Contoh Proposal Kepada Penerbit Buku

Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Mungkin di antara pembaca ada yang sudah mempunyai naskah yang ingin diterbitkan ke penerbit, tetapi belum tahu cara menawarkannya. Redaksi sebuah penerbitan biasanya adalah orang-orang yang sibuk. Setiap hari banyak kiriman naskah yang diterima, harus dibaca dan dinilai, layak tidaknya untuk diterbitkan. Oleh karena itu mungkin mereka kurang mempunyai waktu untuk membaca naskah yang diterima satu persatu, apalagi bagi pengirim yang belum punya nama, yang masih pemula. Oleh karenanya, mereka menginginkan kita membuat proposal yang berisi penawaran naskah. Dengan membaca proposal tersebut, penerbit akan mengetahui profil kita sebagai penulis, juga segala sesuatu tentang naskah yang kita tawarkan untuk diterbitkan, termasuk ringkasan cerita/buku dari naskah yang kita tawarkan.  Setelah tertarik membaca proposal kita barulah kemudian Redaksi akan membaca dan menilai naskah buku kita secara kesekuruhan. 

Berikut ini adalah contoh proposal yang saya tawarkan kepada Penerbit Kana Media, Kelompok Penerbit Galangpress Yogyakarta. Dari membaca proposal saya yang juga saya lampiri Catatan Biografi saya, Penerbit Galangpress justru menelpon saya minta dibuatkan Kumpulan Cerita Misteri yang semula sudah dimuat di rubrik Jagading Lelembu Majalah Djaka Lodang Yogyakarta dan di rubrik Alaming Lelembut majalah Panjebar Semangat Surabaya. Tetapi penerbit minta yang sudah ditulis kembali dalam bahasa Indonesia. Mintanya 20 judul dalam batas waktu satu bulan. Karena saya baru punya 4 judul yang sudah dimuat di Majalah Djaka Lodang dan Majalah Panjebar Semangat, saya sanggupi untuk mengirimkan 15 cerita misteri, dengan catatan yang 11 judul cerita baru yang belum pernah dipublikasikan. Penerbit setuju. Alhamdulillah sebelum satu bulan sudah jadi 18 cerita lalu saya kirim lewat email. Alhamdulillah naskah tersebut di ACC dan bulan September ini memasuki editing.



Kepada Yth:
Penerbit Kana Media
Gedung Galangpress Center
Jln. Mawar Tengah No. 72 Baciro
Yogyakarta 55225
Telp. (0274) 554985, 554986
Fax. (0274) 556086
Email : kana.media@galangpress.com
www.galangpress.com

Proposal Naskah

IDENTIFIKASI
Data Penulis




Nama
:
Sutardi, S.IP
Nama Pena :
Sutardi MS Dihardjo
Sutardi Ardi Manikam
Masdi MSD

Alamat penulis sesuai KTP
:
Bendogantungan II, RT 02/RW 07  Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
Alamat domisili/surat-menyurat
:
Bendogantungan II, RT/RW 02/07 Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah KLATEN 57422
Telp
:
085642365342
087834801931
T.T.L :
     
Email/website/blog/friendster
:
sutardimsdiharjo@yahoo.com
Background pendidikan
:
S-1 Administrasi Negara
Hobi/bidang minat
:
Membaca / Menulis Fiksi
Pekerjaan utama
:
PNS Kecamatan Klaten Tengah
Profesi sampingan/lainnya
:
Penulis
Buku yang pernah ditulis
:
  1. Novel: Prabu Nala dan Damayanti (Sudah di-ACC, sekarang sedang menunggu jadwal penerbitan di Penerbit DIVA Press Jogjakarta)
  2. Kumpulan Cerita Misteri: KAMIGILAN ANGKERNYA KEDUNG BLANGAH (Penerbit mediakita Jakarta, terbit September 2013)
  3. PENGHUNI JEMBATAN KARANGWUNI (dalam Midnight Stories 3, mediakita Jakarta 2014)

Karya tulis lainnya (baik yang sudah maupun yang belum dipublikasikan)
:
  1. Novel: Lindu Aji Pangeran Bertanduk (dalam proses revisi sebelum dikirim ke penerbit)
  2. Tulisan-tulisan cerita misteri dalam Bahasa Jawa yang sudah dimuat di Majalah Panjebar Semangat Surabaya (Alaming Lelembut) dan Majalah Djoko Lodang Jogjakarta (Jagading Lelembut).
  3. Dongeng dan Cerita Anak / Wacan Bocah dalam Bahasa Jawa yang sudah dimuat dalam Majalah Djoko Lodang Jogjakarta, Majalah Panjebar Semangat Surabaya, Majalah Jaya Baya Surabaya, dan koran Solo Pos Surakarta.
  4. Beberapa Puisi dan Geguritan yang sudah dimuat di Majalah Semangat Jogjakarta, Majalah Djoko Lodang Jogjakarta, Majalah Panjebar Semangat Surabaya, Majalah Nusa Indah Semarang, koran Suara Merdeka Semarang, koran Kedaulatan Rakyat Jogjakarta, koran  Solo Pos Surakarta.
  5. Dua buah cerpen dengan judul: “Ajal Itu Pun Tibalah” dan “Penggembala” pernah dimuat di majalah sastra Horison Jakarta tahun 1978.
Informasi lainnya yang ingin disampaikan
:
Sekarang sedang menulis cerita Pangeran Jaka Patahwan, mengangkat legenda terjadinya Rawa Jombor dan Bulus Jimbung

