Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu

Oleh: Sutardi MS Dihardjo


Puas bermain telepon-teleponan Yuni dan Rina kembali naik ke teras rumah. Ibu Yuni sudah menghidangkan minuman teh hangat dan ketela rebus kesukaan Yuni di sana. Meraka berdua lalu makan dan minum hidangan khas pedesaan tersebut. Main telepon-teleponan di halaman dalam waktu yang agak lama siang-siang begini membuat tenggorok mereka kering dan perut mereka merasa lapar kembali. Maka dengan lahapnya mereka makan ketela rebus dan minum teh yang dihidangkan untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga yang mereka rasakan.
”Yun, Mas Arief membuatnya gambar sorot di mana sih? Aku boleh lihat tidak?” tanya Rina kepada Yuni sambil mengunyah ketela rebus.
”Di kamarnya. Boleh saja. Kita ke sana yuk!” ajak Yuni.
”Tidak dimarahi kan? Aku takut kalau sampai mengganggu,” ujar Rina.
”Tidak. Mas Arief orangnya bukan tipe pemarah kok. Tapi ya nggak tahu ya, karena tadi aku sempat marah-marah kepadanya karena benang nilon yang akan kita pakai  buat telepon-teleponan, kedahuluan dia ambil untuk membuat gambar sorot,” kata Yuni.
”Semoga dia tidak marah kepadaku. Mari kita lihat! Aku juga ingin tahu bagaimana cara membuat gambar sorot,” ajak Rina memberanikan diri.
Mereka berdua lalu masuk rumah, langsung menuju kamar Arief yang terletak di dalam. 
“Assalamu’alaikum,” Rina mengucapkan salam sebelum masuk ke kamar Arief.
“Wa’alaikum salam,” jawab  Arief. “Oh... kamu ta Rin? Ayo silakan masuk,” Arief mempersilakan Rina masuk.
“Sedang membuat apa, Mas ?” tanya Rina pura-pura tidak tahu.
“Ini lho, sedang membuat mainan gambar sorot.”
“Ini yang menggambar kamu ya Mas? Bagus sekali ini. Kalau tidak salah ini gambar Kancil, dan ini gambar Anjing,” kata Rina sambil menunjuk gambar Kancil dan gambar Anjing. ”Memangnya Mas Arief  akan membuat gambar sorot cerita Sang Kancil? Betul tidak, Mas?” tanya Rina kemudian.
”Betul tebakanmu. Aku memang akan memainkan gambar sorot cerita Sang Kancil. Aku akan mendongeng, tetapi dengan menggunakan gambar sorot ini sebagai medianya,” ujar Arief menjelaskan.
”Kenapa cerita Kancil, Mas? Bukankah Kancil itu suka menipu, Mas?” tanya Rina protes.
”Iya, Mas, Kancil itu kan suka mencuri, tidak bisa dijadikan teladan?” tanya Yuni menambahkan.
”Jangan salah menilai kamu Rina dan Yuni. Dongeng Kancil itu peninggalan orang-orang tua kita dulu. Tidak mungkin orang-orang tua dulu mewariskan contoh teladan yang jelek kepada kita. Memahami dan menafsirkan dongeng Kancil, jangan hanya dilihat bahwasanya Kancil itu suka mencuri dan suka menipu. Kancil dalam cerita itu adalah binatang yang selalu menemui masalah di sembarang tempat. Mula-mula ia kelaparan, lalu tertangkap, dikurung akan disembelih, lalu dikejar-kejar anjing, lalu akan dimakan macan dan seterusnya. Begitulah makhluk hidup, seperti juga kita manusia, selalu menemui masalah yang harus diselesaikan. Harus dicari cara untuk menyelesaikan agar terbebas dari masalah tersebut. Nah Kancil adalah contoh hewan yang cerdik, selalu punya akal untuk lepas dari masalah. Ketika dalam keadaan terdesak, pada saat-saat terakhir Kancil tetap tidak mudah putus asa. Ia selalu berpikir keras untuk mencari solusinya. Dan dengan kecerdikannya Kancil yang lemah selalu dapat melepaskan diri dari ancaman bahaya yang datangnya dari yang lebih kuat. Kecerdikan Kancil dan usahanya yang tidak pernah mengenal putus asa, sehingga selalu menemukan akal untuk lepas dari masalah, inilah yang harus kita teladani,” Arief menjelaskan panjang lebar.
”Tapi menipu dan mencuri itu kan perbuatan yang tidak baik, Mas,” bantah Yuni masih belum puas pada jawaban kakaknya.
”Memang benar, menipu dan mencuri itu adalah perbuatan yang tidak baik, yang tidak dapat kita jadikan teladan. Tetapi Kancil mencuri ketimun, karena dia terpaksa, perutnya lapar. Kancil mencuri kan sekedar untuk mengenyangkan perutnya. Ia tidak membawa karung lalu menjual timun curiannya ke pasar. Lagian Kancil kan tidak bisa menanam sendiri,” kata Arief  dengan gaya bicara agak melucu. Yuni dan Rina tertawa mendengar penjelasan dan gaya bicara Arief.
