Cerita Anak Tema Dolanan Bocah Tradisional: DHELIKAN 3

Cerita Anak Tema Dolanan Bocah Tradisional:
 
  DHELIKAN 3: Pak-E-Pong, Pa-Te-Kong dan Tong Kaleng

  Anak-anak Prakerin dari SMK Muhammadiyah 1 Jatinom dan SMK Muhammadiyah 2 Klaten Utara mendengrakan ceritaku mengenai dolanan Dhelikan yang dilakukan kawan-kawan sebayaku dengan penuh perhatian. Sengaja aku tidak memasukkan diriku dalam cerita agar aku dapat lebih leluasa menceritakan apa yang dilakukan kawan-kawanku dalam permainan dhelikan, dengan meninjaunya satu persatu.
 ”Begitulah salah satu permainan dhelikan yang pernah kami mainkan ketika kami masih anak-anak sekitar usia anak sekolah SD dan SMP dulu. Itu yang pakai alat wingka atau pecahan genting. Selain itu ada juga yang memakai alat berupa bola. Bisa bola plastik atau bola tenis,” kataku kepada anak-anak Prakerin.
”Kalau yang pakai bola bagaimana mainnya, Pak?” tanya anak Prakerin dari SMK Muhammadiyah 2 Klaten.
”Kalau tidak salah yang pakai bola itu namanya: Pak-E-Pong. Dhelikannya sama. Bedanya ada pada mulainya ngumpet, cara ndhadhalkan, cara cara mengesahkan tawanan. Kalau tadi digunakan wingka yang disusun-susun, lalu dilempar pakai batu gaco hingga roboh, baru pemain mentas boleh lari sembunyi, maka pada dolanan yang dhelikan yang pakai alat bola, hanya satu saja alatnya, ya bola itu.
Ketika sudah selesai dilakukan hompimpah hingga suit jah-ndho-jleng untuk menentukan pemain dadi dan pemain-pemain mentas, pemain dadi lalu berjaga pada jarak kurang lebih 4 meter dari titik tuju. Di titik tuju, salah satu pemain mentas bersiap-siap menendang bola yang diletakkan di titik tuju. Sementara itu pemain mentas yang lainnya siap-siap berlari. Ketika bola sudah ditendang, semua pemain mentas berlari untuk bersembunyi. Sedangkan pemain dadi berusaha menangkap bola yang ditendang. Tapi biasanya sulit untuk menangkapnya, karena tendangan pasti dibuat melenceng yang jauh dari jangkauan pemain dadi. Maka pemain dadi harus mengejar dan mengambil bola yang ditendang tersebut.
Setelah bola diambil lalu diletakkan di titik tuju, pemain dadi lalu mencari para pemain mentas di tempat persembunyiannya. Seperti permainan yang menggunakan alat wingka, pemain mentas yang sudah di-cik dan  pemain dadi berlomba adu cepat berlari. Tetapi kali ini tidak untuk nendang tumpukan wingka melainkan untuk nendang bola di titik tuju bagi pemain mentas, atau bagi pemain dadi untuk mengambil bola di titik tuju lalu dipantulkan ke tanah sebagai sahnya tawanan.
Setelah bola dipantulkan pemain dadi ke tanah, pemain mentas yang sudah di-cik dinyatakan menjadi tawanan. Yang di-cik pertama kali kalau nanti ternyata tidak ada pemain mentas yang berhasil ndhadhalkan, tapi justru semua dapat ditawan, maka dialah yang akan menjadi pemain dadi berikutnya. Tetapi meskipun hanya kurang satu pemain mentas yang belum di-cik, kalau kemudian ternyata ia justru dapat ndhadhalkan dengan cara menendang bola yang ditinggalkan pemain dadi, maka semua pemain mentas yang sudah dijadikan tawanan boleh lari bersembunyi lagi.
Dalam dolanan dhelikan pakai bola ini harus dimusyawarahkan aturan permainan yang lebih ketat, sebab kalau tidak, itu nanti akan menyulitkan bagi pemain dadi untuk menjadi pemain mentas. Contoh, karena tempat kami bermain dulu di pinggir sungai, maka siapa pun tidak boleh menendang bola dengan sengaja mengarah ke sungai. Karena hal ini akan menyulitkan bagi pemain dadi mengambilnya. Juga tidak boleh menendang bola ke arah belakang. Tendangan harus tertuju ke depan, meskipun mungkin agak miring ke kanan atau ke kiri.
