Novel Prabu Nala & Damayanti 2 Bag. I

Novel ini adalah lanjutan dari novel sebelumnya, ujian cinta dan kesetiaan wanita utama. Novel ini merupakan petikan dari novel Prabu Nala & Dmayanti.

11
SALING UNJUK KELEBIHAN

Brahmana Sudewa diutus memberi kabar adanya sayembara pilih jilid dua ke negara Ayodya. Kedatangannya bersamaan waktunya dengan diadakannya pasewakan agung di negara Ayodya. Saat itu Sang Prabu sedang duduk di singgasana dampar kencana dihadap para punggawa pembesar kerajaan Ayodya. Sang Prabu baru saja menerima laporan kemajuan pembangunan dan upaya-upaya yang dilakukan untuk menyejahterakan rakyat negara Ayodya dari para punggawa dan raja bawahan.Kemudian Raja memberi petunjuk dan merundingkan rencana untuk mengatasi kendala-kendala dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi para bawahan dalam melaksanakan program kerja yang sudah digariskan sebelumnya. 

Tiba-tiba ada seorang perajurit penjaga pintu gerbang istana datang menghadapkan seorang brahmana yang tak lain adalah brahmana Sudewa utusan dari negara Widarba.  

“Ada apa prajurit, tidak aku panggil datang menghadap? Dan siapa orang yang kamu ajak menghadap aku ini?” tanya Prabu Rituparna merasa agak terganggu melihat kedatangan prajuritnya dan seorang tamu tak diundang yang menghentikan sementara jalannya pertemuan agung.

“Mohon maaf, Gusti Prabu, hamba telah lancang menghadap Gusti Prabu tanpa dipanggil. Itu semua karena memenuhi permintaan tamu yang hamba hadapkan ini. Beliau mengaku brahmana utusan Prabu Bima dari negara Widarba untuk menyampaikan kabar penting kepada Sinuwun Prabu sendiri. Maka kalau Gusti Prabu berkenan hamba akan segera kembali ke tempat tugas, purba wasesa tamu hamba serahkan kepada Sinuwun Prabu sendiri,” lapor prajurit penjaga pintu gerbang agak takut-takut.

“Ya sudah, aku ijinkan kamu kembali ke tempat tugasmu,” ujar Prabu Rituparna mengijinkan.

“Ki Sanak benar brahmana utusan Prabu Bima raja negara Widarba?” tanya Prabu Bima kemudian kepada tamunya.

“Benar, Gusti Prabu. Hamba brahmana utusan Prabu Bima dari negara Widarba, nama hamba Sudewa,” jawab brahmana Sudewa dengan hormat.

“Ada perlu apa jauh-jauh dari negara Widarba, rajamu mengutus seorang brahmana untuk menghadap kepadaku?”

“Ampun, Gusti Prabu, sebelumnya terimalah terlebih dahulu sembah bakti hamba dan salam taklim dari junjungan hamba Prabu Bima,” kata brahmana Sudewa memberi hormat.

“Ya, aku terima sembah baktimu dan salam taklim dari ratu gustimu. Sekarang katakan apa keperluannya ratu gustimu mengutusmu datang kemari!” kata Prabu Bima  tak sabar segera ingin tahu.

“Begini, Gusti Prabu,” kata brahmana Sudewa sambil memperbaiki letak duduknya agar lebih nyaman. Lalu lanjutnya, ”Prabu Bima akan mengadakan sayembara pilih yang kedua untuk mendapatkan jodoh puterinya Dewi Damayanti. Prabu Bima sangat berharap Gusti Prabu Rituparna dapat mengikuti sayembara pilih ini.”