”Lalu Kancil menipu Anjing. Ini juga dilakukan karena terpaksa. Kalau Kancil tidak menipu Anjing, mungkin sebentar lagi ia akan mati disembelih Pak Tani. Makanya ia menipu Anjing yang tidak mungkin disembelih Pak Tani untuk menggantikan dirinya, karena Anjing itu adalah binatang piaraan Pak Tani, yang dipelihara bukan untuk disembelih dan diambil dagingnya. Jadi Kancil tidak bermaksud mencelakakan Anjing,” lanjut Arief.
”Tapi anjing kan lalu dipukul dan diusir Pak Tani?” bantah Rina.
”Meskipun memukul dan mengusir, Pak Tani tidak sepenuh hati. Ia hanya melampiaskan kekecewaannya, dan menghukum Anjing yang dianggap bodoh sehingga menggagalkan rencana Pak Tani,” jawab Arief.
Yuni dan Rina mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju pada penjelasan Arief.
”Jadi begitu ya?” tanya Yuni dan Rina bersamaan. Sekarang mereka berdua baru faham.
”Begitulah seharusnya kita memahami cerita Sang Kancil, agar kita dapat mengambil pelajaran darinya. Semua kejadian dan peristiwa kalau kita pandang dari sisi baiknya, maka kita akan mendapatkan pelajaran berharga darinya. Demikian pula dari cerita Sang Kancil yang memperlihatkan perbuatan baik dan buruk. Tinggal bagaimana kita bisa mencari untuk dapat melihat sisi baiknya,” ujar Arief. ”Sekarang tolong bantu aku mengguntingi gambar-gambar ini. Gunting-guntingnya tadi kamu ambil semua kan Yun?” tanya Arief kemudian kepada adiknya.
”Iya, Mas, untuk melubangi kardus, membuat telepon-teleponan,” jawab Yuni.
”Ya sudah, sekarang mulailah mengguntingi gambar-gambar yang aku buat di kertas karton ini! Aku akan mulai memasang layar gambar sorot dan memasang tali-tali benang nilon untuk memainkan gambar-gambar itu nantinya,” pinta Arief kemudian.
”Baiklah, saya mau bantu tapi saya nanti boleh lihat gratis ya, Mas?” ganti Rina yang meminta.
”Boleh saja. Kamu boleh lihat gratis, tidak bayar. Tapi aku minta tolong, kamu mau jadi pegawaiku untuk pemasaran. Kalau kamu berhasil, tidak cuma nonton gratis tetapi juga akan mendapat bayaran 20 persen,” ujar Arief.
”Bayarnya berapa rupiah, Mas?”
”Tidak pakai uang. Tetapi pakai karet gelang. Satu anak bayar 10 buah karet gelang. Sekedar untuk menghargai jerih payahku.”
”Kalau begitu, umpama saya mendapat 10 anak, berarti bayaran yang masuk ada 100 buah karet gelang. Lalu bagian saya 20 buah karet gelang. Lumayan juga untuk modal main tempel,” kata Rina.
”Lalu aku kebagian tugas apa, Mas?” tanya Yuni.
”Kamu juga sama dengan Rina, tugasmu promosi, memberi tahu teman-teman kita kalau malam nanti akan ada mainan gambar sorot yang akan dimainkan Mas Arief di rumah kita, mulai pukul 7 malam, sesuadh sholat Isya,” jawab Arief, ”Selain itu kamu nanti aku jadikan assisten sorot, tugasnya memainkan salah satu tali benang. Untuk itu bayaranmu aku tambah 10 persen dari keseluruhan hasil bayaran yang masuk.”
”Asyik... Aku akan promosi, bayarannya 20 persen, ditambah 10 persen honor sebagai assisten sorot. Wooow... banyak sekali! Besok kita main tempel karet gelang ya, Rin?” ajak Yuni kepada Rina.
”Boleh juga. Tetapi hari ini kita harus kerja keras mengajak teman-teman nonton gambar sorot ke sini,” jawab Rina.
”Dan jangan lupa, bayarannya 10 buah karet gelang untuk satu anak. Kalian daftar dan kalian minta bayarannya sekaligus. Nanti karet gelangnya disetorkan kepada aku. Setelah semua bayaran disetorkan, kalian akan mendapat 20 persennya. Sudah jelas? Sekarang jangan hanya bicara saja. Segera diguntingi itu gambarnya. Kalau tidak selesai-selesai kapan kamu akan promosi kepada teman-teman kita?” tanya Arief.
”Jangan khawatir, Mas! Teman-teman sudah percaya kemampuan mendongeng Mas Arief yang hoby membaca.  Mas Arief adalah jago mendongeng. Begitu satu dua orang aku beritahu kalau Mas Arief akan main gambar sorot, mereka segera akan menyebarkan informasi ini kepada teman-teman kita yang lain. Saya tanggung, lebih dari sepuluh anak akan datang ke sini malam nanti untuk melihat mainan gambar sorot yang kalian mainkan,” ujar Rina optimis.
