Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: NDHAS-SIKIL

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu:

NDHAS-SIKIL *)
Oleh: Sutardi MS Dihardjo

”Dhung...!! Dhung...!! Dhuuuuunggg...!!” terdengar suara bende (gong kecil) dipukul dari kantor Guru. Doni yang akan mendapat giliran maju untuk mengerjakan PR Matematika di depan kelas jadi gembira, lega, seolah lepas dari terkaman harimau. Ia sudah sedari tadi khawatir akan dimarahi Ibu Guru, karena belum ngerjakan PR. Apalagi soal yang harus ia kerjakan nanti betul-betul soal yang teramat sulit bagi Doni! Sudah dicoba mengerjakan dirumah berulang kali, tapi selalu gagal. Sungguh beruntung kini, sebelum tiba gilirannya untuk maju, kedahuluan suara bende tanda jam pelajaran Matematika habis. Sungguh beruntung! Sekarang waktunya anak-anak keluar kelas untuk istirahat, mendinginkan kepala yang sudah terasa penat.
Pelajaran berikutnya setelah istirahat nanti adalah pelajaran sejarah. Nah kalau pelajaran ini Doni suka. Doni masih ingat, pelajaran sejarah nanti akan melanjutkan cerita berdirinya Kerajaan Majapahit. Ceritanya Raden Wijaya beserta pengikutnya yang melarikan diri sudah mendapat pengampunan dari Prabu Jayakatwang. Sekarang mereka dipercaya untuk membuka hutan Tarik. Di tengah kesibukan bekerja ada yang mencoba mencicipi buah maja. Ternyata rasanya pahit.
Anak-anak suka kalau mendapat pelajaran sejarah. Karena Pak Guru yang mengajar sambil bercerita, sehingga menarik perhatian siswa. Anak-anak yang mendengarkan sampai bengong terbawa suasana dan alur cerita. Tak terasa nama-nama pelaku, peristiwa dan kejadian, serta tahun-tahun penting terjadinya peristiwa sejarah, masuk ke dalam ingatan mereka begitu lekat.
”Anak-anak, cukup sekian dulu pelajaran Matematika. Sekarang kita istirahat dulu. Pelajaran Matematika yang akan datang masih melanjutkan mengerjakan PR yang belum selesai. Besok yang mendapat giliran mengerjakan PR pertama Doni. Ayo sekarang kalian keluar semua. Jangan ada yang masih tinggal di dalam kelas. Sana, main di halaman  atau makan di kantin. Pokoknya jangan ada yang tinggal di kelas!” perintah Bu Guru.
Bu Guru lalu keluar menuju ke kantor guru. Anak-anak setelah membenahi buku dan alat tulisnya berhamburan keluar. Ada yang lalu bermain dengan teman-teman akrabnya, ada yang duduk-duduk bergerombol di teras sekolah atau di bawah pohon waru. Mereka bercerita macam-macam pengalaman maupun rencana masa depan. Mereka tinggi-tinggian cita-cita, meskipun belum tahu bagaimana cara mewujudkannya. Tak apa. Yang penting mereka punya impian untuk masa depannya.
Ada juga yang ke sana ke mari mencari kawan untuk diajak bermain bersama.
”Mari kita main dolanan ndhas-sikil!” ajak Wahyu kepada Rizal dan Doni.
”Masak cuma kita bertiga? Paling tidak ya enam orang dong, baru ramai mainnya. Jadi bisa bertanding tiga lawan tiga. Baiknya sekarang kita bertiga cari tiga orang lagi. Kita cari lawan sut sendiri-sendiri. Bagaimana, setuju tidak?” tanya Doni.
”Okey aku setuju! Kalau begitu mari kita cari lawan sut sendiri-sendiri,” sahut Rizal dan Wahyu bersamaan. Mereka bertiga segera menyebar mencari kawan yang mau diajak bermain bersama.
