Novel Prabu Nala & Damayanti 2 Bag. II

Novel Saling Unjuk Kelebihan ini adalah lanjutan dari novel sebelumnya, novel Prabu Nala & Dmayanti bag. I

11
SALING UNJUK KELEBIHAN

Perjalanan Prabu Rituparna dan abdi-abdinya sampailah di sebuah padang rumput yang luas dan panjang. Di sela-sela rerumputan di sana-sini tumbuh pepohonan yang jarang dan seolah-olah muncul tiba-tiba di sepanjang jalan yang dilalui kereta yang melaju dengan cepatnya. Tetapi meskipun demikian, dengan mahirnya Bahuka dapat mengendalikan kuda dan melajukan kereta menghindari halangan yang sering kali muncul dengan tiba-tiba, tanpa mengurangi laju keretanya. Kuda dan kusirnya seakan sudah sehati dan sepenglihatan, maka dua-duanya sama waspada dan hati-hatinya, dengan mudah menghindari rintangan yang mungkin mencalakainya. Prabu Rituparna semakin kagum akan kemahiran dan ketrampilan kusir kepercayaannya ini. 

Ketika kemudian di kejauhan nampak ada pohon besar di tengah jalan, Prabu Rituparna meminta Bahuka untuk mengurangi laju keretanya..

“Lihatlah, Bahuka, di sana kelihatan ada pohon wibitaka tumbuh di tengah jalan. Kamu tahu, berapa jumlah daun yang sudah gugur di tanah, dan berapa jumlah daun yang masih ada di pohon?” tanya Prabu Rituparna kepada Bahuka sambil tangannya menunjuk ke arah pohon besar yang masih beberapa puluh depa di depannya.

“Mohon ampun, Gusti Prabu, kelebihan hamba hanya pada mengendalikan kuda dan masak memasak. Hamba bodoh dalam soal hitung-menghitung. Apalagi untuk memperkirakan dalam jarak yang masih sedemikian jauhnya. Barangkali Gusti Prabu lebih tahu dari hamba,” jawab Bahuka merendah. Dalam hati ia merasa bersyukur, barangkali Prabu Rituparna akan mulai memperlihatkan kelebihan yang dimiliki, setelah terlebih dahulu ia memamerkan kelebihannya.

“Kalau kamu ingin tahu kelebihanku, Bahuka, ketahuilah jumlah daun pohon itu yang sudah gugur di tanah adalah seratus satu lembar. Sedangkan buahnya hanya satu. Sedangkan banyaknya daun yang masih ada di pohon  seratus ribu. Yang ada di cabang yang besar-besar itu saja ada lima puluh ribu. Sedangkan yang ada di cabang sebelah kiri itu daunnya ada lima ribu, lainnya tersebar di bagian batang dan ranting lainnya. Kemudian di ranting paling kecil itu ada buahnya: sembilan puluh lima buah. Sekarang buktikan kalau kamu tidak percaya! Tumbangkan pohon itu dan hitunglah yang teliti, kamu akan mendapatkan kebenaran apa yang sudah aku katakan! Kamu dapat menghitung semuanya atau mengambil contoh pada bagian-bagian kecil yang aku sebutkan tadi,” ujar Prabu Rituparna.

Bahuka segera melajukan kereta mendekati pohon yang ditunjukkan junjungannya. Bahuka segera turun dari kereta dan menyerahkan kendali kuda kepada Wrasneya. Kuda dibiarkan merumput dan minum sesukanya sambil istirahat. Sedangkan Bahuka lalu mendekati pohon wibitaka dan segera menghitung daun-daun yang berguguran di bawahnya. Bahuka menjadi kagum setelah mengetahui jumlah daun dan buah yang gugur di bawah pohon itu persis yang dikatakan Prabu Rituparna. Kemudian Bahuka mendekati pohon itu lebih dekat lagi, lalu dengan kesaktiannya tangannya memijat pangkal batangnya. Tiba-tiba pohon itu roboh pelan-pelan tanpa menggugurkan daunnya barang selembar pun. Kemudian Bahuka segera menghitung jumlah daun yang ada di pohon yang sudah tumbang rata tanah itu. Ia menghitung dengan hati-hati di bagian-bagian yang tadi telah ditunjukkan Prabu Rituparna. Ajaib! Semuanya tidak meleset sedikitpun, jumlah maupun letaknya. Sekarang Bahuka sudah mengetahui dan mengakui kelebihan junjungannya Prabu Rituparna. 

