Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk I

9
BEDUG PEMBUKA RAHASIA

Pagi harinya Prabu Reksa Buwana memanggil abdi dalem pembuat gamelan kendang dan bedug. Abdi dalem empu pradangga, Ki Laras-swara yang sudah terkenal ahli membuat alat-alat musik tradisionil, baik dari bahan kulit, kayu maupun bambu. Sejak dari membuat kenthongan, angklung, kendang, sampai bedug yang besar, dialah ahlinya di Negara Arga Pura. Ia mempunyai beberapa orang pembantu yang mempunyai keahlian masing-masing. Ada yang ahli meraut bahan-bahan bambu, ada yang ahli membentuk bahan dari kayu, ada yang ahli menyamak dan memotong kulit sehingga siap dijadikan kendang, bedug atau yang lainnya, ada pula yang ahli mengukir dan mewarnai atau menghias alat musik yang sudah jadi. Sedangkan untuk melaras gamelan supaya mengeluarkan bunyi sesuai yang diinginkan, dia sendiri yang akan melakukan.

“Terimalah kulit banteng ini untuk kamu buatkan bedug besar yang akan ditempatkan di serambi Masjid Agung Keraton Arga Pura. Kamu harus hati-hati membuatnya, jangan sampai banyak kulit yang terbuang. Aku menginginkan bedug yang akan kamu buat nanti adalah bedug raksasa. Bedug terbesar dari bedug-bedug yang sudah ada. Suaranya dapat terdengar sampai jarak yang sangat jauh. Mempunyai daya jangkau yang sangat luas. Terdengar sampai ke pelosok-pelosok kota dan desa-desa. Sebagai penanda waktu dan sarana  mengajak  orang  berkumpul melakukan sholat berjamaah di Masjid Agung, aku berharap bunyi bedug itu nanti dapat menarik dan menyadarkan orang akan kewajibannya menyembah kepada Allah Yang Maha Suci.” perintah Prabu Reksa Buwana setelah Ki Laras-swara datang menghadap. 

“Sendika, Gusti Gusti Prabu. Hamba siap menerima tugas ini. Mohon doa restu semoga hamba dapat berhasil mengemban tugas ini!” jawab Ki Laras-swara dengan penuh hormat. Kemudian setelah menghaturkan sembah penghormatan, ia pun menerima kulit banteng Handoko Murti dan kulit banteng Jaya Handoko dari tangan Prabu Reksa Buwana. 

“Tetapi ingat-ingatlah pesanku yang harus kamu patuhi! Jangan sekali-kali kamu melanggar pesan ini! Ki Laras-swara, bersediakah kamu mematuhi pesanku ini, dan berjanji tidak sekali-kali akan melanggarnya?” tanya Prabu Reksa Buwana dengan penuh wibawa tetapi terselubung di dalamnya rasa kekhawatiran.

“Dengan penuh hormat hamba mematuhi perintah Gusti Prabu. Apabila hamba melanggar larangan Gusti Gusti Prabu, hamba bersedia dihukum gantung di alun-alun,” kata Ki Laras-swara dengan penuh rasa kepatuhan seorang abdi yang merasa tidak berharga di hadapan tuannya.

“Baiklah kalau begitu. Kedua kulit banteng ini adalah kulit banteng keramat, yang satu adalah kulit banteng kelangenanku yang mempunyai arti sejarah tersendiri bagiku, sedangkan yang satunya lagi adalah pemberian seorang Kyai yang ahli bertapa brata sepanjang hidupnya. Beliau berpesan, yang juga menjadi pesanku kepadamu yang tidak boleh dilanggar: Hanya puteraku Pangeran Lindu Aji yang boleh mencoba memukul bedug ini untuk pertama kalinya. Tidak boleh ada orang lain yang boleh memukul bedug ini untuk pertama kali, kalau sudah jadi nanti. Jadi kamu tidak boleh mencoba memukul-mukulnya, terutama pada bagian kulit banteng pemberian Kyai Sidik Paningal, setelah terpasang. Jangan sekali-kali mencoba membunyikan bedug ini kalau kulit banteng sudah terpasang di lingkaran kayu bedug! Kamu sudah sangat berpengalaman membuat kendang maupun bedug, aku yakin kamu dapat mengira-irakan seberapa tepat kamu memasang dan mengencangkan pemasangan kulit banteng ini pada lingkaran kayu bedug, tanpa harus mencoba memukulnya. Gunakan perasaan dan ilmu titen yang telah kamu punyai! Aku yakin kamu bisa. Nah, bersediakah Ki Laras-swara mematuhi pantanganku ini?”