Tidak banyak cakap lagi, Rina dan Yuni segera menggunting gambar-gambar hasil karya Arief yang akan digunakan untuk main filem gambar sorot. Sementara itu Arief mulai memasang benang nilon di kaki meja. Caranya, benang yang sudah dipotong dua kali panjang antara dua kaki meja ditambah dua jengkal, ditaruh melingkari dua kaki meja tersebut lalu disambung. Ada empat buah benang yang dipasang melingkari kaki meja tersebut.  Sebagai layar gambar sorot, di depannya dilem di bibir meja, dibentangkan kertas koran yang sudah disambung-sambung sehingga memenuhi sisi panjang meja dari bibir atas meja sampai ke lantai. Agar tidak mengganggu pandangan dipilihkan lembar koran yang tidak banyak gambarnya. Dipilih yang banyak hurufnya yang kecil-kecil.
Arief mencoba menggerak-gerakkan tali benang. Ternyata dapat bergerak maju mundur dengan bebas. Ia lalu melihat gambar yang sudah digunting. Lalu ia membantu menggunting kertas kecil-kecil ukuran 1 Cm X 2 Cm. Guntingan kertas kecil-kecil itu lalu ditempel di belakang gambar-gambar yang sudah dibuat. Tidak semua dilemkan. Hanya bagian atas saja yang dilem, yang penting dapat untuk mencantelkan ke tali benang, dan cukup kuat, tidak mudah lepas.
”Sekarang persiapan sudah selesai, tinggal menempatkan lampu di bawah meja. Tapi itu akan aku lakukan nanti malam saja kalau sudah akan main. Nah sekarang kalian boleh woro-woro, promosi kepada teman-teman kita. Ajaklah teman kita sebanyak-banyaknya!” perintah Arief kepada Yuni dan Rina.
Yuni dan Rina segera keluar untuk menemui teman-temannya. Sementara itu Arief mencoba memainkan gambar sorot buatannya, terutama mencantelkan gambar ke benang dan memainkannya maju mundur. Ternyata gambar-gambar itu menempel cukup kuat, dan benang pun dapat bergerak maju mundur leluasa membawa gambar-gambar yang menempel.
Malam harinya, setelah sholat Isya berjamaah di masjid, Rina, Yuni dan teman-temannya yang sudah mendaftar untuk melihat gambar sorot di rumah Yuni sudah berdatangan. Seluruhnya ada 15 anak, selain Rina dan Yuni. Mereka hasil  promosi dan pendaftaran yang dilakukan Rina dan Yuni siang dan sore tadi. Rina mendaftar 10 orang, sedangkan Yuni mendaftar 5 orang. Anak-anak itu diajak masuk ke ruang tengah.
”Lho kok dipindah, Mas? Tadi siang kan di kamar Mas Arief. Sekarang kok di kamar tengah?” tanya Rina heran.
”Iya, karena di kamar aku sempit. Kalian yang lihat kurang nyaman. Tadi Yuni sudah memberi tahu aku, kalau kalian berhasil mendaftar 15 anak. Jadi ya perlu dicarikan ruangan yang lebih luas. Tapi kalau di kamar tamu tidak diperbolehkan ayah. Takutnya kalau kita pas main, datang tamu mau mencari ayah atau ibu, padahal lampu kamar tamu harus dimatikan, tinggal lampu yang di bawah meja yang kita gunakan untuk main gambar sorot. Masak tamu disuruh gelap-gelapan, kan tidak lucu..Iya kan?” ujar Arief memberi penjelasan.
”Begitu ya? Lha ini lampunya kok masih menyala? Belum dimatikan?” tanya Rina lagi.
”Ya nanti dulu ta! Kita kan baru persiapan. Kalau kalian semua sudah duduk dengan tenang dan nyaman, aku sudah mempersiapkan segala perlengkapan, termasuk menyalakan lampu di bawah meja, lampu besar di ruang keluarga ini akan dimatikan. Kalian berada dalam gelap, aku berada dalam terang di bawah meja, gambar sorot aku mainkan. Kalian akan melihat gambar sorot ini dengan jelas. Nah sekarang kalian semua duduklah dengan tenang dan nyaman!”
Anak-anak lalu mengambil tempat duduk sendiri-sendiri. Ada yang duduk bersandar di dinding. Ada yang bersandar ke tiang rumah. Tetapi lebih banyak lagi yang mendekat di depan meja yang dibentangi layar sorot dari kertas koran. Mereka menunggu Yuni mematikan lampu dan segera memainkan gambar sorot.
Setelah semua siap, lampu sorot sudah dinyalakan di samping Arief di bawah meja, Yuni lalu memijat saklar yang menempel di dinding untuk mematikan lampu besar di ruang keluarga. Suasana menjadi gelap. Hanya terlihat remang-remang kena sorot lampu dari bawah meja yang menembus kertas koran.
