Cerita Anak Dolanan Tradisional Tempo Dulu: Bermain Mobil-Mobilan

Cerita Anak Bertema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu:

BERMAIN MOBIL-MOBILAN
Oleh Sutardi MS Dihardjo

”Ngunggggg.......”
Ketika Pardi sedang ikut ayahnya menebang pohon pisang di kebun tiba-tiba terdengar suara mendengung yang baru kali ini didengar Pardi. Setelah diamat-amati meskipun sama-sama mendengung tetapi kelihatannya berbeda dengan dengung suara gangsing yang pernah dibelinya di pasar malam. Suara dengung ini lebih kecil, tetapi tidak berubah-ubah, ditambah meskipun halus terdengar seperti ada suara roda menggelinding.
Pardi merasa tertarik mendengar suara yang ia pastikan tentu suara mainan baru itu. Pelan-pelan Pardi mencari arah suara yang belum dikenalnya itu. Sekarang Pardi mulai keluar dari pagar kebunnya. Jarak satu pekarangan dari kebun orang tuanya Pardi menemukan sumber suara, yaitu di rumah Pak Bowo pegawai kantor pajak. Rumah besar itu dikelilingi pagar tembok tinggi. Hanya pintu pagar yang tidak ditembok. Pintu pagar dibuat dari besi yang tinggi dan selalu dikunci. Kalau ada orang akan bertamu, harus membunyikan klintingan / genta kecil yang dipasang di depan pintu pagar. Kemudian yang ada di dalam melihat siapa yang datang dari celah-celah pintu pagar, baru kemudian membukakan pintu.
Dari celah-celah pintu pagar besi itu, Pardi melihat Rudy, anak Pak Bowo sedang bermain mobil-mobilan di teras rumahnya. Mobil-mobilan yang terlihat mengkilat dan kelihatannya masih baru itu tidak ditarik dengan tali benang atau pun gedebok pisang seperti kalau dirinya bermain mobil-mobilan. Tetapi entah memakai apa hingga mobil-mobilan itu bisa berjalan sendiri, berputar-putar dan maju-mundur. Bahkan Pardi melihat mobil-mobilan itu bisa menerobos celah-celah meja dan kursi tempat duduk Rudy tanpa menabrak kaki-kaki meja maupun kursi. Begitu akan menabrak mobil-mobilan itu dapat berbelok sendiri. Entah bagaimana caranya, yang jelas Pardi melihat Rudy membawa sebuah benda yang selalu dikutak-kutik tangannya sambil mengawasi mobil-mobilannya.
Pardi sangat ingin bisa ikut bermain mobil-mobilan itu bersama Rudy. Syukur-syukur diijinkan mencoba menjalankan mobil-mobilan ajaib itu.
”Ruuu...dy! Ruu...dy! Tolong bukakan pintunya, aku ingin ikut bermain bersama kamu!” teriak Pardi dari luar memanggil-manggil nama Rudy yang sedang terpesona dengan mainannya yang baru.
Tidak ada sahutan dari dalam. Kelihatannya Rudy tidak mendengar karena sedang keasyikan bermain. Ditambah dengung suara mobil-mobilannya cukup keras dan dirinya harus konsentrasi mengendalikan  mobil-mobilannya lewat remot kontrol di tangannya.
Berulangkali memanggil tidak didengar, Pardi berusaha meraih klintingan yang ada di depan pintu. Ia ingin membunyikan klintingan itu agar Rudy yang sedang keasyikan bermain mengetahui kehadirannya. Ia ingin agar Rudy segera membukakan pintu untuknya. Tetapi berulangkali Pardi melonjak untuk meraih kelintingan itu selalu luput. Sampai Pardi jinjit-jinjit berdiri dengan tumpuan ujung jari kaki, tetap saja tidak dapat meraih kelintingan. Benda yang digunakan sebagai alat pemanggil yang ada di dalam rumah itu memang tidak diperuntukkan bagi anak kecil seperti Pardi, tetapi untuk orang dewasa. Jadi wajar meskipun berusaha seperti apa Pardi tetap tidak akan dapat meraihnya tanpa alat bantu.
”Bagaimana ini caranya memanggil, supaya yang ada di dalam mau membukakan pintu untuk masuk?” pikir Pardi. Matanya ditebarkan di sepanjang jalan di depan rumah.
