Cerpen Anak Bertema Dolanan Bocah Tradisional: Bermain Betengan

Cerpen Anak Bertema Dolanan Bocah Tradisional:

Bermain Betengan

Seperti biasanya, siang hari sepulang sekolah, setelah berganti pakaian dan makan siang serta shalat Dhuhur bagi yang beragama Islam, anak-anak lalu berkumpul di halaman samping rumah Bu Komis di Dukuh Soka. Meskipun matahari masih di atas kepala, panas teriknya tidak sampai menyentuh kepala anak-anak yang sedang menyiapkan sebuah permainan yang sangat mereka gemari. Hanya di bagian tengah-tengah halaman saja panas matahari berkuasa. Selebihnya, di tepi-tepinya halaman itu teduh karena ditumbuhi pepohonan yang rindang. Di sebelah utara berdiri dengan gagahnya pohon mangga yang sering memberi upah kepada siapa saja yang setia menungguinya, kalau sedang musim berbuah. Di sebelah selatan berdiri dengan megahnya pula pohon munggur yang akar-akarnya menyembul, menjalar keluar dari dalam tanah. Akar-akar itu bagai bangku taman, sering dijadikan tempat duduk anak-anak sambil berteduh menikmati semilir angin ketika panas terik membakar tempat terbuka di sekitarnya.
Ada 10 anak berada di halaman yang sering dijadikan tempat bermain anak-anak itu. Setelah bermusyawarah untuk memilih jenis permainan yang akan mereka mainkan, akhirnya pilihan jatuh pada permainan betengan. Karena permainan ini dianggap mampu memberi kesempatan kepada mereka yang jumlahnya cukup banyak itu untuk bermain bersama. Kemudian mereka mencari pasangan yang sepadan, besar sama besar, kecil sama kecil, laki-laki sama laki-laki, perempuan sama perempuan, untuk melakukan suit. Hasil dari suit itu yang menang mengelompok dengan yang menang, yang kalah mengelompok dengan yang kalah. Sehingga terbentuklah dua kubu. Kubu 1 di bawah pimpinan Naryo, anggotanya Surono, Pono, Yayuk, dan Siti. Kubu 2 di bawah pimpinan Darto, anggotanya Jono, Sarmadi, Rini, dan Tutik.
”Sekarang kita tentukan di mana beteng kita masing-masing,” kata Naryo.
”Bagaimana kalau Kubu aku betengnya di pohon mangga sini. Lalu tempat tawanannya nanti aku buat lingkaran di samping kanannya,” usul Naryo.
”Kalau begitu Kubu aku  betengnya di pohon munggur sana dan tempat tawanannya di samping kanannya juga,” balas Darto.
”Ya, silakan sekarang kalian berangkat ke sana. Karena kelompokku adalah kelompok yang menang dalam suit tadi, kami akan segera memulai permainan betengan ini,” kata Naryo.
”Baik. Ayo kawan-kawan kita berada di bawah pohon munggur sana!” ajak Darto kepada kawan-kawannya. Jono, Sarmadi, Rini, dan Tutik lalu mengikuti Darto menuju di bawah pohon munggur. Darto lalu membuat lingkaran di sebelah kanan pohon munggur sebagai tempat tawanan.
Setelah membuat lingkaran di sebelah kanan pohon mangga sebagai tempat tawanan, kelompok Naryo pun segera bersiap-siap untuk melakukan aksi merebut beteng kelompok Darto.
”Kamu keluar dulu, Yuk! Goda mereka! Pancing mereka agar mau keluar beteng! Nanti kalau sudah keluar, biar Pono membantumu,” Naryo selaku ketua kelompok memberi perintah kepada anak buahnya. Yayuk yang mendapat tugas keluar paling dulu mematuhi perintah pimpinannya. Ia segera keluar beteng, mendekati beteng Darto. Sesuai dengan tugasnya yang hanya untuk memancing keluarnya lawan, perempuan centil itu hanya berjalan ke sana ke mari sambil menggoyangkan pantatnya, bertepuk tangan dan menghentakkan kaki kanan kaki kiri bergantian, menggoda lawannya.