“Nanti dulu…. Kamu tadi mengatakan kalau Prabu Bima akan mengadakan sayembara pilih untuk mendapatkan jodoh bagi puterinya yang bernama Dewi Damayanti. Padahal sepengetahuanku, Prabu Bima hanya memiliki seorang puteri yang bernama Dewi Damayanti. Dan itupun sudah diboyong ke negara Nisadha pada sayembara pilih beberapa tahun lalu, karena Dewi Damayanti telah memilih Prabu Nala raja Nisadha sebagai jodohnya. Kenapa sekarang bisa terjadi Prabu Bima mengadakan lagi sayembara pilih untuk mencari jodoh puterinya Dewi Damayanti? Ceritanya bagaimana kok bisa seperti itu, aku ingin tahu penjelasanmu?”  

“Memang benar, puteri Prabu Bima yang bernama Dewi Damayanti itu hanya satu. Dan ia dahulu sudah diboyong ke negara Nisadha menjadi istri Prabu Nala. Tetapi ketahuilah Gusti Prabu, setelah dua belas tahun usia perkawinan mereka, ternyata ada halangan. Prabu Nala khilaf bermain dadu dengan saudaranya, hingga semua harta benda termasuk negaranya habis dipertaruhkan di meja judi. Lalu Prabu Nala dan Dewi Damayanti terusir dari negaranya, sampai terlunta-lunta di tengah hutan. Di sana ternyata kemudian Prabu Nala secara diam-diam meninggalkan istrinya, karena malu tidak dapat melindungi dan membahagiakan istrinya. Dewi Damayanti yang ditinggalkan sendirian terlunta-lunta di tengah hutan, kemudian ikut rombongan para pedagang, lalu ikut barisan para brahmana, akhirnya dapat mengabdi di negara Cedi,  yang ternyata negaranya bibinya sendiri. Akhirnya Dewi Damayanti dapat diantar kembali ke negara Widarba, negara ramandanya. Kemudian kami para brahmana diperintah untuk mencari Prabu Nala ke berbagai negara. Berbulan-bulan kami disebar ke berbagai negara, mencari jejak Prabu Nala sampai ke pelosok-pelosok dengan menggunakan berbagai cara, tetapi tetap tak kami temukan jejak Prabu Nala. Tak diketahui, Prabu Nala itu masih hidup atau sudah meninggal. Karena semua jalan sudah ditempuh dan ternyata buntu, maka sekarang Prabu Bima bermaksud mencarikan jodoh puterinya, Dewi Damayanti, dengan cara yang pernah ditempuh dahulu, yaitu dengan cara mengadakan sayembara pilih. Siapa tahu Dewi Damayanti nanti akan memperoleh suami yang lebih baik dari Prabu Nala, kalau Prabu Nala sudah meninggal. Atau mungkin bahkan menjadi sebab timbulnya kembali Prabu Nala dari persembunyiannya. Itu kalau memang Prabu Nala saat ini masih hidup, masih cinta kepada Dewi Damayanti, dan masih berani tampil bersaing dengan para raja sewu negara,” ujar brahmana Sudewa menjelaskan.

“Terima kasih atas penjelasan Bapa Brahmana. Tetapi kenapa Prabu Bima jauh-jauh mengutus Bapa ke Ayodya? Dan kapan pelaksanaan sayembara pilih itu?” tanya Prabu Rituparna mulai tertarik. Ia teringat betapa cantiknya Dewi Damayanti pada sayembara pilih belasan tahun yang lalu. Mungkin sekarang kecantikannya tampak lebih matang dan mempesona.

“Sebetulnya pengumuman adanya sayembara itu sudah cukup lama, dan yang mendaftar juga sudah cukup banyak, tetapi karena dilihat ternyata Prabu Rituparna dari negara Ayodya belum kelihatan mendaftarkan diri, maka hamba diutus mengabarkan hal ini kepada Gusti Prabu, barangkali Gusti Prabu memang belum mendengar adanya sayembara pilih ini. Hal ini karena dipandang pada waktu sayembara pilih beberapa tahun lalu, Gusti Prabu Rituparna termasuk yang banyak mendapat perhatian dari Dewi Damayanti. Sayang Gusti Prabu hanya kalah sedikit dari Prabu Nala, yang sudah telanjur masuk di hati Dewi Damayanti. Maka apabila Gusti Prabu Rituparna saat ini mengikuti sayembara, ada kemungkinan Sang Prabu akan memperoleh kemenangan. Maka sangat disayangkan kalau Gusti Prabu sampai tidak mengikutinya. Adapun pelaksanaan sayembara pilih itu adalah dua hari lagi. Maka apabila Gusti Prabu berminat, sebaiknya hari ini segera bersiap-siap, lalu besok pagi-pagi benar Gusti Prabu harus segera berangkat sehingga tidak akan terlambat.”

