Cerita Anak Dolanan Tradisional Tempo Dulu: BERMAIN ANAK-ANAKAN

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Bocah Tradisional Tempo Dulu:

BERMAIN ANAK-ANAKAN

Bulan puasa sudah datang. Satu bulan lagi hari lebaran tiba. Itu artinya anak-anak akan mendapat baju baru, sebagai ungkapan rasa syukur telah menunaikan ibadah puasa satu bulan penuh. Tetapi itu masih satu bulan lagi. Sekarang belum saatnya untuk bersenang-senang. Sekarang masih harus melalui ujian yang berat. Perang besar melawan hawa nafsu baru saja dimulai. Untuk mencapai kemenangan yang nantinya akan ditandai, antara lain dengan dikenakannya baju baru saat Sholat Iedul Fitri dan bersilaturahim ke kerabat dan sanak saudara, masih harus dilalui dengan kerja keras.
Namun demikian Anisa dan Zulfa sudah boleh merasa senang, karena hadiah kemenangan itu sudah menanti di hadapannya. Kemarin Ibu dan Ayah sudah pergi ke toko untuk membeli kain yang akan dijahitkan jadi baju lebaran satu keluarga. Hari ini rencananya akan dijahitkan ke Penjahit Selera langganan keluarganya.
Sore hari, setelah mandi dan Sholat Asar, Ayah dan Ibu, disertai Anisa dan Zulfa, berboncengan sepeda motor menuju ke Penjahit Selera. Anisa membonceng Ayah, Zulfa membonceng Ibu. Mereka sengaja menjahitkan pakaian pada awal bulan, karena kalau menjahitkan pada hari-hari sudah mendekati lebaran sering tidak bisa jadi pada hari lebaran. Maklum semua orang ingin memakai baju baru saat lebaran. Jadi ya kalau semua orang baru menjahitkan pakaian pada akhir bulan puasa, tentu penjahit tidak mampu. Oleh karena itu Ayah dan Ibu sengaja menjahitkan jauh-jauh hari sebelum lebaran tiba.
Setelah Ayah dan Ibu diukur badannya, kini tiba gilirannya Anisa dan Zulfa. Satu persatu tukang jahit menuliskan hasil pengukurannya ke dalam buku yang sudah digambari bentuk baju yang mereka pesan. Tukang jahit lalu memberi tanda pada kain yang mereka jahitkan, serta memotong sedikit kain untuk ditempelkan pada buku yang berisi gambar dan ukuran pesanan mereka. Baru kemudian penjahit memberikan nota pesanan mereka yang akan dipergunakan mengambil jahitan kalau sudah jadi kelak.
”Sudah selesai. Ayo kita pulang!” ajak Ayah kepada Anisa dan Zulfa. Ayah dan Ibu lalu bergegas keluar. Tapi yang diajak tidak segera mengikuti keluar. Dua-duanya masih duduk di dalam. Kelihatannya ada sesuatu yang masih mereka harapkan.
”Ayo pulang! Sudah selesai ngukurnya. Baju itu belum akan jadi sekarang, tapi masih beberapa hari lagi,” kata Ayah.
Zulfa dan Anisa tidak menjawab dan tidak mengikut. Mereka masih diam di tempat. Ayah dan Ibu jadi bingung. Mereka baru tahu setelah Anisa dan Zulfa berjalan mendekati tumpukan kain perca. Cuilan-cuilan kain sisa potongan pakaian itu teronggok begitu saja di sudut ruang.  
”Aku tahu sekarang kenapa kalian belum mau pulang. Kalian menginginkan kain-kain perca itu kan?” tanya Ibu kemudian.
”Iya, Bu. Tolong aku dimintakan kain-kain perca itu untuk bikin anak-anakan,” pinta Anisa.
”Aku juga, Bu. Aku juga ingin bermain anak-anakan,” Zulfa, adiknya tak mau kalah.
