Novel: Petikan Novel Prabu Nala & Damayanti 6 Part I

Petikan Novel Prabu Nala dan Damayanti Bagian 6:

DITINGGAL SENDIRIAN 
DI  TENGAH HUTAN
Novel Sutardi MS Dihardjo

NB: 
Artikel petikan novel Prabu Nala dan Damayanti bagian 6 ini terbagi menjadi beberapa part. Berikut petikan novel part I.

Prabu Nala dan Dewi Damayanti tiba di depan rumah gubuk di tengah hutan. Sebelum memasuki rumah tua itu, Prabu Nala mencari pemiliknya untuk meminta ijin istirahat sebentar di dalam rumah, penghilang lelah dan kantuk yang sudah memberati mata. Prabu Nala  memeriksa sekeliling rumah tersebut. Semak-semak rumput ilalang dan gerumbul-gerumbul pohon pandan berduri tumbuh di belakang rumah gubuk yang berada hanya beberapa langkah dari pinggir jurang. Semak-semak dan gerumbul-gerumbul itu nampak sudah menjadi liar kini. Demikian juga rumput-rumput yang tumbuh di kanan-kiri dan depan rumah, semuanya nampak liar dan seakan tak terjamah tangan manusia. Pohon-pohon perindang yang tumbuh menaungi rumah gubuk itu pun nampak tumbuh liar tak terurus, ranting-ranting dahannya banyak yang sudah  menyentuh atap rumah yang terbuat dari daun-daun ilalang kering. Guguran daunnya yang sudah kering menumpuk di atas atap. Dinding rumah yang terbuat dari papan-papan kayu yang disusun amat sederhana, juga kelihatan sudah lama tak terurus, kotor, berdebu dan ditumbuhi jamur.  

Kelihatannya rumah itu memang tak berpenghuni. Mungkin sudah lama ditinggalkan atau tidak disinggahi pemiliknya. Nampaknya rumah ini hanyalah tempat persinggahan para pemburu. Dan nampaknya mereka sudah lama tidak berburu di hutan ini sehingga tidak ada orang yang mampir, memakai dan sekedar merawat atau membersihkan rumah dan pekarangan di sekitarnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan tebalnya debu yang menyelimuti lantai rumah dan perabotan sederhana yang ada di dalamnya. Dua orang suami istri yang terbuang dari kehidupan masyarakat ramai itu memasuki dan meneliti satu persatu ruangan-ruangan dalam rumah yang ditemukannya itu. Ada beberapa ruangan yang hanya berisi balai-balai untuk tidur, dan sebuah dapur sederhana. Namun semuanya tampak kotor dan tak terawat.

Setelah tahu rumah di tengah hutan ini benar-benar tidak berpenghuni dan tidak ada sesuatu, misalnya ular atau ketonggeng yang membahayakan, Prabu Nala dan Dewi Damayanti membaringkan diri di balai-balai yang ada di dalam ruang utama. Terbawa oleh badan yang lelah, perut lapar dan mata mengantuk, setelah berjalan berhari-hari tanpa istirahat ataupun tidur, makanpun hanya seadanya, buah-buahan yang ditemui di hutan, Prabu Nala yang tiduran di atas balai-balai bambu dalam gubuk, mulai diserang kantuk. Matanya yang sudah berhari-hari menahan kantuk sudah tidak dapat ditahan lagi, pelan-pelan mulai terpejam. Sebentar kemudian mantan Raja gung binathara itu sudah tertidur menikmati kemuliaan dan kenikmatan hidup di alam mimpi, melupakan kenyataan pahit dan kesengsaraan yang sedang melanda hidupnya. Dewi Damayanti yang setia mendampingi suaminya, terharu melihat keadaan sang Prabu. Betapa tidak, keadaan serba tersedia, serba enak, dan serba dilayani, serta segala kemewahan dan kemuliaan, biasa dinikmati Sang Prabu di istana Nisadha, sekarang dengan tiba-tiba harus ditinggalkan. Ranjang yang empuk dan mewah sekarang berganti balai-balai bambu yang sudah reot tanpa alas, meskipun hanya selembar tikar. Meskipun  begitu raja yang tiba-tiba jatuh miskin itu dapat menikmati tidurnya dengan nyenyak, terbukti napasnya terlihat teratur, disusul dengkurnya yang kemudian terdengar cukup keras. Dewi Damayanti meneteskan air mata, bukan karena sedih dan menyesal merasakan hidup menderita bersama suaminya  yang telah khilaf di meja judi, tetapi terharu dan kasihan melihat penderitaan suaminya yang kehilangan kemuliaan berganti kenistaan, malu dan putus asa. Dewi Damayanti menghapus air mata yang mengalir di pipi memakai punggung tangannya. Pelan-pelan diraihnya tangan suaminya, direntangkannya tangan yang halus tetapi cukup kuat berotot itu. Ia lalu berbaring di sebelah suaminya berbantalkan tangan yang menjanjikan perlindungan pada dirinya. Berbaring sambil merenungkan apa yang telah terjadi, sambil mencoba mencari hikmah di balik semua musibah dan cobaan yang dialaminya bersama suaminya, lama-lama rasa kantuk pun menyerang matanya, kemudian menyandra kesadarannya. Sebentar kemudian ia pun tertidur di lengan suaminya yang amat dikasihinya. Betapa hangatnya pelukan cinta dalam kebersamaan, meskipun cobaan dan penderitaan terus menerus mendera. 

