Cerita Anak tema Dolanan Bocah Jadul: ANACAK-ANACAK ALIS

Cerita Anak tema Dolanan Bocah Jadul:

ANACAK-ANACAK ALIS
Oleh Sutardi MS Dihardjo

Siang hari sepulang sekolah kembali anak-anak berkumpul di halaman samping rumah Bu Komis di Dukuh Soka Desa Sumberejo. Ada delapan anak laki-laki dan perempuan sedang merencanakan akan melakukan permainan dolanan bocah. Andi sebagai anak terbesar berinisiatif mengusulkan permainan apa yang akan mereka mainkan.
”Teman-teman, bagaimana kalau kita bermain Ancak-ancak Alis saja?” ujar Andi kepada teman-temannya mengusulkan suatu jenis permainan anak-anak tradisional.
”Ancak-ancak Alis, bagaimana caranya?” tanya Sri minta penjelasan. Ia merasa baru pertama kali mendengar nama permainan yang satu ini.
“Begini. Dipilih dua orang yang berbadan sama tinggi, sama besar dan sama kuat sebagai  petani yang nanti akan berperan sebagai gapura atau pintu gerbang. Dua orang ini nanti akan memisahkan diri dari anak-anak yang lain untuk memilih nama. Nama yang digunakan biasanya adalah nama-nama alat pertanian, misalnya luku (Perlengkapan membajak sawah yang terbuat dari kayu panjang dan mempunyai mata bajak dari besi yang tajam di bawah, gunanya untuk membalikkan tanah dari kedalaman mata bajak ke atas permukaan) atau garu (Perlengkapan membajak sawah yang terbuat dari batang bambu besar dan batang kayu yang dipasang melintang dengan gigi-gigi dari besi tertancap di bawahnya, gunanya untuk mencacah dan menghaluskan tanah yang dibajak), atau cangkul, atau sabit. Nama ini harus dirahasiakan dari semua peserta, makanya dipilih secara berbisik, jauh dari teman-teman lainnya,” jelas Andi.
”Kalau sudah mendapat nama bagi dua orang itu, lalu bagaimana?” tanya Agus ingin tahu penjelasan selengkapnya.
”Kalau dua orang itu sudah mendapat nama, mereka akan kembali kepada anak-anak lainnya. Mereka akan berdiri saling berhadap-hadapan, mengangkat kedua tangannya, saling bertemu kedua telapak tangan dua orang itu, membentuk gapura atau pintu gerbang. Mereka tidak diam saja, tetapi mereka selalu menggerakkan tangannya bertepuk satu sama lain sambil menyanyikan lagu Ancak-ancak Alis,” jelas Andi lebih lanjut.
”Lalu kalau yang main hanya dua orang, yang lainnya disuruh apa?” ganti Bunga yang bertanya.
”Yang lainnya juga ikut bermain, tetapi sebagai petani yang berbaris berjalan membentuk ular-ularan dan melewatu gapura yang dibuat dua temannya itu,” jawab Andi. Kemudian Ia menjelaskan cara memainkan dan aturan-aturan dalam permainan Ancak-ancak Alis secara lengkap.Teman-temannya mendengarkan penjelasan Andi dengan sungguh-sungguh. Mereka merasa mendapat jenis permainan yang baru, meskipun sebetulnya beberapa anak di antara mereka merasa pernah melihat permainan semacam itu, aturannya hampir sama, tetapi nama dan syair lagu yang dinyanyikan berbeda.
”Lalu bagaimana syair lagu Ancak-ancak Alis dan syair lagu selingannya yang harus kita nyanyikan?” tanya Asih.
”Jangan khawatir, lagunya tidak sulit kok. Saya sudah membuat catatan untuk syair lagu Ancak-ancak Alis maupun beberapa syair lagu selingannya. Nanti sebelum main kita dapat mempelajarinya bersama,” kata Andi. Setelah itu Andi membagikan catatan syair lagu Ancak-anacak Alis dan selingannya kepada teman-temannya. Kemudian mereka dengan dipimpin Andi mencoba menyanyikannnya bersama. Ternyata mereka cepat hafal, karena memang syairnya tidak panjang dan mudah diingat, meskipun sebetulnya bagi mereka ada kata-kata yang tidak diketahui maknanya, tetapi mereka tetap menghafalkannya. Setelah berlatih beberapa saat Asih merasa ingat sesuatu.
”Aku kok merasa pernah memainkan dolanan seperti ini. Tetapi apa ya namanya? Aku kok lupa,” kata Asih sambil mengingat-ingat dolanan yang pernah dikenalnya yang pernah diajarkan kakaknya.
