Petikan Novel Prabu Nala dan Damayanti Bagian 6 Part IV


DITINGGAL SENDIRIAN 
DI  TENGAH HUTAN
Novel Sutardi MS Dihardjo


Kebetulan di tengah hutan itu ada pemburu yang sedang mencari binatang buruan. Mendengar suara teriakan sang Dewi, pemburu segera berlari mendekati sumber suara. Alangkah terkejut pemburu itu melihat seekor ular besar sedang melilit seorang wanita yang amat cantik. Yang dililit teriak-teriak ketakutan. Tetapi yang melilit kelihatan hanya mempermainkan saja, tidak mau segera menelan mangsanya.  

“Meskipun tidak mati dipatuk atau ditelan ular besar itu, wanita yang sudah dililit ular itu dapat mati karena ketakutan atau sesak napas kalau lilitan ular itu mengencang. Bahkan kalau lilitan ular itu terlalu kencang, tulang-belulang wanita yang lemah itu dapat remuk yang berakibat kelumpuhan. Aku tidak boleh tinggal diam. Akan aku panah kepala ular yang sedang menakut-nakuti mangsanya itu,” kata pemburu dalam hati. Kemudian ia segera mencari posisi yang tepat di balik gerumbul perdu dalam jarak jangkauan lepasnya anak panah. Setelah mendapat tempat yang diinginkan ia segera memasang anak panah pada busurnya. Matanya segera mengincang setepat mungkin kepala ular yang sedang terlena pada mainannya sehingga tidak waspada pada keadaan di sekelilingnya. Kemudian pemburu yang titis itu segera menarik busurnya, melepaskan anak panahnya. Ular yang sedang asyik bermain-main dengan tangkapannya tidak tahu kalau dari balik gerumbul di seberang jalan meluncur dengan derasnya sebuah anak panah langsung menembus mata di kepalanya. Tak ayal lagi kepala ular itu pun terkulai. Setelah berkelojotan beberapa saat karena menahan rasa sakit, perlahan-lahan lilitannya mengendor. Habislah riwayat ular yang jatuh cinta kepada mangsanya itu.

Pemburu segera berlari menolong Dewi Damayanti yang ikut terbanting-banting ketika ular yang melilitnya meregang nyawa. Ditariknya Dewi Damayanti dari bangkai ular yang sudah tak berdaya. Lalu dibantunya Dewi Damayanti berdiri, lalu dipapah ke bawah pohon yang teduh. Dewi Damayanti masih ketakutan dan khawatir berada di bawah pohon besar yang rindang, takut kalau tiba-tiba ada ular besar lain yang turun lalu melilit atau langsung mencaploknya. 

“Jangan khawatir, Puteri! Pohon ini bersih, tidak ada ular atau ketonggeng berbisa yang dapat mencelakaimu. Jangan khawatir! Aku akan menjaga dan mengawasimu. Bersamaku, keselamatan dan keamananmu terjamin,” ujar pemburu menenangkan hati Dewi Damayanti. Mendengar kata-kata pemburu yang memberi jaminan keselamatannya, Dewi Damayanti merasa lega. Apalagi telah terbukti ia sudah berhasil melepaskannya dari bahaya yang hampir merenggut nyawanya. Kini ia melihat ada orang yang bisa dimintai perlindungan dan dimintai tolong keluar dari hutan yang berbahaya ini. Ia merasa sangat bersyukur bertemu dengan manusia yang mempunyai kemampuan untuk melindungi dirinya.

“Siapakah puteri ini, dan kenapa bisa berada di hutan lebat yang sangat berbahaya ini seorang diri?” tanya pemburu setelah Dewi Damayanti dapat menenangkan diri.

“Ketahuilah pak pemburu, sebetulnya aku ini adalah Dewi Damayanti, puteri Prabu Bima di negara Widarba yang sudah diperistri Prabu Nala dari negara Nisadha. Jadi aku ini adalah permaisuri negara Nisadha. Tetapi karena khilaf Sinuwun Prabu tertipu dalam judi permainan dadu melawan adik misannya sendiri yang bernama Prabu Puskara. Akhirnya semua harta benda, bahkan negara habis dipertaruhkan di meja perjudian. Sekarang kami terlunta-lunta di tengah hutan. Ketika kami tertidur di gubuk yang ada di tengah hutan, tahu-tahu ketika terbangun aku tinggal sendirian. Suamiku tercinta sudah pergi diam-diam meninggalkan diriku. Kebetulan sekarang aku bertemu denganmu pak pemburu, tolong antarkan aku keluar dari hutan yang menakutkan ini!” kata Dewi Damayanti menceritakan apa yang dialaminya apa adanya.    
        
