Berwisata Ke Candi Gedong Songo Bag. II

BERWISATA KE CANDI GEDONGSONGO
(Bagian 2)

Oleh: Sutardi MS Dihardjo


Kenangan berkemah dan menyusuri jalan setapak di tengah-tengah kebesaran alam untuk mengunjungi kompleks Candi Gedongsongo yang tersebar di lereng Gunung Ungaran, sungguh pengalaman yang sangat mengesankan. Sekarang setelah 31 tahun berlalu, saya ingin menikmati kembali keindahan alam di Candi Gedongsongo.

Kebetulan tanggal 28 Oktober 2014 yang lalu Yuni Rahmawati Dewi, anak bungsu saya mengikuti tes seleksi CPNS di Kampus UDINUS Semarang. Sebagai orang tua yang sayang anak, saya sekeluarga mengantarnya ke Semarang mengikuti tes seleksi CPNS. Kami berenam: saya, Wahyuni istri saya, dua orang anak saya Yuni Rahmawati Dewi dan Arief Jaka Wicaksana, Galih teman anak saya, dan tetangga saya Pak Warsono sebagai sopir berangkat ke Semarang. Dari Klaten pukul 03.20 WIB. Sholat Subuh kami lakukan dalam perjalanan di Boyolali. Sebelum pukul 6 pagi kami sudah sampai di kampus UDINUS tempat anak saya akan mengikuti tes. Doakan ya semoga dia dapat lolos dan diterima menjadi CPNS.

Setelah selesai tes CPNS, kira-kira pukul 10.00 pagi kami berangkat ke Candi Gedongsongo. Mampir dulu ke kampus UNES Semarang karena anak saya Arief ada di sana ketemuan dengan temannya yang sama-sama kuliah S2 Pendidikan Sejarah di UNS Surakarta. Lalu kami melaju ke Candi Gedongsongo mengambil jalan arah pulang ke Klaten lewat Solo. Tetapi sesampai di perkebunan kopi Banaran kami putar kembali sedikit, lalu belok kiri ke arah Candi Gedongsongo lewat Bandungan. Rambu di jalan menunjukkan ke Bandungan 10 Km ke Gedongsongo 15 Km. Mobil terus melaju. Jalanan menanjak naik turun dan berliku-liku. Tapi pemandangan di kanan kiri sungguh indah. Ada banyak vila dan hotel yang asri ketika memasuki kawasan wisata Bandungan. Tapi ini bukan tujuan kami. Mobil terus melaju.

Istri saya yang takut ketinggian tak berani melihat ke luar, hanya menundukkan kepala di belakang jok mobil. Saya ledeki, kalau berwisata tak berani melihat pemandangan di luar ya tak ada gunanya. Setidak-tidaknya ya tidak tahu apa-apa yang bisa dilihat dalam perjalanan. Padahal semakin mendekati kawasan wisata Candi Gedongsongo jalanan semakin menanjak, kadang menurun dan berliku-liku, tapi di kanan kiri, di jarak dekat maupun di jarak jauh, pemandangannya sungguh indah. Di jarak dekat ada perkebunan sayur dan bunga-bunga yang ditanam di lereng yang sudah dibuat terasiring. Di jarak jauh ada bukit-bukit, Gunung Ungaran, jurang-jurang, perkotaan di bawah sana dan Gunung Merapi dan Merbabu nun jauh di sana. Sungguh sayang kalau dilewatkan dengan bersembunyi di balik jok mobil.

Yuni & Galih di pelataran Candi Gedong 5

Sesampai di pelataran parkir, bau gas belerang mulai terasa. Setelah membeli tiket masuk seharga Rp. 6.000,- X 6 orang kami segera masuk ke kawasan wisata Candi Gedongsongo di Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Yang pertama-tama kami lakukan adalah ke MCK untuk menuntaskan hajat yang sudah sejak tadi ditahan. Lalu berwudlu untuk kemudian melakukan sholat Dhuhur. Air di sini amat sangat dingin dan kran dibiarkan terus mengalir, karena nampaknya air mudah didapat, diambilkan dari mata air yang ada di kawasan wisata ini, disalurkan lewat pipa-pipa pralon. Setelah itu kami ke warung untuk makan siang. Ada beberapa warung di dekat pintu gerbang ini. Menu spesialnya agaknya adalah sate kelinci. Saya dan Arief memesan sate kelinci. Satu porsi sate kelinci berisi 10 sunduk, ditambah nasi putih: Rp. 18.000,- Istri saya memesan gado-gado. Yuni memesan nasi goreng, Galih dan Pak Warsono memesan nasi soto pisah. Ditambah air teh panas satu. Yang lainnya cukup minum air mineral yang dibawa dari rumah. Selesai makan kami membayar yang kami pesan untuk berenam cukup Rp. 65.000,- Tidak murah tetapi juga tidak terlalu mahal untuk makan di lokasi wisata. Masakannya enak.

