Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3 Bag. I

Artikel Petikan Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3 ini terbagi menjadi beberapa bagian.

Petikan Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3:
12
DEWI  DAMAYANTI  BERTEMU  PRABU  NALA
Oleh: Sutardi MS Dihardjo


Memasuki perbatasan wilayah negara Widarba, Prabu Rituparna merasakan sesuatu yang ganjil. Suasananya berbeda jauh dibandingkan dengan suasana beberapa tahun yang lalu ketika raja Widarba mengadakan sayembara pilih untuk memilih jodoh bagi Dewi Damayanti yang masih gadis. Saat itu suasananya meriah, begitu memasuki perbatasan wilayah Widarba sampai memasuki keraton tempat dilangsungkannya sayembara pilih, di sepanjang pinggir jalan berjajar-jajar umbul-umbul, rontek, lampion dan penjor serta ucapan selamat datang menyambut kedatangan para peserta sayembara. Dan di sepanjang jalan para peserta sering bertemu, mendahului atau didahului peserta lain. Tetapi ini, sudah sekian jauhnya melangkah memasuki wilayah kerajaan Widarba, bahkan sudah hampir mendekati kotaraja, tidak ada satupun umbul-umbul, atau lampu hias, atau ucapan selamat datang terlihat menyambutnya di tepi jalan. Begitu juga kereta kuda para calon pesaingnya, tak satupun terlihat terdahului kereta kencananya yang melaju dengan cepat. Apakah ia terlambat? Sayembara pilih sudah selesai dan sudah terpilih pemenangnya yang berhak memboyong Dewi Damayanti yang cantik jelita? Atau, apakah sebetulnya sayembara pilih untuk yang kedua kalinya itu sebenarnya tidak pernah ada? Dan brahmana yang memberi kabar itu hanya menipu untuk mendapatkan hadiah yang besar dari dirinya?

“Aneh! Apakah brahmana yang datang menyampaikan kabar itu telah menipuku?” tanya Prabu Rituparna dalam hati. 

“Rasa-rasanya tak mungkin seorang brahmana berbohong menipuku. Kalau dilihat wajah dan kesungguhannya dalam menyampaikan kabar berita ketika menghadapku, mestinya brahmana itu dapat dipercaya. Tetapi kenapa sampai sejauh ini tidak terlihat tanda-tanda kebenaran ucapannya?” 
Suara kereta kencana yang ditumpangi bergemuruh seperti suara hatinya yang juga bergemuruh merasakan hawa amarah, malu dan kecewa karena merasa telah ditipu. Untuk melampiaskan kekesalannya Prabu Rituparna menyuruh Bahuka agar lebih mempercepat laju keretanya, sehingga suara gemuruh yang ditimbulkan dari beradunya roda-roda dan ladam kaki-kaki kuda, dengan tanah dan bebatuan yang diterjang, semakin gaduh memekakkan telinga. 

Orang-orang yang sedang berbincang-bincang di dalam gardu penjagaan di tikungan lorong desa, jauh dari jalan raya yang dilalui kereta kencana dari Ayodya itu, menjadi bingung, saling bertanya-tanya, mendengar suara bergemuruh yang ditimbulkan oleh suara kuda bersepatu besi berlari, membawa kereta beroda lapis besi melaju dengan kencang. 

“Suara apakah ini begitu gaduhnya seperti suara petir meledak-ledak?” tanya salah seorang.  

“Bukan, bukan suara petir, tetapi seperti suara tanah perbukitan yang longsor memusnahkan sebuah dusun,” kata yang lainnya lagi. 

“Kelihatannya seperti suara gempa bumi yang membalikkan bumi seisinya. Lihat dan rasakan, tanah yang kita pijak ini seperti bergerak-gerak! Iya ‘kan?” kata penduduk yang lainnya lagi. 

“Aku kok merasa suara menggemuruh ini seperti suara gunung berapi yang sedang meletus,  memuntahkan lahar panas menjilati bebukitan dan perkampungan. Sungguh mengerikan!” kata yang lainnya tak kalah serunya menggambarkan perasaan gentarnya mendengar suara yang tak dilihat sumbernya itu. 

