Naskah Drama Sejarah: Gelora Proklamasi Kemerdekaan

contoh naskah drama tema sejarah


NASKAH DRAMA SEJARAH:

GELORA PROKLAMASI KEMERDEKAAN
DI KABUPATEN KLATEN


PARA PELAKU

1.      K.R.M.T. YUDONEGORO, Bupati Klaten dalam pemerintahan swapraja jaman permulaan revolusi kemerdekaan Indonesia
2.      SUSANDI, Tokoh pejuang kemerdekaan, kemudian diangkat menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) di Kabupaten Klaten
3.      DOKTER SOERAJI TIRTONEGORO, Seorang dokter yang juga tokoh pejuang kemerdekaan, Ketua B.P.R.I., kemudian diangkat menjadi Wakil Ketua KNI di Kabupaten Klaten. Sebagai tokoh yang berjasa di bidang kesehatan bersama Prof. Dr. Sarjito, sekarang namanya diabadikan menjadi nama RSUP Dr. Soeraji Tirtonegoro.
4.      MOCH. BUSTANIM, Tokoh pejuang kemerdekaan, kemudian diangkat menjadi Bagian Penerangan KNI di Kabupaten Klaten
5.      SOENITIYOSO, Tokoh pejuang kemerdekaan, bekas shodanco PETA, kemudian diangkat menjadi Komandan Batalyon T.K.R. di Klaten dengan pangkat Mayor (terakhir Brigjen Purnawirawan)
6.      KATAMSO, Tokoh pejuang kemerdekaan, bekas shodanco PETA, kemudian diangkat Komandan Kompi II TKR, berkedudukan di Gondangwinangun (terakhir Brig. Jen. Anumerta, Pahlawan Revolusi, korban G 30 S/PKI)
7.      ROESTOMO, Tokoh pejuang kemerdekaan, bekas shodanco PETA, kemudian diangkat Komandan Kompi III TKR, berkedudukan di Dongkermun – Semangkak (terakhir Mayor Jendral Purnawirawan)
8.      DARMOWIKARNO, Tokoh pejuang kemerdekaan, anggota Polisi Klaten
9.      SUNITO, Tokoh pejuang kemerdekaan, anggota Polisi Klaten
10.  SUPARMAN, Tokoh pejuang kemerdekaan, anggota Polisi Klaten
11.  HADISUNARTO, Tokoh pemuda pejuang kemerdekaan dari AMRI
12.  MAJIMAN, Tokoh pemuda pejuang kemerdekaan, bekas PETA
13.  SUMARDI, Tokoh pemuda pejuang kemerdekaan dari AMRI
14.  DOMOPRANOTO, Wakil Kepala Polisi Daerah Surakarta
15.  SUNARTO KUSUMODIRJO, Anggota BKR Surakarta
16.  MANGKUSUDIYONO, Anggota BKR Surakarta
17.  TOTONG, Tokoh pejuang kemerdekaan dari AMI
18.  YUGOSIRO, Kepala Polisi Jepang di Klaten
19.  POLISI JEPANG 1, Anak buah Yugosiro
20.  POLISI JEPANG 2, Anak buah Yugosiro
21.  HAMANU, Komandan Markas Tentara Jepang di Banyakan
DAN PARA FIGURAN

PROLOG

DIIRINGI LAGU MARS “HARI MERDEKA/17 AGUSTUS 1945”, NARATOR BERDIRI DI PANGGUNG BELAKANG YANG AGAK TINGGI MEMBACAKAN NARASI:

Bak gayung bersambut
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang
dibacakan Dwi Tunggal Ir. Sukarno – Drs. Mohammad Hatta,
ditanggapi dengan gembira oleh seluruh rakyat Indonesia.
Di Jakarta dikibarkan Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih,
di daerah-daerah dikibarkan Bendera Putera Sang Dwi Warna Merah Putih.
Di Jakarta dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat,
di daerah pun dibentuk Komite Nasional Indonesia
sampai ke tingkat kelurahan.

Dengan semangat perjuangan dan kegotong-royongan
seluruh rakyat bersatu mewujudkan
kemerdekaan yang sudah diproklamirkan
dengan merebut kekuasaan dan melucuti persenjataan
yang masih dipegang penjajah Jepang.  
Komite Nasional Indonesia di daerah,
bersama pemerintah setempat,
para pejuang bekas PETA,
bekas HEIHO, Pelaut,
Legiun Mangkunegaran,
Bekas KNIL,
Barisan Pelopor SUISITAI,
Jibakutai,
dan para santri
serta laskar-laskar perjuangan,
berlomba dengan waktu,
jangan sampai kedahuluan
datangnya tentara sekutu,
yang kemungkinan besar akan
diboncengi tentara Belanda,
mereka bersama-sama melaksanakan
perlucutan senjata tentara Jepang
dan melakukan pengambil alihan kantor-kantor
dan pabrik-pabrik yang masih dikuasai Jepang.

Di Klaten,
daerah yang terletak di antara Yogyakarta dan Surakarta,
tak mau ketinggalan.
Dengan petunjuk yang diperoleh dari konsultasi di Jakarta,
kepada Menteri Sosial Iwa Kusumasumantri dan lain-lain,
Komite Nasional Indonesia di daerah Klaten segera dibentuk,
badan-badan perjuangan juga segera dibentuk
Demikian juga Angkatan Muda Tentara,
yang kemudian menjadi BKR,
dan selanjutnya menjadi TNI.
Bersama rakyat mereka berjuang
melucuti senjata dan mengambil alih kekuasaan
dari tangan Jepang,
baik di bidang pemerintahan,
maupun di bidang ekonomi.

Maka inilah kisahnya,
gelora Proklamasi Kemerdekaan
Negara Republik Indonesia
di daerah Kabupaten Klaten.

BAGIAN SATU

MALAM HARI. RUANG KERJA BUPATI KLATEN. ADA MEJA KERJA DAN BEBERAPA KURSI DI BELAKANG DAN DI KANAN-KIRI MEJA KERJA. TERLIHAT JUGA PAYUNG SONG-SONG HIAS BERSUSUN LAMBANG KEBESARAN DAN KEKUASAAN DI SAMPING TEMPAT DUDUK BUPATI. TERLIHAT BUPATI KLATEN K.R.M.T. YUDONEGORO DIHADAP BEBERAPA ORANG PEJABAT DAN TOKOH KABUPATEN KLATEN JAMAN AWAL KEMERDEKAAN: MOCH. BUSTANIM, SUSANDI, DOKTER SOERAJI TIRTONEGORO, SOENITIYOSO, ROESTOMO, KATAMSO, HADISUNARTO, DAN DARMOWIKARNO. MEREKA MEMBICARAKAN PETUNJUK DARI PEMERINTAH PUSAT YANG DIBAWA MOCH. BUSTANIM DARI JAKARTA UNTUK DAERAH-DAERAH, KHUSUSNYA KABUPATEN KLATEN, DALAM RANGKA MENANGGAPI PROKLAMASI KEMERDEKAAN YANG SUDAH DIPROKLAMIRKAN OLEH DWI TUNGGAL IR.SOEKARNO – DRS. MOH. HATTA DI PEGANGSAN TIMUR JAKARTA.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Sebelum pertemuan ini kita mulai, tolong Saudara Darmowikarno lihat di luar, apakah tidak ada orang Jepang, atau serdadu Jepang, atau mata-mata yang berpihak kepada Jepang di luar, mengintip atau berusaha menguping kita!

DARMOWIKARNO

Baik Kanjeng Bupati. (ke luar sebentar. Setelah beberapa saat di luar, ia kembali lagi)  Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua aman-aman saja, Kanjeng Bupati.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Baiklah kalau begitu. Semua saya persilakan duduk dengan tenang. Kita akan membicarakan rencana yang sangat rahasia. Untuk itu saya berharap di antara kita jangan ada yang berkhianat. Dan kita perlu dukungan penuh dari Saudara-saudara semua dalam rapat ini.

