Dolanan Tradisional Tempo Dulu: BERMAIN MASAK-MASAKAN

Contoh Cerita Anak Tema Dolanan Tradisional Tempo Dulu:

BERMAIN MASAK-MASAKAN

”Haura, lihat apa yang Om bawa!” kata Om Hardi kepada keponakannya ketika ia sudah dipersilakan masuk sebagai tamu di rumah adiknya. Keponakan yang baru kelas 2 Sekoah Dasar itu lalu berlari menemui Omnya. Ia mengamat-amati tas plastik hitam di tangan Om Hardi. Ia tidak melihat apa-apa kecuali tas plastik warna hitam.
Om Hardi adalah kakak ibu Haura yang tinggal di Palembang. Ia merantau bekerja di pabrik kayu lapis yang ada di sana. Kini untuk urusan pembagian warisan tanah ia pulang ke Klaten. Sudah beberapa hari ia tinggal di rumah nenek Haura yang tidak jauh letaknya dari rumah orang tua Haura. Ia akan tinggal untuk beberapa hari lagi sampai urusannya selesai. Sambil menunggu urusannya selesai pada waktu luang Om Hardi menyempatkan diri berziarah ke makam-makam bersejarah yang ada di Klaten. Di antaranya ke Makam Sunan Pandanaran di Bayat, lalu ke Makam Ki Ageng Gribig di Jatinom, dan ke Makam Raden Ngabei Ronggo Warsito di Palar Trucuk.
”Om bawa apa?” tanya Haura kemudian karena ia tidak dapat melihat apa yang ada di dalam tas plastik itu.
”Ini oleh-oleh buat Haura,” kata Om Hardi kemudian.
”Om baru pulang dari wisata ya? Haura kok tidak diajak?” tanya Haura setengah merajuk.
”Om tidak wisata kok. Om hanya berziarah ke makam Sunan Pandanaran di Bayat sana. Anak kecil tidak boleh ikut. Naik gunung tinggi, nanti Haura capek. Kelak kalau sydah besar Haura harus berziarah ke sana. Bisa ajak ayah ibu atau teman-teman,” jawab Om Hardi kemudian.
”Kok bawa oleh-oleh kalau tidak wisata?”
”Om tadi pulangnya mampir ke Desa Wisata di Melikan Wedi. Nah di desa yang banyak menjual kerajinan dari gerabah dan keramik itu, Om melihat ada mainan yang bagus buat Haura, makanya Om belikan mainan ini buat Haura,” ujar Om Hardi.
”Jadi oleh-oleh ini mainan buat Haura, Om?” tanya Haura gembira.
”Iya itu mainan buat kamu. Buka saja biar kamu tahu!”
”Apa mainannya, Om? Boneka Barbie, Teletabis, Upin-Ipin, Doraemon, Satria Baja Hitam, Spongborg, atau Masha dan Beruang?” tanya Haura ingin tahu.
”Bukan... Kalau kamu ingin bermain peran, mainan ini juga bisa dipakai untuk bermain peran. Tapi bukan sebagai Teletabis, Upin-Ipin, Doraemon, Satria Baja Hitam, Spongborg, atau Masha dan Beruang. Baiknya buka saja, nanti kamu akan tahu,” ujar Om Hardi mendesak.
Haura lalu meraih bungkusan tas plastik hitam yang ada di tangan Om Hardi. Ia segera membuka bungkusan itu dan mengeluarkan isinya. Ketika melihat ada mainan alat-alat rumah tangga serba kecil terbuat dari tanah liat yang sudah dibakar, Haura jadi terheran-heran.
”Apa ini Om? Mainan apa ini? Bagaimana memainkannya?” tanya Haura minta penjelasan. Ada rasa sedikit kecewa di hatinya, karena ia mengira akan mendapat hadiah semacam boneka Barbie atau boneka Masha yang sekarang lagi ngetop. Tak tahunya oleh-oleh yang katanya mainan itu hanyalah gerabah kecil menyerupai peralatan dapur. Begitu pun ia masih bingung dan tak tahu cara memainkannya.
