Novel: Ujian Cinta dan Kesetiaan Wanita Utama

Ringkasan Cerita
PRABU NALA DAN DAMAYANTI
Ujian Cinta dan Kesetiaan Wanita Utama
Novel Sutardi MS Dihardjo

Untuk memilih jodoh bagi putri Damayanti, sekar kedaton Negara Widarba, Prabu Bima mengadakan sayembara pilih yang diikuti raja-raja dan para pangeran dari sewu Negara. Tidak hanya itu, bahkan dewa-dewa dari Kahyangan pun ikut serta dalam sayembara pilih itu. Dalam sayembara itu terpilih Parbu Nala dari Kerajaan Nisadha sebagai pemenang yang berhak memboyong Dewi Damayanti ke negaranya.

Kemenangan Prabu Nala dalam sayembara pilih di negara Widarba sehingga berhasil mempersunting Dewi Damayanti menimbulkan rasa iri dan dengki di hati dua dewa yang berwatak jahat, yaitu Hyang Kali dan Hyang Dwapara. Kedua dewa itu sebetulnya juga bermaksud akan mengikuti sayembara, tetapi terlambat sehingga gagal. Mereka kemudian mencari segala daya upaya untuk mencelakai dan memisahkan perkawinan Prabu Nala dengan Dewi Damayanti yang semakin lama semakin mesra dan harmonis.

***

Setelah mengincar sekian lama dengan penuh kesabaran  tak kunjung menemukan kelengahan Prabu Nala – Dewi Damayanti, Dua belas tahun kemudian baru terbuka kesempatan bagi kedua dewa berwatak jahat tersebut untuk melaksanakan niatnya. 

Gara-gara kurang bersih dalam bersuci ketika akan manungku puja (berdoa), Hyang Kali dan Hyang Dwapara berhasil menggoda Prabu Nala untuk bermain dadu melawan Puskara. Saudara misan Prabu Nala yang dahulu pernah habis-habisan dikalahkan. Sekarang dengan bantuan Hyang Kali yang menyatu dalam jiwa Prabu Nala untuk mengobarkan semangat berjudinya dan sekaligus membutakan mata batinnya; dan Hyang Dwapara yang menyatu dalam kalung permata taruhan untuk menarik keinginan terus melanjutkan berjudi, dan kadang berpindah menyatu pada mata dadu untuk membolak-balikkan mata dadu agar berpihak pada Puskara, akhirnya Prabu Nala ganti dikalahkan habis-habisan. Tidak hanya harta benda habis dipertaruhkan, bahkan negara Nisadha beserta rakyat dan negara-negara jajahannya beralih menjadi kekuasaan Puskara. Hanya Dewi Damayanti istrinya yang tetap dipertahankan tidak dipertaruhkan di meja judi.

Karena sudah tidak ada barang yang dapat dipertaruhkan, Prabu Nala dan Dewi Damayanti diusir dari kerajaan Nisadha, dengan hanya mengenakan selembar kain untuk menutup aurat masing-masing. Di sepanjang jalan rakyat Nisadha tidak boleh memberi bantuan berujud apapun. Kalau dilanggar hukumannya berat, hukum kisas. Maka untuk menutupi rasa malunya mereka berdua lalu masuk ke tengah hutan.

Penderitaan demi penderitaan dialami pasangan suami istri yang sudah terbuang itu di dalam hutan. Karena kasihan pada istrinya, Prabu Nala berkali-kali memberi ancar-ancar jalan menuju ke negara Widarba, tempat ayahanda Dewi Damayanti bertahta. Tetapi sang istri yang setia, kokoh pendirian, tak hendak pergi menghadap ayahanda prabunya sendirian. Akhirnya ketika sedang lelap tertidur karena kelelahan, Prabu Nala meninggalkan Dewi Damayanti seorang diri di tengah hutan yang ganas. Ketika terbangun Dewi Damayanti bingung mencari suaminya. Berlari ke sana ke mari dengan perasaan diliputi kecemasan. Berbagai cobaan dan rintangan dialaminya. Pernah ia akan dimakan ular besar. Tapi dapat diselamatkan seorang pemburu tua. Tetapi kemudian pemburu tua itu pun tergiur kecantikan Dewi Damayanti, lalu berusaha memperkosanya. Karena sudah memuncak dalam merasakan penderitaan, ia pun menyumpahi pemburu itu sehingga mati terbakar. Kemudian ia pasrah berjalan menyusup-nyusup ke tengah hutan, dan anehnya setelah pasrah, tidak seekor binatang buaspun yang mau mencelakainya. Harimau buas pun berpapasan dengannya menyimpang cari jalan lain. Namun penderitaan Dewi Damayanti terus berlanjut.