Arief memasang gambar ketimun di tali benang 1, lalu menariknya sehingga gambar ketimun berada tepat di tengah layar. Lalu di tali benang 2 Arief memasang gambar Kancil  di tepi kiri layar.
”Aduh... perutku lapar sekali. Dari kemarin sore sampai siang hari ini perutku belum kemasukan makanan apa-apa. Dari pagi tadi keroncongan terus, seolah demontrasi minta segera diisi. Mana matahari sedang panas terik di tengah hari begini. Haus juga tenggorokanku. Coba aku cari makan ke ladang Pak Tani. Barangkali ketimunnya sudah ada yang besar. Aku mau minta satu atau dua buah sekedar untuk mengganjal perutku yang sudah tidak kuat menahan lapar,” kata Kancil lewat suara Arief. Lalu Arief menarik pelan-pelan tali benang 2 yang ditempeli gambar Kancil, agar gambar kancil tersebut dapat berjalan ke tengah layar, mendekati gambar ketimun.
”Wah.... ini, dasar rejeki nomplok! Ketimun Pak Tani sudah besar-besar, tentu segar kalau dimakan. Aku ambil ah.... aku coba makan satu saja dulu.” Arief lalu menggerakkan tali benang 2 sehingga kelihatan gambar Kancil menyentuh gambar ketimun.
”Enak sekali! Manis dan segar. Biarlah aku makan sekenyang-kenyangnya! Aku makan sepuas-puasnya ketimun yang besar-besar, mumpung ladang Pak Tani tidak dijaga.” Arief menggerak-gerakkan gambar Kancil menyentuh-nyentuh gambar ketimun. Lalu menarik tali benang 1, menjauhkan gambar ketimun. Namun kemudian didekati gambar Kancil lagi, dengan cara menarik tali benang 2, lalu disentuh-sentuh, sampai berulang kali.
”Kenyang sudah perutku. Aku telah memakan lima buah ketimun yang besar-besar. Sekarang perutku tidak keroncongan lagi. Aku akan pergi. Kalau di sini terus aku tentu ditangkap Pak Tani, karena aku telah mencuri ketimunnya. Kalau dikejar pasti aku akan tertangkap karena aku kekenyangan. Perutku kemplung-kemplung penuh ketimun. Aku tidak bisa lari cepat saat ini. Lebih baik aku bersembunyi. Besok saja aku kembali lagi untuk makan kalau perutku sudah lapar.” Arief lalu menarik tali benang 2, agar Kancil bergerak ke tepi. Setelah sampai di tepi, melewati kaki meja gambar Kancil diambil.
Sekarang di tali benang 2 yang kosong itu dipasang gambar babi hutan satu ekor. Di tali benang 3 juga dipasang gambar babi hutan. Sementara Yuni diserahi memegang tali benang 1 yang ditempel gambar ketimun. Dari tepi, dua tali yang dipasang gambar babi hutan itu ditarik ke tengah, cepat, agak disendal-sendal, maju – mundur berganti-ganti, sehingga di depan layar kelihatan gambar dua babi itu seperti sedang berkejar-kejaran melonjak-lonjak tak beraturan, maju – mundur di sekitar gambar ketimun yang tali benangnya juga digerak-gerakkan Yuni sedikit kacau. Lalu tali benang 2 dan tali benang 3 ditarik ke kanan, sehingga gambar dua babi hutan itu ketarik ke tepi layar sebelah kiri, setelah melewati kaki meja lalu diambil.
Kemudian Arief memasang gambar Pak Tani di tali benang 2 di tepi layar sebelah kanan. Ia menarik benang sehingga gambar Pak Tani mendekati gambar ketimun.
”Kurang ajar! Siapa yang telah merusak ladang ketimunku ini? Siapa yang telah mencuri ketimun-ketimunku ini? Ketimun sudah besar-besar sudah waktunya dipanen, malah dicuri dan dirusak seperti ini. Ini namanya kan merugikan aku. Kalau seandainya ia butuh, lalu minta untuk dimakan di sini, tentu aku beri. Tapi jangan dirusak seperti ini. Kalau begini caranya aku bisa rugi! Aku bisa bangkrut!” teriak Pak Tani marah lewat suara Arief.
”Awas...! Siapapun yang telah mencuri ketimunku, besok pasti tertangkap,” ancam Pak Tani sambil ngeloyor pergi. Arief menarik tali benang 2 sehingga gambar Pak Tani bergerak ke tepi hingga melewati kaki meja.
