Wisata Ke Gunung Jabalkat Sekaligus Ziarah ke Makam Sunan Pandanaran Bayat

Wisata Ziarah ke Makam Sunan Pandanaran Bayat (Bagian 1)
Naik Ke Gunung Jabalkat

Oleh Sutardi MS Dihardjo


Obyek wisata yang sehari-harinya paling banyak dikunjungi wisatawan di Kabupaten Klaten adalah Makam Sunan Pandanaran di Desa Paseban Kecamatan Bayat. Selain akses jalan menuju ke lokasi yang mudah, obyek wisata ini juga menyuguhkan beraneka sajian wisata yang dapat mempesona para wisatawan. Ada pemandangan alam yang indah, karena terletak di pegunungan yang cukup tinggi. Ada arsitektur bangunan yang indah yang perlu mendapat kajian dan penelitian. Ada atraksi budaya yang menarik pada hari-hari tertentu, sebagai kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Ada souvenir dan oleh-oleh sebagai kenangan untuk dibawa pulang. Dan tentu saja nilai sejarah dan ketauladanan yang patut kita petik sebagai hikmah pelajaran, serta karomah Sunan Pandanaran yang dipandang dekat dengan Allah SWT sehingga dengan bertawasul kepadanya doa kita diharapkan dapat lebih didengar, kemudian diterima, dan dikabulkan oleh Allah Sang Maha Pencipta.

Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Klaten, dan sebagai peminat seni, sastra dan budaya sejak remaja, tentu saja saya sudah berkali-kali mengunjungi kompleks Makam Sunan Pandanaran, baik untuk sekedar berwisata maupun untuk berziarah, sejak saat remaja maupun sampai sekarang.

Dahulu ketika saya masih remaja SMP sekitar tahun 1974/1975 saya pernah berwisata ke kompleks makam ini, namun  bukannya berziarah ke makam, tetapi justru lewat di luar pagar makam lalu naik ke Gunung Jabalkat yang ada di belakang makam. Tujuan saya bersama kawan-kawan seusia waktu itu memang bukan untuk berziarah, tetapi bersepeda ria berwisata ke Gunung Jabalkat. Jalan menuju ke gunung yang legendaris ini setelah melalui samping makam, menurun lalu menanjak naik dengan berjalan kaki. Waktu itu jalan setapak yang kami lalui cukup licin, karena masih berupa tanah berumput yang di kanan kirinya ditumbuhi pepohonan dan semak-semak. Kadang-kadang kami harus berpegangan pada batang pohon yang tumbuh di tepi jalan. 

Memang melelahkan, makanya tak banyak wisatawan yang menyempatkan diri naik ke Gunung Jabalkat ini. Tetapi kalau sudah sampai di atas, sungguh pemandangan yang dapat dilihat amat menakjubkan. Memandang ke bawah kita bisa lihat petak-petak sawah, gerumbul pepohonan yang menyelimuti pedesaan, jalur-jalur jalan, kota Wedi, kota Klaten,  dan latar belakang Gunung Merapi dan Merbabu di utara, dan Pegunungan Seribu berderet di selatan dari barat ke timur melingkungi tempat kita berada.  

Yang menarik perhatian kami, sampai harus bersusah payah naik ke atas, selain untuk melihat pemandangan yang indah dari atas ketinggian tanpa penghalang, adalah cerita orang tua – orang tua kami mengenai legenda Ki Ageng Pandanaran. Mereka cerita, Ki Ageng Pandanaran setelah disadarkan Sunan Kalijaga dari sikapnya yang sangat cinta harta dan kehidupan duniawi, diminta menyusul Sunan Kalijaga ke Gunung Jabalkat. Gunung inilah yang menjadi tempat tujuan Bupati Semarang yang sudah lengser keprabon itu untuk melanjutkan pelajaran agamanya kepada Sunan Kalijaga. 

Selain itu ada cerita, katanya Masjid Gala yang sekarang berdiri megah di pinggir jalan beberapa meter di sebelah barat makam, semula dibangun di atas Gunung Jabalkat ini. Ceritanya, setiap pagi ketika Sunan Pandanaran mengumandangkan azan untuk memanggil para santrinya melakukan Sholat berjamaah, suara yang dikumandangkan tanpa pengeras suara dan tanpa disalurkan lewat kabel radio maupun televisi itu terdengar nyaring sampai ke telinga Sultan Demak yang pagi itu sedang tidur nyenyak di kratonnya Demak Bintoro. Karena merasa terganggu, sultan memerintahkan  prajuritnya agar memperingatkan Kanjeng Sunan untuk menurunkan Masjid Gala ke tempat yang lebih rendah. Tetapi rupanya sebelum para utusan itu datang, hal itu sudah diketahui lebih dahulu oleh Sunan Pandanaran. Malam itu juga Sunan Pandanaran memerintahkan para santrinya untuk menurunkan Masjid Gala ke bawah, dengan cara mengikatkan serbannya ke bangunan masjid, lalu menariknya ke bawah, hingga berada di tempatnya sekarang.