“Kalau aku kok merasa suara ini seperti suara angin puting beliung, yang sanggup menumbangkan rumah-rumah dan pepohonan. Sebaiknya mari kita berlari keluar, untuk melihat apa yang terjadi dan menghindari kecelakaan, kalau tiba-tiba rumah yang kita tempati ini roboh diterjang angin puting beliung!” kata salah seorang yang semula asyik berbincang di gardu penjagaan itu, dan segera bergegas lari keluar.   Kawan-kawannya ikut berlari keluar di belakangnya.

Tetapi di jalan lorong kecil itu, mereka tak melihat apa-apa karena kereta kencana Prabu Rituparna tidak melewati lorong itu, tetapi di sana, lewat jalan raya yang masih beberapa ratus meter jaraknya dari lorong itu.

Sementara itu, di jalan raya yang akan dilalui kereta kencana Prabu Rituparna, orang-orang yang kebetulan sedang berjalan atau berkuda atau naik kereta di jalan itu, hatinya gentar, takut diterjang sesuatu kendaraan berat yang akan lewat dari belakang. Dengan sendirinya mereka minggir mepet ke tepi jalan. Dan baru berani kembali ke tengah jalan, setelah kereta yang melaju sekencang angin itu lewat. Mereka geleng-geleng kepala karena takjub.

Orang-orang yang tinggal di tepi jalan raya, sejak dari jauh sudah mendengar bunyi kereta yang makin lama makin dekat, makin gaduh menggemuruh. Mereka berlarian melihat ke jalan raya, tetapi mereka hanya melihat seberkas sinar kuning keemasan, dari jauh kecil dan kabur, makin dekat makin besar dan jelas, setelah dekat terlihat jelas nyata sebuah kereta kencana yang indah melaju dengan cepatnya, tetapi kemudian makin menjauh makin kecil sebagai sebuah titik yang bergerak, dan kemudian makin kabur makin tak kelihatan. Luar biasa! 

Gemuruh di hati Prabu Rituparna yang ditabuh rasa kecewa, malu dan marah merasa telah ditipu seorang brahmana yang membawa kabar palsu, hampir sama gaduhnya dengan gemuruh di hati Bahuka. Tetapi gemuruh di hati Bahuka adalah gundahnya hati yang khawatir akan kehilangan istri yang amat dicintainya, dan perasaan telah dikhianati istri yang selama ini dianggapnya setia menepati sumpah janji, dan tulus berbakti kepada satu-satunya suami tercinta, meskipun dalam suka maupun duka. Kegundahan itu teraduk juga oleh perasaan menyesal telah tega meninggalkan istri sekian lama tanpa kabar berita. Apalagi pada waktu meninggalkan istrinya ia dalam keadaan papa, sendirian di tengah hutan lebat yang penuh bahaya dan godaan. Akhirnya keadaan juga yang disalahkan, kenapa ada satru sakti, roh jahat menggoda untuk mencelakainya, menjungkalkannya dari kursi singgasana yang penuh kemuliaan. Salah apa? Dosa apa, yang telah dengan sengaja atau tak sengaja dikerjakannya, sehingga Dewa Batara memberi cobaan begini berat? Bahuka sang Prabu Nala bertanya-tanya tanpa tahu jawabnya. Maka pertanyaan tanpa jawab yang muncul berkali-kali itu terlampiaskan pada pukulan cambuk yang menggeletar berkali-kali di udara, sehingga menjadi aba-aba bagi empat kuda penarik kereta untuk berlari lebih cepat lagi. Kuda-kuda yang tak tahu apa yang dirasakan tuannya dan kusir tuannya yang diamuk gundah, tahunya bunyi cambuk menggeletar di udara adalah pertanda mereka harus berlari lebih cepat lagi. Berlari dan berlari, berlari lagi!

Memasuki kawasan kotaraja yang cukup padat lalu lintas kendaraan berlalu lalang, bersamaan meredanya amarah di hati Prabu Rituparna dan meredanya kegundahan di hati Bahuka sang Prabu Nala. Setelah dipikir-pikir dan ditimbang-timbang dengan tirto wening kawicaksanan ing batin, Prabu Rituparana seorang raja yang mempunyai budi pekerti luhur, arif bijaksana dan berhati samodera kemaafan, mulai bisa menerima apa yang mungkin terjadi. 

