Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk II


Di sepanjang jalan Ki Dadap dan Ki Waru tidak berkata-kata satu sama lain. Hatinya rusuh! Bagaimana nanti mereka akan menghadap dan menyampaikan titah Gusti Prabu kepada Kyai Sidik Paningal yang sangat dihormati itu? Pasti, menghadapnya saja mereka sudah tidak berani memandang wajah Sang Kyai yang penuh wibawa. Apalagi menyampaikan titah yang penuh hawa amarah, tentu mereka tidak berani. Bagaimana ini? Tapi kalau tidak disampaikan, lalu Kyai Sidik Paningal tidak datang, tentu mereka dan keluarganya yang akan mendapat hukuman berat. Tidak mustahil hukuman mati yang akan diterimanya beserta seluruh keluarganya. Apa daya… Merekapun terus memacu kudanya dengan perasaan seperti benda jatuh ke sungai, hanyut terbawa arus. Tak tahu ke mana akan terbuang bersama air yang terus mengalir.

Sebelum tiba di Padepokan Sendang Asih, ternyata Kyai Sidik Paningal sudah dalam perjalanan menuju ke Kotaraja bersama puterinya. Mereka berpapasan di tengah hutan di mana Pangeran Lindu Aji, Ki Dadap dan Ki Waru pernah bertemu dan bertempur dengan para perampok.  Ki Dadap dan Ki Waru tergagap, akan menyampaikan titah Gusti Prabu, tetapi tak satu kata pun terucap. Mereka merasa takut juga merasa kasihan. 

“Ki Dadap dan Ki Waru, ada apa kalian memacu kuda kencang sekali seperti terburu-buru dikejar hantu saja? Sebetulnya kalian ini mau kemana?” Tanya Kyai Sidik Paningal.

“Kami mau ke Padepokan, menghadap Kyai,” jawab mereka dengan gugup.   

“Ada perlu apa kalian mencariku?”

Tidak ada jawaban. Kedua pengawal Pangeran Lindu Aji itu diam membisu. Kesulitan mencari kata-kata yang tidak menyakiti dan tidak mengejutkan Kyai Sidik Paningal yang sangat mereka hormati dan puterinya yang sangat mereka sayangi. Bagaimana caranya mengabarkan kata-kata yang penuh amarah dan ancaman dengan bahasa yang lembut penuh dengan kasih sayang? Tidak bisa! Mereka menggeleng-gelengkan kepala.

“Ya, sudah. Kalau begitu aku dan puteriku akan ikut kalian ke Kotaraja. Kebetulan aku memang akan mengantarkan puteriku yang tiap hari menangis, rindu kepada Pangeran Lindu Aji,” kata Kyai Sidik Paningal kemudian memecah kebuntuan. Kemudian mereka bersama-sama memacu kudanya menuju ke Kotaraja. Di sepanjang perjalanan mereka tetap diam, tidak berkata-kata. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. ***

Di halaman Masjid Agung tempat Bedug Kiyai Jaya Handoko Murti digantungkan, suasana masih kaku. Orang-orang yang diundang untuk menyaksikan peresmian bedug raksasa Masjid Agung itu masih utuh. Belum ada yang meninggalkan tempat. Mereka tidak berani, walau sangat ingin. Mereka merasa seperti dalam sel tahanan. Hidangan yang sebelumnya disajikan para abdi dalem, tak ada yang berselera menyentuhnya. Meskipun sebetulnya perut mereka sangat lapar, bahkan mereka yang mempunyai bakat sakit mag, rasanya sudah mulai kambuh pedih melilit-lilit, tetapi mereka tetap tidak berselera makan makanan yang sebetulnya sangat lezat-lezat itu. Tenggorokannya serasa tersumbat, dan perutnya terasa mual mau muntah. Mereka takut, jangan-jangan Gusti Prabu jadi gelap mata lalu membunuh semua yang hadir untuk mengubur rahasia yang sudah terlanjur mereka ketahui.

Suara tapal kuda  terdengar mendekat. Semula terdengar pelan-pelan, makin lama makin jelas, menimbulkan harapan mereka. Harapan segera terbebas dari hukuman setelah diketemukan orang-orang yang seharusnya pantas dihukum. Suara tapal kuda menghantam bumi yang mereka pijak itu terdengar begitu ramai setelah dekat regol Masjid Agung, menandakan jumlahnya cukup banyak. Benar juga, ternyata ada empat ekor kuda yang masing-masing ditunggangi Ki Dadap, Ki Waru, seorang tua berambut putih, dan seorang wanita cantik. Di depan regol masjid, mereka turun. Kuda mereka tambatkan di pohon-pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Lalu mereka melangkah masuk halaman Masjid Agung. Ki Dadap dan Ki Waru nampak melangkah dengan gemetar ketakutan. Sedangkan orang tua berambut putih dan puterinya melangkah dengan tenang, tidak takut sedikitpun.

