Petikan Novel Prabu Nala & Dewi Damayanti 1 Bag. I

Petikan Novel Prabu Nala & Dewi Damayanti 1 Bagian pertama.

5
TERLUNTA-LUNTA DI  TENGAH  HUTAN


Dengan tubuh setengah telanjang Prabu Nala dan Dewi Damayanti berjalan menjauhi Kotaraja Nisadha. Dengan menahan rasa malu karena memakai pakaian yang tidak sepantasnya menjadi tontonan rakyat yang dahulu pernah mengelu-elukannya sebagai seorang raja dan permaisuri yang pantas disembah dan dihormati, mereka segera ingin menyingkir dari pergaulan masyarakat ramai. Meskipun sebetulnya mereka tahu kalau tak seorang pun dari rakyat yang melihatnya akan mengejek, menghina dan ngisin-isin, bahkan yang dilihatnya adalah perasaan kasihan pada mereka, memandang mantan junjungannya yang sekarang menjadi orang yang hina papa. Tetapi justru rasa kasihan itulah yang dirasa sangat menyakitkan hati. Orang yang dulu diagung-agungkan, disembah dan dipuja-puji, sekarang menjadi orang yang pantas dikasihani, karena kebodohannya sendiri! Sungguh menyakitkan! Maka begitu mereka sampai di pinggir hutan, segera saja mereka menenggelamkan diri ke dalam lebatnya hutan. Berlindung pada lebatnya pepohonan, semak-semak dan rerumputan di dalam hutan, mereka merasa terbebas dari tatapan kasihan dan setengah menyalahkan atas perbuatannya yang hanya menurutkan hawa nafsu dan kurang perhitungan. 

Meskipun baru kali ini Dewi Damayanti hidup menderita, ia tidak pernah mengeluh berjalan kaki tanpa kendaraan, memasuki hutan belantara yang banyak bertaburan onak duri. Ia selalu mengikut di belakang suaminya, tidak pernah mau terpisah,  tanpa keluh kesah. Semua penderitaan yang dialaminya diterima dengan penuh sabar dan ikhlas. Ini semua karena cinta dan kesetiaannya kepada suami yang dikasihinya. Apalagi ia tahu kalau saat ini suaminya sedang mendapat cobaan dari  Dewata Agung. Entah salah apa sang Prabu sampai harus mendapat cobaan seberat ini. Sebagai istri yang setia ia merasa harus tetap mendampingi dan menghibur suaminya untuk menguatkan hatinya. Suami yang sedang jatuh perlu didukung agar dapat berdiri tegak kembali meniti liku-liku hidup yang belum berakhir. Tak sepantasnya istri justru meninggalkan suami jatuh bangun sendirian. Itulah pendirian Dewi Damayanti, sehingga ia tidak mau menurutkan saran abdinya untuk ikut mengungsi ke negara Widarba, berlindung kepada orang tuanya yang menjadi raja di sana.

Sudah berhari-hari Prabu Nala dan Dewi Damayanti mengalami penderitaan, berjalan kaki memasuki hutan lebat, bagaikan ayam hutan menyusup di antara semak-semak belukar dan pepohonan, tanpa makan dan tidur untuk istirahat. Perutnya kosong tak terisi makanan apapun kecuali sekedar air putih yang didapat dari pancuran atau sungai di hutan. Entah kenapa kebetulan waktu itu tak satu pun mereka temui, buah-buahan hutan maupun hewan buruan yang dapat dimakan sebagai pengganjal perut. Buah jambu biji atau buah pisang liar yang sering dapat dijumpai di pinggir-pinggir jurang, tak satu pun yang ditemui sedang berbuah. Banteng, babi hutan dan kijang yang biasanya banyak berkeliaran di tengah hutan atau di padang-padang rumput yang ada di hutan itu kali ini tak satu pun menampakkan diri. Demikian juga binatang-binatang yang lebih kecil, seperti kelinci dan ayam-ayam hutan, tak dapat dijumpai dalam perjalanan sial dan pantas dikasihani Prabu Nala dan Dewi Damayanti kali ini.

Maka ketika mereka berjalan di tengah padang rumput terbuka, melihat ada sekawanan burung sedang berjalan-jalan mencari makanan di tanah lapang itu, hati Prabu Nala dan Dewi Damayanti menjadi gembira. Mereka berharap dapat menangkap burung-burung yang sedang berkeliaran itu untuk dijadikan santapan mereka. Prabu Nala pun berjalan mengendap-endap pelan-pelan mendekati  kawanan burung itu untuk menangkapnya. Tetapi begitu Prabu Nala mendekat, ternyata burung-burung itu tahu. Mereka segera terbang ke angkasa, berputar-putar di udara. Tetapi tak lama kemudian burung-burung itu pun turun kembali, berjalan-jalan sambil mematuki belalang di rerumputan di tengah padang itu. Prabu Nala pun segera bersijingkat mendekati burung-burung yang sedang asyik mencari mangsa, sampai meninggalkan istrinya tertinggal jauh di belakang. Tetapi lagi-lagi ketika Prabu Nala sudah mendekati burung-burung itu, kawanan burung itu pun kembali terbang berputar-putar di udara, lalu turun lagi di tempat yang agak jauh. Hingga kemudian Prabu Nala menemukan akal. Dilepasnya kain jarit satu-satunya yang menutup auratnya, kemudian digunakannya untuk menjaring kawanan burung itu. Prabu Nala melemparkan kain jarit itu  seperti orang melemparkan jala untuk menjaring ikan di sungai. Tetapi apa yang terjadi? Begitu kain jarit dilempar menutup kawanan burung, bukannya burung-burung itu tertangkap sampai tak berdaya, tetapi justru kain penutup aurat satu-satunya itu dibawa terbang tinggi oleh kawanan burung itu. Tinggalah sang Prabu sendirian menyesali perbuatannya karena ia tidak lagi dapat menutup auratnya, karena tak secuil kain pun melekat di badannya.  