Itulah variasi lain bermain dhelikan dengan menggunakan bola. Sekarang coba kamu, siapa namamu?” tanyaku kepada salah seorang siswa Prakerin dari SMK Muhammadiyah 1 Jatinom.
”Saya Mifta, Pak,” jawab siswa Prakerin yang aku tunjuk.
”Rumahmu dimana?” tanyaku lagi.
”Rumah saya di Manjungan,” jawabnya lagi.
”Tadi kamu mengatakan pernah bermain dhelikan. Sekarang coba ceritakan bagaimana kamu bermain dhelikan dengan kawan-kawanmu?” kataku meminta Mifta menceritakan dolanan dhelikan yang pernah ia lakukan. Kalau misalnya itu dilakukan ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar, berarti sudah sekitar 5 tahun yang lalu. Tetapi kalau itu masih dilakukan ketika ia sudah duduk di bangku SMP, berarti baru sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu.
”Baiklah Pak, saya akan ceritakan pengalaman main dolanan dhelikan yang pernah kami lakukan. Dhelikan yang kami lakukan menggunakan alat berupa kayu. Ada 5 batang kayu masing-masing sepanjang 20 Cm. kami perlukan sebagai kayu sasaran. Selain itu kami perlukan pula kayu gaco sebanyak jumlah pemain. Permainan ini dinamakan Pa Te Kong,” Mifta mulai menjelaskan permainan dhelikan yang dia lakukan dengan teman-teman sebayanya. Kawan-kawan lainnya, meskipun satu sekolah tetapi lain kampung ikut mendengarkan. Barangkali di rumahnya tidak ada permainan seperti itu.
”Mula-mula kami membuat lingkaran dengan garis tengah + 30 Cm. Kemudian kami mendirikan 5 buah kayu sasaran saling bersandar sehingga nampak seperti menata kayu bakar untuk api unggun. Kayu sasaran inilah yang akan dilempari dengan kayu gaco dari garis tuju oleh para pemain hingga roboh. Setelah itu kira-kira 5 langkah dari kayu sasaran tersebut kami membuat garis tuju. Masing-masing kami yang bermain telah menggenggam kayu gaco kami masing-masing yang panjangnya kira-kira 40 Cm. Dari lingkaran sasaran kami melemparkan kayu gaco kami masing-masing melewati garis tuju. Yang paling jauh dari garis tuju kita anggap sebagai nomor satu. Yang jauhnya nomor dua kita anggap sebagai nomor dua dan seterusnya. Tetapi semua itu harus melewati garis tuju,” ujar Mifta.
”Kalau tidak sampai melewati garis tuju bagaimana?” tanyaku memotong.
”Kalau tidak sampai melewati garis tuju, diberi kesempatan untuk mengulangi sampai tiga kali melemparkan kayu gaconya dari lingkaran sasaran,” jawab Mifta.
”Kalau sampai tiga kali, tetap saja lemparannya tidak dapat melampaui garis tuju bagaimana?” tanyaku lagi.
”Kalau sampai tiga kali tetap saja tidak dapat melampaui garis tuju, anak itu otomatis dijadikan pemain dadi yang harus menjaga kayu sasaran dan harus mengejar dan menangkap kawannya yang bersembunyi,” jawab Mifta lagi.
”Oke, taruhlah semua pemain dapat melampaui garis tuju. Lalu siapa yang berhak laku duluan untuk melemparkan gaconya?” tanyaku.
”Yang berhak laku duluan adalah pemain yang gaconya paling jauh dari garis tuju, katakan pemain nomor 1. Terus pemain yang gaconya jauhnya nomor 2. Terus pemain yang gaconya jauhnya nomor 3.  Terus pemain yang gaconya jauhnya nomor 4, dan seterusnya,” jawab Mifta lagi.
”Pada waktu melempar gaco itu siapa pemain dadi yang harus menunggui kayu yang dijadikan sasaran?” tanyaku.
