RESENSI BUKU: Tradisi Sebagai Latar Cerita Jagading Lelembut

RESENSI BUKU:
Tradisi Sebagai Latar Cerita Jagading Lelembut
                                                                      


Judul           : KAMIGILAN Angkernya Kedung Blangah
Penulis         : Sutardi MS Dihardjo
Penerbit       : mediakita, Jakarta
Cetakan       : Pertama, September 2013
Tebal           : IX + 227 halaman
ISBN            : 979-794-425-5
Harga          : Rp. 35.000,-

Disadari atau tidak sebenarnya kita ini hidup berdampingan dengan makhluk lain di alam nyata maupun di alam maya tak kasat mata. Sebagai makhluk yang dipercaya menjadi kalifah di muka bumi, kita perlu menjaga keharmonisan hidup bersama mereka. Setidaknya kita jangan sampai mengganggu kehidupan mereka. Dan kita pun juga berharap tidak mendapat gangguan dari mereka.
Sekedar penampakan atau interaksi yang lebih intens sering terjadi antara manusia dengan makhluk halus, baik di alam nyata (mereka menampakkan diri di alam kita) maupun di alam halus tak kasat mata (kita yang disesatkan masuk ke alam mereka). Tetapi tak semua orang pernah mengalaminya. Hanya orang-orang yang diberi kelebihan kekuatan batin, atau justru karena mempunyai kelemahan batin, atau mempunyai frekuensi yang sama dengan makhluk halus, yang ”beruntung” dapat melihat makhluk halus di/dari alam lain. Selebihnya mungkin hanya dapat melihat dan mendengar gejalanya, misalnya menyaksikan orang kesurupan, melihat benda bergerak sendiri, atau mendengar suara tanpa rupa. Dan yang kebanyakan justru hanya mendengar ceritanya. Tetapi justru karena itu cerita misteri mengenai hantu dan sejenisnya selalu menarik perhatian.
Buku kumpulan cerita ”KAMIGILAN Angkernya Kedung Blangah” karya Sutardi MS Dihardjo ini memuat 15 cerita misteri, yang setingnya di pedesaan. Cerita-cerita ini semula ditulis dalam bahasa Jawa dan pernah dipublikasikan dalam majalah berbahasa Jawa tahun 2010 - 2013, yaitu 7 buah cerita pernah dimuat di  Majalah Panjebar Semangat Surabaya, 7 buah cerita lainnya pernah dimuat di Majalah Djaka Lodang Yogyakarta. Dan hanya 1 buah cerita yang belum pernah dipublikasikan di media massa, yaitu ”Laki-laki yang Menikah dengan Jin” (hal. 119-132). Agar dapat dinikmati para pecinta cerita misteri yang tidak paham bahasa Jawa, cerita-cerita alaming lelembut / jagading lelembut tersebut ditulis kembali oleh pengarangnya ke dalam bahasa Indonesia.
Lima belas buah cerita misteri tersebut, yaitu:
1.            Digondol Wewe Rumpun Bambu Ori
2.            Kamigilan Angkernya Kedung Blangah
3.            Mie-nya Diborong Lelembut
4.            Dibantu Memancing oleh Penunggu Rawa Jombor
5.            Lelembut Ingin Nonton Layar Tancap
6.            Dikelilingi Pocong
7.            Jelmaan Peri
8.            Ikut Ayahnya ke Alam Lelembut
9.            Laki-laki yang menikah dengan Jin
10.        Bocah Kluron Mencari Ibunya
11.        Berteman dengan Hantu
12.        Nyai Pandan Wangi Mencari Pengikut
13.        Berjualan di Sarang Genderuwo
14.        Buto Ijo
15.        Menangkap Tuyul.