Mengetahui kalau yang ditolongnya adalah permaisuri sesembahannya, mula-mula pemburu itu merasa takut. Ia lantas menjatuhkan diri ke tanah sambil memberi sembah penghormatan. Tetapi setelah mengetahui bahwa sang Dewi sudah bukan permaisuri lagi, suaminya sudah bukan orang yang berkuasa lagi dan sekarang tak diketahui di mana rimbanya, timbul keberanian dan niat jahat pak pemburu. Mula-mula niatnya memang tulus, hanya ingin menolong yang lemah, tetapi setelah melihat keadaan orang yang ditolongnya, dan kepasrahannya menggantungkan nasibnya di tengah hutan belantara kepadanya, pemburu itu jadi punya keinginan lain. Kecantikan Tuan Puteri yang mampu meruntuhkan hati setiap lelaki yang memandangnya, perawakan tubuhnya yang tinggi semampai, potongan tubuhnya yang sintal, singsat padat berisi,  apalagi hanya mengenakan kain selembar yang sudah tidak utuh lagi, memperlihatkan cetakan tubuhnya yang menggiurkan, dada yang penuh dengan payudara nyengkir gading, mata yang bulat dengan bulu mata lentik, sangat menyenangkan siapa saja yang memandang, ditambah tutur katanya yang halus keluar dari bibirnya yang indah ketika menceritakan semua peristiwa yang telah dialaminya, membuat pemburu semakin jatuh cinta kepada Sang Dewi, lupa kalau yang ada di hadapannya adalah mantan pepundennya yang harus dihormati.

Terlebih pemburu itu sudah berhari-hari tinggal sendirian di tengah hutan, jauh dari anak isitrinya, melihat perempuan serba menggiurkan tak berdaya tanpa pelindung, nafsu pak pemburu segera naik ke ubun-ubun menggerakkan syaraf-syarafnya minta penyaluran. Ingin rasanya ia segera menubruk sang Dewi lalu melepas kain pembalut tubuh yang tinggal tipis gulungannya itu. Tapi ia masih berusaha menyabarkan diri. “Daripada aku memperkosanya, akan lebih nikmat kalau ia mau melayaniku baik-baik. Kalau ia mau memasrahkan dirinya seutuhnya dengan imbalan akan aku antarkan keluar dari hutan ini tentu lebih indah, nikmat  dan memuaskan,” kata pak pemburu dalam hati. Ia lantas tersenyum-senyum sendiri.

“Kenapa pak pemburu tersenyum-senyum begitu memandangku?” tanya Dewi Damayanti curiga. Perasaannya yang halus merasa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada diri pak pemburu penolongnya. Mungkinkah pemburu itu berniat jahat pada dirinya?

“Kusuma Dewi, sudah jelas Gusti Prabu sudah tidak cinta lagi kepada Paduka, kenapa Paduka masih terus saja mencarinya? Suami yang tega meninggalkan istrinya seorang diri di tengah hutan yang penuh bahaya, jelas dia bukanlah suami yang masih mencintai istrinya. Tidak ada suami yang tega membiarkan istrinya menghadapi bahaya sendirian di tengah hutan, kecuali suami tersebut sudah tidak mencintai istrinya lagi. Ia sengaja membuang istrinya agar dimangsa binatang buas. Oleh karena itu, Kusuma Dewi, sebaiknya Paduka ikut saya saja menjadi istri saya. Kalau Paduka khawatir istri saya tidak bisa menerima Kusuma Dewi bermadu dengannya, akan saya bangunkan rumah yang bagus di tempat lain. Bagaimana, Kusuma Dewi, bersediakah menjadi istri saya?” tanya pak pemburu menyampaikan niatnya secara baik-baik meskipun sebetulnya nafsu untuk segera menggagahi Tuan Puteri sudah hampir tak tertahankan.

“Jangan kurang ajar kamu pak pemburu. Ingat aku ini siapa? Aku ini adalah pepundenmu, permaisuri kerajaan Nisadha, istri Prabu Nala. Jangan kamu punya niatan jahat seperti itu!” kata Dewi Damayanti setengah ketakutan mengingatkan.

