Contoh Cerita Anak-anak tema Dolanan Tradisional Tempo Dulu: GENDIRAN

Contoh Cerita Anak-anak tema Dolanan Tradisional Tempo Dulu:

BERMAIN KELERENG 1 : GENDIRAN
Oleh Sutardi MS Dihardjo


Waktu istirahat sekolah di halaman sekolah SD Sumberejo ramai sekali anak-anak bermain. Anak-anak perempuan ada yang bermain lompat tali, ada yang bermain tempel karet gelang; anak-anak laki-laki ada yang bermain kelereng, ada yang bermain berkejar-kejaran, ada yang bermain gajah telena. Tetapi yang terbanyak bagi anak-anak laki-laki adalah bermain kelereng dengan berbagai macam permainan, karena saat ini memang sedang musim bermain kelereng. Ada yang bermain gendiran, ada yang bermain pot, ada yang bermain jirak, dan ada pula yang bermain segi tiga.
Rio, Hardi, Heru dan Sidu saat ini sedang asyik bermain kelereng yang disebut gendiran. Halaman SD Sumberejo masih berupa tanah. Tidak dipaving, tidak disemen. Jadi masih bisa dilubangi untuk bermain gendiran. Mereka membuat lubang kecil di tanah. Lubang itu tidak besar, hanya kira-kira berdiameter 4 Cm dengan kedalaman 2 Cm.
”Bagaimana, cukup kan lubangnya?” tanya Rio yang tadi membuat lubang itu dengan ranting pohon kering.
”Kalau dalamnya cukup. Tetapi untuk diameternya agak kebesaran sedikit. Kalau misalnya 3 Cm saja bagaimana?” usul Sidu.
”Bagi kamu 3 Cm sudah cukup, Du, karena kamu orangnya memang titis (penembak jitu yang tembakannya selalu mengena). Tapi bagi yang lainnya diameter 3 Cm sangat sulit untuk memasukkan kelereng ke lubang. Itu terlalu kecil bagi kami. Jadi ini saja ya, diameter 4 Cm,” ujar Rio mempertahankan lubang buatannya tetap digunakan.
”Ya sudah, kalau begitu aku setuju saja. Lalu bagaimana kawan-kawan yang lain, setuju tidak?” Sidu mengalah.
”Setuju!” jawab Hardi.
”Setuju!” jawab Heru.
”Kalau semua sudah setuju dengan lubangnya, sekarang ditentukan gendirannya berapa tiingginya?” tanya Rio.
”Setinggi pusar,” usul Hardi.
”Jangan! Itu terlalu rendah, tidak terasa,” sahut Heru.
”Kalau setinggi pusar tidak terasa, lalu setinggi apa? Apakah setinggi di atas kepala?” tanya Hardi agak sinis.
“Ya jangan setinggi di atas kepala, sakit nanti yang kena. Begini saja, kita ambil jalan tengah. Bagaimana kalau setinggi mata kita?” usul Heru.
”Ya, baik. Aku setuju setinggi mata kita. Bagaimana dengan yang lain?” Rio minta pertimbangan kawan-kawannya yang lain.
”Setuju,” jawab Sidu.
”Setuju,” jawab,” Hardi.
Semua anak yang akan bermain gendiran itu sudah sepakat dengan ketinggian hukuman bagi yang kalah dalam permainan ini.
”Sekarang untuk garis tuju tempat kita mulai permainan bagaimana?  Berapa jauhnya dari lubang?” ganti Sidu yang bertanya.
”Kita buat garis saja empat langkah dari lubang. Bagaimana, setuju tidak?” usul Rio.
“Ya sudah aku setuju! Aku Setuju!” jawab Sidu, Hardi dan Heru serentak.
”Kalau semua aturan sudah kita sepakati, tunggu apa lagi, ayo kita segera mulai bermain,” ajak Rio.
Rio lalu mengambil ukuran sebanyak empat langkah dimulai dari lubang yang sudah dibuat. Pada hitungan ke-empat ia berhenti. Hardi lalu membuat garis di hitungan ke-empat itu dengan menggunakan ranting kering yang tadi digunakan untuk membuat lubang. Anak-anak yang lain segera menempatkan diri di belakang garis yang sudah dibuat Hardi.
”Sekarang kita bisa mulai melemparkan gaco kita ke lubang,” Rio memberi tahu kalau permainan sudah dapat dimulai.
Ke-empat anak itu segera melemparkan gaco masing-masing ke arah lubang. Gaco Sidu berhenti kira-kira dua jari dari lubang di sebelah barat. Gaco Hardi berhenti di sebelah barat dua jengkal dari lubang. Gaco Heru berhenti di sebelah timur satu jengkal dari lubang. Lalu gaco Rio berhenti di utara tiga jengkal dari lubang.
”Yang terdekat ke lubang gaco Sidu, berarti Sidu yang main duluan,” ujar Rio.
”Setelah itu lalu aku karena gacoku hanya satu jengkal dari lubang,” sahut Heru.
”Setelah Heru lalu aku, karena gacoku dua jengkal dari lubang jaraknya,” sahut Hardi.
