Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: SOYANG

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu:

Oleh Sutardi MS Dihardjo


Malam Minggu yang cerah. Anak-anak sudah selesai testing, tinggal menunggu penerimaan raport kenaikan kelas. Andi, Bunga, Rini, Agus, dan Darti seperti hari-hari lain kalau tiba Malam Minggu, mereka berkumpul di halaman rumah Andi yang ada lincaknya (bangku yang terbuat dari bambu). Ada saja yang mereka lakukan. Kadang mereka hanya berkumpul untuk saling bercerita pengalaman mereka masing-masing. Baik pengalaman sehari-hari di rumah, di sekolah, maupun ketika berlibur ke rumah saudara atau di tempat-tempat wisata yang mereka kunjungi.
Kadang juga mereka bersama-sama melakukan permainan dolanan anak tradisional yang telah diajarkan kakak-kakak mereka atau orang tua mereka. Mereka bergembira ria dan bersorak-sorak riang dalam melakukan dolanan bocah tersebut.
Malam ini selain cuaca cerah, bulan pun sedang bersinar dengan terangnya. Bulan purnama yang indah, bundar kuning kemerah-merahan ketika sedang merangkak memanjat dahan dan ranting-ranting pepohonan memang selalu menarik perhatian anak-anak.
Tiba-tiba Andi meloncat turun dari lincak, lalu berjalan ke tengah halaman. Pandangannya tertuju ke bulan yang menyiram tubuhnya dengan cahaya keemasan. Sambil melambai-lambaikan tangannya, Andi lalu menyanyikan tembang dolanan dalam Bahasa Jawa:

PADHANG BULAN 1)

Yo prakanca dolanan ana njaba
Padhang mbulan padhange kaya rina
Rembulane kang ngawe-awe
Ngelikake aja turu sore-sore

Mendengar Andi menyanyikan lagu Padhang Bulan, Bunga tak mau kalah. Ia pun lalu meloncat turun ke tengah halaman. Sambil menggerak-gerakkan tangannya  seperti orang main deklamasi, Bunga pun menembangkan sebuah lagu dalam Bahasa Jawa pula:


REMBULAN 2)

Lan mbulan, mbulan gedhe
Padhang sorote
Dolanan akeh kancane
Rame...rame, kana surak
Kene surak
Maweh regenging padesan

Kali ini gantian Rini yang juga tak mau kalah, ia pun tampil ke tengah halaman sambil menunjuk-nunjuk ke atas ia menyanyikan lagu dolanan dalam Bahasa Jawa pula:

LINTANG 3)

Lintang...lintang-lintang
Ting kerlip ting kemebyar
Angrenggani antariksa
Dhuwur papane
Adoh saka kene
Sapa ta sing nata
Njejer-njejer ana kana?