Digoda perempuan centil seperti itu panas juga hati Darto. Ia segera memerintahkan Jono untuk keluar menangkap Yayuk. Yang diperintah segera berlari keluar mengejar Yayuk. Yang dikejar meskipun seorang perempuan tetapi ia adalah jago lari di sekolahnya. Dengan lincahnya ia berlari menghindari sentuhan tangan Jono. Bahkan kemudia ia mengarahkan larinya ke dekat betengnya.
Begitu mendekati beteng, Yayuk mempercepat larinya, ia segera menyentuh pohon mangga yang dijadikan beteng kubunya. Sebelum Yayuk sampai ke beteng, Naryo sudah memerintahkan Pono untuk ganti mengejar Jono. Anak bertubuh tambun ini segera berlari mengikuti perintah ketuanya. Tetapi Jono yang berada dalam posisi kalah derajat dibanding Pono, meskipun badannya lebih besar, langkahnya lebih lebar dibanding Pono yang baru saja keluar dari beteng, lebih memilih kembali ke betengnya.
Kedatangan Pono mendekati beteng Darto untuk mengejar Jono langsung disergap Sarmadi. Rupanya Pono terlena hanya konsentrasi mengejar Jono saja. Ia tidak tahu kalau ada bahaya mengancam dari sisi lain. Ia terkejut ketika tahu-tahu Sarmadi keluar beteng dalam posisi sudah dekat dengannya. Pono yang berbadan tambun memang tidak selincah kawan-kawannya, begitu menyadari lawan sudah dekat, terlambat baginya untuk menghindar., tahu-tahu tangan Sarmadi sudah menepuk bahunya. Pono lalu dibawa menuju tempat tawanan kubu Darto di dekat pohon munggur.
”Terlalu! Pono itu terlalu berani mengejar lawan sampai mendekati beteng! Sekarang dia tertangkap. Kelompok kita tinggal empat orang saja. Sekarang kita harus hati-hati dan waspada. Kendalikan emosi kalian! Jangan sampai dekat-dekat ke beteng lawan, kecuali kalau jumlah lawan tinggal sedikit, dua atau satu!” ujar Naryo memberi petunjuk kepada kawan-kawannya.
Sekarang ganti Darto yang memerintahkan anak buahnya untuk memancing lawannya keluar dari betengnya.
”Rini! Sekarang kamu yang keluar untuk menggoda dan memancing lawan keluar beteng. Tapi jangan terlalu mendekati beteng. Begitu mereka mulai keluar dan mengejarmu, cepat kamu lari kembali ke beteng!” begitu perintah sekaligus petunjuk Darto kepada Rini.
Rini lalu keluar menuju ke tengah arena. Ia mulai menggoda lawan seperti yang dilakukan Yayuk tadi. Tetapi ia memang mengakui kalau dirinya tidak selincah Yayuk, maka begitu Surono yang menjadi lawannya keluar beteng untuk menangkapnya, ia segera berlari kembali ke betengnya. Sekarang ganti Darto memerintahkan Tutik untuk menangkap Surono yang mengejar Rini sampai melewati tengah-tengah arena.
Mengetahui Tutik keluar beteng untuk mengejarnya, Surono tidak langsung lari menuju betengnya. Ia berusaha mempermain-mainkan Tutik dulu. Surono berlari berputar-putar mengelilingi arena, dikejar Tutik di belakangnya. Dalam permainan ini seorang pemain hanya boleh mengejar dan dikejar seorang pemain. Oleh karena itu meskipun Surono berlari sampai mendekati beteng Darto, lawannya baik Darto, Jono, Sarmadi, maupun Rini yang ada di beteng itu tidak boleh menepuk badan Surono dan menawannya. Yang dapat menawan Surono hanya Tutik saja. Maka agar yang lainnya, yang lebih cepat larinya dapat menangkap Surono, Darto memerintahkan agar Tutik segera kembali ke beteng.
