Cerita Anak Tema Dolanan Bocah Tempo Dulu: BERMAIN KELERENG 2: POT

 Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Bocah Tempo Dulu:
BERMAIN KELERENG 2 : POT
Oleh Sutardi MS Dihardjo


Pada jam istirahat yang kedua Rio, Hardi, Heru dan Sidu kembali bermain kelereng di halaman sekolah. Anak-anak kelas empat SD Negeri 1 Sumberejo itu berjalan menuju ke tengah halaman. Meskipun mereka tidak berasal dari satu kelas, ada yang dari kelas 4 A ada yang dari kelas 4B, tetapi mereka selalu kompak bermain bersama. Rio menepuk-nepuk saku bajunya, sehingga bunyi gemerincing biji kelereng beradu terdengar nyaring. Tak mau kalah, Hardi juga menepuk-nepuk saku celananya. Bunyi gemerincing pun terdengar dari sana. Ganti Heru yang tak mau ketinggalan. Ia mengguncang-guncang saku celananya juga, memperdengarkan bunyi gemerincing biji-biji kelereng beradu paling nyaring. Hanya Sidu yang tidak dapat memamerkan kekayaan kelereng miliknya. Ia hanya mempermainkan ketiga biji kelerengnya yang ada dalam saku celananya. Meskipun terdengar gemerincing tetapi lemah.
”Nampaknya kita semua bawa kelereng masing-masing cukup banyak. Hanya Sidu kelihatannya yang  bawa sedikit. Bagaimana kalau kita main Pot saja? Jangan main Gendiran lagi,” ujar Hardi menawarkan permainan yang lain. Rupanya ia masih takut kena gendir seperti jam istirahat pertama tadi.
 ”Ya aku setuju kita main Pot. Tapi kalau Pot berapa udhu (taruhan untuk dipasang) kita masing-masing?” tanya Sidu yang kelereng bawaannya paling sedikit.
”Aku mau tanya dulu, kamu bawa kelereng berapa?” tanya Hardi kepada Sidu.
”Aku cuma bawa tiga. Itu saja yang satu gaco,” jawab Sidu.
”Kalau begitu udhu kita dua-dua saja. Kita berempat, jadi ada delapan kelereng yang dipasang. Bagaimana kawan-kawan, setuju tidak?” tanya Hardi kepada kawan-kawannya.
”Ya, aku setuju. Ayo segera kita mulai saja nanti keburu bendhe tanda masuk berbunyi!” desak Heru.
Karena mereka semua sudah setuju bermain Pot kelereng dan udhunya dua buah dua buah, maka mereka segera bersiap-siap. Rio mengambil kereweng pecahan genting untuk menggambar arena pasangan bermain Pot kelereng. Mula-mula ia berjongkok sambil meletakkan kereweng ke tanah sebagai ujung arena. Lalu ia berputar ke kanan menggoreskan kereweng ke tanah, membentuk garis menyerupai sisi kubah dari ujung ke alas kubah. Kemudian ia kembali ke ujung, berputar ke kiri menggoreskan kereweng  membentuk garis sisi kubah di sebelah kiri. Kemudian antara sisi kubah sebelah kiri dengan sisi kubah sebelah kanan di bagian alas ia potong dengan goresan kereweng sepertiga lingkaran.
”Sudah jadi arenanya. Ayo sekarang dipasang udhu kita masing-masing,” ajak Rio.
Heru lalu merogoh saku celananya mengeluarkan dua buah kelereng yang lalu dipasangnya di sudut alas kanan dan kiri. Rio merogoh saku bajunya mengeluarkan dua buah kelereng yang masih kempling (baru, utuh dan berkilat). Ia lalu meletakkan kedua kelereng itu di garis kubah sisi kanan. Hardi juga merogoh saku celananya untuk mengeluarkan dua buah kelereng yang kemudian diletakkan di garis kubah sisi  kiri. Sidu pun mengeluarkan dua buah kelerengnya lalu diletakkan di ujung dan di tengah-tengah kubah.
”Sudah dipasang semua udhunya. Semuanya masih kempling kan? Tidak ada kelereng yang krepo (krepo atau gempil adalah kelereng yang cacat) kan? Sekarang mari kita ke garis tuju untuk menujukan gaco kita masing-masing!”  Rio lalu mengukur untuk menentukan garis tuju dengan langkah kakinya sebanyak 4 langkah. Sidu, Heru dan Hardi mengikuti dibelakangnya. Setelah empat langkah Rio menggaris dengan pecahan kereweng  mendatar menghadap ke arena permainan Pot yang berbentuk seperti kubah.