”Aku mendapat dolanan Ancak-ancak Alis ini ketika aku semesteran lalu berlibur ke rumah pamanku di Sleman Yogyakarta. Aku melihat anak-anak bermain seperti itu. Kelihatannya ramai sekali. Aku lalu minta diajari kepada saudara sepupuku. Tetapi entah, apakah yang aku serap ini sudah benar atau belum, sudah lengkap atau belum, aku kurang tahu. Maklum aku di sana hanya beberapa hari. Barangkali kalau saudara sepupuku ada di sini ia bisa membetulkan atau melengkapi yang kurang sempurna,” ujar Andi berterus terang.
”Tidak apa-apa kalau kurang sempurna. Yang penting kita dapat memainkannya, meskipun hanya sesuai yang kita bisa. Katakan itu adalah versi kita,” kata Eny.
Tiba-tiba Asih berteriak kesenangan, ”Aku ingat sekarang, kalau tidak salah permainan Ancak-ancak Alis ini seperti permainan ’Sledur’ yang pernah diajarkan kakakku. Sayangnya aku lupa syair lagunya.”
Asih berjalan mondar-mandir mencoba mengingat-ingat syair lagu pengiring permainan Sledur.
”Yang aku ingat hanya ini,” setelah diam beberapa saat kemudian Asih lalu menyanyikan lagu dolanan Sledur tetapi tidak lengkap, ”Sledur...Sledur, Pak Mantri dahar bubur.....Waduh bagaimana ya aku lupa kelanjutannya?”
”Kalau tak ingat tak usah dipaksakan. Nanti minta diajari kakaknya lagi. Aku sendiri juga merasa kalau permainan Ancak-ancak Alis ini hampir sama dengan permainan yang pernah aku lihat di Jakarta, ketika aku berkunjung ke rumah famili di Jakarta. Ya aku ingat dolanan Ancak-ancak Alis ini kalau tidak salah hampir sama dengan permainan Ular Naga. Perbedaannya pada syair lagunya. Sedangkan kedua pemain berhadap-hadapan dengan kedua tangan pemain di atas membentuk gapura, lalu pemain yang lain berbaris dan bergerak-gerak membentuk seperti ular naga, mencari teman sebanyak-banyaknya, hampir sama,” kata Dony yang pernah berlibur di Jakarta ke rumah familinya.
”Benar! Aku juga pernah melihat anak-anak memainkan dolanan ular naga. Memang seperti Ancak-ancak Alis ini. Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo segera kita bermain Ancak-ancak Alis. Kalau nanti kita kesulitan lanjutannya kita diskusikan, kita cari bagaimana baiknya agar permainan dapat berlanjut,” ajak Dewi.
”Ya, mari kita segera mulai! Yang berperan sebagai petani yang nanti akan menjadi gapura, aku sama Dony. Bagaimana? Setuju?” Andi menawarkan diri sekaligus menunjuk Dony sebagai pasangannya.
”Setuju!!!” jawab anak-anak serempak.
”Nanti dulu! Jangan keburu! Harus kita tentukan dulu. Kalau misalnya nanti permainan sudah hampir selesai, sudah diketahui siapa-siapa ikut siapa, lalu yang kalah jumlah tidak mau mengakui kekalahannya, atau ternyata jumlahnya sama, bagaimana kita akan menentukan kemenangan? Apakah kita akan melakukan adu panco? Adu lari? Atau adu kekuatan tarik tambang? Kita harus tentukan dulu cara menentukan kemenangan akhir,” ujar Andi
”Adu tarik tambang saja, sekali tarik regedek... sudah ketahuan siapa yang menang. Kebetulan di rumah Bu Komis masih tersimpa tali tambang yang untuk lomba tarik tambang bulan Agustus yang lalu. Nanti biar Dony mengambilnya,” jawab Agus.
”Ya, aku setuju! Ya, aku juga setuju!” teriak anak-anak serentak.
”Kalau semua sudah setuju permainan dapat segera kita mulai,” kata Andi.
Setelah Dony mengambil tali tambang di rumah Bu Komis, Andi dan Dony lalu berjalan menjauh dari kawan-kawannya. Mereka berunding untuk memilih nama masing-masing dengan berbisik-bisik. Keputusannya Andi memilih nama ”Luku” dan Dony memilih nama ”Garu”. Setelah mendapat nama masing-masing, mereka berdua lalu kembali kepada teman-temannya.
Tidak menunggu  lama-lama, Andi dan Dony lalu mengangkat tangannya ke atas membentuk gapura. Mereka menepuk-nepukkan kedua tangan mereka ke pasangannya sambil menyanyikan lagu Ancak-ancak Alis. Kaki dan pantatnya pun ikut bergerak menari bergoyang-goyang. Syair lagu yang mereka nyanyikan adalah sebagai berikut:

Ancak-anacak Alis,
Si Alis kebo janggitan,
Anak-anak kebo dhungkul,
Si dhungkul bang-bang teyo,
Tiga rendheng,
Enceng-enceng gogo beluk,
Unine pating cerepluk,
Ula sawa ula dumung,
Gedhene slumbang bandhung,
Sawahira lagi apa?

Ketika And dan Dony menyanyikan lagu Ancak-ancak Alis tersebut anak-anak yang lain: Agus, Asih, Dewi, Eny, Sri dan Bunga berbaris ke belakang. Pemain terbesar di barisan paling depan, lalu urut ke belakang, semakin ke belakang semakin kecil. Yang di belakang memegang pinggang atau pundak atau ujung baju yang di depannya. Urut dari yang nomor dua ke nomor satu, lalu nomor tiga ke nomor dua dan setrusnya sampai yang terakhir ke yang di depannya.
Mereka berjalan berputar-putar mengitari Andi dan Dony yang berperan sebagai gapura. Ketika lagu Ancak-ancak Alis selesai, mereka sudah sampai di depan gapura.
”Lagi mluku,” kata Agus yang berada di barisan paling depan, yang berperan sebagai petani juga, menjawab pertanyaan yang dilontarkan dalam akhir lagu Ancak-ancak Alis di atas.
Setelah menjawab seperti itu barisan tadi lalu berjalan lewat di bawah gapura.
Andi dan Dony kembali menyanyikan lagu Ancak-ancak Alis. Dan kembali lagi barisan para petani itu bergerak berjalan, berkelak-kelok seperti ular, lalu sampai di depan pintu gapura. Dan kembali pula Agus harus menjawab pertanyaan di akhir syair lagu Ancak-ancak Alis dengan jawaban yang menunjukkan perkembangan petani mengerjakan sawah: ”Lagi mluku, lagi nandur, lagi nglilir, lagi ijo, lagi meteng, lagi ambrol, lagi nyangguki, lagi mrekatak, lagi mecuti, lagi tumungkul, lagi bangcuk, lagi kuning, lagi tuwa, lagi wiwit, lagi panen.”
Ketika jawabannya adalah ”Lagi wiwit” maka Bunga yang ada diurutan paling belakang mencari dedaunan yang berwarna hijau. Setelah mendapat dedaunan hijau, barisan petani, termasuk kedua petani, And dan Dony yang menjadi gapura, berjalan lagi berputar-putar, berkelok-kelok  membentuk angka delapan sambil menyanyikan lagu selingan sebagai berikut:

Menyang pasar Kadipaten
Leh-olehe jadah manten
Menyang pasar Ki Jodhog
Leh-olehe Cina bidhog