Mendengar uraian brahmana Sudewa, Prabu Rituparna mula-mula berbesar hati dan sangat berharap dapat memenangkan sayembara pilih. Tetapi setelah mengetahui hari pelaksanaan yang sudah sangat sempit, hatinya menjadi ciut. Bagaimana caranya menempuh jarak yang demikian jauh dalam waktu yang demikian sempit? Hatinya bimbang… Ikut?...Tidak! …Ikut? …Tidak! Ikut…. Tiba-tiba bagaikan memperoleh petunjuk, hati Prabu Rituparna menjadi mantap: ikut sayembara! Prabu Rituparna teringat mempunyai seorang abdi yang sangat ahli mengendalikan kuda, baik memakai kereta maupun tanpa beban lain. Tetapi apakah mungkin ia akan berkuda berdua bersama Bahuka? Kalau berkuda sendiri-sendiri, sama saja ia akan tertinggal jauh di belakang kuda yang dinaiki Bahuka. Tetapi kalau satu kuda dinaiki dua orang, sungguh kasihan kudanya nanti. Maka Prabu Rituparna memutuskan akan mengajak Bahuka berkereta bersama dan mengajak abdinya yang lain yaitu kusir Wrasneya untuk membantu Bahuka. Sekaligus ia akan menguji sampai seberapa kemampuan Bahuka mengendalikan kereta kuda. 

“Baiklah, Bapa Brahmana, aku sangat berterima kasih atas kabar dan penjelasan yang Bapa berikan kepadaku. Sekarang beristirahatlah dahulu di wisma penginapan keraton Ayodya. Nanti kamu akan aku beri hadiah karena telah membawa kabar penting kepadaku. Sekarang aku akan melanjutkan pisowanan ini barang sebentar. Setelah itu aku akan segera mempersiapkan perjalanan ke negara Widarba untuk mengikuti sayembara pilih,” kata Prabu Rituparna. 

Setelah brahmana Sudewa mengundurkan diri untuk beristirahat di wisma yang telah disediakan untuk para tamu negara, Prabu Bima melanjutkan pertemuan dengan para punggawa dan raja bawahan untuk mencari upaya-upaya menyejahterakan rakyatnya. Karena Prabu Bima harus segera mempersipkan kepergiannya ke negara Widarba maka pertemuan dipersingkat. Yang penting Prabu Rituparna sudah memberikan petunjuk-petunjuk untuk tindakan selanjutnya. Selesai pisowanan, para punggawa dan raja bawahan kembali ke tempat tugasnya masing-masing. Kemudian Prabu Rituparna utusan pengawal memanggil Bahuka. Tak berapa lama Bahuka pun menghadap.

“Ampun Gusti Prabu, Paduka memanggil hamba, apakah ada sesuatu tugas yang harus segera hamba kerjakan?” kata Bahuka dengan penuh rasa hormat.

“Bahuka, aku akan pergi ke negara Widarba untuk mengikuti sayembara pilih yang diadakan Prabu Bima untuk mencari jodoh bagi puterinya, Dewi Damayanti. Tetapi waktunya begitu sempit, satu hari, besok malam harus sudah sampai kalau tidak ingin terlambat dan gigit jari. Oleh karena itu segera persiapkan kereta dan kudanya dengan sebaik-baiknya, agar tidak mengganggu di perjalanan! Kereta kencana, pilihlah yang masih bagus hiasannya dan terawat baik bagian-bagiannya, sehingga tidak mungkin mogok di jalan, dan lancar di perjalanan. Sedangkan kuda-kuda penariknya, pilihlah yang kuat dan cepat larinya agar tidak terlambat sampai di tujuan!” perintah Prabu Rituparna.

