Novel: Petikan Novel Prabu Nala & Damayanti 6 Part II


DITINGGAL SENDIRIAN 
DI  TENGAH HUTAN
Novel Sutardi MS Dihardjo


Prabu Nala bulat tekadnya untuk meninggalkan Dewi Damayanti yang masih tidur nyenyak di rumah gubuk tempat peristirahatan para pemburu itu. “Maafkan aku, Dinda Dewi! Terus mengikuti aku hidupmu akan terus sengsara. Aku tidak tega melihatnya. Tidak sepantasnya Dinda yang masih mempunyai orang tua terhormat dan serba ada, ikut menderita bersamaku yang papa di hutan yang tidak tentu dapat makan setiap harinya.  Seharusnya kamu dapat menjalani hidup yang lebih baik dan mulia. Oleh karena itu kamu akan aku tinggal sendirian di sini. Bukannya aku tegakan keselamatanmu, tetapi ini untuk memutus penderitaanmu apabila terus mengikutiku. Kembalilah kamu ke negara Widarba, kepada ayah-bundamu Prabu Bima. Jangan khawatir akan menemui bencana di jalan! Istri yang setia dan tulus berbakti kepada suami tidak mungkin akan mendapat celaka di jalan. Kamu tidak melarikan diri dariku yang sedang menderita. Tetapi justru aku yang meminta kamu meninggalkanku agar kamu dapat hidup bahagia. Dewata agung tentu akan melindungimu. Duh, Dinda, tangkai buah hatiku yang selalu membayang dalam ingatanku, terpaksa kamu aku tinggal sendiri di sini. Semoga selamat bertemu dengan keluargamu,” ujar Prabu Nala dalam hati. Tak kuasa mengucapkan kata-kata perpisahan sepihak ini meskipun hanya pelan agar tak terdengar Dewi Damayanti yang masih pulas tertidur. Rasa haru yang menggumpal di dada menyumpal di tenggorokan membungkam mulutnya.  

Prabu Nala lalu berdiri pelan-pelan, berjalan bersijingkat agar tidak membangunkan sang istri yang sedang tidur nyenyak. Ia keluar dari rumah gubuk melalui pintu yang tak berdaun. Sampai di luar, mantan raja besar itu baru ingat kalau dirinya telanjang tanpa penutup badan barang selembar pun. 

“Oh iya...Celaka! Aku telanjang bulat begini masakan akan pergi sendirian kemana-mana. Kalau nanti ketemu orang, apa aku tidak akan dikira orang hutan yang masih liar dan tak beradab? Atau mugkin aku akan dikira orang gila yang sudah tidak mempunyai malu? Atau .... Ah aku harus cari akal untuk menutup auratku. Aku ini orang terhormat, meskipun sudah tidak mempunyai apa-apa lagi, bangkrut habis-habisan, tapi rasa malu dan sopan santun harus tetap ada dan terjaga. Aku tidak boleh jatuh kedalam budaya binatang yang sudah tidak punya malu, telanjang bulat kemana-mana tanpa rasa risi ataupun bersalah. Aku harus cari akal untuk menutup auratku!” Prabu Nala berjalan mondar-mandir di depan rumah gubuk sambil memutar otak mencari akal.

“Oh iya, aku ingat sekarang. Istriku masih memakai kain jarit yang cukup panjang. Aku bisa memotong sebagian untuk aku pakai. Tetapi bagaimana caranya? Kalau kain jarit yang dipakai istriku aku urai agar dapat kupotong sesuai yang aku butuhkan, apa istriku nanti tidak akan terbangun? Bagaimana ini? Tapi biarlah, ini lotre. Kalau nanti istriku terbangun, akan aku katakan kalau aku kedinginan dan malu bertelanjang tak berbaju tak berkain. Lalu akan aku minta baik-baik sebagian kain jaritnya untuk menutup auratku. Biarlah kepergianku tertunda sebentar tidak apa-apa. Tapi kalau istriku tidak terbangun, itulah keberuntungan yang aku harapkan, akan aku potong sebagian kain jarit istriku, lalu aku akan segera pergi sebelum istriku terbangun,” gagasan Prabu Nala setelah menemukan akal. 

Maka Prabu Nala pun masuk kembali ke dalam rumah gubuk dengan niat akan memotong sebagian kain jarit Dewi Damayanti untuk dijadikan penutup auratnya. Tetapi sesampai di dalam, Prabu Nala bingung lagi. Datang lagi kesulitan yang lain.

“Lantas pakai apa aku memotongnya? Kalau aku potong begitu saja pakai tangan kosong, suara kain robek itu dapat keras terdengar, sehingga bisa membangunkan istriku yang sedang tidur nyenyak. Bisa tertunda nanti rencanakau,” kata Prabu Nala dalam hati.

Kemudian Prabu Nala mencari-cari di seputar rumah gubuk yang sering dijadikan tempat menginap para pemburu yang kemalaman itu. Setiap bilik dilihatnya, dicari-cari barangkali ada sebuah pisau tertinggal di situ. Kebetulan di dapur ia menemukan sebilah pisau yang biasa digunakan untuk menguliti binatang buruan. Barangkali saja milik pemburu yang tertinggal.  Prabu Nala segera mengambil pisau itu dan buru-buru membawanya ke pembaringan istrinya. Pelan-pelan Prabu Nala mengurai kain panjang istrinya yang masih lelap karena pengaruh sirep Hyang Kali yang memang sengaja akan memisahkan Prabu Nala dengan Dewi Damayanti. 

