Contoh Proposal Kepada Penerbit Yang Sudah Diterima

Contoh Proposalkepada Penerbit yang kemudian berhasil memikat Penerbit untuk menerbitkannya.

Berikut ini adalah contoh proposal yang saya kirim ke Penerbit Mediakita Jakarta untuk Kumpulan Cerita Misteri yang sebetulnya saya beri judul “Siluman Kera Jurang Kali Manggal” yang saya ambil dari salah satu judul cerita misteri yang saya tawarkan dalam naskah buku tersebut. Tetapi kemudian dengan berbagai pertimbangan, antara lain mengingat ketebalan buku yang akan menentukan harga buku nantinya, dari 20 naskah cerita misteri yang saya kirimkan, hanya 15 cerita misteri yang diambil untuk diterbitkan. Di antara 5 naskah yang tidak ikut diterbitkan adalah justru cerita misteri yang judulnya saya jadikan judul naskah yang saya kirimkan, yaitu  “Siluman Kera Jurang Kali Manggal” Kemudian Penerbit mengganti judul buku menjadi “Kamigilan Angkernya Kedung Blangah” yang juga diambil dari judul salah satu naskah cerita misteri yang saya kirimkan tersebut, yaitu “Kamigilan
Proses penerbitan Buku “Kamigilan, Angkernya Kedung Blangah” tersebut termasuk cepat dan lancar. Tanggal 3 April 2013 saya kirim Proposal sebagaimana contoh di bawah ini lewat email ke alamat naskah@mediakita.com. Tanggal 8 April 2013 saya susuli dengan mengirimkan print out naskah buku tersebut dilampiri DVD (karena kebetulan dirental sedang kehabisan CD). Sebelum akhir bulan Mei 2013 saya sudah mendapat jawaban ACC Penerbit mediakita akan menerbitkan naskah tersebut. Tanggal 24 Mei 2013 saya mengirimkan lewat email ucapan terima kasih atas kesediaan penerbit, sekaligus saya kirimkan soft copy naskah, karena DVD yang saya kirim tidak terbaca, mungkin kena virus.

Kemudian komunikasi lewat email terus terjalin, antara lain persetujuan untuk cover buku dan nama pena penulis yang akan dicantumkan pada buku tersebut, lalu naskah hasil edit, dan lain-lain. Tanggal 29 Agustus 2013 saya sudah menandatangani SURAT PERJANJIAN PENERBITAN BUKU sepanjang 10 halaman. Yang menarik dalam perjanjian ini adalah pada Pasal 5 memuat JAMINAN PARA PIHAK, pada ayat 5.g. memuat jaminan Penerbit kepada pengarang: “Pihak Kedua menjamin akan menerbitkan, memperbanyak, menjual buku karya Pihak Pertama dalam perjanjian ini dalam jangka waktu selambat-lambatnya 6 bulan terhitung sejak penandatanganan perjanjian ini.”
Ternyata benar, tanggal 27 September 2014 Buku Kumpulan Cerita Misteri ”Kamigilan, angkernya Kedung Blangah” sudah terbit. Dan Penerbit mediakita langsung mentransfer uang muka royalti ke rekening buku tabungan saya sebesar        Rp. 1.500.000,-  tanggal 26 September 2013. Lalu saya juga mendapat kiriman 10 buah buku sebagai nomor bukti. Sejak hari itu promosi di internet pun berlangsung dengan gencar dan toko-toko buku yang menjadi agen penyalur buku-buku terbitan mediakita sudah mulai memajang buku saya tersebut di rak buku mereka. Dan para pecinta buku, khususnya buku-buku misteri/horror sudah dapat membeli di toko-toko buku tersebut.
Demikianlah sekelumit perjalanan atau proses penerbitan buku perdana saya “KAMIGILAN, ANGKERNYA KEDUNG BLANGAH” yang telah diterbitkan Penerbit mediakita Jakarta bulan September 2013. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi para pembaca yang berminat menulis dan menerbitkannya dengan mengirimkannya kepada penerbit.
Selanjutnya silakan menyimak proposal di bawah ini.


Kirimkan proposal naskah ini ke alamat redaksi mediakita:
Jl. H. Montong No.57, RT.006/06
Ciganjur - Jagakarsa
Jakarta Selatan 12630
Telp. (Hunting): 021-78883030
Faks. 021-7864440
Atau Email ke: naskah@mediakita.com
Proposal Naskah



IDENTIFIKASI
Data Penulis




Nama
:
Sutardi, S.IP
Nama Pena :
Sutardi MS Dihardjo
Sutardi Ardi Manikam
Masdi MSD

Alamat penulis sesuai KTP
:
Bendogantungan II, Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
Alamat domisili/surat-menyurat
:
Bendogantungan II, Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah KLATEN 57422
Telp
:
085642365342
T.T.L :
     
Email/website/blog/friendster
:
sutardimsdiharjo@yahoo.com
Background pendidikan
:
S-1 Administrasi Negara
Hobi/bidang minat
:
Membaca / Menulis Fiksi
Pekerjaan utama
:
PNS Kecamatan Klaten Tengah
Profesi sampingan/lainnya
:
Penulis
Buku yang pernah ditulis
:
Novel: Prabu Nala dan Damayanti (Menunggu jadwal penerbitan di Penerbit DIVA Press Jogjakarta)
Karya tulis lainnya (baik yang sudah maupun yang belum dipublikasikan)
:
  1. Novel: Lindu Aji Pangeran Bertanduk (dalam proses revisi sebelum dikirim ke penerbit)
  2. Tulisan-tulisan cerita misteri dalam Bahasa Jawa yang sudah dimuat di Majalah Panjebar Semangat Surabaya (Alaming Lelembut) dan Majalah Djoko Lodang Jogjakarta (Jagading Lelembut)
  3. Dongeng dan Cerita Anak / Wacan Bocah dalam Bahasa Jawa yang sudah dimuat dalam Majalah Djoko Lodang Jogjakarta, Majalah Panjebar Semangat Surabaya, Majalah Jaya Baya Surabaya, dan koran Solo Pos Surakarta.
  4. Beberapa Puisi dan Geguritan yang sudah dimuat di Majalah Djoko Lodang, Majalah Panjebar Semangat, Majalah Nusa Indah Semarang, koran Suara Merdeka Semarang, koran Kedaulatan Rakyat Jogjakarta, koran  Solo Pos Surakarta.
  5. Dua buah cerpen dengan judul: “Ajal Itu Pun Tibalah” dan “Penggembala” pernah dimuat di majalah sastra Horison Jakarta tahun 1978.
Informasi lainnya yang ingin disampaikan
:
     

Data Naskah




Judul Naskah
:
SILUMAN  KERA  JURANG  KALI  MANGGAL (Kumpulan Cerita Misteri)
Nama/Nama Pena yang digunakan
:
Sutardi MS Dihardjo
Jenis Buku
:
                             
Lainnya : Fiksi Kumpulan Cerita Misteri
Tebal Naskah
:
113 hal. A4
Ukuran sendiri. Sebutkan      
1 Spasi
Ide dasar buku
:
Adanya kehidupan lain di alam halus yang sering kali ingin berinteraksi dengan manusia di kehidupan nyata, bisa berupa gangguan dan menyesatkan atau hanya sekedar ingin diakui eksistensinya dan dihormati.
Selling point buku
:
     
Target Pembaca
:
Umum
Usia
:
 0-5th,                5-12th, 12-15th,                 15-18th, V18-30th,       V >30th, (18 tahun ke atas )
 anak  V orangtua V remaja V dewasa
Profesi
:
 Profesional di bidangnya, sebutkan      
 Ibu rumah tangga   Pelajar/mahasiswa, sebutkan      
 Lainnya, sebutkan : umum

Tingkat ekonomi
:
 A  B  C  D       
(dengan asumsi A adalah tingkat paling tinggi) 
Tingkat pendidikan
:
SMP
sampai  Perguruan Tinggi
Gender
:
 Laki-laki         Perempuan          Keduanya 65 % L 35 % P
Daerah Pemasaran
:
Jawa, Luar Jawa
Target lainnya
:
     
Kompetitor
:
 Ada              
Jika ada :
Judul: KISAH HOROR
Penerbit: mediakita
Harga: Rp. 34.000,00
Ukuran/tebal: 183 halaman
Pembeda:      

Judul: SEKOLAH-SEKOLAH BERHANTU
Penerbit: Gerrmedia Komik
Harga: Rp. 38.800,00
Ukuran/tebal: 295 halaman
Pembeda:      





                       

KEORISINALAN KARYA

Ide Tulisan       :    Pengembangan dari ide sendiri yang sudah ada
                            Sebagian baru, belum pernah dimuat di mass media, sebagian besar dari tulisan sendiri yang sudah pernah dimuat di majalah Bahasa Jawa, lalu ditulis kembali dalam Bahasa Indonesia dengan perbaikan/penyempurnaan

Sumber Data   :
                             Lainnya, mohon disebutkan: dari pengalaman sendiri dan  Cerita dari teman-teman yang mengalami

Penggunaan Foto, gambar, dan Ilustrasi :
                                             Dari Penerbit    


Referensi utama yang digunakan:
1.      
2.      
3.      
4.      

Materi pendamping
(jika buku Anda akan disertai CD tambahan)

:
 Tidak disertai CD
 Software karya sendiri
 File foto
 Tutorial interaktif karya sendiri
 Lainnya. Sebutkan:      
Status proses penulisan naskah
:
Naskah sudah jadi, tinggal mengedit
Jika disetujui, naskah akan selesai dalam
:
2 (dua) minggu
Status proposal
:



Outline:
  1. Siluman Kera Jurang Kali Manggal
Pasca erupsi Merapi kera-kera yang hidup di lereng Merapi kehilangan makanan di habitatnya. Mereka beramai-ramai menyerbu kampung-kampung dan menjarah makanan penduduk. Orang-orang berusaha mengusirnya. Ki Singo Yudo, seorang tokoh yang berhasil melukai pimpinan kera dan mengusir kera-kera kembali ke sarangnya, ketika mengejar untuk mengambil kembali tombaknya tersesat di alam siluman kera Jurang Kali Manggal. Karena jasanya menyembuhkan sang Raja, ia dikawinkan dengan putri raja dan hidup di alam siluman. Ketika kembali ke kampungnya, anaknya sendiri saja sudah tidak dapat mengenali, karena tubuhnya telah berubah menjadi siluman kera. Ia dikejar-kejar oleh penduduk desanya. Akhirnya ia kembali ke keraton siluman kera. Untung perubahannya menjadi siluman belum sempurna karena ada bagian ritual pengantin yang tidak dilaksanakan, sehingga ia masih dapat kembali ke ujud semula sebagai manusia biasa.
  1. Harimau-Harimau Merapi
Ketika terjadi erupsi Merapi para penghuni lereng Gunung Merapi mengungsi ke bawah yang lebih aman. Begitu juga harimau-harimau yang tinggal dekat puncak Merapi, mereka turun mengungsi ke kampung-kampung yang lebih aman. Sayangnya tidak ada dermawan yang peduli untuk memberi makan kepada para pengungsi ini. Sehingga mereka terpaksa mencuri ternak penduduk, sehingga membuat ketakutan dan suasana mencekam di malam hari. Saudara Pak Raji yang telah lama merantau ke Lampung, yang masih memiliki mantra untuk berhubungan batin dengan para harimau dipanggil pulang. Tetapi ia tidak tega mengusir harimau-harimau keturunan sahabat kakeknya yang sedang mengungsi untuk dapat bertahan hidup. Bahkan ia kemudian memberi saran kepada penduduk untuk menyantuni harimau-harimau itu, dengan rela melepaskan ternaknya secara bergiliran. Kalau itu dilaksanakan maka harimau-harimau itu tidak akan memngganggu penduduk. Keadaan menjadi tenang sampai harimau-harimau itu kembali naik ke lereng gunung setelah keadaan dirasa aman. Sebelum kembali, harimau-harimau itu menjelma dalam mimpi Pak Raji untuk berpamitan seperti layaknya sahabat lama bertamu yang akan segera berpisah. Hari itu ternyata status Merapi sudah diturunkan dari SIAGA menjadi WASPADA.
  1. Digondhol Wewe Rumpun Bambu Ori
Anak-anak sedang bermain jethungan. Salah seorang anak dikungkung berjaga terus-menerus. Akhirnya ia ngambek. Wahyu, anak yang sedang sial harus berjaga terus-menerus itu, tidak pergi mencari teman-temannya yang sedang bersembunyi, tapi ia justru ikut bersembunyi di tengah kebun yang dirimbuni tetumbuhan. Waktunya sudah menjelang malam. Tiba-tiba ada seorang tua yang mengajaknya bersembunyi di rumahnya. Anak itu pun mengikuti. Di tempat orang tua itu ia dipersilakan bersembunyi di atas pohon buah-buahan sambil makan buah-buahan sepuasnya. Sementara itu, orang-orang yang mengetahui Wahyu sampai malam tidak pulang, berusaha mencari anak yang dianggap hilang itu. Mereka percaya anak itu digondhol Wewe, makhluk halus yang suka menyembunyikan anak-anak. Tapi usaha pencarian ini tidak membuahkan hasil. Ibu Wahyu terus berdoa memohon pertolongan dan petunjuk Tuhan Pemelihara Alam Semesta. Beberapa hari kemudian Wahyu ditemukan sedang bergelantungan di pucuk pohon bambu ori yang penuh duri. Dengan sabar, hati-hati dan penuh perhitungan penduduk dengan dipimpin Pak Kiai mencari cara untuk menurunkan Wahyu dengan aman dan selamat.
  1. Kamigilan
Yudi mendapat tugas untuk mencarikan rumput bagi kerbaunya. Sejak siang sampai sore ia hanya mondar-mandir di pematang sawah yang sudah tidak ada rumputnya. Kemarau panjang telah membuat rumput-rumput tidak cepat tumbuh. Ia melihat rumput-rumput di seberang sungai masih cukup subur. Tetapi ia takut ke sana karena kabarnya banyak hantunya. Namun karena terpaksa akhirnya ia ke sana juga. Melihat rumput-rumput semakin ke atas semakin subur, Yudi tidak segera mulai menyabit tetapi dengan penuh nafsu ia terus naik. Ketika ia sudah memutuskan untuk segera menyabit rumput ternyata di balik rumput-rumput itu ia melihat ada dua ekor ular sedang kawin. Karena takut, secara refleks ia mencungkil ular yang sedang kawin itu. Ular yang satu jatuh ke bawah, lalu ngerong di bawah jalan naik, yang satunya lagi setelah memandang dengan penuh ancaman dan dendam kepada Yudi lalu bersembunyi di balik gerumbul. Yudi kamigilan, ketakutan, seolah-olah di sekitarnya dipenuhi ular-ular yang siap mematuknya. Malam pun datang. Yudi merasa dirinya dikepung banyak siluman. Di antaranya ada ular siluman berkepala laki-laki dan perempuan cantik bertaring yang selalu meneteskan bisa dari ujung-ujung taringnya. Akhirnya ketika ketakutannya sudah memuncak, Yudi menyesali kesalahan dan keserakahannya. Lalu ia berdoa mohon ampun, perlindungan dan pertolongan Tuhan Yang maha Esa. Ia membaca doa-doa untuk mengusir roh jahat dan ular-ular. Maka datanglah pertolongan, orang-orang yang mencarinya dengan berbagai alat penerangan, berjalan menuju ke arahnya.
  1. Urung Menjadi Tumbal
Santoso adalah anak yang suka menjalani laku tirakat di tempat-tempat sepi, angker dan keramat. Suatu hari ia diminta menemani temannya yang bernama Yadi menginap di rumah tantenya yang sedang ditinggal pergi suaminya. Ternyata ajakan Tante Ana menginap di rumahnya hanya suatu cara menjadikan Yadi sebagai tumbal yang akan dijadikan mangsa Buto Ijo pesugihan juragannya. Malam itu sesuai janjinya kepada juragannya, untuk membayar hutangnya kepada juragannya, Tante Ana mengundang Buto Ijo untuk memakan keponakannya sebagai tumbal. Sayangnya Yadi datang bersama Santoso yang pemberani dan ahli tirakat. Buto Ijo mendapat perlawanan dari Santoso sehingga makhluk halus itu kalah dan terluka parah. Ia pun minta ampun dan berjanji tidak akan mencelakakan Yadi lagi. Setelah dilepaskan, Buto Ijo menghilang dengan membawa luka-luka di wajahnya. Hari berikutnya warung sate juragannya Tante Ana tidak buka. Juragannya mati dengan muka luka parah berdarah-darah.