Di belakang garis yang dibuat Rio, anak-anak menghadap ke arena permainan Pot dengan gaco di tangan masing-masing. Kemudian satu persatu mereka melemparkan gaconya ke arah arena permainan. Mereka mengarahkan gaconya sedekat mungkin dengan garis yang membetuk gambar seperti kubah dengan alas yang sudah dipotong. Namun mereka juga berusaha agar gaconya tidak masuk di dalam ataupun berada di garis arena yang menyerupai kubah itu. Karena kalau sampai terjadi demikian ia akan dinyatakan ndhekuk atau mati, dan tidak boleh bermain dalam babak itu. Oleh karena itu mereka harus melemparkannya dengan hati-hati.
Lemparan gaco Sidu berhenti di sebelah bawah dua setengah jengkal dari garis alas kubah. Lemparan gaco Hardi berhenti di sebelah kanan satu jengkal dari garis kubah tepi kanan. Lemparan gaco Heru berada  di atas, dua jengkal dari posisi ujung kubah. Sedangkan lemparan gaco Rio berhenti di sebelah kiri, tiga jengkal dari garis kubah sebelah kiri.
”Karena yang terdekat dengan garis adalah gaco Hardi, maka yang laku (membidikkan gaconya) pertama kali adalah Hardi,” kata Sidu.
”Setelah itu aku,” sahut Heru.
”Ya, baru kemudian aku, dan terakhir Rio,” lanjut Sidu.
”Sekarang aku akan laku,” kata Hardi sambil berjalan menuju gaconya berhenti. Kemudian ia mencoba mengincar kelereng yang dipasang di sisi kubah sebelah kanan. Maunya ia akan dua-duanya secara beruntun. Tetapi tidak jadi. Ia takut, jangan-jangan nanti kalau gaconya dibidikkan dengan pelan agar bisa menyentuh dua-duanya, gaconya justru ndhekuk masuk ke dalam kubah. Dengan pertimbangan itu akhirnya ia memutuskan membidikkan gaconya dengan keras menuju ke salah satu kelereng yang dipasang di dekatnya.
”Theeekkk!” kelereng pasangan kena bidik keras gaco Hardi mencelat maju melewati garis kubah sebelah kiri. Sedangkan gaco Hardi laju menyamping ke atas kira-kira satu langkah dari garis tepi kiri agak ke atas. Hardi mengambil in (kelereng yang dipasang yang sudah kena, menjadi milik anak yang mengenai), lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya.
Sekarang Hardi masih berhak laku lagi. Ia mengarahkan bidikannya ke kelereng yang dipasang di puncak kubah. Ia lepaskan bidikannya pelan-pelan saja karena bagian puncak ini kalau dibidik dari samping mengarah ke kelereng sisi yang tidak langsung menghadap ke kubah, tidak begitu berbahaya. Puncak kubah yang runcing sedikit kemungkinannya akan membuat gaconya yang mengenai sasaran akan terpental masuk ke dalam kubah, apabila gaconya mengenai sisi kelereng bagian atas atau bagian luar. Kalau ia bidikkan pelan ada kemungkinan gaconya akan berhenti di dekat kelereng yang dipasang di puncak kubah, sehingga pada kesempatan laku berikutnya, ia akan dapat membidiknya tepat dari sudut yang diinginkan. Benarlah, bidikan Hardi meleset. Tapi kelerengnya berhenti hanya satu jengkal di dekat kelereng yang dipasang di puncak kubah.
Karena Hardi sudah meleset bidikannya, kini giliran Heru sebagai nomor urut kedua.  Gaco Heru yang  berada di atas puncak kubah dua jengkal jauhnya cukup riskan untuk membidik kelereng yang dipasang di puncak kubah. Kalau salah perhitungan bisa jadi gaconya akan masuk ke dalam kubah, sehingga gaconya jadi ndhekuk, mati, tidak boleh main. Tetapi kalau mengarahkan ke pasangan kelereng lainnya, terlalu jauh, kemungkinan meleset lebih besar. Pikir punya pikir akhirnya ia memilih membidik yang dekat, yang ada di puncak kubah. Tapi dasar ragu-ragu, bidikan Heru jadi meleset. Gaconya berhenti satu langkah dari kelereng yang dipasang di sudut alas sebelah kiri.