”Nah ini. Batu ini bisa aku pakai untuk memukuli pintu pagar besi ini supaya Rudy mendengar dan tahu kalau ada temannya akan ikut bermain dengannya. Semoga Rudy mau membukakan pintu dan mengijinkan aku ikut bermain mobil-mobilan dengannya,” batin Pardi sambil beranjak untuk mengambil batu sebesar kepalan tangan di pinggir jalan.
”Thing...! Thinggg...! Thiiinnggg..!” Pardi mulai memukuli pintu pagar. Suaranya nyaring meloncat-loncat memasuki pekarangan Pak Bowo, lalu  menyusup masuk memukuli gendang telinga Rudy, membuat terkejut yang sedang asyik bermain. Sampai-sampai pijatan remot kontrol Rudy tidak bisa dikontrol. Mobil-mobilan melaju tanpa kendali menabrak pagar teras.
Rudy yang merasa terganggu beranjak dari tempat duduknya. Kelihatan sekali ia sangat kesal pada kelakuan anak desa yang sudah mengganggu keasyikannya bermain sendirian.
”Kenapa kamu memukuli pintu pagarku!” tanya Rudy setelah berhadap-hadapan dengan Pardi. Yang satu di dalam pagar, yang satunya lagi di luar pagar. ”Tahu tidak kamu, kalau kamu pukuli begitu pintu pagarku bisa rusak? Setidak-tidaknya catnya bisa lecet!” lanjutnya marah.
”Kalau begitu aku minta maaf. Salahnya kamu aku panggil-panggil tidak menjawab dan tidak mau datang untuk mebukakan pintu, terpaksa aku memukuli pintu pagarmu. Sekarang tolong bukakan pintunya, aku ingin bermain mobil-mobilan dengan kamu!” pinta Pardi.
”Bagaimana? Kamu ingin bermain mobil-mobilan dengan aku? Tahu tidak kamu, mobil-mobilan ini mahal harganya? Kalau sampai rusak tidak sembarang orang bisa memperbaiki. Anak desa seperti kamu  kalau aku ijinkan bermain, tentu  hanya akan merusakkan mobil-mobilanku saja. Kamu tidak boleh ikut bermain mobil-mobilanku! Apalagi ikut menjalankan mobil-mobilanku, masuk pekarangan rumahku untuk mendekat, nonton aku bermain mobil-mobilan  saja tidak boleh! Sudah jangan ganggu aku! Sana pergi!” hardik Rudy, membuat sakit hati Pardi.
”Jangan begitu, Rud! Di sekolah kita kan teman satu kelas. Sekarang di rumah kita kan tetap berteman. Sekarang ijinkan aku masuk untuk nonton kamu main di teras rumahmu. Jangan takut kalau aku sampai merebut setiranmu lalu menjalankan mobil-mobilanmu tanpa seijinmu. Boleh ya Rud, aku ikut masuk untuk nonton kamu bermain mobil-mobilan? Jangan khawatir! Aku akan duduk tenang melihat mobil-mobilanmu berputar-putar di teras rumahmu,” rayu Pardi agar diperbolehkan ikut bermain dengan Rudy yang sebetulnya adalah teman sekelasnya di sekolah.
Rudy berkacak pinggang. Sikapnya tetap kaku dan tak peduli.
”Kalau aku bilang tidak, itu ya tidak! Titik! Paling-paling nanti kalau kamu kegatalan tangan karena sangat kepinginnya, tetapi tetap aku larang memegang remot kontrolku ini,” ujar Rudy sambil memperlihatkan remot kontrol yang dikatakan setiran oleh Pardi, ”kamu pasti akan nekat merebutnya! Kalau tidak bisa merebut kamu tentu akan marah menendang mobil-mobilanku supaya rusak. Iya begitu kan? Anak desa itu sukanya seperti itu, benar tidak?”
Memang Rudy itu tidak kelahiran desa ini. Yang asli desa ini adalah Pak Bowo ayah Rudy. Sebagai pegawai kantor pajak, ayah Rudy tugasnya berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lainnya. Sekarang karena sudah mendekati waktu pensiun Pak Bowo minta pindah ke daerah asalnya. Pekarangan warisan orang tuanya dibangun menjadi rumah besar dan mewah berpagar tembok tinggi. Karena Rudy biasa hidup di kota, tidak tahu kalau orang tuanya itu sebetulnya asli desa ini. Ia merasa sebagai orang kota. Sedangkan anak-anak yang asli tinggal di desa ini dianggapnya sebagai orang desa. Rudy tidak mau bergaul dengan anak desa ini, kecuali kalau sedang di sekolah. Itu saja dengan berat hati, dan hanya dengan anak  yang ia anggap satu level atau yang dianggapnya menguntungkan dirinya.
