Novel: Petikan Novel LINDU AJI PANGERAN BERTANDUK BAGIAN 1

Berikut ini contoh novel dari Petikan Novel LINDU AJI PANGERAN BERTANDUK BAGIAN 1:
Karya Sutardi MS Dihardjo

Petikan Novel LINDU AJI PANGERAN BERTANDUK BAGIAN 1:

Karya Sutardi MS Dihardjo

1
FESTIVAL ADU BANTENG


Mula-mula kesukaan Prabu Reksa Buwana, raja Negara Arga Pura ini dianggap sangat menguntungkan. Dapat menggerakkan perekonomian negara, memajukan peternakan dan perdagangan, serta menghasilkan pajak yang tidak sedikit bagi negara. Tetapi kemudian dianggap mendatangkan mala petaka yang harus diberantas.
Kesukaan raja yang rakyatnya hidup merasakan gemah ripah loh jinawi itu adalah mengadakan festival adu hewan bertanduk. Festival adu kambing, adu kerbau, adu sapi, atau adu banteng, dianggap telah memajukan peternakan di Negara Arga Pura. Festival tersebut telah mendorong rakyat Negara Arga Pura suka memelihara hewan-hewan tersebut dengan sebaik-baiknya. Memelihara untuk diadu maupun untuk diambil manfaatnya.
Rakyat Arga Pura dari rakyat jelata sampai para bangsawan, suka memelihara binatang bertanduk sebagai hoby, kesukaan, maupun sebagai profesi. Memelihara hewan bertanduk  yang gagah, gemuk, sehat dan bersih, menjadi kebanggaan pemiliknya. Lebih-lebih kalau hewan tersebut sudah beberapa kali memenangkan pertandingan, pemiliknya dianggap lebih terhormat.
Festival adu hewan bertanduk sering diadakan di Negara Arga Pura. Festival diadakan menurut jenis hewan yang diadu. Misalnya festival adu kambing atau domba, festival adu kerbau, festival adu sapi, atau festival adu banteng. Satu tahun sekali, yaitu pada hari peringatan wisuda Prabu Reksa Buwana, diadakan festival semua jenis binatang bertanduk. Suasananya amat meriah. Siang hari diadakan pertandingan adu hewan-hewan tersebut, malam harinya digelar pasar malam dan berbagai pertunjukan kesenian, dari yang tradisionil sampai yang paling mutakhir. Banyak pedagang menjual dagangannya, dari beraneka makanan yang lezat-lezat sampai bermacam-macam hasil kerajinan. 
Dengan adanya festival-festival ini, para peternak semakin bergairah memelihara ternaknya, para perajin semakin kreatif membuat hasil kerajinannya, para pedagang mendapatkan pasar untuk menjual dagangannya, pemilik penginapan juga mendapatkan banyak tamu untuk menginap, dan negara mendapat pemasukan dari berbagai pajak yang berhubungan dengan kegiatan festival dan ikutannya.
Prabu Reksa Buwana menyukai pertandingan ini dan sering kali juga ikut mengadu banteng kelangenannya. Demikian juga Permaisuri Dewi Widiyaningrum. Mula-mula ia tidak suka karena takut, tapi setelah terbiasa, akhirnya jadi suka dan dapat merasakan kenikmatannya.
***