SEMUA YANG HADIR

Baik, Kanjeng Bupati.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Saudara-saudara sekalian saya ajak berkumpul di ruang kerja saya ini, karena ada hal-hal mendesak yang harus kita bicarakan bersama. Pembicaraan ini menyangkut langkah-langkah yang harus kita kerjakan menyambut Proklamasi Kemerdekaan yang sudah dibacakan pemimpin nasional kita Dwi Tunggal Soekarno – Hatta di Jakarta. Apakah Saudara-Saudara semua sudah tahu kalau negara kita saat ini sudah merdeka?

SEMUA YANG HADIR

Tahu Kanjeng Bupati. Pemimpin kita Soekarno – Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 ini di Jakarta.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Dari mana Saudara-saudara tahu berita kemerdekaan itu?



SEMUA YANG HADIR

Dari berita di surat kabar ”Kedaulatan Rakyat”, Kanjeng Bupati, tanggal 18 Agustus 1945.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Bagus kalau Saudara-saudara semua sudah tahu kabar yang sudah lama kita tunggu-tunggu itu. Namun demikian harus Saudara-saudara ketahui pula, bahwa proklamasi itu tidak berarti mantra sulap bim salabim, otomatis kita langsung jadi bangsa yang merdeka sepenuhnya, terlepas dari belenggu penjajahan. Proklamasi itu tidak berarti semua kekuasaan dan alat-alat negara, termasuk persenjataan langsung diserahkan penjajah kepada kita. Tidak! Kemerdekaan itu masih harus kita perjuangkan! Kemerdekaan itu masih harus kita wujudkan menjadi kenyataan secara de facto maupun secara de yure. Caranya adalah dengan merebutnya dari tangan penjajah. Dalam hal ini, karena pada saat ini kita sedang dijajah Bangsa Jepang, ya harus kita rebut dari tangan Jepang yang sekarang masih kuat bercokol di negara kita.

DOKTER SOERAJI TIRTONEGORO

Benar Kanjeng Bupati. Saat ini di daerah kita Jepang masih kuat. Mereka bersenjata lengkap, berada di Banyakan, di complek Pabrik Gula Ceper, di Jatinom, di Lapangan Terbang Demangan dan di tempat-tempat lain.

SUSANDI

Mereka juga berada di Pabrik Gula Gondangwinangun dan di Kantor Polisi. Mereka masih berbahaya karena bersenjata lengkap.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Ini berarti ancaman dari pihak penjajah untuk menggagalkan proklamasi kemerdekaan masih kuat. Karena persenjataan dan kekuasaan masih ada di tangan mereka. Oleh karena itu kita harus mengambil alih kekuasaan sepenuhnya dari tangan mereka, sebagai perwujudan dari kemerdekaan dan kedaulatan negara kita.

SOENITIYOSO

Meskipun kekuasaan dan persenjataan masih di tangan mereka, tetapi saya lihat semangat tempur mereka sudah merosot. Mereka tidak segarang dulu lagi. Mungkin hal ini karena mereka tahu kalau sudah dikalahkan oleh Sekutu. Cepat atau lambat mereka harus menyerahkan kekuasaan yang ada di tangan mereka.

MOCH BUSTANIM

Masalahnya, mereka harus menyerahkan kekuasaan kepada siapa? Jepang memang bertekuk lutut kepada sekutu. Tetapi mereka yang berada di Indonesia, tentu juga tahu kalau bangsa Indonesia sekarang ini sudah memproklamasikan kemerdekaannya. Indonesia sekarang ini sudah menyatakan diri sebagai negara  merdeka. Indonesia sekarang ini sudah tidak ingin dijajah bangsa lain, termasuk oleh Belanda maupun Sekutu. Akankah mereka menunggu Sekutu datang, lalu menyerahkan kekuasaannya kepada Sekutu?


ROESTOMO

Itu tidak boleh terjadi! Karena itu berarti mereka telah membuta-tulikan dirinya atas kenyataan di sekelilingnya. Yaitu bahwa mereka berada di negara yang sekarang ini sudah menyatakan diri sebagai negara yang merdeka. Maka sebelum sekutu datang untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang, kita harus merebutnya dulu dari tangan mereka!

K.R.M.T. YUDONEGORO

Untuk itulah saat ini Saudara-saudara semua saya ajak berkumpul di ruang kerja saya ini, untuk mendengarkan laporan Saudara Moch. Bustanim yang baru saja pulang dari Jakarta. Seperti telah kita ketahui semua, beberapa waktu yang lalu telah datang rombongan dari Surabaya di bawah pimpinan Saudara Syamsu Harya Udaya, dan dari Solo di bawah pimpinan Saudara Sumarsoto. Mereka mengajak Saudara Moch Bustanim ke Jakarta menemui Menteri Sosial Iwa Koesoemasoemantri dan lain-lain untuk mendapatkan penjelasan dan petunjuk-petunjuk lebih lanjut.
(Kepada Moch. Bustanim) Silakan Saudara Moch. Bustanim menyampaikan laporannya.

MOCH. BUSTANIM

Terima kasih, Kanjeng Bupati. Di Jakarta kami mendapat instruksi agar segera mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang sebagai realisasi kemerdekaan yang sudah diproklamirkan. Kalau mungkin, dilaksanakan dengan perundingan secara damai, agar tidak banyak jatuh korban. Tetapi kalau mereka bersikeras mempertahankan, apa boleh buat, kekerasan harus kita tempuh!

K.R.M.T. YUDONEGORO

Apakah pemerintah pusat memberi petunjuk, siapa yang akan melakukan aksi pengambil-alihan kekuasaan itu? Apakah pemerintah kabupaten yang sekarang sudah ada di daerah-daerah? Atau perlu dibentuk organisasi baru yang akan melakukan tugas tersebut?

MOCH. BUSTANIM

Petunjuk dari pusat, kita harus membentuk K.N.I. singkatan dari ”Komite Nasional Indonesia” mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat kelurahan. Komite Nasional Indonesia inilah bersama pemerintah yang sudah ada, yang bertugas mengambil alih kekuasaan dari tangan penjajah. Selain itu kita perlu membentuk Angkatan Muda Tentara sebagai kekuatan militer untuk menghadapi penjajah apabila mereka mempertahankan kekuasaannya.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Kalau begitu saat ini juga kita bentuk Komite Nasional Indonesia di tingkat Kabupaten Klaten. Kita tunjuk,
Ketua                          : Sdr. Susandi
Wakil Ketua                : Sdr. Dokter Soeraji Tirtonegoro
Bagian Penerangan     : Sdr. Moch. Bustanim
Untuk melengkapi organisasi ini saya persilakan Saudara bertiga menyusun seksi-seksi dan menunjuk sendiri anggotanya.

SUSANDI, DOKTER SOERAJI TIRTONEGORO, MOCH. BUSTANIM

Siap Kanjeng Bupati!


K.R.M.T. YUDONEGORO

Untuk membentuk Angkatan Muda Tentara, Sdr. Soenitiyoso, Sdr. Roestomo dan Sdr. Katamso yang sudah berpengalaman sebagai Shodanco di PETA Daidan Wonogiri kita tugaskan untuk menghimpun pemuda-pemuda pejuang bekas PETA, HEIHO, Pelaut, Legiun Mangkunegaran, KNIL, Barisan Pelopor SUISITAI, JIBAKUTAI dan lain-lainnya menjadi Angkatan Muda Tentara atau AMT di Klaten.