Mendengar kata-kata Prabu Rituparna, Bahuka tidak segera menyahut, menyanggupi atau menolak. Menolak jelas tidak mungkin, karena sebagai seorang abdi maka apapun perintah tuannya seorang abdi hanya dapat berkata siap menjalankan tugas, tidak bisa menolak. Tetapi kalau menyanggupi, maka sesungguhnya perjalanan ini memang begitu berat. Berat melaksanakannya, resikonya, dan juga berat di hati. Jarak keraton Ayodya – keraton Widarba bukanlah jarak yang dekat, harus dapat ditempuh dalam waktu satu hari perjalanan. Sungguh suatu perjalanan yang berat dan melelahkan, kalau kurang hati-hati dan kurang perhitungan, bisa terjadi  kecelakaan yang menewaskan di jalan. Tetapi hal itu sebenarnya bukan halangan bagi Prabu Nala yang sudah terkenal mahir mengendalikan kuda, menjalankan kereta. Tetapi sebenarnya yang lebih membuatnya berat adalah di hatinya, karena perjalanan ini adalah untuk mengikuti sayembara pilih untuk menjadi suami Dewi Damayanti. Padahal Dewi Damayanti adalah istrinya yang sah yang terpaksa ditinggalkannya, dan sampai sekarang belum diceraikannya. Apakah ia akan membantu orang yang akan merebut istrinya, tanpa ia bisa berbuat sesuatu untuk menghalanginya?  Terjadi perang batin di hati Bahuka, sehingga ia tidak segera menjawab untuk menyanggupi perintah Prabu Rituparna yang tak mungkin ditolaknya. 

“Bahuka! Kenapa kamu diam saja? Apakah kamu tidak mendengar perintahku? Atau kamu masih belum mengerti apa yang aku perintahkan? Atau kamu merasa tidak mampu untuk menjalankan perintahku? Ketahuilah Bahuka, tugas ini adalah juga ujian bagimu dalam menjalankan tugas, untuk mendapat pengakuan atas keahlianmu. Kalau kamu benar dapat mengantarku ke negara Widarba dengan selamat dan tidak terlambat, maka keahlianmu mengendalikan kuda dan mengendarai kereta, bukan isapan jempol belaka, tapi benar-benar suatu kenyataan. Nah aku akan menghargai dan memujimu serta memberimu hadiah yang besar, apabila kamu dapat menempuh perjalanan keraton Ayodya – keraton Widarba dengan kereta kuda dalam waktu satu hari dengan selamat. Sekarang bagaimana, bersediakah kamu Bahuka, mengantarkan aku ke negara Widarba besok pagi?” tanya Prabu Rituparna sekali lagi kepada Bahuka.  

Bahuka merasa gelap penglihatannya. Matanya berkunang-kunang. Bintang-bintang bertaburan berseliweran dalam pejam matanya. Hampir saja Bahuka pingsan  tak kuat menahan kesedihan mendengar berita yang tak terduga-duga ini. Tapi dasar raja gung binathara yang kuat menjalani tirakat dan bertapa menjalani berbagai laku prihatin, meskipun sekarang sedang kehilangan tahtanya, Prabu Nala kemudian dapat bangkit menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya. Seperti baru saja terjaga dari mimpi buruk, Bahuka pun geragapan menjawab perintah tuannya, “Siap, Gusti Prabu! Hamba akan segera mempersiapkan segala sesuatunya. Kalau diperkenankan hamba akan segera pamit mundur untuk persiapan.”

“Aku ijinkan. Segeralah mempersiapkan seperti yang telah aku perintahkan tadi,” kata Prabu Rituparna.

