Petikan Novel Prabu Nala & Damayanti 3 bagian II


Petikan Novel Prabu Nala Dan Damayanti 3:
12
DEWI  DAMAYANTI  BERTEMU  PRABU  NALA
Oleh: Sutardi MS Dihardjo


Di gedogan, Bahuka yang mendapat tugas untuk mengurus kuda dan kereta, dibantu Wrasneya dan Jinala, sedang membersihkan kereta. Mereka mengelapnya dengan kain perca yang sudah dibasahi dengan air yang ditaburi serbuk ekstrak bunga wangi. Tangannya memang sibuk mengelap bagian-bagian kereta, tapi sebetulnya pikirannya tidak ada di situ. Maka tak heran kalau pekerjaan itu tak selesai-selesai. Bagaimana akan selesai, setelah berpindah ke bagian-bagian lain, karena tak ingat mana yang sudah dilap, akibat pikiran nglambrang tidak konsentrasi, tahu-tahu kembali mengelap bagian yang beberapa waktu lalu sudah pernah dibersihkan. Lagi pula matanya sering tidak melihat ke bagian yang sedang dilap, tetapi sering kali melewati pintu tertuju ke halaman, berharap dapat melihat Dewi Damayanti lewat mengobati rindunya. Ya, sebetulnyalah pada saat itu perhatian Bahuka tidak tertuju kepada pekerjaannya, tetapi hati itu sedang gundah diliputi rindu dendam yang hampir-hampir tak tertahan. Meskipun sebelumnya di atas kereta yang menuju ke keraton Widarba, hati itu sudah tertata, pasrah kepada kehendak Dewata Agung, apapun yang akan terjadi. Tetapi di sini, di pusat munculnya rindu dendam, di mana kekasih gegantilaning ati,  tempat jiwanya bergantung, terbayang dan terkenang siang dan malam, menjadi bunga tidur menghiasi mimpi-mimpinya berada, dan mungkin sebentar lagi akan lepas menjadi milik orang lain, perasaan berontak untuk kembali merebut kekasih hati itu kembali muncul berkobar-kobar. Tetapi kalau ingat apa yang sudah dilakukannya kepada istri tercinta, mulai dari berada di tengah hutan atau bahkan mulai ia mengocok mata dadu, dan mengingat status dan keadaan dirinya pada saat ini, rasa-rasanya ia malu untuk membuka jati dirinya. Ia merasa seperti macan ompong. Kebesaran namanya hanyalah omong kosong, karena ia sekarang bukan raja. Apalah artinya sebutan raja gung binathara, kalau ternyata sekarang tak punya mahkota ataupun tahta singgasana dan wilayah kekuasaan? Ia menyadari dirinya sekarang ini hanyalah seorang kusir, seorang abdi yang tidak lagi kesampiran derajat dan pangkat.

Tetapi Bahuka pun tidak mau disalahkan sendiri. Ia mengetahui kenapa sampai melakukan hal seperti itu, adalah karena godaan satru sekti roh jahat yang merasuki dirinya. Dan ternyata ia lemah untuk dapat melawannya. Dan di sisi lain, Bahuka menyalahkan Dewi Damayanti istrinya, meskipun sebetulnya dalam hati masih tak yakin.

“Benarkah Dewi Damayanti sudah melupakan aku? Benarkah ia akan mencari pengganti diriku? Benarkah sayembara pilih itu benar-benar akan digelar? Apakah Dewi Damayanti sudah lupa pada sumpah janjinya untuk tidak akan kawin selain dengan Prabu Nala? Kenapa sumpah itu luntur setelah sekian tahun ditinggal pergi suami tanpa kabar berita? Kenapa ia tidak merasa cukup hidup menjanda, apabila ternyata suami yang sudah memberinya dua orang anak yang manis-manis, sudah tidak bisa diharapkan lagi?” pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di kepala Bahuka, membuat ia tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya.

Dayang Mulyati, abdi Dewi Damayanti datang ke gedogan menemui Bahuka. Roman mukanya menunjukkan sikap ramah dan hormat. Kemudian ia banyak menanyakan beberapa hal tentang perjalanan Prabu Rituparna bersama para abdinya dari Ayodya ke Widarba. Juga kesan-kesan Bahuka terhadap negeri Widarba, bentang alam dan masyarakatnya. Semua itu sebenarnya hanyalah basa-basi belaka, sebelum pada akhirnya dayang Mulyati menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke permasalahan yang sebenarnya yang ingin diketahuinya. Sebetulnyalah ia memang mengemban tugas dari junjungannya, Dewi Damayanti untuk menyelidiki keadaan sesungguhnya abdi kusir Prabu Rituparna yang bernama Bahuka, untuk memastikan apakah ia sebenarnya Prabu Nala seperti dugaan Dewi Damayanti atau bukan.