SOENITIYOSO, ROESTOMO, KATAMSO

Siap Kanjeng Bupati.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Saudara Soenitiyoso bertugas menggerakkan Angkatan Muda Tentara di daerah sekitar kota Klaten.

SOENITIYOSO

Siap Kanjeng Bupati.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Saudara Roestomo menggerakkan Angkatan Muda Tentara di daerah Kawedanan Pedan.

ROESTOMO

Siap Kanjeng Bupati.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Saudara Katamso menggerakkan Angkatan Muda Tentara di daerah Kawedanan Gondangwinangun.

KATAMSO

Siap Kanjeng Bupati.

HADISUNARTO

Tanya Kanjeng Bupati?

K.R.M.T. YUDONEGORO

Silakan Saudara Hadisunarto.

HADISUNARTO

Kalau misalnya dari beberapa komponen masyarakat ingin ikut serta ambil bagian dalam barisan para pejuang, dengan membentuk badan-badan perjuangan, apa diperkenankan Kanjeng Bupati?

K.R.M.T. YUDONEGORO

Itu yang kita harapkan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan kepada Angkatan Muda Tentara yang dipimpin Sdr. Soenitiyoso, Sdr. Roestomo, dan Sdr. Katamso saja. Tetapi kita membutuhkan bantuan dari seluruh potensi yang ada di daerah kita. Untuk memperkuat perjuangan kemerdekaan, kita membutuhkan benteng pertahanan dan kekuatan pendobrak yang kuat. Badan-badan Perjuangan dan Angkatan Muda di berbagai sektor, seperti di kalangan Pamong Praja dan di Perkereta-Apian, kalangan wanita, dan para santri, perlu kita gerakkan.

HADISUNARTO

Terima kasih Kanjeng Bupati. Kalau begitu kita persilakan barisan – barisan para pejuang yang ingin tampil membela negara kita. Saya dengar ada barisan Laskar Rakyat, Laskar Wanita, Barisan Banteng, Hisbullah, Sablillah dan lain-lain yang akan ikut berjuang membela negara kita.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Bagus! Silakan rakyat ikut bergabung dalam organisasi-organisasi itu atau membentuk organisasi baru, kalau ingin ikut berjuang membela negara kita.

MOCH. BUSTANIM

Berkaitan dengan hasil konsultasi kami dengan pemerintah pusat di Jakarta, perlu kami laporkan pula di sini petunjuk-petunjuk lainnya, Kanjeng Bupati.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Silakan Saudara Moch. Bustanim.

MOCH. BUSTANIM

Untuk menggelorakan semangat perjuangan kemerdekaan, diserukan penggunaan salam ”M E R D E K A” dengan mengacungkan tangan terkepal ke atas. Begini Kanjeng... (Memperagakan tangan mengepal mengacung ke atas sambil berteriak”MERDEKA”)

K.R.M.T. YUDONEGORO

Bagus! Kita sudah punya pekik kemerdekaan untuk menggelorakan semangat juang kita. Apakah masih ada petunjuk lainnya Sdr. Moch. Bustanim?

MOCH. BUSTANIM

Ada Kanjeng Bupati. Kita harus lebih mengobarkan semangat kemerdekaan dengan menuliskan semboyan-semboyan kemerdekaan di mana-mana.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Baik, nanti kita tuliskan semboyan ”SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA” atau semboyan ”MERDEKA ATAU MATI” dan lain-lainnya dengan spanduk yang dipancangkan di jalan-jalan, atau ditulis di tembok-tembok gedung dan di gerbong-gerbong kereta api. Apakah masih ada yang lainnya?

MOCH. BUSTANIM

Ada Kanjeng Bupati. Kebulatan tekad untuk menegakkan Negara Republik Indonesia yang baru saja diproklamirkan harus ditunjukkan dengan nyata, ialah dengan mengibarkan bendera Sang Merah Putih sebagai bendera Negara Republik Indonesia.


K.R.M.T. YUDONEGORO

Baik, kita tugaskan Sdr. Hadisunarto dan Sdr. Darmowikarno untuk mempersiapkan pengibaran bendera Sang Merah Putih di kantor Polisi. Ajak para pemuda membentuk AMRI, Angkatan Muda Republik Indonesia, dengan tugas antara lain mengawal pengibaran bedera Sang Merah Putih di Kantor Polisi!

HADISUNARTO dan DARMOWIKARNO

Siap Kanjeng Bupati.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Selanjutnya untuk lebih mengobarkan semangat kemerdekaan, kepada seluruh rakyat, terutama kepada para pejuang dan para pemuda, dianjurkan untuk memakai lencana Merah Putih. Umumkan ini kepada seluruh rakyat di Kabupaten Klaten!

SEMUA YANG HADIR

Siap Kanjeng Bupati!

K.R.M.T. YUDONEGORO

Setelah semua organisasi yang kita rencanakan terbentuk, secepatnya mengadakan rapat, lalu kita mulai mengadakan aksi pengambil-alihan kekuasaan dari orang-orang Jepang. Yang pertama harus kita lakukan dalam pengambil-alihan ini adalah perlucutan senjata Jepang yang ada di kantor Polisi. Untuk itu harus dilakukan persiapan secara matang. Angkatan Muda sebagai tenaga pendobrak harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Sdr. Darmowikarno sebagai anggota polisi Klaten agar dapat mengkondisikan dari dalam.

SEMUA YANG HADIR

Baik Kanjeng Bupati.

K.R.M.T. YUDONEGORO

Untuk sementara pertemuan saya anggap cukup. Kita tinggal menindaklanjutinya dengan aksi yang nyata. Sekarang mari kita bubaran untuk mempersiapkan diri menghadapi tugas berat yang sudah menanti di pundak kita. Sekarang bubaran, dan selamat bekerja! (Kemudian K.R.M.T. YUDONEGORO berdiri, sambil mengepalkan tangan teracung ke atas) Merdeka!

SEMUA YANG HADIR

Merdeka!

K.R.M.T. YUDONEGORO

Merdeka!

SEMUA YANG HADIR

Merdeka!



K.R.M.T. YUDONEGORO

Merdeka!

SEMUA YANG HADIR

Merdeka!

K.R.M.T. YUDONEGORO

Terimakasih.

MEREKA SEMUA KELUAR. LAYAR TURUN.


BAGIAN KEDUA


PAGI HARI DI MUKA STASIUN KERETA API KLATEN. PARA PEMUDA DAN RAKYAT BIASA DIDUKUNG ANGKATAN MUDA TENTARA BEKAS HEIHO DAN PETA BERKUMPUL DI MUKA STASIUN KERETA API UNTUK PERSIAPAN PENGIBARAN BENDERA SANG MERAH PUTIH DI KANTOR POLISI. MEREKA MEMBAWA SENJATA SEADANYA. ANGKATAN MUDA TENTARA MEMBAWA SENJATA BEDIL, YANG LAINNYA PARA PEMUDA PEJUANG BANYAK YANG MEMBAWA PEDANG, KERIS DAN GERANGGANG BAMBU RUNCING DI TANGAN KANANNYA. MEREKA JUGA MEMBAWA SPANDUK-SPANDUK BERISI SEMBOYAN-SEMBOYAN KEMERDEKAAN. PEMUDA DAN RAKYAT BIASA DI KEDUA TANGANNYA MEMBAWA BENDERA MERAH PUTIH KECIL-KECIL DARI KERTAS YANG DITEMPEL DI SEBILAH BAMBU. PARA PEMUDA INI DIPIMPIN HADISUNARTO, SUMARDI DAN MAJIMAN.

