Contoh Cerita Anak-anak tema Dolanan Bocah Tardisional Tempo Dulu: BENTHIK

Contoh Cerita Anak-anak tema Dolanan Bocah Tardisional Tempo Dulu:

BENTHIK PADA FESTIVAL DOLANAN ANAK-ANAK TRADISIONAL

Oleh Sutardi MS Dihardjo

Dolanan bentik
Img (c) lifestyle.kompasiana.com

Siang itu Guru Pembimbing Bidang Olah Raga dan Guru Pembimbing Bidang Kesenian OSIS SMP Negeri 2 mengadakan rapat bersama para pengurus OSIS. Pak guru menyampaikan surat edaran Kepala Dinas Pendidikan bahwasanya untuk melestarikan warisan budaya tradisional, Bapak Bupati meminta anak-anak sekolah se kabupaten mengkuti Festival Dolanan Anak-anak Tradisional dan Pentas Tari Gambyong massal, pada acara Car Free Day di sepanjang Jalan Pemuda mulai Perempatan Bareng sampai depan Pertigaan Tugu Adipura.
“Seperti anak-anak ketahui bersama, setiap hari Minggu mulai pukul 06.00 WIB sampai pukul 09.00 WIB di sepanjang Jalan Pemuda diadakan kegiatan Car Free Day. Kadang-kadang ada yang mengisi acara, misalnya pentas seni panggung terbuka, atau bermacam-macam pertunjukan kreatifitas anak-anak muda atau anggota kelompok masyarakat yang ingin menunjukkan kebolehannya. Tetapi kadang-kadang tidak ada yang mengisi acara sehingga hanya digunakan untuk sekedar jalan-jalan dan berjualan makanan, pernak-pernik asesoris dan barang-barang kerajinan lainnya,” ujar Pak Guru Pembimbing Bidang Olah Raga memulai rapat OSIS.
“Nah untuk minggu pertama dan minggu kedua bulan depan Bapak Bupati menghendaki acara Car Free Day dimanfaatkan  oleh anak-anak sekolah sejak dari Sekolah Dasar sampai SMP untuk menggelar Festival Dolanan Anak-anak Tradisional dan Tari Gambyong Massal,” kata Pak Guru. Kemudian Pak Guru diam sejenak untuk melihat tanggapan pada air muka para pengurus OSIS. Tampak air muka anak-anak menunjukkan kegembiraan karena akan mendapat kesempatan mengisi acara Car Free Day.
“Harinya berbeda. Festival Dolanan Anak-anak Tradisional akan dilaksanakan hari Minggu pertama bulan depan. Jadi tinggal dua minggu lagi. Sedangkan Tari Gambyong Massal akan dilaksanakan pada minggu kedua bulan depan. Jadi tiga minggu lagi. Saya selaku Pembimbing OSIS Bidang Olah Raga akan mengajak anak-anak bermusyawarah mengenai rencana kita mengikuti Festival Dolanan Anak-anak Tradisional. Sedangkan mengenai Tari Gambyong Massal nanti biar Bu Guru Pembimbing Bidang Kesenian yang menyampaikan. Benar begitu kan, Bu Guru?” tanya Pak Guru kemudian.
”Benar, Pak Guru. Kalau mengenai Tari Gambyong massal saya kira pembicaraan nanti cukup simpel, karena pada waktu peringatan Hari Ulang Tahun Pemda tahun lalu kita juga sudah melaksanakan. Kita tinggal mengganti anak-anak yang telah lulus, kemudian melatih lagi. Tetapi mengenai Festival Dolanan Anak-anak Tradisional, baru kali ini dilaksanakan, dan mungkin kepada anak-anak ini perlu diperkenalkan dulu, maka mungkin pembicaraan akan lebih lama. Oleh karena itu saya mengalah saja. Biar bagian saya nanti belakangan saja,” ujar Bu Guru Pembimbing Bidang Kesenian.
”Memang benar kata Bu Guru tadi. Untuk Dolanan Anak-anak Tradisional memang perlu diperkenalkan dulu. Nah sebelumnya Bapak ingin bertanya, apakah anak-anak sudah mengenal permainan Pande Kopral, Pande Gendhong, Ji-Ro-Lu, Ndhas-Sikil, Benthik, Ancak-ancak Alis, Lompat Tali, Umbul Gambar, Soyang, Pot kelereng, Kasti, Gobag Sodor, dan lain-lain dolanan anak-anak tradisional? Kalau mengenal, apakah kalian juga tahu cara memainkannya dan tahu aturan-aturan permainannya?” tanya Pak Guru kepada peserta rapat yang terdiri anak-anak kelahiran tahun 2000-an.