Sambil memegangi tali benang 1 yang ditempel gambar ketimun, Yuni lalu mengarahkan lampu belajar yang digunakan sebagai lampu sorot itu ke tepi layar untuk menerangi Arief yang akan memasang gambar orang-orangan di tali benang 3. Sekarang Arief memegang tali benang 2 yang ditempeli gambar Pak Tani dan tali benang 3 yang ditempeli gambar orang-orangan. Kedua gambar tersebut dipasang hampir berimpit. Sementara layar seluruhnya gelap, memperlihatkan suasana malam. Kemudian Yuni  mengarahkan lagi lampu sorot ke tengah layar. Lalu Arief menarik tali benang 2 dan tali benang 3, sehingga gambar Pak Tani dan orang-orangan berjalan ke tengah layar, di depan gambar ketimun. Tali benang 1 masih tetap dipegang Yuni.
”Sekarang rasakan.... aku pasang orang-orangan di pematang ladangku....nah ini! Sekarang tinggal mengolesi dengan perekat yang pekat di sekujur tubuhnya,” kata Pak Tani lewat suara Arief. Kemudian Arief menggerak-gerakkan tali benang 2 untuk menggerakkan gambar Pak Tani seolah-olah sedang mengolesi perekat di sekujur tubuh orang-orangan  ”Siapa pun yang akan mencuri ketimunku, yang akan melewati pematang ini, tentu akan melekat pada orang-oranganku. Ia tak akan bisa lari dari sini. Tinggal aku tangkap dia nantinya,” kata Pak Tani lewat suara Arief.
Arief lalu menggerakkan tali benang 2 untuk menyembunyikan gambar Pak Tani di balik gambar ketimun.
Kemudian Yuni memasang gambar Kancil di tali benang 4. Tali ditarik agar gambar Kancil maju di depan gambar orang-orangan.
”Siang-siang begini, perutku lapar dan tenggorokanku haus lagi. Minta ketimun Pak Tani lagi ah.... Tidak usah banyak-banyak, cukup tiga atau empat buah saja sekedar agar perut tidak lapar.” Tali benang 4 ditarik lagi agar gambar Kancil lebih dekat di depan gambar orang-orangan.
”Oh... ada Pak Tani lagi jaga di ladang. Permisi Pak Tani, aku minta ketimunnya untuk pengganjal perut ya?” pinta Kancil. Orang-orangan diam saja.
”Kok diam saja. Jangan pelit-pelit dong, Pak? Aneh! Pak Tani dari tadi kok berkacak pinggang terus, apa tidak pegal, Pak? Tidak? Masak, sih, Pak? Aku saja berkacak pinggang baru satu menit sudah pegal semua kok. Masak Pak Tani dari tadi, tidak merasa pegal.” Kancil lebih maju lagi.
”Ketahuan sekarang... ternyata kamu Cuma orang-orangan ya? Kancil itu binatang yang cerdik kok ditakut-takuti sama orang-orangan... Terang Kancil tak bakalan ketipu! Kalau Cuma orang-orangan tak bisa berlari, tentu kamu tak bakalan dapat mengejar Kancil yang larinya cepat seperti kilat. Bergerak pun kamu tak bisa, aku pukul, aku tendang tentu tak dapat membalas. Kamu dapatnya hanya plirak-plirik mata mendelik, tapi tak membuat aku takut!” kata Kancil menyombongkan diri.
Penonton yang mendengar kata-kata Kancil ini merasa lucu. Mereka tertawa terpingkal-pingkal.
”Sekarang rasakan ini tendanganku pakai kaki kanan! Sekali tendang pasti kamu akan roboh. Kalau kamu mampu, balaslah!” Yuni lalu menarik tali benang 4  dengan sedikit menyendalnya sehingga seolah-olah memperlihatkan Kancil yang sedang menendang orang-orangan dengan sekuat tenaga. Gambar Kancil lalu ditempel pada gambar orang-orangan. Digerak-gerakkan tapi tetap lengket.
”Apa ini? Sihir? Orang-orangan sudah disihir Pak Tani membuat aku lengket tak bisa lepas. Celaka! Aku harus nendang lagi pakai kaki kiriku.” Gambar Kancil digerak-gerakkan lagi, tapi tetap lengket.
”Celaka...aku tak bisa bergerak. Bagaimana ini? Waduh Biyung... tolong aku! Anakmu terperangkap di ladang Pak Tani,” teriak Kancil lewat suara Arief.
Arief lalu menggerakkan tali benang 2 agar gambar Pak Tani mendekati gambar Kancil.
”Tertangkap kamu sekarang pencuri!” teriak Pak Tani lewat suara Arief.
”Tolong lepaskan saya Pak Tani!  Saya bukan pencuri! Saya hanya minta ketimunmu untuk menghilangkan lapar dan dahagaku,” teriak Kancil.
”Meminta diam-diam, tetapi tidak langsung kepada pemiliknya, dan tidak ada persetujuan pemiliknya, kalau nekad mengambil, itu berarti mencuri,” ujar pak Tani.
”Kalau harus menunggu jawaban Pak Tani, saya keburu kelaparan gitu, Pak. Jadinya ya saya mengambil seperlunya,” kata Kancil.