HADISUNARTO

(Gaya seorang orator sedang berpidato) Saudara-saudara! Saat ini negara kita sudah merdeka! Proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia sudah dibacakan oleh pemimpin kita Ir. Sukarno dan Drs Mohammad Hatta di Jakarta. Sebagai tanda kebulatan tekad dukungan kita kepada Negara Republik Indonesia yang baru saja diproklamirkan, harus ditunjukkan  dengan pengibaran bendera Sang Merah Putih di wilayah kita. Saat ini kita berkumpul di sini untuk bersama-sama menyaksikan, memberi penghormatan dan menjaga pengibaran bendera Sang Merah Putih yang pertama kali di alam merdeka di daerah kita. Rencananya pengibaran bendera itu akan dilakukan di Kantor Polisi pagi ini pukul 06.00 WIB. Oleh karena itu marilah kita berbaris dengan tertib, berjalan dengan penuh semangat menuju ke kantor Polisi.
(Kepada Majiman bekas Heiho) Sdr. Majiman, pasukan agar disiapkan, lalu dibariskan berjalan menuju Kantor Polisi sambil menyanyikan lagu ”Berkibarlah Benderaku”!

MAJIMAN

Siap Sdr. Hadisunarto!

MAJIMAN SEGERA MENATA BARISAN SIAP-SIAP MENUJU KE KANTOR POLISI. KEMUDIAN BARISAN BERJALAN BERSAMA SAMBIL MENYANYIKAN LAGU ”BERKIBARLAH BENDERAKU” DENGAN BERSEMANGAT.  TIBA-TIBA DARI ARAH DEPAN DATANG DARMOWIKARNO MENGHADAP HADISUNARTO.

DARMOWIKARNO

Maaf Sdr. Hadisunarto. Barisan ini akan dibawa ke mana?

HADISUNARTO

(Kepada Majiman) Sdr. Majiman, tolong barisan diberhentikan dulu.

MAJIMAN

Barisan, berhenti...gerak!

BARISAN BERHENTI SERENTAK. NYANYIAN MARS BERKIBARLAH BENDERAKU PUN BERHENTI.

HADISUNARTO

(Kepada Darmowikarno) Sesuai kesepakatan rapat di rumah saya tadi malam, pagi ini kita akan mengibarkan bendera Sang Merah Putih di Kantor Polisi. Sebagai kekuatan pendobrak dan benteng pertahanan bangsa kita, para pemuda dan rakyat semua kita ajak menyaksikan dan menjaga segala kemungkinan dalam pengibaran bendera negara kita pagi ini.

DARMOWIKARNO

Maaf Sdr. Hadisunarto. Kalau apa yang telah kami kerjakan dianggap lancang, sebelumnya saya mohon maaf. Ketahuilah, tadi malam jam 12.00 malam, sesudah rapat di Sikenong, di rumah Saudara, bendera Sang Merah Putih sudah saya kibarkan bersama Sdr. Sunito dan Sdr. Suparman. Kami bertiga anggota Polisi melihat kesempatan terbuka, tak sabar lagi menunggu datangnya esok hari. Malam itu juga bendera kami kibarkan di halaman Kantor Polisi. Apakah ini salah, Sdr. Hadisunarto?

HADISUNARTO

Ini memang pelanggaran disiplin. Tetapi saya dapat memakluminya. Memang begitulah semangat anak-anak muda kalau sudah mau berjuang untuk tanah airnya. Tapi tak apalah, yang penting semua telah berjalan lancar dan tidak ada hambatan apa-apa.

DARMOWIKARNO

Siap Sdr. Hadisunarto. Semua berjalan aman dan lancar. Tidak ada hambatan sama sekali.

HADISUNARTO

Kalau begitu, barisan ini kita bawa parade keliling kota saja. (Kepada kelompok yang sedang berbaris) Karena bendera Sang Saka Merah Putih sudah dikibarkan oleh          Sdr. Sunito, Suparman dan Darmowikarno tadi malam jam 12.00, kita tidak langsung ke Kantor Polisi. Untuk mengobarkan semangat, meningkatkan keberanian, dan kerelaan berkorban demi kemerdekaan Tanah Air, marilah kita berbaris keliling kota sambil menyanyikan lagu ”Indonesia Tetap Merdeka” diseling mengumandangkan pekik ”MERDEKA” di sepanjang jalan!

SEMUA YANG HADIR

Siap Ketua!

HADISUNARTO

Sdr. Majiman, pasukan agar disiapkan, lalu dibariskan berjalan keliling kota lewat Mlinjon, Kauman, Pandanrejo, Bareng, lalu kita kumpul di Alun-alun Klaten. Baru setelah itu kita menuju ke Kantor Polisi untuk merebut senjata dari tangan Polisi Jepang!

MAJIMAN

Siap Ketua!
(Menghadap ke barisan, memberi aba-aba) Barisan pendobrak mari keliling kota. Belok kiri... gerak! Maju ... jalan!

BARISAN SEREMPAK BELOK KIRI LALU BERJALAN SAMBIL MENYANYIKAN LAGU ”MAJU TAK GENTAR” DISELING MENERIAKKAN PEKIK KEMERDEKAAN DI SEPANJANG JALAN. YANG MEMBAWA SPANDUK MEMBENTANGKAN SPANDUKNYA DI DEPAN DAN DI SAMPING. MEREKA LALU KELUAR PANGGUNG.

LAYAR TURUN.

BAGIAN KETIGA

PAGI HARI. RUANG KERJA YUGOSIRO DI KANTOR POLISI.  KEPALA POLISI JEPANG: YUGOSIRO DIDAMPINGI DUA ORANG POLISI BANGSA JEPANG DAN DUA ORANG POLISI BANGSA INDONESIA: SUNITO DAN SUPARMAN SEDANG BEKERJA. TIBA-TIBA TERDENGAR RIBUT-RIBUT DI LUAR SEHINGGA MENGGANGGU KONSENTRASI KERJA KEPALA POLISI.

YUGOSIRO

(Kepada Sunito) Ada ribut-ribut di luar. Ada apa itu, Sunito, coba lihat!

SUNITO BERJALAN SAMPAI DI DEPAN PINTU. IA MELIHAT KEADAAN DI LUAR. SETELAH ITU IA KEMBALI UNTUK MELAPOR KEPADA YUGOSIRO.

SUNITO

Rakyat dan tentara  Indonesia telah mengepung kantor kita, Tuan Yugosiro. Mereka bersenjata bedil, pedang, keris dan bambu runcing.

YUGOSIRO

Bagero! Apa kerja piket yang berjaga-jaga di pintu halaman?

SUNITO

Agaknya mereka telah dapat dilumpuhkan. Tak ada satu pun dari mereka terlihat di halaman.

YUGOSIRO

Mau apa mereka berbondong-bondong ke sini, mengepung Kantor Polisi dengan bersenjata  pula?

POLISI JEPANG 1

Mungkin mereka akan merampok kita. Mereka akan menjarah milik kita, karena mereka tahu kita sudah kalah perang.

POLISI JEPANG 2

Mungkin mereka akan menuntut balas atas kelakuan kita sebelumnya, ketika kita masih merasa sebagai bangsa yang tak terkalahkan.

YUGOSIRO

Bagero! Ini tidak bisa dibiarkan! Senjataku... bedilku... Mana bedilku?

SUPARMAN

Senjata Tuan sudah diamankan. Tinggal pestol yang ada di pinggang Tuan.

YUGOSIRO

Diamankan? Apa maksudnya?

SUPARMAN

Senjata Tuan dan senjata para polisi ini diam-diam sudah kami singkirkan.

YUGOSIRO

Kamu dan Sunito yang menyingkirkan? Bagero! Jadi kalian semua sudah berkhianat? Kalian berani menentang atasan kalian?

SUPARMAN

Bangsa Tuan sudah kalah perang. Tak ada gunanya Tuan membawa-bawa senjata lagi. Kami akan menjaga keselamatan Tuan-tuan kalau Tuan-tuan mau menyerah.