“Dewi Damayanti sebagai permaisuri kerajaan Nisadha adalah masa lalu. Sekarang Prabu Nala sudah bukan raja negara Nisadha lagi. Kekuasaannya sudah berakhir. Sekarang ini yang ada adalah Dewi Damayanti seorang puteri cantik yang lemah, sudah dibuang di tengah hutan oleh suaminya. Entah apa yang akan terjadi kalau tetap sendirian di tengah hutan lalu nanti bertemu dengan binatang buas seperti harimau, singa, serigala, babi hutan, atau monyet besar yang suka mengincar dan menggauli perempuan cantik, atau ular berbisa atau buaya, atau binatang-binatang liar dan buas lainnya? Apakah Paduka akan tetap berkeras menghadapi bahaya itu sendirian, padahal Paduka tidak bersenjata dan tidak mempunyai kemampuan bela diri? Di sisi lain, sekarang ini Paduka bertemu dengan pemburu yang sudah terbiasa menghadapi amukan binatang buas di hutan belantara. Dan pemburu itu ingin menolong Paduka sekaligus memperistri Paduka yang sudah dibuang suami Paduka. Apakah ini namanya tidak lebih baik dan menguntungkan bagi Tuan Puteri?” kata pak pemburu sambil mendekat untuk mencubit pinggang Dewi Damayanti. Kemudian tangannya diulurkan  untuk menyentuh dagu dan nyiwel pipi Dewi Damayanti dengan penuh nafsu.

“Jangan kurang ajar kamu pemburu yang tak tahu diri! Jangan coba-coba menyentuh kulitku! Jangan coba-coba menjamah kehormatanku! Ketahuilah, sejak aku mengenal suamiku Prabu Nala, sampai aku menjadi permaisurinya, bahkan sampai kami berdua terlunta-lunta mengalami penderitaan hidup di hutan ini, dan bahkan sampai saat ini aku terbuang sendirian di hutan ini, dalam hatiku tidak ada seorang lelaki yang pantas menerima cinta kasihku kecuali hanya satu, Prabu Nala seorang. Biarpun saat ini kami berpisah, tapi aku yakin pada saatnya kami akan bertemu dan bersatu kembali. Saat ini kami sedang menjalani takdir kami, mengalami penderitaan berpisah menyusuri jalan hidup kami sendiri-sendiri sebagai ujian kesetiaan dan kesabaran kami. Maka menjauhlah kamu pak pemburu kalau ternyata kamu pun tak ada bedanya dengan binatang buas yang akan menerkamku!” hardik Dewi Damayanti agak mengeraskan suaranya.

“Kalau kamu tidak mau menjadi istriku dan ingin kembali kepada suamimu entah kapan akan bertemu, tidak apa. Tapi karena aku telah menyelamatkan nyawamu dari mulut ular yang siap menelanmu, ijinkan aku merasakan manisnya madu kewanitaanmu meski hanya sekali saja!” bujuk pak pemburu.

“Jangan coba-coba! Sekali atau dua kali atau berkali-kali, itu sama saja. Dosa! Ingatlah pak pemburu kamu sudah berniat menyeleweng mengkhianati anak istrimu yang menunggumu di rumah. Jangan coba-coba melakukan perbuatan dosa! Aku pun tak ingin melakukannya. Jijik aku membayangkannya saja, apalagi melakukannya, amit-amit jangan sampai terjadi!” tolak Dewi Damayanti sambil melangkah mundur menjauhi pemburu yang tambah dekat memburunya dengan nafas yang semakin memburu tak teratur.

“Damayanti! Kamu ini orang yang tak tahu dihormati orang! Kamu ini orang yang tidak tahu balas budi! Sungguh kamu tak tahu diuntung! Seandainya aku tidak menolongmu tentu tubuhmu yang molek itu sudah berada di perut ular besar yang sekarang tergeletak itu. Setidak-tidaknya tubuhmu yang lemah itu sudah remuk dililit ular. Kenapa kamu tidak berpikir, atas jasa siapa kamu sekarang ini masih dapat hidup selamat dengan tubuh yang utuh? Aku hanya ingin menikmati tubuh yang telah kuselamatkan, dan sekarang ternyata telah membakar semangat lelakiku, sekali saja! Kenapa kamu tidak mau memberikan tanda terima kasihmu sesuai yang aku inginkan?” kata pemburu dengan nafas yang semakin memburu dibakar nafsu yang berkobar-kobar, apalagi setelah melihat Dewi Damayanti yang melangkah semakin mundur, kainnya tersangkut perdu sehingga sedikit tersingkap menampakkan betisnya  yang putih mulus.   