Data Naskah




Judul Naskah
:
RAJA LOBANINGRAT (Kumpulan Dongeng)
Nama/Nama Pena yang digunakan
:
Sutardi MS Dihardjo
Jenis Buku
:
Fiksi Kumpulan Dongeng
Tebal Naskah
:
59 halaman
 Kertas:     Legal (F 4)
Ukuran: 1,5 spasi

Ide dasar buku
:
Di balik keajaiban-keajaiban dalam jalinan cerita dongeng, terkandung hikmah dan pelajaran yang dapat dijadikan contoh tauladan dalam membentuk kepribadian anak/kita.
Target Pembaca
:
Anak-anak, remaja dan umum
Usia
:
V10-12th, V12-15th, V15-18th, V18-30th,  V >30th,         (10 tahun ke atas )
V anak  V orangtua V remaja V dewasa
Profesi
:
V Ibu rumah tangga  V Pelajar/mahasiswa, V       Guru
V umum

Tingkat pendidikan
:
SD
SLTP
Gender
:
V Laki-laki     V Perempuan      V Keduanya
Daerah Pemasaran
:
Jawa, Luar Jawa
Target lainnya
:
Bisa dijadikan buku pengayaan di sekolah, untuk perpustakaan sekolah

KEORISINALAN KARYA

Ide Tulisan       :    Pengembangan dari ide sendiri yang sudah ada
                            Dari tulisan sendiri yang sudah pernah dimuat di majalah Bahasa Jawa, lalu ditulis kembali dalam Bahasa Indonesia dengan perbaikan/penyempurnaan, agar dapat dibaca dan dinikmati masyarakat yang lebih luas, sehingga lebih membawa manfaat.

Sumber Data   :
                             Majalah Bahasa Jawa Djaka Lodang Jogjakarta dan Majalah Bahasa Jawa Jaya Baya Surabaya, Koran SOLOPOS Surakarta.

Gambar, dan Ilustrasi :
                      Dari Penerbit                           

Ringkasan Cerita:
1.     Raja Lobaningrat
Karena rajin bertapa, Raja Lobaningrat dikaruniai kesaktian yang tiada tandingannya. Banyak raja dan panglima perang yang sudah dikalahkan, dan kemudian kekayaannya dijarah dan negaranya dijajah. Tetapi kemudian raja bosan berperang. Agar dapat termasyur sebagai raja yang mempunyai kekayaan tak terbatas tapi namanya tetap baik, raja bertapa mohon dikaruniai kesaktian, apa saja yang tersentuh telapak tangannya dapat berubah menjadi emas. Namun ternyata ketika keinginannya itu terkabul, ia justru merasa mendapat mala petaka, karena makanan dan minuman dan apa saja yang seharusnya memberi kenikmatan berubah menjadi emas yang keras dan tidak dapat dimakan maupun diminum. Akhirnya raja tobat, minta dikembalikan menjadi manusia biasa. Keinginannya terkabul setelah negara-negara jajahannya dimerdekakan dan barang-barang jarahan atau rampasan perang dikembalikan. Dan ternyata negaranya justru menjadi negara yang adil dan makmur.

2.     Pak Blandong
Pak Blandong ditugaskan untuk menebang pohon di hutan larangan. Ia mengajak anak-anaknya yang sudah bekerja dengan status magang. Ketika menebang pohon, karena tangannya terasa sakit, tanpa sengaja anaknya melemparkan kapaknya ke dalam lubuk sungai yang dalam. Mereka kemudian berusaha menyelam mencari kapak tersebut di sungai, tetapi tidak dapat menemukan. Dalam keadaan bersedih dan putus asa, tiba-tiba muncul seekor ikan ajaib mengembalikan kapak Pak Blandong. Ternyata ikan itu adalah ikan yang dahulu pernah ditolong Pak Blandong ketika terjebak di daratan setelah banjir surut. Ikan kecil yang sekarang sudah besar dan menjadi raja ikan itu telah mengasah kapak Pak Blandong sehingga menjadi lebih tajam.  Atas pertolongan ikan tersebut kini pekerjaan Pak Blandong jadi lebih mudah, lancar dan dapat selesai sebelum matahari terbenam. Ternyata pertolongan yang telah diberikan tidak sia-sia, terbukti ia mendapat balasan pada saat sangat membutuhkan.