 “Bapa Kyai Sidik Paningal! Dinda Dewi Pratiwi! Pergilah jauh-jauh! Jangan mendekat! Saya tidak ingin Bapa dan Dinda dihukum mati. Pergilah jauh-jauh!” teriak Pangeran Lindu Aji setelah dilihatnya Kyai Sidik Paningal dan Dewi Pratiwi datang. Kemudian lanjutnya sambil menghadap kepada Prabu Reksa Buwana,”Ayahanda Prabu, tolong ampuni Bapa Kyai Sidik Paningal dan Dinda Dewi Pratiwi! Jangan hukum mati mereka! Bapa Kyai Sidik Paningal adalah guru ananda.  Sedangkan Dinda Dewi Pratiwi adalah kekasih tambatan hati ananda. Tolong ampunilah mereka, Ayahanda Prabu!” pinta Pangeran Lindu Aji dengan penuh iba.

“Tidak, Ananda! Mereka berdua inilah yang telah mempermalukan kita. Puteri Kyai Sidik Paningal telah mengetahui rahasiamu yang merupakan aib keluarga. Mungkin ia telah membuka rahasia yang diketahuinya kepada banteng piaraannya. Lalu dengan ilmu sihirnya ia simpan rahasia itu kedalam kulit banteng itu. Lalu Kyai yang tak tahu diri ini, sengaja memberikan petunjuk yang kalau diikuti justru membeberkan rahasia yang tersimpan dalam kulit banteng itu. Dan kita percaya dan mengikutinya. Akhirnya kita bahkan diblejeti! Rahasia kita dibeberkan di depan umum! Kita dipermalukan habis-habisan!” kata Prabu Reksa Buwana sambil menunju-nunjuk ke arah Kyai Sidik Paningal dan Dewi Pratiwi.

Mendengar kata-kata Prabu Reksa Buwana yang menyalahkan dirinya dan puterinya, Kyai Sidik Paningal tidak menjadi takut, gentar, ataupun marah. Kyai yang sangat berwibawa itu bagaikan air samodera yang luas dan dalam, segala sungai yang bermuara kedalam dirinya, betapapun sedang banjir meluap-luap ia tampung dengan sabar. Dengan tenang kemudian Kyai  Sidik Paningal berkata, “Wahai Gusti Prabu Reksa Buwana yang bijaksana, sebetulnya anak hamba tidak membocorkan rahasia Pangeran kepada orang lain. Ia hanya membocorkan kepada binatang kesayangannya untuk melepaskan beban berat yang diterima tanpa sengaja. Anak hamba mengira banteng itu tidak akan mungkin membocorkan rahasia itu kepada siapapun.” 

“Tapi kenyataannya rahasia ini bocor ke mana-mana, puterimu yang jadi penyebabnya. Dan kenapa Kyai memberi petunjuk yang ternyata setelah diikuti justru membuka aib Pangeran Lindu aji, yang berarti juga aib raja, permaisuri, dan bahkan juga aib kerajaan ini, terbuka di depan umum?” tanya Prabu Reksa Buwana kesal.

Dengan tetap tenang Kyai Sidik Paningal menjawab, “Barangkali sudah menjadi takdir Pangeran Lindu Aji, rahasianya harus terbuka dengan cara seperti ini. Tetapi menurut perhitungan hamba, ini berarti Pangeran sudah tidak punya rahasia yang harus disembunyikan lagi, karena semua orang sudah tahu. Apabila Pangeran Lindu Aji dan Gusti Raja sudah dapat menerima takdir ini dengan ikhlas, hamba kira kutukan terhadap Pangeran Lindu Aji akan hilang dengan sendirinya,” kata Kyai Sidik Paningal.

Prabu Reksa Buwana termangu-mangu. Masuk akal juga kata-kata Kyai ini. Perasaannya yang tadi dipenuhi hawa kemarahan, kini mereda. Kesabaran dan kebijaksanaan kembali menyetir hati dan jiwanya.

“Apa betul begitu, Kyai?” tanya Prabu Reksa Buwana kemudian  penuh pengharapan.

“Itu menurut perhitungan hamba, Gusti Gusti Prabu. Kalau ingin buktinya coba saja Gusti Prabu buka tutup kepala Pangeran Lindu Aji,” kata Kyai Sidik Paningal.