“Semua sudah hamba hitung dengan teliti. Ternyata benar semua yang telah dikatakan Gusti Prabu. Tidak ada selisih sedikitpun. Sekarang hamba sudah tahu kelebihan Paduka, hamba menjadi semakin kagum dan hormat kepada Paduka,” kata Bahuka dengan tulus.

“Sekarang kamu tahu kalau tidak hanya kamu yang punya kelebihan, Bahuka. Aku pun juga punya kelebihan, yaitu kelebihan dalam hal hitung-hitungan. Satu lagi kelebihanku yang mesti kamu ketahui, Bahuka, yaitu kelebihan dalam bermain judi, termasuk di dalamnya adalah kemahiran dalam bermain dadu.”

“Hamba mengakui kelebihan Gusti Prabu dalam hal hitung-hitungan, tetapi mengenai kemampuan dalam bermain judi, khususnya bermain dadu, hamba belum pernah membuktikan. Kalau Gusti Prabu berkenan, tolong perlihatkan kepada hamba barang sedikit kelebihan Paduka dalam bermain dadu!” pinta Bahuka.

“Ambilah batu kerikil di depanmu itu!” perintah Prabu Rituparna.

Bahuka menurut, diambilnya sebutir batu kerikil yang ada di depannya. 

“Batu kerikil itu ada bagian yang datar, ada bagian yang runcing, dan ada bagian yang ngencos tak teratur. Sekarang kocoklah sesukamu dengan kedua tanganmu. Setelah itu bukalah tanganmu yang menutupinya. Tetapi sebelum kamu membuka tanganmu, biarkan aku menebaknya terlebih dahulu, bagian mana yang ada di atas!” perintah Prabu Rituparna.

Bahuka melaksanakan apa yang diperintahkan Prabu Rituparna.

“Aku menebak, yang di bagian atas adalah bagian yang datar. Sekarang bukalah tanganmu, Bahuka!”

Bahuka membuka tangannya. Bahuka terkejut dan merasa heran ketika mengetahui bagian batu yang ada di atas adalah bagian yang datar. Ia tak habis mengerti, karena yang sering terjadi bagian batu yang ada di atas adalah bagian yang lancip, sedangkan bagian yang datar sering kali ada di bagian bawah. Bahuka geleng-geleng kepala mengetahui kelebihan tuannya.

“Kalau kamu masih kurang percaya, ambilah ini, sudah aku siapkan dari rumah, alat permainan dadu yang serba kecil,” kata Prabu Rituparna sambil mengulurkan alat permainan dadu kepada Bahuka. Bahuka menerimanya.

“Sekarang kocoklah mata dadu itu sesukamu. Kalau sudah selesai letakkan di tanah!” perintah Prabu Rituparna.
Bahuka melaksanakan perintah Prabu Rituparna.

“Lorek! Aku menebak lorek. Sekarang bukalah, Bahuka, aku yakin mata dadu menunjukkan gambar lorek,” tebak Prabu Rituparna.

Bahuka membuka penutup dadu. Alangkah terkejutnya Bahuka setelah mengetahui ternyata tebakan Prabu Rituparna benar, mata dadu menunjukkan gambar tiga garis sejajar, lambang lorek. 
“Bagaimana, Bahuka, kamu sudah mengakui kelebihanku dalam bermain dadu?” tanya Prabu Rituparna kemudian.