Bahuka segera keluar menuju kandang kuda. Sebetulnya kepergian Bahuka dari hadapan Prabu Rituparna dengan bergegas itu bukanlah karena ia ingin segera mempersiapkan kereta dan kudanya sebagaimana perintah Prabu Rituparna yang baru saja diterimanya dengan tiba-tiba. Tetapi sebenarnyalah ia memang segera ingin menghindar dari junjungannya itu karena ia ingin segera menyembunyikan kegalauan hatinya agar tidak diketahui junjungannya yang saat ini dirasakannya seperti saingan dalam memperebutkan hati Dewi Damayanti. Bahuka merasa sangat cemburu kepada Prabu Rituparna yang punya segala-galanya, dan saat ini kelihatan sangat berminat untuk memenangkan sayembara pilih memperebutkan cinta Dewi Damayanti yang juga amat dicintainya. 
Di kandang kuda Bahuka tidak segera memilih kuda yang diinginkan Prabu Rituparna, tetapi ia bahkan bersandar ke dinding, berdiam diri menahan sedih dan pilu, memikirkan berita akan diadakannya sayembara pilih untuk mencarikan jodoh bagi istri yang belum dan tidak akan pernah diceraikannya.

“Benarkah Dewi Damayanti punya kemauan seperti itu? Apakah ia sudah lupa pada sumpah janjinya, kalau ia selamanya tak akan bersuami kalau tidak dengan Prabu Nala? Apakah ia akan melupakan sumpah janji setianya sendiri yang sudah disaksikan para dewa?” kata Bahuka dalam hati. 

”Tetapi mungkin juga karena sudah teramat bingung dan putus asanya, mencari suaminya kemana-mana tidak juga ditemukan, ia lantas berpikir kalau suaminya sekarang ini sudah mati, sudah tidak bisa diharapkan lagi. Padahal sebagai wanita yang masih muda dan cantik, ia berhak untuk hidup bahagia dalam keluarga yang utuh, ada suami, ada istri, dan ada anak-anak. Kalau begitu siapa yang salah? Salahkah ia kalau merasa telah disia-siakan, ditinggalkan sendirian di tengah hutan, dan sekarang suami tidak diketahui masih hidup atau sudah mati, lalu untuk mendapatkan kebahagiaan keluarga, ia kemudian mencari suami yang bisa dijadikan sandaran hidup?” tanya Bahuka dalam hati kepada diri sendiri. 

”Kalau dipikir-pikir sebenarnya aku sendirilah yang salah, kenapa dalam keadaan sedemikian sulitnya,   aku justru meninggalkannya, seperti orang yang tidak punya tanggung jawab,” Bahuka akhirnya menyadari kesalahannya. 

Lama Bahuka duduk termenung memikirkan nasibnya dan khilaf serta salah langkah yang telah ia tempuh. Tetapi kalau dipikir-pikir lagi, sebetulnya langkah yang ditempuhnya itu semata-mata karena dirinya terlalu percaya kepada kekuasaan Dewata Agung, yang menguasai alam semesta yang maha pengasih dan maha penyayang. Ia yakin, sebagai istri yang setia dan berbakti kepada suami, dalam keadaan apapun istrinya pasti dilindungi Dewata Agung, sehingga istrinya tidak akan menemui celaka. Tetapi bagaimanapun apa yang telah dilakukannya, mempunyai kesan ia adalah suami yang tega kepada istri, suami yang tidak bertanggung jawab!

Tiba-tiba terdengar ringkik kuda di dalam kandang. Ringkikan kuda yang seakan mengabarkan keberadaannya itu membangunkan Bahuka dari lamunannya. Bahuka teringat kalau saat ini dirinya sedang mendapat perintah penting dari Prabu Rituparna, maka ia pun segera bangkit untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam perjalanan besok. Ia segera memberi makan kuda-kuda yang menjadi tanggungannya, sambil mengamati dan memilih kira-kira kuda mana yang cocok untuk diajak berlari kencang ke negara Widarba besok pagi. 