Yang ditanya tidak segera menjawab. Mereka saling berpandang-pandangan di antara anggota pengurus OSIS. Mereka saling menanti barangkali ada temannya yang mau memulai menjawab.
”Kalau membaca di internet sebagian sudah. Tetapi kalau melihat anak-anak memainkannya, apalagi memainkannya sendiri belum. Itu pun orang-orang yang menceritakan di internet biasanya tidak utuh. Kebanyakan mereka lupa aturan main selanjutnya yang lebih rinci,” jawab Yudi ketua OSIS.
”Nah, Bapak Bupati berharap dengan adanya Festival Dolanan Anak-anak Tradisional ini, orang-orang tua yang dulu pernah memainkannya mau mengingat kembali cara memainkan dolanan anak-anak tradisional dan aturan-aturannya, lalu mau mengajarkan kepada anak-anak, agar anak-anak jaman sekarang dapat memainkannya, sehingga dolanan anak-anak tradisional ini lestari terwariskan turun temurun,” kata Pak Guru.
”Jadi kami harus minta diajari orang tua kami, Pak?” tanya salah satu pengurus OSIS.
”Untuk selanjutnya iya. Tetapi untuk persiapan Festival Dolanan Anak-anak Tradisional pada Car Free Day yang akan datang, karena waktunya sudah dekat, saya sudah mempersiapkan permainan yang segera dapat kita latih. Permainan itu adalah dolanan Benthik. Kalian tahu apa dan bagaimana itu dolanan Benthik?” tanya Pak Guru kemudian.
Kembali anak-anak tidak segera menjawab. Ternyata mereka semua tidak tahu apa dan bagaimana dolanan Benthik. Pak Guru lalu mjelaskan apa dan bagaimana permainan Benthik. Ada berbagai cara dan aturan dolanan benthik, karena anak-anak ini baru diperkenalkan dolanan benthik maka Pak Guru sengaja memilihkan cara dan aturan yang sederhana, agar pergantian pemain lebih cepat, sehingga anak-anak yang main tidak cepat bosan, terutama untuk yang kebagian jaga.
”Kalau harus membuat uwokan, bagaimana cara membuatnya di jalan raya yang sudah diaspal, Pak?” tanya salah seorang pengurus OSIS.
”Pertanyaan bagus. Memang inilah tantangan kita. Kreatifitas kita dituntut. Di jalan raya memang kita tidak mungkin menggali aspal jalan, biarpun hanya sepanjang 10 Cm, lebar 3 Cm dan kedalaman 4 Cm. Karena hal itu tentu akan merusakkan jalan, dan memngganggu lalu lintas nantinya. Yang penting kita dapat meletakkan stik pendek yang panjangnya 10 Cm yang disebut janak melintang di uwokan itu. Dan juga bisa meletakkan janak tersebut dalam posisi berdiri condong atau miring, sebagian ada di dalam lubang, sebagian yang lain berada di luar lubang. Nah apakah ada yang punya ide agar kebutuhan tersebut terpenuhi tetapi tidak harus merusak jalan?” Pak Guru melemparkan pertanyaan kepada anak-anak untuk mencari jalan keluar.
”Ada, Pak! Bagaimana kalau lubang itu kita buat dengan memasang 3 buah batu bata, satu di depan, dua di samping, di tengah-tengah antara dua buah batu bata yang ditaruh di samping kita beri antara sebagai lubang?” tanya ketua OSIS.
”Ide yang bagus! Saya kira tidak sulit kita melaksanakannya. Setuju ya, uwokan atau lubangnya kita buat dari tiga buah batu bata yang kita atur sedemikian rupa?” tanya Pak Guru minta persetujuan peserta rapat.
”Setuju, Pak,” jawab para siwa aklamasi.