”Jangan sombong kamu! Ketahuilah, kamu sekarang itu hidup di desa. Berarti kamu juga orang desa!” balas Pardi.
”Terserah kamu mau bilang apa! Yang penting kamu tidak boleh masuk ikut bermain mobil-mobilan, titik! Sudah sana! Pergi sana! Jangan ganggu aku yang sedang asyik bermain mobil-mobilan!” sahut Rudy mengusir Pardi.
”Kalau tidak boleh bermain mobil-mobilan denganmu, rasakan nanti! Pintu pagarmu akan aku pukuli pakai batu! Kalau perlu rumahmu juga akan aku lempari pakai batu sekalian biar rusak! Biar rumahmu jadi jelek!” ancam Pardi.
”Awas kalau kamu melempari rumahku, anjingku yang galak akan aku lepas, biar menggigit kamu !” ganti ancam Rudy.
Pardi lalu mengumpulkan batu-batu yang bertebaran di pinggir jalan untuk persiapan melempari rumah Rudy. Ada terkumpul kira-kira enam buah batu sebesar kepalan tangan yang berhasil dikumpulkan. Rudy pun bergegas masuk rumah untuk melepas anjingnya. Tetapi sebelum Pardi mulai melemparkan batu yang pertama, tangan sudah ambil ancang-ancang, tiba-tiba Pak Paimin, ayah Pardi muncul.
”Pardiiii...! Mau apa kamu? Ayo ditaruh kembali batunya! Tidak boleh melempari rumah orang! Kalau sampai membuat kerusakan, memecahkan kaca, atau mengenai orangnya hingga sakit, apa kamu punya uang untuk memperbaiki dan mengobatkan? Apa kamu punya uang untuk membeli kaca, membayar tukang dan ongkos berobat?” ujar Pak Paimin menghentikan tindakan nekat anaknya.
”Lha masak hanya diminta membukakan pintu agar aku bisa ikut bermain mobil-mobilan saja kok tidak mau. Bahkan aku dikatakan sebagai orang desa! Keterlaluan betul Rudy itu, Pak!” balas Rudy mencari pembenaran tindakannya. Namun demikian sebagai anak yang penurut perintah orangtua, Rudy membuang batu yang ada di tangannya ke pinggir jalan.
 ”Tidak boleh ikut bermain mobil-mobilan ya sudahlah. Tidak usah kamu nekat akan membuat kerusakan seperti itu. Mari kita ke kebun kita, aku buatkan kamu mobil-mobilan yang lebih cocok buat kamu!” ajak Pak Paimin pada anaknya.
”Mobil-mobilan apa, Pak?” tanya Pardi tidak mengerti.
”Mobil-mobilan dari bodong batang pohon pisang. Kebetulan pohon pisang yang aku tebang tadi tinggi, jadi batangnya juga panjang. Banyak macam mobil-mobilan yang dapat kita buat. Sekarang sana panggil kawan-kawanmu sesama anak desa sini, kita ajak membuat dan bermain mobil-mobilan tradisional bersama. Sudah pasti nanti akan lebih meriah dan menyenangkan bagi kalian. Nanti aku yang akan mengajarkan caranya membuat mobil-mobilan dari batang pohon pisang,” ujar Pak Paimin.
Pardi bergembira. Matanya berbinar-binar. ”Ya, Pak, saya akan mengajak Antok, Darto dan Jono untuk bermain bersama. Tidak bermain mobil-mobilan yang dapat berjalan sendiri yang harganya mahal tidak jadi apa. Bermain bersama kawan-kawan tentu lebih menyenangkan,”
Pardi lalu berlari-lari kesenangan ke rumah kawan-kawannya untuk diajak bermain bersama.
Tidak berapa lama kemudian empat orang anak sudah berkumpul di kebun Pak Paimin. Keempat anak itu semua membawa pisau. Pak Paimin menggelindingkan gedebok batang pohon pisang yang baru saja ditebangnya ke tengah kebun yang agak bersih, rata dan agak luas.
