Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: GAMPARAN

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu:

Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Halaman samping rumah Bu Komis di Kampung Soka setiap hari sepulang anak-anak sekolah sampai menjelang Maghrib tak pernah sepi dari teriakan dan sorak sorai anak-anak. Halaman yang teduh karena di tepinya terdapat pohon munggur dan pohon mangga yang rindang, dengan ukuran tak kurang dari 30 meter kali 40 meter itu menjadi tempat yang nyaman untuk bermain anak-anak.
Seperti siang ini, Eny, Parti, Ika, Yuni, dan Asih sedang berkumpul di halaman itu. Mereka duduk-duduk di akar pohon munggur yang menyembul ke permukaan tanah. Di tangan mereka masing-masing tergenggam sebuah batu pipih berbentuk agak oval yang tidak begitu besar. Meskipun hanya batu, nampaknya mereka semua menyayangi batu yang ada di tangan mereka masing-masing, karena batu itu adalah batu gacuk. Alat bermain gamparan itu sengaja mereka pilih yang enak dan nyaman di kaki kalau diayun-ayun di atas jari-jari kaki untuk engklek, makanya mereka pilih batu yang halus dan pipih. Tetapi agar tidak mudah pecah dan mampu merobohkan batu gasangan yang dilempari, mereka mencari batu yang keras dan antap, punya kekuatan kalau digampar.
Rupanya masih ada satu anak yang mereka tunggu. Dalam perjalanan pulang sekolah tadi mereka berenam sudah berkencan akan main gamparan di halaman samping rumah Bu Komis. Selain Eny, Yuni, Ika, Parti dan Asih, mereka juga mengajak Ari untuk bermain gamparan bersama. Mungkin sedang dalam perjalanan. Sementara menunggu kedatangan Ari, mereka menimang-nimang batu gacuk mereka masing-masing. Ketika Eny mulai jenuh, ia mencoba mempermainkan batu gacuk untuk engklek. Ia taruh batu itu di atas jari-jari kaki kanan, lalu diangkatnya kaki itu dan diayun-ayunkan ke kiri – ke kanan, sambil kaki kiri meloncat-loncat maju engklek. Begitu dia bolak-balik maju 5 meter lalu kembali lagi.
”Lama sekali sih, Ari ini! Apa dia lupa ya? Padahal tadi dia sudah sepakat untuk datang lebih awal agar tidak kedahuluan anak-anak laki-laki bermain bola di sini,” ujar Ika.
“Sabar! Tunggu saja, siapa tahu ia punya keperluan mendadak yang harus dikerjakan dulu,” kata Asih menyabarkan kawannya yang sudah tak sabaran.
“Sabar ya sabar, tapi kalau kita kedahuluan anak-anak laki-laki, lalu halaman ini dipakai mereka main bola, kita akan bermain di mana?” tanya Ika belum juga sabar.
“Kenapa harus khawatir tak ada tempat untuk bermain? Itu di depan Mbah Suro masih ada halaman cukup luas meskipun tidak seluas ini. Itu kalau cuma ukuran 6 x 10 meter saja juga ada. Cukup untuk bermain gamparan kita ber-enam,” kata Asih.
”Tapi di sana agak panas. Pohonnya kecil-kecil, tidak rindang seperti di sini,” Ika masih juga belum puas.
“Tak usah sewot! Lihat tuh... Ari datang,” teriak Parti ketika melihat Ari muncul dari belakang rumah Mbok Yam.
“Maaf, aku terlambat. Tadi ibuku menyuruh aku beli gula, teh dan kue dulu di warung. Ada tamu saudaraku baru datang ke rumahku. Bapak masih di kantor, ibu menerima mereka, aku disuruh belanja untuk menjamu tamuku,” kata Ari memberi alasan keterlambatannya.
“Tak apa-apa. Kita semua sabar menunggu kedatanganmu,” kata Asih.
”Kecuali Ika,” celetuk Yuni.
”Lha bagaimana? Aku khawatir kalau sampai kedahuluan anak-anak laki-laki. Kalau mereka memakai lapangan ini untuk main bola habislah kita. Terpaksa kita harus main gamparan di halaman rumah Mbah Suro yang panas. Untung kamu segera datang, kita jadi bisa main di sini,” ujar Ika membela diri.
”Ya sudah. Sekarang sudah genap kita ber-enam, mari kita segera bermain. Terlebih dahulu kita tentukan kelompok kita. Ayo kita cari pasangan untuk sut jah-ndho-jleng,” ajak Asih.