”Cepat, Tut, kamu kembali ke beteng. Percuma kamu mengejar-ngejar Surono. Langkahmu kalah cepat. Ayo kamu segera kembali masuk beteng!” teriak Darto kepada Tutik. Tapi rupanya Tutik malu dikatakan kalah cepat, tidak mungkin dapat menangkap Surono. Meskipun anak perempuan ia merasa tidak boleh kalah dengan anak laki-laki. Ia tetap terus mengejar-ngejar Surono. Ia sangat berambisi dapat menawan Surono dengan cara menepuk pundak anak itu dengan telapak tangannya.
Sementara itu, melihat Tutik terus mengejar-ngejar Surono, Naryo memerintahkan Siti untuk menangkap Tutik. Melihat lawan yang lebih tinggi derajatnya, atau lebih tua dalam permainan betengan ini, Tutik segera berlari kembali ke betengnya. Namun sebelum Tutik sampai di beteng, ternyata Surono sudah memanfaatkan untuk membebaskan Pono. Dengan sekali tepuk di lengannya bebaslah Pono dari tawanan. Surono dan Pono lalu berlari kembali ke betengnya.
Sekarang posisi kembali empat lawan empat.
Kemunculan Siti disambut keluarnya Rini. Karena sudah tidak ada lawan yang dapat ia tawan, bahkan sekarang ada lawan yang dapat menawannya, Siti lalu berlari kencang kembali ke betengnya. Tapi langkahnya dihadang kejaran Rini.
Naryo lalu memerintahkan Yayuk untuk membantu Siti, menangkap Rini. 
”Rini, cepat kembali kamu ke beteng! Lawanmu Yayuk, bisa kalah kamu nanti kalau berani adu cepat melawan Yayuk! Ayo lekas berlari kembali ke beteng!” teriak Darto memerintah anak buahnya.
Tetapi sudah terlambat! Yayuk sudah menghadang jalan Tutik untuk kembali. Sebetulnya tanpa perintah dari Darto, Jono sudah mengambil insiatif keluar beteng untuk menangkap Yayuk. Tapi langkah ini tetap tidak dapat menolong Tutik, karena sebelum Jono berhasil menyentuh Yayuk, Tutik sudah telanjur menjadi tawanan karena lengannya tersentuh telapan tangan Yayuk. Tutik lalu digelandang ke tempat tawanan kubu Naryo. Yayuk pun kembali ke beteng.
Karena lawan yang dapat ditawan sudah kembali ke betengnya, Jono bermaksud kembali ke betengnya. Tetapi  langkahnya dihadang oleh Pono. Jono berlari dikejar oleh Pono. Langkah mereka sampai mendekati beteng kelompok Darto. Lagi-lagi Pono terjebak oleh nafsunya untuk dapat menawan musuh. Tetapi ia kurang cermat memperhitungkan situasi. Tiba-tiba saja Rini sudah berada di dekatnya menyentuhkan telapak tangannya ke pundak Pono. Maka berubahlah status Pono. Sekarang ia menjadi tawanan kelompok Darto.
”Anak itu memang terlalu! Sudah badannya tambun, larinya tidak cepat, tidak lincah! Tapi ambisinya untuk menang terlalu besar, tidak sesuai dengan kemampuannya. Tidak disiplin pula! Tidak ada perintah, lari sendiri mengejar lawan. Kalau bisa mengukur diri tidak apa-apa punya inisiatif itu. Tetapi ini...anak betul-betul tak tahu diri! Tadi dia tertangkap jadi tawanan, sudah dibebaskan temannya. Eee... kini tertangkap jadi tawanan lagi!,” gerundel Naryo menahan dongkol kepada Pono.
”Sudah, Nar, tidak usah disesalkan. Yang penting mari kita konsentrasi ke depan. Kita lawan musuh semampu kita. Toh ini hanya permainan. Tidak usah dibuat berat! Kalau kalah paling-paling kita hanya disuruh nggendong,” ujar Surono meredakan kecewa Naryo.