“Sungguh mengagumkan! Hamba mengakui kelebihan Paduka dalam bermain dadu. Dan kalau Paduka berkenan, hamba mohon semoga Sinuwun berkenan memberikan anugerah wirid dalam hal kelebihan ilmu hitung-hitungan dan permainan judi, khususnya permainan dadu kepada hamba.  Kalau Gusti Prabu menghendaki,  hamba akan memberikan ilmu pengetahuan untuk mengenal kuda dan cara mengendalikannya.”

“Tentang kamu akan mengajariku pengetahuan mengenal dan caranya mengendalikan kuda, simpanlah dulu kesanggupanmu itu. Kelak kalau sudah sampai waktunya akan aku minta. Tetapi kalau kamu ingin mendapatkan wirid bab hitung-hitungan dan permainan judi, sekarang juga akan aku berikan.”

Prabu Rituparna lalu memberikan wirid tentang ilmu hitung-hitungan agar dapat menghitung dengan cepat sesuatu yang banyak sekali jumlahnya tanpa salah sedkitpun. Demikian juga wirid caranya bermain judi agar tidak dapat dikalahkan oleh musuh. Ilmu ini adalah ilmu rahasia yang tidak sembarang orang dapat menguasainya. Tetapi dasar Bahuka adalah Prabu Nala yang juga sakti mandra guna, maka tanpa kesulitan ia dapat menguasainya. Begitu ilmu ini masuk kedalam jiwa Bahuka, tiba-tiba perutnya terasa mual melilit-lilit, pating kruwel pating plilit. Kepalanya terasa pusing berputar-putar dan sekujur tubuhnya terasa panas meriang pating greges ra karu-karuwan, seperti ada yang mendesak ingin segera keluar dari badan Bahuka. Tak kuat menahan sakit Bahuka memegangi perutnya yang kelihatan menjoto ke kiri menjoto ke kanan seperti perempuan hamil besar yang dipermainkan gerak sang bayi di dalam perut. Berdiri Bahuka terasa tak kuat lagi. Ia oleng, miring kiri miring kanan. Kelihatan sekali kalau badannya sakit dan sangat tersiksa.

“Maaf Gusti Prabu, hamba permisi dulu mau buang hajat di sungai kecil di bawah pohon wibataka sana,” kata Bahuka minta ijin untuk buang hajat sambil memegangi perutnya yang rasanya sakit tidak terkira.

“Aku ijinkan, tetapi segera kembali, karena aku takut kalau sampai terlambat,  sia-sia perjalanan kita,” ujar Prabu Rituparna.

Bahuka segera berlari menuju sungai kecil yang tadi sudah ditunjuk. Di pinggir sungai kecil itu sakit perutnya semakin menjadi-jadi. Ternyata badan alus Hyang Kali yang menyatu dalam diri Bahuka, dan selalu menggoda untuk melakukan permainan judi, merasakan sudah tidak kuat berada dalam tubuh Bahuka, dikarenakan sekarang ini Bahuka sudah mendapatkan ilmu rahasia, wirid rahasia berjudi yang tidak tertandingi, sehingga semua godaan Hyang Kali tidak mempan. Oleh karena merasa kalah tinggi ilmunya, Hyang Kali terpaksa harus keluar dari tubuh Bahuka. Tetapi sebelum keluar ia mengalami siksaan yang luar biasa sakitnya, sehingga ia terpaksa berguling-guling, yang dirasakan oleh Bahuka seperti kepala pusing, badan meriang panas dingin tak karuan dan perut melilit-lilit. Itu semua karena racun bisa nagaraja Karkotha bekerja lebih keras, menyiksa Hyang Kali yang ada di dalam jiwa Bahuka, sebelum roh jahat itu didepak keluar dari badan Bahuka. Begitu Hyang Kali keluar dari tubuh Bahuka,  terlihat badannya lemas tak berdaya, mulutnya berbusa penuh racun bisa yang sangat panas dan menyiksa.  

Bahuka yang melihat Hyang Kali keluar dari tubuhnya dalam keadaan lemas tak berdaya, marah dan dendam bukan main. 