Mereka lalu sut jah-ndho-jleng dengan pasangan masing-masing. Ika dengan Eny, Yuni dengan Parti, dan Asih dengan Ari. Hasil dari sut tersebut adalah kelompok Eny dengan anggota Eny, Yuni dan Ari. Mereka yang menang, sebagai kelompok yang main. Sedangkan kelompok Asih dengan anggota Asih, Ika dan Parti adalah kelompok yang dadi atau jaga.
Mereka lalu membuat tiga garis melintang sejajar sepanjang 4 meter dengan menggoreskan batu di halaman pekarangan Bu Komis yang masih berupa tanah itu. Garis pertama disebut garis gasangan untuk menaruh batu gasangan yang akan dituju para pemain. Pada garis gasangan ini ditaruh tiga buah batu gasangan ukuran tinggi + 10 Cm, lebar 5 Cm dan tebal bagian bawah 2 Cm. Sengaja dipilih batu yang sedikit agak runcing di atas dengan bagian bawah datar dan lebar, sehingga dapat ditaruh berdiri tegak di garis gasangan. Untuk mendapatkan batu gasangan ini mereka mengambil batu di belakang rumah Bu Komis, dengan kesanggupan setelah selesai bermain batu-batu tersebut dikembalikan. Batu gasangan paling kiri yang akan dituju Eny dijaga Ika, batu gasangan yang di tengah yang akan dituju Yuni dijaga Parti, sedangkan batu gasangan paling kanan yang akan dituju Ari dijaga Asih.
Lalu di depan garis itu kira-kira jarak dua setengah langkah  mereka membuat garis kedua dengan panjang yang sama sejajar garis pertama. Kemudian sekali lagi mereka membuat garis dengan panjang yang sama, juga sejajar dengan garis pertama dan kedua, dengan jarak kira-kira 4 langkah dari garis kedua. Garis ketiga ini dinamakan garis saku, tempat untuk para pemain berdiri melemparkan batu gacuknya ke arah batu gasangan di garis pertama.
 Setelah tiga garis yang diperlukan dibuat, lalu Ika, Parti dan Asih berdiri di dekat masing-masing batu gasangan yang mereka dirikan, kini giliran Eny, Yuni dan Ari memulai permainan tahap ke-1, yaitu melemparkan batu gacuk mereka menuju ke batu gasangan masing-masing pasangannya. Eny melemparkan batu gacuk ke arah batu gasangan yang ditunggui Ika. Ternyata tidak kena. Berhenti satu langkah lebih dari garis gasangan, dekat batu gasangan yang ditunggui Ika. Batu gacuk yang dilempar Yuni ke arah batu gasangan yang ditunggui Parti jatuh kurang satu langkah dari garis gasangan. Sedangkan batu gacuk yang dilempar Ari begitu jatuh lalu menggelinding berputar-putar  kemudian berhenti di garis gasangan. Semuanya tidak ada yang mengenai sasaran.
”Sekarang melempar gacuk ke batu gasangan,” ujar Eny.
Eny bersiap-siap melemparkan gacuknya ke batu gasangan yang ditunggui Ika. Eny mengambil sikap berjongkok dengan lutut kaki kiri diletakkan di tanah, kaki kanan agak renggang. Kemudian setelah membuat tanda silang di tanah di mana tadi gacuknya jatuh berhenti, dengan tangan kanannya ia melemparkan dengan sekuat tenaga, gacuknya ke batu gasangan  lewat bawah kaki kanannya yang dalam posisi seperti orang bersikap bersedia dalam lomba lari. Tanda silang akan digunakan untuk menentukan posisinya, apabila kawannya akan membatu menggantikannya, seandainya ia luput melemparkan gacuknya ke arah batu gasangan.
”Praaak!” gacuk Eny mengenai batu gasangan cukup keras, hingga batu gasangan itu terlempar dari  garis gasangan. Ika segera mengambil batu gasangan yang roboh itu dan mendirikannya kembali di garis gasangan.
Kemudian giliran Yuni berancang-ancang akan melemparkan gacuknya ke arah batu gasangan yang ditunggui Parti. Ia sudah membuat tanda silang lalu mulai berjongkok ketika terdengar suara Parti menghentikan.
”Stop! Tidak begitu caranya. Karena gacukmu jatuh kurang dari satu langkah dari garis gasangan, melemparnya gacuk harus menggunakan tangan kiri,” ujar Parti memberitahu aturan gamparan yang benar.
”Apa harus begitu?” tanya Yuni kepada teman-temannya.