  1. Sate Gagak
Ridwan pemuda pengangguran yang bermimpi menjadi orang kaya. Untuk mewujudkan impiannya ia suka tirakat di tempat-tempat sepi untuk mendapatkan nomor buntutan lotre. Suatu hari ketika sedang bertirakat ia dinasehati seorang tua untuk tidak lagi membeli lotre. Kalau ingin kaya ditunjukkan caranya, agar berjualan sate gagak pada tengah malam di Kedung Preh. Tapi tidak boleh takut, karena pembelinya adalah para gendruwo. Untuk modal, orang tua itu memberi uang untuk membeli gagak, bumbu dan perlengkapan berjualan sate. Ridwan menurut. Dalam suasana gelap dan seram, Ridwan mulai membakar sate di tepi Kedung Preh sambil menunggu para gendruwo yang akan menjadi pembelinya. Ada lima gendruwo yang datang untuk membeli sate gagak Ridwan. Tingkah mereka macam-macam. Ada yang jahil tetapi ada juga yang sabar berwibawa yang selalu mengerem kejahilan anak-anaknya. Ridwan yang ketakutan tidak berani memandang mereka. Ia berdiri membelakangi para gendruwo. Sate yang sudah matang diulurkan ke belakang tengkuknya. Demikian juga kalau menerima uang pembayaran yang ia jual dengan harga tinggi. Kuku-kuku tangan gendruwo yang jahil ada yang menggores tengkuk Ridwan hingga meneteskan darah segar. Darah di ujung kuku dijilati terasa manis, membuat gendruwo itu ingin memakan Ridwan. Untung pimpinan gendruwo yang agaknya orang tuanya dapat mencegah, sehingga Ridwan tetap selamat. Sate gagak Ridwan habis. Setelah Ridwan berjanji besok akan membawakan sate gagak yang lebih banyak, gendruwo-gendruwo itu pun kembali pulang ke sarangnya di pohon preh. Ridwan pun segera pulang. Setelah dihitung, uang hasil penjualan terkumpul lebih besar dari uang hasil tembus/putus lotre buntutan beberapa angka. Cukup untuk menjadi modal memulai hidup baru sebagai pedagang beneran. Tetapi Ridwan sudah kapok tidak mau berjualan sate gagak di Kedung Preh lagi. Ngeri!
  1. Melawan Buto Ijo
Murni anak Bu Pairo sakit diganggu Buto Ijo. Ia selalu menjerit-jerit ketakutan. Dengan alasan Murni telah memakan hasil keringatnya, Buto Ijo merasa berhak memakan jiwa Murni. Sebetulnya tidak sengaja Murni memakan hasil kerja Buto Ijo, ia hanya makan kerupuk pemberian Bu Karso, orang yang memelihara Buto Ijo itu. Atas saran Bu Wiryo, kakak Bu Pairo, suami-istri Bu Pairo dibantu suami-istri Bu Wiryo menjalani laku tirakat dengan berpuasa untuk dapat menangkap  makhluk halus yang sudah mengganggu anaknya. Akhirnya Buto Ijo dapat ditangkap, digunduli dan disiksa. Setelah minta ampun dan berjanji tidak mengulangi, Buto Ijo dilepaskan. Lama ia tidak berani mengganggu keluarga Bu Pairo dan Bu Wiryo. Tapi beberapa tahun kemudian ketika Bu Wiryo mengadakan pesta syukuran selapanan kelahiran anak Bu Wiryo, Buto Ijo itu mengikuti Bu Karso yang datang pura-pura akan nyumbang uang. Kedatangan Bu Karso sebetulnya selain untuk nyumbang juga untuk mencuri uang sumbangan dengan bantuan Buto Ijo pesugihannya. Bu Wiryo yang tahu apa yang sesungguhnya dilakukan Bu Wiryo, setelah menerima amplop pemberian Bu Karso, langsung membawanya ke dapur. Amplop yang  ternyata juga berisi Buto Ijo itu langsung dimasukkan ke dandang yang sedang digunakan menanak nasi. Bahkan ia minta juru adang untuk memperbesar apinya. Akibatnya Buto Ijo yang ada di dalamnya terbakar kepanasan. Imbasnya Bu Karso sebagai pemiliknya ikut mlonyoh terbakar. Ia lari pulang, dan kemudian mati.
 
  1. Nyai Pandan Wangi Mencari Pengikut
Anak Jumali sudah beberapa hari sakit. Sudah diobatkan ke dokter langganannya yang biasanya cocok, belum juga sembuh. Jumali menduga sakit anaknya diganggu lelembut. Ia melakukan tirakat, berpuasa dan tidur di tritisan rumah, beralaskan secuil tikar pandan, berbantal sapu gerang sebagai tombak sewu. Pada malam kedua ia ditemui seorang perempuan tengah baya membawa anaknya. Jumali minta kembali anaknya tidak diberikan, terpaksa ia merebutnya dengan bertarung melawan siluman utusan Ratu Kidul itu. Hampir saja Jumali kalah, tetapi setelah ia mendapat petunjuk kekuatan sekaligus kelemahan musuhnya terletak  pada rambutnya yang dibiarkan terurai sebagai senjata yang dapat diputar-putar menyerang lawannya, akhirnya Jumali dapat memenangkan pertarungan. Nyai Pandan Wangi, siluman itu pun kapok meninggalkan Jumali dan melepaskan anaknya. Yang dituju adalah tetangganya di sebelah barat rumahnya yang juga mempunyai anak balita. Anak Jumali sembuh. Tetapi sekarang gentian anak tetangganya yang sakit. Sayang orang tua anak balita tetangganya itu tidak mau mendengarkan peringatan Jumali untuk berjaga-jaga, hingga kemudian anaknya pun mati, jiwanya dibawa ke Laut Selatan dijadikan pengikut Ratu Kidul.
  1. Menjadi Tamu Kanjeng Ratu Kidul
Bambang bersama keluarganya tinggal di kompleks Kamar Bola, gedung kuno peninggalan jaman Belanda. Diganggu makhluk halus yang suka usil dianggap hal biasa baginya. Sehingga ia justru tumbuh menjadi anak yang pemberani dan suka bertirakat. Suatu hari di antara tidur dan jaga, tahu-tahu ia sudah mendapati dirinya berada di pinggir Laut Selatan. Ia ditemui seorang tua yang berpakaian seperti Kiai. Orang tua itu menyuruhnya menjauh dari tepi laut yang sedang pasang. Tetapi Bambang tidak mau. Orang tua itu marah lalu melemparkannya ke tengah samudera. Anehnya begitu tubuhnya melayang, air laut jadi terbelah. Bambang jatuh di tanah kering, jalan menuju keraton Laut Kidul. Bambang pun berjalan menuju ke keraton. Di sana kedatangannya sudah ditunggu Kanjeng Ratu Laut Kidul. Bambang dipersilakan berkeliling di kompleks keraton. Ia melihat tempat penyiksaan orang-orang yang berani menantang Kanjeng Ratu, juga tempat penyiksaan orang-orang yang telah mencari pesugihan. Tetapi ia juga melihat semacam asrama untuk orang-orang yang telah menjadi pengikut Kanjeng Ratu Kidul.  Ratu Kidul menjelaskan makna dari semua yang telah dilihat Bambang. Ia pun menawari Bambang untuk mendapatkan kekayaan dengan memelihara pesugihan. Tetapi Bambang menolak. Ratu Kidul merestui keinginan Bambang untuk hidup secara wajar, berkecukupan dan dapat menyisihkan untuk bersedekah. Kemudian Ratu Kidul memberi tahu cara-cara untuk dapat menemuinya apabila diperlukan. Karena dirasa sudah cukup, Bambang diijinkan untuk pulang kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang Bambang mendapat godaan berupa panggilan-panggilan dan teriakan-teriakan minta tolong, agar Bambang menoleh ke belakang. Tetapi Bambang yang tidak mau kalap, tetap tabah, berjalan lurus ke depan. Hingga kemudian ia diterbangkan angin puting beliung yang tahu-tahu sudah membawanya kembali ke rumah.
  1.  Mienya Diborong Lelembut
Sariman adalah penjual mie keliling yang berasal dari Gunung Kidul. Ia merantau kontrak rumah di daerah tempat ia berjualan. Setelah lama bertahun-tahun tidak kelihatan, tahu-tahu ia digantikan anaknya. Orang-orang yang dulu jadi pelanggan ayahnya masih suka membeli mie kepada anak Sariman. Tetapi anak-anak jaman sekarang yang tidak kenal Sariman lebih suka membeli pada penjual mie lainnya. Sehingga pelanggan anak Sariman tinggal sedkit, karena pelanggan ayahnya sebagian sudah pada mati. Suatu malam anak Sariman dicegat dua orang pembeli di jembatan desa. Mereka minta dimasakkan mie rebus. Ketika pembeli yang tua memakannya dalam keadaan panas, anak Sariman diminta melihat lidah pembeli yang mlonyoh kepanasan. Ternyata lidah itu sangat panjang sampai menyentuh tanah. Anak Sariman pun lari ketakutan dengan membawa gerobaknya. Di tengah jalan ia dipanggil datang ke panti jompo. Di situ banyak orang tua memesan bermacam-macam masakan anak Sariman. Dengan senang hati penjual itu melayani pembelinya dengan mengantarkan masakan yang sudah matang ke kamar masing-masing pembeli. Lama menunggu pebelinya selesai makan, karena kelelahan anak Sariman pun tertidur sampai pagi. Paginya ia ditemukan juru kunci makam sedang tertidur di bawah pohon kamboja di tengah makam. Masakannya yang berupa mie rebus, mie goreng, nasi goreng dan lain-lain yang tadi malam ia letakkan di kamar para pemesannya, ternyata  ia letakkan di atas batu-batu nisan. Piringnya ternyata adalah daun kamboja. Nisan-nisan itu adalah nisan para orang tua yang dulu menjadi pelanggan ayahnya.
  1.  Dibantu Mancing Penunggu Rowo Jombor
Sidu mempunyai hoby mancing. Malam itu ia sedang mancing di bagian Rowo Jombor yang terkenal angker tapi banyak ikannya. Sudah berkali-kali ia melemparkan pancingnya, dan sudah berkali-kali pancingnya ia rasakan disambar ikan, tetapi setiap kali pancing diangkat tidak ada ikan didapat, padahal umpannya sudah tidak ada. Sidu sampai kesal dan hampir putus asa. Ia coba sekali lagi. Melihat beratnya tarikannya, Sidu mengira ikan yang memakan umpannya kali ini adalah ikan besar. Tetapi ketika pancing ditarik, ternyata yang nyangkut di pancingnya adalah tulang paha manusia dewasa. Sidu merasa digoda oleh lelembut penghuni rawa. Lalu keluar permintaannya agar para lelembut tidak mengganggu dirinya yang juga tidak merasa mengganggu para lelembut. Tiba-tiba muncul orang tua yang kemudian memberi petunjuk ke mana Sidu harus mengarahkan pancingnya agar memperoleh ikan. Mengikuti petunjuk orang tua itu ternyata benar Sidu mendapat banyak ikan yang besar-besar. Lalu tiba-tiba pula orang tua itu menghilang. Ini diartikan Sidu kalau dirinya hanya sampai di situ diijinkan mancing malam itu. Sidu pun mengemasi barang-barangnya dan bersiap akan pulang. Tetapi sebelum pulang ia penasaran ingin melihat tempat seperti apa yang sudah banyak  memberinya ikan. Betapa terkejut Sidu ketika lampu senter yang disorotkan ternyata memperlihatkan hutan kerangkong yang tumbuh di tepi rawa. Kok bisa pancingnya tidak menyangkut ke batang-batang kerangkong?  Melihat ke ikan-ikan tangkapannya, ternyata ikan-ikan itu bukan ikan jadi-jadian tetapi ikan betulan.
  1.  Lelembut Ingin Melihat Layar Tancap
Bandono dan kawan-kawannya adalah karyawan perusaan jamu yang bertugas di bagian promosi. Tugasnya sehari-hari adalah keliling memperkenalkan produk sambil berjualan dan melakukan pemutaran filem layar tancap. Suatu hari mereka melakukan pemutaran filem di lapangan yang dekat makam umum. Ketika akan memasang layar mereka diberi petunjuk oleh orang tua yang menonton persiapannya, ke mana seharusnya layar dihadapkan. Tetapi salah seorang dari mereka yang tidak percaya kepada tahayul menentang. Ia minta agar layar dihadapkan ke tempat lain. Ketika tiba saatnya filem dicoba, ternyata semuanya baik. Yang ditakutkan sesuai petunjuk orang tua itu tidak terbukti. Namun masalah timbul justru ketika akan dimulai pemutaran filem yang sesungguhnya. Proyektor yang tadi dicoba baik-baik saja, ternyata sekarang tidak mau nyala. Mereka telah berusaha dengan susah payah, tetapi tetap tidak membuahkan hasil. Tiba-tiba orang yang sore tadi memberi petunjuk muncul lagi. Ia mengingatkan lagi petunjuknya. Akhirnya mereka minta maaf dan menuruti petunjuk orang tua itu. Layar dan arah layar tancap dirubah menghadap ke kuburan. Ternyata sekarang proyektor mau hidup. Filem pun dapat diputar dengan baik. Barangkali para penghuni kuburan sekarang juga sedang tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah laku Dono, Kasino, Indro yang lucu di layar tancap.