”Permainan memang hanya permainan, tapi kalau sampai kalah ya malu! Pono itu jadi beban bagi kelompok kita. Sebetulnya akan lebih baik kalau dia itu nunggu beteng saja,” Naryo masih juga menunjukkan kekecewaannya.
”Ayo.... diteruskan apa tidak permainannya? Dari tadi kok kedumal-kedumel saja! Mbok ya nanti marahnya! Kita selesaikan dulu permainan ini!” protes Darto, tidak sabar melihat lawannya menghentikan permainan.
”Ya sudah, mari kita lanjutkan! Silakan kalian memulai!” Naryo minta musuhnya memulai permainan.
Sekarang posisi empat lawan empat. Masing-masing mempunyai tawanan satu.
Darto lalu minta Rini keluar beteng menggoda kelompok Naryo.  Keluarnya Rini disambut keluarnya Surono dari Kubu Naryo. Keluarnya Surono disambut keluarnya Sarmadi dari kelompok Darto. Terjadi kejar-kejaran. Surono mengejar Rini. Tetapi ia juga berusaha untuk menghindari kejaran Sarmadi. Agar berimbang, Naryo lalu memerintahkan Yayuk untuk keluar mengejar Sarmadi. Dikejar Yayuk, Sarmadi lalu lari menghindar.
Pada suatu kesempatan, Rini dapat berlari masuk beteng. Tangannya menepuk pohon munggur. Sudah tidak ada yang dikejar Surono lalu lari menuju ke betengnya sambil menghindari kejaran Sarmadi. Namun Sarmadi berusaha menghadang di dekat beteng. Karena terlalu konsentrasi pada penghadangan Surono, Sarmadi terlena. Tahu-tahu tangan Yayuk sudah berhasil menepuk bahunya. Sarmadi jadi tawanan.
Surono dan Yayuk berlari kembali ke betengnya. Posisi sekarang  empat lawan tiga. Kemenangan sementara ada di pihak Naryo.
Naryo lalu memerintahkan Siti keluar memancing kelompok Darto. Keluarnya Siti disambut keluarnya Rini. Dengan semangat untuk membalas kekalahan, Rini mengejar Siti. Dari kubu Naryo, melihat peluang untuk mengalahkan lawan yang kelihatan bernafsu mengejar lawan sehingga nampak kurang waspada, Yayuk yang pelari cepat mengambil inisiatif untuk  mengejar Rini dari arah samping.
”Hati-hati Rin! Ada Yayuk di sampingmu! Kamu kembali ke beteng saja secepatnya!” teriak Darto memberi peringatan dan aba-aba untuk kembali. Tetapi peringatan Darto ini terlambat, karena tahu-tahu Yayuk sudah berada di samping Rini amat dekat sekali. Meskipun Rini sempat menyadari datangnya bahaya, tetapi ia tidak sempat menghindar ketika tangan Yayuk bergerak menepuk lengannya. Rini pun berubah statusnya menjadi tawanan. Yayuk segera berlari menuju ke betengnya. Rini mengikuti sebagai tawanan di belakangnya.
Kini posisinya semakin berat sebelah. Kubu Naryo menahan tiga tawanan. Kubu Darto hanya menahan satu tawanan. Kubu Naryo masih ada empat pemain yang bebas, sedangkan kubu Darto tinggal ada dua pemain yang bebas. Sangat sulit bagi kubu Darto untuk membalik keadaan. Jangankan memenangkan permainan, untuk menyamakan kedudukan pun sangat sulit. Untuk dapat menambah tawanan, mengurangi lawan adalah sulit bagi kubu Darto. Keadaan akan lebih baik apabila ia bosa membebaskan sebagian kawannya yang ditahan. Tapi apakah mungkin? Namun demikian Darto dan Jono sebagai pemain yang masih bebas, yang menjadi harapan untuk memenangkan permainan, tidak putus asa. Ia tetap bersemangat dan bertekad memenangkan permainan yang sudah jadi tidak imbang ini.