YUGOSIRO

Bagero! Kalian akan menahan kami? (Mengambil pestol akan diacungkan ke arah Suparman)

TIBA-TIBA BARISAN PARA PEJUANG YANG SEJAK TADI BERADA DI LUAR MELONCAT MASUK. MEREKA DIPIMPIN HADISUNARTO, SUMARDI DAN MAJIMAN. KETIGANYA LANGSUNG MENODONGKAN SENJATA LARAS PANJANG KEPADA YUGOSIRO DAN  SERDADU PENGAWAL YANG ADA DI RUANGAN ITU.

HADISUNARTO

Angkat tangan! Ruangan ini, kantor ini, sudah dikepung tentara dan rakyat bersenjata lengkap. Kalau sayang nyawa Tuan-tuan, jangan menembak! Serahkan senjata Tuan-tuan!

YUGOSIRO DAN ANAK BUAHNYA ANGKAT TANGAN. PESTOLNYA TERJATUH DI LANTAI. DENGAN CEPAT SUNITO, SUPARMAN DAN MAJIMAN MELUCUTI SENJATA YUGOSIRO DAN ANAK BUAHNYA. SETELAH SENJATA DIAMANKAN MEREKA MUNDUR.

HADISUNARTO

Duduk Tuan-tuan. Kita rundingkan dengan baik-baik.

YUGOSIRO

(Gemetar. Bicara groyok menahan emosi) Rundingkan baik-baik apanya? Kami tidak tahu maksud kalian datang ke mari.

HADISUNARTO

Kami datang untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan Tuan. Termasuk di dalamnya kami akan meminta penyerahan persenjataan Tuan-tuan secara baik-baik.

YUGOSIRO

Kalian mau merampok ya?



HADISUNARTO

Bukan! Kami akan meminta kembali hak kami yang sudah Tuan-tuan rampok.

YUGOSIRO

Lha itu, senjata itu. Bukankah senjata itu milik kami. Bukan milik kalian. Kenapa kalian rampas?

SUMARDI

Senjata itu berbahaya jika berada di tangan Tuan-tuan, makanya kami amankan. Lagipula negara Tuan sudah kalah perang, tak ada gunanya Tuan-tuan masih pegang-pegang senjata. Biarlah kami yang membawanya untuk menjaga keselamatan Tuan-tuan.

YUGOSIRO

Omong kosong kalian akan menjaga keselamatan kami, sementara senjata-senjata kalian teracung ke arah dada kami. Lagi pula negara kami kalah perang bukan kepada negara Indonesia, tetapi kami kalah perang dari negara-negara Sekutu. Kami akan serahkan kekuasaan dan persenjataan kepada Sekutu.

SUMARDI

Negara kami, Indonesia, tempat Tuan-tuan sekarang berada, saat ini sudah merdeka. Jadi yang menjadi tuan di negeri ini sekarang ini adalah Bangsa Indonesia. Tuan-tuan berada di bumi Indonesia, maka Tuan-tuan harus menyerahkan kekuasaan dan persenjataan yang Tuan-tuan miliki kepada kami, Bangsa Indonesia. Bukan kepada sekutu!

YUGOSIRO

Aku belum mendapat perintah dari atasan aku di Solo, di Semarang maupun di Jakarta. Aku hanya diminta tetap melaksanakan tugas seperti biasa, sampai saatnya tentara Sekutu datang.

SUMARDI

Dan kalau tentara Sekutu sudah datang, Tuan akan menyerahkan kekuasaan dan persenjataan Tuan kepada mereka?

HADISUNARTO

Dan kemudian Sekutu akan menyerahkan kekuasaan dan persenjataan itu kepada Belanda, untuk kembali menjajah Bangsa Indonesia? Begitu?

YUGOSIRO

Perkara Sekutu akan menyerahkan kepada Belanda untuk melanjutkan kembali penjajahannya kepada Bangsa Indonesia, itu bukan urusan aku. Yang aku tahu, Jepang kalah perang melawan Sekutu. Jadi aku ya harus menyerahkan segala sesuatunya kepada Sekutu.

HADISUNARTO

Jadi Tuan menganggap sepi proklamasi kemerdekaan yang sudah dibacakan Ir. Sukarno dan Drs. Mohammad Hatta mewakili bangsa Indonesia? Jadi Tuan menganggap sepi gelora semangat kemerdekaan yang membara di setiap dada rakyat Indonesia?
YUGOSIRO

Kami ini serba sulit! Sebagai bangsa yang kalah perang kami harus tunduk kepada yang telah mengalahkan. Tapi kami juga tahu, kalau bangsa Indonesia sudah menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka. Kalau kami serahkan kekuasaan dan senjata kepada orang-orang Indonesia, kami pasti akan disalahkan oleh Sekutu dan oleh negara kami. Tetapi kalau kami menunggu kedatangan Sekutu untuk menyerahkan kekuasaan dan senjata kepada mereka, kami tentu akan dibantai orang-orang Indonesia yang sedang berkobar semangat kemerdekaannya.

HADISUNARTO

Begini saja. Saat ini pukul 11.00 siang. Kami tunggu selama dua jam untuk Tuan pikirkan dan rundingkan bersama anak buah Tuan. Kalau sampai dua jam Tuan belum mau menyerahkan senjata yang ada pada kekuasaan Tuan, kami akan lakukan jalan kekerasan. Ingat, di luar para pejuang rakyat Indonesia yang haus kemerdekaan sudah berjaga-jaga mengepung kantor Tuan ini. Tuan-tuan tak mungkin melawan. Tan-tuan tak mungkin melarikan diri ataupun minta bantuan dari luar. Kabel telepon sudah kami potong.

PARA PEJUANG LALU MUNDUR. KEMUDIAN MEREKA DUDUK SANTAI BERJAGA-JAGA DI DEPAN PINTU SAMBIL MENGAWASI YUGOSIRO YANG SEDANG BERUNDING DENGAN ANAK BUAHNYA. KELIHATAN YUGOSIRO DAN ANAK BUAHNYA SERING TEGANG DAN GELENG-GELENG KEPALA DALAM PERUNDINGAN ITU.

BEBERAPA SAAT KEMUDIAN WAKTU YANG DISEDIAKAN KEPADA YUGOSIRO UNTUK BERUNDING DENGAN ANAK BUAHNYA LEWAT.

HADISUNARTO DAN SUMARDI MENDEKATI YUGOSIRO.

HADISUNARTO

(Melihat pada jam tangannya) Sekarang sudah jam satu siang lebih. Waktu yang kami berikan sudah lewat. Bagaimana Tuan Yugosiro, apakah Tuan mau menyerahkan semua senjata yang ada pada kekuasaan Tuan secara baik-baik?

YUGOSIRO

Kami tetap pada pendirian kami. Kami adalah prajurit yang taat pada perintah atasan. Tanpa ada perintah dari atasan kami, kami tidak berani menyerahkan senjata kepada kalian.

HADISUNARTO

Sudah tidak dapat diubah keputusan Tuan? Kalau begitu kami akan lakukan dengan cara kekerasan.

YUGOSIRO

Terserah pada kalian. Prinsip: kami tidak berani menentang perintah atasan. Jauh-jauh kami meninggalkan negeri kami, kami sudah tahu resiko apa yang akan kami terima.

HADISUNARTO

Kalau begitu, Tuan-tuan kami jadikan tahanan rumah! Gudang senjata akan kami bongkar.
YUGOSIRO

Terserah pada kalian. Kami sudah terkepung, kami tak berdaya. Tetapi ingat, di luar sana, di Solo, di Yogyakarta, atau di Boyolali atau bahkan di Banyakan, di Gondangwinangun, di Ceper dan ditempat-tempat lain tentara Jepang masih kuat bersenjata lengkap, siap membantu kami, siap membebaskan kami, dan merebut kembali senjata yang telah kalian rampas.