“Inilah yang telah mencelakaiku, sehingga aku terpaksa berpisah dengan istri dan anak-anakku tercinta, juga rakyatku yang menjadi tanggung jawabku untuk menyejahterakannya. Bahkan kemudian aku dan juga istriku terpaksa mengalami penderitaan berkepanjangan yang tak jelas kapan berakhirnya,” kata Bahuka dalam hati. Kemudian  Bahuka meraih lengan Hyang Kali, dipegang kuat dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan siap memukul dan menghajar habis-habisan. Biarpun sebagai dewa Hyang Kali tidak akan bisa mati, tetapi ia tetap dapat merasakan sakit setengah mati. Ia tentu akan menjadi jera merasakan betapa sakit pukulan Bahuka yang dilambari ilmu kesaktian. Tetapi sebelum tangan yang menggenggam aji kesaktian itu menghantam kepala Hyang Kali yang tak berdaya, terdengar rintihan memelas Hyang Kali mohon ampun. 

“Ampun, Prabu Nala, aku sudah tobat! Aku mengakui segala kesalahanku yang mengakibatkan penderitaanmu, istrimu, keluargamu, dan rakyatmu. Aku mohon maaf dan mohon ampun. Lepaskan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kamu adalah raja yang bijaksana, jangan kehilangan kebijaksanaan dan kesabaran pada musuh yang sudah tak berdaya. Ketahuilah, aku sudah cukup menderita mendapat siksaan ketika berada dalam tubuhmu, karena aku harus selalu menahan rasa sakit dan panas akibat serangan racun bisa nagaraja Karkotha. Begitu juga ketika Dewi Damayanti menjatuhkan sumpah serapahnya setelah selamat dari lilitan ular besar dan lepas dari cobaan perkosaan yang akan dilakukan pak pemburu yang sudah menolongnya, badanku terasa berat seakan ditindih beban yang amat berat. Sakit sekali! Makanya aku sudah tidak dapat menggoda kamu lagi meskipun aku ada dalam tubuhmu. Aku seakan hidup enggan, mati tak mau. Hanya siksaan yang selalu menderaku setiap waktu. Maka sekarang aku mohon, ampuni aku dan lepaskan aku. Aku doakan semoga kamu lekas terbebas dari penderitaan, dan segera kembali memperoleh kebahagiaan dan kemuliaanmu, serta kembali berkumpul dengan keluargamu,” ujar Hyang Kali tak henti-henti menceritakan penderitaannya, mengakui kesalahannya, dan memohon ampun dan pembebasan.

Ketika Bahuka mendengar rintihan dan rengekan Hyang Kali yang sudah tobat, Bahuka yang sesungguhnya adalah Prabu Nala yang berwatak welas asih menjadi luluh hatinya, menjadi reda amarahnya.

“Baiklah kalau begitu Hyang Kali, aku akan membebaskan kamu, tetapi dengan syarat kamu tidak boleh mengulangi lagi, menggoda dan membuat celaka aku dan keluargaku. Sudah... sekarang sana pergilah dari hadapanku! Aku akan segera kembali kepada Prabu Rituparna yang mungkin sekarang sudah gelisah menungguku,” kata Bahuka si Prabu Nala.

Hyang Kali segera bersembunyi di balik pohon wibataka agar tidak terlihat Prabu Rituparna. Prabu Nala atau Bahuka segera bergegas menemui Prabu Rituparna. Badannya sekarang menjadi lebih ringan. Sesuatu yang ternyata adalah Hyang Kali yang sebelumnya terasa seperti menggandholi setiap ros tulang-tulangnya sehingga mengganggu gerak tubuhnya, sekarang sudah lenyap, sehingga geraknyapun terasa lebih ringan. Demikian pula racun bisa nagaraja Karkotha, yang tadinya meskipun tidak membahayakan jiwanya tetapi terasa mengganggu peredaran darahnya, karena mungkin di dalam dirinya racun itu selalu bertarung dengan roh Hyang Kali, sekarang sudah tidak ada, semuanya sudah terbawa keluar bersama roh Hyang Kali. Maka sekarang peredaran darah Bahuka pun menjadi lebih lancar, sehingga terasa badannya menjadi lebih sehat dan segar.