Menyaksikan teman-temannya tiba-tiba bernyanyi sendiri-sendiri memuji keindahan Bulan dan Bintang, Agus dan Darti jadi bingung. Mau melanjutkan nembang tembang apa? Tiba-tiba Agus ingat pada lagu dolanan Soyang. Tapi lagu itu tidak sekedar dinyanyikan seperti yang sudah dnyanyikan Andi, Bunga dan Rini. Lagu Soyang adalah lagu dolanan yang ditembangkan mengiringi dolanan berbentuk drama anak-anak. Berpikir begitu maka Agus punya ide untuk bersama-sama melakukan dolanan Soyang.
”Kawan-kawan, mari kita bermain di halaman. Mumpung terang bulan purnama, mumpung masih luas halaman kita,” ajak Agus kepada kawan-kawannya.
”Ya, mari kita dolanan di halaman. Tapi dolanan apa yang akan kita mainkan?” tanya Darti kepada kawan-kawannya.
”Dolanan Jamuran saja. Kita berputar-putar sambil bernyanyi dan main tebak-tebakan,” kata Andi.
”Nggak mau kalau  dolanan Jamuran. Kamu kalau jadi nanti sukanya minta jamur dandang bocor saja, ya kan? Tidak ah, malu aku,” sahut Darti.
”Kalau begitu kita main Sledhur saja,” usul Rini.
”Waduh bagaimana ya? Aku sudah lupa bagaimana nyanyian dan cara mainkannya tuh. Apa kalian masih ingat cara mainkannya?” tanya Darti.
”Waduh bagaimana ya? Aku juga lupa sih,” kata Bunga.
”Aku juga lupa. Kelihatannya mainnya seperti permainan Ancak-Ancak Alis atau permainan Ular Naga. Tapi aku juga lupa lagu dolanannya,” kata Andi.
”Kalau begitu kita main dolanan yang lainnya saja,” kata Agus, ”Bagaimana kalau dolanan Soyang?”
”Ya...ya...ya, dolanan Soyang saja. Kalau yang ini aku masih ingat, meskipun mungkin tidak utuh,” kata Darti.
”Yah, mari kita dolanan Soyang,” mereka semua setuju.
”Kalau dolanan Soyang, lantas siapa yang berperan jadi Bupati, maksud saya berperan sebagai Kanjeng Adipati?” tanya Andi kepada kawan-kawannya.
Anak-anak berpandang-pandangan, mencari kira-kira siapa yang pantas berperan sebagai Bupati.
”Kayaknya kok kamu saja, Gus, yang paling cocok. Bukankah kamu juga pintar bicara, dan potongan tubuhmu pun pantas kalau jadi Bupati?” ujar  Bunga menunjuk Agus.
”Ya, aku juga setuju kalau Bupatinya diperankan Agus,” kata Andi.
”Ya, aku juga setuju! Aku juga setuju!” kata yang lain-lain memberi persetujuan.
”Ya sudah kalau begitu aku yang jadi Bupatinya. Lantas siapa Janda Dadapannya?” tanya Agus kemudian.
”Kayaknya yang paling pantas adalah Darti. Bagaimana, kawan-kawan, setuju tidak?” kata Rini mengusulkan.
”Ya, setuju! Setuju!” jawab kawan-kawan yang lainnya.
”Yang lain-lainnya, Aku, Bunga dan Rini berperan sebagai anak Janda Dadapan,” kata Andi.
”Iya, kalian menjadi anak-anak Janda Dadapan. Andi menjadi si-Enthong, Bunga menjadi si-Tumbu, dan Rini menjadi  si-Tompo. Begitu, setuju semua?” tanya Agus.
“Ya, kami setuju,” jawab Andi, Bunga dan Rini bersamaan.
“Kalau kalian sudah setuju, mari segera kita mulai permainan Soyangnya. Aku sebagai Bupati akan duduk di lincak sambil baca koran. Pura-puranya lincak ini adalah kursi goyang sang Bupati. Kemudian Janda Dadapan dengan menggandeng anak-anaknya datang menghadap kepadaku. Begitu. Oke? Kita mulai,” Agus memberi tahu adegan yang akan dilakukan.
Agus yang berperan sebagai Bupati lalu duduk di lincak sambil pura-pura membaca koran. Sementara itu Darti yang berperan sebagai Janda Dadapan menggandeng Andi, Bunga dan Rini yang berperan sebagai anak-anaknya. Mereka menghadap Bupati bersama-sama sambil menyanyikan lagu Soyang berdendang maju-mundur:


SOYANG 4)

Soyang, soyang
Mbathik-a klambi ndhuk Semarang
Ya ya bu, ya ya pa
Putraningsun, putraningsun
Adipati kula nuwun
Ndhuk cenger, ndhuk cenger
Anak kula badhe ngenger

Janda Dadapan dan anak-anaknya lalu duduk timpuh di depan Kanjeng Adipati. Janda Dadapan lalu menggerak-gerakkan tangan seperti orang sedang mengetuk pintu

JANDA DADAPAN
Dhok! Dhok! Dhok...! Permisi! Permisi, Kanjeng Adipati!

KANJENG ADIPATI
Siapa itu?

JANDA DADAPAN
Saya, Kanjeng.

KANJENG ADIPATI
Saya siapa?

JANDA DADAPAN
Saya Janda Dadapan, Kanjeng

KANJENG ADIPATI
Kamu sore-sore ke sini mau apa?

JANDA DADAPAN
Akan menggadaikan anak saya

KANJENG ADIPATI
Namanya siapa?

JANDA DADAPAN
Namanya si-Enthong

KANJENG ADIPATI
Saya terima, asalkan mau makannya nasi satu kepal, sayurnya satu tetes, sambalnya satu dulit, dan pakaiannya sesobek kain.