Om Hardi tersenyum. Ia memaklumi kekecewaan dan kebingungan keponakannya. Anak-anak jaman sekarang memang tidak mengenal dolanan tradisional jaman dulu. Mereka tidak mengenal pasaran, anak-anakan, maupun masak-masakan. Mereka tidak seperti anak-anak pada masa kecilnya dulu, yang begitu asyik bermain pasaran, anak-anakan, masak-masakan, bahkan manten-mantenan dan sekolah-sekolahan. Anak-anak jaman dulu tidak pandang laki-laki atau perempuan, bersama-sama melakukan itu semua dengan penuh kesungguhan. Lain dengan anak-anak jaman sekarang.  Anak-anak jaman sekarang lebih akrab dengan tokoh-tokoh kartoon atau boneka di layar televisi dan di internet atau HP. Mereka lebih suka menjadi penonton dari pada menjadi pemain. Tapi kali ini Om Hardi sangat ingin merubahnya, setidak-tidaknya untuk satu permainan yang peralatannya sudah ia belikan, yaitu masak-masakan.
”Itu namanya alat untuk mainan masak-masakan. Bentuknya memang menyerupai peralatan rumah tangga, tetapi semua serba kecil. Itu berarti barang-barang itu hanyalah  suatu mainan, bukan sungguhan.”
”Lalu bagaimana cara memainkannya, Om? Mana boneka yang akan masak dan mana boneka yang akan makan?” kejar Haura.
”Haura, dalam dolanan masak-masakan tidak ada boneka atau robot yang disuruh masak ataupun disuruh makan. Pemainnya ya kamu dan kawan-kawanmu. Kalian pura-pura jadi orang yang melakukan kegiatan masak dan memakannya. Misalnya kalian pura-pura mengadakan lomba masak, maka peserta lomba masak ya kamu dan kawan-kawanmu. Yurinya bisa orang lain atau ya kamu juga, beralih peran pura-pura sebagai yuri, di samping sebagai peserta lomba. Itu lho kayak dalang dalam wayang kulit. Jadi bisa juga yang bermain masak-masakan itu hanya kamu seorang diri tapi merangkap peran orang-orang lain. Tetapi lebih baik kalau kamu bermain masak-masakan bersama kawan-kawanmu, jadi lebih seru,” penjelasan Om Hardi.
Haura masih bengong. Mungkin ia sedang membayangkan bermain masak-masakan seorang diri. Melakukan dialog, berbuat sesuatu, pura-pura masak, pura-pura menyajikan makanan, pura-pura mencicipi makanan, pura-pura mencela atau memuji masakan, semuanya dilakukan seorang diri, tapi pura-pura dilakukan lebih dari satu orang. Ia sudah mulai menangkap apa yang dijelaskan Om Hardi, tapi kayaknya agak sulit juga melakukannya.
”Sudah begini saja. Sekarang kamu ajak kawan-kawanmu ke mari. Siapa itu anaknya Bu Ika?” ujar Om Hardi.
”Mbak Haya,” jawab Haura.
”Iya, Mbak Haya. Lalu itu...Siapa? Oh ya, Vira dan Sonia. Nah kawan-kawanmu itu ajaklah ke mari. Biar nanti aku dan ibu kamu yang akan memberi tahu caranya bermain masak-masakan memakai perlengkapan dapur mini itu. Ibu kamu itu dulu jago lho kalau disuruh bermain masak-masakan, makanya sekarang dia juga jago masak. Sekeluarga paling enak masakannya,” ujar Om Hardi kemudian.
Haura lalu ke rumah Haya, Vira dan Sonia diajak bermain masak-masakan di rumahnya.
“Om Hardi baru saja membelikan aku mainan peralatan dapur mini untuk bermain masak-masakan. Jumlahnya banyak sekali. Nanti sebelum main kita akan diberi tahu caranya bermain masak-masakan. Kita kan belum pernah bermain seperti itu. Ibuku dulu jago kalau disuruh bermain seperti itu. Katanya asyik bermain masak-masakan itu,” kata Haura ketika berkeliling mengajak kawan-kawannya untuk bermain masak-masakan di rumahnya. Haya, Vira dan Sonia yang diajak, karena belum pernah dan karena pintarnya Haura menceritakan asyiknya bermain masak-masakan, jadi tertarik. Mereka langsung mengikut di belakang Haura.