“Sekali lagi, dengan penuh hormat, hamba akan mematuhi titah Gusti Gusti Prabu yang amat berat ini.”

“Kalau begitu, sekarang aku ijinkan kamu kembali ke rumahmu dengan membawa kulit banteng ini. Pesanku ini juga sampaikan kepada orang-orangmu yang membantu pembuatan bedug besar ini nanti.”

“Hamba menurut perintah Gusti Gusti Prabu,” kata Ki Laras-swara sambil memberi sembah penghormatan. Kemudian ia undur diri pulang ke rumahnya dengan membawa kulit banteng dan perintah yang terasa berat untuk melaksanakannya. 

Setelah sampai di rumah Ki Laras-swara segera membuka kedua kulit banteng pemberian Gusti Prabu Reksa Buwana. Ki Laras-swara terkagum-kagum melihat kulit banteng yang tergelar di lantai. Ia takjub melihat kedua kulit banteng yang sedemikian luasnya itu. Ia membayangkan, betapa besar dan gemuknya banteng yang telah dibunuh Sang Pangeran. Dan anehnya kenapa kedua kulit banteng itu sama besarnya. Padahal mereka hidup di tempat yang terpisah, pada kurun waktu yang berbeda. Lebih takjub lagi Ki Laras-swara ketika melihat sinar tipis keemasan yang terpancar dari bentangan kedua kulit banteng itu. Benar-benar benda keramat yang harus dikerjakan dengan penuh kehati-hatian. Sebetulnya setiap abdi dalem dalam mengerjakan setiap titah Gusti Prabu, tentu tidak boleh sembarangan, kalau dirinya tidak ingin celaka. Tetapi titah  ini lebih-lebih, karena titah ini mengandung ancaman yang berat kalau ia sampai melanggar pantangannya. Tapi menjadi jauh lebih berhati-hati lagi ia dalam mengerjakannya nanti, karena sinar kuning yang terpancar dari setiap senti kulit banteng itu seolah-olah adalah barang berharga yang tidak boleh terbuang percuma. Semua harus dapat dimanfaatkan, dan akan dimintai pertanggung-jawabannya di hadapan Gusti Gusti Prabu nantinya. Ki Laras-swara segera mengukur panjang lebar kulit banteng di hadapannya. Lalu ia mulai membuat rancangan bedug yang akan dibuat dengan memanfaatkan kulit banteng ini semaksimal mungkin. Setelah itu barulah ia memanggil para pembantunya untuk diberi penjelasan, termasuk pesan wanti-wanti yang mengandung ancaman dari Gusti Gusti Prabu. 

“Kali ini tugas kita amat berat. Kita tidak boleh main-main. Lihatlah, bahan baku pembuatan bedug besar yang akan kita buat nanti. Betul-betul kulit banteng yang luar biasa. Sudah aku hitung, garis tengah lingkaran bedug nanti ada dua meter. Agar kelihatan gagah, sesuai dengan besarnya, panjang bedug nanti harus tiga meter. Bagaimana, apakah adi Jati-swara sanggup mencari bongkotan kayu jati sepanjang tiga meter dengan garis tengah dua meter?”

“Kalau di hutan biasa keilhatannya sulit, Kakang. Tapi kalau diijinkan mencari kayu jati di Hutan Larangan milik Gusti Gusti Prabu, saya kira ada,” jawab Ki Jati-swara, abdi dalem ahli pembuat alat-alat musik dari bahan kayu jati.