”Tidak ada,” jawabnya singkat.
”Kok tidak ada? Lalu kalau ada pemain yang berhasil mengenai kayu sasaran hingga roboh bagaimana? Siapa yang akan mendirikan kembali kayu tersebut? Dan siapa yang berhak lari atau siapa yang harus mengejar dan menangkap?”
”Kalau misalnya ada pemain yang berhasil mengenai kayu sasaran hingga roboh, pemain yang dadi, yang wajib mengejar pemain lain yang bersembunyi adalah pemain pada urutan berikutnya. Begitu ada pemain berhasil mengenai sasaran, misalnya pemain nomor 2, maka pemain nomor 3 menjadi pemain dadi. Ia harus segera mendirikan kembali kayu sasaran agar dapat segera mengejar pemain-pemain lain yang buru-buru lari bersembunyi,” ujar Mifta.
”Misalnya kemudian ia melihat salah seorang pemain mentas yang sedang bersembunyi, bagaimana ia menangkapnya?”
”Kalau pemain dadi berhasil melihat pemain mentas yang sedang bersembunyi, atau kebetulan melintas meskipun hanya sepintas tapi sempat dikenali pemain dadi, maka pemain dadi harus menyebutkan nama pemain yang terlihat itu. Misalnya pemain mentas yang sempat dilihat adalah Shanti, sebut saja namanya: Shanti! Lalu mereka berdua, pemain dadi dan Shanti adu lari berebut menuju ke lingkaran sasaran. Pemain dadi berusaha sampai terlebih dahulu untuk membuat tanda di dalam lingkaran sambil meneriakkan kata-kata: Pa-Te-Kong! Sedangkan pemain mentas yang ketahuan berebut menuju ke lingkaran sasaran untuk merobohkan kayu-kayu sasaran yang sudah dipasang berdiri dengan menyapukan kayu gaconya.”
”Begitu ya. Apakah ada kemungkianan dalam adu lari tersebut mereka berdua sampai bersamaan? Lalu ketika pemain dadi baru membuat tanda dan teriakannya baru sampai pada kata ’Pak...’ Pemain mentas yang juga sudah sampai di tempat itu keburu menyapukan kayu gaconya hingga kayu-kayu yang didirikan roboh?”
”Kemungkinan itu ada saja. Kalau teriakan itu belum lengkap menyebut kata Pa-Te-Kong, kayu sasaran keburu dirobohkan, maka pemain mentas yang sudah berhasil merobohkan tadi, dan juga kalau ada pemain-pemain mentas lainnya yang sudah duluan ditangkap, boleh lari bersembunyi,” kata Mifta.
”Tetapi kalau pemain dadi sudah selesai membuat tanda, misalnya tanda silang atau tanda garis entah melintang atau membujur, sambil meneriakkan kata-kata Pa-Te-Kong dengan lengkap, kemudian pemain mentas tetap merobohkan kayu sasaran dengan kayu gaconya, maka pemain mentas tersebut dianggap curang. Ndhadhalkannya tidak sah. Ia tetap jadi tawanan, dan bahkan ia dihukum untuk mendirikan kembali kayu-kayu sasaran seperti semula.”
”Jadi dibutuhkan sportifitas dari para pemain ya?” tanyaku.
”Betul, Pak, pemain dadi maupun pemain mentas, dua-duanya harus jujur dan sportif! Tidak boleh curang,” jawab Mifta.
”Lalu bagaimana kalau sudah tertangkap semua?” tanyaku buru-buru ingin tahu akhir dari permaianan.
”Nanti dulu, Pak. Kalau hampir semua pemain mentas sudah jadi tawanan, tapi kemudian ada satu pemain mentas yang masih bebas kemudian berhasil mendhadhalkan dengan cara menyapukan kayu gaconya ke kayu-kayu sasaran hingga roboh, maka semua pemain mentas yang sudah jadi tawanan boleh lari bersembunyi lagi. Mereka sudah bebas. Tetapi kalau kemudian mereka semua, pemain mentas, tertangkap menjadi tawanan  semua, permainan Pa-Te-Kong ini dinyatakan berakhir,” kata Mifta mengakhiri uraiannya tentang permainan dhelikan Pa-Te-Kong.
