Cerita Anak Tempo Dulu: BERMAIN KARET GELANG: TEMPEL

Cerita Anak Bertema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu:

BERMAIN KARET GELANG: TEMPEL

Bende di kantor guru SD Negeri Sumberejo dipukul tiga kali. Suaranya menggema masuk ke dalam ruang-ruang kelas. Bagi anak-anak yang menunggu giliran maju di depan kelas untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang belum dapat dikerjakannya, ini berarti suara malaikat penolong yang membebaskannya dari tugas yang tak dapat ia kerjakan, sekaligus menutup rasa malu karena ketahuan tak dapat mengerjakan PR di depan kelas.
Begitu guru menyudahi pelajaran, lalu keluar kelas menuju ruang guru, anak-anak pun segera lari berhamburan keluar kelas. Tidak lupa membawa uang bagi anak-anak yang akan jajan di kantin. Atau membawa alat-alat mainan bagi anak-anak yang akan bermain sebagai penyegaran setelah beberapa jam mengikuti pelajaran di dalam kelas.
Saat ini sedang musim bermain karet gelang, maka tidak aneh kalau Yuni, Wati, Dewi dan Rina juga menyimpan bendelan karet gelang di dalam saku bajunya.
”Yuk kita sekarang bermain tempel di dinding sekolah bagian barat sana,” ajak Yuni kepada Wati, Dewi dan Rina. Tangannya menunjuk ke arah kelas IV yang terletak di bagian barat dari gedung sekolah.
”Baiklah. Nampaknya dinding-dinding yang lainnya juga sudah dipakai anak-anak lain untuk bermain tempel. Jadi kita ke dinding kelas IV di sebelah barat saja,” balas Wati.
”Aku setuju kita bermain tempel di dinding kelas IV. Di sana tempatnya enak untuk bermain tempel. Rolakannya tidak terlalu lebar, tapi juga tidak terlalu sempit. Tempatnya juga bersih,” Dewi menimpali.
”Iya, aku juga setuju. Tempatnya teduh, dekat pohon waru yang rindang,” Rina tak mau kalah memberi komentar tempat yang mereka pilih.
Empat orang anak perempuan itu lalu berjalan menuju ke dinding kelas IV yang berada di sebelah barat sekolah. Memang benar seperti yang mereka katakan. Bagian sekolah ini teduh dan nyaman karena ada pohon waru yang rindang meneduhi tempat itu. Dindingnya pun enak untuk bermain tempel menggunakan karet gelang. Untuk bermain tempel diperlukan dinding rumah bagian bawah yang lebih menonjol dari bagian dinding seluruhnya, yang disebut rolakan yang berada di atas fondasi batu. Tonjolan sepanjang lebar dinding itu yang terbaik untuk bermain tempel karet gelang lebarnya + 5 Cm atau 6 Cm. Kalau lebih lebar, karet gelang akan mudah nyantol di rolakan dinding, jadi kurang seru karena hanya menguntungkan pemain yang mendapat giliran pertama kedua. Kalau lebih sempit, karet gelang sulit nyantol, hingga permainan jadi lama dan membosankan.
Sesampai di depan dinding kelas IV keempat anak tersebut bersiap-siap memulai permainan. Masing-masing anak mempersiapkan karet gaco. Untuk karet gaco mereka memilih karet yang lingkarannya tidak terlalu besar dan tidak ngeper sehingga kalau dilemparkan ke rolakan dapat langsung berhenti di tempat dia jatuh, tidak melenting turun atau mundur.
Yuni lalu membuat garis tuju yang terletak kira-kira dua langkah dari dinding sekolah. Di halaman yang sudah dipaving itu garis dibuat dengan kapur tulis yang diambil dari sisa kapur tulis di kelasnya.
”Sebelum permainan ini kita mulai mari kita tentukan dulu berapa udhu atau taruhan kita,” kata Dewi.
”Bagaimana kalau lima buah karet gelang?” usul Wati.
”Setuju!” jawab Yuni, Rina, dan Dewi serentak.
”Kalau semua sudah setuju besarnya udhu yang dipertaruhkan, sekarang ayo segera kita mulai melemparkan gaco kita masing-masing ke rolakan dinding!” ajak Yuni.