”Kalau begitu kita tinggal mencari kayu stik ukuran diameter antara 2-3 Cm, panjang 30 Cm sebagai benthong dan satu lagi panjang 10 Cm sebagai janak. Hari ini juga kalian nanti mencari untuk membuat benthong dan janak dari ranting kayu petai cina atau kayu pohon jambu, atau kayu pohon apa saja yang penting kuat dan ulet, tidak mudah patah kalau dipukulkan antara benthong dan janaknya. Bagaiamana, siap?” tanya Pak Guru lagi.
”Siap, Pak!” sahut anak-anak serentak.
”Nanti setelah kayu kalian potong seukuran tadi, lalu kalian kupas kulitnya, dihaluskan agar enak dipegang, lalu dijemur agar kering dan tidak licin. Setelah peralatan siap, kalian siapkan juga anak-anak yang akan main. Besok kalian bisa mulai latihan. Mula-mula biar nanti saya yang akan melatih. Tapi nanti setelah kalian tahu cara dan aturan mainnya, kalian bisa berlatih sendiri. Bisa juga mengajak kawan-kawan yang lain agar dolanan ini dikenal dan disukai anak-anak semua,” petunjuk Pak Guru selanjutnya.
”Selanjutnya saya persilakan Bu Guru Pembimbing Bidang Kesenian untuk memimpin persiapan Tari Gambyong Massal,” Pak Guru menyerahkan acara selanjutnya kepada Bu Guru. Musayawarah mengenai persiapan Tari Gambyong Massal tidak perlu berlarut-larut. Arsip kegiatan serupa tahun lalu masih ada. Tinggal mengevaluasi kekurangannya, lalu dicarikan upaya untuk memperbaikinya, sudah dapat diputuskan persiapan-persiapan dan pelaksanaannya.
*
Hari Minggu pagi, jam 06.00 WIB Jalan Pemuda sudah banyak orang-orang jalan-jalan melakukan kegiatan Car Free Day. Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, hari Minggu ini mereka yang berjualan makanan dan hasil-hasil kerajinan ditempatkan di trotoar, sedangkan mereka yang jalan-jalan atau menonton dipersilakan di jalur lambat, di kanan kiri jalan raya. Di jalur hijau, antara jalan raya dengan jalur lambat dijaga ketat Satpol PP, Dinas Perhubungan, polisi, tentara dan anggota Tim Car Free Day lainnya. Jalan utama Jalan Pemuda khusus hari Minggu ini hanya diperuntukkan bagi siswa-siswa SD dan SMP serta pembinanya yang melakukan kegiatan Festival Dolanan Anak-anak tradisional. Sepanjang jalan utama Jalan Pemuda dari Perempatan Bareng sampai Pertigaan Tugu Adipura sudah dikapling-kapling untuk sekolah-sekolah se kabupaten, sejak dari yang ada di pelosok-pelosok perwakilan kecamatan sampai yang ada di kota, menggelar berbagai macam dolanan anak-anak tradisional.
Suasananya sungguh meriah! Pengunjung banyak sekali karena publikasinya cukup gencar dilakukan oleh panitia di mana-mana. Baliho pemberitahuan akan dilaksanakannya Festival dolanan anak-anak tradisional dan Tari Gambyong Massal dipasang di tempat-tempat strategis, termasuk di alun-alun yang menjadi pusat kegiatan Car Free Day. Juga pengumuman di radio dan surat edaran ke sekolah-sekolah dan ke Kantor Desa/Kelurahan untuk disampaikan kepada anak-anak sekolah dan semua warga. Edaran tersebut ditindaklanjuti dengan pengumuman lewat pengeras suara di masjid-masjid.
Orang-orang tua yang ingin bernostalgia mengingat kembali masa indah kanak-kanaknya dulu, meskipun sebelumnya belum pernah datang ke Car Free Day, pagi ini menyempatkan diri datang ke Car Free Day, untuk melihat dolanannya dulu ketika masih kecil yang kini digelar dimainkan cucu-cucunya.