Ragu-ragu Prabu Reksa Buwana akan melaksanakan petunjuk Kyai Sidik Paningal. Jangan-jangan tanduk itu masih ada, sehinga kalau ikat kepala Pangeran Lindu Aji dibuka, para pembesar dan sentono dalem, serta rakyat semuanya, tidak hanya mendengar kabar lewat suara bedhug tapi juga akan tahu buktinya. Prabu Reksa Buwana bimbang. “Tapi kalau tidak aku buka sekarang, kalau ternyata tanduk itu sudah benar-benar hilang, orang-orang akan mengira kalau Pangeran Lindu Aji masih bertanduk. Orang-orang akan menghina dan memberi cap Pangeran Lindu Aji sebagai pangeran bertanduk. Betul-betul cap atau sebutan yang menghinakan!” kata Prabu Reksa Buwana dalam hati. Ia betul-betul bingung. Hatinya penuh kebimbangan. Namun akhirnya Prabu Reksa Buwana pasrah. 

Prabu Reksa Buwana berjalan mendekati Pangeran Lindu Aji yang masih berdiri di depan Bedug Kiyai Jaya Handoko Murti. Pelan-pelan disertai doa Prabu Reksa Buwana membuka ikat kepala Pangeran Lindu Aji. Selapis demi selapis ikat kepala itu terbuka. Permaisuri Dewi Widiyaningrum dan hadirin semua menahan napas. Memandang tak berkedip ke arah kepala Pangeran Lindu Aji yang sedikit demi sedikit terlepas ikat kepalanya. Akhirnya ikat kepala itu pun lepas seluruhnya. Bersamaan dengan terbukanya seluruh kepala Pangeran Lindu Aji, terdengar suara “kelinting” demikan nyaringnya. Sebuah benda logam berwarna kuning terjatuh di lantai marmer serambi Masjid Agung. Namun orang-orang tidak memperhatikan suara itu kecuali Kyai Sidik Paningal dan Pangeran Lindu Aji sendiri. Orang-orang hanya terpaku melihat ke arah kepala Pangeran Lindu Aji yang sekarang terbuka penuh di hadapannya. Begitu kepala Pangeran Lindu Aji terbuka, terlihat jelas kepala itu bersih, tidak ada tanduk terlihat mencuat menghiasi kepala berambut gondrong itu.

Prabu Reksa Buwana dan Permaisuri Dewi Pratiwi merasa bersyukur mengetahui tanduk Pangeran Lindu Aji ternyata sekarang sudah hilang. Hadirin yang ada di sekitar serambi dan halaman masjid itu pun merasa lega. Seolah-olah mereka baru saja terlepas dari beban berat. Seolah-olah mereka baru saja dibebaskan dari vonis hukuman mati.

Kyai Sidik Paningal membungkuk memungut benda logam kuning yang tadi jatuh dari kepala Pangeran Lindu Aji. Kemudian dengan sikap penuh hormat diserahkannya benda itu kepada Prabu Reksa Buwana.

“Apa ini, Kyai?” Tanya Prabu Reksa Buwana tak mengerti.

“Cincin emas bermata berlian itu tadi jatuh dari kepala Pangeran Lindu Aji bersamaan dengan lepasnya ikat kepala Pangeran Lindu Aji. Barangkali cincin ini adalah penjelmaan dari tanduk Gusti Pangeran. Hamba serahkan cincin itu kepada Gusti Gusti Prabu untuk dipakaikan ke jari Pangeran Lindu Aji, karena sesungguhnyalah hanya Pangeran Lindu Aji yang berhak memakai cincin itu. Pangeran Lindu Aji telah berjodoh dengan cincin itu. Terbukti sudah sejak dalam kandungan cincin itu ada pada Pangeran Lindu Aji dalam bentuk sepasang tanduk.”

Prabu Reksa Buwana mengamat-amati cincin pemberian Kyai Sidik Paningal. Sebuah cincin emas berbentuk kepala banteng. Tanduknya runcing membelok ke depan. Kedua biji matanya terbuat dari berlian bersinar indah menyilaukan. Sinar itu berubah-ubah, seakan berputar-putar memperlihatkan sisi-sisinya yang berbeda warna. Kadang biru, kadang merah, kadang kuning, kadang putih, kadang hijau, kadang ungu. Indah sekali seperti pelangi.

“Lalu apa kasiat atau kegunaan cincin ini selain untuk hiasan di jari pemakainya, Kyai? Apakah cincin ini punya tuah?” Tanya Prabu Reksa Buwana setelah terkagum-kagum melihat cincin yang sangat indah itu.