”Itu kalau kamu tidak keburu dimatikan oleh Sidu,” sahut Rio.
”Ya belum tentu. Siapa tahu justru kamu yang dimatikan terlebih dahulu, hingga kamu yang saat ini menempati posisi unyik (belakang sendiri)  tidak kebagian main,” ejek Hardi membalas.
”Tidak usah ramai! Semua tergantung aku,” kata Sidu sambil ancang-ancang akan membidikkan gaconya ke arah kelereng Hardi. Sidu memang jagoan dalam bermain kelereng. Ia mengambil posisi jung ( gaco dibidikkan dari ketinggian di atas kelerengnya tadi berada), lalu dengan ujung ibu jarinya ia menyentilkan biji kelereng yang dijepit diantara telapak tangan dan jari telunjuknya yang ditekuk. Tidak keras sentilannya, tetapi tepat mengenai kelereng gaco Hardi. Terkena bidikan Sidu kelereng Hardi maju kira-kira jadi empat jengkal menjauhi lubang. Sedangkan kelereng gaco Sidu kembali mendekati lubang, hampir di bibir lubang.
Sidu lalu menyentil pelan sekali gaconya masuk kedalam lubang. Setelah masuk kedalam lubang, berubahlah status gaco Sidu sekarang. Gaco itu sekarang sudah menjadi macan. Ia sudah bisa membunuh gaco lawan-lawan mainnya. Sidu memandang posisi gaco-gaco lawan mainnya. Yang terdekat adalah gaco Heru, hanya sejengkal dari lubang.
”Ya, itu saja, Du! Gaco Heru hanya satu jengkal dari lubang. Matikan dulu gaco Heru!” teriak Rio. Ia khawatir kalau Sidu mengincar gaconya, karena selain  gaco Heru gaconya juga cukup dekat, hanya tiga jengkal dari lubang.
”Iya, Du! Setelah itu gaco Rio. Ia juga dekat,” sambung Hardi.
Memang benar apa yang dikatakan kawan-kawannya itu. Yang terdekat adalah gaco Heru. Yang lain-lainnya lebih jauh. Artinya untuk membidik yang lain-lainnya kemungkinan meleset lebih besar. Sidu lalu membidikkan kelereng gaconya ke arah kelereng gaco Heru.
”Thek!”  gaco Heru kena bidik Sidu. Gaco Heru sudah mati. Ia tidak boleh main lagi pada permainan babak ini. Sudah pasti ia nanti akan digendir.
Sidu ganti mengincar gaco Rio yang berjarak kira-kira dua jengkal dari gaco Sidu, karena ketika membidik gaco Heru tadi gaco Sidu sengaja diarahkan mengenai sisi utara dari gaco Heru sehingga larinya gaco Sidu ke arah utara, mendekati gaco Rio. Kini dengan mudahnya Sidu membidikkan gaconya ke arah gaco Rio. Sayangnya ia tidak dapat mengarahkan gaconya mendekati gaco Hardi. Karena terlalu keras membidik, maka setelah membunuh gaco Rio, gaco Sidu justru lari ke arah utara, semakin jauh dari gaco Hardi.
Sekarang tinggal Sidu dan Hardi yang main. Masih Sidu yang mendapat giliran membidik. Tetapi jarak mereka cukup jauh. Sidu membidikkan kelereng gaconya ke arah gaco Hardi. Tidak terlalu keras. Sayang sekali tidak kena. Justru gaco Sidu itu berhenti hanya dua jengkal di arah barat laut kelereng Hardi.
Sekarang gantian giliran Hardi yang main. Ia mengusap-usapkan telapak tangannya ke tanah terlebih dahulu agar tidak licin. Kemudian ia menjepit kelereng gaconya di telepak tangannya dengan jari-jari ditekuk. Lalu setelah yakin pada arah bidikannya, ia menyentilkan ibu jarinya kepada kelereng gaconya. Kelereng meluncur lurus mengenai gaco Sidu. Hebatnya, gaco Hardi itu lalu atret (mundur) mendekati lubang. Kemudian Hardi menyentil kelerengnya masuk ke dalam lubang. ”Plung” gaco Hardi sekarang sudah berubah menjadi macan. Ia berhak membunuh gaco Sidu. Sekarang posisinya macan melawan macan. Tinggal dilihat, mana yang lebih titis, atau mana yang lebih beruntung dan dapat memanfaatkan keberuntungan itu untuk meraih kemenangan.
Setelah mengamati dan memperhitungkan dengan cermat letak dan jarak antara posisi gaco Sidu dengan posisi gaconya sendiri, Hardi lalu membidikkan gaconya ke arah gaco Sidu. Ia tidak berani membidik pelan karena kalau sampai meleset gaconya akan menjadi makanan empuk gaco Sidu. Lebih-lebih karena saat ini Hardi sudah tidak membutuhkan lubang untuk menaikkan statusnya menjadi macan, maka ia lalu membidikkan gaconya keras-keras. Maksudnya kalau bidikannya meleset, ia tetap dapat menjaga jarak pada posisi aman, jauh dari musuhnya yang sudah berstatus macan.