Di dekat pintu gerbang ini selain warung-warung, masjid, MCK dan pendapa untuk pertemuan,  kita juga bisa bersantai di taman yang berisi berbagai mainan anak-anak dan patung-patung binatang seperti gajah, kuda, dan harimau. Ada juga papan peta lokasi, keterangan lokasi, dan tarip naik kuda mengelilingi obyek wisata. Istri dan anak-anak saya berfoto bersama, sementara saya menunggui yang sedang masak pesanan kami.

Panorama Indah di Sekitar Candi Gedongsongo

Selesai makan kami segera naik untuk melihat-lihat candi Gedongsongo satu per satu. Tidak usah naik kuda. Jalan kaki saja karena sudah diniati. Mendung menggantung berat di langit. Agaknya sebentar lagi hujan akan turun. Untung kami membawa payung, biarpun untuk 6 orang kami hanya membawa 4 payung. Selain untuk berteduh dari panas dan hujan, payung berguna untuk teken (tongkat penyangga tubuh) ketika jalan mendaki.

Sampailah kami di Candi Gedong 1 yang berada pada ketinggian 1.208 m.dpl. Di candi yang menghadap ke barat ini terdapat yoni tapi lingganya sudah tidak ada. Kami berfoto bersama di depan pintu candi. Candi Gedong 1 berbentuk persegi panjang yang tidak terlalu besar, dengan ketinggian sekitar 4 hingga 5 meter. Kaki candi setinggi 1 meter dihiasi pahatan relief sulur dan pahatan bunga atau padma di sekelilingnya. Pada bagian dalam badan candi terdapat ruangan sempit, sementara pada bagian luarnya terlihat polos tanpa relief. Pada bagian luar candi hanya terdapat pahatan sederhana yang berbentuk bunga seperi bingkai yang kosong di bagian tengahnya. Di atas pintu dihiasi pahatan kala, raksasa menyeringai yang hanya kelihatan bagian atasnya saja. Sehingga masuk ke dalam candi seolah-olah kita masuk ke dalam mulut raksasa tersebut.

Dari Candi Gedong 1 kami melanjutkan perjalanan ke candi berikutnya menyusuri jalan setapak yang sekarang sudah dibangun, tidak lagi jalan tanah seperti tahun 1983 ketika kami berkemah bakti dulu. Sepanjang jalan yang kami lalui dari pintu gerbang sampai candi 1, 2, 3, 4, 5, dan kembali lagi ke pintu keluar, sudah dipasang batu datar seperti tegel. Sengaja dibuat agak bertonjolan sedikit, mungkin maksudnya agar tidak licin. Kami terus naik jalan yang menanjak melingkar di antara hutan pinus. Hujan mulai turun rintik-rintik. Payung-payung kami mekarkan. Ada deretan warung makan di sini. Tapi karena kami datang tidak hari libur, tidak semua warung buka.

Ketika jalan menurun lalu berbelok ke kanan, Arief dan Pak Warsono sudah sampai di Candi Gedong 2. Istri saya mulai rewel minta kembali karena takut. Maklum waktu itu yang ada di situ hanya kami berenam. Wisatawan yang lain sudah pada turun, atau mungkin tak sampai di situ. Suasana sepi. Hujan cukup deras. Istri saya merengek minta kembali, tapi kami berlima tetap bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. Candi Gedong 2 ini terletak pada ketinggian 1.274 m.dpl. Di sini terdapat dua bangunan candi induk menghadap ke barat, dihadap sebuah candi perwara yang telah runtuh menghadap ke timur. Sisi luar badan candi di ketiga dindingnya terdapat ceruk kecil untuk meletakkan arca. Ceruk ini dihiasi dengan dua kepala naga pada bagian bawahnya, dan kalamakara pada bagian atasnya. Kami berfoto di samping Candi Gedong 2 dengan berpayung karena hujan deras.