”Keterlaluan sekali nasibku ini. Kesialan dan kesengsaraan datang beruntun tiada henti-henti. Benar-benar aku jadi orang miskin papa kali ini. Tak ada lagi yang tersisa harta melekat di badan. Kain sekedar penutup malu pun sudah tak kupunyai lagi. Duh Jagad Dewa Betara, kasihanilah hambamu ini. Janganlah cobaan dan kesedihan saja yang Engkau timpakan kepadaku,” tangis Prabu Nala dalam hati, menyesali nasibnya yang tak henti dirundung malang. 

Tak berapa lama kemudian Dewi Damayanti pun tiba di tempat itu. Melihat keadaan sang Prabu, ia merasa heran dan kasihan. Begini beratnya cobaan yang diterima suaminya. Cobaan demi cobaan datang bertubi-tubi bagai hujan yang tak kunjung reda, menjadi banjir menghanyutkan semua miliknya. Hatinya serasa diiris-iris. Namun Dewi Damayanti masih bersyukur karena dirinya tidak ikut terhanyut lepas dari tangan kekasih tambatan hati.

Tiba-tiba di angkasa  terdengar suara tapi tak terlihat siapa yang berkata-kata, “Hahaha...hahaha...Hai Prabu Nala! Ketahuilah burung-burung yang telah membawa terbang kain jaritmu itu adalah penjelmaanku. Aku dan kakakku turun ke dunia untuk menghukummu, karena kamu telah berani menghina para dewa dengan mengalahkan mereka pada sayembara pilih di negara Widarba dua belas tahun lalu. Dan kamu telah menutup kesempatanku dan kakakku, untuk memenangkan sayembara pilih memboyong Dewi Damayanti ketika itu. Aku adalah Hyang Dwapara dan kakakku adalah Hyang Kali. Kami adalah musuh-musuhmu yang merasa iri atas keberuntunganmu berhasil memboyong sekar kedaton negara Widarba. Maka kami telah membantu Prabu Puskara dalam berjudi melawan dirimu, sehingga kamu kalah habis-habisan. Kakakku telah menyatu ke dalam diri Prabu Puskara dan kemudian berpindah kepadamu, membisikkan kepadanya  sisi dadu mana yang harus dipilih agar dapat memenangkan perjudian. Lalu ketika berpindah menyatu kedalam dirimu, kakakku telah membisikimu untuk mengobarkan nafsu semangat berjudimu untuk selalu melanjutkan permainan meskipun kamu kalah melulu. Bukan hanya itu, kakakku juga selalu membisikkan pilihan-pilihan yang menyesatkan untuk menumpulkan mata batinmu. Sedangkan aku, aku  telah menyatu dalam mata dadu, membolak-balikkan dan kemudian mengarahkan mata dadu sesuai pilihan Prabu Puskara, sehingga kamu tak mungkin menang bermain dadu melawannya. Aku pulalah yang telah menyatu dalam kalung permata yang dibawa Prabu Puskara, melancarkan jerat pesona iming-iming kepadamu sehingga semakin bernafsu untuk memiliki dengan tak mau berhenti bermain dadu, sampai kamu kalah habis-habisan.” 

Suara tanpa rupa itu berhenti sebentar. Suasana hening. Tapi bagi Prabu Nala keheningan itu bagaikan lembaran-lembaran buku bergambar yang dibuka satu persatu memperlihatkan peristiwa-peristiwa yang baru saja berlalu, peristiwa yang sungguh menyakitkan dan patut disesali. Kemudian suara tanpa rupa yang merasa sudah cukup menyakiti hati Prabu Nala dan Dewi Damayanti dengan ingatan peristiwa-peristiwa yang patut disesali melanjutkan, “Tetapi aku belum merasa puas karena kamu masih memakai kain jarit dari keraton, maka aku mengejarmu sampai di sini untuk mengambil kain jarit yang kau pakai. Sekarang kain jarit sudah ada di tanganku, dan kau telanjang tanpa tutup kain secuil pun.   Aku sudah merasa puas! Tinggalah kalian di hutan sebagai orang hutan bersama binatang-binatang buas dan binatang melata yang berbisa.” 

Suara tanpa ujud itu pun lenyap meninggalkan rasa penyesalan yang dalam.