Sebetulnya Hyang Kali tidak rela Prabu Nala mengambil sebagian kain Dewi Damayanti untuk menutup auratnya. Hyang Kali yang ingin mempermalukan dan membuat sengsara Prabu Nala sebetulnya tetap ingin Prabu Nala bertelanjang bulat ke mana-mana. Tetapi kalau Prabu Nala tidak direlakan mengambil sebagian kain Dewi Damayanti, mungkin ia tidak akan jadi pergi. Maka untuk memisahkan Prabu Nala dengan Dewi Damayanti, terpaksa Hyang Kali membiarkan Prabu Nala mengambil sebagian kain Dewi Damayanti dengan memperkuat aji sirepnya untuk menidurkan Dewi Damayanti. 

Dengan pisau yang telah ditemukannya Prabu Nala memotong kain panjang istri yang amat disayangi secukupnya, lalu kain itu dikenakannya untuk sekedar menutup bagian bawah tubuhnya sampai sebatas lutut.

“Sekarang aku sudah berpakaian. Wong ayu gegantilaning atiku,  sekarang kamu benar-benar akan aku tinggal sendirian di tengah hutan ini. Oh... sungguh kasihan kamu wong ayu pujaan hatiku, tinggal sendiri tanpa kawan di tengah hutan yang sangat luas ini. Tapi kalau tidak begini, lantas harus bagaimana lagi? Bersamaku Dinda tak mungkin kembali kepada Rama Prabu di Widarba, karena aku yang amat nista tak punya kebanggan apa-apa lagi ini tak mungkin menghadap Rama Prabu dan Ibunda Ratu dalam keadaan tak punya muka. Sudah, semoga selamat Dinda  wong ayu!,” kata Prabu Nala hampir-hampir tidak tega meninggalkan istri yang amat dikasihi. 

Prabu Nala segera melangkah meninggalkan Dewi Damayanti yang tergeletak sendirian di balai-balai bambu reot bagaikan gelandangan yang tak pernah merasakan hidup bergelimang kemewahan. Tetapi belum lama Sang Prabu meninggalkan istrinya, hatinya jadi bimbang dan ragu, khawatir kalau istrinya dicelakai binatang buas, dimakan macan, singa, serigala, atau dipatuk ular yang diam-diam masuk ke gubuk. Bukankah istrinya yang terlalu nyenyak tidurnya itu berbaring di balai-balai bambu yang tidak begitu tinggi? Memang, balai-balai bambu yang sudah reot yang ada di rumah gubuk itu buatannya sangat sederhana dan kaki-kakinya amat pendek sehingga tidak jauh dari lantai tanah dalam rumah gubuk itu. Rupanya balai-balai bambu itu dibuat hanya sekedar agar tidak terlalu dingin bila digunakan. Agar tidak seperti kalau orang tidur di lantai tanah. Prabu  Nala terbimbang antara tega dan kasihan, lebih-lebih ketika kemudian Prabu Nala mendengar auman harimau di kejauhan. Akhirnya dengan tergesa-gesa karena mengkhawatirkan keselamatan istri yang oleh mertuanya sudah dipercayakan dalam perlindungannya, Prabu Nala segera kembali menemui istrinya. Setelah sampai di gubuk, ia melihat istrinya masih nyenyak tertidur tanpa bergerak-gerak sedikitpun. Masih seperti waktu ditinggalkannya, belum berubah atau berpindah dari tempat semula.

“O, malang sekali nasibmu wong ayu, tak disangka akan menemui lelakon  seperti ini. Kebahagiaan hidup yang kita rasakan bersama berakhir seperti ini. Padahal dahulu ketika masih ada di keraton Widarba, siapa orangnya yang tidak akan terpesona jatuh cinta kepadamu? Jangankan manusia biasa, bahkan  para dewa pun terpesona  ingin menyuntingmu. Semua terpikat  oleh kecantikanmu yang luar biasa. Tetapi sekarang kamu terbaring di balai-balai bambu tanpa alas, meskipun hanya selembar tikar. Pakaianmu yang indah gemerlapan pun sekarang sudah tidak ada, tinggal selembar kain yang sudah tidak utuh lagi. Kasihan benar kekasihku ini. Nanti kalau kamu sudah terbangun, kamu baru tahu kalau kamu tinggal sendirian di hutan, tanpa suami yang seharusnya melindungi dan menuntunmu melintasi hutan ini menuju tempat yang layak dihuni manusia. Aku doakan semoga Dinda lekas mendapat pertolongan Dewata Agung, lepas dari penderitaan ini,” ujar Prabu Nala menyesali nasib malang yang menimpanya berakibat pada istri yang dikasihinya.

Sesudah berkata begitu, hilanglah kegaru-ragunnya, Sang Prabu lalu beranjak meninggalkan Dewi Damayanti menuju ke tengah hutan. Tetapi sebelum jauh ia meninggalkan istrinya, hatinya diamuk bimbang lagi, antara tega dan kasihan bertarung dalam hatinya, terus berlalu atau kembali, bolak-balik berebut minta dipihaki. Akhirnya Prabu Nala menarik langkah, berbalik menemui istrinya yang selalu tercetak di pelupuk mata. Dewi Damayanti, kecantikan wajahnya, perawakan tubuhnya yang tinggi semampai, keluwesan dan keanggunannya yang memancarkan keagungan seorang wanita utama, selalu terbayang-bayang dalam ingatannya. Membuat hatinya merasa sayang untuk meninggalkannya.    


Related posts:

No response yet for "Novel: Petikan Novel Prabu Nala & Damayanti 6 Part II"

Post a Comment