”Jadi begitu ya dhelikan Pa-Te-Kong itu? Lalu kalau kamu Shanti. Bagaimana kamu melakukan dolanan dhelikan?” tanyaku ganti kepada teman Mifta yang bernama Shanti.
”Kalau saya permainannya namanya: Tong Kaleng. Dinamakan begitu mungkin karena alat yang digunakan adalah sebuah kaleng bekas tempat susu kaleng. Alat yang lainnya adalah butiran batu sejumlah banyaknya pemain. Cara memainkannya, mula-mula kita membuat lingkaran berdiameter kurang lebih 30 Cm. Lalu kita taruh kaleng bekas tempat susu kental itu di dalam lingkaran tersebut. Sama seperti ketika Mifta membuat permainan Pa-Te-Kong, pada permainan Tong Kaleng ini lebih kurang 5 langkah dari lingkaran sasaran juga dibuat garis tuju,” Shanti mulai memaparkan bagaimana melakukan dhelikan Tong Kaleng.
”Setelah semua siap, semua pemain berada di sekitar lingkaran sasaran. Satu per satu mereka melemparkan batu gaco di tangan mereka melampaui garis tuju. Sama juga dengan Pa-Te-Kong, pada Tong kaleng ini yang berhak menujukan batu gaco ke arah kaleng adalah pemain yang batu gaconya paling jauh dari garis tuju, tapi harus melampaui garis tuju. Pemain yang gaconya tidak sampai ke garis tuju harus mengulanginya. Kesempatan diberikan sampai tiga kali. Kalau tetap tidak bisa, ia otomatis menjadi pemain dadi.”
”Apakah pemain dadi juga ditentukan dari pemain pada urutan berikutnya, setelah ada pemain yang lemparan gaconya berhasil mengenai kaleng sasaran?” tanyaku.
”Memang sampai di sini Tong Kaleng ini juga hampir sama dengan Pa-Te-Kong. Bedanya pada Pa-Te-Kong kayu gaco yang dilemparkan diusahakan untuk merobohkan kayu sasaran, sedangkan pada Tong Kaleng lemparan batu gaco diusahakan untuk mengeluarkan kaleng dari lingkaran yang mengelilinginya. Kalau salah satu pemain sudah berhasil mengeluarkan kaleng dari lingkaran, maka pemain pada urutan berikutnya menjadi pemain dadi,” kata Shanti.
”Lalu semua pemain, kecuali pemain dadi lari sembunyi?” tanya anak-anak Prakerin dari  SMK Muhammadiyah 2 Klaten.
”Tidak,” jawab Shanti.
”Tidak?” tanya anak-anak SMK Muhammadiyah 2 Klaten heran.
”Setelah ada satu orang yang berhasil mengelurkan kaleng dari lingkaran sehingga diketahui siapa yang harus menjadi pemain dadi yang harus jaga, maka semua pemain lalu berkumpul di lingkaran sasaran. Kemudian pemain yang tadi berhasil mengeluarkan kaleng dari lingkaran, mengambil kaleng tersebut. Selanjutnya ia akan melemparkan kaleng tersebut sejauh-jauhnya dari lingkaran sasaran. Sementara pemain dadi mengambil kaleng untuk ditempatkan kembali di tengah lingkaran, pemain-pemain mentas lainnya lari bersembunyi,” Shanti memberi penjelasan yang tidak terduga.
”Lalu bagaimana pemain dadi menangkap para pemain mentas yang bersembunyi?” tanya anak-anak Prakerin SMK Muhammadiyah 2 Klaten.
”Seperti pada Pa-Te-Kong, setelah pemain dadi melihat pemain mentas yang sedang sembunyi, ia harus menyebutkan namanya. Setelah itu mereka berdua akan adu lari menuju ke lingkaran sasaran. Pemain dadi akan membuat tanda sambil berteriak, ’Tong Kaleng!’ Kalau pemain dadi dapat melakukan ini maka pemain mentas yang sudah disebut namanya setelah ketahuan persembunyiannya itu akan menjadi tawanan. Tetapi kalau pemain mentas tersebut justru berhasil mendahului pemain dadi sampai di lingkaran sasaran, lalu mengambil kaleng dan membuangnya jauh-jauh, maka bebaslah dia. Pemain mentas akan lari bersembunyi lagi, dan pemain dadi akan sibuk mencari kaleng yang dibuang untuk dikembalikan ke tengah lingkaran,” jawab Shanti memberi penjelasan.