“Kalau begitu biarlah nanti aku yang akan meminta ijin kepada Gusti Gusti Prabu. Sekalian aku akan minta bantuan Ki Blandong untuk memotongnya,” kata Ki Laras-swara.

“Tetapi masalahnya, Kakang, bagaimana caranya membawa bongkotan kayu jati sebesar itu dari Hutan Larangan sampai kemari?” Ki Laras-swara tercenung. Jarak Hutan Larangan dengan tempat pembuatan bedug nanti kira-kira lima kilometer. Kalau sudah berujud bedug mungkin gerobag sapi kuat mengangkatnya. Tapi kalau masih berupa bongkotan kayu jati utuh, apakah kuat? Ia berpikir keras, mencari jalan keluarnya.

“Begini saja, sekalian kita mohon ijin kepada Gusti Gusti Prabu untuk pinjam kelangenannya gajah. Kalau tidak kuat satu gajah ya dua gajah. Ya, gajah Kiyai Broto dan Kiyai Seno saya kira kuat menarik bongkotan kayu jati sebesar itu,” kata Ki Laras-swara setelah menemukan cara.

Kemudian Ki Laras-swara dan Ki Jati-swara, dibantu Ki Blandong dan beberapa orang temannya mulai memilih-milih kayu jati di Hutan Larangan setelah mendapat ijin Prabu Reksa Buwana. Akhirnya mereka menemukan kayu jati besar yang umurnya sudah ratusan tahun yang berjenis Jati Pendowo. Setelah selesai penebangannya, dua ekor gajah kelangenan Prabu Reksa Buwana pun didatangkan untuk menarik kayu jati yang sedemikian besarnya itu. Berat juga mengangkut kayu jati sebesar itu. Dua ekor gajah yang kuat-kuat pun juga merasakan betapa berat, sehingga harus berhenti beristirahat berulang-ulang. Bahkan gajah-gajah itu harus berulang-ulang diberi makan, minum dan jamu, agar badannya tetap segar dan kuat. 

Setelah kayu jati sebagai bahan utama pembuatan bedug rakasasa, selain kulit banteng, sudah sampai di bengkel pembuatan bedug, maka para pembantu Ki Laras-swara yang lain pun segara bekerja. Dalam mengerjakan tugas ini, para pembantu Ki Laras-swara sengaja mencari bahan-bahan pendamping dari bahan-bahan pilihan yang terbaik, agar tidak mengurangi nilai bedug yang akan dibuat. Semua mengerjakannya dengan penuh rasa hormat, patuh, tapi gembira dan bangga. Mereka merasa, seolah-olah sedang membuatkan mahkota untuk Gusti Gusti Prabu, sehingga membuatnya bangga dan terhormat. Tapi merekapun juga menjadi sangat berhati-hati karena ajinya barang yang sedang mereka buat. Seolah-olah mereka itu sedang memijiti seluruh anggota tubuh Gusti Gusti Prabu. Tidak boleh kasar dan sembarangan memperlakukannya. Pada setiap yang dikerjakannya, mereka senantiasa melakukan doa permohonan dan doa keselamatan untuk Gusti Gusti Prabu, negaranya dan dirinya sendiri.

Ki Jati-swara dengan hati-hati melubangi batang jati yang besar dan keras itu dengan pahat yang tajam. Ia memahat dengan hati-hati. Mula-mula lingkaran luar dipahat dulu pelan-pelan agar membentuk silinder. Lalu memahat bagian dalam dari tengah, semakin lama semakin ke pinggir, agar terbentuk dinding bedug. Setelah itu baru dihaluskan luar dan dalam.

Ki Walulang-swara yang bertugas mengolah kulit, mengolah kedua kulit banteng itu dengan hati-hati. Ia menyamak kulit itu lalu memotongnya menurut pola yang sudah dibuatkan Ki Laras-swara dengan hati-hati, sehingga kemudian siap dipasang pada kayu bedug yang sudah disiapkan Ki Jati-swara. Meskipun ia tahu betapa secuil dari kulit banteng itu dapat ia simpan dijadikan jimat yang sangat berharga, ia tidak mau mengambilnya. Ia takut menghianati amanat dan kepercayaan Gusti Gusti Prabu lewat Ki Laras-swara.