”Iya, memang begitu. Kalau tadi Eny pakai tangan kanan karena jarak berhenti  gacuknya lebih satu langkah dari garis gasangan.  Gacukmu meskipun berhenti jauh dari batu gasangan pasangannya yang ditunggui Parti, tetapi kurang satu langkah dari garis gasangan. Aturannya kamu harus melempar gacukmu pakai tangan kiri. Sedangkan gacuk Ari karena berhenti di garis gasangan, melemparnya harus dengan cara menjatuhkan dari atas kepala dalam posisi membelakangi tepat di atas batu gasangan yang akan dirobohkan,” ujar Asih menerangkan. Memang di antara mereka berenam Asih adalah anak yang paling senior yang paling mengetahui aturan-aturan bermain gamparan dan dolanan-dolanan bocah lainnya. Usianya satu tahun lebih tua dari anak-anak yang lain. Maka apa yang dikatakannya diturut kawan-kawannya. Sedangkan Yuni adalah anak yang paling yunior di antara kawan-kawannya, usianya satu tahun lebih muda dari Eny, Ika, Parti, maupun Ari yang sebaya. Karena masih dalam taraf belajar maka ia menurut saja.
”Jadi begitu ya? Ya sudah kalau begitu aku mau melempar pakai tangan kiri,” kata Yuni menurut.
Yuni lalu berjongkok, lutut kaki kanan diletakkan di tanah, kaki kiri direnggangkan, lalu dengan sekuat tenaga menggunakan tangan kiri melemparkan gacuk ke arah batu gasangan yang ditunggui Parti.
”Meleset!” teriak Parti setengah bersorak. Yuni tampak kecewa. Ternyata lemparannya meleset. Tidak mengenai batu gasangan.
”Jangan khawatir! Aku bantu,” kata Eny menhibur. Eny lalu ambil ancang-ancang seperti Yuni tadi. Setelah siap ia lalu melemparkan gacuknya menggunakan tangan kiri ke arah batu gasangan yang ditunggui Parti.
“Praaaakk!” terdengar suara batu berbenturan. “Kena!” teriak Eny gembira. Batu gasangan yang ditunggui Parti roboh. Parti nampak kecewa. Yuni bersorak riang.
Selanjutnya giliran Ari untuk merobohkan batu gasangan yang ditunggui Asih. Seperti yang dikatakan Asih tadi, Ari menaruh gacuknya di atas kepalanya. Dalam posisi membelakangi ia menjatuhkan gacuknya di atas batu gasangan yang ditunggui Asih.
“Prakk” batu gasangan terkena gacuk Ari roboh. Serentak Eny, Yuni dan Ari sendiri bersorak gembira.
“Selanjutnya kita memasuki tahap ke-2. Kita engklek dari garis saku melampaui garis gasangan, lalu melempar gacuk ke batu gasangan,” ujar Eny seperti memberi tahu Yuni yang sedang belajar main gamparan.
Eny, Ari dan Yuni lalu membawa gacuknya ke garis saku. Eny dan Yuni lalu memasang gacuknya di atas jari-jari kaki kanan, lalu mengangkat kaki tersebut. Sambil berjalan engklek menggunakan kaki kiri, mereka mengayun-ayun kaki kanan  ke depan ke belakang, dan berusaha menahan agar gacuk yang ada di kakinya tidak terjatuh. Sedangkan Ari yang merasa lebih mudah  engklek menggunakan kaki kanan, menaruh gacuk di atas jari-jari kaki kiri, lalu mengayun-ayun ke kanan dan ke kiri.
Eny ternyata memang jagoan dalam permainan gamparan. Sebentar saja ia sudah sampai di belakang garis gasangan, lalu mengyunkan kaki kanan untuk melemparkan gacuk mengenai batu gasangan.
”Praaakk!” gacuk Eny mengenai batu gasangan hingga roboh. Kemudian Eny melihat Yuni yang masih latihan main gamparan, ternyata menemui kesulitan. Kaki kanannya yang diayun-ayun sambil membawa  gacuk terlihat masih kaku. Ini berakibat gacuk yang ada di kakinya seperti kurang terjaga sehingga hampir jatuh.
”Hati-hati! Maju pelan-pelan! Gunakan kedua tanganmu untuk menjaga keseimbangan! Ayo maju terus,” kata Eny memberi petunjuk kepada Yuni.
Sementara itu Ari yang engklek menggunakan kaki kanan ternyata dapat berjalan dengan cepat juga. Sebentar saja ia sudah dapat menyusul Eny, lalu setelah melampaui garis gasangan ia lemparkan gacuk dengan ayunan yang kuat, mengenai batu gasangan yang ditunggui Asih.
Sekarang tinggal Yuni yang berjalan tertatih-tatih. Tetapi ia tidak putus asa. Ia tetap berusaha untuk menyelesaikan tugasnya sampai garis gasangan dan menjatuhkan batu gasangan dengan benturan gacuk yang ia lemparkan dengan ayunan kaki. Ia tetap tabah meskipun lawan-lawannya, Ika, Parti dan Asih bersorak-sorak menggoda untuk membuyarkan konsentrasinya. Akhirnya Yuni dapat juga melampaui garis gasangan. Namun sayang ketika kaki kanannya ia tarik ke belakang, berancang-ancang diayunkan untuk melemparkan gacuk ke batu gasangan, gacuk yang sebelumnya sudah hampir jatuh terpaksa jatuh juga sebelum terlempar ke arah batu gasangan. Lagi-lagi Yuni merasa kecewa. Sebaliknya Ika, Parti dan Asih bersorak-sorak gembira.