Tidak sulit bagi Wahyu dan Rizal untuk mencari lawan sut. Tidak usah jauh-jauh Wahyu sudah bisa mengajak Parno.  Anak itu ketika diajak langsung mau. Demikian juga ketika Rizal mengajak Jarot. Anak bertubuh kecil tetapi lincah itu langsung oke. Akan tetapi tidak demikian halnya bagi Doni. Sudah ada tiga orang yang diajak semua menolak, karena ternyata ketiga-tiganya sudah diajak teman lainnya untuk bermain umbul gambar.
Ke sana ke mari mencari teman, akhirnya Doni melihat Jangkung hanya berdiam diri sendirian duduk di sudut teras sekolah. Anak yang tubuhnya tinggi kurus ongklang-angklung hingga dipanggil jangkung itu memang berbeda dengan teman-temannya. Mungkin karena tubuhnya yang tinggi kurus, melebih tinggi anak-anak sebayanya, bahkan kelihatan tidak proporsional antara tinggi dan gemuknya tubuh, sehingga kelihatan potongan tubuhnya wagu, membuat anak yang bernama asli Ngadi itu menjadi minder, rendah diri. Sehingga ia takut bergaul dengan teman-temannya. Takut kalau diejek, dijadikan bahan tertawaan.
”Kung, mari bergabung dengan aku, ikut main dolanan ndhas-sikil!” ajak Doni.
”Enggak ah! Aku malu. Aku takut nanti kawan-kawan mentertawakan aku. Biarkan aku duduk di sini saja nunggu bende dibunyikan, waktunya masuk kelas lagi,” jawab Jangkung menolak.
”Malu sama siapa? Kamu kalau terus-terusan menyendiri begitu, selamanya akan jadi anak penakut, rendah diri dan pemalu. Lebih-lebih kamu kurang gerak, menjadikan badanmu jadi klelur  seperti cacing tak bertenaga. Tidak lincah! Tidak cekatan! Makanya, ayo ikut dolanan bersama aku, agar badanmu sehat! Kalah tidak menjadi soal, yang penting menggerakkan badan, tubuh berkeringat. Jangan takut dimarahi temanmu karena dianggap penyebab kekalahan! Ayo, mau tidak? Ini lho yang main kurang satu. Kamu menggenapi. Kalau mau ayo ikut aku, mumpung waktu istirahat masih cukup lama!” desak Doni.
”Ya sudah, kalau begitu aku ikut. Tapi jangan ditertawakan lho ya?”
”Tidak ada yang mentertawakan kamu. Kami semua justru kasihan melihat kamu tidak pernah bermain, tertawa dan gembira.”
Akhirnya Ngadi alias Jangkung ikut Doni. Mereka berdua menuju ke dalam kelompok Doni di halaman sekolah. Di sana sudah menunggu Wahyu, Rizal, Jarot dan Parno.
Wahyu lalu sut jah-ndho-jleng melawan Parno. Wahyu mengajukan ibu jari, Parno menjatuhkan jari kelingking. Ibu jari melambangkan gajah, jari kelingking melambangkan semut. Bertarung, semut masuk ke telinga gajah. Gajah merasa risih, terganggu, lalu mengamuk membentur-benturkan kepalanya ke pohon dan ke batu. Semut enak-enak menggigiti telinga gajah bagian dalam. Gajah tidak bisa melawan. Akhirnya gajah mengaku kalah. Jadi Parno yang menang.   
Rizal sut jah-ndho-jleng melawan Jarot. Jarot mengajukan jari telunjuk bersamaan dengan Jarot menjatuhkan jari tengah. Jari telunjuk adiknya jari tengah yang lebih tinggi. Dengan demikian Rizal dinyatakan pemenangnya.
Lalu Doni sut jah-ndho-jleng melawan Ngadi Jangkung. Doni menjatuhkan jari kelingking bersamaan Ngadi mengajukan jari telunjuk. Semut melawan manusia, menang manusia. Maka Ngadi dinyatakan pemenangnya.
Sekarang sudah terbentuk kelompoknya. Parno, Rizal dan Ngadi Jangkung jadi satu kelompok. Sedangkan kelompok yang lain anggotanya Wahyu, Jarot dan Doni. Dua kelompok itu bersiap-siap seperti orang mau perang-perangan. Tetapi aturannya tidak boleh memukul, menghantam atau menendang. Cukup menyentuhkan telapak tangan ke kepala atau ke kaki lawan. Rata-rata mereka menggunakan tangan kiri untuk melindungi kepala, menangkis serangan lawan. Sedangkan tangan kanan digunakan untuk menyerang, berusaha menyentuh kepala atau kaki lawan.