Yuni lalu melemparkan karet gaconya ke rolakan dinding. Gaco Yuni jatuh di rolakan kira-kira 1 Cm dari dinding sekolah. Dewi lalu melemparkan gaconya. Karet gelang gaco Dewi itu berhenti setengah senti meter di belakang gaco Yuni. Kemudian Wati melemparkan  gaconya. Sayang karet gaco Wati setelah mengenai dinding melenting  turun ke bawah, ke bagian halaman sekolah yang  telah dipaving itu. Wati pun merasa kecewa. Akhirnya tibalah giliran Rina untuk melemparkan gaconya. Ketika karet gaco Rina dilemparkan dengan hati-hati, karet gaco itu tidak sampai membentur dinding, tetapi langsung berada di rolakan. Anehnya karet gaco itu justru mendesak maju karet gaco Dewi, sehingga karet gaco Dewi yang semula menempati urutan kedua itu sekarang jadi menempati urutan pertama, mepet dinding sekolah kelas IV. Sedangkan karet gaco Rina berhenti di belakang gaco Yuni.
Hasil dari melemparkan karet gaco ini adalah urut-urutan melemparkan ombyokan karet hasil mengumpulkan udhu taruhan masing-masing peserta. Di urutan pertama adalah Dewi, kedua gaco Yuni, ketiga gaco Rina, dan di urutan terakhir adalah gaco Wati.
Anak-anak lalu mengumpulkan karet gelang udhu sesuai kesepakatan, masing-masing lima buah karet gelang, diberikan kepada Dewi. Dua puluh buah karet gelang diterima Dewi. Sambil melangkah mundur ke garis tuju, kedua puluh karet gelang itu ditaruh diantara jari penunjuk dan ibu jari tangan kanan Dewi, lalu dikocok-kocok. Mungkin maksudnya agar karet-karet itu jadi satu ombyokan yang teratur rapi letaknya, sehingga kalau dilemparkan tidak ada yang tercecer. Setelah dirasa cukup, ombyokan karet gelang tersebut diletakkan di telapak tangan kanannya.
Didahului dengan konsentrasi, Dewi lalu melemparkan ombyokan karet itu ke rolakan dinding. Hasilnya ada sebagian karet yang nyantol atau menempel di rolakan. Setelah dihitung ternyata karet yang nyantol ada delapan buah. Selebihnya kembali jatuh ke lantai halaman yang sudah dipaving. Karet yang jayuh di rolakan diambil Dewi, sidikan satu dengan karet-karet gelang lainnya.
Kini giliran Yuni maju, berjongkok, lalu mengambili karet-karet gelang yang jatuh si paving. Setelah dirapikan letaknya, lalu sambil mundur ke garis tuju, Yuni melemparkan ombyokan karet taruhan itu ke rolakan. Hasilnya dari 13 buah karet yang tersisa ada lima buah yang nyantol atau menempel di rolakan.
”Lumayan, kembali modal,” ujar Yuni.
Selanjutnya giliran ketiga, Rina mengambili tujuh buah karet yang terjatuh di lantai paving. Seperti yang lain-lain, ia pun melemparkan ombyokan karet gelang yang tersisa itu ke rolakan dari garis tuju. Hasilnya empat buah karet gelang nyantol di rolakan.
Masih tersisa tiga buah karet gelang terjatuh di lantai paving. Wati sebagai pemain urutan terakhir mengambili. Ia lalu mundur ke garis tuju. Dengan hati-hati ia melemparkan tiga buah karet yang ada di telapak tangannya itu ke rolakan dinding. Ternyata kehati-hatiannya membuahkan hasil, tiga buah karet gelang yang dilemparkannya nyantol atau nempel di rolakan dinding.
Hitung-hitung, dalam permainan ini yang untung adalah Dewi. Ia mendapat delapan buah karet, padahal udhunya lima, jadi ia mendapat untung tiga buah karet. Sedangkan yang rugi adalah Rina dan Wati. Rina rugi satu, Wati rugi dua. Yuni tidak untung tidak rugi.
”Kalau begini, yang giliran belakang tentu lebih banyak kalahnya. Bagaimana kalau sekarang kita main ganjilan saja?” usul Wati.
”Ya, aku setuju kita main ganjilan. Kalau kita main ganjilan benar-benar nasib  kita yang akan membawa keberuntungan atau kerugian,” kata Rina.
”Sebetulnya tidak hanya nasib saja yang bicara kalau kita main ganjilan. Tehnik atau cara melempar mungkin juga punya andil untuk menentukan kemenangan,” balas Yuni.