”Seperlunya kok merusak ladang. Lihat! Tanamanku rusak, banyak ketimun yang masih muda rontok berserakan di tanah! Ini semua bukankah hasil perbuatanmu yang sangat merugikan aku?” tanya Pak Tani.
”Bukan, Pak Tani. Itu bukan perbuatanku! Kemarin aku hanya memetik 5 buah ketimun untuk mengenyangkan perutku saja. Aku tidak mengambil lebih. Betul itu. Aku tidak menipu. Kalau tidak percaya... tanyakan kepada Rina yang sedari tadi nonton kita!” bela Kancil.
Rina yang sedang nonton di depan layar tersentak. Spontan ia membenarkan, ”Benar, Pak Tani. Aku juga melihat Kancil hanya makan 5 buah ketimun. Yang merusakkan ladangmu bukan Kancil, tapi hewan lain.”
”Kamu itu manusia di luar dunia dongeng, tidak usah ikut campur! Ini urusan dunia dongeng, kami akan mengurus sendiri! Sekarang kalian penonton diam!” hardik Pak Tani lewat suara Arief.
”Lha terus bagaimana saya harus meyakinkan Pak Tani, kalau saya betul-betul tidak merusak tanaman Pak Tani?” tanya Kancil bingung.
”Kamu tidak usah membela diri! Aku tidak percaya! Pokoknya sekarang kamu aku rangket, lalu aku bawa pulang. Nanti kamu akan aku sembelih untuk dimasak gulai. Tentu lezat makan nasi putih dengan gulai Kancil,” ujar Pak Tani.
”Jangan! Jangan, Pak Tani! Ampuni saya! Saya belum mau mati sekarang! Saya jangan dijadikan gulai Kancil. Tolonglah saya, Pak Tani!” kata Kancil menghiba.
”Tidak ada ampun bagimu! Rusaknya ladangku harus dibayar dengan lezatnya dagingmu dalam masakan gulai Kancil. Sekarang kamu tidak usah teriak-teriak menghiba, kedua kakimu akan aku ikat. Lalu kamu akan aku bawa pulang. Percuma kamu berteriak-teriak minta ampun. Tiada ampun lagi bagimu.”
Arief lalu menarik tali benang 2 bersamaan dengan Yuni menarik  tali benang 4, sehingga gambar Kancil berimpit dengan gambar Pak Tani ketarik ke sebelah kanan. Bersamaan dengan itu Arief juga menarik tali benang 3 yang ditempeli gambar orang-orangan, dan Yuni menarik tali benang 1 yang berisi gambar ketimun. Semua bersama-sama ditarik ke sebelah kanan. Di dalam perjalanan, lewat suara Arief, Kancil berteriak-teriak, merengek-rengek di sepanjang perjalanan, ”Waduh....! Pak Tani tolong pelan-pelan nariknya. Lihat tuh... ekorku sekarang ikut lengket ke orang-orangan!  Waduh...duh... Jangan lewat situ! Waduh situ banyak batunya... sakit semua badanku nanti. Tobat..Tobat! Tolong hentikan! Lepaskan aku! Aku berjanji, sewaktu-waktu kamu punya kerja aku siap membantu, asalkan kamu sekarang bersedia melepaskan aku.”
Anak-anak yang menonton di depan layar tertawa terbahak-bahak. Mereka geli pada bicaranya Kancil yang disuarakan Arief dengan gaya bicara yang lucu campur kasihan.
  Pak Tani tidak menggubris. Arief dan Yuni terus menarik semua tali benang pelan-pelan, hingga melewati kaki meja. Gambar ketimun dan gambar orang-orangan diambil. Tinggal gambar Kancil dan gambar Pak Tani terpasang di tali. Arief lalu menarik tali benang 2 dan tali benang 4, sehingga gambar Kancil dan gambar Pak Tani kembali tampil di tengah layar.
”Sekarang kamu aku taruh di halaman rumah. Akan aku kurung dulu kamu,” ujar Pak Tani kepada Kancil. Ia lalu berteriak memanggil istrinya, ”Bu ...! Bu.....! Tolong ambilkan kurungan ayam itu! Aku menangkap Kancil yang merusak ladang kita. Ayo kita kurung dulu dia. Nanti kita masak gulai, sate, dan daging bumbu rujak . Pasti enak dan lezat.”
Yuni menarik tali benang 1 yang ditempeli gambar Bu Tani, dan tali benang 3 yang ditempeli gambar kurungan ke tengah. Yuni sambil berteriak menirukan suara Bu Tani, ”Ya Pak, tunggu! Nah ini kurungannya.”
”Sekarang kurungkan pada Kancil pelan-pelan!” perintah Pak Tani lewat suara Arief. Yuni menarik tali benang 1 dan tali benang 3, sehingga gambar Kurungan dan gambar Bu Tani berimpit dengan gambar Kancil.
”Sekarang pegangi kurungan kuat-kuat agar Kancil tidak bisa keluar! Aku akan cari batu yang besar untuk membebani kurungan ini,” perintah Pak Tani lewat suara Arief.