Mula-mula kedua belah pihak saling mencoba-coba kekuatan pertahanan lawan, belum menyerang yang sesungguhnya, sambil memamerkan kelincahan gerak tangan dan kaki, gerak serang dan menghindar. Setelah dapat memperhitungkan kekuatan dan kelemahan lawan, dan mengetahui lawan yang paling lemah pertahanannya, serangan lalu diarahkan ke anak itu. Kalau perlu dikeroyok biar mati, sehingga mengurangi jumlah lawan, yang berarti juga mengurangi kekuatan lawan.
Kelompok Parno mengira kalau kelompok Wahyu itu yang paling lemah adalah Jarot. Karena anak itu kecil, tentu jangkauan tangannya tidak akan bisa meraih kepala lawannya yang jauh lebih tinggi. Begitupun untuk meraih kaki, asalkan bisa menjaga jarak, lawannya tak bakalan mudah dimatikan Jarot.
Untuk kelompok Wahyu yang dipandang paling lemah pertahanannya adalah Ngadi Jangkung. Karena meskipun tinggi, tangannya panjang, tetapi anak itu kelihatan lemah, tidak lincah, ibarat menginjak telur saja tidak pecah. Oleh karena itu Wahyu dan teman-temannya lebih mengarahkan serangan tertuju ke Ngadi Jangkung. Tetapi ternyata tidak mudah untuk mematikan Ngadi Jangkung dengan menyentuh kaki atau kepalanya. Jelas sulit untuk menyentuh kepalanya, karena tinggi badannya jauh lebih tinggi dibanding semua anggota Wahyu. Maka mereka lalu mengarahkan serangan ke kaki. Tetapi teman-teman Jangkung tidak membiarkan temannya dikeroyok musuhnya. Mereka semua membantu dan membentengi Jangkung dari serangan musuh-musuhnya.
Sampai tersengal-sengal nafas Wahyu, Jarot dan Doni dalam memburu Jangkung tetapi tetap saja sulit mematikannya, karena dihalang-halangi Parno dan Rizal yang membuat pertahanan rapat. Bahkan Doni sampai jatuh terjengkang karena tangan kirinya yang jadi perisai kepala disodok Jangkung. Sodokan cukup kuat yang mengarah ke kepala itu tertahan oleh tangan Doni. Meskipun tidak dapat menembus ke kepala, tak urung membuat Doni yang sedang merunduk berusaha menyentuh kaki Jangkung, terjengkang ke belakang, tak kuat menahan sodokan tangan Jangkung. Untung Doni segera dibantu Wahyu melawan Jangkung yang terus mendesak akan menyentuh kaki Doni yang sedang jatuh telentang. Akhirnya Jangkung mundur.
Kelompok Wahyu dan kelompok Parno kembali berhadap-hadapan. Keringat mereka mulai keluar sebesar biji-biji jagung. Sebentar lagi pasti mulai mengalir membasahi baju seragam mereka. Sekarang sudah mulai tumbuh rasa percaya diri di hati Jangkung. Dirinya sudah membuktikan kalau dirinya ternyata mempunyai kekuatan, buktinya dirinya berhasil mendesak Doni hingga kalang kabut, meskipun belum berhasil mematikan Doni.
”Tunggu dulu, berhenti dulu!”  teriak Doni menghentikan permainan.
”Ada apa?” tanya Parno.
”Sekarang sebaiknya kita lepas baju dulu. Lihat! Keringat sudah mulai membasahi baju kita! Jangan sampai nanti kita masuk kelas dengan pakaian basah kuyup,” ujar Doni.
”Betul juga. Aku setuju, mari kita lepas pakaian kita!” ajak Rizal yang kemudian juga disetujui kawa-kawannya yang lain. Hanya Ngadi Jangkung yang keberatan untuk melepas baju. Ia malu kalau sampai kawan-kawannya melihat tubuhnya yang jangkung kurus tanpa pakaian. Tidak seperti Wahyu, Rizal maupun Parno yang berbadan kekar, Ngadi merasa tidak punya tubuh yang pantas dipamerkan. Tapi ia pun merasa risih kalau nanti masuk kelas dalam keadaan mandi keringat, pakaian basah kuyup. Akhirnya dengan berat hati ia mengikuti kawan-kawannya melepas baju.