 Sampai di rumah Haura, ibu Haura dan Om Hardi sudah menunggu. Kepada anak-anak dihidangkan oleh-oleh dari ziarah di Makam Sunan Pandanaran berupa intip/kerak nasi goreng, jenang ayu dan trasikan. Sambil anak-anak makan, ibu Haura dan Om Hardi menceritakan bagaimana asyiknya mereka dulu bermain masak-masakan menggunakan peralatan seperti yang dibelikan Om Hardi itu. Tapi dulu mendapatkan benda seperti itu mudah karena banyak yang membutuhkan. Di pasar-pasar ada banyak dijual bersama peralatan dapur dari tanah lainnya, seperti celengan/tabungan dari tanah liat, kendi, keren/tungku, kendil, cobek dan lain-lain. Tapi sekarang sudah jarang orang yang menjualnya. Harus mencarinya di desa-desa wisata tempat pembuatan keramik dan gerabah, seperti di Desa Melikan Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten.
Anak-anak mendengarkan cerita ibu Haura dan Om Hardi dengan penuh minat. Ketika mendengarkan itu, mereka ingin segera dapat bermain masak-masakan seperti ibu Haura dan Om Hardi dulu. Maka begitu cerita dan petunjuk ibu Haura dan Om Hardi selesai, dan perut mereka pun sudah kenyang makan oleh-oleh Om Hardi, anak-anak segera membawa mainan peralatan dapur mini oleh-oleh Om Hardi ke kebun. Sebelumnya, Haura pergi ke dapur dulu untuk mengambil tiga buah pisau sebagai perlengkapan penting dalam permainan masak-masakan ini. Mereka lalu bermain masak-masakan di kebun belakang rumah Haura.
”Kalau menggunakan pisau yang hati-hati lho ya! Jangan main sembarangan  dengan pisau, nanti bisa teriris tangan kalian!” pesan ibu Haura.
”Ya, Bu, kami akan berhati-hati menggunakan pisau. Jangan khawatir,” janji anak-anak.
Sesampai di kebun anak-anak lalu mencari tempat yang akan dijadikan tempat bermain. Mereka menggelar karpet plastik di sana. Kemudian diletakkannya replika peralatan dapur di atas karpet tersebut.
”Seperti petunjuk ibuku, mari kita mencari daun-daunan untuk kita jadikan bahan yang dimasak,” ajak Haura.
Mereka lalu mencari daun-daunan sebagai bahan makanan yang akan dimasak. Ada yang memetik daun singkong, daun kenikir, daun teh-tehan yang biasa dijadikan pagar pekarangan, dan lain-lain. Kebetulan di atas pagar daun teh-tehan ada tumbuhan parasit berwarna kuning yang menjalar-jalar seperti mie. Ayah Haura belum sempat membuang tumbuhan pengganggu yang merusakkan tanaman itu. Anak-anak lalu memetiknya untuk dijadikan bakmi-bakmi-an. Selain itu ada pula yang mengambil air sekedarnya.
”Ini pura-puranya kita sedang punya kerja. Di rumahku kalian sedang membantu masak-masak untuk pesta tasyakuran 35 hari kelahiran adikku. Bagaimana? Kalian setuju tidak?” tanya Haura.
”Setuju!!!” jawab Vira, Haya dan Sonia.
”Kalau begitu mari kita masak mie goreng, sambal goreng tahu, menanak nasi, dan menjerang air. Kita bagi-bagi tugas,” kata Haura.
”Aku yang masak mie goreng,” usul Vira.
”Aku yang masak sambal goreng tahu,” usul Haya.
”Lalu aku apa? Oh ya aku yang menjerang air. Kebetulan tadi aku sudah mengambil air,” ujar Sonia.
”Kalau begitu aku yang menanak nasi,” ujar Haura.
