Dolanan Anak Tradisional: Sebuah Dunia Yang Hilang

Dolanan Anak Tradisional, Sebuah Dunia Yang Hilang
Oleh: Sutardi MS Dihardjo 


Orang-orang meributkan hilangnya Benua Atlantis yang diperkirakan tenggelam akibat  meletusnya gunung berapi dan gempa bumi yang dahsyat 11.600 tahun yang lalu. Sementara kita tenang-tenang saja dan tak merasa kehilangan ketika sebuah dunia yang indah hilang dengan diam-diam dari hadapan kita sejak kira-kira 20 tahun yang lalu. Adanya Benua Atlantis dan tenggelamnya ke dasar samudera barulah merupakan suatu hipotesa yang masih harus dibuktikan kebenarannya. Tetapi hilangnya sebuah dunia yang indah dari hadapan kita adalah suatu kenyataan, yang amat disayangkan kalau tidak dapat kita temukan kembali, untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

Dunia indah yang saya maksudkan adalah dunia anak-anak yang penuh kebersamaan, canda ria, kerja keras menggerakkan badan dan memeras keringat, keuletan, sportivitas, kreatifitas, keindahan dan nilai-nilai positif lainnya.  Dunia anak-anak yang dulu dihiasi dengan dolanan-dolanan tradisional yang murah tetapi meriah, yang selalu dimainkan bersama-sama dengan kawan-kawannya di halaman rumah atau di halaman sekolah, kini sudah sulit kita jumpai lagi. Jangankan dimainkan anak-anak usia 6 tahun – 13 tahun, bahkan dalam ingatan anak-anak usia 20-an tahun pun sekarang sudah tidak ada. 

Anak-anak remaja jaman sekarang, kalau ditanya apakah mereka pernah mengenal dolanan “Ji-Ro-Lu”, “Ndhas-Sikil”, “Pandhe Gendhong”, “Pak-E-Pong”, “Ganefo”, “Nekeran: Pot, Gendiran, Jirak”, “Betengan”, “Krempyang”, “Bekelan”, “Soyang”, “Gambar Sorot di Kaki Meja”, “Ancak-Ancak Alis”, “Pathon Gangsingan” dan lain-lain dolanan tradisional tempo dulu lainnya, kebanyakan mereka tidak tahu. Dolanan-dolanan yang dulu sangat mengasyikkan anak-anak kelahiran tahun 60-an – 70-an dan sebelumnya, tidak ada dalam memori ingatan anak-anak remaja jaman sekarang. Apalagi bagi anak-anak usia 5 tahun – 13 tahun yang sepantasnya memainkan dolanan anak-anak tersebut. Mereka tidak mengenal sama sekali, karena kakak-kakaknya, orang tuanya, atau kakek-neneknya tidak pernah mengajarkan kepada mereka.

Bagi mereka dolanan bocah tradisional sudah terkubur jauh di dalam tanah, tertimbun permainan-permainan yang lebih moderen dan canggih yang serba elektronik. Permainan playstation, game online, internet, telah menimbun dalam-dalam dolanan tradisional sehingga tidak muncul ke permukaan. Anak-anak jaman sekarang lebih asyik bermain game-game yang dikemas dalam kotak maya sebesar genggaman tangan, yang cukup dilakukan sendirian di dalam kamar, dengan hanya menggerakkan jari-jari tangan diikuti  pandangan mata, dari pada bermain di halaman luas bersama kawan-kawannya sambil bersorak-sorai gembira ria, yang akan memeras keringat dan membuat pakaian maupun badan mereka kotor. Mereka tidak tahu, bahwa keringat yang keluar sebagai akibat aktifitas fisik yang penuh gerak adalah menyehatkan. Sedangkan badan dan pakaian kotor mudah dibersihkan dengan mandi dan dicuci.

Permainan moderen, game-game yang ada di dalam HP maupun internet akan menjauhkan anak-anak dari hubungan pertemanan yang personal ke impersonal. Kita mungkin merasakan betapa anak yang secara fisik dekat dengan kita, tetapi kalau dilihat dari perhatian anak itu pada waktu itu, sebetulnya ia jauh. Karena pada saat itu ia sedang asyik bermain game yang ada di HP-nya. Mungkin ia tidak menyadari kehadiran kita. Dan ia akan merasa terganggu kalau kita ajak bicara.

Perasaan dan emosi yang mungkin terbangun oleh permainan game yang sering kali memainkan adegan kekerasan, yang tidak diimbangi aktifitas gerakan fisik, patut diduga menjadi energi yang menumpuk yang pada suatu saat minta pelepasan dalam bentuk tawuran atau perkelahian perorangan. Lain halnya anak-anak jaman dahulu, aktifitas fisik untuk melepaskan energi sudah terwadahi dalam bentuk dolanan bocah, misalnya ”Ji-Ro-Lu”, ”nDhas-Sikil”, sam pai ”Gelut Mbek-Mbekan”.

Upaya Menggali Kembali Dolanan Bocah Tradisional

Orang-orang tua kelahiran tahun 70-an dan sebelumnya, kalau ditanya mengenai macam-macam dolanan tradisional dan cara memainkannya, mata mereka akan berbinar-binar. Perasaan senang dan bahagia mengaliri darah mereka, seiring terputarnya memori kembali ke masa silam yang penuh kegembiraan masa kanak-kanak. Mereka akan bercerita bagaimana mereka ngumpet di kebun tetangga, lalu tiba-tiba meloncat untuk menendang bola yang ditinggalkan temannya yang sedang dadi/jaga pada permainan “Pak-E-Pong”. Ada lagi yang bercerita bagaimana ia  yang lebih pendek berhasil menyentuh kepala temannya yang lebih tinggi dalam dolanan “nDhas-Sikil”. Mereka bisa bercerita banyak tentang hal-hal lucu atau membanggakan karena berhasil mengakali temannya. Sayangnya mereka akan kesulitan kalau diminta menjelaskan jalannya permainan dan aturan-aturan permainan secara detail dalam dolanan anak tradisional yang pernah mereka mainkan. 