Perlengkapan kereta kencana termasuk minyak pelumas roda kereta, cambuk dan tali kendali serta pakaian kuda, dipersiapkannya dengan sebaik-baiknya. Bagian-bagian kereta yang perlu diberi minyak pelumas, diolesinya dengan minyak pelumas agar besok kereta dapat melaju dengan kencang dan tidak mrotholi di tengah jalan. Meskipun sebetulnya hatinya galau dan seakan-akan ia ingin mengerjakan pekerjaan ini dengan setengah hati, tetapi kalau mengingat tantangan Prabu Rituparna kepadanya tentang keahliannya, ia jadi ingin bekerja secara profesional untuk mempertahankan reputasinya. 

Sedangkan untuk kuda penarik kereta, dengan dibantu kusir Wrasneya dan Jinala, ia pilih empat ekor kuda yang agak kurus-kurus tetapi dalam pengamatannya mempunyai ciri kuda-kuda yang lincah, kuat dan cepat larinya.

Ketika Prabu Rituparna mengetahui empat ekor kuda yang disiapkan Bahuka untuk penarik kereta besok pagi adalah kuda-kuda yang kurus-kurus, sang prabu berkata dengan nada marah, “Bahuka! Kamu itu bagaimana, perjalanan besok itu bukan main-main, tetapi sungguh berat, jauh dan harus cepat. Tetapi kenapa kuda yang kamu siapkan justru kuda-kuda yang kurus-kurus? Apakah kamu sengaja akan menggagalkan keinginanku mengikuti sayembara pilih di negara Widarba? Kuda-kuda kurus-kurus begitu, bagaimana kalau mogok di tengah jalan, atau bahkan mati di tengah jalan?”

“Duh Gusti Prabu junjungan hamba, janganlah Gusti Prabu marah kepada hamba, periksa dulu apa yang hamba kerjakan. Menurut hamba kuda-kuda yang hamba persiapkan ini adalah kuda-kuda pilihan yang terbaik untuk perjalanan jauh yang memerlukan waktu cepat. Adapun hamba memilih kuda-kuda yang agak kurus, bukan kuda-kuda yang gemuk-gemuk, adalah agar kuda-kuda tersebut ringan larinya, tidak keberatan membawa badannya sendiri, apalagi ditambah membawa beban kereta dan penumpangnya. Selain itu kuda-kuda ini mempunyai tanda-tanda katuranggan pada rambutnya yang pating parenthel jumlahnya lima, empat-empatnya mempunyai tinggi badan yang sama, maka menurut keyakinan hamba kuda-kuda ini kuat larinya dan tidak akan mengecewakan. Tetapi apabila Gusti Prabu mempunyai pilihan lain, terserah kepada Gusti Prabu, tetapi hamba tidak menjamin,” ujar Bahuka menjelaskan pilihannya.

“Kalau memang semuanya sudah kamu perhitungkan menurut ilmu dan pengalamanmu dalam memilih kuda yang terbaik, untuk melakukan tugas yang berat seperti yang akan kita lakukan, aku percaya kepada kewasisan dan kepintaranmu yang memang sudah berpengalaman,” kata Prabu Rituparna pasrah, tidak marah lagi.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar Prabu Rituparna sudah mengendarai kereta kencana yang dihias berbagai macam hiasan yang indah-indah. Di depan, duduk Bahuka sebagai kusir  yang mengendalikan kuda, menjaga laju kereta agar berlari sesuai yang dikehendaki. Bahuka dibantu Wrasneya sebagai ganti kalau Bahuka lelah, atau untuk memberikan bantuan segala sesuatu yang diperlukan kusir. Sedangkan Jinala sebagai pekatik menyediakan segala keperluan kuda apabila mereka sedang beristirahat. Laju kereta setelah keluar dari kotaraja Ayodya, berjalan kencang bagaikan tidak menapak tanah, tetapi seperti terbang tanpa hambatan dan goncangan. Hanya suara ladam sepatu kuda yang masih terdengar menjadi tanda kalau kuda-kuda itu masih menapak di tanah. Sedangkan suara gemerincing asesoris kuda yang bagaikan suara lonceng dan suara laju kereta yang bergemuruh karena cepat membelah udara, bagaikan suara angin puting beliung menggulung bumi. Sehingga karenanya menimbulkan keinginan menyaksikan di hati para penduduk di pinggir jalan yang mendengarnya. Mereka bertanya-tanya, benda apakah itu yang melaju demikian kencangnya bagaikan kilat membelah langit? Tetapi sebelum pertanyaannya terjawab, suara itu sudah lenyap dan benda yang akan dilihat lebih seksama sudah lewat, tinggal titik putih berkilat yang sebentar kemudian tak terlihat, ditelan bumi. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mendoakan agar semuanya selamat.