Cukup lama mereka berdua tertidur. Ketika merasa sudah cukup puas tertidur dalam buaian mimpi yang membebaskannya untuk sementara waktu dari kesengsaraan yang dideritanya, Prabu Nala pun terbangun. Ia merasa badannya sudah segar kembali dan tenaganya sudah pulih kembali. Pelan-pelan ia tarik tangannya yang digunakan untuk bantal istri tercinta. Kemudian ia bangun, duduk bersandar pada dinding rumah gubuk. Melihat wajah istrinya yang kusut karena berhari-hari berjalan tersuruk-suruk di dalam hutan, hati Prabu Nala menjadi terharu. Demikian besarnya cinta dan kesetiaan istrinya sehingga ia bersedia mengikuti suaminya kemana pun ia pergi, tanpa keluh kesah atau menyalahkan dirinya yang telah membuatnya sengsara, dapat ia rasakan. Dewi Damayanti, istrinya itu sungguh seorang wanita mulia, adalah mantan sekar kedaton kerajaan Widarba yang dahulu dijadikan rebutan para raja, bupati dan pangeran, sekarang hidup menderita bersama suami yang dipilihnya. Ya, Prabu Nala merasa berdosa telah menelantarkan istrinya yang telah mempercayakan kebahagiaan hidupnya kepada dirinya yang waktu itu adalah seorang raja besar gung binathara. Ternyata apa yang dapat diberikannya sekarang hanyalah hidup menderita tersingkir dan terbuang di tengah hutan yang penuh bahaya. 

Prabu Nala mendekati Dewi Damayanti. Diciumnya pipi ranum yang masih membekaskan tanda-tanda kecantikan, meskipun sekarang tidak lagi bersinar karena tertutup debu dan tanpa rias. Dibelainya rambut sang Dewi yang tergerai panjang. Rambut yang semula hitam legam itu kini nampak kusut berdebu dan agak kemerah-merahan karena kepanasan dan tidak teroles minyak rambut. Namun demikian keindahan wajah dan rambut Sang Dewi di mata Prabu Nala tidak berkurang, justru lebih indah karena terpancar dari padanya sinar kesetiaan seorang istri. Sang Prabu dheleg-dheleg, duduk terbengong-bengong tak tahu harus berbuat apa untuk dapat lepas dari penderitaan ini. Ia merasa sangat menderita, mengingat nasibnya yang silih berganti mengalami penderitaan dan dipermalukan.  

Melihat kemesraan dan kesetiaan Prabu Nala dan Dewi Damayanti yang saling kasih dan sayang meskipun mengalami penderitaan yang berkepanjangan, Hyang Kali yang masih mengikuti perjalanan mereka merasa sangat dengki. Hatinya panas melihat dua sejoli mantan raja dan permaisurinya yang sudah menjadi gelandangan itu masih berkasih-kasihan dan bermesra-mesraan di depan matanya. Timbul niat jahatnya untuk memisahkan mereka berdua.