”Ya sudah, kalian tenang saja. Aku akan mintakan pada penjahitnya,” Ibu menyanggupi.
Ibu lalu mendekati Bu Maryati pemilik Penjahit Selera. Bu Maryati sudah mendengar sendiri apa yang diminta Anisa dan Zulfa. Oleh karena itu sebelum Ibu meminta, pemilik Penjahit Selera itu sudah berkata, ”Ambil saja, Bu, berapa anak ibu suka. Itu hanya cuilan-cuilan kain kecil-kecil sudah tidak terpakai. Silakan anak-anak ambil, pilih yang masih bisa digunakan.”
”Terimakasih, Bu. Anak-anak memang suka bermain anak-anakan. Setiap kali ke mari mesti minta kain perca kepada Bu Maryati,” balas Ibu.
”Tidak apa-apa. Bagi kami kain-kain itu sudah tidak terpakai. Tetapi bagi anak-anak yang kreatif seperti anak Ibu, kain itu masih bisa dipakai untuk bermain. Bagus itu, Bu,” kata Bu Maryati. Lalu kepada Anisa dan Zulfa Bu Maryati berkata, ”Anak-anak, silakan ambil kain-kain itu seberapa banyak kalian butuhkan.”
”Terima kasih, Bu,” kata Anisa dan Zulfa. Anak-anak itu lalu memilih-milih kain perca yang bagus-bagus untuk bermain anak-anakan. Ada kain bermotif kembang-kembang warna pink, ada kain bermotif bulatan-bulatan warna warni, ada pula kain batik dan kain seperti selimut yang tebal dan empuk.
”Sudah, Bu, ini saja sudah cukup,” ujar Anisa.
”Anisa sudah cukup. Lalu kamu Zulfa, apakah juga sudah cukup?” tanya Ibu kepada putri bungsunya.
”Cukup, Bu. Ini sudah banyak,” jawab Zulfa.
”Kalau begitu ucapkan terima kasih kepada Bu Maryati!” ujar Ibu kepada putri-putrinya.
”Terima kasih Bu Maryati, atas pemberian kain-kain percanya,” kata Anisa.
”Saya juga mengucapkan terima kasih, Bu Maryati,” sambung Zulfa.
”Baik. Kalau kalian masih memerlukan silakan datang ke mari untuk mengambil lagi. Rumah jahit ini terbuka bagi kalian anak-anak manis dan kreatif,” balas Bu Maryati.
Anisa dan Zulfa setelah berpamitan kepada Bu Maryati lalu mengikuti Ayah dan Ibunya pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, sudah tidak sabar lagi anak-anak itu ingin segera membuat boneka dari kain perca yang tadi diperolehnya dari Penjahit Selera. Anisa dan Zulfa mencari kardus untuk dijadikan rumah-rumahannya. Mereka mendapatkan kardus bekas pembungkus roti yang bagian atasnya sebagian ditutup dengan plastik kaca transparan.
Anisa dan Zulfa lalu bekerja sama membuat  kamar-kamar dalam kardus bekas tempat roti itu. Mula-mula disekatnya bagian depan dengan lidi. Yang ini dianggapnya sebagai teras. Lalu dibuat kamar-kamar dengan pembatas sekat dari batang lidi. Ada kamar tamu, kamar belajar, kamar makan, kamar tidur, dapur dan kamar mandi serta WC. Kamar tamu dibiarkan kosong tidak ada apa-apa, kamar belajar ditandai dengan adanya karet penghapus yang dianggap sebagai meja belajar. Kamar makan ditandai dengan sebuah kotak kayu. Kotak ini dianggap sebagai meja makannya. Kemudian mereka meletakkan kotak korek api pada kamar tidur. Dan seterusnya. Pokoknya setiap kamar ditandai dengan meletakkan satu benda berbentuk kotak yang dibungkus dengan kain perca yang berbeda-beda. Terlebih pada kamar tidur, selain dibungkus kain perca masih ditambah satu kain yang cukup tebal dan hangat sebagai spreinya.