  1.  Menangkap Tuyul
Sumi penjual jamu keliling sudah beberapa hari tidak kelihatan. Para pelanggan yang terdiri bapak, ibu, dan pemuda sudah kangen ingin meminum jamunya sambil melihat tingkah laku Sumi yang berwajah cantik dan menggemaskan. Ketika kemudian Sumi muncul, orang-orang terkejut melihat dandanan Sumi yang berbeda. Rambutnya tidak lagi dibiarkan terurai tetapi sekarang rapi terbungkus kerudung. Sumi menceritakan kepada para pelanggannya, bahwa ia baru saja menangkap tuyul-tuyul yang telah mencuri uang simpanannya. Tetapi lelembut tersebut terpaksa dilepaskan, karena Sumi diserang kakek para tuyul, orang tua yang gagah dan bengis dengan pedang terhunus di tangannya. Pedang yang ditebaskan ke leher Sumi mengenai rambut Sumi hingga putus. Kini rambut Sumi tidak lagi panjang. Untuk menutupi rambutnya yang sekarang tinggal pendek, sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur karena dirinya sampai saat ini masih selamat, Sumi kini dan seterusnya akan selalu memakai kerudung untuk menutup auratnya.
  1.  Dikrubut Pocongan
Suro adalah seorang pengusaha makanan ternak, telur dan burung puyuh. Malam itu setelah mengantar telur dan barung puyuh kepada pelanggannya di kota Semarang dan Boyolali, pulangnya kemalaman. Ketika mengisi bensin di SPBU Kota Boyolali sebetulnya ia sudah merasa kebelet buang air kecil. Tetapi ditahan, karena ia mengira masih kuat menahan sampai di rumah yang tidak jauh lagi. Tetapi ternyata di tengah jalan ia sudah tidak kuat menahan. Terpaksa ia berhenti untuk kencing di belakang gardu TPR di tepi jalan. Entah kebetulan atau karena dianggap sudah mengganggu, sampai kuburan di dekat TPR itu mobil Suro dikejar dan diganggu hantu pocong. Hantu pocong yang berjumlah empat atau lebih itu berusaha merebut dan membelokkan setiran mobil. Terjadi adu kuat antara empat pocong dengan Suro. Beberapa ratus meter kemudian pocong-pocong itu melepaskan setiran dengan tiba-tiba, sehingga setiran membelok sesuai arah tarikan Suro yang begitu kuat. Tanpa kendali mobil menabrak pohon mahoni yang tumbuh di tepi jalan. Kecelakaan tunggal terjadi. Mobil rusak berat, dan Suro mengalami patah tulang dan tak sadarkan diri. Penduduk segera datang memberi pertolongan. Suro dilarikan ke Rumah Sakit di Boyolali. Tapi karena lukanya terlalu parah lalu dirujuk ke Rumah Sakit Dokter Sarjito di Jogjakarta. Untung jiwa Suro tertolong.
  1.  Peri Itu Menyerupai Bu Adi
Pak Jono sudah merasa bosan nonton TV di Poskamling, sementara kawan-kawannya yang bertugas ronda malam itu asyik bermain kartu. Berkali-kali ia mengajak keliling kampung sambil mengambil beras jimpitan, tidak ada tanggapan dari kawan-kawannya. Ia pun dengan tertatih-tatih berjalan sendiri mengambil beras jimpitan. Baru  dapat beberapa rumah terasa perutnya melilit ingin buang hajat. Untung dekat sungai. Ia pun turun ke sungai di bawah jembatan untuk melepas hajatnya meskipun ada perasaan takut karena kabarnya jembatan itu ditunggui makhluk halus berujud peri, siluman perempuan cantik berkaki kuda. Selesai buang hajat ia naik ke atas. Melihat ada perempuan menunggunya di atas jembatan, semula ia merasa takut karena mengira bertemu peri, tetapi setelah diamati ternyata perempuan itu adalah Bu Adi tetangganya, ia tak jadi takut. Justru merasa beruntung ada temannya berkeliling sambil mengantarkan Bu Adi pulang. Lewat dekat kebun kosong yang dulu pernah terjadi kecelakaan orang mati ditanduk sapi, Bu Adi semakin lengket ke tubuh Pak Jono, membangkitkan nafsu birahi Pak Jono. Sayang sebentar kemudian mereka sudah sampai di dekat rumah Bu Adi. Mereka pun berpisah. Anehnya begitu Bu Adi berpamitan, alam seperti diputar kembali, dan tahu-tahu Pak Jono masih ada di atas jembatan di atas sungai tempat ia buang hajat tadi. Dan di sungai terdengar suara kecipak kaki kuda berlarian diiringi suara ringkikan dan tawa cekikian hantu peri.
  1.  Bocah Kluron Minta Dipindah Dekat Mbah Buyut
Mbah Wiryo dibangunkan tidurnya oleh seberkas cahaya yang dapat bercakap-cakap seperti seorang bocah. Cahaya itu mengaku buyutnya yang lahir mati / keguguran / kluron. Ia minta agar tidak dikubur di tritisan rumah di bawah jendela. Tetapi ia minta dipindah di kuburan dekat almarhum buyut laki-lakinya. Alasannya, anak itu khawatir kalau kelak sampai dilupakan, lalu tempat kuburannya diperlakukan tidak semestinya, seperti tanah pekarangan biasa yang tidak digunakan untuk kuburan. Padahal dirinya meskipun sudah mati tetapi di alam halus juga hidup berkembang menjadi besar dan dewasa. Mbah Wiryo heran, anak yang kalau melihat usianya seandainya hidup sebagai manusia biasa belum dapat berkata apa-apa selain menangis, tetapi dalam ujud roh kok sudah pandai bercakap-cakap menyampaikan pikiran dan keinginannya. Bersama anak cucunya akhirnya Mbah Wiryo menuruti keinginan buyutnya, memindah kuburnya ke makam umum dekat kuburan Mbah Buyut laki-laki. 
  1.  Bocah Kluron Mencari Ibunya
Ketika sedang mempersiapkan hidangan pesta syukuran selapan anak kakak sepupunya, tiba-tiba Mbak Tarni tertawa terpingkal-pingkal terus menerus, tidak dapat ditahan. Pemicunya ia melihat sisa rambut gelungan saudara sepupunya yang kelihatan lucu. Karena malu, ia pun lari pulang ke rumahnya yang ada di belakang rumah saudaranya itu, sambil terus tertawa-tawa. Sampai di rumah ia tetap tertawa tiada henti sambil berbaring di tempat tidur. Anehnya lama-lama tawanya berubah menjadi tangisan yang memilukan. Di sela-sela tangisnya ia merintih minta agar dicarikan ibunya yang sudah lama menelantarkan tidak menemuinya. Ia sangat rindu kepada ibunya. Ketika ibu Mbak Tarni datang, ditolak, bukan ibu itu yang dicari. Orang-orang yang merubung jadi tahu kalau saat itu Mbak Tarni sedang kesurupan. Warga desa yang dianggap sebagai orang pintar dipanggil. Setelah tempat menempel roh itu dipijat sehingga kesakitan, roh itu mau mengaku siapa dirinya dan apa maunya. Ternyata roh bayi kluron itu minta kuburnya dirawat dan dicarikan ibunya. Kubur yang sudah tidak terawat, bahkan sudah tanpa bekas itu pun dibersihkan dan dibentuk lagi dan diberi bunga tabur sekedarnya. Lalu disanggupi untuk mencarikan ibunya di lain hari. Maka roh itu pun mau keluar dari tubuh Mbak Tarni, kembali ke kuburnya. Di lain waktu ibu anak kluron itu pun datang dan nyekar di kubur anaknya. Lain hari berikutnya kubur itu dipindah ke makam desa.
  1.  Dijadikan Teman Lelembut Karena Dianggap Suka Memberi
Karena suka membuang sisa makanan ke halaman, Narni dianggap suka memberi makan kepada lelembut bocah kluron yang terlantar tidak dirawat orang tuanya. Setiap malam ia didatangi lelembut kecil itu untuk diajak bercakap-cakap dan bermain. Kalau Narni sedang lelah setelah bermain seharian dengan teman-temannya di sekolah maupun di rumah, ajakan bermain lelembut bocah kluron itu dirasa mengganggu. Sehingga Narni sering menjerit-jerit mengusir atau bahkan menangis. Dayat, orang tua Narni melihat hal itu merasa kasihan. Ia lalu mencari orang pintar untuk mengusir roh halus yang sering mengganggu anaknya itu. Seorang Kiai muda yang diundang berhasil  mengetahui keberadaan dan latar belakang roh bocah kluron itu. Ternyata ia anak hasil hubungan gelap yang tidak diinginkan orang tuanya, lalu digugurkan dan dibuang ke sungai. Sekarang ia terlantar dan bergentayangan. Kiai muda tersebut setelah mengajak makan roh yang sedang kelaparan tersebut di warung hik pinggir jalan, lalu memberikan rumah yang layak di kuburan. Dayat diminta untuk rajin merawat kuburan itu dan mengirim doa di situ.
  1.  Ikut Ayahnya Di Alam Lelembut
Jaka adalah anak  Yu Rubi dengan lelembut. Tetapi selama ini ayahnya tidak pernah menengoknya, sehingga Jaka tidak tahu siapa ayahnya. Kesukaan Jaka adalah makan dengan lauk ikan atau daging. Tetapi dalam situasi krisis ekonomi ibunya tidak selalu dapat menuruti kesukaan anaknya itu. Suatu hari Jaka marah kepada ibunya karena beberapa hari ibunya hanya bisa menyajikan makan dengan sayur dan lauk bukan ikan atau daging. Ia pergi dari rumah, bersembunyi di bawah jembatan talang saluran air irigasi sampai sore. Di persembunyiannya ia ditemui orang tua tukang patri dan diajak ikut tinggal di rumahnya, dengan jaminan setiap hari ia akan diberi makan lauk ikan atau daging. Yu Rubi dan para tetangganya bingung mencari Jaka yang pergi tak kembali. Karena sudah dicari ke mana-mana tak diketemukan akhirnya hilangnya Jaka dilupakan. Suatu malam Yu Rubi sedang menanti giliran mengairi sawahnya yang keburu akan dibajak untuk segera ditanami. Tetapi gilirannya masih lama. Tiba-tiba Jaka yang kelihatan lebih tua dari umurnya yang sebenarnya, muncul lalu membantu mengairi sawah ibunya. Sebentar saja sawah sudah rata diairi. Bahkan Jaka mencarikan tukang bajak untuk membajak sawah Yu Rubi malam itu juga. Lalu Jaka pamit pulang kepada orang tua yang diikuti yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Yu Rubi mengira yang membajak sawahnya adalah tetangganya, tetapi ketika pagi-pagi ia akan membayar ongkos membajak, ternyata tetangganya tidak merasa sudah bangun malam itu untuk membajak sawahnya. Yu Rubi jadi bertanya-tanya, lantas siapa yang telah membajak sawahnya?

  1.  Laki-laki Yang Kawin Dengan Jin Perempuan
Pak Parjo adalah seorang guru SMP di Prambanan. Ia tinggal di jantung kota Klaten. Di luar kampungnya Pak Parjo hidup biasa saja seperti orang-orang lain, tanpa kekurangan atau kelebihan yang menonjol. Tetapi begitu melewati gapura kampungnya, di kampung sendiri keganjilan-keganjilan mengelilingi hidup Pak Parjo. Ia sering berbicara sendiri, menggandeng anak yang tidak kelihatan, dan memarahi anak-anak yang tidak kelihatan yang katanya sedang bermain memanjat pohon jambu. Suatu hari Pak Parjo kehilangan uang di rumahnya. Atas petunjuk Pak Parjo, polisi menangkap dan menginterogasi dua orang pemuda pengangguran di kampungnya untuk dijadikan tersangka. Pemuda-pemuda itu mengelak dengan berbagai dalih. Tetapi setelah malam harinya mereka diancam dan disiksa makhluk halus yang mengaku istri dan anak-anak Pak Parjo, akhirnya mereka mengakui perbuatannya. Sejak itu tidak ada orang yang berani usil atau mencuri di rumah Pak Parjo. Hingga suatu hari tercium bau bangkai dari rumah Pak Parjo. Ternyata kemudian ditemukan Pak Parjo sudah meninggal beberapa hari di rumahnya karena serangan jantung. Tidak diketahui apa penyebab sakitnya itu.