Seiring dengan bertambahnya umur yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi, ingatan orang-orang yang dulu memainkan dolanan bocah tradisional tergerus kepikunan. Belum lagi, satu per satu orang-orang yang dulu memainkan dolanan bocah tardisional berpulang ke Alam Baka, sebelum sempat mengajarkan cara-cara, tehnik, aturan bermain dolanan bocah tradisional kepada anak-cucu. Sehingga ada kemungkinan dolanan bocah tradisional yang mengandung nilai-nilai edukatif, estetis, dan rekreatif ini akan punah, tak terwariskan kepada anak cucu dan generasi mendatang.

Hal itulah yang menggerakkan hati saya untuk menggali kembali dolanan bocah tradisional, kemudian mensosialisasikan kepada masyarakat, khususnya anak-anak, agar terwariskan sampai pada generasi mendatang. Agar warisan budaya yang penuh nilai-nilai positif ini tersosialisasikan kepada masyarakat maka dolanan bocah akan ditulis dalam sebuah buku. Agar buku tersebut menarik dan enak dibaca, terutama oleh anak-anak yang diharapkan akan suka memainkannya, macam-macam dolanan bocah tradisional tersebut akan saya kemas dalam bentuk cerita anak. 

Rencana penulisan buku cerita anak dengan tema dolanan bocah tradisional ini dengan disertai contoh 3 buah cerita saya tawarkan ke Penerbit Galangpress Yogyakarta. Alhamdulillah Redaksi Galangpress menyambut baik rencana saya. Mereka bersedia menerbitkan dengan syarat berbahasa Indonesia dan sebanyak 30 cerita. Masalah teori penulisan fiksi yang harus menyertakan konflik, suspen dan sebagainya untuk sementara dikesampingkan. Yang lebih dipentingkan adalah jalannya permainan dan aturan-aturan permainan yang dimainkan oleh para pelaku, disertai foto yang menggambarkan suasana permainan.

Kendala yang dihadapi dalam penulisan buku ini adalah mencari nara sumber yang dapat diajak berdiskusi untuk mengingat-ingat kembali permainan dolanan bocah tradisional. Kebanyakan mereka sudah lupa-lupa ingat aturan permainan secara  detail. Maklum sudah lama tidak melakukan maupun melihat. Selain itu usia yang sudah semakin tua juga membuat daya ingat mereka semakin lemah. Tetapi justru hal inilah yang membuat penulis semakin bergairah menggali ingatan mereka untuk menemukan bermacam-macam dolanan bocah tradisional secara utuh. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan dolanan bocah tradisional saat ini sudah mencapai titik kritis sebelum punah.

Alangkah baiknya, dalam rangka menggali dan melestarikan dolanan bocah tradisional sebagai warisan budaya bangsa yang mempunyai nilai kelokalan yang khas suatu daerah, yang mungkin agak berbeda dengan daerah lain, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dapat melaksanakan Festival Dolanan Bocah Tradisional. Agar sebanyak mungkin dolanan bocah muncul ke permukaan, sehingga dapat dikenali dan diwarisi anak-anak jaman sekarang. Festival tersebut jangan merupakan lomba, tetapi ada pembagian masing-masing sekolah menyajikan jenis dolanan bocah yang berbeda dengan sekolah lainnya. Festival diikuti murid-murid SD dan SMP di Alun-Alun atau di Jalan Raya pada saat Car Free Day.  Syukur-syukur acara ini dapat dilakukan setiap satu bulan atau dua bulan sekali, dengan jenis permainan yang berbeda-beda. Apabila hal ini bisa dilaksanakan, pasti sangat meriah. Dan kita tidak berdosa kepada nenek moyang kita, karena telah menyia-nyiakan warisan budaya mereka, tetapi kita telah mewariskan kembali warisan budaya tinggalan mereka kepada anak cucu kita. ***

kamigilan

SUTARDI MS DIHARDJO
Lahir di Klaten 18 Juli 1960.

PNS Kecamatan Klaten Tengah. Menulis Cerita Misteri, Puisi, Geguritan, Cerita Pendek, Novel dan Drama
.
Buku kumpulan Cerita Misterinya ”KAMIGILAN, Angkernya Kedung Blangah” diterbitkan Penerbit Mediakita Jakarta, tahun 2013. 

Buku yang dijadwalkan akan terbit akhir tahun 2014 ini: 

Kumpulan Kismis (Kisah Misteri) ”Yang Nyusul Di Tempat Tidur” Penerbit Galangpress Yogyakarata. 

Buku lain yang akan terbit  Novel ”Prabu Nala Dan Damayanti” Penerbit Diva Press Yogyakarta. 

Naskah Drama yang sudah ditulis: 

Kopral Sayom” dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jawa, ”Perjuangan dan Pengorbanan Pahlawan Tentara Pelajar”, ”Gelora Proklamasi Kemerdekaan di Kabupaten Klaten”

Sekarang sedang menulis Buku Cerita Anak dengan tema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu, yang akan diterbitkan Penerbit Galangpress Yogyakarta.

Dapat dihubungi lewat email: sutardimsdiharjo@yahoo.com atau SMS 085642365342

Related posts:

No response yet for "Dolanan Anak Tradisional: Sebuah Dunia Yang Hilang"

Post a Comment