“Tidak apa-apa. Sebagai pemula kamu sudah cukup bagus. Memang tidak mudah engklek dengan menbawa gacuk di atas jari-jari kaki. Tapi kamu sudah bagus, Yun, kalau lebih sering berlatih tentu kamu segera bisa lancar,” ujar Eny menghibur. “Sekarang biar aku yang membantu,”  kata Eny selanjutnya.
Kemudian Eny membawa gacuknya ke garis saku.  Setelah meletakkan gacuk di atas jari-jari kaki kanan, ia mulai berjalan engklek sambil mengayun-ayunkan kaki kanan. Setelah melewati garis gasangan ia melemparkan gacuk ke arah batu gasangan yang ditunggui Parti dengan ayunan kakinya yang kuat.
“Praaakkk!” batu gasangan terbentur gacuk yang dilempar Eny. Batu gasangan itu roboh. Spontan Ari dan Yuni bersorak gembira. Ika, Parti dan Asih cemberut menahan rasa kecewa. Parti lalu memasang kembali batu gasangan dalam posisi berdiri.
”Sekarang kita masuk ke tahap ke-3. Ayo kita ke garis kedua,” ajak Eny, lagi-lagi ia memberi tahu langkah selanjutnya yang harus dilakukan Yuni.
Di garis kedua yang berjarak sekitar dua setengah langkah dari garis gasangan, masing-masing pemain menghadapi dan mengkonsentrasikan perhatiannya pada batu gasangan pasangan masing-masing.  Setelah meletakkan gacuk di atas jari-jari kaki kanan, dengan satu langkah kaki kiri, mereka mengayunkan kaki kanan untuk melemparkan gacuk ke arah batu gasangan yang ada di hadapan mereka. Kali ini Yuni berhasil menjatuhkan batu gasangan yang ditunggui Parti. Demikian juga dengan Eny dan Ari. Mereka masing-masing berhasil merobohkan batu gasangan pasangan masing-masing dengan lemparan gacuk menghantam batu gasangan.
”Selesai tahap ke-3. Sekarang mari kita masuk ke tahap terakhir, yaitu tahap ke-4. Kita kembali ke garis saku!” ajak Eny kepada Yuni dan Ari. Mereka bertiga lalu ke garis saku dengan membawa gacuk masing-masing.
Di garis saku, Eny dan Parti meletakkan gacuk mereka di atas kepala. Yuni lalu ikut-ikutan. Mereka lalu berjalan pelan-pelan menuju ke garis gasangan, mengarah ke batu gasangan pasangan masing-masing. Kelompok Ika yang menginginkan kelompok Eny segera mati pada langkah tahap ke-4 ini berusaha mengganggu konsentrasi lawan-lawannya. Mereka berteriak-teriak dan bersorak-sorak menyesatkan arah mereka yang sedang berjalan thimik-thimik setapak demi setapak sambil menahan gacuk yang bertengger di atas kepala mereka.
Tak mempedulikan teriakan lawan-lawannya, Eny segera menyelesaikan tugasnya. Ia berhasil berjalan sampai di atas batu gasangan yang ditunggui Ika, lalu menjatuhkan gacuk mengenai batu gasangan di bawahnya.
”Praaakkk!” batu gasangan yang ditunggui Ika roboh kejatuhan gacuk Eny. Namun Eny tidak bersorak. Ia berusaha menahan diri agar tidak mengganggu konsentrasi teman-temannya yang sedang berusaha keras menyelesaikan tugasnya. Namun tidak demikian bagi Ika. Melihat keberhasilan lawannya, ia cemberaut karena kecewa.
Sementara itu perjalanan Ari pun lancar. Meskipun ia berjalan thimik-thimik agak pelan, tapi arahnya sudah benar. Dan ia berhasil sampai di atas batu gasangan yang ditunggui Asih. Lalu ia pun menjatuhkan gacuk yang ada di atas kepalanya tepat mengenai batu gasangan yang ada di bawahnya sehingga batu itu roboh.
Adalah sulit bagi Yuni sang pemula. Ia belum bisa mengabaikan teriakan-teriakan dan sorak-sorai lawan-lawannya yang berusaha mengganggu konsentrasinya dan menyesatkan arah jalannya, maka jalannya agak melenceng, batu gasangan yang dituju seharusnya yang ditunggui Parti, tetapi ia justru menuju batu gasangan yang ditunggui Ika.  Ia tidak sadar kalau salah arah.
”Ya...betul di situ! Sekarang jatuhkan gacukmu!” aba Parti menyesatkan. Ia sengaja berpindah di depan batu gasangan Ika agar dikira Yuni sudah berada di tempat yang benar.