3.     Terusirnya Si-Raja Rimba
Hutan Satwa Taru sudah lama dijajah Harimau Si Raja Rimba. Setiap hari penghuni hutan itu diminta menyediakan anak-anaknya sebagai santapan si penjajah. Karena semua binatang mencari selamat sendiri, tidak mau bersatu, maka penjajahan Harimau atas penghuni hutan Satwa Taru dapat berlangsung lama.
Tetapi kemudian setelah muncul Kancil, binatang yang cerdik, perlawanan secara diam-diam mulai digalang. Kegigihan Kancil dalam menggalang persatuan dan kesatuan di antara binatang-binatang hutan, dan atas kerja kerasnya menumbuhkan keberanian membesarkan nyali mereka, mebuahkan hasil. Dengan bersatu dan bekerja sama, binatang-binatang hutan yang tertindas itu dapat mengusir Harimau si Raja Rimba yang telah bertahun-tahun menjajah rakyat Satwa Taru.  

4.     Telur Emas
Untuk memperingati hari kemerdekaan negara Satwa Taru setiap tahun diadakan berbagai perlombaan, di antaranya lomba lari. Tetapi sudah beberapa tahun juaranya selalu itu-itu saja. Yaitu juara satu: Kuda, juara dua: Kijang, juara tiga: Anjing.
Karena tidak puas hanya meraih juara  dua, Kijang yang ingin merebut juara satu menggunakan akal licik. Ia menyuruh angsa menggelindingkan telur emas di arena pacuan untuk mengecoh lawannya. Kuda yang tadinya sudah sampai pada urutan paling depan akhirnya tergoda, berbalik mengejar telur emas yang ternyata palsu itu. Kijang berhasil menjadi juara satu dan anjing menjadi juara dua. Kuda menyesali kekilafannya yang disebabkan karena keserakahannya.
Tetapi kemudian Kancil membatalkan hasil perlombaan yang tidak sportif itu. Ketika perlombaan babak final diulangi, hasilnya tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Atas nasehat Kancil, akhirnya semua dapat menerima dengan legawa hasil perlombaan.

5.     Taman dan Tanamannya
Taman adalah nama seorang anak yang amat sayang pada tanaman. Setiap hari bekerja di kebun. Setelah orang tuanya meninggal, ia pergi ke kota untuk bekerja dan mencari pengalaman. Setelah mencari pekerjaan ke sana ke mari tidak tidak ada lowongan, ia bermaksud kembali pulang ke kampung halamannya untuk mengolah tanah. Di jalan ia melihat orang-orang melihat pengumuman sayembara mengobati anak juragan kaya yang sedang sakit parah. Namun Taman tak dapat berbuat apa-apa karena tidak mempunyai pengalaman dan kemampuan sebagai seorang tabib.
Ketika bermalam di jalan, ia bermimpi mendapat petunjuk untuk mencari obat di arah tenggelamnya matahari. Dan ketika terbangun, ia terkejut mendapati bekal dua kantong air dan makanan di dekat dirinya  tidur, seperti dalam mimpinya. Taman tak jadi pulang, tetapi ia melanjutkan mencari obat bagi anak juragan sambil memberi minum binatang-binatang yang ditemuinya sedang sekarat kehausan. Setelah menyiramkan sisa air kepada pohon pisang yang sedang sekarat, Taman mendapat sebagian obat yang dibutuhkan berupa tiga buah pisang dan kemudian air suci di telaga yang ada di dalam goa di lereng bukit.
Setelah melalui beberapa rintangan lagi, Taman dapat kembali ke kota. Dengan air suci dan pisang ajaib yang diperolehnya akhirnya Taman dapat menyembuhkan putri juragan. Sehingga sebagai pemenang Taman dijadikan menantu juragan dan mendapat modal untuk mendirikan perusahaan pengolahan hasil bumi di kampungnya. 

