Cerita Anak Tema Dolanan Tradisional: DHELIKAN 1

Cerita Anak Tema Dolanan Tradisional:

 DHELIKAN 1
Oleh: Sutardi MS Dihardjo


Aku ingin membuat tulisan tentang permainan “dhelikan” sebagai salah satu dolanan bocah tradisional yang paling banyak dikenal dan dimainkan anak-anak tempo dulu, tetapi aku lupa apa saja namanya, meskipun aku ingat bagaimana cara dan aturan permainannya. Jadi, dari mana aku harus memulainya? Padahal aku tahu dolanan ini banyak dimainkan anak-anak sepanjang jaman. Anak-anak sejak dari balita yang belum dapat bicara dan berjalan, sampai anak-anak remaja menjelang dewasa tentu sudah mengenal permainan ini.
Kita masih ingat ketika kita menggoda anak-anak yang masih dalam gendongan ibunya. Sambil mencubit atau menyentuh dari belakang anggota tubuh anak yang kita goda kita mengucap, “Cilub......” Lalu kita bersembunyi. Kemudian ketika kita tahu  kalau balita dalam gendongan ibunya mencari-cari kita, dengan tiba-tiba kita meperlihatkan diri sambil membentak mengagetkan, “Ba!”  Begitu berulang-ulang, hingga balita yang semula terkejut mendengar bentakan “Ba!” berubah menjadi tertawa-tawa gembira. Bahkan ada kalanya terbawa mimpi dalam tidurnya. Tapi anehnya dalam tidur canda tawa ria itu berubah jadi tangisan.
Ada banyak cara, aturan dan nama permainan “dhelikan” yang kita kenal, yang bisa jadi antara daerah yang satu dengan daerah yang lain meskipun masih dalam satu kabupaten sudah agak berbeda atau bervariasi, meskipun pada prinsipnya tetap sama. Prinsip pokok dalam permainan “dhelikan” adalah adanya dua pihak yang berseberangan. Yang satu ngumpet bersembunyi, yang satunya mencari untuk menangkapnya. Variasinya ada pada cara menangkap tawanan, aturan membebaskan tawanan, dan alat yang digunakan sebagai tanda mulai ngumpet atau menyatakan sah menangkap, sah membebaskan tawanan atau ndhadhalkan (membobol pertahanan).
Aku dulu mengenal nama-nama Jethungan, Apolo, Ganefo, Pak-E-Pong, Petak Umpet, dan lain-lain yang semuanya itu termasuk dalam dolanan “dhelikan” dengan segala variasinya. Tetapi sekarang aku lupa yang mana Apolo, yang mana Ganefo, yang mana Pak-E-Pong, dan yang mana Petak Umpet.
Kebetulan saat ini di kantor tempatku bekerja, Kecamatan Klaten Tengah, ada anak-anak sekolah yang melakukan kegiatan Prakerin atau Praktek Kerja Industri. Mereka berasal dari 2 sekolah yang berbeda lingkungannya. Yang satu dari SMK Muhammadiyah 1 Jatinom, sekolah yang jauh dari kota. Yang satunya dari SMK Muhammadiyah 2 Klaten, sekolah yang berada di dalam kota. Masing-masing 4 orang anak. Dibanding dengan aku yang sudah berusia 54 tahun, anak-anak kelas 2 SMK ini tentu masih lebih ingat macam-macam permainan dolanan tradisional yang pernah mereka mainkan berikut namanya, meskipun aku yakin jenis mainan yang pernah mereka mainkan tentu sudah tidak sebanyak jamanku dulu. Tentu mereka juga mengenal permainan “dhelikan” dengan segala variasinya.
Berpikir begitu maka aku bermaksud mengajak mereka berdiskusi mengenai permainan dhelikan. Saling sharing kata orang sekarang. Dengan demikian mereka akan mengenal permainan dhelikan yang pernah aku lakukan dulu, dan aku dapat mengenal  dolanan dhelikan yang pernah mereka mainkan.