”Iya, Pak, beres,” jawab Bu Tani lewat suara Yuni.
Arief lalu menarik tali benang 2 ke tepi. Disitu ia menaruh gambar batu di depan gambar Pak Tani. Kemmudian ia menarik kembali tali benang itu ke tengah, di depan gambar kurungan Arief mencabut gambar batu lalu ,eletakkannya di atas gambar kurungan.
”Sudah. Sekarang Kancil tidak akan dapat lepas. Tugas kamu sekarang, Bu, ke pasar membeli bumbu sate, bumbu rujak, dan bumbu gulai. Nanti kita masak daging Kancil dengan aneka masakan. Hari ini kita akan pesta aneka masakan daging Kancil. Sedangkan aku, aku akan ke rumah Pak Kaum untuk meminjam pisau yang tajam untuk menyembelih Kancil,” Pak Tani berbagi tugas dengan Bu Tani.
”Baik, Pak Tani, aku akan ke pasar membeli bumbu,” jawab Bu Tani lewat suara Yuni.
Tali yang ditempeli gambar Pak Tani dan gambar Bu Tani lalu ditarik ke pinggir. Setelah melalui kaki meja lalu diambil. Yang tinggal adalah gambar Kancil, kurungan dan batu pemberat menempel di atas kurungan.
Kemudian Arief memasang gambar Anjing di tali benang 1, lalu menariknya ke tengah, berhenti di depan gambar Kancil.
”Ini kan Kancil. Kenapa kamu ada di dalam kurungan Pak Tani, Cil?” tanya Anjing lewat suara Arief.
”Oh kamu ta, Njing,” kata Kancil gembira mengetahui Anjing piaraan Pak Tani muncul. ”Ya ini, Njing. Aku ini mau dinikahkan dengan anak Pak Tani. Tapi aku tidak mau. Jadinya aku dikurung di sini. Aku mau dipaksa menikah dengan anak Pak Tani. Aku tidak mau. Aku mau berlari tapi aku tak bisa,” lanjut Kancil berbohong.
”Anak Pak Tani itu cantik lho Cil, kenapa kamu tidak mau? Wah pasti kamu belum tahu saja itu. Tapi ya tak apa kalau kamu tak mau. Justru kebetulan. Kalau kamu tak mau, apa aku saja yang menggantikan, Cil?” ujar Anjing menawarkan diri.
”Betul? Tapi bagaimana caranya, sedangkan badanku terkurung begini?” tanya Kancil.
”Begini saja. Kamu aku lepaskan. Ganti Kamu yang mengurung aku di sini. Nanti aku akan bilang bahwa aku adalah Kancil yang sudah berganti ujud menjadi Anjing. Bagaimana? Setuju?” Anjing menawarkan jalan keluar.
”Ide yang bagus! Kalau begitu ayo segera lepaskan aku dari kurungan ini. Jatuhkan batunya!” pinta Kancil.
”Sebentar...,” Anjing lalu melepaskan Kancil dengan menggulingkan batu dan membuka kurungan. Arief menggerak-gerakkan tali benang 3 sehingga gambar batu yang menempel di gambar kurungan terjatuh. Lalu Yuni menarik tali benang 4 sehingga gambar Kancil agak menjauh dari gambar kurungan.
”Sekarang ganti kamu yang aku kurung, ” kata Kancil. Arief menarik lagi tali benang 4, sehingga kelihatan Kancil menaruh kurungan dan batu di atas tubuh Anjing.
”Selamat menjadi pengantin baru Anjing! Aku akan lari sejauh-jauhnya,” teriak Kancil. Arief lalu menarik tali benang 1. Gambar Kancil bergerak ke tepi dengan cepat, dan setelah melewati kaki meja diambil.
Kemudian Arief memasang gambar Pak Tani di tali benang 4 dan menariknya sehingga gambar Pak Tani mendekati gambar Anjing dalam kurungan.
”Lhoh kok Anjing yang ada dalam kurungan! Mana Kancil?” teriak Pak Tani kecewa.
”Jangan terkejut, Pak Tani. Ketika tahu kalau aku akan dikawinkan dengan anak Pak Tani, aku tadi lalu berdoa, minta dijadikan hewan rumahan, bukan hewan liar. Terkabul doaku maka aku si-Kancil hewan liar berubah menjadi Anjing hewan rumahan. Nah sekarang aku tidak akan lari lagi, karena aku sudah tidak malu dikawinkan dengan putri Pak Tani yang cantik,” kata Kancil lewat suara Arief.
”Hewan bodoh! Jangan menipu aku! Mana ada Kancil berubah jadi Anjing. Jangan berpura-pura! Aku tahu, kamu adalah Anjing piaraanku. Mengaku saja, kamu suruh sembunyi di mana Kancil tangkapanku? Kalau kamu tidak mau memberitahukan, aku usir kamu dari rumahku!” ancam Pak Tani setelah membuka kedok Anjing.