Karena memang dianjurkan agar masing-masing sekolah menggelar dolanan anak-anak tradisional yang berbeda dengan sekolah lain, maka ada banyak macam dolanan anak-anak tradisional yang digelar di sepanjang Jalan Pemuda pagi itu. Ada sekolah yang memainkan dolanan kelereng berupa Pot dan Jirak, ada sekolah yang menampilkan dolanan Lompat tali Dhing dan Yeye, ada sekolah yang menampilkan Umbul Gambar dan Kar-karan, ada pula sekolah yang menggelar Pandhe Kopral atau Gamparan, sekolah yang lain lagi menampilkan dolanan Engklek, Soyang, Ancak-ancak Alis, Jamuran dan lain-lain. Bahkan ada sekolah yang menampilkan dolanan layangan sangkutan, juga gelut mbek-mbekan. Untuk yang menampilkan gelut mbek-mbekan, agar tidak membahayakan bagi si anak yang melakukannya di bawahnya digelar matras yang cukup empuk sebagai alas.
Sekolah SMP Negeri 2 sendiri, sekolahnya Arief karena letaknya memang di Jalan Pemuda maka mereka menggelarnya di depan sekolah. Sesuai rencana dolanan yang dimainkannya adalah Benthik. Mereka sudah berlatih selama dua minggu maka kebanyakan dari mereka yang terpilih sudah terampil melakukannya.
Yang ditunjuk di babak pertama adalah Arief, Galih dan Ratna di kelompok satu; sedangkan Yudi, Deni dan Susi berada di kelompok dua. Sebelum permainan dimulai mereka memusyawarahkan aturan permainannya terlebih dahulu, sambil mengingatkan aturan yang sudah dianggap baku. Finis bagi seorang pemain ditetapkan apabila pemain tersebut sudah mencapai nilai 50 poin.
Setelah aturan disepakati mereka melakukan suit jah-ndho-jleng. Hasil dari suit ternyata kelompok Arief pada pihak yang main, sedangkan kelompok Yudi pada pihak yang jaga. Mereka semua segera menempatkan diri. Arief di depan uwokan memegang benthong dan janak. Kawan-kawan kelompoknya ada di belakang menunggu giliran main. Sedangkan lawan mainnya ada di depannya berjaga-jaga untuk dapat menangkap janak yang terlempar nantinya.
Arief segera meletakkan janak melintang di atas uwokan. Lalu dengan benthong yang ujungnya dipegang kedua tangannya, ia mengungkit dengan sekuat tenaga janak di atas uwokan dengan ujung benthong yang lainnya. Janak melayang di udara. Yudi dan kelompoknya yang berjaga-jaga berusaha menangkap tetapi tidak bisa. Janak jatuh di tanah. Kemudian Yudi mengambil janak tersebut.
Arief lalu meletakkan benthong melintang di atas uwokan. Yudi melemparkan janak ke arah benthong tetapi tidak kena. Janak berhenti  di dekat uwokan. Arief lalu menghitung jarak antara letak berhentinya janak dengan uwokan mengunakan benthong. Ternyata ada 3 benthong jauhnya. Berarti Arief mendapat poin 3.
Arief lalu mengambil janak. Sekarang benthong dan janak ada di tangannya. Benthong di tangan kanan, janak di tangan kiri. Arief akan melakukan ilar. Yudi dan kawan-kawannya bersiap-siap menangkap janak yang mungkin akan melayang di atas mereka.
Sejenak kemudian Arief melepaskan janak di tangan kiri, yang lalu disambut dengan pukulan benthong di tangan kanan. Sayang sekali pukulan Arief meleset. Janak tetap melayang ke bawah, jatuh di jalan aspal. Tidak mengapa, masih ada satu kesempatan lagi. Arief lalu memungut janak tersebut. Sebentar kemudian janak yang dipegang ibu jari dan salah satu jari tangan kirinya dilepaskan. Dengan serta merta benthong di tangan kanan menyambutnya dengan pukulan yang kuat. Kena! Yudi dan Deni berusaha menangkapnya. Tetapi janak justru melayang di depan Susi. Namun rupanya Susi takut kalau mukanya sampai tersambar janak tersebut. Ia tidak berusaha menangkap tapi justru menghindar, sehingga janak melayang jatuh ke jalan aspal.