”Anak-anak, sekarang mari kita bersama-sama menguliti gedebog ini sampai tinggal bodongnya saja. Mari kita gotong-royong, ada yang di pucuk, di tengah dan di pangkal. Yang menguliti bersama-sama, nanti tentu lebih mudah.” Pak Paimin mengajarkan caranya menguliti gedebok batang pohon pisang. Anak-anak lalu menirukan. Tak berapa lama kemudian batang pohon pisang itu tinggal bodongnya saja. Gedebok kulitnya sudah lepas bertumpuk di sampingnya.
“Sekarang dibagi. Nanti dulu aku mau tanya, Pardi, kamu mau buat apa?” tanya Pak Paimin sebelum membagi bodong batang pisang.
“Saya akan membuat truk dengan bak tutupan,” jawab Pardi mantap.
”Kalau begitu kamu cukup sepotong saja tidak usah panjang-panjang. Kira-kira 40 Cm sudah cukup. Yang 7 Cm untuk kepala truk, sisanya untuk membuat roda dan papan untuk menaruh bak truk di belakang,” ujar Pak Paimin sambil memberikan sepotong bodong ukuran kurang lebih 40 Cm.
”Lalu kamu Antok. Kamu mau buat apa?”
”Saya akan membuat mobil colt pikap, Pakdhe,” jawab Antok.
”Mobil colt pikap lebih pendek. Ini aku beri kira-kira 30 Cm sudah cukup,” kata Pak Paimin sambil memberikan potongan bodong yang diperlukan Antok.
”Saya ingin membuat truk bak bukaan, Lik Paimin,” kata Darto sebelum ditanya Pak Paimin.
”Kalau begitu yang kamu butuhkan sama dengan punya Pardi. Nah ini terimalah!” kata Pak Paimin sambil memberikan potongan bodong yang diperlukan Darto.
Darto menerima bodong pemberian Pak Paimin. Tetapi nampaknya ia masih kurang puas. Ia ingin mendapat lebih dari yang telah diterimanya.
“Tapi Lik Paimin, truk yang akan saya buat itu truk gandeng. Jadi ada dua buah truk yang akan saya buat. Cuma yang di belakang itu tanpa kepala, hanya bak terbuka digandeng dengan truk yang ada di depannya,” kata Darto menjelaskan rencananya.
”Bodong ini nanti setelah dikurangi untuk membuat roda truk, sisanya akan dibelah jadi dua. Jadi belahan itu nanti dapat kamu gunakan menjadi papan truk yang ada di belakang. Tetapi karena truk gandengan tentu saja membutuhkan roda lebih banyak, untuk itu ini terimalah tambahan bodong untuk membuat tambahan roda  truk yang akan kamu buat!” kata Pak Paimin sambil memotong bodong dengan pisaunya yang tajam lalu menyerahkannya kepada Darto.
Melihat Darto ditambah bodong, Pardi dan Antok seperti tidak terima. Mereka pun ingin mendapat tambahan bodong.
“Pak, truk saya juga truk gandeng kok Pak. Saya juga minta tambahan bodong gitu, Pak?”  protes Pardi.
“Saya juga, Pakdhe! Mobil colt saya juga mobil colt gandeng, Pakdhe. Jadi saya juga minta tambahan bodong,” Antok tak mau kalah.
Pak Paimin geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anak yang tak mau kalah ini. Tapi ia maklum, memang begitulah anak-anak.
”Keinginan Pardi bisa dimengerti. Truk gandeng bak terbuka maupun bak tertutup memang ada. Permintaannya bisa aku penuhi. Tetapi kalau rencana Antok untuk membuat colt gandengan nampaknya kok aneh. Belum pernah ada, kecuali colt macet ditarik colt lainnya. Tetapi kalau kamu ingin mendapat tambahan bodong aku bisa berikan. Hanya saranku buatlah mainan yang lainnya. Nah ini terimalah, Pardi dan Antok,” kata Pak Paimin sambil membagi lagi dua potong bodong untuk Pardi dan Antok.
”Lha terus untuk saya, bagian saya mana, Pakdhe?” tanya Jono yang dari tadi hanya diam saja menunggu giliran mendapat bagian potongan bodong.
”Oh ya, masih ada Jono. Sekarang aku tanya, Jono kamu mau buat apa?” tanya Pak Paimin.
”Saya akan membuat kereta api dengan beberapa gerbong di belakangnya. Jadi saya perlu bodong yang panjang, Pakdhe,” kata Jono.
