Kumpulan Puisi Puasa

LAPAR PUASAKU DAN 
LAPAR PARA GELANDANGAN

Sengaja kukurangi makan sahurku
cukup kunikmati barokah-Nya agar
kurasakan lapar dan dahaga yang selalu
meremas-remas perut dan mengeringkan tenggorokan
saudara-saudaraku yang tercecer
menadahkan tangan di gerbang pasar

Sengaja tak kupakai baju lebaran
sarung dan peci baru kubeli
cukup pakaian lusuh sederhana agar
kurasakan kepapaan saudara-saudaraku
gelandangan pinggiran jalan
yang hanya punya rasa pengen

Sengaja kutinggalkan kasur empuk dan rumah hangat
tidur di teras masjid terbuka agar
kurasakan dingin malam dan nyamuk menggigit
malam yang lambat merambat
dengan lapar meremas-remas usus
yang dirasakan saudara-saudaraku
gelandangan terkapar di trotoar

”Bagaimanapun yang kau rasakan lain dengan yang kurasa
laparmu lapar rekayasa lapar sementara
laparmu lapar sebentar datang buka semua tersedia
siap santap barokahpun ada
laparku apa yang tersedia
lapar yang utuh tak tahu di mana ujung
apa bedanya buka sahur atau puasa”

”Benar, bagaimanapu lapar kita berbeda
laparmu keterpaksaan tak berdaya digilas jaman
laparku ibadah dilandasi iman
dikerjakan dengan niat berbakti mendekatkan diri
penghambaan diri menuju peningkatan
pembalajaran menuju mutaqin
laparku untuk mengenal diri sendiri
menjadi tuan bagi diri sendiri
tapi hamba bagi Ilahi Robi
tahu mengendalikan diri
tak terseret arus jaman serba materi
belas kasih pada sesama
sabar dan istiqomah”

Dimuat di Majalah NUSA INDAH Semarang No. 110/Oktober 2012

Tuhanku Begitu Dekat
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Tuhanku begitu dekat

Di tengah malam sunyi
digerak-gerakkan-Nya dengan lembut
kakiku lalu tubuhku
digoyang-goyang-Nya mimpiku lalu hatiku
disentuh pelan dengan santun
di pusat kesadaran
hingga aku tak terkejut dan merasa kehilangan
nikmat tidur dan mimpi indah
ketika terbangun

Jarum jam menunjuk angka satu
Dituntun-Nya aku mengambil air wudhu
dingin air terasa sejuk
membangun suasana khusyuk

Tuhan menungguiku dengan sabar
aku menggelar sajadah
ketika ’Allahu Akbar’ tangan kuangkat
para malaikat mulai mencatat
pahala tahajudku, khusyuk dan tawadukku
dan Allah menaburkan barokah, ketenangan
dan ketentraman dalam jiwaku
ketika doa-doa kupanjatkan
rasanya begitu nyata dan pasti
Allah Yang Maha Pemurah
mengangguk ridho
menyalakan merjan-merjan harapan

Ketika sholat dan doa kusudahi
malaikat bertasbih dan mengamini
Tuhan tetap menyertai di hamparan bunga tidur
bertikar rindu berbantal harap
mimpi wujudkan cita-cita luhur
sebatas ridho Ilahi

              Dimuat di Majalah NUSA INDAH Semarang No. 110/Oktober 2012

DOA DI AKHIR RAMADHAN
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Allahu Akbar…. Allahu Akbar…
bahkan rumput-rumput liar yang mengering
terbakar panas aliran lahar
dan batu-batu gunung membeku
masih ngepulkan asap panas
dari lelehan lahar pijar membara
tak henti-henti mengumandangkan takbir
mengagungkan Asma-Mu ya Allah
Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Wa Lilla Ilhamd

Allahu Akbar…. Allahu Akbar….
aku si rumpun padi
tumbuh segar hijau berseri
pada saatnya nanti
kuning bernas bak emas berkilau
disebut apa kalau tak mau
mengagungkan Asma-Mu Yang Maha Besar

Allahu Akbar…. Allahu Akbar…
di antara gema takbir berkumandang
di masjid-masjid, surau-surau dan alam semesta raya
terbersit tanya dalam hatiku:
benarkah daki-daki dosa telah bersih kucuci
kubasuh dengan istighfar dan guyuran ampunan-Mu?
benarkah amalan ibadahku
kukerjakan dengan tulus ikhlas
semata mengharap ridlo-Mu
bebas dari riya’ dan syirik?
puasaku, apakah bernas
terjaga amalan wajib dan sunah
tidak dipusokan ghibah, namimah
dan pandangan diwarnai syahwat?
bisakah aku besok terlahir kembali
bersih suci seperti bayi fitri?

Allahu Akbar… Allahu Akbar…
di antara gema takbir
yang membentur-bentur jiwa
menggugat nuraniku
menghadapkan aku pada neraca
amal dan dosaku
hanya ampunan dan ridlo-Mu
yang dapat memenangkan amalku
kuteteskan air mata taubat
duduk bersimpuh dan bersujud
mengharap ampunan dan ridlo-Mu
dan semoga dapat bersyukur
atas semua yang telah Engkau
limpahkan kepadaku

Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Wa Lilla Ilhamd
kusambut hari kemenangan
untuk mencapai derajat mutaqin

                                   Klaten, Ramadhan 1434 H

Dimuat di Majalah NUSA INDAH  No. 112/Oktober 2013


TONG BOCOR
kenangan diklat ADUM di skb cawas
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

lubang-lubang kecil
merayap-rayap dari bawah sampai ke puncak
lubang-lubang kecil
merangkak-rangkak
mencucuk-cucuk
dari bawahan sampai kepada pimpinan

lubang-lubang kecil kucurkan kebocoran
terencana dan di luar rencana
tersebar merata di semua lini
menggerogoti anggaran Negara
menggerogoti idealisme, dedikasi
keimanan dan keyakinan
demi kebersamaan, perintah atasan, atau keserakahan

tong bocor
tong dengan lubang-lubang kecil
tersebar di semua sisi
hanyalah sebuah permainan
dalam out bound diklat kepemimpinan
menjalin kerja sama dalam tim
menutup lubang-lubang kebocoran

kelompokku menjadi juara
terdahulu mengisi penuh tong bocor
menutup lubang-lubang yang tersebar
tapi aku bertanya
juara jugakah kami nanti
dalam kehidupan nyata
membangun proyek membelanjakan uang negara
membelanjakan uang rakyat

jawabnya terpulang kepada diri masing-masing
apakah motivasi mengikuti diklat
mencari bekal pelaksanaan tugas
lebih baik di kemudian hari
atau hanya
untuk memenuhi persyaratan
meraih jabatan yang lebih tinggi
jabatan yang diimpikan
kuasa bagi rejeki wenang terima upeti
atau
sekedar melaksanakan perintah
tanpa motivasi apa-apa

jawabnya terpulang kepada
diri masing-masing

***

Related posts:

No response yet for "Kumpulan Puisi Puasa"

Post a Comment