”Huuu......” teriak tak puas dari para penonton karena ada pemain yang menyia-nyiakan kesempatan, justru menghindarinya.
”Susi, jangan takut!” teriak kawan-kawannya.
Susi mengambil janak yang jatuh di jalan. Lalu ia melemparkannya ke arah uwokan. Kali ini lemparan itu disambut Arief dengan pukulan balik menggunakan benthong di tangannya. ”Thik!” terdengar suara benturan janak dengan benthong. Janak langsung melayang dengan deras menjauh. Lagi-lagi Yudi dan kawan-kawannya gagal menangkap. Rupanya mereka masih takut-takut untuk menangkapnya. Janak jatuh di jalan.
Arief lalu membungkuk, berjalan ke arah janak, sambil menggoreskan benthong ke jalan (tapi sebetulnya tak nampak bekasnya karena di jalan beraspal), ia mulai menghitung jarak dari uwokan ke janak dengan menggunakan benthong. Ternyata ada 15 benthong.
”Lima belas... Aku dapat 18 poin, tadi 3 sekarang 15!” teriak Arief.
Sekarang Arief akan melakukan tahap ketiga dari permainan benthik ini. Arief meletakkan janak berdiri condong di dalam uwokan. Sebagian janak masuk ke dalam lubang uwokan, sebagian yang lain menyembul ke permukaan di mulut uwokan. Setelah memperhitungkan dengan cermat, Arief memukul benthong di bagian ujung yang menyembul keluar uwokan, hingga janak tersebut terloncat ke atas. Dalam keadaan janak melayang Arief memukul janak tersebut pelan ke atas sekali lalu sekali lagi, baru kemudian memukulkan benthongnya kuat-kuat jauh ke depan.
Yudi, Deni dan Susi berusaha menangkap. Tetapi pukulan Arief terlalu keras menurut mereka, sehingga mereka ragu-ragu untuk menangkapnya. Takut tangan mereka terkena janak jadi sakit. Janak pun melayang melampaui mereka dan kemudian jatuh di jalan.
Arief lalu menghitung jarak antara uwokan dengan berhentinya janak dengan menggunakan benthongnya. Tetapi kali ini setiap hitungan dikalikan tiga kali karena ia berhasil memukul janak tiga kali sebelum janak terlempar jauh. Hitungan benthong Arief sampai janak ada 12 benthong. Ini berarti Arief mendapat 36 poin.
”Aku sudah finis. Tadi aku sudah mendapat poin 18, sekarang aku mendapat poin 36, berarti jumlah poinku ada 54, sudah melebihi 50. Jadi aku sudah finis!” teriak Arief bangga.
”Sekarang giliran Galih yang main,” kata Arief.
”Stop! Nanti dulu, apakah kami boleh memakai kaos tangan? Aku takut sakit kalau menangkap janak.  Bagaimana, boleh tidak?” tanya Susi.
”Baiklah! Kita boleh memakai kaos tangan. Boleh kan, Pak Guru?” Arief minta pertimbangan Pak Guru.
”Boleh! Silakan pakai kaos tangan agar tangan kalian tidak sakit ketika menangkap janak,” Pak Guru mengijinkan.
Susi, Yudi dan Deni lalu memakai kaos tangan yang sudah disiapkan dari tadi.
”Sudah, sekarang mulailah!” tantang Yudi.
Galih lalu meletakkan janak melintang di atas uwokan. Sebentar kemudian janak tersebut sudah melayang di udara terungkit benthong Galih. Tetapi kali ini Yudi, Deni dan Susi tidak ragu-ragu lagi untuk menangkapnya. Janak segera ditangkap Yudi dengan kedua tangannya. Sesuai dengan aturan yang sudah disepakati, Galih dinyatakan kalah, tidak boleh melanjutkan tahapan ini, sedangkan Yudi mendapat poin 10, menangkap dengan kedua tangan.
”Sekarang giliran Ratna yang main,” kata pak Guru.