Setelah silinder kayu bedug dan kulit banteng untuk bedug sudah siap, maka kemudian tugas Ki Laras-swaralah yang harus memasang kulit banteng ke dalam silinder kayu jati dengan paku-paku kayu penahan kulit yang sudah disiapkan Ki Jati-swara. Mula-mula yang dipasang adalah kulit banteng Handoko Murti pemberian Kyai Sidik Paningal dari Padepokan Sendang Asih. Namun sebelum silinder kayu jati bedug itu tertutup kedua sisinya, terlebih dahulu Ki Laras-swara menggantungkan sebuah gong besar untuk membantu menggemakan suara bedug. Baru setelah gong terpasang, sisi yang lainnya ditutup dengan kulit banteng Jaya Handoko kelangenan Prabu Reksa Buwana. Lalu Ki Laras-swara membuat pemukul bedug dari kayu jati yang sudah disediakan Ki Jati-swara. Kayu yang sudah dibentuk dan diamplas halus, dibalut dengan benang dengan teliti agar menghasilkan suara yang empuk. 

Sementara Ki Laras-swara memasang kulit banteng dan melarasnya, Ki Jati-swara membuat empat tiang yang kokoh. Tiang-tiang itu disatukan dengan  dua susunan balok blandar, yang masing-masing susunan terdiri dari empat balok berkeliling. Balok-balok blandar ini digunakan untuk menggantungkan bedug raksasa yang baru dibuat. Setelah semua dihaluskan, kini tugas Ki Sungging-swara memperindah tiang penyangga dan balok-balok blandar dengan ukir-ukiran dan cat pewarna yang indah. 

Maka selesailah pembuatan bedug raksasa sesuai perintah Prabu Reksa Buwana. Tibalah saatnya mengusungnya ke serambi Masjid Agung Keraton Arga Pura. Bedug dinaikkan gerobag besar yang ditarik dua ekor sapi yang besar-besar dan kuat. Penempatan bedug raksasa dan percobaan membunyikannya disaksikan Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri, Ki Patih, Parampara penasihat kerajaan, dan para pembesar punggawa, para senopati serta prajurit kerajaan Arga Pura. Sesuai kedudukannya, mereka ada yang duduk di kursi yang sudah disediakan di serambi masjid, ada yang berdiri berderet di depan serambi masjid. Hadirin merasa takjub melihat bedug raksasa yang amat besar dan memancarkan aura sinar kuning keemasan, dengan hiasan dan perlengkapannya yang megah dan indah.

Setelah protokol mengumumkan acara percobaan membunyikan Bedug Kiyai Jaya Handoko Murti untuk pertama kali, Pangeran Lindu Aji memberi hormat kepada Gusti Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri Dewi Widiyaningrum, serta kepada hadirin semuanya. Lalu ia melangkah ke serambi masjid ke arah bedug raksasa diletakkan. Tangannya meraih pemukul bedug yang sudah disiapkan. Dengan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dengan memohon kekuatan, serta menggantungkan seribu harapan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, ia mulai mengangkat tangannya yang menggenggam kayu pemukul bedug itu. Dua kali ia mengayunkan kayu pemukul menghantam kulit bedug. Hadirin bertepuk tangan menyambut. Tapi lihatlah apa yang terjadi! Dengarlah suara aneh yang terdengar dari gema suara bedug itu! Terdengar bunyi menggelegar terbang jauh menelusup masuk ke pelosok kota dan desa-desa, suara yang aneh, “Dhunggggg….Lindu Aji, Pangeran…. bertandukkkk… Dhunggg… Lindu Aji, Pangeran….  bertandukkkk…” 