Akhirnya ia dapat sampai ke negara Cedi. Ia diminta mengabdi sebagai dayang di sana. Dewi Damayanti bersedia asal tetap dijaga kehormatannya. Tak disangkanya ternyata permaisuri negara Cedi adalah bibinya sendiri. Ia pun diantarkan pulang ke negara Widarba, ikut orang tuanya Prabu Bima dan berkumpul dengan dua anaknya.

***

Prabu Nala mengembara sendirian di tengah hutan. Jalannya sampai di tengah hutan yang sedang terbakar. Prabu Nala bertemu dengan naga Karkotha yang kena kutuk Batara Narada sehingga tidak dapat bergerak keluar dari kepungan api. Prabu Nala membantu sang naga keluar dari kepungan api. Di luar kepungan api naga itu justru memagut tangan Prabu Nala yang berakibat wajah dan tubuh Prabu Nala berubah menjadi cacat, bopeng dan jelek. Ketika Prabu Nala akan marah, rajanaga itu menasihati bahwa tindakannya itu tidak untuk mencelakai tetapi justru untuk menyelamatkan Prabu Nala dari serangan musuh sakti yang selama ini mengganggunya. Bisa racun sang naga yang menyatu dengan darah Prabu Nala akan melumpuhkan roh jahat Hyang Kali yang bersemayam di dalam dirinya. Prabu Nala pun dinasihati untuk mengabdi ke Negara Ayodya pada Prabu Rituparna untuk belajar ilmu bermain judi, khususnya dadu. Prabu Nala disarankan berganti nama menjadi Bahuka.

Di Ayodya, setelah memenangkan seleksi juru masak, Bahuka diangkat menjadi juru masak istana. Kemudian ia memperlihatkan kelebihannya yang lain yang sangat luar biasa, yaitu mengendalikan kuda dan mengendarai kereta, sehingga kemudian Bahuka diangkat menjadi kusir kereta kencana Prabu Rituparna. 

Prabu Rituparna, raja Ayodya akan mengikuti sayembara pilih jilid dua di negara Widarba untuk memperebutkan Dewi Damayanti. Karena waktu yang tersedia hanya satu hari, tidak ada orang lain yang bisa dipercaya mengantarkan ke tempat tujuan tepat waktu, kecuali hanya Bahuka yang ahli mengendarai kereta. Sebenarnya Bahuka keberatan melaksanakan tugas junjungannya ini, karena ia tahu yang akan dilamar majikannya adalah istri yang sangat dicintainya. Tetapi sebagai abdi ia tidak dapat menolak. Dengan berat hati akhirnya Bahuka terpaksa melaksanakan tugas ini. 

Di tengah perjalanan, karena Bahuka memperlihatkan kemahirannya mengendarai kereta yang sangat menggumkan, kereta kencana yang dikendarainya berjalan super cepat seperti tidak menapak ke tanah, Prabu Rituparna sebagai raja yang sakti mandraguna tidak mau kalah. Ia menunjukkan kemahirannya menghitung cepat jarak jauh jumlah daun yang sudah rontok di tanah maupun yang masih menggantung di ranting-ranting pohon di pinggir jalan. Bukan itu saja, Raja Rituparna juga menunjukkan kemahirannya bermain dadu. 

Bahuka yang terkagum-kagum pada kesaktian Sang Prabu, kemudian minta diajarkan ilmu tersebut. Tak disangka ilmu berjudi yang diterima dari Prabu Rituparna tanpa sengaja telah mengalahkan ilmu judi Hyang Kali yang ada di tubuh Bahuka.  Karena kalah melawan ilmu dari Prabu Rituparna, Hyang Kali yang sudah tertawan racun bisa naga karkotha, semakin tersiksa dan kesakitan. Karena tak kuat lagi, akhirnya dewa jahat itu keluar sendiri dalam keadaan lemas tak berdaya. 

Melihat Hyang Kali yang telah mencelakainya Bahuka si Prabu Nala marah dan hampir membunuhnya. Tetapi setelah mendengar Hyang Kali merengek-rengek minta ampun, akhirnya Bahuka membebaskan Hyang Kali, dengan janji tidak akan mencelakai Prabu Nala lagi. 

