Cerita Anak Tema Dolanan Tradisional: DHELIKAN 2

Cerita Anak Tema Dolanan Tradisional:

DHELIKAN 2

Kawan-kawanku anak-anak usia sekitar 10 – 13 tahun berjumlah 8 orang bermaksud bermain dhelikan di halaman samping kanan rumah Bu Komis. Sebelum permainan dimulai mereka membuat kesepakatan: persembunyian hanya di sekitar pekarangan rumah Bu Komis, Mbah Suro, Mbah Joyo, dan Mas Temu. Tidak boleh bersembunyi di dalam rumah atau bagian dari rumah dan di sungai yang ada di pinggir halaman itu. Di luar yang sudah ditentukan kalau ketahuan tidak boleh ikut melanjutkan permainan.
Setelah aturan disepakati anak-anak lalu melakukan undian dengan hompilah hompimpah dilanjutkan suit Jah-ndho-jleng untuk menentukan siapa pemain yang dadi dan siapa-siapa pemain yang mentas. Hasil akhir undian adalah Suradi sebagai pemain yang dadi. Ia harus menyusun wingka-wingka yang jumlahnya tidak ditentukan menumpuk ke atas. Kemudian pada jarak sekitar 3 meter salah seorang membuat lingkaran berdiameter 30 Cm. Lingkaran itu merupakan titik tuju, tempat pemain mentas menujukan gaco ke tumpukan wingka. Juga sebagai tempat menaruh gaco.
Setelah semua siap, anak-anak berbaris. Yang paling depan, yaitu Darto, berada di titik tuju. Baris di belakangnya Tukiran, lalu Sidu, baru kemudian Sarmadi, Jono, Yayuk, dan Yani. Biasanya anak-anak berebutan menempati urutan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya mulai dari depan. Keuntungan berada di urutan pertama dan berturut-turut di belakangnya, ia mempunyai kesempatan melempar terlebih dahulu. Ada kemungkinan ia yang akan mengenai tumpukan wingka sehingga roboh. Ini merupakan kebanggaan tersendiri. Ia akan dijuluki anak yang titis atau jitu. Sedang yang ada di urutan belakang, lebih banyak kemungkinan ia hanya akan ikut-ikutan berlari sembunyi tetapi tidak pernah melempar gaco, karena tumpukan wingka sudah terlebih dahulu dirobohkan pemain mentas yang ada di depannya. Tetapi kerugiannya bagi pemain yang ada di urutan pertama, kalau semua pemain mentas ternyata tidak satu orangpun yang berhasil merobohkan tumpukan wingka, ia harus menggantikan mejadi pemain yang dadi.
Satu persatu pemain mentas melemparkan gaco berupa  sebuah batu pipih seukuran genggaman tangan anak-anak yang bermain, ke arah tumpukan wingka. Darto melemparkan gaco terlebih dahulu, ternyata meleset. Lalu ganti Tukiran. Ternyata lemparannya tidak kena juga. Maka sekarang ganti Sidu yang mendapat giliran melempar. Anak ini dalam urusan lempar-melempar atau menujukan sesuatu benda ke benda lain, sudah dikenal sebagai anak yang titis atau jitu.
Benar juga! Begitu batu pipih melesat dari tangan Sidu, langsung mengenai sasaran, dan berhamburanlah wingka-wingka itu. Begitu mengetahui tumpukan wingka sudah roboh berhamburan, langsung saja semua pemain mentas lari bersembunyi. Suradi selaku pemain dadi cepat-cepat mengambili wingka-wingka yang berserakan lalu menyusunnya menumpuk ke atas lagi. Setelah itu ia menaruh gaco di lingkaran tuju. Langkah selanjutnya ia harus dapat menemukan tempat persembunyian para pemain mentas.