Sekarang ganti Sidu yang laku. Dengan kalemnya ia membidikkan pelan gaconya ke kelereng yang dipasang di sudut alas sebelah kanan. Kelereng pasangan bergeser ke luar garis. Kelereng yang sekarang berstatus sebagai in itu ia masukkan ke dalam saku bajunya. Lalu Sidu membidikkan gaconya yang tadi berhenti hanya satu jengkal dari tengah garis kubah sebelah kanan, ke arah kelereng yang dipasang di tengah garis kubah sebelah kanan. Lagi-lagi gaco Sidu berhasil mengenai sasaran. Kelereng pasangan mencelat sampai ke seberang garis kubah sebelah kiri, sedangkan gaconya yang mengenai tepi kanan berhenti di dekat puncak kubah. Setelah mengambil in lagi yang baru diperoleh, Sidu lalu membidikkan gaconya ke arah kelereng yang dipasang di puncak kubah. Kali ini pun bidikan Sidu tidak meleset. Kelereng yang dipasang di puncak kubah itu pun menjadi in bagi Sidu. Sampai di sini Sidu sudah mengantongi in sebanyak tiga butir kelereng.
Masih ada kesempatan bagi Sidu untuk membidikkan gaconya agar memperoleh in lagi. Masih ada empat kelereng pasangan yang belum dijadikan in. Dengan agak sombong Sidu membidikkan gaconya ke arah kelereng yang dipasang di garis kubah sebelah kiri.
Barangkali karena lagi apes, atau karena bidikannya diwarnai rasa sombong dan meremehkan, kali ini bidikan Sidu memang mengenai sasaran, tapi karena tidak begitu keras, meskipun bisa membuat kelereng pasangan mencelat menyeberangi garis kubah di sebelah kanan, tetapi gaco Sidu sendiri tidak bisa melewati kubah. Gaco itu ndhekuk, masuk ke dalam kubah. Maka kali ini Sidu mati langkah. Ia tidak dapat melanjutkan permainan lagi.
Hardi, Heru dan Rio langsung bersorak gembira. Sedangkan Sidu, mukanya berubah pucat. Habislah dia, kelereng bawaan hanya tiga: satu gaco, dua udhu, sekarang tinggal gaco. Berarti ia benar-benar tidak dapat melanjutkan permainan lagi siang ini di sekolah.
”Hayo Sidu, in-nya dikembalikan!” begitulah peraturannya, kalau pemain gaconya ndhekuk, in yang sudah diperoleh harus dikembalikan ke tempat pasangan semula.
  Lemas tak berdaya Sidu. Ia sangat menyesal, kenapa tadi ia membidik dengan sembrono, tanpa perhitungan yang cermat, sehingga mengakibatkan bidikannya justru membuat gaconya ndhekuk. Sekarang sudah telanjur, mau tidak mau in yang sudah diperoleh dan udhunya lepas. Dengan berat hati Sidu mengembalikan kelereng in yang sudah diperolehnya ke tempat semula.
Sekarang pemainnya tinggal tiga orang anak. Sedangkan kelereng yang dipasang masih ada tujuh butir. Setelah Sidu mati mainnya, kini giliran Rio untuk laku. Rio yang berada di sebelah kiri garis membidikkan gaconya ke kelereng yang dipasang di garis kubah samping kiri. Ia menjepit kelereng gaconya dengan ibu jari dan jari penunjuk tangan kiri, lalu menyentilnya dengan jari penunjuk tangan kanan. Entah bagaimana, hasilnya kelereng yang dipasang di garis kubah sebelah kiri itu dapat terpental sampai melewati garis sebelah kanan kubah, sedangkan gaconya sendiri justru atret mundur serong ke atas mendekati kelereng  satunya yang juga dipasang di garis kubah sebelah kiri.
Setelah mengambil kelereng in yang dimenangkannya, Rio dengan hati-hati lalu membidik kelereng yang  satunya lagi dengan bidikan yang cukup keras. ”Theeekkk!” kena juga. Kali ini gaco Rio melaju melewati bidang kubah, lalu berhenti dekat kelereng yang dipasang di garis kubah sebelah kanan, yang hanya tinggal satu. Sebelum membidikkan gaconya lagi, Rio mengambil dulu in yang dimenangkan lagi yang mencelat sampai cukup jauh di sebelah kanan halaman sekolah.
