Wisata Ziarah ke Makam Sunan Pandanaran Bayat (Bag. 2)

Wisata Ziarah ke Makam Sunan Pandanaran Bayat (Bagian 2)
Ziarah Ke Makam Sunan Pandanaran

Oleh Sutardi MS Dihardjo


Ada yang beranggapan Sunan Pandanaran, atau ada yang menyebutnya Sunan Pandan Arang II, atau Sunan Padang Aran, atau Sunan Tembayat, atau Ki/Kyai Ageng Pandanaran, adalah wali penutup dalam kelompok Walisongo. Ada juga yang beranggapan beliau adalah Wali yang kesepuluh dari Wali Sanga, atau bagian dari kesembilan Wali Sanga sebagai pengganti Syekh Siti Jenar yang dihukum mati karena mengajarkan Agama Islam dengan cara yang salah yang tidak sesuai dengan tingkat keimanan dan pemahaman agama masyarakat pada waktu itu.

Maka tidak heran kalau kebanyakan wisatawan yang datang ke obyek wisata ini adalah kelompok-kelompok pengajian, para santri dan remaja masjid, yang bertujuan untuk berziarah ke makam penyebar Agama Islam di Jawa Tengah bagian selatan, murid Sunan Kalijaga ini. Mereka datang berombongan dengan mengendarai bus-bus wisata, tak kurang dari tiga bus atau empat bus dalam satu rombongan. Kebanyakan mereka melakukan paket wisata ziarah ke makam-makam Wali Sanga yang tersebar dari Jawa Timur sampai Jawa Barat selama beberapa hari. Satu diantaranya yang termasuk dalam paket itu adalah berziarah ke Makam Sunan Pandanaran.

Lebih-lebih pada bulan Suro/Muharam dan bulan Ruwah/Sya’ban, bulan yang dianggap baik untuk berziarah, mereka rela antri untuk dapat masuk ke Gedong Intan di Bukit Cakrakembang, tempat Sunan Pandanaran di makamkan, untuk berdoa dan membacakan tahlil mendoakan arwah Sunan Pandanaran, kerabat dan para sahabatnya.

Untuk mencapai obyek wisata yang setiap Malam Jumat Kliwon dan Malam Jumat legi dipenuhi para peziarah dari berbagai penjuru ini tidak sulit. Dari arah Jalan Raya Yogya – Solo kita dapat menempuh lewat barat atau lewat timur tergantung dari mana kita memasuki Kota Klaten. Kalau kita datang dari arah Yogyakarta, sampai di pertigaan Bendogantungan kita belok ke kanan menuju kota Kecamatan Wedi, sampai di perempatan Masjid Nuurul Jaami Wedi kita belok kiri, terus saja menurutkan jalan aspal kita akan sampai di depan gapura memasuki kawasan wisata Makam Sunan Pandanaran.

Apabila kita tidak membawa kendaraan pribadi, dari bus Yogya – Solo kita dapat berhenti di pertigaan Bendogantungan, lalu kita naik bus pedesaan atau angkot yang lewat di pertigaan ini menuju ke Bayat, atau kalau ingin cepat kita bisa naik ojek sepeda motor yang mangkal di situ.

Kalau kita datang dari arah Solo, sampai di Terminal Klaten yang baru di sebelah selatan Stasiun Klaten, kita berbelok ke kiri lurus ke selatan, di perempatan dimana kita bertemu dengan jalan raya Wedi – Bayat, kita berbelok ke kiri, terus, kita akan sampai di depan gapura memasuki kawasan wisata Makam Sunan Pandanaran.

Pelataran parkir komplek makam Sunan Pandanaran cukup luas, tapi sering tidak muat hingga bus-bus pengunjung terpaksa parkir di tepi jalan raya jurusan Wedi – Bayat. Di sepanjang pelataran parkir ini, bahkan sampai naik tangga menuju ke makam, di tepi-tepinya dapat kita jumpai warung-warung penjual makanan, minuman, oleh-oleh penganan dan souvenir.