Setelah membuat rumah-rumahan dan perabotnya, ternyata waktu Shalat Maghrib sudah tiba. Adzan Maghrib berkumandang. Anak-anak menyimpan dulu mainannya. Mereka berbuka puasa, lalu pergi ke Masjid untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah, dilanjutkan mengaji sampai datang waktu Isya.  Kemudian mereka berjamaah Shalat Isya dan taraweh. Baru kemudian mereka pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, tidak sabar lagi mereka ingin segera melanjutkan membuat anak-anakan. Mereka mengambil lagi kardus bekas tempat roti yang mereka jadikan rumah-rumahan sekaligus akan dijadikan tempat menyimpan boneka anak-anakan buatan mereka. Anisa dan Zulfa memotong kain perca miliknya menyerupai pakaian dalam bentuknya yang paling sederhana. Yang penting ada dua lengan, di tengahnya dilubangi untuk menyembulkan bagian kepala anak-anakan, dan di bagian bawah dibuat panjang untuk badan dan kaki. Mereka lalu membuat badan orang-orangan dari lidi. Dua potong lidi yang satu panjang, yang satunya lagi agak pendek, mereka satukan dengan benang jahit sebagai tali. Lidi yang pendek diletakkan melintang pada lidi yang panjang, tidak pas di tengah tetapi agak ke atas. Ujung lidi yang panjang dibungkus kain perca, dibuat bulatan tidak usah terlalu besar, tetapi cukup dapat diangankan sebagai bagian kepala anak-anakan.
Mereka membuat beberapa boneka anak-anakan yang mereka anggap sebagai ayah, ibu dan dua orang anaknya. Anak-anak mengenakan pakaian dari kain perca yang berbentuk ndhol-ndhol (lingkaran) berwarna-warni, Ibu mengenakan pakaian dari kain bermotif bunga-bunga warna pink, sedangkan Ayah mengenakan kain dari perca batik dengan warna coklat-hitam. Selesai membuat boneka anak-anakan dan rumah-rumahannya ternyata hari sudah malam.
”Anisa! Zulfa! Hari sudah malam, sudah waktunya kalian pergi tidur. Besok kalian puasa kan? Tidurlah lebih awal, biar nanti malam bisa bangun untuk makan sahur! Sekarang mainannya disimpan dulu. Besok kan hari libur, mainnya bisa dilanjutkan besok. Sekarang cuci tangan dan kaki dulu lalu segera tidur,” perintah Ibu.
Anak-anak yang penurut itu segera mematuhi perintah ibunya. Mereka cuci tangan dan kaki, lalu pergi tidur, setelah sebelumnya menyimpan dulu mainannya di atas meja belajarnya yang tidak begitu tinggi.
Esoknya setelah mandi dan ganti pakaian, tidak sabar lagi mereka ingin segera bermain anak-anakan. Mereka ambil kardus yang dijadikan rumah-rumahan, yang juga mereka pergunakan untuk menyimpan boneka anak-anakan.
Anisa dan Zulfa memainkan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, satu kakak bernama Rina dan satu adik bernama Sonia. Sesuai kesepakatan antara kakak dan adik itu, Anisa memerankan Ibu merangkap Rina, sedangkan Zulfa memerankan Ayah merangkap Sonia. Ceritanya Ibu sedang pergi ke pasar bersama Ayah. Kakak diminta menjagai Adik tinggal di rumah.
