Petikan Novel Prabu Nala dan Damayanti Bagian 6 Part III


DITINGGAL SENDIRIAN 
DI  TENGAH HUTAN
Novel Sutardi MS Dihardjo


Ketika sudah sampai kembali di rumah gubuk, bertemu kembali dengan istrinya yang masih tertidur lelap, dadanya naik turun dengan teratur menunjukkan ketenangan dan ketentraman, membuat haru dirinya yang berusaha tega meninggalkan sendirian. Prabu Nala merasa seperti seorang ibu yang akan meninggalkan bayinya di pinggir kolam. Bahaya mengancam sewaktu-waktu tanpa tahu cara dan kemampuan untuk menghindarinya.

Tapi kemudian kena daya pengaruh Hyang Kali, ingatan Prabu Nala menjadi linglung, ragu-ragu, mau tega mau tidak, kemudian rasa cintanya dibuat menjauh oleh Hyang Kali agar lupa kepada istrinya, lalu rela berpisah jauh. Maka ketika Prabu Nala telah melihat beberapa waktu kepada istrinya, membelai-belai sekali lagi rambut istrinya, lalu mencium pipinya yang ranum, mengecup dahinya tiga kali, ia pun membulatkan tekad untuk meninggalkan istrinya seorang diri di dalam rumah gubuk di tengah hutan yang penuh bahaya, tanpa kawan tanpa bekal dan tanpa senjata untuk membela diri. Prabu Nala pun melangkah ke luar gubuk tanpa menoleh-noleh lagi.

Setelah lama tertidur dan setelah sang Prabu jauh meninggalkannya, Dewi Damayanti terbangun, bangun dari mimpi hidup bergelimang kesenangan dan kemewahan di dalam istana yang aman dan sentosa, yang diciptakan Hyang Kali di alam mimpi. Pelan-pelan matanya membuka seiring dengan kembalinya kesadaran akan kenyataan hidup yang sesungguhnya yang dihadapinya saat ini. Tangannya menepuk-nepuk kiri kanan mencari-cari suaminya yang tadi tidur bersama di sampingnya. Tak ada. Hatinya mulai merasa cemas! Ia bangun, duduk di tempatnya dengan matanya ia meneliti lingkungan di sekelilingnya mencari-cari sosok suaminya. Lagi-lagi tak ada! Suami pelindungnya yang juga menjadi gegantilaning ati tak ada di dalam rumah gubuk itu. Rasa cemas, takut dan khawatir semakin mengepung dirinya. Sudah pasti, sang Prabu tentu diam-diam telah meninggalkan dirinya karena sudah berkali-kali menunjukkan jalan dan memberi ancar-anacar jalan menuju ke istana ramandanya. Rasa cemas semakin mengepungnya. Air matanya mulai mengalir. Rasa asing dan terbuang di lingkungan yang tak dikenal menyungkup dirinya. ”Tak usah terlalu cemas dahulu, barangkali Sinuwun Prabu sedang berada di luar, entah mencari angin, atau sengaja umpetan untuk menggodanya,” kata Dewi Damayanti dalam hati menghibur diri. Dewi Damayanti berlari keluar, berputar-putar mencari-cari barangkali suaminya ada di belakang atau di samping rumah. Tetapi ternyata tak ada. Kemana, ya? Coba dicari di bawah gerumbul-gerumbul pepohonan, siapa tahu mantan raja besar itu sedang buang hajat di situ. Tetapi ternyata kosong, tak ada  Prabu Nala di sana. 