Gapura dan Tangga naik

Komplek Makam Sunan Pandanaran yang luasnya + 1,5 Ha itu dilihat dari tata letaknya mirip komplek punden berundak di jaman prasejarah, yang terdiri dari beberapa teras atau tingkatan, dimana di setiap tingkatan dibatasi dengan adanya pagar batu bata yang di tengah-tengahnya terdapat gapura, pintu gerbang atau regol sebagai penghubung antar ruang/halaman. Ada banyak gapura kita jumpai mulai dari halaman di bawah sampai nanti kita sampai di depan Gedong Intan Makam Sunan Pandanaran dan kerabatnya, yang terletak di ketinggian 860 meter di atas permukaan laut. Gapura-gapura tersebut terbuat dari batu andesit dan batu putih kekuning-kuningan. Bentuk gapura-gapura itu mengingatkan kita pada bentuk gapura percandian Hindu. Ada yang berbentuk candi bentar, dan ada pula yang berbentuk gapura paduraksa. Hanya bedanya di sini ukir-ukiran ornamen dalam gapura ini hanya berbentuk sulur-suluran dari tetumbuhan atau kotak-kotak, kecuali di atas Regol Sinaga. Tidak ada yang berbentuk binatang atau manusia, dewa atau raksasa. Memang meskipun situs ini merupakan peninggalan jaman Islam tetapi seni bangunannya menunjukkan peralihan dari pengaruh Jawa – Hindu.


Gapura Segara muncar

Yang pertama kita jumpai adalah Gapura Segara Muncar di tingkat paling bawah. Gapura ini terletak di halaman, hampir tenggelam di antara warung makan dan minuman, sehingga kurang menarik perhatian. Padahal di dalam gapura ini tertera candra sengkala dengan tulisan jawa yang berbunyi Murti Sarira Jleking Ratu (1448 Saka atau 1526 M), yang mungkin menunjukkan tahun pembuatannya.

Beberapa langkah dari Gapura Segara Muncar dibangun bangsal pertemuan yang sering digunakan untuk pengajian atau pagelaran wayang kulit pada acara Haul Sunan Pandan Arang. Sedangkan pada hari biasa digunakan untuk beristirahat para peziarah.

Apabila kita datang sudah masuk waktunya sholat lima waktu, baiknya kita sholat dulu di masjid yang didirikan di samping tempat penjualan tiket masuk. Tetapi kalau masjid sudah penuh kita pun dapat naik dulu untuk nanti sholat di atas.


Gapura Duda

Setelah membeli karcis masuk seharga seribu rupiah kita dapat langsung menaiki tangga menuju ke makam yang berjumlah + 250 anak tangga. Mestinya pintu masuk anak tangga ini dimulai dari Gapura Duda sebagai gapura kedua, tetapi gapura itu sekarang diberi pagar besi dan sekelilingnya dijadikan taman. Sedangkan tangga naik dibangun mulai dari samping Gapura Duda ini. Mungkin maksudnya agar benda cagar budaya ini tetap awet, tidak cepat rusak seperti kalau tiap hari dilalui beribu-ribu peziarah.

Menaiki 250 anak tangga memang melelahkan, tetapi kelelahan itu jadi berkurang karena di kanan kiri anak tangga kita akan disambut para pedagang yang menawarkan dagangannya berupa oleh-oleh makanan seperti jenang, terasikan, dodol, intip, madu, minuman-minuman dan bermacam-macam souvenir dari gerabah/keramik buatan Bayat atau Melikan Wedi yang terkenal, juga pakaian batik dalam berbagai warna dan corak, dan lain-lain dagangan yang khas.


