Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: MAIN TELEPON-TELEPONAN

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu:

MAIN TELEPON-TELEPONAN
Oleh Sutardi MS Dihardjo

Siang itu sepulang sekolah, setelah makan siang Rina datang ke rumah Yuni. Seperti yang dijanjikannya di sekolah tadi, mereka akan main telepon-teleponan di rumah Yuni.
”Bedak adikku sudah habis. Kemarin ibu sudah beli yang baru. Kardus bekas tempat bedak yang dulu dan yang barusan habis bisa kita gunakan untuk main telepon-teleponan,” kata Yuni kepada Rina di sekolah tadi.
”Lalu benangnya? Apa kamu juga punya benangnya, Yun?” tanya Rina kemudian.
”Benang kenur apa benang nilon? Kalau benang nilon aku punya, tapi kalau benang kenur aku tak punya,” jawab Yuni.
”Benang nilon juga lebih baik. Bisa kencang. Jadi suaranya bisa lebih jelas terdengar di telinga kita,” ujar Rina.
”Bagus! Kalau begitu nanti aku main ke rumahmu, setelah makan siang,” sahut Rina gembira. Mereka sepakat.
Siangnya begitu selesai makan Rina segera ke rumah Yuni. Ia tidak mau ketahuan ibunya. Takutnya kalau ibu tahu, tentu ia akan disuruh tidur siang dulu. Kalau sampai begitu, tentu ia akan kehilangan banyak waktu untuk main ke rumah Yuni. Kalau ia dibangunkan pukul tiga sore, uuuhh... baru main sebentar saja ia sudah harus pulang untuk mandi sore. Makanya segera ia bergegas ke rumah Yuni mumpung ibu sedang di dapur.
”Kamu sudah makan, Rin?” tanya Yuni ketika Rina sudah sampai di rumah Yuni. Temannya itu sedang makan siang sekarang bersama Arief kakaknya.
”Sudah. Pulang sekolah tadi aku buru-buru ganti pakaian dan makan siang. Aku ingin segera ke mari untuk main telepon-teleponan seperti yang sudah kita janjikan,” jawab Rina.
”Kalau begitu tunggu sebentar, aku habiskan dulu makan siangku. Oh ya kalau mau kamu makan apel saja ya? Ini tadi ibu beli apel di Pasar Klaten. Enak kok, apelnya manis. Nih pisaunya untuk mengupas,” kata Yuni sambil mengulurkan apel dan pisau kepada Rina.
”Terima kasih,” kata Rina menerima apel dan pisau yang diulurkan Yuni. Rina lalu mengupas apel hijau itu dan memakannya. ”Enak... Betul katamu, Yun, apel ini manis. Wah besok ibuku juga akan aku minta beli apel begini di Pasar Klaten. Biar kita sehat makan buah-buahan.”
Sebentar kemudian Yuni sudah selesai makan siang. Demikian juga Rina juga sudah selesai makan satu buah apel hijau.
”Kamu sudah Sholat Dhuhur, Rin?” tanya Yuni kemudian.
”Belum. Tadi aku buru-buru. Takut ketahuan ibu. Kalau ibu tahu aku tentu disuruh tidur siang. Makanya aku buru-buru kemari,” sahut Rina.
”Kalau begitu mari kita Sholat Dhuhur dulu berjamaah bersama aku,” ajak Yuni.
”Baik kita berjamaah.” Rina mengikuti Yuni berwudhu di belakang. Setelah itu mereka solat berjamaah. Keluarga Yuni punya ruangan khusus yang dijadikan mushola keluarga. Kalau mereka tidak sempat berjamaah di masjid, atau kalau mereka melakukan sholat sunah, atau kalau ada tamu pas waktunya sholat, maka tempat itulah yang digunakan. Tempatnya nyaman. Hawanya sejuk karena cukup ventilasi dan warna catnya pun mendukung suasana itu. Sehingga orang yang beribadah sholat dan berdoa di situ akan merasa betah dan khusuk.
Selesai mengerjakan sholat Rina duduk di kursi panjang yang ada di teras rumah. Sementara Yuni sibuk di dalam mencari perlengkapan yang diperlukan untuk main telepon-teleponan. Setelah mencari cukup lama Yuni keluar dengan muka cemberut. Di tangannya dua buah kardus bekas tempat bedak bayi dan satu batang lidi serta gunting kecil yang ujungnya runcing.
”Kenapa kamu cemberut begitu, Yun? Dan mana benangnya kok tidak ada?” tanya Rina.
”Itulah yang membuat aku jadi cemberut! Benang yang akan kita pakai sekarang sudah dipotong-potong oleh Mas Arief. Katanya mau dipakai untuk membuat mainan gambar sorot, dipasang di kaki meja,” jawab Yuni.
”Ya sudah. Tidak usah cemberut begitu. Santai saja,” sahut Rina tenang menghibur hati Yuni yang sedang kecewa.
”Santai bagaimana? Rencana yang sudah kita susun untuk main telepon-teleponan kan bisa jadi gagal kalau begini?” kata Yuni kesal.
”Tak usah kesal. Kita nanti kan bahkan bisa ikut nonton gambar sorot bikinan Mas Arief?” kilah Rina.
”Iya, sih. Tapi rencana kita sendiri kan jadi gagal?” Yuni masih kurang puas.
Rina tetap tenang dan kalem. Bahkan ia senyum-senyum saja melihat temannya sewot kebakaran jenggot.