SUMARDI

Tidak usah takut ancamannya. Sekarang kawan-kawan, mari kita bongkar gudang senjata! Yang lainnya, bawa tawanan ke rumah tahanan!

PARA PEJUANG SEGERA MASUK KE RUANG KERJA YUGOSIRO. SEBAGIAN BESAR DARI MEREKA HANYA LEWAT, MELINTAS MENUJU KE GUDANG SENJATA. YANG LAINNYA LALU MENGIKAT YUGOSIRO DAN ANAK BUAHNYA. DENGAN KAWALAN SENJATA LENGKAP MEREKA DIBAWA KE RUMAH YANG DIJADIKAN RUMAH TAHANAN DI KAMPUNG MLINJON.

BEBERAPA SAAT KEMUDIAN PARA PEMUDA PEJUANG SUDAH KELUAR MEMBAWA SENJATA BEDIL DAN PESTOL DI TANGAN MEREKA.

HADISUNARTO

Sekarang Saudara-saudara sudah memegang senjata api semua. Perjuangan kita sudah semakin kuat. Namun harus diingat, ancaman dari tentara Jepang masih menghadang kita. Ada kemungkinan bala bantuan Jepang akan datang dari Solo, Yogyakarta, Banyakan atau dari tempat-tempat lain yang belum kita kuasai. Oleh karena itu mari kita mulai mengadakan penjagaan dan patroli keliling.

MAJIMAN

Siap. Nanti kami yang akan mengatur giliran jaga dan patroli. Yang tak kalah pentingnya Sdr. Hadisunarto, kita butuh adanya dapur umum.

HADISUNARTO

Baik. Malam nanti kita bentuk dapur umum. Nanti kita minta Ny. Sundari, Nn. Endang dan Kadiyani untuk mengepalai dapur umum yang akan kita bentuk.

SUMARDI

Untuk kepala perlengkapannya, saya usulkan Sdr. Sumopandoyo.  Ia seorang yang jujur dan dapat dipercaya.

HADISUNARTO

Baik, saya setuju Sdr. Sumopandoyo yang sudah kita ketahui sebagai orang yang jujur dijadikan kepala perlengkapan.

MAJIMAN

Lalu bahan makanannya dari mana?




HADISUNARTO

Bahan makanannya kita kumpulkan dari rakyat secara suka rela. Saya minta                Sdr. Darmowikarno membuat jadwal pengumpulan bahan makanan dari rakyat per RT.

DARMOWIKARNO

Siap!

HADISUNARTO

Sudah, sekarang mari kita bubaran untuk melaksanakan tugas kita masing-masing. Selamat bekerja dan (Mengepalkan tangan teracung ke atas) MERDEKA!

SEMUA YANG HADIR

(Mengepalkan tangan teracung ke atas) MERDEKA!

MEREKA BUBARAN. LAYAR TURUN.


BAGIAN KEEMPAT

DI KANTOR KOMITE NASIONAL INDONESIA KLATEN. MALAM HARI. ADA MEJA DAN BEBERAPA KURSI. KETIKA LAYAR DIBUKA NAMPAK BEBERAPA ORANG DUDUK DI KURSI. MEREKA ADALAH DR. SOERAJI TIRTONEGORO, TOTONG, HADISUNARTO, SUMARDI, DOMOPRANOTO, SUNARTO KUSUMODIRJO, DAN MANGKUSUDIYONO. MEREKA MEMBICARAKAN KEMUNGKINAN SERANGAN TENTARA JEPANG UNTUK MEMBEBASKAN PEMIMPINNYA (YUGOSIRO) DAN USAHA UNTUK MENDAPATKAN SEMUA PERSENJATAAN JEPANG SECARA RESMI.

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

Bapak-bapak ini utusan dari Solo?

DOMOPRANOTO

Benar, kami adalah utusan dari Solo. Perkenalkan, nama saya Domopranoto. Saya adalah Wakil Kepala Polisi Daerah Surakarta. Sedangkan bapak-bapak yang datang bersama saya ini adalah..... Yang duduk di samping saya ini (Sambil menunjuk yang duduk di samping kirinya) adalah Sdr. Sunarto Kusumodirjo dari BKR. (Sunarto Kusumodirjo berdiri, membungkuk memberi hormat) Sedangkan yang ada di sebelahnya (Sambil menunjuk yang duduk di samping Sunarto Kusumodirjo) adalah Sdr. Mangkusudiyono, juga dari BKR. (Mangkusudiyono berdiri, membungkuk memberi hormat)

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

Baiklah. Karena bapak-bapak sudah memperkenalkan diri, saya juga akan memperkenalkan diri. Saya adalah Dr. Soeraji Tirtonegoro, Wakil Ketua Komite Nasional Indonesia di Klaten. Di sebelah saya adalah Sdr. Totong dari AMI (Totong berdiri, membungkuk memberi hormat). Sedangkan yang ada di sebelah sana (Sambil menunjuk) adalah Sdr. Hadisunarto dan Sdr. Sumardi dari AMRI (Hadisunarto dan Sumardi berdiri, membungkuk memberi hormat).

DOMOPRANOTO

Kami dari Solo sudah mendengar kalau Saudara-saudara para pejuang di Klaten sudah berhasil melucuti senjata orang-orang Jepang yang ada di Kantor Polisi. Benarkah itu Sdr. Dr. Soeraji Tirtonegoro?

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

Memang benar berita yang sudah sampai kepada bapak-bapak di Solo itu. Kami juga sudah menawan Kepala Polisi Jepang Yugosiro dan anak buahnya. Sekarang mereka kami kenakan tahanan rumah di Mlinjon.

DOMOPRANOTO

Bagus. Kalau begitu mereka tidak bisa berhubungan untuk minta bantuan dengan pasukan  Jepang yang ada di luar?

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

Benar. Akan tetapi saat ini tentara-tentara Jepang yang ada di tempat-tempat lain, seperti di Pabrik Gula Gondangwinangun, Pabrik Gula Ceper, di Banyakan dan di Jatinom, berusaha masuk ke kota Klaten, untuk membebaskan pemimpinnya. Mereka itu masih bersenjata lengkap dan berbahaya bagi kami.

DOMOPRANOTO

Sebaiknya kita minta pengakuan secara resmi dari Kepala Polisi Jepang itu. Yugosiro kita minta menandatangani Berita Acara penyerahan persenjataan secara resmi kepada kita.

SUNARTO KUSUMDIRJO

Juga diminta membuat pernyataan menyerah. Tidak hanya untuk diri Yugosiro sendiri, tetapi juga untuk seluruh tentara dan polisi Jepang yang ada di Kota Klaten. Dengan demikian mereka tidak dapat minta kembali senjata mereka yang sudah kita lucuti.

MANGKUSUDIYONO

Benar kata Sdr. Sunarto. Kita minta semua orang Jepang yang ada di bawah kepemimpinan Yugosiro untuk menyerahkan senjatanya kepada kita. Kalau perlu kita ancam, kalau mereka tidak mau, mereka akan kita habisi, termasuk Yugosiro pemimpin mereka.

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

Tetapi mereka itu masih kuat. Persenjataan mereka dan pasukan mereka masih lengkap. Apakah kita akan menang perang melawan mereka?

MANGKUSUDIYONO

Sdr. Soeraji, mereka memang masih lengkap dan bersenjata pula. Tetapi sesungguhnya mereka itu sudah tidak kuat seperti dulu lagi. Karena semangat tempur mereka sekarang ini bukan lagi semangat untuk menguasai, tetapi hanyalah semangat untuk mempertahankan diri.