Bahkan ada juga pedagang yang menjual minyak ular. Minyak yang berguna untuk menyembuhkan sakit kulit ini dijual dengan harga Rp. 10.000,- satu botol kecil. Tetapi biasanya para wisatawan belum mau membeli pada saat naik. Mereka hanya melihat-lihat saja. Maklum naik membawa badan sendiri saja sudah ngos-ngosan. Mereka baru akan membeli nanti saat turun. Hiburan untuk mengurangi kelelahan naik tangga ini juga dapat diperoleh kalau kita memalingkan muka ke belakang sambil beristirahat. Nampak deretan pegunungan seribu berlapis-lapis berwarna hijau dan biru. Di bawahnya rumah-rumah penduduk bersusun-susun berwarna merah kecoklatan gentingnya. 


Kalau kita takut kelelahan menaiki tangga yang demikian tingginya, apalagi bagi orang-orang tua yang sudah lanjut usia, kita dapat naik ojek dengan membayar uang Rp. 7.000,- untuk satu orang. Kita akan diantar lewat jalan melingkar sampai di komplek makam. Tetapi kalau kita ingin merasakan wisata ziarah ini secara lebih utuh sambil berolah raga silakan menaiki + 250 anak tangga setingkat demi setingkat.

Sampai di ujung tangga kita diharuskan melepas alas kaki. Di sini ada bangunan untuk menitipkan sandal atau sepatu. Taripnya sekedarnya dibayar nanti kalau kita kembali. Barulah kita menaiki tangga menuju pintu gerbang peristirahatan. Di dalam kompleks ini terdapat halaman yang memiliki 2 bangsal sebagai tempat peristirahatan setelah lelah menaiki tangga, sebelum melanjutkan memasuki komplek makam.


Gapura Pangrantunan


Namun bagi yang belum sempat sholat di bawah, di sini peziarah bisa berwudlu dan menunaikan sholat di Masjid Makam Sunan Pandanaran. Setelah sholat kepala rombongan diwajibkan mampir ke bangsal penerimaan tamu untuk mendaftarkan jumlah anggota dan asalnya, serta memberikan uang amal sekedarnya. Namun sebelumnya kita akan melewati sebuah gapura paduraksa yang dikelilingi pagar besi. Dulunya mestiya peziarah harus lewat di bawah atap Gapura Pangrantunan yang menghadap ke utara – selatan ini, tetapi entah sejak kapan gapura ini dikelilingi pagar besi, dan peziarah hanya lewat di depannya menuju ke bangsal penerimaan tamu yang terletak di sebelah barat gapura. Padahal di belakang gapura, di samping bangsal penerimaan tamu kita lihat sudah ada beberapa makam sahabat atau kerabat sunan.

Sebelum masuk ke komplek makam para sahabat sunan berikutnya, kita harus pintu gerbang yang dijaga petugas. Sekali lagi kita diminta mengisi kotak amal sekedarnya. Sekarang kita sudah ada di komplek makam yang di sebelah utara berdiri sebuah bangsal yang cukup luas. Di dalam bangsal dapat kita gunakan untuk beristirahat, berteduh dan berdoa ini terdapat sebuah makam dari batu berwarna putih yang panjangnya lebih dari dua kali makam pada umumnya. Ada tulisan dengan huruf jawa pada sisi selatan makam ini. Sayang tidak ada transkripnya dalam huruf latin, sehingga kebanyakan peziarah, termasuk saya, tidak tahu makam panjang ini makam siapa. 


Gapura Panemut

Komplek makam tersebut dibatasi adanya Gapura Panemut dan pagar bata. Gapura ini  di sisi dalamnya ada prasasti candra sengkala tulisan Jawa yang berbunyi ”Wisaya Hanata Wisiking Ratu” yang berarti angka tahun 1555 Saka atau tahun 1633 Masehi, tahun selesai pembangunannya oleh Sultan Agung, sebagaimana dijelaskan DR. H.J. DE Graaf dalam bukunya ”PUNCAK KEKUASAAN MATARAM Politik Ekspansi Sultan Agung”.
 