Suradi sempat melirik arah lari kawan-kawannya ketika sedang menata wingka tadi. Ia ingat Yayuk tadi lari ke arah belakang rumah Mbah Joyo. Suradi lalu lari ke arah sana untuk mengejar Yayuk. Benar juga, terlihat yayuk memakai baju kembang-kembang warna pink di pojok rumah Mbah Joyo. Kebetulan saat itu Yayuk juga sedang mengintip ke arah halaman rumah Bu Komis. Pandangan mata Suradi bertemu dengan pandangan mata Yayuk. Langsung saja Suradi berteriak, ”Cik Yayuk di belakang rumah Mbah Joyo!”
Suradi lalu lari menuju ke titik tuju untuk menginjak gaco sebagai tanda sahnya menawan Yayuk. Yang di-cik tak mau ketinggalan. Yayuk berlari kencang bermaksud mendahului Suradi untuk dapat menginjak gaco, membatalkan penunjukannya. Kalau bisa bahkan untuk ndhadhalkan permainan pada babak ini. Tapi dasar Yayuk seorang perempuan dan ia posisinya ada di belakang tentu saja ia tidak bakalan menang adu lari dengan Suradi.
Namun ternyata Yayuk tidak perlu takut akan menjadi pemain dadi, karena tiba-tiba saja dari balik pohon munggur yang dekat dengan titik tuju sudah muncul Jono, langsung berlari ke titik tuju. Sebelum Suradi sampai di tempat itu, Jono sudah lebih dulu sampai. Kakinya menginjak gaco sambil berteriak seru, “Jethungan! Jethungan! Jethungan!”
Mendengar teriakan itu, semua anak yang bersembunyi langsung keluar berlari ke arah Jono. Anak-anak lalu berbaris di belakang pemain yang sudah berhasil ndhadhalkan tadi. Sarmadi berada di urutan ketiga. Jono langsung memegang batu gaco. Ditimang-timangnya batu pipih itu di tangan kanannya. 
Suradi lalu kembali menempatkan diri di belakang tumpukan wingka. Setelah semua siap, Jono lalu melemparkan gaco menuju ke tumpukan wingka. Tapi lemparannya meleset. Suradi lalu mengambil batu gaco dan melemparkan kembali ke dekat titik tuju. Yayuk yang ada di urutan kedua mengambil batu gaco lalu melemparkannya ke arah tumpukan wingka. Lemparan Yayuk pun meleset. Kembali Suradi mengambil dan melemparkannya kembali ke arah dekat titik tuju. Sarmadi lalu mengambilnya. Sebelum melemparkan ke arah tumpukan wingka Sarmadi sempat berpikir ke mana dirinya mesti lari bersembunyi seandainya lemparannya nanti kena. Mengelilingi rumah Bu Komis. Ya di samping kiri rumah Bu Komis di sana ada pohon jambu yang cukup besar. Ia berangan-angan bisa mengintip situasi sekitar titik tuju dari sana.  Larinya nanti lewat belakang rumah Bu Komis, melingkar lewat kiri rumah, lalu bersembunyi di balik batang pohon jambu sambil mengintip dan memperhitungkan situasi. Lalu nanti bersijingkat menuju ke teras rumah yang tidak berpagar depan. Dari situ ia akan dapat mengintip, mencari kesempatan untuk ndhadhalkan.
”Ayo segera lempar! Kok malah melamun!” teriak Suradi sudah tak sabar. Ternyata Suradi sudah bersiap sejak dari tadi.
Geragapan Sarmadi mendengar teriakan Suradi. Ia jadi malu. Ia segera memperbaiki sikap. Konsentrasi penuh. Pandangannya lurus ke depan tertuju ke tumpukan wingka. Ia memperhitungkan antara jarak lempar dan kekuatan lempar. Setelah ia senter dalam pikirannya, antara batu gaco yang terayun di tangannya dengan tumpukan wingka yang ada di depannya, batu gaco itu pun ia lemparkan dengan perkiraan yang tepat.
”Pyuuuurrr!” batu gaco mengenai tumpukan wingka dengan jitu. Tumpukan wingka pun roboh berhamburan. Sarmadi segera berlari ke arah belakang rumah Bu Komis. Sesuai rencana Sarmadi segera berjalan melingkar menuju ke belakang batang pohon jambu.