“Seorang brahmana telah datang membawa kabar palsu kepadaku tentu mempunyai maksud-maksud tertentu yang belum aku ketahui. Kalau dia benar-benar seorang brahmana sejati, tentu maksud baik penuh hikmah yang akan dia sampaikan. Tetapi kalau dia brahmana jahat, aku perlu hati-hati dan waspada pada niat dan tujuannya. Aku tidak boleh terbakar hawa nafsu amarah. Aku harus lebih berhati-hati dan mengendalikan diri. Aku tidak boleh dikuasai hawa nafsu, tetapi aku harus mengendalikan hawa nafsuku, seperti penunggang mengendalikan kuda, atau kusir mengendalikan laju kereta kuda. Mendapat kesadaran seperti itu Prabu Rituparna lalu memberi isyarat kepada Bahuka untuk mengurangi laju kecepatan keretanya menjadi lebih pelan, namun masih lebih cepat dari laju kereta kuda yang berjalan normal.

Pada saat yang sama, sebelum Prabu Rituparna memberi isyarat untuk mengurangi laju keretanya, di hati Bahuka pun tumbuh kesadaran untuk pasrah kepada kehendak Dewata Agung yang telah merencanakan dan mengatur segalanya. Apa pun hasil akhirnya nanti, terjadilah kehendak Dewata Agung yang maha pemurah, bukan kehendak makhluknya atau kehendaknya yang penuh keterbatasan dan ketidaktahuan. Bagaimanapun Bahuka menyadari, meskipun apa yang telah dilakukannya terhadap istrinya adalah untuk kebaikan istrinya dan masa depannya, tetapi memang tidak mustahil ditafsirkan salah oleh orang lain. Dengan mudah orang akan menuduhnya suami yang tega pada keselamatan istri yang tak berdaya. Dengan mudah orang akan menuduhnya orang yang tidak bertanggung jawab dan tega menelantarkan anak-istri. Maka Bahuka sang Prabu Nala hanya dapat pasrah dan meredakan kegundahan di hatinya. Maka ketika tuannya memberi isyarat untuk mengurangi laju keretanya, dengan penuh kesadaran tentang kepatutan berlalulintas di jalan raya yang ramai dan demi keselamatan semuanya, kereta, kuda dan penumpangnya, maupun keselamatan orang-orang yang lalu-lalang di jalan raya, Bahuka segera memberi aba-aba kepada kudanya untuk mengurangi kecepatan, tali kekang ditarik pelan-pelan dan cambuk pun lalu ditaruh berdiri di tempat yang sudah disediakan di samping tempat duduknya. 

Meskipun laju kereta sudah dikurangi tetapi suara gemuruh yang ditimbulkan oleh beradunya sepatu besi di kaki-kaki kuda, dan berderitnya roda-roda kereta yang berlapis besi, masih terdengar keras meski tidak segaduh sebelumnya. Namun suara itu sudah cukup membuat heboh para penghuni kotaraja. 

Tak luput dari pendengaran itu adalah para penghuni dalam benteng keraton Widarba. Mereka bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi. Tetapi bagi Dewi Damayanti yang sudah hafal dengan suara seperti itu, tidak perlu bertanya-tanya seperti orang-orang lain di dalam lingkungan keraton. Ia justru menjadi semakin yakin bahwa yang mengendarai kereta itu, kusirnya,  tiada lain adalah suami tercinta sang Prabu Nala. Maka ia pun mempersiapkan diri, menganam rencana dan alasan kalau ada pertanyaan dari suaminya.

Prabu Bima ketika mengetahui ada kereta kencana yang sangat indah ditarik empat ekor kuda yang amat gagah meskipun agak kurus, tahu kalau ada tamu agung berkunjung ke negaranya. Maka ia pun segera menyambutnya dengan penghormatan layaknya suatu negara besar menerima tamu negara terhormat. Dengan senang hati Prabu Bima menerima kedatangan Prabu Rituparna, dengan penyambutan upacara kebesaran di alun-alun negara Widarba. 

“Maaf, Anak Prabu, apabila penyambutan yang kami berikan kurang berkenan di hati Anak Prabu, karena kedatangan Anak Prabu terlalu tiba-tiba, tanpa kabar terlebih dahulu. Untung bunyi kereta Anak Prabu sudah mengabarkan terlebih dahulu kedatangan Anak Prabu sehingga kami dapat sedikit mempersiapkan penyambutan seadanya,” kata Prabu Bima.