Pak Paimin geleng-geleng kepala sambil bicara dalam hati, ”Pintar juga anak ini. Dia ingin membuat mainan yang memerlukan bodong yang banyak. Tak mau kalah dengan teman-temannya. Untung pohon pisang yang aku tebang tadi cukup tinggi, sehingga bodongnya pun panjang.”
”Ya sudah, kalau begitu terimalah ini. Tapi gerbong keretamu tidak usah panjang-panjang, agar bodongmu cukup, dan kamu tidak susah nanti menariknya. Selain itu sebaiknya kereta apimu tak usah pakai roda, agar lebih kuat ditarik-tarik nantinya,” ujar pak Paimin sambil memberikan kira-kira 50 Cm potongan bodong batang pisang.
”Lha itu masih sisa untuk siapa, Pakdhe?” tanya Jono, melihat masih ada sisa bodong yang belum dibagi.
”Ini untuk temanmu yang lain kalau datang menyusul ke sini mau ikutan main mobil-mobilan,” jawab Pak Paimin, ”Barangkali nanti ada teman-temanmu yang lain tertarik ikut bermain kemari, ini masih aku sisakan sebagian bodong untuk membuat mobil-mobilan.”
”Sudah. Sekarang kalian mulai membuat mainan kalian sesuai rencana kalian masing-masing. Sudah tahu belum caranya?” tanya Pak Paimin.
”Belum tahu. Bagaimana caranya, Pak?” tanya anak-anak serentak.
Pak Paimin lalu memberi tahu cara membuat mainan mobil-mobilan dari bodong batang pisang. Sengaja ia hanya menerangkan, tidak memberi contoh, agar imajinasi dan kreatifitas anak-anak menuntun mereka mendapatkan cara mewujudkan keinginan mereka sendiri-sendiri.
”Dengarkan kalian semua! Kalau akan membuat mobil-mobilan atau truk-trukan, yang pertama-tama kamu lakukan adalah menyisihkan sebagian bodong untuk membuat roda. Tebalnya roda kira-kira 3 Cm kali jumlah roda yang dibutuhkan. Paling sedikit 4 buah. Kalau truknya gandengan tinggal mengalikan 4 kali jumlah gandengan. Setelah itu bodong dibelah jadi dua. Yang rata nanti jadi bagian bawah mobil-mobilan atau truk. Yang melengkung setengah lingkaran jadi bagian atas. Ambil kira-kira 7 Cm atau 10 Cm dari depan bagian atas ini untuk membuat kepala mobil-mobilanmu. Sisanya kamu kurangi tingginya diiris mendatar sebagai tempat bak truk. Sudah jelas belum?” tanya Pak Paimin.
”Sudah jelas, Pak. Sudah jelas, Pakdhe. Sudha jelas, Lik Paimin,” jawab anak-anak bersama.
”Roda kalau merasa cukup sebesar itu ya cukup bodong itu kamu potong setebal  3 Cm -3 Cm, lalu ditusuk pakai bambu yang diraut kecil sebagai porosnya. Kebetulan aku masih punya beberapa sunduk sate sisa Hari Raya Iedul Adha kemarin. Kalian bisa gunakan sunduk sate untuk membuat poros roda mobil-mobilan kalian nanti,” ujar Pak Paimin.
”Terima kasih, Pak. Terimakasih, Pakdhe. Terimakasih, Lik Paimin,” sahut anak-anak bersama-sama.
”Tapi, mobil-mobilan saya itu colt, apakah rodanya ya sebesar itu,  Pakdhe?” tanya Antok.
”Kalau kamu ingin membuat roda yang lebih kecil ya kamu harus mengurangi lingkaran bodong itu menjadi lebih kecil lagi. Tetapi kamu harus hati-hati agar rodamu nanti tetap bundar sehingga dapat menggelinding dengan baik. Jelas?” tanya Pak Paimin.
”Jelas,” jawab Antok.
”Lalu caranya membuat bak truk bagaimana, Pak?” tanya Darto.
”Membuat bak truk, baik bukaan maupun tertutup, juga untuk membuat gerbong kereta api, cukup kalian gunakan kulit gedebok pisang yang telah kalian kuliti tadi. Bagian atas yang tipis kamu hilangkan. Yang dipakai bagian yang cukup tebal dan kuat saja. Kalian bisa memotong sepanjang bak truk atau gerbong kereta api kalian. Untuk bak terbuka, kulit batang pisang itu kamu pasang menghadap ke atas, lalu kamu satukan dengan tempat bak truk yang terbuat dari bodong, dengan cara ditancapi lidi kira-kira 6 Cm dilipat jadi dua agar mengunci tancapanmu,” petunjuk Pak Paimin.