Cerita ini memang tidak masuk akal. Mungkin hanya mitos. Atau mungkin ada fakta lain yang tersembunyi di balik cerita ini. Tugas kita untuk ngonceki (mengupas) cerita yang mungkin berupa sanepa ini untuk mendapatkan makna yang sesungguhnya. Mungkin kajian terhadap cerita ini dapat menemukan hubungan sosial politik antara penguasa Demak dengan Sunan Pandanaran yang ada di pedalaman waktu itu.

Yang jelas sampai saat ini masih dapat dijumpai umpak bekas Masjid Gala di puncak Gunung Jabalkat.  Dan ketika kami naik ke atas Gunung Jabalkat dulu kami jumpai ada gubug bambu di atas sana.

Nama Jabalkat sendiri mungkin diambilkan dari kata Jabal Qof yang dalam hadis dikatakan sebagai gunung yang dicipta oleh Allah dari jamrud yang hijau. Di baliknya terdapat sebidang tanah putih yang tiada tumbuhannya, luasnya tujuh kali luas dunia, yang dipenuhi oleh para malaikat. 

Sayangnya Gunung Jabalkat ini jarang dikunjungi wisatawan. Ketika saya datang ke Makam Sunan Pandanaran hari Minggu tanggal 9 November 2014 yang lalu, sangat banyak sekali para wisatawan dari luar daerah yang datang untuk berziarah. Parkir bus sampai tak tertampung di pelataran parkir. Hingga mereka terpaksa harus parkir di pinggir jalan sampai di bawah Masjid Gala yang terletak beberapa ratus meter dari pintu gerbang makam. Tetapi tidak saya lihat berbondong-bondongnya wisatawan yang naik mendaki bukit menuju ke puncak Gunung Jabalkat. Mungkin karena waktu mereka sempit, karena buru-buru akan melanjutkan perjalanan ke tempat ziarah yang lain, karena biasanya ziarah ke Makam Sunan Pandanaran merupakan bagian dari paket Ziarah Walisanga. Tetapi mungkin juga mereka enggan naik ke atas sana karena jalan ke sana masih sulit, belum dibuat jalan setapak dengan tatanan lempengan batu seperti kalau kita naik ke Candi Gedongsongo. Ini merupakan tantangan bagi Dinas Pariwisata kabupaten Klaten untuk membenahi kompleks Makam Sunan Pandanaran, terutama jalan naik menuju ke Gunung Jabalkat, yang mungkin akan lebih menarik minat wisatawan.

Turun dari Gunung Jabalkat di samping pagar makam, kita akan bertemu dengan deretan warung-warung yang menjual berbagai makanan oleh-oleh seperti intip (kerak nasi), gula kacang, jenang ayu, madu dan lain-lain. Begitu juga di tangga naik/turun, kita juga dapat menjumpai berbagai barang souvenir dan jajanan oleh-oleh. Ada berbagai pakaian batik, gerabah, juga intip dan jenang ayu, madu asli, dan lain-lain. Di halaman makam di bawah ada penjual makanan dan minuman. Yang khas di sini adalah minuman dhawet Bayat yang disajikan di dalam mangkok dari gerabah/tanah. Setelah lelah dan kepanasan dari atas, minum dhawet campur es segar rasanya.

Nah siapa akan napak tilas perjalanan Ki Ageng Pandanaran, dari Semarang – Salatiga – Boyolali – Desa Puluh Watu di Kecamatan Karangnongko Klaten – Kecamatan Wedi – Kuntulan di Kecamatan Wedi – lalu naik ke Gunung Jabalkat di Kecamatan Bayat? 
Silakan! Petualangan mengasyikkan dan bersejarah menanti Anda.
****

kamigilan

SUTARDI MS DIHARDJO

Lahir di Klaten 18 Juli 1960. PNS Kecamatan Klaten Tengah. Bekerja sebagai PNS Kecamatan Klaten Tengah

Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 
Buku yang akan terbit: 
  1. Kumpulan Cerita Misteri ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata 
  2. Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 
  3. Buku Kumpulan Dongeng ”Raja Lobaningrat” Penerbit Galangpress Yogyakarata (?)
Naskah Drama: 
  1. “Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, 
  2. “Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar” 
  3. “Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten.”
Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo[at]yahoo.com atau SMS: 085642365342

Related posts:

No response yet for "Wisata Ke Gunung Jabalkat Sekaligus Ziarah ke Makam Sunan Pandanaran Bayat"

Post a Comment