Rio memperhitungkan dengan cermat perkiraan arah terpentalnya gaco setelah mengenai sasaran, dan kemungkinan arah terpentalnya kelereng pasangan setelah kena bidik gaconya. Setelah yakin, Rio lalu membidikkan kelerengnya sesuai perhitungannya.
”Theeekkk! Thek!” terdengar bunyi benturan kelereng beruntun. Dua in diperoleh Rio sekaligus. Kelereng  di garis kubah sebelah kanan yang dibidik Rio melaju serong ke kiri mengenai kelereng yang dipasang di sudut alas kiri, sehingga dua-duanya menjadi in bagi Rio. Gaco Rio sendiri setelah membentur kelereng pasangan di depannya, karena dibidikkan dengan keras, lalu berlari serong ke kanan sejauh tiga langkah.
Setelah mengantongi empat in, Rio bermaksud menambah in-nya lagi dengan membidik kelereng yang dipasang di puncak kubah. Tapi karena letaknya cukup jauh bidikan Rio meleset. Rio harus istirahat dulu untuk memberi kesempatan kepada yang lain mengadu untung dan ketrampilan.
Pemain masih tiga orang anak, yaitu Hardi, Heru dan Rio. Sedangkan kelereng pasangan masih ada tiga juga, yaitu yang dipasang di puncak kubah, di tengah kubah, dan di sudut alas kubah bagian kanan. Kini giliran Hardi lagi untuk laku. Gaco Hardi yang berada hanya satu jengkal dari puncak kubah, dengan mudahnya mengenai sasaran, dibidikkan ke arah kelereng yang ada di puncak kubah. Setelah mengambil in dari puncak kubah, karena dalam perkiraannya ia tidak akan mampu mementaskan kelereng pasangan yang ada di dalam bidang kubah, maka ia setut, yaitu menaruh gaconya di tempat yang diinginkannya, dalam hal ini ia menaruh gaconya tentu saja di luar bidang kubah (agar tidak ndhekuk), tetapi di dekat garis yang terdekat dengan letak kelereng yang dipasang di dalam bidang kubah. Tujuannya agar pada giliran berikutnya ia dapat membidik dan memenangkan kelereng pasangan tersebut.
Karena Hardi tidak membidikkan gaconya, tetapi kesempatannya digunakan untuk setut, maka kini tiba giliran Heru untuk laku. Heru menaruh gaconya yang ada di dekat alas kubah kedalam telapak tangannya. Lalu ia membidikkan gaco itu ke arah kelereng pasangan yang ada di sudut alas kubah bagian kanan. Dengan mudahnya ia memperoleh in dari kelereng yang dipasang terdekat dengan gaconya ini. Setelah in ia kantongi, kini  Heru mengincar kelereng yang dipasang di tengah-tengah bidang kubah. Sayang sekali bidikannya meleset. Terpaksa ia harus istirahat lagi.
Kembali giliran Rio untuk laku. Tinggal ada satu kelereng yang belum dimenangkan. Posisinya pun sulit, ada di tengah bidang kubah. Karena letak gaco Rio jauh dari kelereng pasangan yang masih ada. Selain itu ada kemungkinan kalau nekat membidikkan gaconya ke arah kelereng tersebut, justru beresiko gaconya sendiri akan ndhekuk, sehingga seluruh in yang diperolehnya  harus dikembalikan, maka Rio lebih memilih setut dengan menaruh gaconya di dekat garis kubah.
Setelah Rio memilih setut, kini giliran Hardi untuk laku. Dari jarak ia setut tadi Hardi membidikkan gaconya ke arah kelereng pasangan yang tinggal satu-satunya. ”Thek,” gaco Hardi mengenai sasaran. Namun sayang ia tidak berhasil mengeluarkan kelereng pasangan itu ke luar dari bidang kubah. Bahkan gaco Hardi sendiri hampir ndhekuk. Untung gaco itu masih selamat, berhenti beberapa senti dari garis kubah, setelah melewati bidang kubah.