Contoh tulisan:

1. SILUMAN  KERA JURANG KALI MANGGAL

Pasca erupsi Gunung Merapi penghidupan di lereng Merapi jadi sulit. Bagi manusia, tidak bisa memanen hasil pertanian dan perkebunan karena semuanya hangus  terbakar dimakan awan panas si-wedhus gembel dan  keblebeg aliran lahar berisi pasir dan batu, masih bisa mencari pasir atau batu untuk dijual kepada orang kota yang membutuhkan bahan bangunan. Tetapi bagi binatang-binatang penghuni lereng Merapi yang hidupnya tergantung pada alam, apa yang bisa diperbuat untuk mengisi perutnya? Maka tak heran kalau mereka lalu turun ke kampung-kampung untuk menjarah makanan milik manusia.
Kera-kera Merapi yang tinggal di hutan dekat puncak Merapi yang biasanya makan buah-buahan, pucuk-pucuk daun, dan  biji-bijian hutan yang tumbuh di sekitar lereng Merapi, kini kehilangan makanan, karena hutan di lereng dekat puncak Merapi habis terbakar. Pepohonan dan tumbuhan hutan yang biasanya menyediakan banyak makanan bagi kera-kera itu, hangus direnggut wedhus gembel yang turun berkeliaran melingkar-lingkar berpijar panas, melanda hutan-hutan dan perkampungan di lereng gunung. Akibatnya, untuk bertahan hidup kera-kera itu terpaksa turun ke kampung-kampung sekitar Desa Tegal Mulyo, Tlogo Watu, Sidorejo, dan Balerante, untuk yang tinggal di kawasan wilayah Kabupaten Klaten.
Penduduk Desa Tlogo Watu yang semula tinggal di pengungsian, setelah Gunung Merapi dinyatakan aman, pulang ke kampung halamannya untuk mengolah tanahnya kembali. Mereka bergotong royong membenahi kampungnya. Membersihkan rumahnya dari debu dan pasir yang tebal melapisi rumah dan pekarangannya. Menebang pohon-pohon yang roboh karena terlalu berat dibebani abu dan pasir Gunung Merapi. Begitu pula ladang dan sawahnya yang rusak terbengkalai dihujani abu dan pasir, mereka perbaiki agar dapat ditanami kembali.
Untung daerah ini tidak separah wilayah Yogyakarta di sebelah barat yang betul-betul rata tanah. Di Desa Tlogo Watu masih bisa diharapkan tak lama lagi aktifitas kehidupan pedesaan akan kembali berputar normal seperti biasa. Nampaknya sawah dan ladang akan dapat segera ditanami dan menghasilkan bahan makanan yang diinginkan. Mereka semakin giat bekerja karena ingin segera dapat hidup mandiri, tidak menggantungkan hidup dari bantuan sembako dari luar. Oleh karena itu mereka segera menanami sawah ladangnya dengan bibit jagung, ketela, lombok, sawi, loncang dan sayur-sayuran lainnya. Dasar mereka memang para petani yang ulet, tak lama setelah membenahi sawah ladangnya, lalu menanaminya, maka sambil menanti saatnya memanen jerih payahnya, mereka bekerja menambang pasir dan batu untuk dijual kepada sopir-sopir truk yang sudah antri mendatangi tempat mereka bekerja.
*
Tetapi keadaan yang sudah mulai membaik, tenang dan penuh harapan, pasca erupsi Merapi yang memporak-porandakan ketenangan dan ketentraman mereka, tiba-tiba berubah menjadi keresahan yang lain lagi.
 “Celaka, Pak Lurah! Tanaman ketela dan jagung kita di ladang rusak dimakan ratusan kera dari Jurang Kali Manggal,” lapor Pak Kepala Dusun kepada Pak Lurah. Bukan sekali ini saja Pak Kepala Dusun,  Pak Carik, dan perangkat desa lainnya atau warga desa melaporkan kejadian serupa. Kera-kera yang kehilangan makanan di habitatnya itu terpaksa menjarah makanan di kampungnya. Kalau jumlahnya hanya satu dua saja tidak masalah. Tetapi ini jumlahnya sangat banyak. Bisa puluhan atau bahkan ratusan. Tidak hanya dari Jurang Kali Manggal mereka berasal, tetapi juga dari Jurang Mlumbang di atas Pring Cendani Desa Sidorejo dan tempat-tempat lain yang menjadi sarang mereka. Bisa dibayangkan bagaimana mereka menghabiskan tanaman penduduk yang dipelihara dengan susah payah. Apalagi sebagai binatang mereka tidak punya belas kasih untuk hanya mengambil yang sudah masak dan yang mereka butuhkan saja. Pokoknya yang ada di depannya mereka sikat. Yang enak dimakan, yang tidak enak mereka buang. 
“Kita harus bagaimana lagi, Pak Kadus? Kita pernah berusaha mencegah kerusakan yang diakibatkan mengganasnya binatang-binatang liar itu. Membuat pagar bambu, dengan mudah kera-kera yang kelaparan itu memanjat lalu melompatinya. Memasang jaring-jaring tinggi di sekeliling pagar agar dapat lebih rapat, juga tidak membawa hasil. Ada yang pernah melihat, kera yang besar membuka jaring-jaring yang dipasang memagari ladang, lalu kera-kera yang kecil satu persatu masuk ke ladang memakan dan merusak tanaman kita,” ujar Pak Lurah.
“Betul itu, Pak Lurah,” sahut Pak Carik. “Saya juga pernah melihat barisan kera-kera itu sedang berjalan menuju ke barat ke arah ladangnya Pak Sastro. Kera yang besar mengawal di belakang, tetapi tidak menghadap ke barat. Ia berjalan mundur dengan lincahnya sambil menghadap ke timur, ke belakang! Mengawasi belakang, barangkali ada orang sedang mengintip akan menyerang dari belakang. Sungguh dia binatang yang cerdik. Saya jadi takut untuk sendirian mendekati ratusan binatang yang siap menghancurkan ladang sumber makanan kita,” sambung Pak Carik yang pagi itu juga sedang bercakap-cakap membicarakan keadaan kampungnya yang tidak aman dari gangguan binatang liar akhir-akhir ini.
“Kera besar itu sungguh menakutkan, Pak Carik. Saya pernah mengintip dia yang sedang menunggui teman-temannya yang sedang merusak tanaman jagung di ladang saya. Agaknya dia memang pemimpinnya. Dia tiduk ikut merusak, tapi kelihatannya dia sedang berjaga-jaga, kalau-kalau ada bahaya mengancam anak buahnya. Mestinya saya tidak memusuhi kera besar yang tidak ikut merusak tanaman ladang saya. Mestinya saya lebih geregetan dan marah kepada kera-kera kecil yang setelah kenyang makan jagung tanaman saya, masih dengan enaknya membawa pulang ke sarangnya jagung-jagung yang saya pelihara dengan susah payah. Tetapi karena saya tahu kera besar itu sengaja pasang badan menjadi perisai bagi teman-temannya,  saya jadi marah kepadanya yang telah melindungi kawan-kawannya. Dengan mengandalkan pedang piandel warisan leluhur, saya menyerang kera besar itu. Saya membabatkan pedang ke tubuh kera besar itu. Kera yang tidak membawa senjata apa-apa itu menangkis dengan menggunakan tangannya. Aneh! Kena babat pedang lengannya, kera besar itu tidak apa-apa. Ternyata pedang tajam warisan leluhur yang kami yakini mempunyai tuah sakti itu tidak mempan, tidak mampu melukai lengan pimpinan kera liar itu. Tubuhnya kebal. Hampir saja pedang saya direbutnya, untung saya dapat menghindar. Saya jadi takut, sehingga saya terpaksa berlari menghindar. Untung kera sakti itu tidak mengejar dan membalas saya,” cerita Pak Lurah.  “Kalau begini keadaannya, saya jadi kehabisan akal,” lanjut Pak Lurah putus asa di akhir ceritanya.
“Terus bagaimana lagi, Pak Lurah? Kasihan penduduk kita. Kera-kera liar itu sudah keterlaluan. Kita yang sedang membawa bekal untuk makan waktu istirahat di ladang pun, sering mereka cegat dan dijarah di jalan. Bukan itu saja, kalau kita sedang pergi bekerja sering rumah kita didatangi kera-kera itu. Mereka naik membuka genteng, lalu menyusup masuk ke dalam rumah lewat atap yang sudah terbuka. Di dalam rumah mereka memakan makanan apa saja persediaan kita yang ada di rumah. Membuka alamari makan, membuka tudung saji, bahkan juga membuka panci, periuk atau belanga tempat masak. Makan nasi dan ngokop sayur yang ada sampai tak bersisa. Sampai kita kelaparan, pulang kerja tak ada yang dimakan.” sahut Pak Kadus.
Mereka semua tercenung. Diam dan berpikir mencari solusi terbaik untuk dapat lepas dari kesulitan yang dihadapi. Setelah cukup lama berdiam diri, akhirnya Pak Carik mengajukan usul.
“Pak Lurah, kalau kita amati tanaman-tanaman di ladang kita, kelihatannya ada yang aneh. Di antara tanaman-tanaman yang berebahan dirusak kera-kera liar, ada ladang yang tanamannya masih utuh tidak ada yang rusak. Padahal di sebelah-sebelahnya semua tanaman rusak bosah-baseh. Pak Lurah tahu?” tanya Pak Carik  seakan mengetes ketajaman pengamatan Pak Lurah.
“Oo ya, saya ingat apa yang saya lihat kemarin ketika berkeliling melihat-lihat ladang-ladang di wilayah desa kita. Saya juga heran kenapa tanaman di ladang Pak  Singa Yuda masih utuh tidak ada yang rusak. Padahal tanaman di kanan kirinya semuanya rusak bosah-baseh bekas diserbu kera-kera liar. Betul itu yang Pak Carik  maksudkan?” tanya Pak Lurah kemudian.
“Betul, Pak Lurah. Itulah yang saya maksud. Saya yakin, sebagai keturunan Kyai Suro Bledeg, orang dhugdheng sakti mandra guna  pada jaman dahulu, Ki Singa Yuda tentu punya mantra untuk membentengi agar tanamannya dapat terhindar dari musibah gangguan binatang liar, hama tanaman, maupun orang yang berniat mencuri. Tidak ada salahnya kalau kita mencoba meminta tolong Ki Singa Yuda, memberikan tumbal, tidak hanya untuk tanamannya sendiri saja, tetapi juga untuk semua ladang yang ada di desa kita,” usul Pak Carik.
Pak Lurah dan Pak Kadus mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. “Ide yang bagus. Kenapa tak terpikir kemarin-kemarin ya? Kalau tahu dan dapat memanfaatkan adanya orang sakti di lingkungan kita, tentunya keadaan tidak perlu menunggu sampai separah sekarang ini. Kalau begitu mari kita ke rumah Ki Singa Yuda,” ajak Pak Lurah kepada anak buahnya.  Mereka bergegas menuju ke rumah Ki Singa Yuda.
*
Ki Singa Yuda sedang asyik memperbaiki kandang ayam ketika para perangkat desa itu datag ke rumahnya. Dengan tergopoh-gopoh orang tua yang sudah berusia setengah abad lebih itu menyambut pemimpin desanya. Para tamu dipersilakan masuk ke pendapa rumahnya yang cukup luas. Ki Singa Yuda termasuk orang terpandang di Desa Tlogo Watu. Orang tuanya dahulu, Ki Suro Bledeg  mula-mula adalah seorang kepala perampok ternak raja kaya yang ditakuti. Ia terkenal kebal tak mempan senjata tajam maupun senjata api. Pernah dikejar-kejar polisi dan pendekar silat yang jumlahnya puluhan, tetap dapat lolos karena pedang dan peluru yang mengenai tubuhnya mental kembali tak dapat melukai. Baiknya ia kalau melakukan aksinya di luar desanya. Dan yang dirampok hanya orang-orang kaya yang terkenal pelit. Dan kalau sudah mendapat hasil rampokan tidak dimakan sendiri, tetapi sebagian dibagi-bagikan kepada penduduk miskin yang ada di desanya. Baiknya lagi, Ki Suro Bledeg setelah tua insyaf, tidak mau merampok lagi. Kesaktiannya justru dipergunakannya untuk mengabdi, menolong mengobati orang sakit, terutama sakit karena luka-luka, salah tulang dan sakit karena gangguan makhluk halus, juga untuk mencarikan hari baik bagi penduduk yang akan melakukan pekerjaan besar atau hajatan.
“Ada apa ini? Tumben Pak Lurah, Pak Carik dan Pak Kadus beramai-ramai datang mengunjungi gubuk saya yang jelek ini. Apakah ada sesuatu yang dapat saya bantu?” tanya Ki Singa Yuda sambil mempersilakan tamu-tamunya duduk.
“Begini Ki Singa Yuda. Seperti yang Ki Singa Yuda ketahui sendiri, saat ini orang-orang kampung kita sedang resah karena gangguan kera-kera liar. Tanaman jagung, ketela, kedelai dan sayur-sayuran yang sudah kita tanam dan pelihara dengan susah payah, sebelum dipanen sudah rusak dimakan kera-kera yang jumlahnya banyak sekali. Sementara saya lihat tanaman di ladang Ki Singa Yuda kok kelihatan masih utuh dan baik-baik saja. Tentu Ki Singa Yuda mempunyai tumbal untuk menangkal gangguan binatang-binatang liar itu. Oleh karena itu, demi kesejahteraan dan ketentraman kita bersama, atas nama seluruh warga Desa Tlogo Watu, saya mohon agar Ki Singa Yuda bersedia memberi tumbal untuk menangkal gangguan binatang-binatang liar itu. Tolong tumbal itu jangan  hanya dipergunakan di ladang Ki Singa Yuda, tetapi juga untuk seluruh ladang yang ada di Desa Tlogo Watu ini,” ujar Pak Lurah menyampaikan maksudnya. Ki Singa Yuda tidak segera menjawab permintaan Pak Lurah. Ia berdiam diri cukup lama, seolah-olah sedang menghitung kekuatan dan kemampuannya untuk menunaikan tugas berat yang dipikulkan Pak Lurah di atas pundaknya.