Prabu Nala tercenung. Baru sadar ia sekarang kalau dirinya telah diperdaya makhluk jahat yang mengaku sebagai dewa tetapi dewa yang berwatak jahat, sehingga dirinya menemui sial dan jatuh dalam penderitaan akibat bermain dadu. Maka ia pun berkata kepada Dewi Damayanti, “Kekasih pujaan hatiku, Dinda Dewi Damayanti, sekarang kamu sudah mendengar sendiri, kalau yang membuat sengsara hidup kita tak lain adalah musuhku, makhluk jahat yang mengaku dewa tetapi berwatak jahat, yang selalu menggoda, mengajakku berbuat maksiat, membuat bencana berkepanjangan. Dinda sekarang tahu, kenapa aku sampai lupa diri memenuhi tantangan Adi Prabu Puskara, melakukan judi bermain dadu, tidak lain karena godaan makhluk jahat yang tidak suka kepadaku.”

Dewi Damayanti hanya diam membisu menundukkan kepala. Sedih sekali rasanya merasakan penderitaan suaminya, seorang raja gung binathara sekarang harus mengembara di tengah hutan tanpa selembar kain pun tanda kewibawaan, kemulyaan, dan kesopan-santunan. Sebetulnya kalau mau, ia dapat mengatakan bahwa dirinya telah pernah mengingatkan suaminya akan adanya godaan makhluk jahat yang menebarkan jerat dari balik gemerlapnya kalung permata yang jadi barang taruhan Prabu Puskara. Tetapi Dewi Damayanti tidak ingin mengatakan itu. Ia merasa hal itu tidak ada gunanya. Tidak menyelesaikan masalah, tetapi justru memperuncing masalah. Ia tidak ingin dikatakan telah menyalahkan suaminya karena tidak menuruti peringatannya. Karena Dewi Damayanti tidak ingin membuat suaminya merasa semakin bersalah. Biarlah suaminya menyadari sendiri kalau mendengar dan menuruti kata-kata istri itu juga perlu sebagai pertimbangan dalam mengambil langkah dan memutuskan sesuatu.

Bermawas diri, setelah memikir-mikir penderitaan yang datang beruntun, Dewi Damayanti tak habis mengerti. Telah malakukan kesalahan apa, atau dosa apa yang secara tidak sengaja telah diperbuat suaminya, sehingga harus mengalami penderitaan dan kenistaan seperti ini?

“Dinda Dewi Damayanti, rasa-rasanya aku sudah tidak kuat menanggung penderitaan ini. Aku jadi bingung dan kehilangan akal, tak tahu harus berbuat apa. Maka sebaiknya Dinda mencari jalan hidup sendiri. Jangan mengikuti orang yang lagi bingung tak tahu tujuan. Maka dengarkan dan ingat-ingatlah petunjukku, kalau kamu ingin melanjutkan perjalanan lewat jalan sebelah sana, kemudian sampai ke wilayah negara sebelah selatan, kemudian melewati kota Ngawanti, kalau terus berjalan akan ada gunung yang menjadi mata air sungai Pajosani yang mengalir ke lautan. Gunung tadi namanya gunung Windya. Di tepi sungai tadi banyak padepokan para pendeta yang bertapa, banyak pohon-pohon dan buah-buahan, di sana ada persimpangan, yang satu menuju ke negara Widarba, satunya lagi menuju Kosala.”

Berkali-kali Prabu Nala menunjukkan jalan-jalan yang menuju ke negara Widarba dan jalan-jalan yang menuju ke wilayah lain. Tetapi Dewi Damayanti tidak menanggapi. Di dalam hati ia sudah tahu, maksud sang Prabu menunjukkan jalan-jalan menuju ke negara Widarba itu agar dirinya mau pergi sendiri ke rumah orang tuanya, meninggalkan  suami sendirian di hutan.  

“O, Sinuwun Prabu, ketahuilah, Damayanti tidak akan tega meninggalkan Paduka sendirian menderita di tengah hutan. Bagaimanapun hamba tidak akan tega meninggalkan suami tercinta yang selalu hamba rindukan, tinggal sendirian menanggung kesedihan dan kekecewaan  menyesali nasib, terbuang sia-sia akibat ditipu di dalam permainan yang curang. Bagaimana hamba akan dapat merasakan kegembiraan dan kebahagiaan di istana Widarba, sedangkan suami tersayang hidup menderita sendirian terlunta-lunta di tengah hutan, tidak lagi punya istana ataupun harta benda, bahkan kain penutup aurat pun tidak punya? Niat yang terpatri dalam hati, hamba akan terus hidup bersama mendampingi sang Prabu untuk menghibur Sinuwun yang sedang bersedih kalau ingat kesenangan dan kejayaan hidup yang sekarang hilang. Karena siapa lagi yang dapat menghibur suami yang sedang sedih dirundung malang, kecuali istri tercinta dan setia?” ujar Dewi Damayanti ketika sang Prabu tiada henti-hentinya menunjukkan jalan menuju negara Widarba.

Ditulis oleh: Sutardi MS Dihardjo

Related posts:

No response yet for "Petikan Novel Prabu Nala & Dewi Damayanti 1 Bag. I"

Post a Comment