JANDA DADAPAN
Ya, mau..

KANJENG ADIPATI
Kalau mau, sudah, tinggalkan ia di sini.

Janda Dadapan lalu menyerahkan si-Enthong kepada Kanjeng Adipati. Si-Enthong lalu ikut di belakang Kanjeng Adipati. Adegan ini, menyanyikan lagu Soyang sambil berdendang maju mundur, lalu berdialog antara Kanjeng Adipati dengan Janda Dadapan, kemudian diakhiri dengan menyerahkan anak-anaknya, diulang-ulang sampai anak Janda Dadapan habis. Semua digadaikan kepada Kanjeng Adipati.
Di rumah Kanjeng Adipati, anak-anak Janda Dadapan disuruh bekerja keras. Mereka disuruh menyapu, mengepel lantai, menimba air mengisi bak mandi, menjerang air, membelah kayu bakar, menanak nasi, dan lain-lain. Sementara itu Janda Dadapan klintar-klinter mondar-mandir di sekitar rumah Kanjeng Adipati. Mengetahui anak-anaknya disuruh bekerja keras ia tidak rela. Maka ia bermaksud meminta kembali anak-anaknya.
Di depan Kanjeng Adipati, Janda Dadapan kembali maju – mudur mendendangkan lagu Soyang yang syairnya sudah dirubah.

SOYANG 5)

Soyang, soyang
Mbathik-a klambi ndhuk Semarang
Ya ya bu, ya ya pa
Ora lega, ora trima
Anakku disiya-siya

Soyang, soyang
Bathik pengidul Semarang
Ya ya bu, ya ya na,
manuk Endra, manuk Endra
kawan atus kawan dasa
e kawula jenggleng

Kanjeng Adipati turun dari kursi goyang lalu berjalan menemui Janda Dadapan. Ia pun menjawab Janda Dadapan dengan mendendangkan lagu:

Sinten niku, sinten niku,  6)
Dhodhog dhodhog lawang kori,
Gembok sanga kancing wesi

Lalu Janda Dadapan menjawab dengan mendendangkan lagu pula:

Inggih kula, inggih kula,  7)
Kengkenane kanjeng rama,
E kawula jenggleng

Kemudian diteruskan dialog berikut ini:

KANJENG ADIPATI
Kamu sore-sore kemari mau apa?

JANDA DADAPAN
Mau minta anak saya.

KANJENG ADIPATI
Tidak boleh! Dulu kurus aku gemukkan. Dulu kecil aku besarkan. Sekarang sudah gemuk, sudah besar, kamu minta kembali. Tidak boleh.

JANDA DADAPAN
Kalau tidak boleh ya sudah. Saya mau minta daun kelor sedikit saja.

KANJENG ADIPATI
Untuk apa?

JANDA DADAPAN
Untuk disayur.

KANJENG ADIPATI
Ambilah sendiri secukupnya di belakang.

Janda dadapan lalu ke belakang, maksudnya mau mencari anaknya mau diajak pulang. Tetapi di belakang ia justru ketemu anak-anaknya yang bertingkah laku seperti anjing, menggonggong mengejar-ngejar Janda Dadapan. Janda Dadapan berlari-lari sampai terjatuh, lalu kembali ke depan menemui Kanjeng Adipati.

JANDA DADAPAN
Bagaimana ini? Itu lho anjing Kanjeng mengejar-ngejar saya, menggigit saya, sampai kaki saya timpang.

KANJENG ADIPATI
Kemarilah! Mana yang sakit, saya obati. Tapi kamu segera pergi dari sini ya?

JANDA DADAPAN
Ya.

KANJENG ADIPATI
(Sambil mengobati kaki Janda Dadapan) Makanya kalau punya anak itu jangan banyak-banyak. Kalau tidak bisa merawat dan mencukupi seperti ini bagaimana? Digadaikan ke orang lain? Ya kalau di sana diperlakukan baik, kalau diperlakukan sewenang-wenang, hatimu kan tidak rela, hatimu kan tidak terima. Benar tidak?

JANDA DADAPAN
(mengangguk-anggukkan kepala) Ya.