Sementara itu terdengar Suradi sudah nge-cik Yayuk, Yani dan Sidu. Sudah tiga orang anak yang menjadi tawanan. Jadi masih ada Sarmadi, Darto, Tukiran dan Jono yang bebas. Dari balik batang pohon jambu Sarmadi melihat Suradi menjenguk ke arah teras rumah Bu Komis. Setelah tahu teras itu kosong Suradi segera berlari ke arah barat, menengok belakang batang pohon munggur di pinggir sungai. Kesempatan itu digunakan Sarmadi untuk menyusup ke teras Bu Komis. Pikirnya, teras ini sudah dijenguk kosong, maka Suradi tentu akan mengira teras ini masih kosong dan ia akan mengejar buruannya ke tempat lain. Benar juga. Begitu Sarmadi sampai di teras rumah Bu Komis, Suradi sudah berlari ke arah utara ke pekarangan Mbah Joyo dan belakang rumah Mas Temu. Sarmadi lalu mengintip dari pagar samping teras rumah Bu Komis.
Ketika melihat muka Sarmadi yang mengintip dari balik pagar teras, Sidu segera memberi isyarat kalau keadaan aman. Sarmadi segera meloncat keluar. Secepatnya ia berlari ke arah titik tuju. Dari belakang rumah Mbah Joyo, Suradi melihat kemunculan Sarmadi. Ia lalu berteriak, ”Cik Sarmadi!” sambil berlari menuju titik tuju. Tapi ternyata Sarmadi lebih siap dan jaraknya pun lebih dekat. Maka Sarmadi segera mencapai titik tuju. Batu gaco segera diinjak sambil berteriak, ”Jethungan! Jethungan! Jethungan.....!”
Sidu segera menempatkan diri di belakang Sarmadi. Demikian juga dengan Yayuk dan Yani. Kemudian anak-anak lain segera bermunculan lalu menempatkan diri baris di belakang Yani.
Lemah lunglai Suradi menempatkan diri di belakang tumpukan wingka seperti tadi. Sarmadi  pun segera mengambil gaco, lalu melemparkannya ke arah tumpukan wingka. Sayang sekali, ternyata lemparannya meleset. Namun ia tetap berharap, nanti akan ada temannya yang bisa merobohkan tumpukan wingka itu. Kini giliran Sidu melemparkan gaco. Setelah menerima kembali gaco yang dilemparkan Suradi, Sidu lalu melemparkan gaco tersebut ke arah tumpukan wingka. Sebelumnya anak-anak lain, termasuk Sarmadi yang sudah meleset lemparannya, sudah bersiap-siap untuk lari, karena yakin pada ketitisan lemparan Sidu yang sudah berkali-kali terbukti. Benar juga, kali ini pun lemparan Sidu tidak meleset. Batu pipih itu cukup keras menghantam tumpukan wingka tepat di bagian paling bawah, ”Pyuuurrr....!” Wingka-wingka pecahan genting semakin hancur berhamburan. Anak-anak segera lari bersembunyi.
Dengan kesal Suradi menyusun kembali wingka-wingka yang semakin menjadi serpihan-serpihan kecil. Karena gugup dan salah letak berkali-kali tumpukan wingka yang sudah tersusun roboh lagi. Suradi lalu membuangi serpihan-serpihan wingka yang kecil-kecil. Barulah kemudian tumpukan wingka dapat tersusun berdiri ke atas. Tapi nampaknya Suradi sudah lelah dan berputus asa untuk dapat menemukan kawan-kawannya seluruhnya tanpa didhadhalkan kawan-kawannya yang lain. Makanya kali ini ia tidak mau mencari yang sedang sembunyi jauh-jauh. Sambil istirahat ia hanya lihat utara, lihat selatan; kemudian ganti lihat barat, lihat timur, tetapi posisi tetap berada di sekitar titik tuju. Ia tak mau ada kawan-kawannya yang mendahului menginjak batu gaco untuk ndhadhalkan.
Teman-teman yang bersembunyi tahu kalau Suradi hanya mondar-mandir di sekitar titik tuju, tak pernah keluar dari halaman Bu Komis. Mereka jadi kesal. ”Kalau begini caranya, permainan tidak akan pernah selesai,” pikir mereka, ”Suradi urik (curang). Ia tunggu brok!”