Saat ini sebetulnya kita sedang kehilangan warisan para leluhur yang seharusnya kita wariskan kembali kepada anak cucu kita. Tetapi anehnya kebanyakan kita tidak merasa kehilangan dan tidak merasa bersalah tidak dapat mewariskan kembali kepada anak cucu kita. Dan anehnya lagi, anak cucu kita pun tidak merasa punya hak untuk menuntut warisannya. Warisan tersebut adalah kekayaan budaya yang penuh nilai-nilai pendidikan dan kearifan lokal, berupa permainan anak-anak tradisional tempo dulu, seperti jethungan, sepak sekong, ndhas sikil, betengan, jamuran, ji-ro-lu, gobak sodor, dan lain-lain.
Dalam cerita ”Digondol Wewe Rumpun Bambu Ori” (hal. 1-19) kita diingatkan kembali pada permainan jethungan, sebuah permainan anak tempo dulu, semacam petak umpet yang sekarang sudah tidak pernah kita temui lagi. Wahyu yang sejak awal sampai akhir selalu dijadikan yang jaga, akhirnya ngambek, lalu diam-diam ikut bersembunyi. Nah, ketika bersembunyi ini ia dianggap hilang. Pasalnya ia bersembunyi tidak hanya dalam hitungan menit atau jam, tetapi berhari-hari. Orang kampung mengatakan Wahyu hilang digondol wewe. Orang-orang kampung secara bergotong royong mencarinya, dengan memukul berbagai peralatan dapur yang dapat mengeluarkan suara gaduh. Tetapi tetap juga tidak dapat menemukan.
Dengan doa yang tulus si-ibu, yang dilantunkan setiap habis sholat wajib maupun sholat sunat, akhirnya keberadaan anaknya dapat diketahui, yaitu di pucuk pohon bambu ori di tepi jurang. Dengan semangat gotong royong yang tinggi para warga desa dapat menurunkan Wahyu dengan selamat dari tempat yang sangat sulit dan beresiko itu.
Tradisi selamatan kelahiran bayi dijadikan latar 2 buah cerita dalam buku ini. Cerita ”Bocah Kluron Mencari Ibunya” (hal. 133-146) yang berseting waktu tahun 1975, menceritakan kejadian ketika sedang berlangsung tradisi jagongan pada selapanan selamatan bayi. Sedangkan cerita ”Buto Ijo” (hal. 197-213) kejadian akhirnya adalah pada tradisi nyumbang atau buwoh pada saat selapanan selamatan bayi juga.
Cerita ”Bocah Kluron Mencari Ibunya” dan cerita ”Berteman dengan Hantu” (hal.147-158) yang bercerita tentang arwah bayi kluron karena si ibu keguguran ketika mengandung, mengingatkan kita agar berhati-hati menempatkan dan merawat bayi lahir mati, meskipun usia dalam kandungan belum seberapa. Agar mereka tidak hidup sengsara di alam sana, dan kita pun tidak mendapat celaka karenanya.
Cerita mengenai seorang anak yang sejak kecil sudah dididik dan dilatih mengerti kewajiban dan tanggung jawab dapat kita temui pada cerita ”Kamigilan Angkernya Kedung Blangah” (hal. 21-37). Cerita mengenai seorang anak yang kesulitan mencari rumput pada musim kemarau panjang ini juga mengajarkan kepada kita agar pandai-pandai mensyukuri nikmat karunia Allah. Jangan sampai kita selalu tidak puas pada karunia Allah yang sudah di depan mata, hanya karena kita melihat sesuatu yang lebih hijau dan lebih menggiurkan di tempat yang lebih tinggi.  
Manusia dengan lelembut mempunyai alam yang berbeda. Manusia hidup di alam nyata yang dapat dilihat dan diraba. Sedangkan lelembut hidup di alam halus yang tak kasat mata. Tetapi ternyata keduanya dapat saling berhubungan. Percaya atau tidak, nyatanya ada yang mengaku dapat hidup bersama sebagai suami istri. Cerita manusia yang kawin dengan hantu juga ada dalam buku ini. Ada perempuan manusia kawin dengan jin laki-laki sampai punya anak. Tetapi kemudian anak yang sejak kecil diasuh ibunya itu setelah remaja ganti ikut ayahnya di alam lelembut (hal. 95-118). Lalu cerita seorang guru laki-laki yang menikah dengan jin perempuan. Tetangganya tidak pernah melihat istri dan anak-anaknya, kecuali melihat pak guru itu berbuat dan berbicara seperti kepada orang lain yang tidak kelihatan (hal. 119-132).
Cerita tentang pesugihan juga ada dalam buku ini. Bagaimana cara melawan mereka yang menyatroni rumah korbannya, diceritakan dalam 2 buah cerita berjudul “Buto Ijo” dan “Menagkap Tuyul (hal. 215-225).”
Cerita-cerita lainnya tak kalah serunya. Antara lain tentang penjual mie keliling yang diborong para lelembut penghuni kuburan (hal. 39-53). Ada pula tentang orang yang mancing di waduk Rawa Jombor, diganggu lelembut tetapi kemudian justru dibantu ditunjukkan untuk mendapatkan ikan yang besar-besar (hal. 55-67). Ada pula cerita tentang lelembut yang ingin nonton layar tancap (hal. 69-77). Kemudian cerita mengenai orang yang dalam perjalanan, kencing di sembarang tempat, lalu dikerubut pocong sampai mengalami kecelakaan (hal. 79-84). Ada pula cerita orang ronda yang diganggu hantu, menjelma sebagai tetangganya minta diantar pulang. Setelah cukup lama berjalan ternyata ia hanya jalan di tempat. (hal. 85-93).
Selain itu, ada pula cerita tentang Ratu Kidul yang mengutus Nyai Pandan Wangi untuk mencari pengikut (hal.159-173), dan cerita mengenai seorang pemuda mencari modal dengan cara berjualan sate gagak di sarang Genderuwo (hal. 175-196).
Disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami, cerita-cerita dalam buku ini dengan cepat terserap oleh pembaca. Meskipun merupakan cerita misteri, cerita-cerita dalam buku ini tidak sekedar ingin menakut-nakuti pembaca dengan cerita horor, tetapi banyak hikmah dan teladan yang dapat dipetik dari buku ini. Keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak, serta hidup bertetangga, dan suasana kehidupan pedesaan yang kental dengan tradisi gotong-royong,  mewarnai setiap cerita dalam buku ini.
Buku ini merupakan bacaan yang menarik bagi semua usia, baik anak-anak maupun dewasa. Hanya saja bagi anak-anak yang masih kecil perlu pendampingan dalam membaca buku ini. Sehingga mereka tidak menjadi orang yang  jirih/penakut, tetapi justru menjadi anak pemberani dan hati-hati dalam bertindak. Pengarangnya berharap, buku ini tidak membuat pembaca jatuh dalam kemusyrikan, tetapi justru mempertebal keimanan dan ketakwaan kepada Allah, Tuhan Penguasa Alam Semesta (hal vii).***

(Arief Jaka Wicaksana, Mahasiswa S-2 Pendidikan Sejarah UNS Surakarta)

Related posts:

1 Responses for "RESENSI BUKU: Tradisi Sebagai Latar Cerita Jagading Lelembut"