6.     Harta Karun
Untuk meratakan tanah sawahnya yang terletak agak tinggi agar dapat dialiri air, Pak Dadap menyewakan tanahnya kepada Pak Waru untuk dijadikan tempat pembuatan batu bata. Diambili tanahnya setiap hari, lama-lama tanah sawah yang tinggi itu hampir sama tingginya dengan tanah sawah yang lainnya.
Tak disangka pada saat-saat akhir pengambilan tanah itu Pak Waru menemukan guci berisi harta karun perhiasan emas, intan, berlian. Ketika ia meminta Pak Dadap menjadi saksi pengangkatan harta karun itu, Pak Dadap meminta agar temuan ini tidak usah dilaporkan, tetapi agar dilakukan secara sembunyi-sembunyi pada tengah malam. Hasilnya dibagi untuk mereka berdua. Harta tersebut lalu ditimbun kembali. Pak Dadap minta tolong kepada jin penunggu pohon bendo di sawah tersebut untuk menjaga, tidak boleh orang lain mengambil kecuali Pak Waru.
Tetapi ketika tengah malam kemudian mereka menggali kembali mencari harta karun tersebut, ternyata sudah tidak ada. Pak Dadap menuduh Pak Waru sudah mengambilnya untuk diri sendiri, tetapi Pak Waru mengelak. Akhirnya mereka sepakat minta pengadilan ke Kanjeng Adipati di Kadipaten. 
Ketika Kanjeng Adipati beserta para prajuritnya tiba di sawah tersebut, mereka melihat jin penunggu pohon bendo sedang duduk  di lubang yang ada pada pohon itu. Jin tersebut memberi kesaksian bahwa yang mengambil harta karun itu adalah Pak Waru. Kanjeng Adipati ingin membuktikan kesaksian jin tersebut sekaligus untuk mengetahui siapa sebenarnya yang salah dan siapa yang benar. Ia menyuruh anak buahnya untuk menggeledah rumah Pak Dadap dan rumah Pak Waru. Ternyata harta karun tersebut ditemukan di rumah Pak Dadap. Terbukti sekarang, yang berbohong adalah Pak Dadap. Dan kemudian diketahui jin tersebut adalah jin palsu yang sebenarnya adalah anak Pak Dadap yang sudah mandi air tape lalu bergulung-gulung di kasur yang sudah dibedah, sehingga kapuknya menempel memenuhi badannya. Pak Dadap dan anaknya mendapat hukuman kerja paksa, sedangkan Pak Waru mendapat hadiah. Harta karun menjadi milik negara.

7.     Menuai Hasil Perbuatan Sendiri
Pak Brata mempunyai seorang anak kandung bernama Galih. Istrinya sudah meninggal, dan kini beristri lagi dengan seorang janda beranak satu. Janda tersebut bernama Bu Sari. Sedangkan anaknya bernama Jaka. Sebagai seorang pedagang Pak Brata sering pergi jauh, berhari-hari meninggalkan rumahnya. Di hadapan Pak Brata, Bu Sari kelihatan sayang kepada Galih, tak beda kepada Jaka anaknya sendiri, tetapi ketika Pak Brata sedang pergi Bu Sari sering berlaku sewenang-wenang kepada Galih.
Suatu hari Bu Sari mengijinkan Galih ikut Jaka dan kawan-kawannya berburu di hutan. Ternyata mereka mempunyai rencana jahat untuk mencelakai Galih. Ketika sedang akan membidik burung buruan, Galih yang berdiri di pinggir jurang didorong Jaka sehingga terjatuh ke dalam jurang, lalu ditinggal pergi. Untung Galih menyangkut di gerumbul-gerumbul perdu dan kemudian mendapat akal untuk naik kembali. Tetapi karena tak tahu jalan pulang, akhirnya Galih tersesat ke tengah hutan.
Galih ditolong seorang nenek, diajak menginap di rumahnya dan dijanjikan akan diberi tahu jalan pulang. Pulangnya Galih diberi oleh-oleh sebuah pepaya yang ketika dibuka di rumah berisi perhiasan emas, intan, berlian. Bu Sari dan Jaka yang merasa iri minta diberi tahu jalan menuju ke rumah nenek. Setelah diberi tahu mereka pergi ke hutan, pura-pura tersesat, lalu ditolong dan diminta menginap oleh nenek. Tetapi nenek tahu kalau mereka menginap di rumahnya tidak ikhlas. Mereka terpaksa untuk mendapatkan oleh-oleh pepaya berisi perhiasan.
Paginya tanpa sepengetahuan nenek, mereka pulang dengan membawa dua buah pepaya. Tapi celaka, mereka tak tahu jalan pulang, mereka tersesat hanya berputar-putar di tengah hutan. Karena sudah tak tahan ingin mengetahui isi pepaya mereka, akhirnya mereka membuka pepaya mereka di tengah hutan. Alangkah ngerinya, ternyata pepaya-pepaya itu tidak berisi perhiasan emas, intan, berlian, tetapi berisi binatang-binatang berbisa yang menjijikkan, menakutkan, mengerikan dan berbahaya, yang lalu menempel di badan mereka, menggigit dan menyengat seluruh tubuh mereka.

                                    Klaten, April 2014
                   
                              Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD
Alamat: Dk. Bendogantungan II, Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan

Related posts:

3 Responses for "Contoh Proposal Kepada Penerbit Buku"

  1. sangat bermanfaat pak, saya juga sedang mencoba memasukkan naskah ke penerbit.

    ReplyDelete
  2. terima kasih pak sudah mau membagikan pengalaman dan ilmunya...

    ReplyDelete