”Sudah lepas baju semua. Sekarang mari permainan kita mulai lagi!” ajak Wahyu.
”Mari!” sahut teman-temannya bersamaan sambil mulai berloncatan menyerang kaki dan kepala lawan-lawan mainnya.
Sekarang Jangkung yang sudah punya rasa percaya diri tidak ragu-ragu lagi. Dengan mantap kakinya melangkah maju mendekati musuhnya. Parno dan Rizal begitu juga. Mereka maju menghadapi Wahyu, Jarot dan Doni yang bergerak lincah seperti baling-baling. Lebih-lebih Jarot yang paling kecil pendek, ia hanya mengandalkan kelincahannya dalam menyerang dan menghindar.
”Hati-hati! Hindari tangan Jangkung! Mari kita serang bersama-sama Rizal yang lebih pendek!” ajak Wahyu kepada kelompoknya memberi aba-aba.
Wahyu, Jarot dan Doni lalu mengejar Rizal untuk dimatikan dulu. Rizal lari berllindung di balik pohon waru yang tumbuh di sudut halaman. Ketiga lawannya terus mengejar. Tetapi Parno tidak membiarkan Rizal sendirian dikejar-kejar. Ia menghadang menjadi benteng bagi Rizal. Sekarang dua lawan tiga. Wahyu menyerang dari depan mengarah ke kaki, Doni dari depan menyerang kepala, sedangkan Jarot mengganggu dari belakang untuk memecah konsentrasi Rizal dan Parno. Membuat dua orang itu jadi kalang kabut. Akhirnya Wahyu berhasil menyentuh kaki Rizal, dan Doni berhasil menyentuh kepala Parno.
Tetapi pada saat itu juga tanpa diduga-duga, dari belakang, lepas dari pengawasan lawan-lawannya, tahu-tahu Jangkung menyentuh kepala Wahyu dan Doni dari belakang. Sedangkan Jarot yang sejak tadi hanya berlari-lari menggoda dan menghindar berhasil lolos dari jangkauan tangan Jangkung.
Dengan demikian sekarang tinggal satu lawan satu. Jangkung lawan Jarot. Si Tinggi Kurus lawan si Kecil Pendek tapi licah. Jangkung gerakannya seperti burung elang terbang diam-diam mengitari angkasa, mencari kelemahan musuhnya. Tenang, kalem dan waspada. Jarot gerakannya lincah berlari ke sana ke mari, menyerang lawan dengan cepat lalu segera lari sembunyi di balik pepohonan ketika serangannya tidak berhasil,  seperti burung sikatan terbang lincah ke punggung kerbau, mencari makan, tetapi sebentar kemudian sudah terbang tinggi, hinggap di atas dahan dan ranting.
Pada suatu kesempatan Jarot berhasil menggelinding sambil menjulurkan tangan menyentuh kaki Jangkung. Tapi pada saat itu juga Jangkung berhasil menyentuh kepala Jarot.
”Bagaimana ini? Mati bersama, atau perlu diulangi satu-satu?” tanya Parno.
”Karena waktu hampir habis, baiknya ya diulangi satu lawan satu saja, Jarot melawan Jangkung, supaya segera diketahui kelompok mana pemenangnya,” jawab Wahyu.
Setelah sepakat, Jarot berhadap-hadapan lagi musuh Jangkung. Yang lain cukup mengawasi di dekatnya.  Menjadi saksi bertandingnya Jarot melawan Jangkung. Sekarang Jangkung rasa percaya dirinya sudah menjadi tebal. Kedua tangan sudah mulai terjulur mengarah ke kepala Jarot. Yang diserang karena merasa tidak akan menang kalau bertanding berhadap-hadapan satu lawan satu tanpa taktik gerilya, berlari di balik pepohonan. Jangkung maju ke kanan, Jarot mundur ke kiri. Jangkung maju ke kiri, Jarot mundur ke kanan. Mereka lalu berkejar-kejaran di seputar pohon waru dan pohon bunga bougenvil yang ada di halaman sekolah.