Pagi ini  Prabu Reksa Buwana sedang mengadakan pasewakan agung di balairung istana. Raja duduk di dampar kencana di dampingi permaisuri. Duduk menghadap di depannya sesuai kedudukannya patih, parampara penasihat kerajaan, panglima perang, para tumenggung, para senopati, dan para pembesar kerajaan lainnya.
“Kakang Patih Mangkubumi, Paman Parampara, para senopati, tumenggung, dan punggawa-punggawa Kerajaan Arga Pura lainnya, kalian semua  pagi ini aku minta menghadap di balairung ini sebetulnya ada keperluan yang perlu aku bicarakan dengan kalian semua,” kata Prabu Reksa Buwana memulai pembicaraan.
“Ada keperluan apa gerangan, Gusti Prabu mengundang kami semua menghadap? Kelihatannya sangat penting?” tanya Patih Mangkubumi.
“Kemarin permaisuriku, Dewi Widiyaningrum, memberi kabar gembira kepadaku, yaitu dia sekarang sudah hamil tiga bulan lamanya,” jawab Prabu Reksa Buwana.
“Selamat Gusti Prabu! Selamat Gusti Permaisuri! Kami turut bergembira atas kehamilan Gusti Permaisuri,” kata Patih Mangkubumi spontan yang lalu diikuti hadirin semuanya.
“Ya, aku terima ucapan selamatmu. Tetapi, ketahuilah Kakang Patih dan semua yang hadir,  Dinda Dewi Widiyaningrum saat ini sedang nyidam. Dan nyidamnya itu aneh sekali.” Prabu Reksa Buwana berhenti untuk mendapatkan perhatian dan tanggapan dari hadirin.
“Mohon maaf Gusti, menurut pendapat hamba sudah biasa orang hamil, apalagi untuk yang pertama kali, nyidam. Dan orang nyidam biasanya yang diminta itu yang aneh-aneh. Bahkan seolah mustahil untuk dilaksanakan,” kata Parampara.
“Ya, aku tahu. Tapi kali ini Permaisuriku nyidam supaya diadakan festival pertandingan adu banteng! Bayangkan, nyidam kok aneh-aneh seperti itu! Bukankah benar begitu, Dinda Dewi Widiyaningrum?” kata Prabu Reksa Buwana beralih bertanya kepada permaisuri.
“Benar, Gusti. Rasanya hamba kok sangat ingin menyaksikan pertandingan adu banteng. Dan sangat ingin menyaksikan suasana meriah di kotaraja siang dan malam selama empat puluh hari,” jawab permaisuri.
“Sekarang bagaimana pendapat kakang Patih Mangkubumi?” Tanya Prabu Reksa Buwana.
“Bagus sekali Gusti Prabu! Hamba setuju diadakan festival adu banteng besar-besaran selama empat puluh hari. Kebetulan hamba sekarang memelihara banteng yang besar dan kuat, yang hamba pelihara dengan resep baru, dan belum pernah hamba adu di arena. Selain itu kita sudah lama tidak menyelenggarakan festival adu banteng. Yang sering kita lakukan akhir-akhir ini hanya adu domba atau adu kerbau. Padahal adu banteng lebih banyak mengundang penonton untuk menyaksikannya. Akan mendatangkan pemasukan ke kas negara lebih banyak,” kata Patih Mangkubumi bersemangat.
“Mohon maaf, Gusti Prabu, seingat hamba, dulu Gusti Permaisuri takut kalau menyaksikan pertandingan adu banteng. Tetapi kenapa sekarang bisa nyidam menyaksikan adu banteng? Apakah Gusti Permaisuri sekarang sudah tidak takut lagi?” tanya Parampara.
 Permaisuri Prabu Reksa Buwana, Dewi Widiyaningrum, adalah puteri raja dari negara tetangga. Karena tidak terbiasa melihat pertandingan adu banteng, permaisuri sering takut melihatnya. Apalagi kalau melihat salah satu banteng yang sedang berlaga sampai tertembus perutnya atau tertanduk matanya hingga berdarah. Terakhir permaisuri menyaksikan banteng yang sedang berlaga pecah kepalanya karena terlalu kerasnya beradu. Permaisuri menjerit ngeri, menutup matanya karena tak tahan melihatnya. Pusing kepalanya menyaksikan kekerasan berlangsung di depan matanya. Kemudian minta dipapah kembali ke istananya. Sejak itu pertandingan adu banteng dihentikan untuk sementara waktu.