KANJENG ADIPATI
Sudah. Sekarang kakimu sudah sembuh. Sekarang sana, pulang!

JANDA DADAPAN
(Berdiri) Terima kasih, . Permisi, Kanjeng.

Janda Dadapan lalu berjalan meninggalkan Bupati.

Anak-anak yang bermain Soyang lalu bertepuk tangan. Permainan Soyang sudah selesai.
”Bagus! Bagus sekali! Agus mainnya sebagai Kanjeng Adipati bagus sekali,” ujar Rini.
”Ya, Darti yang main sebagai Janda Dadapan juga bagus. Wah kalau begini kita berani tampil dalam festival dolanan bocah tradisional di pendapa Kabupaten bulan depan,” kata Andi.
”Tentu saja, asal kita giat berlatih, tidak hanya kalau pas malam bulan purnama saja,” balas Agus.
”Kalau begitu besok kita berlatih lagi, mumpung pelajaran di sekolah jadwalnya tidak ketat,” ajak Bunga.
”Ya, besok kita bermain dan berlatih lagi di sini. Besok kan bulan masih terang. Tapi karena saat ini sudah malam, mari kita pulang dulu,” ajak Darti.
”Iya, kalau kemalaman kamu takut pulang sendiri ya Dar?” tanya Andi.
”Ayah ibuku tentu cemas kalau aku main kemalaman. Makanya ayo kita segera pulang,” Darti beralasan.
”Ya sudah mari kita pulang ke rumah kita masing-masing,” ajak Agus memutuskan.
Agus, Bunga, Rini dan Darti lalu permisi kepada Andi. Mereka kemudian pulang ke rumah mereka masing-masing. Kebetulan letak rumah mereka berpencar, tidak dalam satu lorong. Andi pun lalu masuk ke rumahnya. Setelah berwudu, melakukan Sholat Isya, ia pun tertidur pulas. Perasaannya senang, maka ia pun bermimpi yang indah-indah. ***

CATATAN:
Terjemahan bebas lagu-lagu dolanan yang ada pada permainan Soyang dalam cerita di atas adalah sebagai berikut:

  1. TERANG BULAN

Mari kawan-kawan bermain di luar
Terang bulan terangnya seperti siang
Bulannya melambai-lambai
Melarang jangan tidur sore-sore

  1. BULAN

Oh bulan, bulan besar
Terang sinarnya
Bermain banyak temannya
Ramai... ramai, sana bersorak
Sini bersorak
Membuat ramai pedesaan

  1. BINTANG

Bintang... bintang-bintang
Berkelip bersinar terang
Menghiasi angkasa
Tinggi tempatnya
Jauh dari sini
Siapakah yang menata
Berjajar-jajar di sana?

  1. SOYANG

Soyang, soyang
Membatiklah baju ndhuk Semarang
Ya ya bu, ya ya pa
Anakku, anakku
Bupati permisi
Ndhuk cenger, ndhuk cenger (suara anak perepuan menangis)
Anak saya akan mengabdi

  1. SOYANG

Soyang, soyang
Membatiklah baju ndhuk Semarang
Ya ya bu, ya ya pa
Tidak rela, tidak terima
Anak saya diperlakukan sewenang-wenang

Soyang, soyang
Batik selatan Semarang
Ya ya bu, ya ya na,
Burung Endra, burung Endra
Empat ratus empat puluh
E saya jenggleng (menirukan suara benturan pintu)


  1. Siapa itu, siapa itu
Mengetuk pintu
Gembok sembilan kancing besi

  1. Iya saya, iya saya
Suruhan bapak
E saya jengleng

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: SOYANG

PENULIS: SUTARDI MS DIHARDJO
Lahir di Klaten 18 Juli 1960.

PNS Kecamatan Klaten Tengah. Menulis Cerita Misteri, Puisi, Geguritan, Cerita Pendek, Novel dan Drama
.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang dijadwalkan akan terbit akhir tahun 2014 ini: 

Kumpulan Kismis (Kisah Misteri) ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata. 

Buku lain yang akan terbit  Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 

Naskah Drama yang sudah ditulis: 

Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”, ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten”

Sekarang sedang menulis Buku Cerita Anak dengan tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu, yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: SOYANG"

Post a Comment