”Ampun, Pak Tani. Saya jangan diusir! Jadikan saja saya menantu Pak Tani,” pinta Anjing.
”Menantu? Mana ada putriku cantik akan bersuamikan Anjing budug seperti kamu. Hayo katakan, di mana kamu sembunyikan Kancil tangkapanku?” bentak Pak Tani.
”Kancil tangkapan? Tapi bukankah ia calon menantu Pak Tani?” tanya Anjing tak mengerti. Ia masih belum sadar kalau kena tipu Kancil.
”Calon menantu apa! Dia itu telah mencuri ketimunku. Makanya ia aku tangkap untuk aku sembelih. Kenapa justru sekarang kamu yang ada di kurungan?” ujar pak Tano.
”Kalau begitu saya sudah kena tipu Kancil. Katanya ia dipaksa mau dijadikan menantu Pak Tani. Padahal ia tidak mau. Sedangkan saya yang sudah lama mengabdi kepada Pak Tani bahkan tidak pernah ditawari untuk dijadikan menantu. Saya iri pada keberuntungan Kancil. Makanya ia saya usir pergi jauh-jauh dari rumah ini, lalu saya menggantikan, pura-pura jadi jelmaan Kancil yang terkabul doanya,” kata Anjing memberi penjelasan.
”Anjing bodoh! Kebodohan dan sifat iri hatimu telah menggagalkan rencanaku pesta daging Kancil dalam aneka masakan. Sekarang keluar kamu! Cari dan tangkap Kancil sampai ketemu!” perintah Pak Tani lewat suara Arief.
Arief lalu menarik tali benang 4 dan tali benang 1 sehingga gambar Anjing dan Gambar Pak Tani saling berdekatan, tapi kemudian agak menjauh. Tali benang 3 dilepas dari pegangan Yuni, sehingga gambar kurungan jatuh.
”Sebagai hadiah dari kebodohanmu, terimalah ini pukulan tongkatku sebagai bekal kepergianmu,” kata Pak Tani lewat suara Arief. Arief lalu menggerak-gerakkan tali benang 4 sehingga gambar Pak Tani terlihat seperti memukul-mukul gambar Anjing.
”Kaing...! Kaing....! Ampun! Ampun! Kapok Pak Tani, saya tidak mengulangi kebodohan saya lagi! Ampun....! Ampuuuunnn...!” teriak Anjing sambil lari menjauh.
Arief lalu menarik tali benang 1 sehigga gambar Anjing dengan cepat menepi, setelah melewati kaki meja diambil.
”Dasar hewan bodoh! Masak aku akan mengambil menantu Kancil! Memangnya sudah tidak ada perjaka tampan yang mau sama anakku? Sekarang rasakan aku telah memukuli tubuhnya agar menjadi pelajaran, agar tidak mengulangi lagi kebodohannya. Sudah... aku mau tidur untuk menghilangkan kekecewaan akibat kebodohan Anjing yang tak pernah mau belajar,” kata Pak Tani lewat suara Arief.
Arief lalu mnarik tali benang 4 ke tepi. Setelah gambar Pak Tani melewati kaki meja diambil. Kemudian Yuni memijat saklar yang ada di dinding. Lampu ruang keluarga menyala terang.
”Sudah selesai ini, Mas Arief? Lha nasib Kancil dan nasib Anjing bagaimana? Bisakah Anjing menemukan Kancil?” Tanya Rina dan kawan-kawannya.
“Sekarang sudah malam. Kita bubar dulu, nanti kalian kemalaman, tidak berani pulang. Lanjutannya malam minggu yang akan datang. Tapi kalian harus bayar karet gelang lagi. Jangan lupa ajak kawan-kawanmu sebanyak-banyaknya ya!” jawab Arief.
Anak-anak keluar. Di luar mereka tidak segera pulang. Mereka masih asyik membicarakan cerita si-Kancil yang ditayangkan dengan gambar sorot. Mereka bilang asyik... seperti melihat filem saja. Sementara itu Arief dan Yuni membenahi peralatan yang mereka gunakan untuk main gambar sorot. Mereka sudah ijin orang tuanya agar meja yang untuk main gambar sorot dibiarkan begitu, layar koran dan tali benang tidak usah dilepas, karena akan digunakan lagi malam minggu yang akan datang. ***

kamigilan

Penulis: SUTARDI MS DIHARDJO

Lahir di Klaten 18 Juli 1960. Bekerja sebagai PNS Kecamatan Klaten Tengah
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang akan terbit: 
1. Kumpulan Cerita Misteri ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata dijadwalkan terbit akhir bulan Desember 2014.
2. Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 
3. Buku Kumpulan Dongeng ”Raja Lobaningrat” Penerbit Galangpress Yogyakarata (?)
4. Sekarang sedang menulis buku kumpulan cerita anak dengan tema dolanan bocah tempo dulu yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta

Naskah Drama: 
1. ”Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, 
2. ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar” 
3. ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten.”

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu"

Post a Comment