Cerita Anak Tradisional Tempo Dulu: BERMAIN KUCING-KUCINGAN

Cerita Anak Bertema Dolanan Anak Tradisional Tempo Dulu:

BERMAIN KUCING-KUCINGAN

Ketika istirahat sekolah di SD Negeri Sumberejo, lima orang anak sedang berkumpul untuk merencanakan suatu permainan yang akan mereka mainkan bersama. Anisa, Anita, Susi, Yanti, dan Siti adalah anak-anak kelas empat sekolah tersebut. Mereka mempunyai tinggi badan dan perawakan yang hampir sama. Sebagai teman akrab satu kelas mereka suka bermain bersama.
”Yuk kita bermain bersama di halaman sekolah ini!” ajak Anisa kepada kawan-kawannya.
”Enaknya kita bermain apa ya?” tanya Susi.
”Bagaimana kalau kita bermain kucing-kucingan saja?” Siti menawarkan suatu jenis permainan.
”Kucing-kucingan yang ada lagunya ’Yo ngguwak kucing gering’ itu?” tanya Yanti minta penegasan.
”Iya benar. Tapi kalau di tempat asalku di Jogja sana kata-katanya tidak ’Yo ngguwak kucing gering’ tetapi ’Dha mbuwang kucing gering.’ Sebetulnya hampir sama sih, hanya agak berbeda sedikit karena ini lain daerah. Pokoknya artinya ’Mari membuang kucing sakit’ Begitu kira-kira,” ujar Siti memberi penjelasan. Siti adalah anak baru di SD Negeri Sumberejo. Ia pindahan dari Jogjakarta, mengikuti orangtuanya karena ayahnya pindah tugas dari Jogjakarta ke Klaten.
”Kami juga sering memainkan permainan Kucing-kucingan ini di halaman rumah kalau sore hari. Jadi permainan ini sudah tidak asing lagi bagi kami,” kata Yanti.
”Kalau begitu mari kita bermain Kucing-kucingan, mumpung jam istirahat baru mulai,” ajak Siti.
”Pertama-tama mari kita adakan undian Hompilah Hompimpah dan Sut Jah-Ndho-Jleng dulu untuk menentukan siapa pemain mentas dan siapa pemain dadi. Yuk kita undi dulu!” ajak Anita.
Mereka berlima lalu mengadakan undian cara anak-anak. Mula-mula dilakukan Hompilah Hompimpah. Hasilnya mula-mula Anisa dan Anita menang. Kemudian tinggal tiga orang, dilakukan Hompilah Hompimpah lagi. Hasilnya Susi yang menang. Tinggal dua orang, yaitu Siti dan Yanti. Mereka lalu melakukan sut. Hasilnya Siti yang menang karena ia menjagokan jari kelingking, sedangkan Yanti menjagokan ibu jari. Menurut kesepakatan semut yang dilambangkan jari kelingking dianggap menang melawan gajah yang dilambangkan ibu jari.
Setelah diketahui siapa yang menang menjadi pemain mentas dan siapa yang kalah menjadi pemain dadi, mereka lalu menempatkan diri pada posisi mereka masing-masing. Mereka membuat dua garis saling bersilangan sepanjang 2 meter. Pada keempat ujung garis dibuat lingkaran menggunakan telapak kaki mereka. Lingkaran ini merupakan pencokan (tempat bertengger) atau pangkalan bagi para pemain mentas. Keempat lingkaran kecil tersebut masing-masing ditempati oleh Anisa, Anita, Susi, dan Siti. Sedangkan Yanti sebagai pemain dadi menempati titik potong di persilangan garis yang telah mereka buat.
”Sebelum permainan ini dimulai, mari kita ambil kesepakatan dulu. Bagaimana kalau setelah terjadi lima kali perpindahan tempat pemain mentas, kita adakan upacara membuang kucing gering?” usul Siti.
”Boleh juga, tetapi harus diperjelas dulu, yang dimaksud dengan lima kali perpindahan tempat itu yang bagaimana? Apakah kalau aku dapat bertukar tempat dengan Anisa, sudah dianggap satu kali perpindahan tempat? Atau harus dua pasang pemain mentas ini melakukan perpindahan tempat bersama-sama?” tanya Anita minta penegasan.