”Sekarang beteng aku percayakan kepadamu, Jon. Aku akan mencoba maju sendiri mengalahkan lawan-lawan kita. Sukur-sukur aku bisa membebaskan kawan-kawan kita,” kata Darto kepada Jono.
Naryo pun tak mau kalah. Ia juga berunding dengan anak buahnya.
”Nampaknya mereka akan maju habis-habisan. Nanti Yayuk aku tugasi memancing keluarnya Jono atau Darto dari betengnya. Kalau salah satu dari mereka keluar mengejar Yayuk,  Surono aku tugasi mengejar yang mengejar Yayuk, entah Darto atau Jono, untuk menyelamatkan Yayuk. Sementara itu Siti aku tugasi untuk menjaga beteng ini agar tidak dikuasai lawan. Kalau kemudian yang lainnya juga keluar untuk mengejar Surono, biarkan saja. Aku akan memanfaatkan situasi kekosongan di beteng lawan dengan menguasainya,” Naryo memberi petunjuk berbagi tugas dengan anak buahnya.
Setelah mendapat petunjuk dari pimpinannya, Yayuk segera keluar beteng untuk memancing keluarnya Darto atau Jono. Sesuai rencana Darto, maka Dartolah yang keluar mengejar Yayuk. Namun Yayuk adalah pelari cepat, jadi meskipun Darto seorang laki-laki, tidak mudah baginya untuk menyentuh Yayuk. Sesuai rencana Naryo, Surono lalu keluar ganti mengejar Darto. Sementara itu Yayuk segera kembali ke beteng untuk menyentuh pohon mangga yang dijadikan beteng sehingga membuat dirinya berderajat lebih tinggi dari Darto. Yayuk lalu menempatkan diri di depan para tawanan untuk menghalang-halangi Darto membebaskan para tawanan. Posisi Darto jadi terjepit. Mau kembali ke beteng ia dihalang-halangi Surono yang kuasa mematikannya. Mau terus maju membebaskan kawan-kawannya yang ditawan, dihalang-halangi Yayuk. Bahkan ia harus terus menghindari kejaran Surono. Tapi nampaknya Surono pun tidak berhasrat segera mematikan Darto. Kelihatannya ada sesuatu yang ditunggu-tunggu dari situasi seperti itu.
Keadaan itu membuat Jono jadi tidak sabar lagi. Ia ingin segera keluar untuk melepaskan Darto dari kejaran Surono. Caranya adalah dengan mengejar Surono untuk menangkapnya, atau setidak-tidaknya menghalaunya agar Darto punya kesempatan untuk kembali ke beteng. Tetapi ternyata keadaan itulah yang sudah ditunggu-tunggu kelompok Naryo. Begitu Jono berlari beberapa langkah meninggalkan beteng untuk mengejar Surono, Naryo secepat kilat berlari merebut beteng lawan. Ketika Jono berhasil menyentuhkan tangannya ke tangan Surono, Naryo sudah terlebih dahulu menepuk pohon munggur yang dijadikan beteng Darto.
”Aku menang! Aku menang! Beteng Darto sudah aku rebut! Beteng Darto sudah aku kuasai!” teriak Naryo.
Teriakan itu langsung disambut Surono, Yayuk, Siti dengan sorak kemenangan pula. Bahkan Pono yang ada di tempat tawanan kubu Darto juga ikut bersorak gembira menyambut kemenangan. Sesuai pasangan suit tadi sebelum permainan dimulai, kubu Darto menggendong kubu Naryo dari beteng Naryo di bawah pohon mangga ke beteng kubu Darto di bawah pohon munggur. Permainan betengan selesai. ***

Related posts:

No response yet for "Cerpen Anak Bertema Dolanan Bocah Tradisional: Bermain Betengan"

Post a Comment