Dijelaskan pula, bahwa selain gapura tersebut Sultan Agung juga membangun pendopo kecil tempat Raja bersantap. Kemudian Patih Singaranu ditugaskan memugar makam Sunan Tembayat. Untuk pengangkutan batu-batu dari Mataram ke Bayat tidak boleh digunakan kuda-kuda angkutan, melainkan dengan cara orang-orang yang pantas, dengan penuh rasa hormat duduk bersila dalam deretan panjang, lalu membawa batu-batu itu secara beranting, bila perlu dengan 30.000 orang. Pembangunannya di bawah pengawasan Patih Singaranu, para Nayaka di Bayat, dan Panembahan Purbaya di Mataram.


Gapura Pamuncar


Setelah melewati Gapura Panemut kita akan memasuki komplek makam yang dibatasi Gapura Pamuncar. 

Gapura Bale Kencur


Setelah melewati Gapura Pamuncar kita akan berada di komplek makam yang dibatasi Gapura Bale Kencur. Di komplek makam ini di sisi selatan kita akan melihat sebuah papan yang memuat Sarasilah Susuhunan Ing Tembayat. Di sisi utara kita bisa lihat Bale Kencur dan beberapa makam. Mengenai Bale Kencur ini diceritakan dalam Babad Tanah Jawi, bahwa setelah tidak berhasil menghukum Panembahan Senopati dalam perang antara Pajang dan Mataram, Sultan Hadiwijaya kembali ke Pajang. Pulangnya mampir ke Makam Tembayat untuk berziarah dan berdoa  di Makam Sunan Pandanaran. Sayangnya waktu itu pintu makam tak dapat dibuka. Sultan lalu berdoa dari luar. Dan ia merasa kekuasaannya akan segera berakhir. Lalu Sultan tidur di Bale Kencur yang dikelilingi air dengan nyenyaknya. Paginya Sultan melanjutkan perjalanan pulang ke Pajang dengan mengendarai gajah. Tapi di tengah jalan gajah itu mengamuk sehingga Sultan terjatuh dan menjadi sakit. Terpaksa ia melanjutkan perjalanan dengan naik tandu.


Gapura Praba Yekso

Setelah melewati Gapura Bale Kencur kita memasuki ruangan yang berlantai lebih tinggi. Ruangan sempit ini merupakan lorong menuju ke Gapura Praba Yekso. Di sisi utara lorong ini kita dapatkan satu ruangan sempit berisi 4 buah makam, yaitu makam Sultan Cirebon, RA Reksa Dipa, P. Pamegah, dan R. Sumedi I.

Setelah melewati Gapura Praba Yeksa kita berada dalam suatu ruangan yang dijaga juru kunci. Di sini kita perlu memberikan uang amal sekedarnya sekali lagi. Sambil menunggu para peziarah yang ada di dalam selesai berdoa dan bertahlil, kita dapat duduk beristirahat sejenak di ruangan yang tidak begitu luas, sehingga apabila kita membawa rombongan besar, sebagian harus rela mengantri di luar Gapura Praba Yeksa ini. 

Regol Sinaga

Gedong Intan

Ruangan ini dibatasi oleh Regol Sinaga, yang mana didepan regol itu terletak dua buah gentong di kanan kirinya. Kita dipersilakan untuk minum air gentong. Tenggorokan terasa sejuk, hilanglah haus dan dahaga yang kita rasakan setelah kita menyusuri komplek makam yang terasa panas di bawah tadi.   Gentong seperti padasan yang cucuknya menyerupai kepala naga ini menyimpan cerita legendaris. Konon gentong tempat Sunan Pandanaran mengambil air wudlu ini dulu menjadi tugas dan kewajiban Syeh Domba murid Sunan Pandanaran yang dulu berkepala kambing domba karena kena sabda Ki Ageng Pandanaran ketika ia sedang membegal istrinya di Salatiga. Berulang kali Syeh Domba mengisi gentong ini dengan air yang diambilkan dari bawah ternyata tidak pernah bisa penuh. Bahkan air di gentong itu selalu habis seolah gentong itu bocor. Anehnya setelah mendapat petunjuk Kanjeng Sunan, dengan menggunnakan keranjang mata era gentong itu dapat dipenuhi. Cerita ini memang tidak masuk akal, tetapi mungkin di balik cerita yang kelihatannya simbolik ini ada hikmah yang ingin disampaikan.