”Lha kalau bak truk tertutup, bagaimana Pak?” tanya Pardi.
”Untuk membuat bak tertutup, kamu harus lebih banyak membuang bagian kulit batang pisang yang tipis. Jadi bagian tepi tutup bak itu harus cukup tebal dan kuat, karena pada bagian inilah yang akan kita gunakan untuk menempelkan tutup bak ke tempat bak truk. Jadi penempelannya tidak di tengah bodong, tetapi di tepi bodong. Menempelkannya juga sama, memakai lidi dilipat lalu ditancapkan di tepi bak mulai dari tutup bak tembus ke bodong tempatnya melekat.  Sudah jelas?” tanya Pak Paimin.
“Sudah jelas, Pak,” jawab Pardi.
“Untuk membuat colt juga hampir sama, hanya ukurannya lebih kecil. Sedangkan untuk membuat kereta api, tutup gerbong dapat kamu lubangi sebagai jendela atau pintu kereta. Jelas?” tanya Pak Paimin kepada Antok dan Jono.
“Sudah jelas, Pakdhe. Sudah jelas, Lik Paimin,” jawab Antok dan Jono.
“Kalau sudah jelas, sekarang kalian bisa mulai membuat mobil-mobilan maupun kereta api - kereta apian. Akan aku ambilkan sunduk sate yang aku katakan tadi dan sapu lidi untuk perlengkapan pembuatan mainan kalian itu,” ujar Pak Paimin terus pergi ke dapur.
 Anak-anak mulai sibuk membuat mainan mobil-mobilan dan kereta api – kereta apian sesuai angan-angan dan kreatifitas masing-masing. Beberapa saat kemudian Pak Paimin datang membawa beberapa batang sunduk sate, beberapa batang lidi dan beberapa potong ketela rebus serta satu porong air teh dan beberapa gelas kosong. Sambil  minum dan lahap makan ketela rebus, anak-anak melanjutkan membuat mainannya. Kali ini mereka mulai memasang roda  dengan menancapkan sunduk sate yang runcing ke roda ditembuskan ke bagian mobil-mobilan yang menurut mereka pantas menjadi tempat roda. Di bagian sana barulah roda satunya dipasang. Kalau ada satu teman yang kesulitan maka teman yang lain membantunya. Mereka bantu-membantu dalam menyelesaikan pekerjaannya, mewujudkan angan-angannya.
Kemudian Pardi masuk rumah. Ia mengambil beberapa lembar kertas dan pensil warna, lem, serta gunting. Barang-barang itu ia bawa ke kebun tempat bengkel kerja mereka.
”Buat apa kamu bawa kertas, pensil warna, gunting dan lem ke kebun, Pardi?” tanya Jono.
”Ini untuk membuat Bendera Merah Putih. Mobil-mobilan dan kereta api – kereta apian kita perlu kita beri Bendera Merah Putih, untuk menunjukkan bahwa  mainan ini buatan orang Indonesia dan milik orang Indonesia,” jawab Pardi mantap.
”Bagus, aku juga mau pasang Bendera Merah Putih di mainanku ini. Aku minta kertas dan pinjam pensil warna, gunting dan lemnya,” sahut anak-anak yang lainnya serentak.
Anak-anak pun segera sibuk membuat Bendera Merah Putih dari kertas. Mereka gunakan gunting untuk membuat ukuran kira-kira 2 banding 3. lalu pada sisi lebar mereka bagi dua. Bagian atas diberi warna merah dengan pensil warna. Bendera kertas itu lalu dilem ke batang lidi yang ditancapkan ke bagian depan mainan yang mereka buat.
Mereka merasa bangga setelah menancapkan Bendera Merah Putih di atas mainannya. Alangkah gagahnya mobil-mobilan buatan orang Indonesia. Mereka berangan-angan suatu saat kelak bisa membuat mobil, truk, atau kereta api beneran, bukan hanya mainan, yang dengan bangganya dipasangi Bendera Merah Putih, sebagai tanda buatan dan milik orang Indonesia.