Setelah menyanyikan lagu selingan, barisan kembali ke bentuk semula. Andi dan Dony kembali membentuk pintu gapura sambil menyanyikan lagu Ancak-ancak Alis. Barisan kembali berjalan  berkelak-kelok. Sampai di depan pintu gapura bersamaan dengan habisnya lagu Ancak-ancak Alis, Agus kembali harus menjawab pertanyaan di akhir syair lagu.
”Lagi panen,” jawab Agus. Maka barisan dipersilakan untuk melanjutkan perjalanan melewati di bawah gapura. Tetapi kali ini Bunga yang ada di barisan paling belakang dihentikan. Tangan-tangan Andi dan Dony yang tadi membentuk gapura sekarang bergandengan dan diturunkan untuk mengurung Bunga sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah setelah melewati pintu gapura pun barisan yang dikomandani Agus berhenti.
Kemudian Andi dan Dony bertanya kepada Bunga, tetapi dengan cara berbisik agar yang mendengar hanya Bunga saja.
”Setelah panen, kamu ingin memiliki apa untuk membajak sawahmu? Luku atau Garu?” tanya Andi dan Dony dengan berbisik.
”Aku ingin Luku,” jawab Bunga dengan berbisik pula.
Setelah memberikan pilihan, Bunga dipersilakan berdiri di belakang Andi. Sekarang Bunga dianggap sebagai anak semang Andi.
Barisan yang dipimpin Agus bergerak lagi, berjalan berputar berkelak-kelok sampai lagu Ancak-ancak Alis yang dinyanyikan Andi dan Dony habis. Ketika lagu yang dinyanyikan kedua anak yang berperan sebagai gapura habis, Agus yang berada di barisan paling depan,  kembali harus menjawab pertanyaan di akhir syair lagu tersebut.
”Lagi panen,” jawab Agus. Maka barisan dipersilakan memasuki pintu gapura. Namun setelah beberapa langkah mereka semua melewati, kecuali anak yang berada di barisan paling belakang, barisan itu berhenti untuk melihat apa yang terjadi pada ekor mereka. Di ekor barisan, Sri, dikurung oleh Andi dan Dony dengan cara menurunkan kedua tangan mereka yang bergandengan.
Seperti saat mengurung Bunga, kini pun Andi dan Dony menanyakan dengan cara berbisik kepada Sri,”Setelah panen, kamu ingin memiliki apa untuk membajak sawahmu? Luku atau Garu?”
Di belakang Andi, Bunga mencoba mempengaruhi pilihan Sri dengan cara membuka dan menggerak-gerakkan mulutnya tetapi tanpa suara. Eny yang ada di barisan gerbong atau ular-ularan tahu hal itu.
”Hayo Bunga, kamu tidak boleh memberi tahu atau mempengaruhi pilihan Sri, meskipun hanya dengan isyarat kedipan mata! Kita harus sportif!” Eny memberi peringatan kepada Bunga. Semua mata memandang kepada Bunga. Bahkan ada yang memelototinya. Bunga langsung diam tak berkutik.
”Aku ingin Garu,” jawab Sri dengan berbisik pula.
Setelah memberikan pilihan, Sri dipersilakan berdiri di belakang Dony. Sekarang Sri dianggap sebagai anak semang Dony.
Adegan berjalan melingkar berkelak-kelok, kemudian Agus ditanya untuk menjawab pertanyaan di akhir syair lagu Ancak-ancak Alis, lalu barisan berjalan melewati pintu gapura, gapura turun menangkap anak yang berada di barisan paling belakang, lalu ditanya milih luku atau garu, kemudian ia bergabung sesuai pilihannya ini diulang-ulang sampa anggota barisan habis, tinggal Agus seorang diri.
Kemudian Andi dan Dony yang berperan sebagai petani yang membentuk pintu gapura menyanyikan lagu:

Dikekuru dilelemu
Dicecenggring digegering

Lalu mereka mengurung Agus yang akan melewati pintu gapura dengan cara menurunkan tangannya membentuk guruf O. Kemudian Andi dan Dony bertanya:

Kidang lanang apa kidang wadon?
Yen lanang mlumpata,
Yen wadon mbrobosa.