”Agar lebih cepat, sebaiknya ya kalau ada satu pasangan yang dapat berpindah tempat kita anggap sebagai satu kali perpindahan tempat. Tidak harus dua pasang melakukan perpindahan tempat dulu baru dihitung satu kali perpindahan tempat,” jawab Siti.
”Ya, aku juga setuju,” kata anak-anak yang lainnya.
”Kemudian sekaligus kita tentukan di mana kita harus membuang kucing gering,” ujar Anita lagi.
”Baiklah, kita tentukan saja, tempat pembuangan kucing gering di bawah pohon waru sana. Nanti kita buat lingkaran di sana. Pada waktu membuang kucing gering semua pemain harus ikut berjajar dengan kucingnya. Tidak boleh ada yang tinggal di belakang dan mendahului berlari menuju ke pangkalan. Setelah kata-kata ’Yo buang kucing gering’ sebanyak lima kali baru kita boleh lari ke pangkalan tempat bermain. Kucing yang dibuang juga boleh adu lari merebut pangkalan. Yang tidak mendapat tempat di pangkalan, dialah yang menjadi kucingnya kemudian. Bagaimana kalau begitu aturannya, semua setuju?” Siti minta persetujuan kawan-kawannya atas aturan yang sudah disampaikannya.
”Ya akau setuju!” jawab Anisa, Anita, Susi, Siti, dan Yanti serentak. Yang paling keras adalah suara Yanti, karena kesepakatan ini amat menguntungkan dirinya. Berarti ada kemungkinan dirinya akan lebih cepat mendapat kesempatan berubah status menjadi pemain mentas, seandainya nanti dirinya berhasil mendahului salah satu pemain mentas dalam merebut pangkalan.
”Kalau sudah sepakat, mari permainan segera kita mulai!” ajak Siti.
Para pemain mentas lalu berusaha untuk dapat saling bertukar tempat. Anisa mengulurkan tangan kepada Anita. Dengan sigap Anita menyambutnya. Setelah tangan mereka saling berpegangan seperti orang bersalaman, kaki-kaki mereka pun melangkah untuk berpindah tempat. Berhasil! Kini Anisa menempati pangkalan Anita tadi, sedangkan Anita ganti menempati pangkalan Anisa tadi. Yanti yang mencoba akan merebut pangkalan Anita kecele. Ia kalah cepat. Kemudian Yanti mencoba akan merebut pangkalan Susi. Ia tahu Susi ini adalah anak yang kurang pengalaman dalam permainan kucing-kucingan, tentunya akan lebih mudah merebut kedudukannya.
Nampak Susi telah mencoba mengulurkan tangannya kepada Siti. Mula-mula Siti juga akan mengulurkan tangannya kepada Susi, tetapi setelah mengetahui kalau Yanti mengincar kedudukan Susi, tiba-tiba ia beralih kepada Anisa yang sekarang sudah menempati pangkalan Anita. Tiba-tiba saja Siti mengulurkan tangannya kepada Anisa. Dengan cepat Anisa menyambutnya. Lalu terjadilah pergantian pangkalan antara Anisa dengan Siti.
Melihat kejadian itu, Yanti jadi gugup. Tiba-tiba saja ia mengalihlan perhatian kepada pasangan Anisa dan Siti yang sudah telanjur bertukar tempat. Sementara itu, beralihnya perhatian Yanti ke pasangan Anisa dan Siti dimanfaatkan Susi untuk mengulurkan tangannya kepada Anita. Ternyata Anita pun menangkap maksudnya, maka ia pun segera menyambut uluran tangan Susi untuk bertukar tempat. Setelah tangan Susi ditangkapnya maka mereka pun bertukar tempat.
Yanti hanya dapat geleng-geleng kepala melihat pertukaran tempat yang begitu cepat itu. Dalam sekejap sudah terjadi tiga kali perpindahan tempat. Dua kali perpindahan tempat lagi ia akan dipermalukan karena dianggap sebagai kucing gering atau sakit yang harus dibuang. Malu tetapi juga berarti kesempatan baginya untuk merubah statusnya dari pemain dadi menjadi pemain mentas.