“Kalian tentu pernah bermain dhelikan. Aku ingin tahu bagaimana anak-anak jaman sekarang, setidaknya ketika kalian masih kecil, usia SD atau SMP bermain dhelikan. Pernah atau tidak kalian bermain dhelikan?” tanyaku.
“Ya tentu pernah ta, Pak, kami bermain dhelikan. Masak tidak pernah dhelikan,” kata anak-anak Prakerin.
”Kalau pernah, tolong nanti ceritakan kepadaku bagaimana kalian melakukan permainan dhelikan! Sebagai perbandingan aku katakan bahwasanya pada masa anak-anak aku dulu, ada permainan dhelikan yang namanya Apolo dan Ganefo. Tapi aku lupa yang mana yang Apolo dan yang mana yang Ganefo. Apakah kalian kenal dolanan Apolo dan Ganefo?” tanyaku kemudian.
”Tidak. Saya tidak kenal dolanan Apolo maupun Ganefo,” jawab anak-anak siswa Prakerin dari SMK Muhammadiyah 1 Jatinom.
”Saya juga tidak kenal dolanan Apolo maupun Ganefo,” jawab anak-anak siswa Prakerin dari SMK Muhammadiyah 2 Klaten.
”Kalau begitu kita tidak usah membahas Apolo maupun Ganefo. Kita bahas permainan dhelikan yang lainnya saja,” kataku kemudian.
Aku lalu menceritakan macam-macam dolanan dhelikan jaman aku kecil dulu, ketika kira-kira aku masih Sekolah Dasar atau SMP.
”Jaman aku kecil dulu dolanan dhelikan itu ada bermacam-macam. Ada yang pakai alat dan ada yang tidak. Yang pakai alat, alatnya pun sederhana, misalnya batu, wingka atau pecahan  genting, atau bola. Sayang aku lupa nama-nama permainannya. Tetapi aku ingat cara memainkannya. Contoh yang tidak pakai alat. Anak-anak melakukan undian dengan cara hompimpah. Kata-katanya, ”Hompilah hompimpah!” sambil menjatuhkan telapak tangan menghadap ke atas atau ke bawah. Ketika  tinggal dua orang dilakukan suit: jah-ndho-jleng, sehingga tinggal ada satu orang yang dianggap kalah atau dadi, lalu dijadikan yang jaga. Karena tidak pakai alat maka yang jaga cukup menutup mata, bersandar di sebatang pohon yang dijadikan pangkalan. Sementara yang lain-lainnya lari sembunyi. Ketika yang jaga sudah mencapai hitungan yang ditentukan maka ia boleh mencari untuk menangkap kawan-kawannya yang sembunyi untuk menangkap mereka. Kalau sudah tertangkap mereka dibawa ke pangkalan sebagai tawanan. Begitu terus sampai semua yang ikut bermain tertangkap,” kataku mulai bercerita.
”Kalau kawannya ingin memebebaskan yang tertawan bagaimana, Pak?” tanya salah seorang siswa Prakerin.
”Kalau ingin membebaskan yang tertawan, caranya ya dengan menyentuh anggota tubuh tawanan tersebut. Denganhanya satu sentuhan di pundak atau di tangannya saja, tawanan itu sudah bebas melarikan diri,” jawabku.
”Satu-satunya alat yang digunakan hanya sebatang pohon atau dinding rumah sebagai pangkalan. Itulah salah satu cara dolanan dhelikan yang paling sederhana. Yang lebih seru adalah yang pakai alat. Misalnya dhelikan pakai alat wingka atau pecahan genting. Ini pun ada bermacam-macam caranya. Misalnya yang ini, ada sepuluh anak yang ikut dalam permainan. Kami membuat lingkaran berdiameter setengah meter. Kami semua masing-masing punya gaco berupa pecahan genting. Lalu pada jarak yang sudah ditentukan