“Menurut petunjuk gaib yang hamba terima, cincin itu mempunyai tuah sebagai penolak balak dan penghalau musuh. Cincin itu dapat melindungi pemakainya dari segala jenis racun, bisa dan bius. Cincin itu dapat melumpuhkan musuh meskipun musuh dalam jumlah yang lebih besar. Cincin itu dapat memperkuat perasaan pemakainya, sesuai dengan pancaran sinarnya. Apabila pemakainya sedang bersikap tenang, sabar, bijaksana dan berwibawa, maka mata cincin itu akan memancarkan sinar biru yang teduh. Kalau pemakainya sedang merasa bersemangat, penuh harapan dan cita-cita, maka mata cincin itu akan memancarkan sinar kuning keemasan. Kalau pemakainya sedang marah, maka yang terpancar dari mata cincin itu adalah warna merah darah. Tetapi kalau kemudian pemakainya ingat kepada Yang Maha Kuasa, lalu berdoa memohon pertolongan dan perlindungan, maka warna merah itu nanti dengan cepat segera berganti. Begitulah Gusti Prabu tuah dari cincin pusaka itu,” penjelasan Kyai Sidik Paningal.

“Terima kasih, Kyai atas penjelasannya. Cincin ini akan segera aku pakaikan ke jari Pangeran Lindu Aji putraku,” kata Prabu Reksa Buwana yang terus meraih tangan Pangeran Lindu Aji untuk memakaikan cincin pusaka berkepala banteng. Setelah mengenakan cincin Pangeran Lindu Aji terlihat lebih gagah dan berwibawa.

“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih kepada Kyai Sidik Paningal yang telah membantu melepaskan kutukan yang sudah bertahun-tahun menimpa Ananda Pangeran Lindu Aji. Dengan tulus aku juga mohon maaf kepada Kyai Sidik Paningal, karena aku telah memurkai dan bahkan akan menghukum mati Kyai dan Dewi Pratiwi. Aku tidak tahu kalau laku yang harus dijalani puteraku Pangeran Lindu Aji harus seperti itu untuk melepaskannya dari kutukan,” kata Prabu Reksa Buwana dengan penuh hormat.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Gusti Gusti Prabu. Kami semua rakyat Arga Pura adalah milik Paduka Prabu. Gusti Prabu berwenang atas diri kami,” kata Kyai Sidik Paningal merendah.

“Kyai, aku lihat puteraku Pangeran Lindu Aji sudah jatuh cinta kepada puterimu Dewi Pratiwi. Dan kelihatannya puterimu pun demikian juga. Bagaimana kalau aku melamarkan puteraku kepadamu? Puterimu Dewi Pratiwi akan aku nikahkan dengan puteraku Pangeran Lindu Aji. Apakah Kyai setuju menerimanya?”

“Kami semua rakyat Arga Pura adalah milik Paduka Prabu. Kalau itu sudah menjadi kehendak Gusti Prabu Reksa Buwana, maka sebagai hamba kami hanya dapat menerimanya. Apalagi hamba lihat sejak di padepokan, keduanya memang sudah cocok dan saling mencintai. Maka kenapa hamba harus menghalangi? Tentu dengan senang hati hamba akan merestui. Hamba menerima kemurahan Gusti Gusti Prabu.”

“Kalau begitu besok kita nikahkan puteraku Pangeran Lindu Aji dengan puterimu Dewi Pratiwi. Mulai sekarang kita persiapkan dulu segala sesuatunya.” Lalu kepada hadirin semua, ”Para pembesar, sentono dalem, dan para prajurit! Aku kira mendung yang menutupi langit Negara Arga Pura sudah sirna. Langit sudah kembali jernih dan terang. Maka hadirin semua aku perkenankan bubar, kembali ke tempat masing-masing!” kata Prabu Reksa Buwana tegas dan berwibawa.

Hadirin pun bubar kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan lega. Bahkan merasa gembira melihat masa depan negaranya yang cerah gilang gemilang. Mereka merasa dalam sehari ini mengalami suatu peristiwa yang luar biasa. Pengalaman tak terlupakan yang hampir mencelakai dirinya. ***

NB: 
Cerita ini adalah bagian ke 9 dari naskah buku novel berjudul “Lindu Aji Pangeran Bertanduk” yang belum pernah diterbitkan. Penulis menunggu penerbit yang bersedia menerbitkanna.

Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri) - Exnim
Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri)

        Penulis: Sutardi MS Dihardjo
PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan
KLATEN 57422
Nomor HP. 085642365342
Email: sutardimsdiharjo@yahoo.com

Related posts:

No response yet for "Novel Lindu Aji Pangeran Bertanduk II"

Post a Comment