Setelah semua selesai dibuat sesuai yang mereka inginkan, anak-anak itu mulai menjalankan mobil-mobilan dan kereta api – kereta apian buatan mereka. Tidak menggunakan remot kontrol sambil duduk ongkang-ongkang seperti yang dilakukan Rudy, tetapi dengan menariknya. Untuk menarik mainan mobil-mobilan dan kereta api – kereta apian itu mereka menggunakan tali dari kulit gedebok pisang. Mereka berjalan mondar-mandir di jalan kampung yang tidak begitu ramai dengan kendaraan. Secara kebetulan mereka harus bolak-balik melalui depan rumah Rudy yang ada di pinggir jalan.
Di sepanjang jalan anak-anak menirukan suara kendaraan yang mereka tiru. Pardi dan Darto menirukan suara truk yang sedang melaju. Kadang terdengar ia menirukan suara klakson tanda minta jalan dan agar kendaraan lain menepi. Begitu juga dengan Antok. Ia menirukan suara mobil colt. Agaknya mobil colt Antok adalah mobil pikap omprengan, makanya sering terdengar Antok meneriakkan route yang akan dilalui kendaraannya. Yang agak berbeda adalah mainan Jono. Kereta api menurut Jono mempunyai suara sendiri yang khas, seperti yang sering ia lihat ketika ia diajak bapaknya menonton di dekat gardu lintasan kereta api. Menurut Jono suara kereta api adalah, ”Kok..kok..kok...ndeling.....ndeling...ndeling...ndeling....”
Begitulah, anak-anak itu bermain menarik mainannya sendiri-sendiri di jalan sambil bercanda ria. Kadang saling mendahului dengan terlebih dahulu memberi aba-aba agar kendaraan lain mau menepi.
Waktu itu Rudy masih asyik dengan mainan mobil-mobilannya yang serba otomatis sambil duduk ongkang-ongkang di kursi teras. Stoples berisi camilan selalu menemani di sampingnya. Sebentar-sebentar ia merogoh stoples itu untuk mengambil isinya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya yang tidak pernah menolak semua makanan yang dimasukkan. Perutnya yang sudah gendut pun tidak pernah merasa kenyang menampung semuanya.
Melihat ada empat orang anak yang bermain mobil-mobilan amat sederhana sambil bercanda ria berputar-putar bolak-balik mondar-mandir di depan rumahnya semula ia merasa terganggu. Ia merasa kesal, karena konsentrasinya untuk mengendalikan mainan lewat remot kontrolnya terganggu.  Ia ingin marah. Tetapi ia menyadari, apa kuasanya memarahi mereka? Mereka bermain di jalanan umum, bukan di pekarangan rumahnya. Setiap orang boleh berjalan mondar-mandir sambil bercakap-cakap atau pun bercanda ria di jalan umum. Tidak ada aturan yang melarang.
Rudy hanya dapat mengawasi mereka yang sedang menikmati mainannya yang menurutnya sudah kuna, ketinggalan jaman. Ia hanya berdiri di depan pintu pagarnya yang masih terkunci. Namun kemudian, lama-lama memandangi mereka yang bermain bersama sambil bercanda ria, kadang saling ejek, tapi tak ada yang marah, bahkan mereka sering tertawa-tawa bersama, timbul juga keinginannya untuk dapat bermain bersama. Mereka itu sebetulnya bukan orang lain. Selain bertetangga mereka juga teman-temannya di sekolah. Hanya saja selama ini Rudy tidak merasa dekat dengan mereka.
Selama ini Rudy merasa mereka itu adalah orang desa, sedangkan dirinya adalah orang kota. Tak pantas bergaul dengan mereka. Tapi setelah kepindahan ayahnya ke desa ini ia hidup di desa. Tidak ada temannya dari kota yang ikut pindah ke desa ini. Ia sering merasa kesepian. Meskipun banyak mainan yang dapat dimainkannya sendiri tanpa butuh bantuan orang lain, atau butuh orang lain untuk main bersama, nyatanya ia tetap membutuhkan orang lain untuk diajak bercanda ria dan tertawa-tawa bersama, seperti yang dilihatnya pada teman-temannya di luar pagar itu.
Memandang kegembiraan Pardi, Antok, Darto dan Jono dalam bermain mobil-mobilan dan kereta api – kereta apian yang terbuat dari bahan yang murah dan sederhana, Rudy ingin juga merasakan kegembiraan, kehangatan, keakraban, dan kebersamaan dengan mereka. Ia ingin juga dapat bercanda ria, tertawa-tawa, saling balap dan saling ejek, tetapi tidak sampai menimbulkan kemarahan atau kebencian. Karena ejekannya hanyalah canda setelah berhasil membalap temannya, atau ketika roda mobil-mobilan temanya tiba-tiba lepas.