Hati sang Dewi semakin cemas, takut dan khawatir! Lantas bagaimana kalau ternyata dirinya benar-benar ditinggal sendirian di tengah hutan yang sangat luas, asing dan ganas ini? Apa yang dapat dilakukan seorang perempuan yang terbiasa hidup terlayani dan terlindungi di istana? Di tengah hutan yang ganas yang meliarkan semua binatang buas yang kuat, bertaring maupun berbisa, apa yang dapat dikerjakan perempuan lemah seperti dirinya? Membayangkan ramainya auman kawanan harimau melihat dirinya yang sendiri tiada berteman, tanpa senjata dan tanpa kemampuan membela diri, kemudian  mereka berlari dengan cepatnya mengejar dirinya yang mencoba melarikan diri, rasa cemas pun semakin memuncak. ”Aku tentu akan mati diterkam harimau atau singa atau srigala atau binatang buas lainnya! Tubuhku akan habis dicabik-cabik kuku-kukunya yang tajam lalu dimakannya berramai-ramai!,” pikirnya.  Badannya gemetar ketakutan. Keringat dingin mengucur deras dari sekujur tubuhnya. Ketika dari kejauhan benar-benar terdengar suara auman harimau, biarpun hanya pelan karena begitu jauhnya, rasa cemas dan takut tiba-tiba menyergapnya, menerkam kesadarannya. Dewi Damayanti yang merasa tak berpelindung jatuh tak sadarkan diri. Pingsan!

Ketika terbangun dari pingsannya, Dewi Damayanti mengeluh menyesali nasibnya, “Oh ya, sudah menjadi peruntunganku, Sinuwun tega meninggalkan diriku seorang diri di tengah hutan lebat  yang sepi tanpa ada seorang pun yang lewat. Cepat atau lambat akhirnya aku akan mati dimakan binatang buas. “Oh Sinuwun, kenapa sekarang Paduka lupa akan janji sumpah setia? Sekarang Sinuwun tega meninggalkan hamba yang sedang nyenyak tertidur. Padahal hamba adalah istri yang setia, selalu ingin bersama dalam suka maupun duka, di manapun berada. Duh Sinuwun pujaan hati yang selalu hamba hormati, salahkah hamba kalau hamba selalu ingin bersama Paduka? Hamba hanya ingin selalu berbakti  dan menghibur Paduka apabila sedang berduka mengingat masa lalu yang penuh kemuliaan sekarang lepas dari tangan,” tangis Dewi Damayanti seperti orang ngomyang bicara sendiri.

Dewi Damayanti berdiam diri disungkup rasa putus asa. Ia menangis mengeluhkan nasibnya, “Duh, sang Prabu, pepunden yang sangat hamba hormati, raja utama yang selalu menepati janji, kenapa sekarang tega meninggalkan istri yang setia? Padahal Paduka sudah berjanji setia disaksikan para dewa. Kenapa sekarang tega meninggalkan istri yang hanya ingin berbakti, melaksanakan panggilan wanita utama, yang selalu ingin menepati janji, dan ingin menghibur suami ketika sedang sedih merasakan penderitaan nasib?”

Keluh kesah Dewi Damayanti sangatlah nggrantes. Ia tak habis pikir, kenapa suami yang sangat mencintai istrinya itu sekarang tega meninggalkan dirinya seorang diri di tengah hutan? Kenapa suami yang selalu menjaga dan melindungi keselamatannya itu sekarang tega  menghadapkan dirinya ke mulut harimau, srigala dan babi hutan tanpa rasa kasihan sedikitpun? Tapi terbawa oleh rasa percayanya pada perasaan cinta dan kesetiaan suaminya kepadanya, kadang-kadang timbul dugaannya kalau sebenarnya sang Prabu tidak meninggalkan dirinya. Ia menduga sang Prabu hanya bersembunyi untuk mencobai kesetiaan dirinya. Maka kadang-kadang keluh kesahnya itu tidak menuduh menyalahkan sang Prabu, hanya mengira sang Prabu sedang menggoda saja.

“Hamba tahu, Sinuwun hanya bersembunyi, hanya ingin menggoda hamba, maka Sinuwun, silakan keluar saja dari gerumbul, jangan terlalu lama meninggalkan istri, nanti kalau diterkam harimau atau dipatuk ular, lho, Sinuwun, karena itu lekaslah Paduka keluar dari persembunyian. Jangan main umpetan, istri Paduka sudah menyerah tidak dapat menemukan persembunyian Paduka.”