”Kamu kok malah senyum-senyum saja. Kamu kok malah tenang-tenang saja. Kamu suka ya kalau rencana kita ini gagal?” tanya Yuni penasaran.
”Yang bilang gagal siapa? Kita kan bisa beli benang ke toko bangunan sana sebentar. Kenapa harus marah?” jawab Rina masih tetap tenang.
”Tapi kan kita jadi repot harus nyeberang jalan besar segala. Mana jalanan ramai karena ini hari Sabtu, para penglajo pada pulang.”
”Tapi kamu tidak perlu repot-repot seperti itu kok. Aku sudah bawa benang nilon dari rumah. Kebetulan ayahku ada menyimpannya. Boleh kita pinjam untuk membuat mainan ini. Yang penting jangan dipotong-potong. Nanti kita kembalikan masih utuh. Yah aku main ke sini itu kalau bisa ya jangan hanya ikut saja. Kalau bisa aku ikut membantu sebagian perlengkapan yang dibutuhkan. Jadi adil kan?” ujar Rina membuat lega hati Yuni.
”Kalau begitu mari kita segera membuat mainan telepon-teleponan ini,” ajak Yuni. Sekarang ia tidak cemberut lagi. Justru senyumannya mengembang, membuat ia bertambah manis. 
”Nah begitu dong! Kalau tersenyum kamu kan jadi tambah cantik,” ledek Rina. Yuni lalu membalas dengan cubitan di lengan Rina.
”Aduh!” Rina mengaduh, ganti mencubit lengan Yuni. Mereka lalu tertawa bersama.
Selesai bercanda ria, mereka lalu mulai membuat mainan yang sudah direncanakan.  Mula-mula Yuni melubangi satu buah kardus bekas tempat bedak pakai gunting. Lalu ia memasukkan benang nilon ke dalam lubang itu. Setelah itu ia memotong lidi sepanjang 4 Cm. Lalu ia menalikan benang nilon di tengah-tengah lidi. Lidi ini berfungsi untuk menahan benang nilon agar tetap bisa direntangkan dengan kencang dari kardus satu ke kardus yang satunya lagi, tidak lepas.
Setelah Yuni selesai, ganti Rina melakukan hal yang sama.
”Telepon-teleponan sudah jadi. Mari kita coba,” ajak Yuni.
”Mari!” sahut Rina sambil bergerak menjauh dari tempat berdiri Yuni.
”Halo, apa kabar Yun?” tanya Rina di seberang, menirukan bicara orang yang sedang telepon. Yuni tidak segera menjawab. Ia merasa ada yang kurang.
”Bagaimana ini? Suaramu masih kedengaran di situ, tidak terdengar di dalam kardus ini. Apa ya kira-kira sebabnya?” tanya Yuni kurang puas pada mainan buatannya.
”Aku tahu,” kata Rina kemudian setelah berpikir beberapa saat.
”Apa coba?” desak Yuni.
”Teras ini kurang panjang. Sehingga benang nilon mainan kita belum bisa terentang kencang. Masih kendor. Sehingga gelombang suara belum bisa merambat lewat tali benang nilon ini,” jelas Rina.
”Begitu ya? Kalau begitu mari kita mainnya di luar saja. Di halaman yang lebih luas, sehingga kita bisa merentangkan benang nilon ini lebih panjang dan lebih kecang.”
’Ya, mari kita main di luar saja,” Rina setuju. Mereka berdua lalu keluar dan mulai merentangkan benang nilon sampai kencang. Mula-mula Yuni yang bicara, Rina yang mendengarkan. Mulut Yuni masuk ke dalam mulut kardus. Sedangkan mulut kardus yang lain ditempelkan rapat-rapat ke telinga Rina. Untuk menjawab, gantian  mulut Rina yang dimasukkan ke mulut kardus, dan di seberang sana mulut kardus yang dipegang Yuni ditempelkan ke telinga Yuni. Jadilah mereka bertelepon-teleponan. Dengan cara begitu maka suara lawan bicara terdengar dekat di telinga yang lainnya.
Yuni dan Rina main telepon-teleponan seolah-olah mereka sedang bertanya jawab dari tempat yang berjauhan. Mereka bermain sandiwara seolah-olah dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu, makanya mereka menumpahkan kerinduan mereka lewat telepon. ***


PENULIS: SUTARDI MS DIHARDJO
Lahir di Klaten 18 Juli 1960.

PNS Kecamatan Klaten Tengah. Menulis Cerita Misteri, Puisi, Geguritan, Cerita Pendek, Novel dan Drama
.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang dijadwalkan akan terbit akhir tahun 2014 ini: 

Kumpulan Kismis (Kisah Misteri) ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata. 

Buku lain yang akan terbit  Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 

Naskah Drama yang sudah ditulis: 

Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”, ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten”

Sekarang sedang menulis Buku Cerita Anak dengan tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu, yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: MAIN TELEPON-TELEPONAN"

Post a Comment