”Pardi! Darto! Antok! Jono! Aku ikut bermain mobil-mobilan dengan kamu boleh, ya?” tanya Rudy setelah membuka pintu pagar, dan kebetulan barisan anak-anak yang sedang bermain itu akan lewat di depan pintu pagarnya. Keempat anak yang sedang bermain itu berhenti. Pardi lalu maju mendekati Rudy.
“Kamu tadi aku minta membukakan pintu, agar aku bisa ikut bermain mobil-mobilanmu saja kamu tidak mau. Sekarang kamu mau ikut bermain mobil-mobilan dengan aku, apa tidak salah? Lagian mobil-mobilanku ini adalah mainan anak desa, terbuat dari gedebok pisang yang harus ditarik pakai tali gedebok ke sana ke mari. Nanti kamu kotor! Nanti kamu lelah! Kamu toh sudah punya mobil-mobilan yang lebih mewah dan canggih. Mainan orang kota! Memainkannya tidak membuat kotor dan lelah. Cukup duduk-duduk sambil makan camilan,” kata Pardi menyindir.
”Jangan berkata begitu, Di! Aku tadi memang salah, melarang kamu ikut main dengan aku. Sekarang aku minta maaf. Ternyata bermain bersama teman-teman itu lebih menyenangkan. Apalagi bermain mobil-mobilan seperti yang kalian punya, jalan-jalan bolak-balik bisa membuat badan berkeringat dan sehat. Aku bermain sendiri pakai remot kontrol sambil duduk di kursi, lama-lama badanku jadi pegal-pegal dan bosan juga. Tapi kalian bermain bersama, bercanda ria, tertawa-tawa, tampaknya kok sangat asyik dan menyenangkan,” kata Rudy.
”Memang bermain mobil-mobilan seperti punyaku ini kelihatannya melelahkan karena harus jalan ke sana ke mari. Tetapi itu menyehatkan seperti katamu. Lelahnya karena banyak gerak. Sedangkan mainanmu itu pegalnya karena kurang gerak. Kamu boleh bergabung ikut bermain dengan aku dan teman-teman lainnya, kebetulan bodong pisangnya masih. Tapi kamu juga harus mengijinkan aku dan teman-temang ini ikut bermain mobil-mobilan milik kamu. Kami pun ingin bisa menjalankan mobil-mobilan pakai mesin yang serba otomatis itu. Asal aku dan teman-teman lainnya kamu ajari caranya menjalankan mobil-mobilanmu, jangan khawatir kami akan merusakkannya,” ujar Pardi.
”Boleh saja kalau kalian juga ingin bermain mobil-mobilan milikku, asal aku juga diperbolehkan dan diajari cara membuat mobil-mobilan seperti milik kalian,” balas Rudy.
Rudy lalu diajak ke kebun orang tua Pardi. Di sana ia diberi bodong batang pisang. Lalu diajari cara membuat mobil-mobilan dari bodong batang pisang. Dasar Rudy anak dari kota, mobil-mobilan yang ia buat bukannya truk atau colt atau kereta api-kereta apian, tetapi ia membuat mobil-mobilan sedan yang meskipun kecil tetapi nampak indah dan gesit.
Mereka lalu bermain bersama sambil tertawa-tawa bercanda ria. Rudy nampak sangat menikmati kebersamaan bermain dengan teman-temannya. Mereka nampak akrab, guyub dan rukun. Sorenya setelah mandi, ganti keempat anak itu yang ikut bermain mobil-mobilan milik Rudy di teras rumah Rudy. Setelah diberi tahu caranya menghidupkan, menjalankan, mengendalikan dan mematikan mobil-mobilan yang serba dikendalikan lewat remot kontrol itu, satu persatu Pardi, Antok, Darto dan Jono mencoba menjalankan mobil-mobilan yang dapat berjalan sendiri tanpa ditarik tali gedebok pisang itu. ***

Penulis: SUTARDI MS DIHARDJO

Related posts:

No response yet for "Cerita Anak Dolanan Tradisional Tempo Dulu: Bermain Mobil-Mobilan"

Post a Comment