Meskipun istri saya merengek-rengek minta kembali, tetapi kami tetap bersemangat melanjutkan ke candi berikutnya di bawah hujan yang semakin deras. Sebetulnya saya takut juga kalau-kalau ada petir menyambar, karena kami melewati tempat terbuka. Untung hujan waktu itu tak disertai petir. Kami naik melanjutkan ke Candi Gedong 3.

Candi Gedong 3 berada pada ketinggian 1.297 m.dpl. Kompleks candi ini terdiri dari 3 bangunan, yaitu candi induk menghadap ke barat, candi apit di sebelah utara dan candi perwara di depan candi induk. Arca pada relung candi induk masih dapat dijumpai, yaitu Durga bertangan delapan di relung utara. Agastya di relung selatan, Ganesha di relung timur. Mahakala dan Nandiswara terdapat di kanan kiri pintu candi.

Rengekan istri saya mengajak kembali semakin menjadi-jadi, seiring semakin derasnya air hujan. Ia amat takut melanjutkan perjalanan. Tapi kami berlima tetap bersemangat melanjutkan perjalanan. Bau belerang semakin menyengat. Dari Candi Gedong 3 ini kepulan asap belerang dari kawah kepundan yang terletak di lereng bawah terlihat memanggil-manggil kami untuk datang mendekat. Pak Warsono yang sudah lima kali mengantarkan orang wisata ke Candi Gedongsongo tetapi belum pernah mencapai di Gedong 3 dan seterusnya, karena yang diantar sudah tidak kuat lalu minta kembali, saat ini penasaran ingin terus melanjutkan perjalanan. Lebih-lebih karena kami, selain istri saya, juga bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. Memang untuk menyusuri Candi Gedongsongo dari Gedong 1 sampai Gedong 5 (karena Gedong 6, 7, 8, dan 9 tak kami ketahui letaknya), selain butuh stamina yang kuat juga diperlukan tekad yang kuat. Akhirnya istri saya tetap ikut. Di sepanjang jalan yang menurun menuju ke sumber air panas di depan kawah kepundan yang mengepulkan asap belerang, saya ajak istri saya terus berdoa memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah Sang Maha Pelindung.

Di depan kawah ada taman dilengkapi bangku beton untuk duduk-duduk beristirahat, dilengkapi MCK dan bak-bak mandi air panas berbelerang. Sayang karena istri saya terus merengek minta kembali, hujan deras dan suasana sepi, kami tak jadi mandi kungkum (berendam) di bak penampungan air panas yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Padahal ini termasuk salah satu daya tarik yang mengundang kami kemari.

Setelah berfoto ria di depan kawah kepundan yang mengepulkan asap belerang kami melanjutkan perjalanan naik menuju ke Candi Gedong 4. Candi Gedong 4 terletak pada ketinggian 1.295 m.dpl. Kelompok candi ini terdiri dari 12 bangunan yang terbagi 3 sub kelompok. Sub kelompok pertama terdiri dari candi induk dan 8 candi perwara. Sub kelompok kedua terdiri dari satu candi perwara. Dan sub kelompok ketiga terdiri dari 2 candi perwara yang letaknya terpisah agak jauh, 20 meter. Bagian luar tubuh candi induk terdapat relung-relung kosong, kecuali pada relung sisi selatan terdapat arca Agastya. Hujan masih turun dengan deras di sini.

Dari kompleks Candi Gedong 4 ini jalanan setapak naik ke Candi Gedong 5 yang terletak di ketinggian nampak menanjak minta segera disusuri. Tapi kami tidak terburu-buru, meskipun kami tahu hujan yang turun deras tidak akan melicinkan jalan yang akan kami tapaki. Kami lihat di selatan Candi Gedong 4 ini ada tanah lapang dan deretan bangunan berlantai panggung dari papan kayu di tepinya. Mungkin bangunan ini dimaksudkan untuk beristirahat setelah lelah menyusuri jalan yang naik turun, atau untuk berteduh dari panas dan hujan seperti yang kami alami saat itu.