SUNARTO KUSUMODIRJO

Benar kata Sdr. Mangkusudiyono. Mereka itu sekarang sebetulnya berada dalam keadaan bimbang dan ragu. Kalau menyerah, mereka takut disalahkan atasannya. Tetapi kalau tetap bertahan, untuk apa? Semua yang mereka pertahankan mati-matian pada akhirnya harus diserahkan kepada Sekutu. Jadi tak ada gunanya.

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

Tetapi untuk menjaga segala kemungkinan, kita perlu meminta bantuan persenjataan dari Yogyakarta dan dari Jakarta.

DOMOPRANOTO

Itu juga bagus. Barangkali Jepang itu melawan, kita punya cukup persenjataan untuk melawan mereka.

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

Kalau begitu, Sdr. Hadisunarto saya minta berangkat sekarang juga ke Yogyakarta. Mintalah bantuan persenjataan kepada Sdr. Sugiyono Yudodiningrat. Beliau adalah wakil Ketua Komite Nasional Indonesia Yogyakarta.


HADISUNARTO

(Berdiri. Mengangkat tangan, memberi hormat) Siap! Saya berangkat sekarang juga.

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

Silakan

HADISUNARTO

(Mengangkat tangan mengepalkan tinju sambil meneriakkan pekik kemerdekaan)
Merdeka!

SEMUA YANG HADIR

(Berdiri. mengangkat tangan mengepalkan tinju sambil meneriakkan pekik kemerdekaan) Merdeka! (Setelah itu mereka duduk kembali)

HADISUNARTO KELUAR

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

(Kepada Sumardi) Sdr. Sumardi, sekarang juga hubungi Angkatan Muda Kereta Api Jakarta! Teleponlah dari Stasiun Kereta Api! Mintalah bantuan senjata segera.

SUMARDI

(Berdiri. Mengangkat tangan, memberi hormat) Siap! Saya akan ke Stasiun sekarang juga.

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

Silakan.

SUMARDI

(Mengangkat tangan mengepalkan tinju sambil meneriakkan pekik kemerdekaan) Merdeka!

SEMUA YANG HADIR

(Berdiri. mengangkat tangan mengepalkan tinju sambil meneriakkan pekik kemerdekaan) Merdeka! (Setelah itu mereka duduk kembali)

SUMARDI KELUAR.

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

(Kepada Totong) Sdr. Totong, sekarang bawa Yugosiro kemari. Kita ajak berunding baik-baik untuk penyerahan kekuasaan dan persenjataan secara resmi. Tetapi kalau tidak mau, apa boleh buat, harus kita paksa secara kekerasan.

TOTONG

(Berdiri. Mengangkat tangan, memberi hormat) Siap! Saya akan berangkat sekarang juga.

DR. SOERAJI TIRTONEGORO

Silakan.

TOTONG

(Mengangkat tangan mengepalkan tinju sambil meneriakkan pekik kemerdekaan) Merdeka!

SEMUA YANG HADIR

(Berdiri. mengangkat tangan mengepalkan tinju sambil meneriakkan pekik kemerdekaan) Merdeka! (Setelah itu mereka duduk kembali)

SUMARDI KELUAR.

DOMOPRANOTO

Sdr. Dr. Soeraji Tirtonegoro, sambil menunggu kedatangan Yugosiro, sebaiknya kita mulai menulis Berita Acara Penyerahan Senjata dari Kepala Polisi Jepang di Klaten kepada Komite Nasional Indonesia di Klaten. Pada saatnya nanti setelah persetujuan dicapai, kita tinggal menyodorkan untuk ditandatangani. Bagaimana? Setuju?

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Baik, mari kita rumuskan bersama point-pointnya. Baru kemudian saya akan menulis Berita Acaranya. Kalau begitu mari kita semua mendekat.

DOMOPRANOTO, SUNARTO KUSUMODIRJO DAN MANGKUSUDIYONO MENDEKATI DR SOERAJI TIRTONEGORO. DR SOERAJI TIRTONEGORO LALU MENGELUARKAN KERTAS DAN ALAT TULIS DARI BALIK BAJUNYA. MEREKA LALU BERUNDING. DR SOERAJI TIRTONEGORO LALU MENULISKAN DRAF BERITA ACARA PENYERAHAN SENJATA. SELESAI MENULISKAN DRAF BERITA ACARA PENYERAHAN SENJATA DR SOERAJI TIRTONEGORO MEMPERLIHATKAN KEPADA DOMOPRANOTO, SUNARTO KUSUMODIRJO DAN MANGKUSUDIYONO. MEREKA SEMUA MENGANGGUK-ANGGUK TANDA SETUJU. DR SOERAJI TIRTONEGORO BERDIRI MELIHAT KELUAR DARI PINTU RUANGAN.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Lama sekali Sdr. Totong mengambil Yugosiro dari rumah tahanan. Apakah orang Jepang itu melawan? Tidak mau dibawa kemari? Atau ada halangan di jalan?

DOMOPRANOTO  

Apakah jauh rumah tahanan dari kantor Komite ini, Sdr. Dr. Soeraji Tirtonegoro?

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Tidak. Paling hanya tiga ratus meter.

SUNARTO KUSUMODIRJO

Mungkin mereka melawan. Tidak mau diperlakukan sebagai tawanan. Tidak mau berjalan dengan tangan diikat, atau dibawah todongan senjata. Maunya mereka bebas. Jalan melenggang seperti tuan yang masih berkuasa.
DR SOERAJI TIRTONEGORO

Bisa jadi.

MANGKUSUDIYONO

Apa perlu saya menyusul untuk membantu memberikan pengawalan?

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Tidak usah. Di sana sudah banyak pemuda-pemuda pejuang yang akan mengawal dengan bersenjata.

TAK LAMA KEMUDIAN MASUK YUGOSIRO DIKAWAL TOTONG DAN DUA ORANG PEMUDA PEJUANG DENGAN MASING-MASING MEMBAWA SENJATA BEDIL DI TANGAN. SEDANGKAN YUGOSIRO KEDUA TANGANNYA DIIKAT MENJADI SATU. TOTONG MENDORONG TUBUH YUGOSIRO DENGAN MONCONG SENJATANYA. YUGOSIRO MERASA TAK SENANG ATAS PERLAKUAN INI.

YUGOSIRO

Jangan perlakukan aku secara kasar! Aku bukan prajurit rendahan seperti kamu. Aku Kepala Polisi di Klaten ini.

TOTONG

Tapi sekarang kamu tawanan kami. Kamu harus menurut perintah kami. Jangan membantah!

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Sdr. Totong, sudah! Dia sudah masuk ke ruang ini. Jangan Sdr. Totong perlakukan kasar lagi dia. O, ya kenapa lama sekali membawanya, Sdr. Totong?

TOTONG

Seperti yang Dokter lihat sendiri, ia menolak untuk berjalan dengan kedua tangan diikat. Ia tidak mau diperlakukan sebagai tawanan. Tetapi dia sangat berbahaya kalau tidak diikat tangannya. Dia pintar karate.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Sudah saya duga.

TOTONG

Kami terpaksa meringkusnya beramai-ramai untuk dapat mengikat kedua tangannya.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Sekarang dudukkan dia di kursi di depan saya. Lepaskan ikatan tangannya. Lalu berjaga-jagalah di pintu masuk bersama para pemuda yang datang bersamamu!

TOTONG BERSAMA PEMUDA-PEMUDA YANG DATANG BERSAMANYA

(Mengambil sikap tegak) Siap!