Prabu Rituparna yang ada di atas kereta tidak henti mengagumi kepandaian kusirnya dalam memilih dan mengendalikan kuda pilihannya. Dalam hati ia ingin mendapatkan pelajaran bagaimana caranya memiliki ilmu dan ketrampilan seperti yang dimiliki Bahuka. Demikian juga Wrasneya dan Jinala yang membantu Bahuka. Mereka tak henti-hentinya mengagumi kemahiran Bahuka dalam mengusiri kereta, mengendalikan kuda. Tapi berbeda dengan Jinala yang belum pernah menjumpai orang yang mempunyai kemahiran seperti Bahuka, Wrasneya pernah punya pengalaman dan hidup sebagai abdi orang yang mempunyai kemahiran tak kalah dari Bahuka. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Prabu Nala junjungannya dahulu ketika masih mengabdi di negara Nisadha. Dan ia jadi heran, kenapa Bahuka yang fisiknya tidak sempurna itu bisa mempunyai kemahiran seperti junjungannya yang mempunyai fisik yang sempurna. Padahal menurut pendapatnya di dunia ini tidak ada orang yang mempunyai kemahiran seperti itu kecuali hanya satu orang, yaitu Prabu Nala. Tidak ada lagi yang lainnya. 

“Siapa sebetulnya Bahuka ini? Apakah ia itu utusan Dewata Agung yang menyamar sebagai titah sudra papa, sebagai rakyat jelata. Tapi terus apa maksudnya Dewata Agung mengutus Bahuka? Atau apakah mungkin Bahuka ini adalah Gusti Prabu Nala yang sedang menyamar, karena menurut perkiraanku tidak ada orang yang dapat mengusiri kereta seperti ini kecuali hanya junjunganku Prabu Nala. Tetapi kenapa Prabu Nala dapat mempunyai wajah dan tangan demikian jelek? Kemana wajahnya yang tampan dulu? Dan kenapa tangannya bisa menjadi pendek dan ceko seperti itu? Atau mungkinkah Bahuka ini titisan sang Salihotra yang terkenal mempunyai aji katuranggan?” Wrasneya di sepanjang jalan itu tak henti-henti berpikir dan bertanya-tanya dalam hati menyaksikan kelebihan yang dimiliki Bahuka.

“Kalau menurut pendapatku, di dunia ini tidak ada orang yang mempunyai pengetahuan, kemampuan, kelebihan dan kemahiran seperti ini kecuali Sinuwun Prabu Nala. Sekarang aku yakin, Bahuka ini tentu adalah Prabu Nala. Sedangkan wajah dan tangannya yang berbeda, apa susahnya raja yang sakti mandra guna itu membuat seperti itu untuk mengelabui lawan-lawannya,” kata Wrasneya dalam hati kemudian menyimpulkan.

Artikel ini ditulis oleh: Sutardi MS Dihardjo

Related posts:

No response yet for "Novel Prabu Nala & Damayanti 2 Bag. I"

Post a Comment