Anak-anak lalu bekerja seperti benar-benar sedang membantu kerja di rumah orang punya hajatan. Vira mencuci bakmi-bakmi-an yang tadi ia petik dari pagar teh-tehan. Lalu ia pura-pura meracik bumbu. Mengiris pangkal daun singkong kecil-kecil ditaruh di cobek, lalu pura-pura melembutkannya dengan menggunakan ulek-ulek. Setelah itu ia tempatkan wajan penggorengan di atas keren/perapian. Irisan pangkal daun singkong yang pura-puranya sebagai bumbu ia tuang ke dalam wajan. Lalu diongseng sebentar. Sesudah itu mie yang sudah dicuci dimasukkan ke dalam wajan. Vira menambahkan irisan daun ketela pura-puranya sebagai kobisnya. Ditambahkannya juga irisan kecil-kecil daun pisang pura-pura sebagai sledrinya. Kemudian Vira mulai menggorengnya. Memang tidak pakai api, tetapi Vira pura-pura menghidupkan api, kadang meniup ke dalam perapian juga untuk membesarkan api yang akan padam. Vira pun pura-pura mencicipinya juga, lalu menambahkan garam. Ketika sudah matang Vira menaruh mie yang sudah masak ke dalam panci. Mie sudah siap disajikan.
”Mienya sudah masak, tinggal menyajikan. Aku mau bantu yang lainnya. Siapa butuh bantuan?” kata Vira menawarkan diri.
Sementara itu Haya yang bertugas memasak sambal goreng sudah selesai ngulek bumbu dan sambalnya. Ia lalu mencari gedebok kulit batang pohon pisang untuk dijadikan rambak dan tahunya.
”Tolong kamu potong-potong gedebok kulit batang pohon pisang ini, kita pakai sebagai tahu dan tempenya. Bagian yang putih tebal kita anggap sebagai tahu, yang agak tipis kita anggap sebagai tempe, Untuk rambak kreceknya kita pakai irisan daun pisang yang sudah kering. Nah ini kamu potong-potong. Aku akan nyalakan apinya,” ujar Haya.
Haya dan Vira lalu bekerja bersama memasak sambal goreng.
”Wah ini kok tempayannya lebih kecil daripada pancinya? Cereknya juga tidak ada. Gayungnya juga tidak ada. Aku menciduk air pakai apa? Lalu aku nanti menjerang air pakai apa?” tanya Sonia kepada Haura.
”Tidak usah repot-repot mencari yang tidak ada. Pakai saja yang ada. Kita anggap saja tempayan itu jauh lebih besar dari panci, porong maupun cangkirnya. Kalau tidak ada cerek ya kamu pakai saja panci untuk menjerang air. Untuk menciduk air, kamu pura-pura menciduk air pakai gayung, tapi cukup di angan-angan saja, atau boleh kamu minciduk air sambil berkata, e aku menciduk air... satu, dua, tiga dan seterusnya,” ujar Haura.
”Begitu ya? Ya sudah aku menjerang air pakai panci saja. Sekarang aku mau menciduk air dari tempayan untuk mengisi panci. Satu...Dua...Tiga...Empat...Sudah penuh pancinya. Akan aku jerang di perapian sekarang.” Sonia lalu pura-pura menciduk air dari tempayan dimasukkan ke dalam panci. Kemudian ia menaruh panci itu ke atas keren/perapian. Selanjutnya ia menyalakan api. Setelah beberapa saat Sonia pura-pura memasukkan beberapa jimpit teh kedalam porong. Lalu dengan cangkir ia menciduki air menidih dari panci dituangkan ke dalam porong.
Haura yang kebagian tugas menanak nasi mengambil panci. Ia masukkan tanah ke dalam panci tersebut.
”Tanah ini pura-puranya sebagai berasnya. Sebelum ditanak beras ini akan aku cuci dulu,” ujar Haura sambil mengucurkan sedikit air ke dalam panci berisi tanah. Ia lalu pura-pura mencuci beras, pura-pura mengganti air berkali-kali hingga beras dirasa bersih.
“Karena tak ada periuknya, panci ini pura-puranya aku anggap sebagai periuknya. Akan aku tanak nasi ini di atas perapian,” ujar Haura sambil menaruh panci di atas perapian. Lalu ia menyalakan api. Seperti orang menanak nasi betulan ia menunggui masakannya matang. Kadang ia juga meniup-niup perapian untuk menghidupkan api yang kadang hampir mati.