“Sebelumnya saya mohon maaf kepada Pak Lurah dan seluruh warga kalau sampai saat ini saya memberikan tumbal hanya untuk ladang saya sendiri. Karena memang kemampuan tumbal saya itu sangat terbatas, tidak bisa menjangkau seluas wilayah desa kita. Tetapi meskipun begitu saya akan mencoba menghalau kera-kera yang mengganggu desa kita. Mungkin kalau kita dapat melumpuhkan atau menjinakkan pemimpinnya, kita dapat membuat jera kera-kera yang lainnya,” kata Ki Singa Yuda menyanggupi.
Pak Lurah dan anak buahnya merasa puas atas kesanggupan Ki Singa Yuda, membantu mengamankan desanya dari gangguan kera-kera liar. Mereka percaya, sebagai keturunan orang sakti, Ki Singa Yuda tentu mempunyai sesuatu yang dapat diandalkan untuk mengusir kera-kera yang rakus itu.
“Kalau Ki Singa Yuda akan melumpuhkan atau menjinakkan pemimpin kera-kera itu, saya kira saat inilah waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Karena saat ini kera-kera itu dikawal pemimpinnya sedang mengganas di ladang sebelah barat desa,” kata Pak Lurah memberi tahu.
“Kalau begitu, sebaiknya bapak-bapak mendahului dengan mengajak para warga desa ke tempat itu. Saya akan segera menyusul setelah mempersiapkan diri. Kita usir kera-kera itu bersama-sama,” sahut Ki Singa Yuda.
Pak Lurah, Pak Carik dan Pak Kadus membenarkan pendapat Ki Singa Yuda. Mereka lalu permisi untuk mengajak penduduk desa nggropyok mengusir kera-kera liar yang saat ini menjadi musuh bersama. Untuk mengumpulkan penduduk desa, Pak Lurah cukup memukul kentongan besar yang tergantung di teras balai desa. Suara kentongan yang mempunyai suara khas, berbeda dengan bunyi kentongan di rumah penduduk, menjadi pertanda perintah berkumpul di Balai Desa bagi para kepala keluarga di Desa Tlogo Watu. Mereka berkumpul dengan membawa senjata masing-masing, sesuai isyarat bunyi kentongan yang memerintahkan mereka berkumpul dalam sikap siaga bersenjata. Kemudian mereka beramai-ramai ke ladang untuk mengusir kera-kera yang telah menjarah tanaman mereka.
Setelah para perangkat desa itu pergi meninggalkan rumahnya, Ki Singa Yuda segera masuk ke kamar khusus yang tidak sembarang orang boleh memasukinya. Di kamar itu Ki Singa Yuda mengambil senjata pusaka warisan leluhurnya, sebuah tombak yang tangkainya hanya sepanjang lengan orang dewasa. Tombak sakti yang menjadi andalan para leluhur Ki Singa Yuda itu diberi nama Kyai Guntur Geni. Ki Singa Yuda lalu berganti pakaian seperti pendekar silat. Celana komprang, baju koko lengan panjang tanggung agak longgar. Memakai sabuk hitam di pinggang dan ikat kepala motif batik warna sogan menutupi sebagian rambut panjangnya yang telah memutih.
Dengan menggenggam tombak sakti di tangan kanan, Ki Singa Yuda berjalan keluar ke arah ladang-ladang penduduk yang sedang dijarah kawanan kera. Dengan perhitungan yang teliti Ki Singa Yuda dapat memperkirakan jalan mana kira-kira yang akan dilalui kera-kera Jurang Kali Manggal itu untuk kembali setelah menjarah tanaman penduduk. Di pinggir jalan yang akan dilalui kera-kera itulah Ki Singa Yuda bersembunyi di balik pohon mahoni yang besarnya melebih pelukan dua orang dewasa.
Dari persembunyiannya Ki Singa Yuda mendengar orang-orang berteriak-teriak mengusir kawanan kera. Suara orang yang jumlahnya sangat banyak itu sangat gaduh, karena bersahutan dengan suara mere dan mbekesnya kera-kera yang mau memberikan perlawanan. Tetapi karena lawan kera-kera itu adalah penduduk yang begitu banyak dan bersenjata, terpaksa mereka lari-lari berserabutan kembali pulang ke sarangnya, sambil membawa jagung jarahannya.  Mereka membawa jagung tidak tanggung-tanggung. Mulutnya penuh menggondol jagung yang masih utuh, tangan kanan kiri dua-duanya menggenggam jagung pula. Masih ditambah kedua ketiaknya mengepit jagung kanan kiri. Sungguh cerdik dan serakah! Untung mereka belum mengenal budaya tekstil, sehingga mereka tidak dapat membawa jagung dengan karung di punggungnya dan di kantong baju dan celananya.
Kera-kera itu lari lintang pukang ketakutan karena diusir puluhan penduduk desa bersenjata. Di belakang mereka, dalam jarak dua puluh meter kera besar pemimpin mereka yang kebal senjata berjalan menghadap ke belakang menjadi pelindung bagi anak buahnya. Pisau, sabit, bahkan tombak yang dilemparkan penduduk mengenai tubuhnya tetapi tidak dapat melukai. Benar-benar ia telah menjadi perisai yang melindungi anak buahnya.
Ketika kera besar yang kebal itu sampai di tempat persembunyian Ki Singa Yuda, orang tua yang sakti itu melemparkan tombak saktinya,  disertai bacaan doa untuk dapat menembus ilmu kebal si kera besar. Tombak meluncur diiringi kesiur angin yang menimbulkan rasa giris. Kejadiannya begitu cepat. Tanpa bisa menghindar, tahu-tahu tombak bertangkai pendek itu sudah tertancap di paha kera besar. Kera sakti itu memekik kesakitan. Ternyata kekebalan kulitnya tak berdaya melawan kesaktian tombak Ki Singa Yuda yang disertai doa. Kera yang sudah berani pasang badan menjadi perisai bagi anak buahnya itu mencoba mencabut tombak yang menancap dalam di pahanya, tetapi tidak bisa. Rasa sakit, panas dan pedih, bahkan semakin menyengat. Akhirnya ia berlari-lari berloncatan nunjang-nunjang sambil tangan memegangi paha dan tangkai tombak yang terasa mengganggu. Ia berlari sambil menjerit memekik-mekik kesakitan.
Anak buahnya yang melihat pemimpinnya berlari-lari sambil memekik-mekik kesakitan, menjadi takut, bubar mawut ikutan berlari lebih kencang mencari selamat sendiri-sendiri. Jagung-jagung yang mereka bawa pun jatuh berceceran. Suara teriakan mereka ramai sekali, mere-mere dan mbekes-mbekes di sepanjang jalan.
Sampai di Jurang Kali Manggal kera-kera yang berlarian ketakutan itu berloncatan ke atas pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitar jurang. Lalu mereka turun ke bawah ke jurang yang tanahnya nggrowong memayung melindungi mereka dari hujan, panas dan serangan musuh.
Ki Singa Yuda yang sudah berhasil melukai kera besar merasa lega. Ini berarti ilmunya masih di atas kera sakti pemimpin kera liar Jurang Kali Manggal. Terbukti tombaknya dapat menembus ilmu kebal kera besar tersebut. Tetapi setelah sadar mengetahui kalau tombak saktinya hilang terbawa lari kera besar yang berloncatan sambil memekik-mekik kesakitan menuju ke sarangnya di Jurang Kali Manggal, Ki Singa Yuda jadi khawatir. Tombak itu bukan tombak sembarangan. Senjata itu adalah sipat kandel warisan leluhurnya yang harus dijaga, dirumat, dan kelak diwariskan kembali kepada anak keturunannya. Akankah warisan yang sangat bernilai itu hilang tak terwariskan pada generasinya? Akankah mata rantai pewarisan budaya leluhur itu terputus di tangannya? Ki Singa Yuda cemas, beranikah dirinya mengejar mencari tombak saktinya ke sarang kera di Jurang Kali Manggal, sementara senjata sipat kandelnya sudah tidak ada di tangan? Setelah ditimbang-timbang, sebagai ujud rasa tanggung jawabnya kepada para leluhur dan generasi penerusnya, serta netepi jejere pendekar yang pantang menyerah, akhirnya dengan mantap Ki Singa Yuda melangkahkan kaki menuju Jurang Kali Manggal.
Sampai di tepi Jurang Kali Manggal yang dikeramatkan oleh penduduk, Ki Singa Yuda termangu-mangu. Untuk turun ke dasar jurang yang growong membentuk goa, tidak mudah. Kera-kera yang ringan tubuhnya dengan mudahnya berloncatan ke dahan-dahan dan ranting pepohonan yang batangnya tertanam mengakar di dasar jurang. Mereka sudah terbiasa. Tetapi bagaimana dengan dirinya? Ki Singa Yuda termangu-mangu di bibir jurang. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Ranting-ranting dan dahan-dahan pepohonan di pinggir jurang itu meliuk-liuk. Salah satu ranting yang cukup kuat meliuk-liuk mendekati tempat Ki Singa Yuda berdiri. Tanpa berpikir panjang Ki Singa Yuda dengan sigap menangkap ranting tersebut.
Aneh! Begitu salah satu ranting tertangkap tangan Ki Singa Yuda, angin berhenti bertiup. Pohon-pohon kembali tegak. Ki Singa Yuda yang memegang erat ranting pohon tertarik menjauh dari bibir jurang. Agar tidak jatuh, kedua tangannya menangkap dahan yang cukup besar, lalu berpegangan erat di dahan  pohon itu, kedua kakinya menjepit  dahan dalam posisi orang memanjat pohon. Namun kali ini bukan untuk memanjat naik, tetapi justru melorot menuruni pohon, dari dahan ke batang, pangkal batang, lalu turun ke dasar jurang.
*
Ajaib! Dasar jurang, dalam goa, yang tadi nampak gelap terlihat dari batang pohon tempat ia memanjat, begitu Ki Singa Yuda turun menginjak  tanah, tiba-tiba nampak terang benderang. Ia merasa ada di alun-alun menghadap ke keraton yang besar dan megah. Orang-orang berlalu lalang di sekitar Ki Singa Yuda. Mereka tidak saling bicara. Nampaknya kesedihan sedang membayangi negeri itu.
Ki Singa Yuda yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap lingkungan, tidak tahan memendam pertanyaan tak terjawab dalam hatinya. Ia segera mendekati salah seorang yang sedang berjalan di dekatnya. Orang itu berpakaian cukup mewah, mungkin ia seorang bangsawan kerajaan.
“Maaf Ki Sanak, apa nama negeri ini, saya kok baru tahu sekarang? Dan kenapa orang-orang kelihatan sedang berduka?” tanya Ki Singa Yuda.
“Ki Sanak ini seorang pendatang baru, ya?  Ketahuilah, Ki Sanak, ini adalah Negara Kali Manggal. Aku adalah patihnya, namaku Patih Wanara Tinaya. Adapun kenapa saat ini rakyat Kali Manggal nampak sedang berduka cita, karena raja kami Gusti Prabu Wanara Kusuma sedang menderita sakit parah yang belum dapat disembuhkan. Padahal raja kami hanya mempunyai seorang puteri yang belum bersuami. Kalau raja kami meninggal, siapa yang akan menggantikannya? Akankah negeri kami dipimpin seorang perempuan? Padahal aturan negeri kami, seorang raja harus seorang laki-laki, karena ia berkewajiban melindungi rakyatnya dari serangan musuh,” jawab yang ditanya.
“Oh…maaf, Gusti Patih. Saya tidak tahu kalau saat ini saya sedang berhadapan dengan Gusti Patih Wanara Tinaya dari Negara Kali Manggal. Lalu kalau saya boleh tahu lagi, apa sakit yang diderita Paduka Raja?” tanya Ki Singa Yuda ingin tahu.
“Ketika kami sedang mencari makan di negeri seberang, raja kami yang sedang melindungi kami dalam perjalanan pulang, tiba-tiba diserang musuh dari tempat persembunyiannya. Entah kenapa, raja kami yang biasanya kebal tak mempan senjata tajam, saat itu sedang apes, tombak bertangkai pendek yang dilemparkan orang itu dapat menembus ilmu kebal raja kami, menancap dalam di paha kanannya. Sampai kini tombak itu tidak dapat dicabut. Sepanjang hari raja kami hanya dapat berbaring menjerit-jerit kesakitan. Katanya rasanya panas dan pedih. Tenaganya seperti dihisap senjata tombak yang menancap itu. Kakinya melepuh seperti terbakar. Tabib-tabib dan dukun dari negeri kami yang mencoba mengobati, semuanya gagal, hasilnya nol.”
Mendengar penjelasan orang itu, mengetahui adanya tombak pendek menancap di paha raja, Ki Singa Yuda dapat menduga negeri apakah yang sedang didatanginya ini. Juga ia dapat menduga siapakah raja yang sedang sakit itu. Ia merasa senang menemukan jalan untuk mendapatkan pusaka tombak saktinya kembali.
“Maaf Gusti Patih, bolehkah orang luar seperti saya ini mencoba untuk mengobati sakit Paduka Raja?” tanya Ki Singa Yuda kemudian.
“Boleh saja. Tetapi sebelumnya aku perlu tahu siapakah nama Ki Sanak ini dan dari mana asalmu? Apakah Ki Sanak ingin ikut sayembara? Apakah Ki Sanak menginginkan hadiah yang sudah dijanjikan bagi siapa saja yang dapat menyembuhkan sakit raja kami?” Patih Wanara Tinaya balik bertanya.
“Nama saya Ki Singa Yuda. Saya berasal dari Desa Tlogo Watu Kecamatan Kemalang di lereng Gunung Merapi. Boleh dipanggil Ki Singa begitu saja. Sedikit banyak saya pernah belajar ilmu pengobatan dari leluhur saya Ki Suro Bledeg. Saya tidak tahu adanya sayembara. Saya hanya ingin menolong sesama yang sedang menderita. Kalau boleh minta hadiah, saya hanya ingin diberi hadiah tombak yang telah berhasil melukai Paduka Raja. Itu saja,” jawab Ki Singa Yuda.