Tetapi sekarang, tidak tahu entah kenapa, tahu-tahu permaisuri justru nyidam ingin menyaksikan pertandingan adu banteng.
“Tidak, Paman Parampara. Sekarang saya sudah tidak takut lagi. Karena aku tidak sendiri lagi. Dalam kandunganku aku ditemani anakku yang pemberani. Lagi pula keinginan ini bukanlah keinginanku sendiri. Tetapi adalah keinginan bayi yang ada dalam kandunganku. Mungkin bayi yang kukandung ini laki-laki. Jadi sejak dalam kandungan dia sudah menyukai hal-hal yang bersifat jantan dan perwira, seperti pertandingan adu banteng,” jawab permaisuri.
Parampara mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti kenapa Gusti Permaisuri junjungannya sekarang bisa nyidam seperti itu. Tapi kemudian sebagai penasihat kerajaan ia ingat sesuatu yang harus disampaikan kepada raja dan permaisurinya.
“Tapi kalau boleh hamba mengingatkan, Gusti Permaisuri dan Gusti Prabu! Menurut kata orang-orang tua dulu, apabila istri sedang hamil, suami harus hati-hati dalam kata dan perbuatannya. Dilarang menyakiti binatang. Apalagi membunuh binatang. Ada cerita, seorang desa ketika istrinya sedang hamil, suka mencari udang dan ketam di sungai. Karena dianggap tidak dibutuhkan, setiap mendapat udang atau ketam, kaki dan sapit hewan itu selalu dibuntungi dan dibuang, baru kemudian udang dan ketam yang telah buntung dimasukkan ke kepis untuk dibawa pulang. Ketika istrinya melahirkan, ternyata bayinya buntung satu tangannya. Hamba kira juga tidak boleh mengadu binatang. Karena hal ini akan berakibat tidak baik pada sifat, watak, atau peri laku bayi dalam kandungan istri,” kata Parampara Penasihat Kerajaan memberi nasihat kepada Prabu Reksa Buwana dan permaisurinya.
“Tetapi Permaisuriku ini nyidam, Paman. Orang nyidam itu kalau tidak dikabulkan katanya akan berakibat tidak baik bagi bayinya. Air liurnya akan selalu keluar menetes-netes. Kalau sampai seperti itu, dan berlanjut  terus sampai dewasa, bukankah akan membuat malu negara kita? Bayi ini kalau laki-laki, kelak  akan menggantikanku menjadi raja. Apakah tidak malu negara kita dipimpin raja yang air liurnya selalu menetes?” tanya Prabu Reksa Buwana.
“Sebetulnya tidak benar seperti itu, Gusti Prabu. Orang nyidam tidak harus dituruti. Apalagi kalau nyidamnya minta sesuatu yang mustahil. Nyidam adalah naluri kemanjaan. Tidak menuruti keinginannya dapat merupakan laku prihatin untuk melatih bayi dalam kandungan agar belajar mengendalikan diri,” kata Parampara.
“Tapi Paman Parampara, yang diidamkan Permaisuriku ini bukanlah sesuatu hal yang mustahil yang sulit kita turuti. Bahkan kita sudah terbiasa melaksanakannya. Jadi tidak ada salahnya kita laksanakan. Kalian semua aku mintai pendapat itu bukan berarti untuk mempertimbangkan dituruti atau tidaknya keinginan yang diidamkan permaisuriku. Tetapi kalian aku minta untuk merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatunya mulai hari ini,” kata Prabu Reksa Buwana tegas.
Tidak ada lagi hadirin yang berani membantah. Para punggawa Kerajaan Arga Pura yang hadir di balairung itu segera membentuk panitia dan merencanakan segala sesuatunya. Tidak ada kesulitan sedikitpun karena mereka sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti itu. Selebaran woro-woro segera disebar dipasang di tempat-tempat strategis sampai ke pelosok negeri.
***