Karena gaconya jauh dari kelereng yang ada di tengah bidang kubah, Heru pun menggunakan kesempatan laku ini untuk setut di dekat garis alas kubah.
Rio mendapat giliran lagi. Dengan perhitungan cermat, ia lalu membidikkan gaconya ke arah kelereng satu-satunya yang menjadi incaran semua peserta dalam permainan ini. ”Theeekk!” gaco Rio mengenai sasaran. Kelereng pasangan terpental keluar bidang kubah, tetapi gaco Rio berhenti nyaris di garis kubah. Muka Rio langsung pucat. Sedangkan anak-anak yang lain bersorak senang, karena ini berarti gaco Rio ndhekuk, semua in yang sudah diperoleh Rio harus dikembalikan, dan permainan menjadi panjang.
Tetapi setelah diamat-amati dengan cermat, tiba-tiba Rio berteriak senang, ”Belum! Belum tentu gacoku ndhekuk! Lihat! Gacoku ada di luar garis!”
Anak-anak lalu mendekati gaco Rio. Mereka lalu mengamati dengan cermat.
”Ini jelas ada di atas garis, Rio. Jadi gacomu itu ndhekuk. Kamu sudah mati! Tidak boleh main lagi untuk babak ini,” kata Heru.
”Tidak! Gacoku belum mati, ada di luar garis beberapa mili,” bantah Rio.
Setelah mereka berbantah-bantahan beberapa saat, akhirnya Sidu berusaha menengahi.
“Aku netral, karena gacoku jelas sudah mati. Jadi aku bisa memutuskan dengan adil. Begini saja aku akan menarik gacoku menurutkan garis kubah yang dekat dengan gaco Rio. Kalau gaco Rio tersentuh kelerengku maka itu artinya gaco Rio ndhekuk. Tetapi kalau gaco Rio tidak tersentuh gacoku, maka itu artinya gaco Rio sudah berada di luar garis. Artinya lagi Rio sudah memenangkan in yang ada di tengah kubah. Bagaimana? Setuju?” tanya Rio kepada kawan-kawannya.
”Setuju!” jawab mereka serentak.
Sidu lalu mengeluarkan gaconya. Gaco itu ia tarik menurutkan garis kubah di dekat gaco Rio berhenti. Ternyata berulang kali gaco Sidu dilewatkan, tak sekali pun gaco itu menyentuh gaco Rio.
”Sudah jelas sekarang, gaco Rio ada di luar garis kubah. Ini berarti Rio telah memenangkan in terakhir dalam permainan Pot siang ini,” ujar Sidu memutuskan.
Heru dan Hardi, dan tentu saja Rio dan Sidu dapat menerima keputusan bahwasanya Riolah yang telah memenangkan kelereng pasangan yang terakhir.
”Bagaimana sekarang? Dilanjutkan tidak?” tanya Heru kepada teman-temannya.
”Sampai sekian saja dulu. Kelihatannya waktu istirahat sudah hampir habis. Mari kita cuci tangan dulu sebelum bendhe tanda masuk kelas berbunyi,” ajak Sidu.
Mereka lalu ke kamar mandi untuk mencuci tangan yang kotor karena bermain di tanah. Benar juga, setelah mereka selesai mencuci tangan bendhe tanda masuk kelas pun berbunyi. Mereka lalu masuk kelas masing-masing untuk menerima pelajaran berikutnya.
***

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu: SOYANG

         PENULIS: SUTARDI MS DIHARDJO
Lahir di Klaten 18 Juli 1960.

PNS Kecamatan Klaten Tengah. Menulis Cerita Misteri, Puisi, Geguritan, Cerita Pendek, Novel dan Drama
.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang dijadwalkan akan terbit akhir tahun 2014 ini: 

Kumpulan Kismis (Kisah Misteri) ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata. 

Buku lain yang akan terbit  Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 

Naskah Drama yang sudah ditulis: 

Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”, ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten”

Sekarang sedang menulis Buku Cerita Anak dengan tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu, yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Cerita Anak Tema Dolanan Bocah Tempo Dulu: BERMAIN KELERENG 2: POT"

Post a Comment