Setelah ditunggu beberapa saat tidak juga terlihat sang Prabu menampakkan diri, kembali Dewi Damayanti berteriak dengan suara merdu tapi mengandung kecemasan dan kekhawatiran, “Ketahuilah, hamba sudah sangat takut, sangat khawatir, hati selalu gemetar, karena itu sang Prabu lekaslah keluar dari gerumbul persembunyian, kalau terlalu lama meninggalkan hamba, hamba khawatir hamba keburu mati dimakan rasa takut dan cemas! O, raja tempat hamba berbakti, raja tempat hamba berlindung, hamba mohon belas kasih Paduka!”

Karena Prabu Nala tidak juga muncul, Dewi Damayanti jadi yakin kalau sekarang ia hidup sendiri di tengah hutan itu. Ia pun lalu meninggalkan gubuk, mencari Sinuwun Prabu ke tengah hutan. Berharap Gusti Prabu belum jauh meninggalkan dirinya sehingga dapat segera menemukannya. Dewi Damayanti berjalan menyusuri jalan setapak yang kadang-kadang tertutup gerumbul rerumputan dan duri-duri karena sudah lama tidak dilewati manusia. Sepanjang jalan ia selalu memanggil-manggil Prabu Nala, kekasih dan pelindungnya. Kadang-kadang terdengar keluh kesah menyesali kelakuan suaminya yang tega diam-diam meninggalkan dirinya. Biarpun sudah berulang kali menunjukkan arah jalan nenuju ke negara Widarba, tetapi ia hanya seorang perempuan lemah, sedangkan perjalanan masih sangat jauh. Tak tahu bagaimana harus makan mengganjal perutnya yang kosong di sepanjang jalan? Dan bagaimana kalau tiba-tiba ada bahaya dari binatang buas, atau berbisa, atau ada manusia jahat mencegat dan mengganggunya? 

Dewi Damayanti berjalan tak tentu arah. Meskipun sudah ditunjukkan jalan menuju ke negara Widarba ia tak hendak ke sana, tekadnya hanya satu, mencari suami gegantilaning ati. Gerumbul-gerumbul dibuka, dilihat, barangkali Sinuwun Prabu bersembunyi di situ. Sungai dan jurang ditengok, diintip dari sela-sela pepohonan, barangkali Sinuwun akan buang hajat terjatuh di situ. Kadang-kadang ia tersandung tonggak pohon atau akar-akaran yang menyembul di tengah jalan atau terserimpat sulur-suluran, sehingga ia jatuh tersungkur menggelinding di tengah jalan. Duri-duri perdu dan dedaunan yang tajam menyayat-nyayat tubuhnya yang mengenakan kain kurang sempurna.  Pedih sekali rasanya kulitnya. Tapi itu belum seberapa. Perasaan di hatinya  lebih pedih lagi, perasaan ditinggalkan, menjalani penderitaan seorang diri tanpa penolong. Padahal apa yang dilakukannya adalah untuk membela, menjaga dan menemani  suaminya yang sedang sengsara.

Tiba-tiba dari atas pohon besar yang batangnya melengkung ke tengah jalan, menjulur seekor ular besar menghadang jalan Dewi Damayanti. Ular pyton yang sedang kelaparan itu tiba-tiba turun menangkap Dewi Damayanti dan melilitnya. Seandainya lilitan ular itu dikencangkan tentu tubuh puteri yang lembut itu akan remuk berikut tulang-tulangnya. Tetapi agaknya memandang paras Dewi Damayanti yang cantik jelita ular jantan itupun terpesona. Apalagi melihat wajah sang Dewi yang memelas, ular yang sedang lapar itupun melupakan rasa laparnya, memandang tak berkedip wajah cantik memelas terbalut timbunan penderitaan. Lidah ular itu terjulur ingin mengusap wajah sang rupawan berbedakkan debu jalanan. Tuan Puteri yang tak tahu apa maksud tujuan si ular pyton, ketakutan setengah mati. Wajahnya pucat seputih kapas. Secara spontan ia pun berteriak-teriak minta tolong. Suaranya keras karena dilontarkan sekuat tenaga, menembus rerimbun pepohonan hutan yang lebat. Suara teriakan putus asa yang dilontarkan berulangkali itu  menyayat-nyayat  kesunyian hutan.


Related posts:

No response yet for "Petikan Novel Prabu Nala dan Damayanti Bagian 6 Part III"

Post a Comment