Ratna lalu mengambil benthong dan janak. Janak diletakkan melintang di atas uwokan. Ratna lalu mengungkit janak ke atas dengan benthongnya. Benthong melayang tinggi di udara. Dengan kalemnya Deni menangkap dengan menggunakan tangan kanannya. Sekarang giliran Ratna yang dinyatakan kalah, dan Deni mendapat nilai poin 15 sesuai kesepakatan karena menangkap janak dengan satu tangan kanan. Penonton bersorak-sorak. Deni merasa bangga.
”Sekarang gantian kelompok Yudi yang main. Kelompok Arief jadi yang jaga,” kata Pak Guru.
Kali ini kelompok Arief gantian yang minta ijin memakai kaos tangan. Pak Guru mengijinkan. Arief, Galih dan Ratna segera memakai kaos tangan yang sudah mereka persiapkan pula.
Setelah kelompok Arief siap berjaga, Yudi segera menuju ke depan uwokan. Ia mengambil benthong dan meletakkan janak melintang di atas uwokan. Deni dan Susi menunggu giliran main di belakangnya. Sedangkan Arief, Galih dan Ratna berjaga di depan.
Ketika Pak Guru memberi aba-aba mulai, Yudi segera mengungkit janak keras-keras ke depan. Arief yang dilewati janak tersebut gagal menangkapnya. Janak jatuh di jalan.
Yudi lalu meletakkan benthong melintang di atas uwokan. Arief mengambil janak lalu melemparkannya ke arah benthong. ”Thik!” janak membentur benthong. Penonton bersorak. Yudi dinyatakan kalah. Ia tidak boleh melanjutkan ke tahap berikutnya. Ia harus mundur.
”Sekarang giliran Deni yang main,” kata Pak Guru.
Deni lalu mengambil benthong dan meletakkan janak melintang di atas uwokan. Kemudian ia mengungkit janak tersebut kuat-kuat. Tetapi janak tersebut tidak lari jauh ke depan, melainkan melayang tinggi ke atas. Galih segera berlari menuju di bawah janak yang sedang melayang turun. Kemudian dengan sigapnya Galih menangkap janak tersebut dengan tangan kirinya. Kena! Penonton bersorak. Ada yang berdecak kagum.
”Aku poin 20, menangkap dengan satu tangan kiri!” teriak Galih. Ia benar, memang begitulah aturan yang sudah disepakati. Tidak hanya itu. Kali ini pun Deni dinyatakan kalah, tidak boleh melanjutkan permainan.
Sekarang gantian Susi yang main. Setelah meletakkan janak melintang di atas uwokan, ia lalu mengungkit janak tersebut dengan benthongnya. Janak melayang jauh ke depan, gagal ditangkap kelompok Arief. Janak lalu jatuh di jalan. Arief lalu memungutnya dan melemparkannya ke arah benthong yang ditaruh melintang di atas uwokan. Ternyata lemparan Arief meleset. Setelah dihitung Susi menggunakan benthongnya, ternyata janak jatuh 4 benthong dari uwokan, yang berarti untuk tahap ini Susi sudah mendapat poin 4.
Susi lalu melanjutkan permainan ke tahap berikutnya. Kali ini ia akan melakukan ilar. Tangan kanannya memegang benthong, tangan kirinya memegang janak di antara ibu jari dan jari penunjuk. Kemudian ia melemparkan janak ke udara, lalu menyambutnya dengan pukulan benthong sekuat tenaga. Kena! Janak melayang jauh ke depan, gagal ditangkap Arief dan kawan-kawannya. Ratna lalu memungut janak yang jatuh di jalan. Kemudian ia melemparkannya ke arah uwokan.
Susi tak ingin janak jatuh masuk ke lubang uwokan yang bisa mengakibatkan dirinya dinyatakan kalah, dan bahkan  poin yang sudah diperolehnya dinyatakan hangus. Sebaliknya ia justru menginginkan tambahan poin sebanyak-banyaknya pada tahap ini. Ia lalu berusaha memukul janak yang meluncur ke arah lubang uwokan dengan benthong di tangannya. Tapi meleset. Tidak kena. Janak jatuh beberapa jengkal dari lubang uwokan. Susi lalu menghitung jarak jatuhnya janak dengan lubang uwokan dengan menggunakan benthongnya. Ternyata ada 5 benthong. Berarti Susi mendapat tambahan 5 poin.