“Maaf, Ki Sanak, kalau boleh hamba tahu, sebenarnya sudah berapa lama Ki Sanak mengabdi Gusti Prabu Rituparna di Ayodya?” tanya dayang Mulyati menyelidiki pada akhirnya. 
“Kalau tidak salah saya mengabdi di Ayodya kurang lebih sudah tiga tahun,” jawab Bahuka tanpa curiga.

“Sebelum mengabdi kepada Prabu Rituparna apakah pekerjaan Ki Sanak?”

“Saya ini orang yang amat beruntung. Sebelumnya saya ini adalah orang kleyang kabur kanginan, tak punya tempat tinggal, terlunta-lunta di hutan tanpa sanak saudara dan tanpa tempat tinggal untuk berteduh. Kemudian saya melamar menjadi juru masak istana, saya diterima, mengalahkan para pelamar yang jumlahnya tidak sedikit. Padahal mereka puteri-puteri yang cantik-cantik, sedangkan saya waktu itu badan saya kotor dan wajah serta tangan saya cacat seperti ini. Tetapi sang prabu tidak jijik mencicipi masakan saya, karena memang  aroma dan rasa masakan saya sangat menggugah selera. Ya, itu semua karena dulu ketika kami masih berkumpul jadi satu, saya sering belajar masak bersama dengan istri kepada juru masak yang mahir. Setelah diangkat menjadi juru masak istana Ayodya, dalam perjalanan jauh dengan mengendarai kereta saya menunjukkan bakat saya yang lainnya, yaitu mengendarai kereta kuda sebagai kusir pengendali kuda. Bakat saya ini mendapat perhatian Gusti Prabu. Sejak saat itu saya diangkat menjadi pengawal pribadi raja dengan tugas pokok sebagai kusir pribadi dan juru masak, kalau Gusti Prabu sedang mengadakan perjalanan,” ujar Bahuka.

“Kalau begitu Ki Sanak ini pandai memasak?”

“Orang-orang yang pernah merasakan masakan saya mengatakan begitu. Kalau Ni Sanak tidak percaya, bisa dibuktikan. Tolong saya dibawakan beberapa bahan makanan dan alat-alat masak, akan saya perlihatkan bakat saya memasak kepada Ni Sanak,” kata Bahuka menantang dengan maksud akan mengabarkan kedatangannya kepada Dewi Damayanti lewat bau uap masakan atau bahkan rasa masakan, kalau nanti istri yang belum diceraikannya itu sempat mencicipinya.

“Baiklah, sebentar lagi akan saya bawakan beberapa bahan makanan dan peralatan memasak. Saya ingin mencicipi masakan Ki Sanak. Apakah masakan juru masak laki-laki lebih enak dari masakan juru masak perempuan, atau sebaliknya. Kalau begitu saya permisi untuk menyiapkan bahan-bahan dan peralatan yang Ki Sanak minta,” kata dayang Mulyati lalu permisi meninggalkan Bahuka.  

Sepeninggal dayang Mulyati, Wrasneya dan Jinala yang sejak tadi memperhatikan Bahuka yang sedang bercakap-cakap dengan dayang Mulyati mendekat. Sebetulnya sejak tadi ada rasa iri di hati mereka, kenapa mereka yang merasa mempunyai fisik lebih sempurna dari Bahuka tidak didekati dayang Mulyati yang cantik, sedangkan Bahuka yang tangannya pendek sebelah dan ceko serta mukanya hitam bopeng dan peot, justru didekati diajak bercakap-cakap demikian akrab. Tetapi mereka segera menyadari, memang secara fisik Bahuka mempunyai kekurangan, tetapi sesungguhnya Bahuka mempunyai banyak kelebihan, bukan hanya pada ketrampilannya memasak, mengendalikan kuda dan mengendarai kereta kuda, tetapi juga pada sopan santun dan kehalusan budi bahasanya yang jelas-jelas menunjukkan kelas yang berbeda dengan mereka yang semata-mata hanya menjadi kusir dan pekatik Prabu Rituparna.

Tak berapa lama kemudian dayang Mulyati datang lagi dengan membawa beberapa bahan makanan dan peralatan masak.

“Ki Sanak Bahuka, ini sudah saya bawakan bahan-bahan makanan, bumbu, dan peralatan masak yang Ki Sanak butuhkan. Sekarang segeralah Ki Sanak mulai memasak. Saya ingin tahu bagaimana juru masak laki-laki istana Ayodya memasak masakan yang katanya sangat lezat itu. Dan barangkali Gusti Prabu Rituparna sendiri juga sudah kangen masakan Ki Sanak, setelah semalam memakan masakan keraton Widarba,” kata dayang Mulyati sambil menaruh semua yang dibawanya di atas meja yang tersedia di gedogan.