Begitulah Haura, Vira, Haya dan Sonia sibuk bermain masak-masakan. Mereka bekerja saling bantu membantu. Kadang-kadang mereka bercakap-cakap dengan temannya, tetapi kadang-kadang mereka juga bicara sendiri kalau membutuhkan suatu peralatan tetapi yang dibutuhkan itu tidak ada. Mereka memegang suatu benda yang ada kemiripannya dengan benda yang dibutuhkan, maka mereka akan mengatakan, “Ini pura-puranya sebagai....nya. lalu mereka mempergunakan benda itu sebagaimana orang menggunakan benda yang ditiru.
Ketika semua masakan sudah siap, datang Wahyu, Dito dan Doni di kebun tempat Haura dan kawan-kawan bermain masak-masakan. Mereka heran melihat kawan-kawannya asyik bermain masak-masakan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
“Hei..Kalian ini sedang apa di sini? Apa ini kok ada alat-alat dapur mini di sini?” tanya Wahyu heran.
“Ini namanya masak-masakan. Pura-puranya kami sedang punya hajat tasyakuran 35 hari kelahiran adik aku. Kebetulan ini masakan sudah matang semua. Kalian jadi tamunya yang datang ke rumah hajatan ya? Nanti kami akan menghidangkan makanan-makanan ini kepada kalian. Ceritanya kita pesta di sini,” ujar Haura memberi penjelasan.
”Begitu ya? Tapi bagaimana kami memakannya? Itu semua kan benda-benda yang tidak enak dimakan. Masak kami disuruh makan tanah, bakmi-bakmian, gedebok kulit batang pisang dan lain-lain,” ujar Dito.
”Ini hanya mainan, jangan dimakan beneran. Pura-pura saja. Kalian sendoki makanan pura-pura ini, lalu kamu dekatkan ke mulut kalian. Pura-puranya kalian makan, mengenyami, merasa pedas,asin, gurih, atau nikmat. Kalian beri komentar. Lalu kalian kembalikan makanan pura-pura ini ke tempat semula. Itu sudah dianggap kalian makan di pesta hajatan ini,” ujar Vira memberi petunjuk.
”Jadi begitu ya? Kalau begitu aku mau bermain masak-masakan sama kalian,” kata Wahyu, Dito dan Doni bersama.
Mereka pun lalu bermain masak-masakan bersama. Kali ini sudah sampai pada bagian pesta. Wahyu, Dito dan Doni datang bertamu ke rumah Haura yang sedang punya hajat. Mereka dipersilakan duduk di karpet. Lalu kepada mereka dihidangkan makanan hasil masak-masakan Haura dan kawan-kawan. Pura-puranya mereka bercakap-cakap sambil makan hidangan yang tersedia.
Anak-anak merasakan asyiknya bermain masak-masakan. Tak terasa hari sudah siang. Sudah waktunya mereka pulang untuk makan siang dengan makanan yang sesungguhnya. Perut mereka sudah keroncongan. Bermain masak-masakan yang hanya melakukan tiruan, termasuk makan pun hanya pura-pura, hanya ada di dalam angan-angan, membuat perut mereka semakin merasakan lapar. Mereka ingin makanan yang sesungguhnya di rumah mereka masing-masing.
”Dari tadi hanya pura-pura makan terus, sekarang perutku justru jadi lapar beneran. Ayo kita sudahi permainan masak-masakan ini. Kita pulang untuk makan nasi, sayur dan lauk beneran di rumah,” ajak Sonia.
”Setuju! Mari kita pulang, perutku juga sudah merasa lapar,” sahut Haya.
”Eit...! Jangan pulang dulu! Mari kita beresi dulu peralatan ini! Mari kita cuci bersama-sama, biar besok kalau kita akan main masak-masakan lagi, kita tinggal pakai. Yang laki-laki tolong kami dibantu membersihkan tempat ini!” ujar Haura.
”Ya mari kita beresi bersama barang-barang dan tempat ini!” kata anak-anak bersama-sama.
Mereka lalu membersihkan tempat dan peralatan yang digunakan bermain masak-masakan. Setelah itu mereka membantu menyimpannya di rumah Haura, Barulah kemudian anak-anak yang sudah merasa lapar beneran tetapi puas bermain masak-masakan itu pulang ke rumah mereka masing-masing. *** 

Related posts:

No response yet for "Dolanan Tradisional Tempo Dulu: BERMAIN MASAK-MASAKAN"

Post a Comment