PADA HARI yang sudah ditentukan festival adu banteng pun mulai dilaksanakan. Peserta datang dari segala penjuru negeri. Penonton pun datang berduyun-duyun mengelilingi arena. Ada yang sekedar ingin menyaksikan. Tapi banyak pula yang datang untuk berjudi dengan menjagoi banteng yang sedang berlaga. Orang berjualan bermacam-macam dagangan pun banyak. Ada yang mendasarkan dagangannya di stand-stand yang dibangun oleh panitia, tapi ada pula yang menjajakannya keliling. Semuanya laku dan laris terjual. 
Sepasang-sepasang banteng diadu. Ada yang menang, ada yang kalah. Yang menang setelah diberi kesempatan beristirahat, hari berikutnya diadu lagi ke peringkat yang lebih tinggi. Sedangkan yang kalah tersisih, tidak pandang siapa pemiliknya dan apa kedudukannya. Rakyat Arga Pura sportif menerima kekalahan. Tidak ada yang protes. Akhirnya sampailah pada puncak pertandingan. Yang tersisa adalah banteng milik Prabu Reksa Buwana yang diberi nama Jaya Handoko, dan banteng Ki Patih Mangkubumi yang diberi nama Kala Gumarang.
 Banteng Gusti Prabu diberi nama Jaya Handoko, karena selalu jaya, tak terkalahkan dalam pertandingan. Tubuhnya sangat besar, gagah dan kuat. Tanduknya panjang dan runcing. Banteng gemuk itu lehernya pun besar dan kuat. Orang mengatakan lehernya leher beton. Raja sangat menyayangi hewan kebanggaannya itu. Makannya rumput segar, biji-bijian dan buah-buahan pilihan yang dapat menyegarkan dan menguatkan tubuhnya. Minumnya selain air yang jernih, pada waktu-waktu tertentu secara teratur diberi minum air yang sudah diberi ramuan jamu-jamuan, madu  dan telur untuk menambah kekuatannya.
Sedangkan banteng Patih Mangkubumi, Kala Gumarang, adalah banteng yang baru saja dijinakkan dari banteng liar yang ditemukan di hutan. Banteng ini belum pernah diadu di arena sebelumnya. Meskipun begitu kemampuannya bertanding di arena tidak diragukan lagi. Dalam babak penyisihan ia telah membunuh dua ekor banteng lawannya karena patah lehernya dan tertembus perutnya. Banteng ini ditemukan ketika sedang bertarung dengan banteng liar lain di tengah hutan. Kemenangan telak banteng Kala Gumarang atas lawannya yang berakibat patahnya leher lawannya, menarik minat Patih Mangkubumi untuk memeliharanya sebagai banteng aduan. Tambah lagi diberi makan yang bergizi dan minum ramuan jamu-jamuan, menambah kuat banteng Ki Patih. Tambah lagi sekarang Patih menemukan resep khusus, yaitu setiap pagi dan sore diberi jamu cindel tikus dan minum arak susu kambing gibas, selain madu, telur dan jamu-jamuan. Maksud resep ini selain untuk memperkuat daya tahan tubuhnya, juga agar bantengnya punya gaya bertarung seperti kambing gibas yang pakai ancang-ancang lalu sruduk: Gabrus!
Penonton ramai pasang taruhan. Yang sudah melihat reputasi banteng Jaya Handoko kebanyakan menjagoi banteng milik Prabu Reksa Buwana. Tetapi mereka yang baru kali ini melihat kedua-duanya, banyak juga yang menjagoi banteng milik Patih Mangkubumi. Maklum secara fisik banteng Kala Gumarang lebih liat dan tingkahnya lebih liar tak terduga.
Begitu keduanya dilepas di gelanggang, setelah terdengar aba-aba berupa cambuk menggeletar tiga kali di udara, kedua banteng aduan itupun segera saling menanduk untuk melukai lawannya. Keduanya saling dorong, saling dongkel, dan saling seruduk. Kepala beradu kepala. Kerasnya tanduk beradu kerasnya tanduk. Leher beradu leher. Napasnya ngos-ngosan saling memburu. Dan kaki-kaki yang  gantian mendorong dan bertahan mengaduk-aduk tanah di bawahnya, menerbangkan debu berhamburan ke segala penjuru. Penonton yang sekedar menonton bersorak-sorak puas menyaksikan pertandingan yang seimbang. Penonton yang bertaruh menahan nafas, seolah-olah ikut memberikan kekuatannya untuk membantu banteng yang dijagoi. Begitu juga Prabu Reksa Buwana dan Patih Mangkubumi sebagai pemilik banteng yang sedang beradu. Sedangkan permaisuri Dewi Widiyaningrum, terlihat sangat menikmati pertunjukan yang keras berlumuran darah ini. Matanya tak lepas dari maju mundurnya banteng yang saling dorong, songkel dan terjang. Permaisuri ikut bersorak dan bertepuk tangan ketika melihat banteng Jaya Handoko berhasil menancapkan tanduknya ke mata lawannya hingga terlihat darah meleleh dari mata yang tertanduk itu. Tetapi permaisuri pun ikut cemas ketika melihat reaksi balik banteng Kala Gumarang yang jadi liar, mengamuk sejadi-jadinya beradu tanduk dengan banteng Jaya Handoko.
Tiba-tiba banteng Kala Gumarang mundur dua tiga langkah, ambil ancang-ancang, lalu dengan sekuat tenaga mengadukan tanduknya dengan sangat kerasnya ke tanduk banteng Jaya Handoko. Kepala dan tanduk Kala Gumarang sangat keras karena ketika masih berada di hutan selalu diasah dan dibenturkan ke pohon-pohon yang besar dan       keras berumur ratusan tahun. Sedangkan kepala dan tanduk Jaya Handoko yang sudah lama tinggal di kerajaan paling hanya kosot di tiang kandang. Maka yang terjadi kemudian adalah tanduk banteng Jaya Handoko milik Prabu Reksa Buwana itu dua-duanya patah! Kepalanya remuk! Terdengar banteng Jaya Handoko melenguh panjang. Tubuh banteng kebanggan Raja Arga Pura itupun roboh ke tanah. Mati mengenaskan! Bersamaan dengan itu, permaisuri yang menyaksikan pertandingan itu dengan penuh perhatian tak sadarkan diri, pingsan di kursinya.
Meski banteng kesayangannya dikalahkan, bahkan menemui ajalnya, Prabu Reksa Buwana tidak marah. Dengan sportif Gusti Prabu mengakui kekalahannya. Ini adalah pertandingan, menang atau kalah adalah hal biasa.
***
NB: Cerita ini adalah bagian ke 1 dari naskah buku novel berjudul “Lindu Aji Pangeran Bertanduk” yang belum pernah diterbitkan. Penulis menunggu penerbit yang bersedia menerbitkannya.

                                                            Penulis: Sutardi MS Dihardjo

Related posts:

No response yet for "Novel: Petikan Novel LINDU AJI PANGERAN BERTANDUK BAGIAN 1"

Post a Comment