Kini Susi melakukan permainan pada tahap ke tiga. Ia meletakkan janak miring di ujung lubang uwokan. Kemudian ia memukulkan benthongnya ke arah bagian ujung janak yang menyembul ke atas uwokan. Karena terlalu keras dan tidak tepat sasaran, janak mencelat melenceng sehingga tak terjangkau pukulan Susi berikutnya. Susi gagal yang pertama. Ia lalu mengulanginya lagi. Tetapi kali ini lebih hati-hati dan penuh perhitungan. Dan ia tak berambisi lagi untuk dapat memukul janak lebih dari satu kali. Maka ketika ujung janak sudah terpukul benthongnya, lalu janak tersebut terloncat ke atas, cepat-cepat ia pukulkan benthongnya keras-keras ke depan. Terkena pukulan benthongnya yang keras, janak pun melayang jauh ke depan. Akan tetapi di depan sudah bersiap Arief, Galih dan Ratna untuk menangkapnya. Janak tertangkap kedua tangan Galih.
Susi dinyatakan kalah. Dan Galih bertambah poin 10, sehingga ia mendapat poin 30, karena sebelumnya ia telah menangkap janak dengan tangan kiri yang bernilai poin 20.
Sekarang gantian kelompok Arief yang main, sedangkan kelompok Yudi jadi yang jaga. Namun kali ini yang main tinggal Galih dan Ratna, sedangkan Arief sudah tidak boleh main karena sudah dinyatakan finis. Seandainya pada akhir permainan nanti kelompok Arief memenangkan permainan ini, sesuai kesepakatan Arief berhak  minta gendong kepada kelompok Yudi yang dinyatakan kalah.
Begitulah permainan benthik yang dilakukan kelompok Arief dan kelompok Yudi dalam acara Festival Dolanan Tradisional pada Car Free Day  Minggu pagi itu. Penonton berjubel karena ingin menyaksikan permainan yang pernah digemari anak-anak tahun 70-an dan sebelumnya. Yang tua ingin bernostalgia. Yang muda ingin mengetahui dan mempelajari. Bapak Bupati dan para pejabat Pemda yang menyertai meninjau dan menyaksikan bermacam-macam permainan dolanan anak-anak yang digelar siswa SD dan SMP di jalur Car Free Day merasa terkesan melihat permainan yang disuguhkan anak-anak SMP Negeri 2. Namun beliau-beliau ini meskipun sangat ingin menyaksikan sampai akhir permainan, terpaksa harus meninggalkan sebelum permainan selesai. Mereka harus melanjutkan meninjau sekolah-sekolah lain yang juga menggelar permainan tradisional, dengan suguhan dolanan yang berbeda, yang tentunya juga menunggu-nunggu untuk dikunjungi, ditonton, dan diberi apresiasi. ***

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: SOYANG

         PENULIS: SUTARDI MS DIHARDJO
Lahir di Klaten 18 Juli 1960.

PNS Kecamatan Klaten Tengah. Menulis Cerita Misteri, Puisi, Geguritan, Cerita Pendek, Novel dan Drama
.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang dijadwalkan akan terbit akhir tahun 2014 ini: 

Kumpulan Kismis (Kisah Misteri) ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata. 

Buku lain yang akan terbit  Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 

Naskah Drama yang sudah ditulis: 

Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”, ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten”

Sekarang sedang menulis Buku Cerita Anak dengan tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu, yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Contoh Cerita Anak-anak tema Dolanan Bocah Tardisional Tempo Dulu: BENTHIK"

Post a Comment