”Apakah badanmu sekarang sudah enak, Bahuka? Apakah perutmu sudah tidak sakit lagi, Bahuka? Kok kelihatannya sekarang langkahmu lebih ringan,” tanya Prabu Rituparna setelah dilihatnya Bahuka sudah kembali dari buang hajat di sungai.

”Betul, Sinuwun Prabu. Sekarang perut hamba sudah tidak sakit lagi. Badan hamba terasa lebih enak dan langkah hamba terasa lebih ringan. Mungkin ini karena hamba sudah mendapat wejangan wirid ilmu rahasia dari Sinuwun Prabu Rituparna yang sudah berbelas kasih memberi anugerah kepada diri hamba,” ujar Bahuka.

”Sebetulnya aku hanya ingin menunjukkan kepadamu kalau yang punya kelebihan itu tidak hanya kamu seorang. Aku pun sebagai raja gung binathara juga mempunyai kelebihan ilmu simpanan yang tidak setiap orang mempunyai. Tetapi kalau ternyata ilmu itu setelah aku wejangkan kepadamu ternyata sangat berguna bagimu, barangkali itu sudah menjadi kehendak Dewata Agung, begitulah caranya aku menolongmu,” kata Prabu Rituparna.

“Terima kasih yang tiada terkira hamba sampaikan dengan hati yang tulus, atas pemberian wirid yang sangat berguna bagi hamba. Semoga Gusti Prabu mendapat balasan yang setimpal dari Dewata Agung.”

”Kalau sekarang badanmu sudah sehat, mari segera kita lanjutkan perjalanan kita! Aku takut kalau terlalu lama kita beristirahat, nanti kita akan terlambat sampai ke negara Widarba. Bisa-bisa sampai di sana sayembara sudah ditutup karena pemenangnya sudah terpilih.

”Baiklah Sinuwun Prabu, mari kita lanjutkan perjalanan ke negara Widarba. Jangan khawatir terlambat. Hamba jamin kita akan sampai di sana sebelum sayembara itu ditutup,” ujar Bahuka mengajak berangkat kembali.

Prabu Rituparna yang semula akan marah kepada Bahuka yang agak lama meninggalkan dirinya sehingga perjalanan terpaksa tertunda untuk beberapa lama, tidak jadi marah menerima ucapan terima kasih yang tulus dari abdinya yang sebetulnya ia kagumi juga. Dan ia juga merasa berbesar hati karena telah berhasil menunjukkan kelebihan dirinya kepada abdi yang banyak memiliki kelebihan ini. Lebih-lebih ia telah berhasil mengajarkan kelebihan dirinya yang nantinya akan ditukar dengan kelebihan yang ada pada abdi istimewa ini. 

Kereta kencana yang ditarik empat ekor kuda yang sudah cukup beristirahat dan mendapat makan dan minum itu segera berlari kencang membawa empat orang penumpang di atasnya. Begitu kencangnya lari kereta kuda itu, sehingga seolah-olah kereta itu terbang beberapa jengkal di atas permukaan tanah. Suaranya yang bergemuruh bagaikan suara angin ribut atau gempa besar yang menggetarkan bumi, membuat heran orang-orang yangsedang berada di dalam rumah, di pinggir jalan yang dilalui. Mereka berlarian keluar rumah, takut terjadi gempa bumi atau angin puting beliung yang dapat merobohkan rumah mereka.

***

NB: Cerita ini adalah petikan sebagian dari Novel ”Prabu Nala dan Damayanti” sebuah Novel Ujian Cinta dan Kesetiaan Wanita Utama, yang akan diterbitkan Penerbit Diva Press Yogyakarta. ACC telah diberikan tanggal 14 Desember 2012. 

Ditulis oleh: Sutardi MS Dihardjo

Related posts:

No response yet for "Novel Prabu Nala & Damayanti 2 Bag. II "

Post a Comment