”Jangan! Jangan di situ! Itu batu gasangan Ika, bukan batu gasangan Parti!” teriak Eny meluruskan. Terlambat! Yuni telanjur menundukkan kepala, menjatuhkan gacuk yang ada di atas kepalanya. Maka gacuk itu pun membentur batu gasangan Ika, sehingga Yuni dianggap gagal karena tidak dapat merobohkan batu gasangan lawan pasangannya.
Lagi-lagi Eny yang harus menjadi penyelamat. Ia melakukan tugas yang seharusnya dikerjakan Yuni, yaitu merobohkan batu gasangan yang ditunggui Parti dengan gacuk dari atas kepalanya, setelah berhasil membawa gacuk itu di atas kepala berjalan dari garis saku ke garis gasangan.
”Sekarang kelompok Eny sudah mendapat satu sawah. Selanjutnya gantian kelompokku yang main. Kelompok Eny  ganti berjaga,” ujar Asih.
”Ayo kawan-kawan, Ika dan Parti, kita segera ke gariss aku untuk mulai! Jangan lupa gacuk-gacuk kalian dibawa!” ajak Asih kepada anggota kelompoknya.
Asih, Ika dan Parti lalu ke garis saku dengan membawa gacuk-gacuk mereka. Setelah menempatkan diri di hadapan pasangan masing-masing, mereka segera melakukan permainan tahap ke-1, melemparkan gacuk-gacuknya. Lemparan Ika jatuh dan berhenti sekitar dua langkah dari batu gasangan yang ditunggi Eny. Gacuk Parti setelah menggelinding berhenti satu jengkal dari garis gasangan, dekat batu gasangan Eny. Tetapi kemudian terdengar suara, ”Praaakkk!” Ternyata gacuk Asih berhasil mengenai batu gasangan yang ditunggui Ari. Ika, Parti dan Asih langsung bersorak genbira! Lebih-lebih Ika yang merasa tidak akan mampu melakukan lemparan dari bawah kaki yang berjongkok dari jarak dua langkah menuju sasaran.
Mereka langsung melakukan permainan tahap ke-2, yaitu engklek dari garis saku ke garis gasangan dengan membawa gacuk di atas jari-jari kaki yang diangkat dan diayun-ayun, lalu melemparkannya ke batu gasangan pasangannya setelah melewati garis gasangan. Ini pun tidak terlalu sulit mereka lakukan. Ketiga-tiganya berhasil melalui tahap ke-2, tahap yang paling sulit bagi pemula.
Tahap ke-3 pun mereka lakukan dengan mudah. Melangkahkan kaki satu langkah lalu mengayunkan kaki yang di atas jari-jarinya ditaruh gacuk, agar terlempar membentur batu gasangan hingga roboh, bukanlah hal yang sulit bagi mereka.
 Selanjutnya melakukan tahap ke-4, yaitu berjalan dari garis saku ke garis gasangan dengan gacuk di atas kepala mereka, juga bukan hal yang sulit bagi mereka yang sudah biasa bermain. Apalagi sebelum bermain mereka sudah terlebih dahulu menyumpali telinga mereka dengan kapuk kapas, sehingga teriakan-teriakan menganggu lawan-lawannya tidak terdengar bising di telinganya. Sampai di atas batu gasangan pasangan mereka masing-masing, Ika, Parti dan Asih segera menjatuhkan gacuk mengenai batu gasangan sehingga roboh.
”Sekarang masing-masing sudah mendapat satu sawah. Ayo kita gantian main! Sekarang kelompok Eny yang main,” ujar Asih.
”Stop!!!” teriak Budi dan Agung bersamaan menghentikan yang akan memulai lagi permainan gamparan. ”Kalian sudah main gamparan dari tadi. Dan kalian masing-masing kelompok sudah mendapat satu sawah. Sekarang giliran kami anak laki-laki akan mempergunakan halaman ini untuk lapangan main bola,” kata Budi kepada Eny dan kawan-kawannya. Rupanya mereka yang sedari tadi menonton permainan gamparan yang dilakukan Eny  dan kawan-kawan sudah tidak sabar untuk ganti bermain bola di halaman yang sudah dijadikan tempat bermain anak-anak dari berbagai kelompok itu. Di samping Budi, terlihat Agung dan Bambang sedang bermain bola plastik dengan kakinya, Budi menendang bola ke arah Bambang, lalu ganti Bambang menendang bola ke arah Budi. Begitu bergantian berkali-kali.
”Ya sudah kita mengalah. Sekarang kita ganti yang menonton permainan bola mereka,” ujar Asih mengajak kawan-kawannya agar mengalah. Anak-anak perempuan itu lalu menyisih ke tepi. Setelah mengembalikan batu gasangan ke tempat semula, kini mereka ganti menjadi penonton permainan bola kawan-kawannya. ***