“Gila! Kehancuran dan penderitaan sudah menyeretnya ke tengah hutan gung liwang-liwung begini, mau makan saja susah, tidur pun hanya di balai-balai sederhana di dalam gubuk yang tidak nyaman sama sekali, tapi mereka tetap saja saling mengasihi, mencintai dan bermesraan di depan mataku. Seakan penderitaan dan kesengsaraan yang aku ciptakan ini tidak ada pengaruhnya terhadap hubungan kasih mesra mereka berdua. Bahkan aku merasa hubungan mereka semakin dekat karena tidak ada lagi urusan lain yang harus mereka pikirkan dan kerjakan. Aku harus mencari cara untuk memisahkan mereka. Harus! Tapi bagaimana caranya?” kata Hyang Kali dalam hati. Kemudian Hyang Kali yang sudah menyatu dalam tubuh Prabu Nala berusaha mempengaruhi hati dan pikiran Prabu Nala. Hyang Kali bertarung melawan hati nurani dan akal sehat Prabu Nala.

Prabu Nala berpikir-pikir tentang masa depannya, penderitaan dan kesengsaraan hidupnya, lama-lama pikirannya melebar ke mana-mana, “Bagaimana keadaanku ini, derita dan sengsara tak henti-henti. Apakah tidak lebih baik kalau aku mati saja? Ya, barangkali mati adalah lebih baik bagiku dari pada hidup terus menerus mengalami kesengsaraan dan menanggung malu. Tapi bagaimana caranya aku menemui dewa mautku? Apakah aku harus bunuh diri? Ah… Itu adalah mati sia-sia, mati nista, yang tidak akan membawa pada kebahagiaan di alam sana. Alangkah rugi hidupku dan matiku! Di dunia aku hidup sengsara, di akhirat pun aku menderita berkepanjangan! Tidak! Aku tidak akan bunuh diri. Apakah tidak lebih baik kalau aku melanjutkan pengembaraan di hutan ini seorang diri? Mengembara di tengah hutan tanpa tujuan bersama dinda Dewi Damayanti, hanya ngreribeti saja. Mencari keberuntunganku seorang diri di tengah hutan yang penuh bahaya ini, aku kira lebih mudah dan bebas bagiku. Tapi lantas bagaimana dengan dinda Dewi Damayanti? Apakah aku tega meninggalkannya seorang diri selagi ia tidur nyenyak? Alangkah terkejutnya ia nanti kalau terbangun mendapati dirinya hanya seorang diri di tengah hutan. Tak ada suami yang melindunginya. Padahal ia adalah istri yang setia, yang tak ingin berpisah barang serambut dan sedetik pun dari suami yang dicintainya.”

Prabu Nala jadi bingung memilih jalan yang terbaik untuk melanjutkan menjalani takdirnya. Kalau memilih yang sini, ada keberatan di sebelah sana. Kalau memilih yang sana, ada keberatan di sebelah sini. Hati nurani, akal waras dan bujukan Hyang Kali yang menyesatkan saling bertarung, berantem dan berebut keras suara dalam hatinya.

“Ewuh banget yang akan aku lakukan. Kesetiaan Dewi Damayanti yang membawanya mengikuti ke manapun langkah kakiku berjalan, sebagai bukti ketinggian budi wanita, justru telah membawanya kepada kehidupan yang penuh penderitaan. Tidak seharusnya seorang wanita bermartabat tinggi mengalami kesengsaraan berjalan terlunta-lunta di tengah hutan tanpa tujuan. Maka lebih baik kalau ia kutinggalkan saja, karena kalau ia tahu sudah tidak ada yang diikuti,  ia tentu akan kembali ke negara Widarba kepada Ramanda Prabu dan Ibunda Ratu Bima. Bukankah aku sudah berkali-kali memberi ancar-ancar arah jalan menuju ke negara Widarba? Tentu Dinda Dewi Damayanti dapat menelusurinya sampai di sana.”


Related posts:

No response yet for "Novel: Petikan Novel Prabu Nala & Damayanti 6 Part I"

Post a Comment