misalnya 3 meter kita buat garis tuju. Dari garis tersebut masing-masing melemparkan gaco ke tengah lingkaran. Yang dapat masuk lingkaran dinyatakan pemain mentas. Yang ada di luar lingkaran kalau lebih dari satu orang harus mengulangi lagi melempar gaco sampai hanya tinggal satu orang yang ada di luar lingkaran. Tetapi kalau pada lemparan awal ternyata hanya tinggal satu orang yang berada di luar lingkaran, langsung ia dinyatakan sebagai pemain yang dadi. Ia yang harus jaga.  Maka ia harus menyusun kesepuluh wingka gaco bertumpuk ke atas. Sementara yang lainnya lari bersembunyi.
Setelah semua gaco tersusun, tidak bakalan roboh tanpa suatu sentuhan, pemain dadi harus segera mencari teman-temannya di tempat persembunyiannya. Ketika ia melihat buruannya, ia harus mengucapkan kata ’Cik...’ lalu menyebutkan nama pemain yang dilihatnya dan tempat persembunyiannya. Kemudian yang nge-cik dan yang di-cik (dithor/disekit) beradu cepat menuju ke pangkalan yang berupa lingkaran dengan tumpukan wingka di tengahnya. Kalau pemain yang dadi sampai terlebih dahulu di  pangkalan dan menginjakkan kaki di tengah lingkaran, maka pemain mentas yang di-cik berubah status menjadi tawanan. Ia harus berdiam diri di pangkalan menunggu dibebaskan kawan-kawannya atau menunggu semua kawan-kawannya tertangkap, sehingga kemudian ia menggantikan menjadi pemain yang dadi yang harus jaga.
Tetapi kalau dalam adu cepat tadi pemain mentas yang di-cik ternyata sampai lebih dahulu, ia harus merobohkan tumpukan wingka di tengah lingkaran dengan menendangnya. Kalau wingka-wingka tadi sudah roboh ia boleh lari bersembunyi lagi.
Bisa jadi yang jaga sedang nge-cik pemain mentas di persembunyian yang cukup jauh, sebelum ia memenangkan adu cepat lari dengan pemain mentas yang di-cik, tumpukan wingka sudah dirobohkan pemain mentas lainnya yang bersembunyi lebih dekat ke pangkalan,” ceritaku.
”Kalau misalnya dua-duanya bersamaan sampai di lingkaran yang dijadikan pangkalan, tetapi pemain mentas yang di-cik tetap nendang tumpukan wingka. Padahal sebelum wingka ditendang pemain yang dadi sudah ada di dalam lingkaran. Bagaimana kalau ada kejadian seperti itu, Pak?” tanya seorang siswa Prakerin yang bernama Mifta.
”Dibutuhkan sportifitas dalam permainan ini. Kalau ada kejadian seperti itu berarti pemain mentas tersebut curang. Seharusnya ia menerima menjadi tawanan, karena pada kenyataannya ketika pemain dadi lebih dahulu berada di lingkaran, ia belum dapat merobohkan tumpukan wingka. Boleh dikatakan ini adalah pelajaran praktek mengenai kesadaran hukum. Benar tidak anak-anak?” tanyaku kemudian.
”Benar...!” sahut anak-anak bersamaan.
”Terus ada lagi cara lain dalam permainan dhelikan. Agar lebih jelas akan aku ceritakan dalam bentuk cerita lengkap dengan para pelakunya. Mau tidak mendengarkan?”
”Mau, Pak,” jawab anak-anak serentak.
”Dengarkan baik-baik ceritaku. Barangkali besok-besok kamu dapat mempraktekan bersama adik-adikmu,” kataku kemudian sambil menata angan-angan kembali ke masa silam, masa anak-anak yang indah. ***

Related posts:

1 Responses for "Cerita Anak Tema Dolanan Tradisional: DHELIKAN 1"