“Tetapi, Ki Sanak tidak boleh mengabaikan hadiah yang telah dijanjikan. Siapa saja yang berhasil mencabut tombak yang bersarang di paha raja kami dan berhasil menyembuhkan sakitnya, kalau laki-laki akan dikawinkan dengan puterinya, Puteri Puspita Wanari yang cantik jelita, dan kelak berhak menggantikan sebagai raja kami. Kalau ia seorang perempuan, akan dipersaudarakan dengan puteri raja kami dan berhak mendapat  perlakuan sebagai puteri raja. Ia pun akan diberi warisan sepertiga kekayaan raja kami. Bagaimana, apakah Ki Sanak tidak mau menerimanya?”
“Hadiah itu terlalu besar bagi kami yang hanya orang biasa dan sudah tua. Tetapi yang lebih penting adalah menyelamatkan Paduka Raja penguasa Negara Kali Manggal. Mumpung belum terlambat. Kalau tidak keberatan, mari antarkan saya menghadap raja Prabu Wanara Kusuma. Saya akan mencoba menyembuhkannya,” ajak Ki Singa Yuda.
“Dengan senang hati, mari aku antar Ki Singa Yuda menghadap raja kami yang sedang terbaring sakit.” Mereka segera bergegas meninggalkan alun-alun menuju ke istana raja. Di depan istana, Patih Wanara Tinaya memberi tahu maksud kedatangannya kepada perajurit jaga. Mereka dipersilakan masuk ke ruang peraduan raja.
Raja yang bertubuh tinggi besar itu sedang berbaring sambil mengerang-ngerang kesakitan. Ia sudah tidak mampu menjerit-jerit lagi. Tenaganya sudah lemah karena banyaknya darah yang keluar. Patih Wanara Tinaya yang mengantarkan Ki Singa Yuda membisikkan maksud kehadirannya ke telinga Puteri Puspita Wanari yang sedang menunggui ayahandanya sambil terisak menangis berurai air mata. Puteri yang cantik itu mengangguk-angguk tanda setuju. Ki Patih lalu memberi isyarat mempersilakan tamunya untuk segera bekerja mengobati rajanya.
Ki Singa Yuda yang paham maksud  isyarat Ki Patih segera mendekati pembaringan sang raja. Ia menyingkap selimut yang menutupi paha sang raja yang terluka. Kelihatan paha yang nampak kenyal berbulu itu tertancap tombak cukup dalam. Tidak salah lagi, itulah tombak Kyai Guntur Geni miliknya. Ki Singa Yuda duduk bersila, tangan bersedekap, diam menahan nafas. Memusatkan seluruh cipta, rasa dan karsa, berkomat-kamit membaca doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Memohon pertolongan, bimbingan dan kekuatan untuk dapat mencabut tombak yang menancap di paha raja, dan untuk dapat menyembuhkan sakitnya. Kemudian tapak tangannya yang sudah ia sembur dengan ludahnya diusapkannya di seputar luka itu. Hawa dingin yang tersalur lewat usapan itu mengurangi rasa panas dan pedih di luka di paha sang raja yang tak berdaya.
Ketika sang raja sedang terlena merasakan berkurangnya rasa sakit, tiba-tiba tangan kanan Ki Singa Yuda kuat-kuat memegang gagang tombak, dan dengan cepat mencabutnya, sementara tangan kiri menekan paha di sekitar bagian yang sakit. Raja Wanara Kusuma menjerit pendek merasakan sakit luar biasa! Tapi kemudian merasa lega seperti terbebas dari beban yang amat berat. Darah merah tua kehitaman meleleh keluar dari luka itu. “Tahan Paduka Raja!!” kata Ki Singa Yuda sambil mengurut pangkal paha dan sekitar luka, memaksa keluar racun di sekitar luka. Raja Wanara Kusuma meringis menahan sakit.
Dari kantong celana komprangnya, Ki Singa Yuda segera mengeluarkan ramuan warisan leluhurnya yang sengaja dibuat khusus untuk menawarkan racun yang ada pada mata tombaknya. Untung raja mempunyai kesaktian dan daya tahan tubuh yang kuat, sehingga ia kuat bertahan sampai mendapat pertolongan ini. Seandainya raja hanya orang biasa tentu ia sudah tewas beberapa menit setelah tubuhnya tergores ujung tombaknya. Ki Singa Yuda lalu minta air putih. Puteri Puspita Wanari segera mengambilkan air putih dalam gelas. Sambil memangku kepala Raja Prabu Wanara Kusuma, Ki Singa Yuda membantu menelankan butiran obat ke mulut raja. Kemudian satu teguk dua teguk air putih menggelontor obat itu masuk ke dalam perut sang raja.
“Sudah. Sekarang biarkan Paduka Raja istirahat. Pakaikan selimutnya agar raja dapat tertidur nyenyak. Nanti setelah bangun, badannya akan segar kembali, sehat wal afiat seperti sedia kala. Sekarang mari kita keluar ruangan, agar Paduka Raja tidak kegerahan,” ujar Ki Singa Yuda sambil meletakkan kembali kepala sang raja ke pembaringan. Ia pun lalu melangkah keluar, diikuti yang lainnya.
“Saya kira tugas saya di sini sudah selesai. Besok pagi kalau Paduka Raja bangun dari tidurnya, badannya akan sehat kembali. Untuk memulihkan kekuatannya, ini saya beri catatan daun-daunan dan akar-akaran yang dapat dijadikan ramuan untuk memulihkan kesehatan Paduka Raja. Saya kira tidak sulit mencarinya,” ujar Ki Singa Yuda membuka pembicaraan setelah saling berdiam diri beberapa waktu.
“Ki Singa Yuda, seperti yang sudah diumumkan, penyembuhan Paduka Raja ini disayembarakan. Ternyata yang dapat menyembuhkan adalah Ki Singa Yuda. Jadi Ki Singa Yuda berhak memperoleh hadiah yang sudah dijanjikan,” kata Patih Wanara Tinaya hati-hati.
“Sudah saya katakana sejak awal, Gusti Patih. Saya mau menolong Paduka Raja, bukan untuk mengharapkan suatu hadiah. Saya hanya ingin menolong sesama yang sedang menderita kesusahan. Kalau boleh meminta hadiah, tidak ada lain yang saya minta kecuali tombak bertangkai pendek yang sudah melukai Paduka Raja. Itu saja, tiada yang lain lagi,” sahut Ki Singa Yuda.
“Sebelumnya, atas nama seluruh rakyat Negara Kali Manggal aku ucapkan terima kasih atas pertolongan Ki Singa Yuda, sehingga raja kami dapat berangsur sembuh. Tetapi kami pun meminta, janganlah Ki Singa Yuda menolak menerima hadiah sesuai yang telah kami janjikan dalam sayembara. Sebab kalau sampai Ki Singa Yuda  menolak menerimanya, itu berarti penghinaan bagi negara dan rakyat Kali Manggal,” ujar Patih Wanara Tinaya penuh wibawa.
Ki Singa Yuda termangu-mangu. Dirinya bagaikan menelan buah simalakama. Kalau menerima hadiah sayembara, ia tidak berani. Karena ia tahu dengan siapa ia berhadapan dan di negeri mana ia berada. Seharusnya dirinya tidak boleh lama-lama di negeri ini. Tetapi kalau menolak, dirinya akan dianggap menghina negara dan rakyat Kali Manggal. Mungkin seumur hidupnya ia dan keturunannya akan dimusuhi. Kemudian ia melihat ke tubuhnya sendiri lalu membandingkannya dengan tubuh Puteri Puspita Wanari. Dirinya sudah tua. Kulitnya sudah mulai keriput. Rambutnya sudah memutih. Beberapa giginya sudah tanggal. Sedangkan puteri keraton Kali Manggal ini masih muda. Tubuhnya sintal, padat, singsat dan payudaranya montok menggiurkan. Parasnya cantik, matanya bersinar-sinar cemerlang, hidungnya mancung, geriginya kecil-kecil teratur rintik-rintik. Senyumnya manis menawan. Ki Singa Yuda malu pada dirinya sendiri. Dan anehnya, meskipun sudah sepuluh tahun Ki Singa Yuda ditinggal mati istrinya, dan kini menghadapi wanita cantik molek mendekati sempurna yang siap dikawini, dirinya merasa tidak ada nafsu untuk mengawininya.
“Maaf Gusti Patih. Saya sudah tua, tidak sepadan untuk Tuan Puteri Puspita Wanari yang masih muda belia,” ujar Ki Singa Yuda kemudian. 
“Tidak masalah, Ki Singa Yuda. Kami punya telaga berisi air yang dapat membuat awet muda. Namanya Telaga Madirda. Kalau Ki Singa Yuda sudah mandi di telaga itu, tubuh dan wajah Ki Singa Yuda akan kembali muda belia. Tidak hanya sesaat, tetapi akan awet muda selamanya. Jadi, bersedia, ya, Ki Singa Yuda, menerima hadiah sayembara, untuk mengawini puteri junjungan kami?” desak Patih Wanara Tinaya.  Puteri Puspita Wanari yang ada di sampingnya tersenyum malu-malu. Ada perasaan senang dan bangga pada puteri itu kalau dapat diterima menjadi istri orang gagah yang ada di hadapannya. Tetapi juga ada perasaan was-was penuh khawatir kalau sampai ditolak. Mukanya akan ditaruh di mana kalau puteri yang selalu diturut kehendaknya ini kini harus menerima nasib ditolak seorang rakyat jelata dari seberang?
Ki Singa Yuda masih diam kebingungan. Alasan tua ternyata bukan alasan yang tepat untuk menolak hadiah yang harus diterimanya. Alasan perbedaan alam kehidupan? Apakah mereka mau mengerti bahwa dirinya hidup di alam nyata, sedang mereka hidup di alam siluman? Nyatanya mereka sering masuk ke alam nyata, meskipun dalam ujud yang berbeda. Sedangkan dirinya sendiri sekarang sedang berada di alam mereka. Ki Singa Yuda masih kebingungan. Ia ingin menolak, tapi bagaimana caranya agar tidak menyinggung perasaan dan tidak menimbulkan amarah mereka yang merasa terhina?
Tiba-tiba arwah Ki Suro Bledeg, ayahnya, memperlihatkan diri. Ki Suro yang hanya dapat dilihat Ki Singa Yuda membisikkan petunjuk, ”Terimalah kehendak mereka tetapi tidak sepenuhnya.  Apabila nanti kamu diminta mandi di Telaga Madirda, janganlah kamu mandi, tetapi cukup membasuh muka, tangan dan kaki saja. Dengan demikian kamu maupun puteri itu tidak akan punya nafsu untuk saling berhubungan badan layaknya suami-istri. Sehingga kamu akan dapat kembali hidup di alam manusia. Dan kamu mempunyai kelincahan dan ketrampilan seperti mereka.” Setelah memberi petunjuk yang disimak baik-baik oleh Ki Singa Yuda, arwah Ki Suro Bledeg menghilang. 
“Baiklah Gusti Patih, saya menerima hadiah mengawini Puteri Puspita Wanari. Tetapi janganlah saya dipaksa untuk mengikuti ritual perkawinan sepenuhnya, karena saya juga sudah punya keluarga, meskipun tinggal anak, tetapi saya belum minta ijin padanya,” kata Ki Singa Yuda memberi syarat.
“Tidak apa. Yang penting Ki Singa Yuda tidak menolak puteri junjungan kami menjadi istri Ki Singa Yuda. Itu sudah cukup sebagai pertanda kalau Ki Singa Yuda menghargai bangsa kami. Dan kami sudah memenuhi janji kami yang diumumkan dalam sayembara,” kata Patih Wanara Tinaya.
Maka pada hari yang dianggap baik menurut petungan mereka, dilangsungkanlah pesta perkawinan antara Ki Singa Yuda dengan Puteri Puspita Wanari. Raja Wanara Kusuma yang sudah sembuh yang menikahkan mereka. Ritual mandi di Telaga Madirda pun dilaksanakan. Tetapi sesuai pesan Ki Suro Bledeg, Ki Singa Yuda tidak mau mandi. Ia hanya membasuh muka, tangan dan kaki. Begitu pun di cermin rias istana Kali Manggal, Ki Singa Yuda sudah melihat betapa wajahnya kembali muda dan tampan. Tangan dan kakinya pun sudah tidak keriput lagi. Kemudian Ki Singa Yuda diminta memakai pakaian kebesaran seorang pangeran sebagai menantu raja. Lalu pesta perkawinan, duduk di pelaminan disaksikan seluruh rakyat Negara Kali Manggal pun digelar. Usai pesta perkawinan yang cukup meriah, pasangan pengantin itu pun masuk ke kamar pengantin. Tidur di kanthil pagulingan khusus untuk pengantin. Aneh! Sebagai pengantin baru mereka sama-sama tidak punya nafsu untuk melaksanakan malam pertama yang banyak diidam-idamkan pasangan pengantin baru. Ki Singa Yuda memandang Puteri Puspita Wanari dengan perasaan kasih sayang orang tua kepada puteri kesayangannya. Sedangkan Puteri Puspita Wanari memandang Ki Singa Yuda dengan perasaan seorang puteri kepada orang tua yang sangat dihormati.
Esok harinya Ki Singa Yuda menyampaikan maksudnya untuk pulang ke rumahnya di Desa Tlogo Watu untuk minta ijin puteranya, sekaligus menjemput putera satu-satunya, Singa Taruna untuk ikut hidup bersama di Negara Kali Manggal.
“Silakan pulang minta ijin dan menjemput puteramu, kalau itu sudah menjadi kehendakmu. Hanya pesanku, sebelum keluar dari gerbang alun-alun, janganlah Ki Singa Yuda menengok ke belakang, meskipun Ki Singa Yuda mendengar orang-orang memanggil nama Ki Singa Yuda,” pesan Raja Wanara Kusuma.