Gema suara bedug yang aneh itu terus bergema, bergaung, bergelombang-gelombang seakan tidak mau hilang di telinga para pendengarnya. Sekalian orang yang mendengar suara itu, baik yang ada di sekitar serambi masjid maupun yang ada di luarnya menjadi terheran-heran dibuatnya. Yang ada di luar, rakyat kerajaan Arga Pura yang sehari sebelumnya sudah mendapat perintah untuk memasang telinga pada jam yang sudah ditentukan, untuk mengetahui sampai seberapa jauh bunyi bedug raksasa yang diberi nama Bedug Kiyai Jaya Handoko Murti dapat didengar suaranya, menjadi terheran-heran mendengar suara bedug yang aneh itu. Suara bedug yang tidak hanya memperdengarkan suara yang tidak lazim, tetapi juga memberi tahukan suatu rahasia besar yang belum pernah mereka ketahui. Bahkan menduganyapun tidak pernah.

Sedangkan para pembesar dan sentono dalem kerajaan Arga Pura yang ada di sekitar serambi masjid, yang sengaja diundang untuk menyaksikan percobaan membunyikan Beduk Kiyai Jaya Handoko Murti, menjadi terbengong-bengong mendengar bunyi bedug yang keras mengalun, tetapi membuka rahasia aib Pangeran Lindu Aji yang selama ini rapat-rapat disembunyikan oleh Prabu Reksa Buwana, Permaisuri Dewi Widiyaningrum, dan Pangeran Lindu Aji sendiri. Mereka jadi tahu kenapa sejak kecil Pangeran Lindu Aji mendapat perlakuan yang sangat istimewa melebihi perlakuan terhadap pangeran-pangeran calon putra mahkota pada umumnya. Para pembesar dan sentono dalem itu lantas saling berbisik-bisik dengan orang-orang di sampingnya. Mereka saling menceritakan kejanggalan-kejanggalan yang mereka lihat dan rasakan terhadap sikap dan perlakuan Gusti Prabu dan Permaisuri kepada Sang Pangeran sejak kecil. Demikian juga terhadap diri Pangeran Lindu Aji sejak kecil hingga masa-masa remajanya. Mereka jadi mengerti kenapa pangeran calon raja junjungannya itu kelihatannya takut bergaul dengan orang, lebih-lebih dengan puteri-puteri. 

Mereka juga menghubung-hubungkan keadaan yang menimpa Pangeran Lindu Aji dengan festival adu banteng yang menewaskan banteng Jaya Handoko kelangenan Gusti Prabu hingga pecah kepalanya dan patah tanduknya. Bisik-bisik menjadi semakin seru bergema ketika hadirin juga menyambung dengan cerita-cerita tentang orang-orang yang menerima kutuk melahirkan anak cacat karena waktu hamil, suaminya memperlakukan semena-mena kepada binatang. Bunyi bisik-bisik yang semula pelan itu makin lama makin keras terdengar bagai gaung suara pasar yang baru dibuka, karena mereka semakin bergairah menceritakan aib yang mereka ketahui itu. 

Mereka merasa sangat bangga kalau merasa melihat atau merasakan kejanggalan-kejanggalan yang lebih banyak dan lebih unik pada diri Pangeran Lindu Aji maupun pada sikap Prabu Reksa Buwana dan Permaisurinya yang sampai memberikan ancaman-ancaman yang keras bagi mereka yang berbuat yang mengarah pada terbukanya rahasia Sang Pangeran. Bagi mereka yang merasa tahu lebih banyak, tidak mau suaranya tenggelam di antara gelombang bisik-bisik itu, maka merekapun meninggikan suaranya. Sehingga yang terdengar di sekitar serambi masjid itu bukan lagi gelombang suara bisik-bisik, tetapi suara perbincangan biasa yang bahkan semakin lama semakin keras, seolah mereka tidak takut dihukum karena telah memperbincangkan aib pangeran, orang yang seharusnya mereka hormati dan jaga kewibawaannya.

Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri merasa ditelanjangi di hadapan rakyatnya. Bisik-bisik yang terdengar dari mulut para pembesar dan sentono yang ada di hadapannya bagaikan beribu-ribu jarum berbisa menancap di dadanya. Ketika bisik-bisik itu berubah menjadi gelombang suara yang keras berterus terang, maka jarum-jarum itu berubah pula menjadi ular-ular berbisa yang menggerogoti hati, jantung, paru-paru, tulang dan menyedot semua sunsum yang ada di dalamnya. 