”Ibu mau ke Pasar bersama Ayah. Rina tinggal di rumah menjagai Dik Sonia, ya? Baik-baik momong Adik, jangan dinakali!” pesan Ibu kepada Rina. Begitu kata Anisa mewakili boneka Ibu, sambil mengangkat dan menggerak-gerakkan boneka Ibu. Kemudian Anisa ganti menggerak-gerakkan boneka Rina seolah-olah Rina sedang berkata menjawab pesan Ibu.
”Ibu tidak perlu khawatir. Saya akan menjaga Adik baik-baik,” kata Anisa pula mewakili boneka Rina dengan mengecilkan suaranya.
Sekarang ganti Zulfa memainkan boneka Ayah yang tadi ia letakkan di kamar makan. Ceritanya Ayah makan dulu sebelum pergi ke pasar agar di pasar nanti Ayah dan Ibu tidak perlu jajan, cukup beli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Ayah mendekati Ibu.
”Ayo, Bu, kita berangkat, mumpung masih pagi. Adik biar ditunggui Rina,” kata boneka Ayah lewat suara Zulfa yang volumenya dibesarkan.
”Ayah dan Ibu pergi dulu, Rina. Assalamu’alaikum,” pamit Ayah dan Ibu lewat suara nisa dan Zulfa bersama-sama, sambil menggerak-gerakkan boneka Ayan dan Ibu.
”Baik, Ayah, Ibu. Wa’alaikum salam Waroh matullohi wa barokatuh,” balas Anisa mewakili suara boneka Rina.
Ayah dan Ibu lalu berboncengan pergi ke pasar. Boneka Ayah dan Ibu dijalankan tangan Zulfa dan tangan Anisa keluar rumah-rumahan, terus berjalan menjauh dari rumah-rumahan, lalu diletakkan di luar rumah-rumahan. Ceritanya mereka sudah sampai di pasar.
Kemudian Zulfa mengambil boneka Sonia yang tadi diletakkan di kamar tidur. Ceritanya Sonia baru bangun tidur. Ia mencari ibu. Sonia ini anak yang manja yang ingin selalu dekat dengan Ibu.
”Mana Ibu? Aku mau ikut Ibu.....,” kata Zulfa mewakili suara Sonia.
”Ibu ke pasar. Adik di rumah saja sama Kakak. Kita bermain bersama,” kata  Anisa mewakili suara Kak Rina.
”Ibu ke pasar, Sonia kok tidak diajak? Ibu nakal ninggalin Sonia!” Sonia mulai merajuk lewat suara Zulfa.
”Tadi Ibu dan Ayah mau berangkat ke pasar, Adik masih tidur. Ibu takut mbangunin Adik. Jadi Adik ditinggal saja di rumah dijagai Kakak,” ujar Anisa mewakili suara boneka Rina.
”Ayo Kak kita nyusul Ibu ke pasar. Aku ingin dibelikan makanan dan mainan yang banyak. Aku tak mau tinggal di rumah,” kata Zulfa memerankan tokoh Adik Sonia sambil menggerak-gerakkan boneka yang dianggapnya Adik.
”Jangan, Dik! Pasar itu jauh. Banyak kendaraan di jalan. Berbahaya kalau kita yang masih kecil ini menyusul Ibu dan Ayah ke pasar. Kita di sini saja bermain sambil menunggu Ayah Ibu kita pulang,” jawab Anisa juga sambil menggerak-gerakkan boneka yang dianggpnya sebagai Kakak.
Adik lalu menangis. Ia terus minta diantarkan ke pasar menyusul Ayah dan Ibunya. Dengan sabar Kakak lalu menghibur adiknya, ”Jangan menangis, Dik! Kita tunggu saja di sini. Sebentar lagi Ayah dan Ibu pulang dengan membawa oleh-oleh. Sekarang baiknya kita bernyanyi saja ya? Ini Kakak mau menyanyikan lagu khusus untuk Adik. Lagunya Tak Lela, Lela-lela Ledung,” kata Anisa memerankan tokoh Kakak.
Kemudian Anisa yang memerankan tokoh Kakak mulai menyanyikan lagu  ”Tak Lela, Lela-lela Ledung” yang syairnya sebagai berikut:

Tak lela, lela-lela ledung
Cup menenga aja pijer nangis
Adikku sing ayu rupane
Nek nangis ndak ilang ayune

Tak gadang bisa urip mulya
Dadiya wanita utama
Ngluhurke asmane wong tuwa
Dadiya pendekaring bangsa

Cup menenga adikku
Kae bulane ndadari
Kaya ndhas buto nggilani
Lagi nggoleki cah nangis

Tak lela, lela-lela ledung
Cup menenga adikku cah ayu
Tak emban slendang batik kawung
Yen nangis mundak gawe bingung

Tapi ternyata sudah ditembangkan begitu Adik tetap saja menangis mencari ibunya. Kakak jadi bingung.
”Tidak mau! Tidak mau Adik ditinggal di rumah! Adik mau ikut Ibu ke pasar! Adik mau beli jajan dan mainan yang banyak. Ayo Kak, kita nyusul Ibu ke pasar!” rengek Zulfa mewakili suara Adik sambil menggerak-gerakkan boneka Sonia.
Anisa menggerak-gerakkan boneka Rina berjalan mindar-mandir di teras. Sang Kakak ini sedang bingung menanggapi rewelnya Sonia, adiknya.
”Bagaimana ini Adik kok terus nangis saja? Sudah dibilangi nanti Ibu pulang dari pasar bawa oleh-oleh Adik kok masih juga nangis,” kata Anisa mewakili suara boneka Rina kebingungan. Boneka Sonia pun digoyang-goyang Zulfa seolah-olah Adik sedang ngambek.
”Ya sudah, kalau begitu Kakak akan nyanyi satu tembang lagi, biar Adik terhibur,” kata Anisa mewakili boneka Kakak. Kemudian ia nyanyi lagu ”Oh Adikku” yang syair lagunya seperti di bawah ini:

OH ADIKKU

Oh adikku, kekasihku
Aja pijer nangis wae
Ayo dolan karo aku
Ana ngisor uwit manggis
Dhelo maneh Ibu rawuh
Ngasto oleh-oleh
Gedang goreng karo roti
Mengko diparingi

Beberapa saat kemudian tangan Anisa yang satu memainkan boneka Ibu, sedangkan boneka Ayah dimainkan tangan Zulfa yang satunya lagi. Ceritanya Ayah dan Ibu pulang dari pasar. Dua boneka Ayah dan Ibu dipegangi Anisa dan Zulfa beriringan depan belakang, dari jauh berjalan mendekat, lalu berhenti di depan rumah-rumahan.
”Adik, lihat itu siapa yang datang!” teriak Anisa mewakili suara boneka Rina kepada boneka Sonia.
”Ayah dan Ibu datang! Ayah dan Ibu pulang dari pasar! Mereka tentu bawa oleh-oleh!” teriak Zulfa gembira mewakili suara boneka Sonia.
Anisa dan Zulfa membawa boneka Ayah dan Ibu masuk ke teras rumah.
”Ini oleh-olehnya. Tidak usah berebut, semua kebagian,” kata Anisa seolah-olah Ibu sedang memberikan bungkusan oleh-oleh kepada anak-anaknya. Anisa dan Zulfa pun membawa boneka Rina dan boneka Sonia mendekat, seolah-olah mereka sedang menerima oleh-oleh pemberian Ibu.
”Apa kataku, Dik, kita tidak perlu ikut Ibu. Kita di rumah saja, Ayah-Ibu tentu sudah memikirkan kita. Buktinya sekarang kita dibawakan oleh-oleh dan mainan yang banyak,” kata Anisa mewakili boneka Rina kepada adiknya.
”Iya ya, Kak. Kita tidak perlu capek-capek ikut pergi ke pasar, cukup tinggal di rumah. Bahkan di rumah kita dapat bermain bersama. Ee... pulangnya Ibu sudah belikan oleh-oleh dan mainan buat kita,” balas Zulfa mewakili boneka Sonia.
”Coba kalau Adik ikut. Pasar itu luas. Motor tidak boleh masuk. Tentu Adik akan capek mengikuti Ibu berjalan ke sana ke mari beli belanjaan. Akhirnya Adik akan merepotkan Ayah yang mengantarkan Ibu berbelanja,” tambah Anisa mewakili suara boneka Rina.
”Kalau sampai begitu, terpaksa Ayah harus menyanyikan lagu ’Dhondhong Apa Salak’ untuk menghibur Sonia yang menangis karena capek berjalan,” sahut Ayah lewat suara Zulfa yang dibesarkan volumenya.
”Dhondhong Apa Salak, bagaimana lagunya, Yah? Mbok coba Ayah menyanyikan buat Sonia!” pinta Sonia lewat suara Zulfa yang sekarang volumenya dikecilkan sambil menggerak-gerakkan boneka Sonia.
”Dengarkan baik-baik, ya! Ayah mau menyanyikan lagu Dhondhong Apa Salak,” ujar Ayah lewat suara Zulfa yang volumenya kembali dibesarkan, sambil menggerak-gerakkan boneka Ayah. Adapun syair lagu Dhondhong Apa Salak itu adalah sebagai berikut:

DHONDHONG APA SALAK

Dhondhong apa salak, dhuku cilik-cilik
Gendhong apa mundhak, mlaku thimik-thimik
Adik ndherek ibu tindak menyang pasar
Ora pareng rewel ora pareng nakal
Mengko ibu mesthi mundhut oleh-oleh
Kacang karo roti adik diparingi

”Bagus sekali lagunya, Yah. Tapi Adik malu kalau ikut ke pasar pada akhirnya harus merepotkan Ayah dan Ibu, harus minta gendong atau dinaikkan di atas bahu. Kasihan, Sonia kan gendut, jadi Ayah akan merasa berat,” ujar Zulfa mewakili suara boneka Sonia.
”Makanya, kalau Ayah dan Ibu ke pasar, Adik tidak usah ikut. Adik cukup bermain di rumah bersama Kakak. Nanti kalau Ayah-Ibu pulang sudah tentu akan membawakan oleh-oleh buat Adik,” kata boneka Rina lewat suara Anisa.
”Tadi Ibu ke pasar, Adik nangis tidak?” tanya boneka Ibu lewat suara Anisa, sambil menggoyang-goyangkan boneka Ibu.
”Nangis, Bu! Sampai Rina jadi bingung. Untung setelah saya nyanyikan beberapa lagu yang diajarkan Ibu, Adik mau diam, tidak menangis lagi. Kami lalu bermain bersama,” sahut Rina lewat suara Anisa pula.
”Jangan ceritakan, Kak! Adik jadi malu,” ujar boneka Sonia lewat suara Zulfa.
”Nah, kalau Adik malu, lain kali kalau ditinggal di rumah, sudah ada Kakak yang menjagai, Sonia tidak boleh nangis lagi, ya?” tanya boneka Ibu lewat suara Anisa.
”Iya, Bu. Sekarang Sonia akan tinggal di rumah bermain bersama Kak Rina. Sonia sudah besar, tidak akan ikut Ibu ke pasar lagi,” janji boneka Sonia lewat suara Zulfa.
”Ya sudah. Sekarang dilanjutkan makan oleh-olehnya. Setelah itu Sholat Dhuhur lalu tidur siang,” kata Ibu lewat suara Anisa.
Anisa lalu membawa boneka Ibu masuk ke dapur. Zulfa membawa boneka Ayah juga masuk ke rumah-rumahan tetapi ke kamar makan. Ceritanya karena di pasar tadi Ayah tidak jajan maka sekarang makan oleh-oleh di rumah. Sedangkan boneka Rina dan boneka Sonia dibawa Anisa dan Zulfa masuk ke kamar mandi, lalu dibaringkan di kamar tidur.
”Sudah selesai ceritanya. Ayo kita simpan dulu boneka-bonekanya. Besok kita mainkan lagi,” ajak Anisa kepada Zulfa.
”Ya, mari, Kak Anisa, Zulfa juga sudah capek main anak-anakan,” balas Zulfa.
Anisa dan Zulfa lalu mengemasi mainannya. Kardus rumah-rumahan itu lalu ditutup, kemudian disimpan di dalam almari. ***  

Related posts:

No response yet for "Cerita Anak Dolanan Tradisional Tempo Dulu: BERMAIN ANAK-ANAKAN"

Post a Comment