Regol Sinaga adalah regol dengan tiga pintu yang sangat indah. Di atas masing-masing pintu dihiasi ornamen gambar yang mungkin mengandung maksud tertentu. Mungkin semacam sengkalan memet, atau gambar yang mempunyai arti sebagai penanda tahun pembuatan. Di atas pintu sebelah kanan dan kiri masing-masing terdapat gambar gapura paduraksa di tengah yang dihadap dua ekor singa atau anjing di kanan kirinya dengan lidah terjulur dan ekornya naik ke atas. Di atas pintu bagian tengah kita dapat melihat ada gambar bangunan seperti sebuah tugu atau atap gapura, di depannya dua ekor naga saling membelakangi, dengan ekor saling berjalinan di depan bangunan tadi. Di hadapan masing-masing naga duduk bersila seorang pertapa dalam sikap seperti sedang bersemadi. Barangkali di sinilah letak sengkalan memet itu. Tapi saya tidak tahu bagaimana membacanya sehingga diperoleh angka tahun dari gambar itu.


Gedong Intan

Setelah melalui Regol Sinaga kita akan naik beberapa tangga untuk sampai ke Gedong Intan tempat Sunan Pandanaran dan kerabatnya dimakamkan. Untuk memasuki Gedong Intan ini kita harus membungkuk, menundukkan kepala dan bersabar, karena pintu masuknya hanya satu, sempit dan rendah. Tingginya hanya 90 Cm. Mungkin ini dimaksudkan agar para peziarah bersikap sopan santun dan merendahkan diri ketika berziarah di makam orang yang dikeramatkan ini.  Pintu inilah yang dulu tidak dapat dibuka ketika Sultan Hadiwijaya akan berziarah, setelah tidak berhasil mengalahkan Mataram karena alam tidak berpihak kepadanya, Gunung Merapi meletus sehingga Sungai Opak banjir lahar, yang mengakibatkan tentara Pajang tidak dapat melanjutkan perjalanan menyerang Mataram yang ada di sebelah barat sungai.

Makam Sunan Pandanaran Bayat
Makam Sunan Pandanaran di dalam bilik kayu diselubungi kain langse

Cungkup makam Sunan Pandanaran yang disebut Gedong Intan ini luasnya 14 m X 14 m, terbuat dari batu merah, kayu dan sirap; berbentuk rumah joglo dengan atap bersusun yang di atasnya runcing. Pada puncaknya terdapat mustoko berbentuk bunga teratai. 

Jirat Makam Sunan  Pandanaran terbuat dari batu pualam putih. Pada jirat di bagian kaki sisi timur terdapat tulisan tahun Jawa 1841 atau 1911 Masehi. Angka tahun ini merupakan peringatan pada waktu Gusti Pembayun dari Surakarta memugar Makam Sunan Tembayat. Jirat makam ini terletak di dalam bilik kayu persegi panjang yang diselubungi kain langse. 

Di dalam ruangan yang kini remang-remang karena telah terpasang lampu gantung kecil dan kipas angin ini Sunan Pandanaran tidak sendirian dimakamkan. Di sebelah timurnya dua orang istri tercintanya, yaitu Nyi Ageng Kaliwungu dan Nyi Ageng Karkitan juga dimakamkan. Dan di sebelah tenggaranya juga dimakamkan para kerabat beliau. Mereka itu adalah Nyi Ageng Madalem, Pangeran Jiwo, Pangeran Winang, Kali Datuk, Kyai Sabuk Janur, Kyai Banyubiru, Kyai Malanggati, Kyai Panembahan Sumingit Wetan, Kyai Panembahan Masjid Wetan dan Panembahan Kabul. 