“Pesan Paduka Raja akan selalu saya ingat-ingat,” kata Ki Singa Yuda. Kemudian dengan membawa bekal secukupnya, tak lupa membawa tombak pusaka Kyai Guntur Geni, Ki Singa Yuda kembali ke Desa Tlogo Watu. Keluar dari istana, sebelum melewati alun-alun, berpapasan dengan orang-orang dan para penjaga, Ki Singa Yuda tidak bertegur sapa. Paling hanya menganggukkan kepala kalau ada orang yang bertanya. Atau senyum sedikit. Tetapi setelah mulai menapakkan kaki di alun-alun, Ki Singa Yuda mendengar langkah orang mengikutinya di belakang. Orang itu, yang tak lain adalah penjaga istana memanggil namanya, memperingatkan  agar berhati-hati menapaki jalan di luar gerbang alun-alun. Jalan itu licin dan rumpil, katanya.
“Terima kasih, Prajurit Jaga,” kata Ki Singa Yuda sambil menoleh ke arah penjaga yang ada di belakangnya. Ia terpaksa menoleh ke belakang karena khawatir dikira sombong kalau berbicara tidak menghadap yang diajak bicara.
*
Karena telah melanggar pantangan seperti yang sudah diperingatkan Raja Wanara Kusuma, tiba-tiba seperti dilontarkan, Ki Singa Yuda tahu-tahu sudah ada di atas pohon besar yang tumbuh di Jurang Kali Manggal. Ia melihat pohon yang amat tinggi tempat dirinya memanjat itu jaraknya dengan bibir jurang tempat ia akan melangkah pulang, cukup jauh. Tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh, kecuali ia harus meloncat turun menginjak tanah di bibir jurang. Tetapi bagaimana ia harus melakukannya? Pohon tempat dirinya bertengger cukup tinggi, sedangkan tanah di bawah begitu rendah, apakah kakinya nanti tidak akan patah kalau jatuh ke tanah penuh bebatuan? Tapi kalau tidak dengan cara itu, lalu harus dengan cara apalagi? Akhirnya Ki Singa Yuda harus berusaha meringankan tubuhnya ketika meloncat ke tanah. Tidak ada cara lain. Tubuh Ki Singa Yuda melayang ringan ke bibir jurang. Hup! Tubuh yang besar itu mendarat ringan di tanah. Tidak terasa sakit sedikit pun.
Ki Singa Yuda segera melangkah pulang ke rumah. Langkahnya terasa ringan, sehingga ia berjalan sambil meloncat-loncat di antara pepohonan yang berbaris rapat di pinggir jalan. Ia naik ke atas pohon, saking gembiranya ia meloncat-loncat dari satu dahan ke lain dahan, dari satu pohon ke lain pohon, menuju rumahnya.
Tiba-tiba ia ingat ladang-ladang penduduk yang kemarin dijarah kera-kera liar. Ki Singa Yuda ingin melihat tanaman jagung di ladangnya, apakah masih utuh atau ikut dijarah kera-kera liar. Ki Singa Yuda berbelok ke arah ladangnya. Sampai di ladang, Ki Singa Yuda merasa lega melihat tanaman jagungnya di ladang masih utuh. Ia turun ke ladang untuk memeriksa tanamannya. Melihat jagung-jagung manis yang sudah mulai tua, tiba-tiba terbit air liur Ki Singa Yuda, ingin memakannya mentah-mentah. Ki Singa Yuda memetik sebuah jagung, dan dengan cepat mengupasnya menggunakan mulutnya, lalu dengan rakus mbrakoti jagung mentah itu. Belum puas dan belum kenyang memakan satu jagung, ia pun memetik dan memakan lagi dua, tiga buah jagung.
Tanpa sepengetahuannya, saat itu perbuatannya sedang diintip oleh Singa Taruna, anaknya yang sedang menunggui ladangnya. Singa Taruna jadi heran, kenapa sekarang ladangnya dapat disatroni sang penjarah. Apakah mantra penangkal gangguan binatang liar, hama tanaman, dan para pencuri, yang ditanam ayahnya itu sudah tidak berfungsi? Buktinya saat ini seekor kera besar yang berjalan tegak sudah dapat memasukinya dan memakan beberapa buah jagung tanamannya. Ataukah kera ini yang teramat sakti sehingga ia dapat menembus tumbal penangkal yang dipasang ayahnya?
Singa Taruna berjalan mengendap-endap mendekati kera besar yang dilihatnya. Dasar keturunan pendekar sakti konthengan, Singa Taruna tidak takut menghadapi binatang buas apa saja. Setelah dekat dengan kera besar yang sedang memakan jagungnya, tiba-tiba Singa Taruna menyikap erat kera besar tersebut. Kera besar yang tidak menduga akan ditangkap dan disikap erat sedemikian kuatnya dari belakang, secara spontan berteriak-teriak minta dilepaskan. Sambil berteriak-teriak ia berusaha mengeluarkan tenaga untuk melemparkan orang yang telah berani menyikapnya demikian kuatnya.
Kera besar yang sebetulnya adalah Ki Singa Yuda itu menoleh ke belakang, akan melihat orang yang telah berani-beraninya menangkap dirinya yang sedang memetik dan memakan jagung tanamannya sendiri. Meskipun hanya melihat sebagian anggota badannya saja, orang kalau sudah mengenal dan sering bertemu, tentu akan dapat mengenali siapa orang itu. Demikian pula dengan Ki Singa Yuda, demi melihat sebagian wajah dan bahu orang yang menyikapnya, tahulah ia bahwa orang itu adalag Singa Taruna, anaknya. Kenapa ia menyikapnya dari belakang? Apakah ia mengajaknya bercanda, untuk melepas rindu setelah beberapa hari tidak bertemu? Kalau iya, kenapa ia menyikap demikian kuat, sehingga ia seakan terkunci dan sulit bernafas? Keterlaluan sekali anak ini!
Tak tahan disikap begitu kencang, Ki Singa Yuda berteriak kuat-kuat memperingatkan anaknya, “Singa Taruna… ini aku, bapakmu! Jangan kamu sikap kuat-kuat begini, sampai aku sulit bernafas! Lepaskan aku, anakku! Aku bisa mati kehabisan nafas kalau begini terus!” Sambil berteriak-teriak, Ki Singa Yuda menguras tenaga berusaha melepaskan diri.
Singa Taruna merasakan kera besar yang berhasil ditangkapnya mengeluarkan tenaga begitu besar sambil mere-mere dan mbekes-mbekes menakutkan. Ia merasa hampir tidak kuat lagi mempertahankan  dekapannya. Kalau tidak ada bantuan dari orang lain, sebentar lagi kera besar yang ditangkapnya dengan susah payah ini tentu akan lepas. Maka Singa Taruna pun berteriak-teriak minta tolong, berharap ada orang di dekatnya mau berlari membantunya.
“Tolong….!!! Tolonggggg…!!! Aku telah berhasil menangkap kera besar. Tetapi tenaganya amat kuat. Ia hampir lepas. Tolong bantu aku memeganginya! Tolonggg…!!!” teriak Singa Taruna.
Ki Singa Yuda terkejut mendengar teriakan anaknya. Agaknya Singa Taruna tidak sedang bercanda. Mungkin ia melihat dirinya sebagai kera besar, sehingga ia bermaksud akan mencelakainya. Lebih-lebih kemudian ia mendengar langkah orang beramai-ramai mendatangi tempat ia bergumul dengan anaknya. Orang-orang desa berdatangan akan mengeroyok dan menangkapnya. Kalau benar tubuhnya sekarang sudah berubah menjadi kera besar, tentu orang-orang yang tak tahu siapa dirinya yang sebenarnya akan mencincangnya beramai-ramai. Berpikir begitu, Ki Singa Yuda lalu berteriak-teriak minta dilepaskan sambil mengeluarkan tenaga sekuat-kuatnya untuk melepaskan diri dari dekapan anaknya yang sudah tumbuh besar dan dewasa.
Singa Taruna merasakan kera besar yang ditangkapnya mere-mere dan mbekes-mbekes begitu hebat. Tenaganya pun jadi bertambah kuat berlipat-lipat, sehingga Singa Taruna jadi semakin kewalahan hingga terpaksa pegangannya terlepas. Bahkan dirinya terlempar beberapa langkah ke belakang.
Ketika Singa Taruna bangun, kera besar yang ditangkapnya telah lari sejauh-jauhnya, meloncat-loncat di antara dahan-dahan dan ranting-ranting pepohonan yang berjajar di pinggir jalan. Orang-orang desa berdatangan membantu Singa Taruna. Mereka berlari-lari mengejar kera besar yang berlari dan berloncatan di atas pohon begitu lincahnya. Orang-orang desa itu mengejar sambil melemparkan batu-batu, potongan kayu dan apa saja yang mereka temukan. Tetapi lemparannya hanya mengenai dedaunan dan ranting-ranting pohon yang bergoyang-goyang bekas dilalui Ki Singa Yuda. Ki Singa Yuda sendiri sudah lari jauh meninggalkan mereka. Tak terkejar. 
Ki Singa Yuda yang merasa telah jauh meninggalkan orang-orang yang mengejarnya, kemudian menuju ke sungai. Ia ingat di pinggir kali itu ada belik bermata air jernih. Ia merasa haus setelah makan beberapa buah jagung mentah, lalu mengeluarkan tenaga besar untuk dapat lepas dari dekapan erat anaknya yang sudah tidak mengenalinya lagi. Ia juga merasa lelah dan kegerahan setelah berlari-lari dan berloncat-loncatan menghindari kejaran orang-orang desa pada saat udara panas dibakar terik matahari. Ia ingin mencuci muka atau bahkan mandi sekalian.
Sampai di tepi sungai, Ki Singa Yuda  lalu menuruni jalan setapak di lereng sungai yang menuju ke belik mata air. Langkahnya ringan tidak seperti biasanya. Ia berloncatan di antara batu-batu dan tanah cadas yang bersembulan di jalan setapak yang tidak rata itu. Sampai di muka belik yang merupakan bak penampung air jernih yang langsung keluar dari mata air tanah, Ki Singa Yuda akan melepas baju kepangeranan pemberian Raja Wanara Kusuma. Tapi berulang kali ia mencoba melepas kancing baju, selalu tidak berhasil. Lalu ia coba tarik bagian bawah baju ke atas seperti kalau orang melepas kaos, juga tidak bisa. Ternyata baju ini demikian ketat, pas dengan tubuhnya, dan kainnya tidak elastis, tidak melar.
Akhirnya Ki Singa Yuda memutuskan tidak usah mandi. Cukup cuci muka, kaki dan tangan saja. Ia lalu membungkuk sambil tangan dibenamkan ke belik. Betapa terkejut Ki Singa Yuda, melihat bayangan wajah yang tercermin di air belik yang jernih bening. Wajah itu bukan wajahnya yang biasa ia lihat ketika bercermin ketika berdandan di rumah. Juga bukan wajah yang ia lihat di cermin rias di Keraton Kali Manggal, yang memperlihatkan wajahnya yang lebih muda dan lebih tampan. Wajah itu adalah wajah seekor kera yang menyeramkan. Kemudian ia baru sadar untuk memperhatikan tangan dan kakinya. Ia melihat tangan dan kakinya. Astaghfirullaah! Tangan dan kakinya adalah tangan dan kaki kera penuh bulu. Bukan tangan dan kaki manusia biasa. Pantas dirinya merasa ringan meloncat-loncat dari satu dahan ke dahan lainnya, dari satu pohon ke pohon lainnya.
Ia lalu melihat bayangan dirinya di belik yang berair jernih. Tubuhnya yang mengenakan baju dan celana kebesaran seorang pangeran Kerajaan Kali Manggal dalam bayangan yang terlihat di air belik ternyata adalah tubuh kera besar yang penuh bulu panjang-panjang menyeramkan. Tanpa pakaian selembar benang pun! “Pantas tidak dapat dilepas! Sebagai bagian dari tubuh, kulit berbulu ini tentu lengket menjadi satu.” Kata Ki Singa Yuda dalam hati. Jangan-jangan suaranya pun bukan lagi suara manusia, tetapi suara kera, dalam pendengaran orang lain. Sehingga teriakan-teriakan peringatannya pada anaknya, justru terdengar sebagai mere dan mbekesnya kera yang mengancam keselamatan anaknya.
 “Ini pasti ada yang tidak beres! Aku harus kembali ke Jurang Kali Manggal minta dikembalikan ke ujudku semula kepada Raja Wanara Kusuma. Aku tidak ingin anakku dan orang-orang kampungku tidak mengenali aku lagi, gara-gara aku memakai pakaian kepangeranan yang ternyata mengubah ujudku menjadi kera besar yang tidak aku inginkan,” kata Ki Singa Yuda dalam hati.
Setelah minum air belik beberapa teguk untuk membasahi kerongkongannya yang kering, lalu membasuh muka, kaki dan tangannya untuk mengurangi rasa lelah dan panas, Ki Singa Yuda berdiri. Sebentar kemudian ia sudah berada di atas sungai, lalu berlari kencang menuju Jurang Kali Manggal.
Sampai di dekat Jurang Kali Manggal, Ki Singa Yuda melihat orang-orang desa dan Singa Taruna anaknya sudah berkumpul di sana. Mereka mengepung jurang yang mereka keramatkan itu sambil berteriak-teriak minta agar penguasa Jurang Kali Manggal mengembalikan Ki Singa Yuda yang mereka sangka disekap di jurang itu.
“Hei… Penguasa Jurang Kali Manggal, lepaskan Ki Singa Yuda warga kami!” teriak Pak Lurah yang kemudian diikuti teriakan-teriakan serupa warga Desa Tlogo Watu. “Hei… Penguasa Jurang Kali Manggal, lepaskan Ki Singa Yuda, ayahku!” teriak Singa Taruna tak kalah serunya.
Ki Singa Yuda yang telah menyadari bagaimana ujud dirinya, mengendap-endap di antara gerumbul-gerumbul perdu dan pepohonan, mendekati bibir Jurang Kali Manggal. Sesampai di bibir jurang, dengan ringannya ia meloncat ke ranting pohon yang batang dan akarnya tertanam di dasar jurang. Orang-orang yang melihat Ki Singa Yuda yang mereka sangka pemimpin kera Jurang Kali Manggal, meloncat dengan cepat ke atas pohon besar lalu turun ke dasar jurang, terbengong-bengong seperti orang kecolongan. Tetapi kemudian mereka berteriak-teriak lebih ramai lagi minta dikembalikannya Ki Singa Yuda. Dan mereka mengancam akan membakar Jurang Kali Manggal kalau Ki Singa Yuda tidak dikembalikan.