***

Di Widarba ternyata tidak ada sayembara pilih jilid dua. Semuanya hanya siasat Dewi Damayanti belaka untuk mengundang Prabu Nala datang ke Widarba. Untuk meyakinkan bahwa Bahuka itu benar-benar adalah Prabu Nala, Dewi Damayanti mengutus dayang-dayangnya menguji Bahuka. Akhirnya setelah merasa yakin, Dewi Damayanti bertemu dengan Prabu Nala. Mula-mula mereka saling menyalahkan. Setelah kesalah-pahaman dapat diatasi, mereka pun saling mencintai kembali. Maka wajah serta tubuh Prabu Nala pun kembali tampan dan utuh seperti sediakala.

Prabu Rituparna menyadari peruntungannya, bahwa dirinya memang tidak ditakdirkan berjodoh dengan Dewi Damayanti. Kedatangannya ke Widarbo hanya untuk mengantarkan Prabu Nala bertemu dengan istrinya. Ia menerima keadaan yang tak disangka-sangka ini dengan legawa. Kekecewaannya terhapus, karena kemudian ia diberi wirid cara-cara mengendalikan kuda dan mengendarai kereta yang luar biasa. Lalu ia pun menyempurnakan ilmu bermain judi yang diajarkan kepada Prabu Nala. 

***

Setelah yakin pada kemampuannya bermain dadu, dengan dikawal para prajurit yang cukup besar, Prabu Nala berangkat ke negara Nisadha untuk menantang bermain dadu melawan Prabu Puskara, dengan tujuan dapat mengambil alih kembali negaranya.   

Semula Prabu Puskara menolak untuk bermain dadu melawan Prabu Nala, tetapi setelah ditunjukkan etika orang bermain judi, apalagi setelah diiming-iming bahwasannya Dewi Damayanti  juga akan dipertaruhkan, akhirnya Prabu Puskara bersedia. Namun setelah main beberapa kali selalu kalah, Prabu Puskara bermaksud menghentikan permainan yang tidak menguntungkannya ini. Sempat terjadi ketegangan, karena Prabu Nala memaksa untuk melanjutkan permainan, Prabu Puskara tidak mau. Lalu keduanya menghadapkan prajurit masing-masing untuk berperang. Tetapi kemudian telik sandi kerajaan Nisadha mengabarkan bahwasannya keraton sudah dikepung bala tentara Prabu Nala. Prabu Puskara merasa takut. Akhirnya ia setuju melanjutkan permainan dadu. Toh kalau tidak jatuh dalam permainan dadu, Negara Nisadha pun akan jatuh ke tangan Prabu Nala dalam pertempuran yang mungkin akan menewaskan dirinya dan keluarganya.

Akhir permainan seperti yang sudah diduga, Prabu Puskara kalah habis-habisan. Karena semua harta dan kekuasaan sudah habis untuk menebus kekalahan ia mempertaruhkan jiwa raganya. Ternyata ia tetap kalah, sehingga sebetulnya jiwanya sekarang sudah menjadi milik Prabu Nala. Tetapi Prabu Nala tidak mengusir atau membunuhnya. Raja yang bersifat welas asih itu justru mengampuni dan mengembalikan negara Champala warisan orangtuanya kepada Prabu Puskara untuk diperintah sebagai negara taklukan.

Prabu Nala memerintah Negara Nisadha kembali. Tatanan Negara yang sudah rusak diperbaiki. Kemudian ia memboyong anak istrinya dari Negara Widarba kembali ke Negara Nisadha. Pesta rakyat gelar budaya pun diadakan tujuh hari tujuh malam lamanya. Rakyat Negara Nisadha kembali hidup senang guyub rukun melaksanakan pembangunan untuk kejayaan dan kesejahteraan seluruh rakyat.***

Tamat

Sutardi MS Dihardjo & Wahyuni (istri)

        (Sutardi MS Dihardjo / Masdi MSD / Sutardi Ardi Manikam)
PNS Kantor Kecamatan Klaten Tengah
Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan
KLATEN 57422
Nomor HP. 085642365342
Email: sutardimsdiharjo@yahoo.com

Related posts:

No response yet for "Novel: Ujian Cinta dan Kesetiaan Wanita Utama"

Post a Comment