”Tidak usah banyak bicara, kalau kita sudah setuju, mari kita segera mulai bermain tempel ganjulan!” sahut Dewi.
Karena sudah sepakat maka mereka sekarang bersiap-siap melakukan tempel ganjilan. Mula-mula Dewi melemparkan gaconya ke rolakan dinding. Kemudian diikuti yang lain-lain. Hasilnya, gaco Yuni yang paling mepet ke dinding. Kemudian diikuti gaco Rina, lalu Wati, baru kemudian gaco Dewi di urutan paling belakang. Sesuai kesepakatan tadi masing-masing pemain menyerahkan lima buah karet gelang sebagai udhu atau taruhan. Semua taruhan karet gelang diterima Yuni.
Kali ini Yuni tidak akan melemparkan ombyokan karet gelang taruhan para peserta dari garis tuju. Tetapi mereka sudah sepakat dibuat garis baru yang berjarak hanya setengah meter dari dinding tempat mereka bermain. Yuni maju ke garis baru tersebut. Lalu dengan hati-hati, penuh dengan perhitungan ia melemparkan ombyokan karet gelang itu ke dinding. Sebagian karet jatuh dan diam menempel di atas rolakan. Sebagian yang lain setelah jatuh di rolakan jatuh lagi ke lantai paving di bawah.
Yuni lalu menghitung karet yang ada di atas rolakan. Ternyata ada enam buah. Ini berarti Yuni tidak berhasil.
Sekarang ganti Rina sebagai yang mendapat urutan kedua, yang berhak menujukan ombyokan karet gelang itu. Rina melemparkan karet-karet gelang itu dengan keras ke dinding setinggi setengah meter. Ia berharap semua karet gelang memantul ke bawah, kecuali sebuah karet gelang yang tertinggal di rolakan dinding. Tapi ternyata begitu karet-karet itu membentur dengan keras ke dinding, semuanya terpental ke bawah. Tidak satu pun yang nyantol di rolakan.
Berikutnya giliran Wati. Anak ini melemparkan dengan hati-hati ombyokan karet itu ke dinding yang mepet rolakan. Hasilnnya hampir semua karet nyantol atau nempel di rolakan. Tetapi ternyata kemudian ada dua buah karet gelang yang menggelinding ke bawah. Ini berarti ada delapan belas karet gelang tertinggal di rolakan. Berarti Wati gagal, karena angka delapan belas adalah angka genap, tidak ganjil.
”Hore...!!!” Dewi bersorak. Ternyata meskipun di urutan paling belakang ia masih kebagian main untuk memenangkan permainan ini. Ia lalu mengambili karet-karet itu lalu melemparkannya dengan penuh harapan, ke dinding dua jengkal di atas rolakan. Lemparannya tidak begitu keras, agar yang nyantol di rolakan cukup banyak. Hasilnya sebagian besar karet gelang nyantol atau nempel di rolakan. Sebagian yang lainnya jatuh ke bawah. Setelah dihitung ternyata karet gelang yang ada di rolakan berjumlah dua belas, yang terjatuh berjumlah delapan. Berarti Dewi pun gagal.
Maka urutan melempar karet kembali ke depan. Kini giliran Yuni untuk melemparkan yang kedua ombyokan karet gelang itu ke dinding. Dengan penuh harapan ia melemparkan ombyokan karet gelang itu ke dinding. Tidak begitu keras. Ia tidak lagi memperhitungkan tehnik atau cara. Ia hanya berdoa dan berharap mendapatkan kemenangan. Bahkan ia pun melemparkannya dengan menutup mata. Yang penting lemparan itu menuju ke dinding di depannya, jatuh di atas rolakan.
Hasilnya ada lima buah karet nyantol atau nempel di rolakan. Lima belas yang lainnya jatuh ke bawah.
”Hore aku menang! Aku menang!” teriak Yuni meluapkan rasa gembiranya. Ia lalu mengambil kedua puluh karet gelang itu, lalu dimasukkannya ke saku bajunya.
Begitulah permainan tempel karet gelang berlanjut sampai terdengar bende tanda jam istirahat habis. Anak-anak lalu bergegas memasuki ke kelasnya untuk menerima pelajaran kembali. ***

Related posts:

No response yet for "Cerita Anak Tempo Dulu: BERMAIN KARET GELANG: TEMPEL"

Post a Comment