Di ruangan yang beberapa tahun lalu ketika beberapa kali saya berziarah, suasananya gelap gulita karena tanpa penerangan lampu, sehingga terasa sakral sekali, para peziarah memadati ruangan ini untuk berdoa dan membacakan zikir dan tahlil secara bersama-sama.

Jirat Makam Sunan Pandanaran

Selain mendoakan arwah Kanjeng Sunan, para kerabatnya, dan para sahabatnya, mereka juga berharap dengan berdoa di hadapan makam wali kekasih Allah yang mulia ini, doa mereka untuk diri sendiri dan keluarganya, lebih didengar, diperhatikan, dan dikabulkan Allah SWT.


Selesai berdoa di makam Sunan Pandanaran keluar pintu masuk yang sempit dan rendah tadi, kita dapat mengelilingi lorong di luar Gedong Intan ini. Di bagian luar bangunan utama ini kita dapat menjumpai makam dua orang sahabat Kanjeng Sunan, yaitu makam juragan Dampu Awang dan Ki Pawilangan. Dampu Awang dipercaya sebagai pedagang keturunan Tionghoa dari Semarang. Makam Dampo Awang mempunyai ukuran yang lebih panjang dari ukuran makam yang biasa. Ada mitos, siapa yang berhasil menyentuh dua batu nisan di kedua ujung makam Dampo Awang dengan kedua tangan yang dibentangkannya, maka keinginan atau cita-citanya akan terkabul. Dan bagi kerabat yang pertama menyentuh orang yang berhasil tadi juga akan mendapatkan sebagian dari berkahnya.

Sedangkan bagi siapa yang menghitung jumlah batu hias pada makam Ki Pawilangan sebanyak tiga kali putaran, dengan jumlah berbeda dan makin banyak, maka dia akan mendapat berkah, rejekinya akan selalu bertambah. Tetapi kalau hitungannya kebalikannya, maka dia juga akan mendapatkan kebalikannya.


Selesai mengelilingi bagian luar Gedong Intan kita turun kembali ke halaman parkir. Jangan lupa mampir dulu ke warung-warung yang berderet di sisi luar tembok makam. Berbagai panganan khas tersedia di situ. Yang paling laris adalah intip atau kerak nasi dan souvenir dari gerabah berupa kendi dalam berbagai bentuk, layah beserta huleg-hulegnya, keren atau tungku, dan kipas. Gerabah yang dijajakan di sini  adalah yang kecil-kecil. Kalau menginginkan yang lebih besar dan lebih banyak macamnya nanti kita dapat mampir ke Desa Melikan yang ada di pinggir jalan di sebelah barat komplek makam ini kurang lebih satu kilo meter. Bermacam-macam jenis kerajinan gerabah dan keramik yang dibuat dengan putaran miring yang sangat terkenal  ada di situ.

Sekian dulu dan terima kasih.


SUTARDI MS DIHARDJO

Lahir di Klaten 18 Juli 1960. PNS Kecamatan Klaten Tengah. Bekerja sebagai PNS Kecamatan Klaten Tengah
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang akan terbit: 
1. Kumpulan Cerita Misteri ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata 
2. Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 
3. Buku Kumpulan Dongeng ”Raja Lobaningrat” Penerbit Galangpress Yogyakarata (?)
4. Sekarang sedang menulis buku kumpulan cerita anak dengan tema dolanan bocah tempo dulu yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta

Naskah Drama: 
1. ”Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, 
2. ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar” 
3. ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten.”

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Wisata Ziarah ke Makam Sunan Pandanaran Bayat (Bag. 2)"

Post a Comment