Kami melihat ada penjual minuman dan makanan kecil di depan salah satu bangunan itu. Saya ajak rombongan kami untuk berteduh di bangunan itu sambil minum dan makan bekal yang kami bawa. Kami memesan teh panas dan kopi panas, lalu meminumnya sambil menanti hujan reda. Ada sepasang muda mudi yang sudah ada terlebih dahulu di dalam sedang menikmati minuman hangatnya. Di selatan kami melihat ada beberapa kuda, pemiliknya dan penumpangnya yang masih anak-anak berteduh menanti hujan reda di bangunan yang berlantai tanah.

Setelah hujan reda kami melanjutkan perjalanan ke Candi Gedong 5. Di pinggir jalan kami melihat ada bangku tempat duduk untuk melihat-lihat pemandangan sekeliling. Alangkah bagusnya kalau naik ke atas bangku itu lalu berfoto ria dengan latar belakang Candi Gedong 4 atau Candi Gedong 3 dan Gunung Ungaran yang kelihatan begitu megahnya. Baru sampai di sini saja kelelahan kami sudah terbayar. Satu persatu kami berfoto ria di atas bangku itu.

Naik setapak lagi akhirnya kami sampai di Candi Gedong 5 yang terletak di ketinggian 1.308 m.dpl. Kompleks candi ini terdiri dari dua halaman yang tidak sama tingginya. Di halaman pertama terdapat candi induk yang diapit dua buah reruntuhan candi perwara. Sedangkan pada halaman kedua terdapat dua buah reruntuhan candi perwara. Candi Gedong 5 bentuknya mirip dengan Candi Gedong 2. pada dinding luar candi terdapat relung yang berisi arca Ganesha dengan posisi duduk bersila.

Dari Candi Gedong 5 ini pandangan dapat lepas diarahkan ke sekeliling. Nampak Gunung Ungaran yang tinggi dan anggun karena begitu dekat, di sebelah utara. Kalau kita arahkan ke timur dan selatan, akan nampak jalan berliku-liku yang tadi kita lalui dan yang nanti akan kita turuni untuk kembali. Di kejauhan biasanya kalau cuaca cerah seperti ketika saya kemah bakti bersama Fisipol UNS tahun 1983, akan nampak deretan gunung Lawu, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Tetapi karena pada saat kami datang hari Selasa tanggal 28 Oktober 2014 ini cuaca mendung, bahkan baru saja hujan reda, hanya nampak lereng Gunung Merapi samar-samar di kejauhan. Namun demikian pemandangan di bawah kami sungguh indah menakjubkan.

Puas menikmati pemandangan alam, mengagumi ciptaan Tuhan Yang Maha Besar, sekaligus mengagumi Penciptanya yang juga kuasa memeliharanya, kami turun kembali ke tempat parkir. Di tepi jalan kami melihat dua orang petani sudah selesai memanen sayur kobis. Dengan sepeda motor yang mungkin sudah dimodifikasi khusus untuk naik-turun gunung,  mereka mengangkut kobis yang dibungkus karung menuruni jalanan yang terjal. Sungguh ini membutuhkan keberanian dan ketrampilan yang benar-benar terlatih. Kami menepi memberi jalan. Istri saya mengingatkan bapak-bapak yang berjuang demi keluarga itu agar berhati-hati.

Sebelum keluar dari obyek wisata yang butuh stamina dan keberanian ini kami melewati warung-warung makan dan tempat memajang souvenir. Tapi kami lewat saja, karena kami masih kenyang, dan rencananya akan membeli oleh-oleh di pasar Bandungan. Di sana terkenal dengan jualan sayur paketan. Waktu kami ke sana satu paket seharga       Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) mendapat 8 ikat sayur. Di pasar ini berbagai macam sayur dikemas dalam ikatan. Ada lebih dari 10 macam sayur yang masing-masing sudah diikat sendiri-sendiri. Pembeli dipersilakan membeli apa saja macam sayur yang disukai atau yang diingini. Yang penting setiap 8 ikat sayur harganyan Rp. 10.000,- macam sayur yang sudah dikat sedemikian rupa. Tapi dasar perempuan, istri saya tetap menawar tambah satu ikat loncang. Ternyata diberikan.