Hardi membidikkannya sambil mengangkat gaco kelerengnya ke belakang lalu tangan yang ditarik ke belakang itu didorong ke depan sambil menyentilkan ibu jari ke gaconya.
Sontok! Hardi, tidak boleh main sontok!” teriak Sidu.
”Ya, ulangi! Tidak boleh main sontok! Itu urik (curang) namanya!” kata Rio.
”Maaf, aku salah,” kata Hardi mengakui kesalahannya. Ia lalu mengambil gaco kelerengnya yang lari jauh tanpa mengenai sasarannya. Hardi memang takut kalau gaconya sampai berada di jarak ketitisan Sidu yang sudah diketahui sebagai anak yang hampir tidak pernah meleset bidikannya.
Setelah kembali ke lubang, Hardi kembali memperhitungkan posisi dengan cermat lalu membidikkan gaconya dengan tenang. Namun karena letaknya cukup jauh, gaconya tidak mengenai sasaran. Gaconya berhenti satu langkah di sebelah barat gaco Sidu.
Kini giliran Sidu membidikkan gaconya.  Setelah memperhiungkan dengan cermat posisi gaconya dengan posisi gaco Hardi, Sidu membidikkan gaconya ke arah gaco Hardi.
”Thek!” gaco Sidu membentur gaco Hardi. Seketika Sidu bersorak sambil meloncat kegirangan, “Hore! Aku menang!”
Bergantian Rio, Heru dan Hardi memasang telapak tangannya tertelungkup di atas lubang. Dengan berdiri Sidu nggendir mereka bergantian dengan cara menjatuhkan kelereng dari atas setinggi mata, sesuai perjanjian. Ketika tiba giliran Hardi yang digendir, Hardi mencoba menghindari dengan menarik tangannya sebelum kelereng Sidu jatuh mengenai tangannya.
”Hayo Hardi tidak boleh curang. Pasang lagi tangannya. Kelereng belum jatuh kok tangan ditarik,” protes Sidu.
”Wong tadi tidak kena kok!” bantah Hardi.
”Tidak mungkin tidak kena! Kalau tanganmu tidak kamu tarik, ya mesti kena! Masak cuma nggendir begitu saja aku bisa tidak kena,” balas Sidu mendebat.
”Hardi, jangan begitu! Kalau kamu curang, besok kamu tidak boleh ikut main lagi, lho. Kami semua tahu kamu curang. Kamu sengaja menarik tanganmu sebelum kelereng Sidu jatuh. Ayo pasang tanganmu!” Rio yang dianggap pemimpin bagi mereka menengahi.
”Ya sudah akau menurut. Tapi aku besok boleh ikut main lagi lho,” kata Hardi sambil memasang tangannya kembali.
Sidu lalu nggendir Hardi. Ketika kelereng Sidu mengenai jari-jari Hardi, Hardi yang tidak tahan sakit ini meringis kesakitan.
”Aduh sakit jari manisku!,” teriak Hardi, ”Besok kalau main lagi setinggi pusar saja biar tidak sakit.”
”Yuk kita mulai dari awal lagi mainan gendirannya!” ajak Rio.
”Ya mari!” sahut kawan-kawannya.
Tetapi ketika mereka sampai di garis untuk mulai, tiba-tiba bendhe tanda masuk kelas sudah berbunyi, ”Dhong! Dhong! Dhooonggg...”
”Tanda masuk sudah berbunyi, mari kita masuk kelas. Mainnya dilanjutkan nanti saja pada istirahat kedua,” ajak Rio.
”Ya mari masuk kelas dulu,” sahut yang lain
Mereka ber-empat lalu berjalan bersama menuju ke kelas masing-masing. ***

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: SOYANG

         PENULIS: SUTARDI MS DIHARDJO
Lahir di Klaten 18 Juli 1960.

PNS Kecamatan Klaten Tengah. Menulis Cerita Misteri, Puisi, Geguritan, Cerita Pendek, Novel dan Drama
.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang dijadwalkan akan terbit akhir tahun 2014 ini: 

Kumpulan Kismis (Kisah Misteri) ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata. 

Buku lain yang akan terbit  Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 

Naskah Drama yang sudah ditulis: 

Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”, ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten”

Sekarang sedang menulis Buku Cerita Anak dengan tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu, yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Contoh Cerita Anak-anak tema Dolanan Tradisional Tempo Dulu: GENDIRAN "

Post a Comment