”Seandainya hampir semua pemain mentas sudah jadi tawanan, tetapi masih ada yang bebas berkeliaran di luar, bagaimana caranya pemain yang bebas itu untuk membebaskan kawan-kawannya yang jadi tawanan?” tanya Mifta.
”Tidak dengan cara melempar kaleng dengan batu,  tetapi dengan cara mengambil dan membuang kaleng tersebut jauh-jauh. Namun melemparnya harus dari lingkaran sasaran. Tidak boleh misalnya kaleng itu dibawa dulu beberapa langkah dari lingkaran, baru kemudian dibuang,” ujar Shanti.
 ”Lalu kalau semua pemain mentas sudah jadi tawanan semua apakah permainan berakhir sampai di situ?”
”Benar. Akan tetapi kalau permainan dimulai lagi dari awal, pemain yang tadi menjadi pemain dadi, kali ini ia tidak usah ikut melempar, baik dari lingkaran sasaran ke garis tuju, maupun dari garis tuju ke kaleng yang menjadi sasaran, karena ia sudah dianggap menang. Tugasnya hanya tiggal ikut bersembunyi kalau sudah ada pemain lain yang berhasil mengeluarkan kaleng dari lingkaran. Kemudian ketika bersembunyi ia juga berhak ndhadhalkan. Tetapi nanti kalau babak ini sudah selesai lalu permainan dimulai lagi dari awal, ia harus melempar lagi seperti yang lain-lainnya. Begitulah, Pak, permainan dhelikan Tong Kaleng di desaku,” kata Shanti.
Aku mengangguk-anggukkan kepala.
”Jadi begitu ya permainan Tong Kaleng. Dolanan dhelikan memang pada prinsipnya sama, di satu pihak ada yang sembunyi, dan berusaha dapat ndhadhalkan atau membebaskan tawanan, serta menjadikan yang dadi tetap dadi terus. Di lain pihak ada yang dadi, yang selalu ingin menangkapi pemain mentas dijadikan tawanan, agar secepatnya bisa berganti menjadi pemain mentas. Tetapi di lain daerah, atau di lain wilayah, dan bahkan di lain desa punya cara, aturan dan nama sendiri-sendiri, mungkin sesuai kesepakatan yang dibuat sesuai situasi dan kondisi setempat. Sekarang kita bekerja lagi. Besok saja hari Jumat, hari olah raga, kita praktekan bermain Pa-Te-Kong dan Tong Kaleng. Bagaimana, setuju?” kataku kemudian.
”Setuju!” sahut anak-anak serentak. Kulihat mata mereka berbinar-binar. Dasar anak-anak bermain adalah kesukaan mereka.
”Jangan lupa hari Jumat kita pakai pakaian olah raga. Kita bermain bersama. Kalau ada waktu tidak hanya dhelikan yang akan kita praktekan tapi juga dolanan bocah yang lainnya, seperti lompat tali dengan segala variasinya, bekelan dan krempyang. Waktunya setiap hari Jumat selama kalian Prakerin di sini. Bagaimana, setuju?”
”Setuju, Pak, kami sangat suka sekali!” lagi-lagi teriak anak-anak gembira.
”Kalau begitu besok aku akan beli karet gelang yang banyak untuk kita ronce dijadikan tali untuk lompat tali,” kataku mengakhiri pembicaraan siang itu.
Dari luar masuk penduduk yang akan minta pelayanan legalisasi surat dan SKCK. Kami segera bersiap menempati meja kerja kami masing-masing. Di kantor aku memang ditugasi untuk membimbing anak-anak yang melakukan Prakerin di kantorku, jadi aku akrab dengan anak-anak sekolah yang melakukan Prakerin tersebut. ***

Related posts:

No response yet for "Cerita Anak Tema Dolanan Bocah Tradisional: DHELIKAN 3"

Post a Comment