Tetapi sebelum salah satu dari dua anak yang sedang bertanding itu berhasil menyentuh atau dapat disentuh bagian kepala atau kakinya, sehingga akhir pertandingan diketahui siapa pemenangnya, tiba-tiba terdengar suara bende dari Kantor Guru. Waktu istirahat sudah habis. Mau tidak mau permainan ndas-sikil harus dihentikan. Jangkung dan Jarot juga segera menyudahi pertandingannya. Parno, Wahyu, Rizal, Doni, Jangkung dan Jarot segera bersalam-salaman.
”Bagaimana? Senang tidak bermain bersama?” tanya Doni kepada Jangkung ketika anak-anak yang tadi bermain ndhas-sikil itu berjalan bersama-sama menuju ke kelas, sambil mengenakan baju.
”Iya, aku senang sekali! Ternyata aku juga bisa bermain seperti kawan-kawan yang lain. Dan aku tidak harus merasa kalah sebelum bertanding,” jawab Ngadi Jangkung.
”Kenapa harus minder dan merasa kalah sebelum bertanding? Tinggimu jangkung, tanganmu panjang, kakimu juga panjang. Kalau mau bermain tempel karet gelang, jirak kelereng, atau olah raga basket, tentu kamu menangan,” ujar Doni.
”Iya, asal jangan diajak bermain yang harus merangkak di bawah meja saja. Kalau seperti itu aku pasti kalah,”  kata Jangkung sambil tertawa terbahak-bahak. Doni ikut tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Jangkung. Dalam hati ia berkata, ”Jangkung sudah ada kemajuan. Sekarang ia sudah bisa mentertawakan dirinya sendiri, tidak lagi menyesali keadaannya yang semula dianggap sebagai kekurangan.”
”Yang jelas kamu sekarang jadi lebih lincah dan sehat, tidak lagi klular-klulur seperti cacing hahaha....hahaha...,” ujar Jarot sambil tertawa terbahak-bahak.
”Asam kecut kamu! Hahaha...,” sahut Jangkung tertawa sambil tangannya terjulur ke arah Jarot. Tetapi Jarot sudah buru-buru lari menjauh. Meskipun sedikit diejek tetapi sebetulnya juga disanjung maka Jangkung tidak sungguh-sungguh mau menampar Jarot. Ia hanya bercanda saja. Lagi pula sekarang persahabatan di antara mereka sudah menjadi semakin akrab.
Wahyu dan Doni masuk ke kelas 4A, Rizal masuk ke kelas 5B. Parno dan Jarot masuk ke kelas 4B. Sedangkan Jangkung masuk ke kelas 5A. Memang ke-enam anak itu bukan anak dari satu kelas, tetapi karena bermain bersama maka bisa saling kenal dan jadi akrab. ***

NB: Ndhas : Endhas : Kepala
        Sikil : Kaki
Jadi Ndhas-Sikil adala permainan tradisional dimana pemain berusaha menyentuh kepala dan kaki untuk mematikan lawan mainnya. 

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu

PENULIS: SUTARDI MS DIHARDJO
Lahir di Klaten 18 Juli 1960.

PNS Kecamatan Klaten Tengah. Menulis Cerita Misteri, Puisi, Geguritan, Cerita Pendek, Novel dan Drama
.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang dijadwalkan akan terbit akhir tahun 2014 ini: 

Kumpulan Kismis (Kisah Misteri) ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata. 

Buku lain yang akan terbit  Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 

Naskah Drama yang sudah ditulis: 

Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”, ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten”

Sekarang sedang menulis Buku Cerita Anak dengan tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu, yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: NDHAS-SIKIL "

Post a Comment