Ingin rasanya Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri membungkam mulut-mulut mereka, atau menghapus ingatan mereka terhadap suara bedug yang baru dibuat tadi. Ya, Raja dapat membunuh mereka semua yang ada di sekitar serambi masjid yang sudah mengetahui aib yang selama ini disembunyikannya, tetapi kepada mereka yang ada di luar sana, mereka yang ada di pelosok kota dan desa-desa yang juga mendengar suara itu? Apakah mereka juga akan dibunuhnya? Apakah dengan demikian sejarah tidak akan mencatat dirinya sebagai raja yang paling kejam? Ah… Gusti Prabu merasa pusing. Kepalnya memberat. Mahkota kerajaan yang selama ini terasa ringan dikenakan di kepalanya, kini terasa berat seakan tak terangkat di atas kepala.

Bagi Pangeran Lindu Aji sendiri, sebetulnya dirinya sudah siap menghadapi peristiwa ini. Wejangan-wejangan Kyai Sidik Paningal yang seakan memang membekali dirinya untuk menghadapi peristiwa seperti ini, telah membuat dirinya tegar dan tabah menerima setiap kenyataan yang tergelar di hadapannya. Dirinya hanya pasrah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Berencana. Tetapi melihat dan mendengar reaksi para pembesar dan para sentono yang hingar bingar, tak urung hatinya juga menjadi sedih dan malu. Tetapi ia tak segusar ayah-bundanya.

Tiba-tiba Gusti Prabu Reksa Buwana berdiri. Wajahnya merah menahan marah. Semua hadirin yang menyaksikan, menjadi takut, mulut mereka terkunci. Suara bising bisik-bisik yang baru saja menguasai halaman dan serambi Masjid Agung dan sekitarnya, tiba-tiba menjadi senyap. Tak terdengar suara betapapun pelannya. Bahkan tarikan nafas pun tak terdengar. Mereka takut mengabarkan keberadaan dirinya. Jangan-jangan Gusti Prabu yang merasa malu menjadi gelap mata, memerintahkan menghukum semua yang hadir, semua yang telah mendengar aib Sang Pangeran yang harus dihormati dan dijaga kewibawaannya.

“Kurang ajar! Kyai Sidik Paningal dan puterinya telah membeset mukaku! Dengan sengaja Kyai yang tak tahu diri itu telah mempermalukan keluargaku di depan umum. Aku tidak terima! Mereka harus dihukum berat, digantung di alun-alun! Mereka telah memberi petunjuk yang ternyata menjerumuskan keluarga raja ke kubangan lumpur malu yang tak terhapuskan!” teriak Prabu Reksa Buwana melontarkan hawa amarah yang menggumpal di dada. Hadirin yang mendengarkan tak berani berkutik. Hanya diam dan menunduk.

“Ki Dadap dan Ki Waru! Panggil Kyai yang tak tahu diri itu bersama puterinya kemari sekarang juga! Suruh menghadap kepadaku secepatnya! Akan aku tanya apa maksudnya memberi petunjuk yang menjerumuskan, yang ternyata justru membuka aib anakku di hadapan rakyatku. Aib yang bertahun-tahun telah kututup rapat-rapat, kusembunyikan serahasia mungkin, sekarang terbuka lebar, justru setelah aku menuruti petunjuknya. Panggil mereka secepatnya!”

“Daulat, Gusti Gusti Prabu. Hamba segera melaksanakan titah Paduka,” kata Ki Dadap dan Ki Waru serempak dengan gemetar. Keduanya menghaturkan sembah penghormatan kemudian keluar halaman masjid menuju kudanya yang diikat di pohon di depan masjid. Kuda lalu dipacu cepat menuju Padepokan Sendang Asih.  ***

Related posts:

No response yet for "Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk I"

Post a Comment