*
Begitu meloncat turun, kakinya menapaki tanah Jurang Kali Manggal, Ki Singa Yuda merasa sudah berada di alun-alun Keraton Kali Manggal. Ia segera bergegas masuk ke dalam istana. Penjaga yang melihat pangeran menantu junjungannya telah kembali, memberi salam hormat. Tapi mereka menjadi heran, kenapa kali ini sang pangeran berjalan tergesa-gesa dengan sikap kurang ramah seperti ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya.
 Raja Wanara Kusuma dan Puteri Puspita Wanari yang melihat kedatangan Ki Singa Yuda menyambutnya. Mereka pun dibuat terkejut melihat sikap Ki Singa Yuda yang kurang ramah bersahabat.
“Ada apa anakku, datang-datang kamu memperlihatkan sikap kecewa dan kurang bersahabat?” tanya Raja Wanara Kusuma ingin tahu.
“Maaf Paduka Raja! Ternyata kedatangan saya ke Desa Tlogo Watu tidak disambut selayaknya sambutan kepada orang yang dihormati. Anak saya sendiri sudah tidak mengenali saya lagi, apalagi orang lain. Mereka melihat saya seperti melihat kera besar yang menjadi musuh mereka. Saya ditangkap. Ketika saya dapat melepaskan diri, mereka mengejar-ngejar dan meneriaki saya sebagai kera pengganggu yang patut diusir atau dimusnahkan! Ketika saya dapat lolos, lalu pergi ke belik, melihat bayangan wajah dan tubuh saya di air jernih, ternyata wajah dan tubuh saya memang wajah dan tubuh kera besar. Sekarang mau tidak mau saya minta dikembalikan ke ujud saya semula, sebagai manusia Ki Singa Yuda,” pinta Ki Singa Yuda.
“Kenapa bisa begitu, anakku? Apakah kamu melanggar laranganku? Apakah ketika akan melewati gerbang alun-alun, kamu menoleh ke belakang dan menyahut panggilan rakyatku?” tanya Raja Wanara Kusuma.
“Benar Paduka Raja. Saya terpaksa menoleh ke belakang karena takut dikira tidak sopan, diajak bicara orang kok tidak memandang lawan bicara,” jawab Ki Singa Yuda.
“Memang begitulah sopan santun di dunia manusia. Tetapi itulah pantangan bagi kami kepada manusia yang telah masuk ke dunia kami dan akan keluar di alam bebas sana. Maka ujud kamu pun menjadi menyerupai ujud kami. Karena kamu telah menganggap kami sederajat dengan kamu yang pantas dihormati. Tubuhmu telah berubah menjadi kera besar. Meskipun kamu merasa menjadi manusia, tetapi sebetulnya kalau kamu hidup di alam manusia kamu adalah kera besar yang hidup, makan dan bicaramu tidak seperti manusia, tetapi seperti kera. Sehingga bahasamu tidak dimengerti oleh manusia. Tetapi kamu mengerti bahasa manusia, dan bisa mengikutinya ”
“Lalu bagaimana, Paduka Raja? Saya ingin kembali ke ujud saya sebagai manusia. Biarpun tua dan hanya sebagai rakyat jelata.”
 “Barangkali sudah menjadi kehendak Tuhan Pemelihara Alam Semesta, kamu tidak berjodoh dengan anakku Puteri Puspita Wanari. Terbukti ketika kamu diminta untuk mandi di Telaga Madirda, kamu tidak mau mandi. Tetapi hanya membasuh muka, tangan dan kakimu. Sehingga kelamin dan nafsumu bukan kelamin dan nafsu kera, tetapi tetap manusia. Sehingga kamu tidak tertarik dan bernafsu melihat tubuh Puteriku Puspita Wanari. Demikian pula Puteriku Puspita Wanari pun tidak tertarik untuk berhubungan badan denganmu.   Maka karena kalian belum berhubungan badan, kamu masih bisa kembali ke ujudmu semula sebagai manusia biasa,” kata Raja Wanara Kusuma.
“Kalau begitu saya masih dapat dikembalikan ke ujud semula sebagai manusia?” sahut Ki Singa Yuda minta penegasan.
“Dengan ijin Tuhan Penguasa Alam Semesta, kamu masih dapat dikembalikan ke ujud aslimu. Aku akan berusaha untuk itu. Juga aku akan membatalkan perkawinanmu dengan puteriku, karena kalian tidak berjodoh. Bukankah sebetulnya kamu tidak menghendaki perkawinan itu? Anakku pun sudah kuberi pengertian, dan ia pun menyetujuinya,” kata Raja Wanara Kusuma kemudian.
“Terima kasih kalau Paduka Raja sudah tahu keinginan saya dan akan membantu saya mengembalikan ujud dan status saya. Saya mohon maaf  kalau ternyata saya tidak dapat memenuhi harapan Paduka Raja dan seluruh rakyat Kali Manggal,” ujar Ki Singa Yuda.
“Justru aku yang perlu minta maaf kepadamu. Aku sudah kamu tolong menyembuhkan sakitku, tidak berterima kasih, tapi justru memaksamu memenuhi keinginan rakyatku yang bertentangan dengan keinginanmu. Kita memang hidup di alam yang berbeda, seharusnya kita saling menghormati. Tidak seharusnya kita saling mengganggu atau memaksakan kehendak kepada pihak lain. Kalau kami terpaksa menjarah makanan di wilayahmu, itu semua sebetulnya karena kami terpaksa melakukannya karena makananku ludes dilalap si-wedhus gembel Merapi,” ujar Prabu Wanara Kusuma.
Alhamdulillah saat ini   tanaman-tanaman di bagian atas lereng Merapi sudah mulai tumbuh.  Pohon-pohon mulai bersemi. Biji-bijian dan buah-buahan pun sudah ada yang mulai masak. Ini semua berkah dari Tuhan Pemelihara Alam Semesta yang telah menyuburkan tanah melalui guyuran abu vulkanis Gunung Merapi pada waktu erupsi yang lalu. Oleh karenanya besok kami sudah tidak akan mengganggu tanaman di ladang kalian lagi. Kami akan mencari makan naik ke atas ke hutan yang mulai tumbuh menghijau di lereng Merapi bagian atas,” lanjut Raja Wanara Kusuma setelah berdiam diri beberapa saat.
“Lalu bagaimana caranya untuk mengembalikan saya ke ujud semula, Paduka Raja?”desak Ki Singa Yuda.
“Kamu tidak perlu khawatir Ki Singa Yuda. Hanya, kalau sekarang juga di sini kamu dikembalikan ke ujud semula sebagai manusia, kamu akan kesulitan naik ke atas sana, ke alammu sebagai manusia. Maka sebaiknya untuk sementara tetaplah kamu berujud seperti itu. Tetapi ini aku beri air sebagai sarana untuk mengembalikan tubuh dan jiwamu ke ujud semula,” kata Raja Wanara Kusuma sambil menyerahkan air putih kepada Ki Singa Yuda. Meskipun belum tahu apa guna dan bagaimana cara menggunakannya, Ki Singa Yuda menerima air putih dalam botol itu dengan penuh hormat.
“Air dalam botol ini meskipun kelihatannya hanya seperti air putih biasa, tetapi sesungguhnya ia bukan sembarang air. Ia adalah air yang diambil di Telaga Waluyo Jati di Jurang Mlumbang. Khasiatnya dapat mengembalikan ujud orang yang berubah menjadi siluman secara tidak sempurna, kembali ke ujud semula sebagai manusia. Tuangkan air putih ini ke dalam bak air, atau belik atau ember berisi air. Lalu gunakan air yang sudah bercampur itu untuk membasuh muka, tangan, kaki, dan untuk mengguyur seluruh tubuhmu. Dengan seijin Tuhan Yang Maha Kuasa, kamu akan kembali ke ujud semula, sebagai manusia seutuhnya,” ujar Raja Wanara Kusuma.
“Dan terimalah ini, pakaianmu. Barangkali kamu ingin segera mengembalikan ujudmu sebelum sampai di rumahmu. Kamu dapat memakainya, agar kamu tidak pulang dalam keadaan tanpa selembar pakaian pun,” lanjutnya.
Ki Singa Yuda menerima bungkusan yang berisi pakaiannya sendiri.
“Sekarang segeralah kamu naik ke atas. Sebelum pulang ke rumahmu, mampirlah dulu ke belik tempat kamu membasuh muka tadi. Kembalikan ujudmu sebagai manusia di sana. Tetapi berhati-hatilah melewati orang-orang yang berjaga-jaga di atas sana. Meskipun mereka adalah tetanggamu atau bahkan anakmu, mereka tidak mengenalmu. Mereka mengira kamu adalah aku si Raja Kera Jurang Kali Manggal. Mereka tentu akan mengejar-ngejarmu, melemparimu dengan batu atau apa saja yang tersedia. Dan meneriakimu minta agar mengembalikan Ki Singa Yuda kepada mereka. Jangan digubris dan jangan dilawan! Cepat tinggalkan mereka menuju ke belik untuk dapat segera berganti ujud!” nasehat Raja Wanara Kusuma. “Segera tinggalkan tempat ini, sebelum mereka menjadi marah lalu membakar tempat ini!!” lanjut Raja kera setengah mengusir.
“Lalu bagaimana dengan pakaian kepangeranan yang saya pakai ini, Paduka Raja?” tanya Ki Singo Yudo sedikit bingung.
“Jangan khawatir! Begitu kamu mandi dengan air yang sudah dicampur air dari Telaga Waluyo Jati itu, pakaian kebesaran pangeran Negara Jurang Kali Manggal itu akan lenyap kembali kepada kami,” jawab Raja Wanara Kusuma.
“Kalau bebitu saya akan menurut petunjuk Paduka Raja.”
Ki Singa Yuda menyalami Raja Wanara Kusuma, Puteri Puspita Wanari, Patih Wanara Tinaya, dan semua yang hadir di tempat itu. Mereka meneteskan air mata, menahan haru perpisahan. Ki Singa Yuda pun berlinangan air mata. Merasa haru menerima kebaikan Raja Wanara Kusuma yang telah dicelakainya. Meskipun dirinya pula yang kemudian menyembuhkannya. Apakah sesungguhnya raja siluman kera yang sakti ini  tidak mengetahui hal ini?
Dengan hormat dan hangat, kerabat Raja Wanara Kusuma menyambut salam perpisahan Ki Singa Yuda. Kemudian dengan mantap Ki Singa Yuda keluar keraton. Ia mengangguk kepada penjaga pintu gerbang alun-alun, menapaki alun-alun yang ditumbuhi rumput-rumput tebal namun terasa lembut di kaki. Keluar dari gerbang alun-alun, sekali lagi penjaga pintu gerbang keluar alun-alun mengingatkan agar hati-hati. Ki Singa Yuda hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Lalu ia meloncat-loncat di antara lempengan-lempengan batu yang tertata tidak teratur di sepanjang jalan yang dilalui. Setelah itu, tahu-tahu Ki Singa Yuda sudah ada di jalan di belakang orang-orang yang mengepung Jurang Kali Manggal.
*
Waktu itu kebetulan ada salah satu warga desa yang sedang menoleh ke belakang. Ia melihat ada seekor kera besar sedang berlari-lari menjauh. Ia langsung berteriak, “Lihat kawan-kawan, aku melihat kera besar itu sudah ada di belakang kita. Lihat itu di belakang!”
Seperti mendapat aba-aba, orang-orang memutar tubuhnya ke belakang. Mereka melihat kera besar berlari-lari dan berloncat-loncatan di antara pohon-pohon, gerumbul-gerumbul dan semak-semak demikian kencangnya. Arah yang dituju adalah ke belik yang cukup jauh dari Jurang Kali Manggal tempat mereka berada. Orang-orang segera berlari-lari sambil berteriak-teriak mengejar kera besar yang mereka sangka telah menyandera Ki Singa Yuda di sarangnya. 
Lari Ki Singa Yuda tidak terkejar oleh penduduk. Sampai di belik ia segera menuang air dalam botol ke belik yang berisi air jernih. Lalu dengan menggunakan tempurung yang sengaja ditaruh penduduk di situ untuk gayung siapa saja yang ingin mandi di belik, Ki Singa Yuda mengguyur tubuhnya. Mula-mula mukanya diguyur, seketika wajah keranya hilang berganti wajah manusia Ki Singa Yuda yang sudah tua. Lalu tangannya diguyur, seketika tangannya berubah menjadi tangan manusia. lalu kakinya diguyur, seketika kakinya berubah menjadi kaki manusia. Kemudian karena terasa segar, seluruh tubuhnya diguyur berkali-kali sampai air belik terasa hampir kering. Maka seluruh tubuhnya sekarang sudah kembali seperti sedia kala. Wajahnya  yang semula dikira menjadi lebih tampan dan lebih muda, tetapi yang sesungguhnya wajah itu telah berubah menjadi wajah kera yang menakutkan, kini sudah kembali menjadi wajah Ki Singa Yuda yang memang sudah tua dan mulai keriput. Tapi itulah wajahnya sendiri yang mau tidak mau harus disyukuri.
Orang-orang yang mengejar Ki Singa Yuda beramai-ramai sampai di belik. Mereka melihat Ki Singa Yuda sedang mandi cibar-cibur seolah-olah tiada puas-puasnya mengguyur tubuhnya dengan air segar di tengah terik matahari yang membakar tubuhnya. Setelah itu mereka melihat Ki Singa Yuda mengenakan pakaian kebesaran seorang pendekar sambil menggenggam tombak bertangkai pendek.***  
                                          Pengarang: Sutardi MS Dihardjo/Masdi MSD
                                          Alamat: Dk. Bendogantungan II, RT 02 / RW 07
Desa Sumberejo, Kec. Klaten Selatan
KLATEN 57422   (JAWA TENGAH)
Nomor HP. 085642365342
Email : sutardimsdiharjo@yahoo.com
Nomor Rekening SIMPEDA BANK JATENG: 3-009-13047-2
NPWP: 87.287.888.9-525.000

Related posts:

No response yet for "Contoh Proposal Kepada Penerbit Yang Sudah Diterima"

Post a Comment