”Yo kita keluar bersama! Permainan kita bubarkan saja,” ajak Sidu kepada Darto.
”Kenapa?” tanya Darto.
”Lihat itu! Sejak tadi Suradi hanya mondar-mandir tengak-tengok di sekitar titik tuju saja. Ia tidak pernah mau mencari kita di tempat persembunyian. Kalau kita berdiam diri saja di tempat persembunyian, dan Suradi hanya tunggu brok di sekitar titik tuju, kapan permainan ini akan berakhir?” tanya Sidu.
”Iya ya. Kalau begitu kita bubarkan saja permainan ini. Aku juga sudah lelah kok,” Darto setuju.
Sidu lalu menyelinap ke tempat lain untuk menemui Sarmadi di tempat persembunyiannya. Ia pun mengajak keluar untuk membubarkan permainan yang sudah mulai membosankan karena yang dadi tunggu brok. Ternyata Sarmadi sependapat. Sementara itu Darto pun telah menyelinap ke tempat persmbunyian Yayuk. Yayuk juga tidak keberatan diajak keluar untuk membubarkan permainan yang telah menjadi statis, kurang greget, sehingga kurang ramai.
”Bubar! Bubar! Bubar....Suradi tunggu brok. Ingkung bakarane, kungkung sak bubare! Ayo kita bubaran saja! Permainan sudah tidak menarik lagi,” teriak Sidu sambil keluar dari persembunyiannya. Anak-anak yang lainnya juga ikut keluar.
”Kenapa bubar?” tanya Jono yang keluar belakangan. Rupanya tempat persembunyiannya paling jauh. Ia bersembunyi di tengah kebun Mbah Suro sehingga ia tidak dapat mengetahui situasi di sekitar titik tuju. Mungkin karena sudah lelah ia bermaksud bersembunyi sampai ada temannya yang ndhandhalkan atau sampai permainan diakhiri. Ia tidak berminat adu lari untuk ndhadhalkan permainan.
”Suradi sebagai yang tunggu tidak mau mencari kita. Ia hanya tunggu brok. Tak ada gunanya kita bersembunyi jauh-jauh. Jadi ya lebih baik permainan ini kita akhiri saja,” jawab Sidu.
”Benar begitu, Suradi?” tanya Jono kepada Suradi.
“Habisnya jumlah kita yang ikut main kebanyakan. Yang satu di-cik, yang lain ndhadhalkan! Yang lain di-cik, yang lainnya lagi ndhadhalkan! Mana bisa ada pergantian pemain? Ya sudah, daripada susah-susah mencari dan nge-cik yang sembunyi, yang nantinya tak urung juga akan didhadhalkan yang lainnya, lebih baik aku tunggu di sini saja. Kuat-kuatan! Kuat mana, yang menunggu di sini di tempat yang nyaman, atau kuat yang sembunyi di tempat yang sempit?” jawab Suradi seakan tidak merasa bersalah.
“Kalau begitu caranya, laon kali kamu tidak boleh ikut main dhelikan lagi. Kamu telah urik (curang)!” kata Sarmadi.
“Sekarang kita telah lelah. Lebih baik kita bubaran saja dulu. Aku ingin lain kali aku masih tetap ikut bermain dhelikan. Aku tidak akan berbuat curang lagi. Tapi aku minta jumlah pemainnya jangan banyak-banyak, agar lebih mudah menangkap pemain mentas semuanya,” permintaan dan usul Suradi.
”Usulmu bisa aku terima. Bagaimana dengan teman-teman yang lainnya?” tanya Sarmadi kemudian.
”Ya aku setuju!” jawab yang lain-lainnya.
”Kalau begitu mari kita bubaran dulu!” ajak Sarmadi.
Anak-anak lalu bubaran, pulang ke rumah masing-masing. ***

Related posts:

No response yet for "Cerita Anak Tema Dolanan Tradisional: DHELIKAN 2"

Post a Comment