NB: pada tulisan Suwandi yang dijadikan referensi cerita ini, melempar gacuk yang ditaruh di atas jari-jari kaki kanan sambil melangkahkan kaiki kiri satu langkah, menuju batu gasangan, dilakukan pada tahap ke-3. Sedangkan pada tulisan Pak Brewok dari Sragen langkah itu ada pada tahap ke-2. Yang benar yang mana? Mungkin semua benar, karena setiap daerah kadang mempunyai aturan yang berbeda-beda, sesuai kesepakatan masyarakat setempat. Tetapi dalam hal ini penulis konsisten menggunakan referensi dari tulisan Suwandi. Terima kasih.


PENULIS: SUTARDI MS DIHARDJO
Lahir di Klaten 18 Juli 1960.

PNS Kecamatan Klaten Tengah. Menulis Cerita Misteri, Puisi, Geguritan, Cerita Pendek, Novel dan Drama
.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang dijadwalkan akan terbit akhir tahun 2014 ini: 

Kumpulan Kismis (Kisah Misteri) ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata. 

Buku lain yang akan terbit  Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 

Naskah Drama yang sudah ditulis: 

Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”, ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten”

Sekarang sedang menulis Buku Cerita Anak dengan tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu, yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: GAMPARAN"

Post a Comment