Riwayat Penemuan, Penelitian dan Pemugaran Candi Gedongsongo

Loten tahun 1740 menemukan kompleks Candi Gedongsongo, candi bercorak Hindu yang dibangun putra Sanjaya sekitar abad ke 7 – 8 masehi. Tahun 1804 Rafles mencatat kompleks tersebut dengan nama Gedong Pitoe karena hanya ditemukan 7 kelompok bangunan. Van Braam membuat publikasi pada tahun 1925. Friederich dan Hoopermans membuat tulisan tetang Gedongsongo tahun 1865. Tahun 1908 Van Stein Callenfels melakukan penelitian terhadap kompleks Candi Gedongsongo. Kemudian Knebel melakukan inventarisasi temuan pada tahun 1910-1911.

Penelitian oleh Dinas Purbakala baru dilakukan pada tahun 1916. kemudian dilanjutkan dengan pemugaran Candi Gedong 1 tahun 1928/1929 dan Candi Gedong 2 tahun 1930/1931. Sedangkan pada masa pemerintahan Republik Indonesia pemugaran Candi Gedong 3, 4 dan 5 dilaksanakan oleh SPSP  (sekarang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Jawa Tengah pada tahun 1977-1983. Tahun 2009 dilakukan pemugaran terhadap Candi Perwara C1 dan Konsolidasi terhadap Candi Perwara C2 di gedong 4, serta pemetaan ulang.

Pengelolaan kompleks Candi Gedongsongo dilaksanakan baik oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah maupun Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Semarang. Pelestarian Benda Cagar Budaya yang berkaitan dengan pemeliharaan candi dan lingkungan, pemugaran serta keamanannya ditangani oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Demikianlah perjalanan wisata yang saya lakukan bersama keluarga. Ternyata kami telah mengelilingi lokasi wisata yang panjangnya 2.427 meter berliku-liku naik turun mengasyikkan. Barangkali anda pun tertarik untuk mengunjungi kompleks Candi Gedongsongo? Silakan. Asal badan sehat, punya tekad yang kuat dan keberanian, ditanggung Anda akan puas. Pulang pikiran fresh dan membawa kenangan indah yang tak terlupakan, dan  kapan-kapan ingin diulangi lagi.

Koleksi foto dokumentasi berwisata ke Candi Gedong Songo

Candi Gedong 5
Wahyuni, Penulis, Arief dan Yuni di samping Candi Gedong 5 
(Foto Galih, 28/10/2014)

Dari Pelataran Candi Gedong 5 memandang ke selatan, mencari 
Gunung Merapi dan Merbabu yang bersembunyi di balik rintik hujan 
(Foto Galih, 28/10/2014)

Candi Gedong 2
Arief, Penulis dan Wahyuni di Candi Gedong 2
(Foto Galih, 28/10/2014)

Wahyuni, Penulis, Yuni dan Arief di Candi Gedong 1
(Foto Galih, 28/10/2014)

Penulis dan Wahyuni berpayung berdua di Candi Gedong 3
(Foto Galih, 28/10/2014)

Penulis di samping Candi Gedong 4 di tengah hujan deras
(Foto Galih, 28/10/2014)

Galih, Yuni dan Wahyuni berfoto di Taman Candi Gedongsongo
(Foto Arief, 28/10/2014)

Jalan menanjak menuju ke Candi Gedong 2
(Foto Galih, 28/10/2014)
Lereng gunung dibuat terasering untuk menanam sayur dan bunga-bunga
(Foto Galih, 28/10/2014)

Berteduh sambil minum kopi panas menunggu hujan reda
(Foto Galih, 28/10/2014) 

Galih & Yuni di depan kawah kepundan yang terus mengepulkan asap belerang
(Foto Arief, 28/10/2014)

Berfoto ria di jalan menuju ke Candi Gedong 5
 (Foto Galih, 28/10/2014)


SUTARDI MS DIHARDJO


Lahir di Klaten 18 Juli 1960. PNS Kecamatan Klaten Tengah.

Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013.

Buku yang akan terbit:
1. Kumpulan Cerita Misteri ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata
2. Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta.
3. Buku Kumpulan Dongeng ”Raja Lobaningrat” Penerbit Galangpress Yogyakarata (?)

Naskah Drama:
1. ”Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa,
2. ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”
3. ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten.”

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Berwisata Ke Candi Gedong Songo Bag. II"

Post a Comment