kedua hal itu Engkau anggap aku telah melaksanakan suatu kesalahan, yang baru kali ini aku sadari, ampunilah aku dan lepaskan aku dari penderitaan ini, ya Sesembahanku!” Dewi Damayanti memohon di akhir laku mawas dirinya.
*

NB: Cerita ini adalah petikan sebagian dari Novel ”Prabu Nala dan Damayanti” sebuah Novel Ujian Cinta dan Kesetiaan Wanita Utama, yang akan diterbitkan Penerbit Diva Press Yogyakarta. ACC telah diberikan tanggal 14 Desember 2012.


Penulis: Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD

Related posts:

No response yet for "Contoh Novel: Petikan Novel Prabu Nala dan Damayanti"

Post a Comment