Ketika Yanti sedang melamun, membayangkan dirinya dibuang sebagai kucing gering, kemudian berlari adu cepat dengan kawan-kawannya untuk mendapatkan salah satu pangkalan dari keempat pangkalan yang ada, ia jadi kurang waspada. Kesempatan itu dipergunakan Anita untuk bertukar tempat dengan Anisa. Ketika kemudian Yanti sadar, lalu mengarahkan perhatian kepada yang baru saja bertukar tempat, kesempatan itu ganti dipergunakan Susi untuk bertukar tempat dengan Siti.
Begitu Susi berhasil bertukar tempat dengan Siti, maka keempat pemain mentas itu pun lalu bertepuk tangan gembira. ”Horeee... sudah lima kali perpindahan! Yuk dha ngguwak kucing gering!” teriak Siti.
Maka kemudian Yanti pun diiringkan Anisa, Anita, Susi, dan Siti menuju ke lingkaran di bawah pohon waru yang jaraknya sekitar 10 meter, sambil meneroakkan kata-kata berirama ”Yo ngguwak kucing gering! Yo ngguwak kucing gering! Yo ngguwak kucing gering! Yo ngguwak kucing gering! Yo ngguwak kucing gering!” 
Setelah lima kali mereka menerikkan kata-kata berirama itu, ternyata posisi mereka sudah tepat berada di dalam lingkaran di bawah pohon waru. Dengan serta merta kelima anak yang sedang bermain itu pun berbalik, lalu berlari menuju ke pangkalan. Mereka adu cepat untuk dapat mendapatkan salah satu tempat pijakan dari keempat lingkaran di ujung garis persilangan.
Ternyata kemudian, Yanti dapat merebut salah satu pangkalan yang ada. Ganti Susi yang tidak mendapat tempat berpijak. Maka Susi sekarang menjadi pemain dadi yang harus menempatkan diri di tengah-tengah titik persilangan. Ia harus dapat berusaha merebut salah satu lingkar pangkalan yang ada.
Berbeda dengan cara Yanti tadi, kali ini Susi hanya mengincar kedudukan yang ditempati salah seorang pemain mentas. Ia tidak mempedulikan yang lainnya, kecuali hanya kedudukan Yanti yang dianggapnya telah merebut kedudukannya. Maka ketika Anisa bertukar tempat dengan Anita sampai dua kali pertukaran tidak ia gubris. Perhatiannya hanya tertuju kepada Yanti! Maka ketika kemudian Yanti mengulurkan tangan untuk bertukar tempat dengan Siti, cepat-cepat ia mendesak Yanti dan dengan sigap ia menancapkan kakinya di lingkaran pangkalan yang baru saja ditinggalkan Siti. Jadilah sekarang Susi sebagai pemain mentas! Sedangkan Yanti yang kurang cepat melakukan perpindahan, terpaksa harus menjadi pemain dadi lagi.
Begitulah Anisa, Anita, Susi, Siti, dan Yanti bermain kucing-kucingan. Mereka ganti berganti menjadi pemain dadi. Kadang sampai pada babak membuang kucing gering, tapi kadang juga tidak sampai pada babak itu pemain dadi sudah berhasil merebut kedudukan menjadi pemain mentas. Kadang pemain dadi yang baru saja berubah status menjadi pemain mentas, belum satu kali pertukaran tempat sudah terdesak menjadi pemain dadi lagi. Namun tidak jarang pemian dadi yang sudah dapat merebut kedudukan menjadi pemain mentas, dapat mempertahankan posisinya sampai melampaui beberapa kali babak membuang kucing gering. Permainan baru mereka hentikan ketika mereka sudah merasa haus dan lelah. Mereka lalu memanfaatkan waktu yang tersisa untuk minum es sebelum bende tanda masuk kelas terdengar. ***

Related posts:

No response yet for "Cerita Anak Tradisional Tempo Dulu: BERMAIN KUCING-KUCINGAN"

Post a Comment