“O, tidak jadi mengapa, Rama Prabu. Penyambutan yang Rama Prabu berikan sudah lebih dari cukup. Ganti ananda yang mohon maaf karena datang  tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu, sehingga membuat terkejut Rama Prabu dan sekalian penghuni istana. Lebih-lebih bunyi suara kereta kuda ananda yang memekakkan telinga, tentu sangat mengganggu kawula Widarba di sekitar jalan yang kami lalui. Untuk itu ananda dengan tulus mohon maaf kepada Rama Prabu dan seluruh kawula negara Widarba yang terganggu,” pinta  Prabu Rituparna.

“Tidak biasanya Anak Prabu berkunjung ke kerajaanku ini kalau tidak ada urusan yang penting. Kalau tidak salah kunjungan Anak Prabu terakhir adalah ketika diadakan sayembara pilih sekitar lima belas tahun yang lalu. Lalu kira-kira ada perlu apa, Anak Prabu saat ini mengunjungi bapa yang sudah tua ini?” 

“Sebetulnya tidak ada sesuatu yang penting benar yang mendorong kedatangan ananda ke hadapan Rama Prabu. Kunjungan ini tidak lain hanyalah kunjungan silaturahim biasa, kunjungan dari seorang anak kepada orang tua untuk menimba ilmu dan pengalaman. Kunjungan ini adalah untuk melihat kesehatan dan keselamatan Rama Prabu, serta sebagai tanda bakti seorang anak kepada bapak. Selanjutnya kunjungan ini juga untuk meminta tambahan doa restu Rama Prabu demi keselamatan dan kelestarian ananda, dalam menjalankan roda pemerintahan di negara Ayodya,” ujar Prabu Rituparna.   

“Terima kasih Anak Prabu jauh-jauh datang dari negara Ayodya untuk berbakti dan melihat kesehatan dan keselamatanku. Perhatian Anak Prabu kepadaku sungguh aku hargai, semoga dapat memperpanjang umurku dan daya kekuatan untuk kesehatan dan keselamatanku. Akupun tak lupa selalu berdoa dan memberikan restuku untuk kesehatan, keselamatan, dan kelestarian Anak Prabu dalam memimpin negara Ayodya menuju kejayaan, kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Ayodya.”

Prabu Bima lalu bertanya jawab tentang perjalanan dari Ayodya ke Widarba. Juga hal-hal lain yang umumnya ingin diketahui orang-orang yang baru bertemu setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu. Namun sejauh ini Prabu Rituparna tak pernah menyinggung tentang adanya sayembara jilid dua untuk mencarikan jodoh bagi Dewi Damayanti. Bahkan soal keadaan Dewi Damayanti dan Prabu Nala saat ini pun Prabu Rituparna tidak berani menanyakannya kepada Prabu Bima, karena takut menyinggung perasaan atau kecele.

“Aku rasa Anak Prabu sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh dari Ayodya ke Widarba. Oleh karena itu aku persilakan Anak Prabu bersama para abdi untuk beristirahat di pasanggerahan. Kereta dan kuda agar dikandangkan di gedogan istana. Apabila Anak Prabu atau para abdi membutuhkan sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk memerintah para abdi keraton Widarba untuk menyediakannya. Anggap saja di keraton ini seperti di keraton Ayodya,” kata Prabu Bima mempersilakan tamunya untuk beristirahat.

Prabu Rituparna lalu mohon diri untuk beristirahat di pasanggerahan. Di sini ia dijamu makanan dan minuman yang enak-enak tak kurang suatu apa. Tempat istirahatnya pun nyaman dan menyenangkan, sehingga lupalah segala kekesalannya yang disebabkan karena apa yang sejak dari Ayodya sudah diangan-angankan, ternyata sesampai di Widarba sangat berbeda kenyataannya. Sebenarnya sang prabu masih penasaran pada maksud tersembunyi brahmana yang telah memberi kabar bohong kepadanya, tetapi merasakan kehangatan sambutan Prabu Bima kepadanya dan ketulusan orang tua itu menerimanya, ia jadi berpikir positip, tak ada maksud jahat di balik semua itu. Prabu Rituparna pasrah apapun yang terjadi. Terbawa rasa penat setelah melakukan perjalanan jauh yang menegangkan, dalam kereta kuda yang melaju dengan kencang, pelan-pelan matanya terpejam, lalu tertidur tak ingat apa-apa lagi.

Artikel ditulis oleh: Sutardi MS Dihardjo

Related posts:

No response yet for "Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3 Bag. I"

Post a Comment