“Mundurlah pak pemburu! Kalau kamu ingin aku memberikan tanda terima kasihku kepadamu, nanti setelah kita keluar dari hutan ini kamu akan aku ajak menghadap Rama Prabu Bima di negara Widarba. Di sana kamu akan aku mintakan hadiah yang besar kepada Rama Prabu. Atau kamu akan memilih sendiri hadiahmu? Aku akan menyampaikannya kepada Rama Prabu Bima. Aku jamin Rama Prabu tentu akan mengabulkan permohonanmu. Rama Prabu tentu akan sangat berterima kasih kepadamu dan akan memberikan hadiah yang lebih besar dari apa yang kamu butuhkan. Atau kamu ingin diangkat menjadi abdi pemburu yang setiap bulan mendapat gaji dari Rama Prabu Bima di Widarba? Aku akan minta agar Rama Prabu Bima mengabulkannya,”  ujar Dewi Damayanti pelan tetapi tegas untuk meredakan nafsu pak pemburu yang sudah semakin memuncak.

“Tidak! Aku tidak ingin hadiah lain yang tidak ada di sini! Bisa jadi sekarang kamu bilang begitu, tapi nanti setelah sampai di istana kamu menyuruh prajurit menangkap dan memenjarakanku, karena aku telah pernah menginginkan tubuhmu. Aku tidak ingin yang lain-lain. Aku hanya ingin menikmati tubuhmu yang selalu menggoda nafsuku! Aku sudah tidak tahan lagi! Sekarang bersiaplah, kalau tidak mau aku minta baik-baik, aku akan memperkosamu sekarang juga di tempat yang tidak ada orang lain selain kita berdua ini,” kata pemburu yang sudah kerasukan iblis sambil menangkap lengan Dewi Damayanti, siap melucuti kain yang hanya beberapa gulung membalut tubuhnya.

Hilang kesabaran Dewi Damayanti. Ia sangat marah. Sungguh suatu bencana yang datang beruntun, kehilangan kenikmatan dan kemuliaan hidup sebagai permaisuri di kerajaan, terlunta-lunta di hutan, ditinggal sindirian di tengah hutan yang berbahaya tanpa kawan tanpa pelindung,  lalu akan dimakan ular besar, dan sekarang akan diperkosa seorang pemburu tua yang telah menolongnya tapi ternyata mempunyai maksud jahat karena tergiur kecantikannya. Karena begitu nggrantes, sedih dan nelangsa merasakan hidupnya, maka karena terbawa oleh rasa putus asa, berdoalah ia dalam hati, memohon kepada Dewata Agung, doa yang keluar dari pedihnya hati yang selalu merasakan kesengsaraan sama dengan doanya orang yang teraniaya. Semoga pemburu jahat itu mendapat hukuman gosong tubuhnya seperti dibakar panasnya hati yang sedang teraniaya. 

“Heh pemburu yang tak tahu diri! Sudah jelas kamu mempunyai niat yang tidak baik kepadaku. Aku sudah berkali-kali mengingatkanmu, tetapi agaknya hatimu sudah kemasukan iblis sehingga membakar nafsu rendahmu. Hei pemburu tua, karena niatmu sudah tidak dapat aku bendung dan nafsumu semakin membakar jiwamu yang nista, maka aku pintakan kepada Dewata Agung, semoga umurmu tidak panjang lagi. Aku kutuk semoga segera dicabut nyawamu oleh Gusti Yang Maha Kuasa.”

Selesai Dewi Damayanti mengucapkan kutukannya, pemburu yang memegangi lengan sang Dewi tiba-tiba jatuh tak berdaya. Tak bisa bergerak. Badannya gosong terbakar. Mati seketika itu juga! Doa Dewi Damayanti dikabulkan Dewata Agung, ampuh kutukannya! Pemburu terbakar oleh api yang berkobar-kobar yang menyala di dalam hati yang sedang marah, di dalam kehendak suci untuk menjaga kesucian, kehormatan dan keselamatan diri.

*

NB: 
Cerita ini adalah petikan sebagian dari Novel ”Prabu Nala dan Damayanti” sebuah Novel Ujian Cinta dan Kesetiaan Wanita Utama, yang akan diterbitkan Penerbit Diva Press Yogyakarta. ACC telah diberikan tanggal 14 Desember 2012.

Related posts:

No response yet for "Petikan Novel Prabu Nala dan Damayanti Bagian 6 Part IV"

Post a Comment