Berwisata Ke Candi Gedong Songo Bag. I

BERWISATA KE CANDI GEDONG SONGO 
 (Bagian 1: Kenangan)

Oleh: Sutardi MS Dihardjo
  
Pada bulan September tahun 1983, ketika  selesai mengikuti perpeloncoan kami mahasiswa baru Fisipol UNS oleh para senior kami diharuskan mengikuti Kemah Bakti di bumi perkemahan Candi Gedong Songo, Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Penampilan kakak senior yang pada waktu melonco nampak galak, saat itu nampak tidak galak lagi seperti ketika masih di kampus. Bahkan ada beberapa di antara kakak senior itu yang berusaha mengambil hati para yuniornya untuk dijadikan pacar. Lebih-lebih waktu berjalan mendaki dengan membawa tas dan ransel dari tempat parkir ke bumi perkemahan yang cukup menanjak.

Pak Warsono, Penulis, Arief, Wahyuni, dan Yuni (Foto Galih/28/10/2014)
Berbagai acara khas anak-anak muda sudah disiapkan oleh kakak-kakak senior. Setelah memasang tenda dan berbagai acara persiapan, malam harinya digelar acara api unggun sambil membakar kambing guling. Suasana gembira dan akrab terbangun dalam acara ini. Seperti biasa, dalam acara api unggun, nyanyi-nyanyi diiringi petikan gitar akustik,  berbagai permainan, baca puisi, dan lawakan khas mahasiswa, memeriahkan acara ini.

Yang paling mengesan pada acara api unggun ini adalah lawakan kakak senior yang bernama Si-Jack. Dia ngibuli adik-adik yuniornya habis-habisan. Dia perlihatkan buntalan kecil di genggamannya. Dia katakan buntalan itu bisa dimintai apa saja, misalnya TV, sepeda motor, mobil, makanan, dan lain-lain. Syaratnya yang minta harus mencium buntalan itu terlebih dahulu lalu menyebutkan apa permintaannya. Kawan-kawan saya berebutan mencium dan menyebutkan permintaannya, termasuk para yunior cewek yang cantik-cantik. Memang sih baunya harum karena pada lapis pertama buntalan berisi bunga mawar yang banyak terdapat di lereng sekitar Candi Gedong Songo. Tapi apa coba isinya yang sesungguhnya dalam buntalan itu? Ternyata adalah .... celana dalam yang sudah kumal, dekil dan bau. Kontan saja kawan-kawan cewek yang tadi bergairah menciumi sambil menyebutkan permintaannya.....jadi muntah-muntah! Sialan, lawakan Si-Jack keterlaluan! Tapi malah terus berkesan sampai sekarang.  

Paginya setelah mandi dan makan pagi, kami diajak keliling lokasi candi Gedong Songo yang tersebar di lereng Gunung Ungaran. Kami berjalan menyusuri jalan tanah dari Candi Gedong 1 sampai Candi Gedong 5. Di Candi Gedong 5, puncak yang tertinggi yang dapat kami daki, kami melihat ke sekeliling. Alangkah luas alam raya ini. Di sebelah utara kami melihat Gunung Ungaran, betapa indahnya dalam ketinggian, menantang para pendaki bertualang. Ke sebelah selatan kami melihat Gunung Merapi dan Gunung Merbabu nun jauh di sana, alangkah indahnya dalam keluasan alam raya. Perasaan ini diam-diam menumbuhkan keinginan saya untuk suatu saat kembali ke kompleks Candi Gedong Songo, menikmati keindahan alam dan suasananya yang sejuk dan nyaman.

Arief bergaya di samping Candi Gedong 5, latar belakang Gunung Ungaran (Foto Galih/28/10/2014)
Waktu itu saya sempat membuat sketsa gambar panorama alam yang menggambarkan keindahan alam Candi Gedong Songo dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di sebelah selatan. Satu lagi sketsa yang menggambarkan lembah yang dihiasi tenda-tenda mahasiswa Geodesi UGM, lereng-lereng yang berteras, lalu bukit dan puncak Gunung Ungaran di sebelah utara. Sayang saat ini dua sketsa itu telah hilang.

Ketika malam hari kami tidur di tenda perkemahan, tiba-tiba saya terjaga. Udara dingin masuk ke dalam tenda dari celah-celah kain tenda yang sedikit terbuka. Suara angin yang membawa hawa dingin menerobos masuk seperti suara air bah di sungai yang sedang banjir, deras mengalir. Saya jadi sulit tidur kembali. Saya rapatkan selimut. Saya lihat kawan saya yang tidur njingkrung seperti udang melengkung. Tiba-tiba saya merasa mendapat inspirasi untuk menulis puisi. Saya membayangkan masih ada sedikit bara yang tertinggal di tempat api unggun. Saya juga membayangkan diri saya sebagai selentik bara yang pijar sendiri, merenungi segala kejadian yang telah berlalu, dan membayangkan masa depan yang mungkin akan kami hadapi. Saya membayangkan, sebagai mahasiswa Fisipol kemungkinan besar kami kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin birokrasi. Tentu banyak tantangan yang akan kami hadapi. Dari perenungan ini, ketika saya kembali ke rumah kost di Gendingan, Sekarpace, Solo, setelah pulang dari perkemahan saya lalu menulis puisi  kenangan kemah bakti Fisipol UNS tahun 1983. Ternyata puisi yang saya tulis itu setelah 31 tahun berlalu masih relefan dengan situasi dan kondisi yang kita hadapi sekarang ini. Puisi itu adalah sebagai berikut:

MALAM-MALAM DI BUMI PERKEMAHAN 
CANDI GEDONG SONGO

- Kenangan kemah bakti Fisipol UNS tahun 1983

Malam kian larut
Selimut merapat
Namun dingin, angin dan kabut deras mengalir
Turun dari puncak-puncak bukit
Yang bagai mata air wingit
Mengalirkan angin
Mengalirkan dingin
Dan misteri
Menggetar daun-daun pinus
Menggigil tiang-tiang tenda

Di luar tenda
Api unggun tinggal selentik bara
Yang pijar sendiri
Menahan sepi
Merenungi gema petikan gitar
Dan dendang para mahasiswa sore tadi

Begitukah hidup
Berpijar menyala
Penuh harapan dan semangat idealisme
Berpuisi, bernyanyi, berkelakar dan berdiskusi
Menyumbang, menghibur, menolong dan bekerja bakti
Sampai kemudian di batas waktu
Tenggelam dalam urusan sendiri
Selimut merapat enggan berbagi

Begitukah hidup
Merancang harapan cerah berseri
Meniti hari mantap penuh ikhlas berbakti
Sampai kemudian di batas waktu
Tangis anak dan tuntutan istri
Bedak dan gincu, idealisme memulas pamrih pribadi
Terhempas dari mimpi, terjun dalam realita
Terhimpit kebobrokan yang telanjur melembaga

Ewuh aya ing pambudi
Arep ngedan ora tahan
Yen ra ngedan ra keduman
Beja bejane wong kang lali
Luwih beja wong kang eling lan waspada

Malam kian larut
Angin dan kabut
Dingin terus mengalir
Detak jam terasa berat merambat
Mengeja detak jantung menimbang suara hati
Menyusuri hari-hari hidupku
Dapatkah idealisme ini terus kupegang
Berenang menguasai arus
Dapat menghilir dapat memudik
Menurutkan keyakinan hati
Tak tenggelam dalam gulungan ombak
Tak terpusing pusaran badai
Tak terkandas hempasan gelombang

Ya Allah,
Cukuplah pada-Mu aku berpegang

Malam masih kental
Waktu terasa beku dan tubuhpun membatu
Tapi suasana tiba-tiba cair
Oleh polah seorang kawan
Yang menggigil kedinginan
Lupa membawa selimut siang tadi
Kesinilah merapat kawan
Aku punya selimut cukup lebar dan tebal
Kita bisa berbagi
Menghangatkan diri

Tahun 2010  saya didaulat kawan-kawan untuk menyelenggarakan reuni alumnus tahun 2003 mahasiswa STISIPOL Kartika Bangsa Yogyakarta yang berasal dari karyawan Pemda Klaten. Panitia sudah dibentuk. Rapat-rapat sudah beberapa kali dilaksanakan sebagai persiapan. Rencananya reuni dilaksanakan tidak sekedar makan-makan dan kangen-kangenan, tetapi akan dilaksanakan sambil berwisata agar lebih akrab dan berkesan. Pikir saya, ini kesempatan bagi saya untuk bernostalgia ketika kemah bakti dengan Fisipol UNS tahun 1983. Maka reuni saya usulkan di Candi Gedong Songo. Kawan-kawan setuju. Biaya lalu dihitung. Berapa untuk transport. Berapa untuk makan. Berapa untuk biaya masuk, dan lain-lain. Undangan lalu dibuat. Beberapa orang sudah ada yang membayar biaya reuni. Tapi ternyata reuni tidak jadi dilaksanakan. Apa sebab? Allah ternyata berkehendak lain. Tiba-tiba Gunung Merapi erupsi. Kami selaku karyawan Pemda Klaten, dari berbagai SKPD, mau tidak mau harus disibukkan urusan pengungsi Merapi, sejak dari bahaya itu dinyatakan dalam radius 5 Km sampai dalam radius 20 Km, yang berlangsung cukup lama.

Tetapi meskipun kami gagal melakukan reuni di Candi Gedong Songo, dalam hati saya masih ada tekad dan kerinduan untuk kapan-kapan ada kesempatan saya, syukur sekeluarga akan berwisata ke Candi Gedong Songo. Karena saya rindu kebesaran alam yang mencerminkan kebesaran Sang Pencipta. Dan kami pun mengagumi keindahan bangunan candi karya nenek moyang kita yang sudah tinggi budayanya, yang mampu membangun candi tersebar di lereng-lereng gunung yang tinggi, lereng Gunung Ungaran. 

(Bersambung ke Bagian 2


SUTARDI MS DIHARDJO

Lahir di Klaten 18 Juli 1960. PNS Kecamatan Klaten Tengah.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang akan terbit: 
1. Kumpulan Cerita Misteri ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata 
2. Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 
3. Buku Kumpulan Dongeng ”Raja Lobaningrat” Penerbit Galangpress Yogyakarata (?)

Naskah Drama: 
1. ”Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, 
2. ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar” 
3. ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten.”

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

3 Responses for "Berwisata Ke Candi Gedong Songo Bag. I"

  1. Wow mantap dan mengasikkan ni gan

    ReplyDelete
  2. Hebat Pak Tardi....sya kira hanya seorang Birokrat,eee jebule Seorang Seniman yang Ulung.....JEMPOL DOBEL dech...!!!

    ReplyDelete
  3. Hebat Pak Tardi....eeee jebule seorang Seniman Ulung panjenengan,JOSSS TENAN!!!

    ReplyDelete