“Baiklah, Mbakyu dayang Mulyati. Tetapi perkenalkan dulu dua orang teman saya ini yang juga ingin berkenalan dan diajak bercakap-cakap dengan Mbakyu. Yang ini namanya Wrasneya, jabatannya kusir Prabu Rituparna. Setelah saya diangkat menjadi kusir sang prabu, kawanku ini menjadi pembantuku. Sedangkan yang itu namanya Jinala, jabatannya seorang pekatik, tugasnya membantu saya mengurus kuda. Si Wrasneya dulu adalah abdi kusir di negara Nisadha, kemudian ia ditugaskan mengantar dua orang putera-puteri Prabu Nala ke negara Widarba ini. Tetapi setelah itu ia tidak kembali ke negara Nisadha, ternyata ia mengabdi ke negara Ayodya menjadi kusir Prabu Rituparna. Maka kalau Ni Sanak mau mengajak gusti puteri Dewi Damayanti atau kedua orang putera-puterinya kemari tentu mereka masih dapat mengenalinya. Bersediakah Ni Sanak mengundang mereka kemari untuk melihat mantan abdinya?” tanya Bahuka kemudian. 

“Nanti setelah saya melihat Ki Sanak memasak dan saya akan membawakan satu piring masakan Ki Sanak kepada Gusti Dewi Damayanti, saya akan mencoba membujuk mereka menengok Ki Sanak yang sudah memasak masakan yang lezat, sekaligus menengok mantan abdinya yang sekarang juga ada di sini,” kata dayang Mulyati menyanggupi. Senang rasanya hati Bahuka mendengar kesanggupan dayang Mulyati untuk mengundang Dewi Damayanti dan putera-puterinya datang mengunjungi dirinya dan teman-temannya. Maka ketika kemudian ia mulai menyiapkan peralatan dan kemudian mulai memasak bahan makanan yang sudah disediakan dayang Mulyati, Bahuka merasa seperti Dewi Damayanti dan putera-puterinya sudah berada di ruangan gedogan itu melihat dan membantu dirinya memasak sebagaimana dulu sering dilakukannya di istana Nisadha. Maka gairah dan nikmat dalam melakukan tugas yang juga menjadi kesenangannya ini, menjadikan apa yang dilakukannya mendapatkan hasil yang maksimal. Aroma masakan yang lezat segera memenuhi ruangan itu, bahkan menerabas keluar sampai ke istana keputren, menimbulkan selera makan dan rasa rindu yang dalam di hati Dewi Damayanti yang sudah tak asing dengan aroma masakan seperti itu.

Dayang Mulyati merasa sangat heran dan tak habis mengerti, melihat cara juru masak istana Ayodya yang sekaligus kusir pribadi Prabu Rituparna memasak makanan. Ketika abdi itu akan menyalakan api tidak perlu mencari pemantik api, tetapi cukup menggunakan rumput hijau yang sudah tersedia di gedogan, dimantrai lalu menyalalah api. Dan herannya rumput yang hanya sejumput itu tak habis-habis sampai masakan matang. Demikian pula apabila ia membutuhkan air, tidak perlu berjalan ke sumur untuk menimba air, tetapi cukup menghadap panci yang sudah tersedia, lalu dimantrai, tahu-tahu di dalam panci sudah tersedia air satu panci penuh. Anehnya lagi kalau Bahuka yang berbadan tinggi itu berjalan akan melewati pintu yang lebih rendah dari dirinya, ia tidak perlu membungkukkan badan agar dapat melewati pintu itu, tetapi tetap berjalan tegak biasa saja, pintu itu sendiri yang meninggi, sehingga cukup dilalui abdi kinasih raja Ayodya itu. Semua keanehan yang dilihatnya itu dicatat secara cermat dalam hati dayang Mulyati, untuk dilaporkan kepada junjungannya Dewi Damayanti bersama sepiring masakan lezat, olahan Bahuka juru masak Keraton Ayodya.

Mendengar laporan dayang Mulyati, dan merasakan masakan lezat olahan abdi Ayodya yang aromanya sudah terlebih dahulu sampai ke hidungnya, Dewi Damayanti menjadi semakin yakin kalau suaminya sekarang ini sudah ada di lingkungan istana Widaraba. Ya suaminya yang dulu tidak diketahui nasib dan keberadaannya, sekarang ini sudah tidak jauh lagi dari dirinya. Rasa rindu dan keinginan untuk segera bertemu seakan-akan sudah tidak terbendung lagi. Tetapi ia masih berusaha menahannya. Masih ada satu cara lagi untuk menyelidiki, sebelum memastikan bahwa kusir kereta yang ada di gedogan istana Widarba itu adalah benar-baenar Prabu Nala suaminya.

Artikel ditulis oleh: Sutardi MS Dihardjo

Related posts:

No response yet for "Petikan Novel Prabu Nala & Damayanti 3 bagian II"

Post a Comment