Agus yang dianggap sebagai kijang lalu berusaha menerobor keluar. Ketika ia akan melompati kurungan itu, tangan Andi dan Dony diangkat naik. Ketika Agus berusaha akan menerobos lewat bawah, kedua tangan Andi dan Dony diturunkan. Mereka berusaha menahan Agus yang ngotot akan keluar dari kurungan. Agus berusaha dengan sekuat tenaga, tetapi karena kedua orang yang mengurungnya tenaganya lebih kuat, akhirnya Agus menyerah. Karena Agus sudah menyerah maka ia lalu ditanya seperti yang lain-lain.
”Setelah panen, kamu ingin memiliki apa untuk membajak sawahmu? Luku atau Garu?” tanya Andi dan Dony. Kali ini tidak perlu dengan cara berbisik, karena sudah tidak ada anak barisan yang dikhawatirkan akan terpengaruh. Tetapi mereka semua yang ada dalam permainan itu menunggu jawaban Agus dengan berdebar-debar, karena jawabannya akan menjadi penentu kemenangan. Bunga dan Eny sudah menjadi anak semang Andi. Sedangakan Sri, Asih dan Dewi menjadi anak semang Dony. Kalau Agus memilih Garu, jumlah maupun kekuatan jelas ada di pihak Dony. Tiga laki-lakinya satu lawan lima laki-lakinya dua. Seandainya adu kekuatan, panco atau tarik tambang, tentu menang kelompok Dony. Tetapi kalau Agus memilih Luku, jumlah mereka akan berimbang, tetapi kekuatan mereka tidak sama, karena kelompok Andi jadi mempunyai dua orang laki-laki, sedangkan kelompok Dony hanya seorang laki-laki.
Sayangnya Agus tidak tahu siapa yang Luku, siapa yang Garu. Apakah Andi itu Luku atau Garu. Apakah Dony itu Luku atau Garu. Masih teka-teki yang diliputi rahasia bagi Agus. Namun ia harus menjatuhkan pilihan antara Luku atau Garu.
Setelah menunggu sekian lama akhirnya Agus memutuskan, ”Aku pilih Luku!”
Andi, Bunga dan Eny langsung bersorak kegirangan. Mereka merasa mendapat bala yang kuat. Agus dipersilakan berdiri di belakang Andi.
”Sekarang bagaimana? Jumlah kita sama, tetapi kekuatan kita perlu dibuktikan, mana yang lebih kuat,” ujar Andi menawarkan adu kekuatan.
Sebetulnya Sri, Asih dan Dewi sudah merasa tidak akan menang adu kekuatan melawan kelompok Andi, tetapi karena jumlah mereka sama, mau tidak mau, terutama Dony harus membuktikan kekuatan lawannya. Siapa tahu kalau nanti dilakukan tarik tambang, anggota Andi ada yang terpeleset sehingga mereka akan terseret kalah.
”Baiklah, meskipun anggota aku lebih banyak perempuannya, perlu diadu dulu apakah kelompok kamu betul-betul lebih kuat. Ayo kita lakukan tarik tambang,” tantang Dony.
”Baik, aku ladeni,” sahut Andi.
Andi lalu membuat garis tengah di tanah dengan menggunakan pecahan genting. Dony dan Agus lalu menggelar tambang yang sudah disiapkan dari tadi sama panjang ke kanan dan ke kiri dengan porosnya garis yang dibuat Andi. Anak-anak lalu menempatkan diri masing-masing memegang tali tambang di kelompoknya masing-masing. Di kelompok Andi, paling depan Andi, lalu Agus, lalu Eny, terakhir Bunga. Di kelompok Dony, paling depan Dony, lalu Asih, lalu Dewi, terakhir Sri.
Seperti yang sudah diduga sebelumnya, pelaksanaan tarik tambang tidak sebanding dengan persiapannya yang cukup lama. Begitu aba-aba tiga, dua, satu, ya’.... ternyata begitu mudahnya tali tambang tertarik ke kelompok Andi. Maklumlah melihat kelompok Andi ada laki-lakinya dua, kelompok Dony sudah ciut dulu nyalinya, maka dari pada susah-susah tangannya pedih menahan tali, begitu kekuatan kelompok Andi terasa lebih besar, mereka serentak langsung melepaskan pegangan tangannya pada tali tambang.
Kelompok Andi yang dengan sekuat tenaga menarik tambang, berharap lawan-lawannya akan berjatuhan terjerembab ke depan, tiba-tiba justru ambruk ke belakang saling tindih-menindih tak terkendali, karena lawan-lawannya dengan tiba-tiba melepaskan perlawanan, melepaskan tali tambang yang semula mereka tarik kuat-kuat.
Kelompok Dony tertawa terbahak-bahak dapat mengerjai kawan-kawannya. Meskipun mereka kalah tetapi mereka merasa menang karena dapat mempermainkan lawan mainnya. Andi dan kawan-kawannya hanya bisa cengar-cengir karena merasakan tubuh dan kepalanya sedikit sakit saling berbenturan tindih-menindih dengan kawan sendiri. Mereka ingin mengumpati kelompok Dony, tapi tak jadi karena memang inilah suatu permainan. Yang kalah mencoba membalas kekalahannya dalam bentuk lain. Akhirnya mereka semua ikut tertawa, tetapi tawa kecut. ***

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: SOYANG

         PENULIS: SUTARDI MS DIHARDJO
Lahir di Klaten 18 Juli 1960.

PNS Kecamatan Klaten Tengah. Menulis Cerita Misteri, Puisi, Geguritan, Cerita Pendek, Novel dan Drama
.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang dijadwalkan akan terbit akhir tahun 2014 ini: 

Kumpulan Kismis (Kisah Misteri) ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata. 

Buku lain yang akan terbit  Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 

Naskah Drama yang sudah ditulis: 

Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”, ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten”

Sekarang sedang menulis Buku Cerita Anak dengan tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu, yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Cerita Anak tema Dolanan Bocah Jadul: ANACAK-ANACAK ALIS"

Post a Comment