Puisi: Sepucuk Undangan Pelantikan

Sebuah puisi: Sepucuk Undangan Pelantikan

Sepucuk Undangan Pelantikan

Sepucuk undangan pelantikan mengekalkan mitos
Berkali kereta datang singgah lalu lewat
Diri tertinggal di terminal
Berkali-kali tak termuat
Sore merambati petang
Sebentar lagi malam menjelang

Orang berlomba-lomba menebar umpan
Dari galian lobang yang kian dalam
Mengail ketidakpastian sementara
Berharap dapat menimbunnya kemudian
Untung berjuta kali

Diri yang tak mau ikutan gila
Memaksa diri minum dahaga air segara
Tak dapat apa-apa
Jalan di tempat bergeser atau terpinggirkan
Selalu tidak masuk hitungan

Bukan tak ada umpan yang ditebar
Shodaqoh sesuai kemampuan
Bersyukur selalu di dalam hati
Tetapi hati nurani tak rela
Naik kereta masuk jurang bersama

Related posts:

No response yet for "Puisi: Sepucuk Undangan Pelantikan"

Post a Comment