TOTONG BERSAMA PEMUDA-PEMUDA YANG DATANG BERSAMANYA BERJALAN KE PINTU. PEMUDA-PEMUDA ITU KELUAR, BERJAGA-JAGA DI LUAR. SEDANGKAN TOTONG BERJAGA DI DALAM. DI PINTU MASUK, DENGAN SENJATA SIAP DI TANGAN.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Tuan Yugosiro, Tuan berhadapan dengan Komite Nasional Indonesia yang bertugas mengambil alih kekuasaan dari Pemerintah Jepang kepada Pemerintah Republik Indonesia. Saya adalah Dr. Soeraji Tirtonegoro, wakil Ketua Komite Nasional Indonesia di Klaten. Sedangkan bapak-bapak ini..... saya persilakan Bapak-bapak untuk memperkenalkan diri.

DOMOPRANOTO

Kami bertiga datang dari Solo. Saya Domopranoto adalah wakil Kepala Polisi Daerah Surakarta. Sedangkan  kawan-kawan saya ini dari Badan Keamanan Rakyat atau BKR, namanya Sunarto Kusumodirjo dan Mangkusudiyono.

YUGOSIRO

Aku adalah Yugosiro Kepala Polisi Jepang di Klaten.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Tuan Yugosiro kami bawa kemari sudah tahu apa keperluannya?

YUGOSIRO

Tidak tahu.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Tuan akan kami ajak merundingkan penyerahan senjata yang telah kami ambil secara baik-baik. Kami ingin mendapatkan penyerahan senjata secara resmi. Ada hitam atas putih. Sehingga tidak ada pasukan Jepang atau kelompok lain, Sekutu atau Belanda misalnya, yang merasa berhak memintanya kembali.

YUGOSIRO

Aku tidak berani melakukan itu Tuan-tuan. Aku tidak mendapat perintah dari atasan aku di Solo untuk menyerahkan senjata yang ada dalam penguasaan kami. Justru aku ingin, Tuan-tuan mengembalikan senjata-senjata yang sudah Tuan-tuan rampas.

DOMOPRANOTO

Saya adalah Wakil Kepala Polisi Daerah Solo. Kami juga sedang merundingkan untuk dapat mengambil alih kekuasaan dari pemerintah Jepang kepada pemerintah Indonesia, khususnya di wilayah Karesidenan Surakarta. Kami pun akan meminta penyerahan senjata dari atasan Tuan di Solo.

YUGOSIRO

Semua itu kan baru proses. Masih dalam taraf perundingan. Atasan kami belum menyetujui penyerahan kekuasaan dan persenjataan yang Tuan-tuan minta. Atasan kami pun juga belum memerintah kami untuk menyerahkan kekuasaan dan persenjataan kepada Tuan-tuan. Jadi kami tetap bersikukuh untuk mempertahankan yang menjadi hak kami.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Hak apa yang Tuan maksudkan? Kemerdekaan adalah hak kami yang sudah Tuan rampas bersama bangsa Tuan. Senjata adalah lambang kekuasaan di jaman perang ini. Kepemilikan senjata di tangan Tuan berarti kekuasaan masih ada di tangan Tuan. Tetapi sekarang, dengan tiadanya senjata di tangan Tuan, beralih di tangan kami, berarti kekuasaan sudah beralih di tangan kami. Kami tidak akan mengembalikan senjata-senjata yang ada di tangan kami kepada Tuan. Karena kami tidak ingin menyerahkan kembali kekuasaan atas kota Klaten dan sekitarnya kepada Tuan. Kami sudah merdeka kami tidak ingin tunduk sebagai bangsa jajahan lagi.

YUGOSIRO

Boleh saja Tuan-tuan sekarang ini masih menguasai senjata-senjata dan wilayah kota Klaten. Tetapi harus Tuan-tuan ingat Jepang masih berkuasa atas wilayah-wilayah di luar kota. Pasukan kami masih kuat di Banyakan, di Jatinom, di Pedan, di pabrik gula Gondangwinangun, di pabrik gula Ceper, di lapangan terbang Demangan, dan lain-lain. Dalam hitungan jam atau hari, mereka akan segera menyerbu kemari untuk membebaskan aku dan merebut kembali senjata-senjata yang telah Tuan-tuan rampas.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Mereka yang berada di luar kota tidak akan dapat masuk ke kota Klaten. Semua jalan masuk sudah kami tutup. Barisan para pejuang dan tentara dengan persenjataan hasil rampasan dari gudang senjata Tuan telah siap melindungi kota ini dari serbuan bala tentara Tuan.

YUGOSIRO

Senjata-senjata yang sudah Tuan rampas belum seberapa banyaknya. Senjata-senjata yang masih ada di tangan pasukan kami jauh lebih besar. Sebentar lagi bala bantuan untuk membebaskan kami dan untuk menguasai kota Klaten kembali akan segera datang. Tuan-tuan akan mampus mendapat serangan dari bala bantuan tentara Jepang yang mungkin saat ini sedang mengepung kota Klaten dari segala penjuru.

DOMOPRANOTO

Tuan Yugosiro jangan bermimpi! Dari mana Tuan tahu kalau pasukan bala bantuan Tuan sedang bergerak mengepung kota Klaten untuk membebaskan Tuan? Selama ini Tuan terkurung. Tidak ada komunikasi antara Tuan dengan orang-orang di luar  rumah tahanan, apalagi di luar kota Klaten. Dari mana Tuan tahu kalau tentara Jepang peduli dan berusaha membebaskan Tuan?

YUGOSIRO

Kami adalah orang-orang beradab yang mempunyai kepedulian dan kestiakawanan. Tentu pemimpin-pemimpin Jepang dan anak buah aku di laur sana, tidak akan membiarkan aku dibantai orang-orang Indonesia di sini. Mereka akan segera datang menyerbu kota Klaten.

SUNARTO KUSUMODIRJO

Mereka tidak akan datang! Percayalah, mereka tidak akan datang! Mungkin saat ini mereka sedang dilucuti senjatanya oleh pasukan BKR bantuan yang datang dari Solo. Mungkin bahkan ada diantaranya yang saat ini sedang sekarat karena perutnya tertembus bambu runcing, geranggang sakti yang sudah dimantrai para Kyai.

YUGOSIRO

(Gemetar ketakutan) Tuan-tuan jangan menakut-nakuti aku! Ngeri aku membayangkan perut ditusuk senjata bambu yang diruncingkan. Betapa ngerinya berlama-lama merasai sakit tak tertahankan, sebelum akhirnya mati kehabisan darah. Sungguh mengerikan!

MANGKUSUDIYONO

Makanya kamu jangan main-main! Kalau perundingan ini gagal. Tuan Yugosiro tetap tidak mau menandatangani penyerahan kekuasaan dan persenjataan ke tangan kami, senjata kami yang akan bicara. (Berjalan mendekati senjata geranggang bambu runcing yang dipajang di kantor KNI itu) Karena Tuan sudah tidak bersenjata maka Tuan akan menjadi makanan empuk senjata geranggang bambu runcing kami.

YUGOSIRO

(Semakin gemetar ketakutan lalu berjalan mundur) Jangan! Jangan, Tuan! Kami takut pada senjata orang-orang tak beradab itu. Senjata itu adalah pembunuh yang paling kejam. Tak dibiarkan musuh mati dengan cepat. Tapi kami harus merasai sakit berlama-lama dahulu. Sungguh mengerikan!

MANGKUSUDIYONO

(Sambil mengacung-acungkan senjata geranggang bambu runcing yang sudah dicabut dari tempatnya) Senjata ini akan mengeluarkan usus Tuan. Usus Tuan akan mbrodhol mengeluarkan kotoran dan makanan Tuan berceceran ke tanah!

YUGOSIRO

(Menjerit ngeri) Jangan! Aku tidak ingin mati dengan cara sadis seperti itu! Jauhkan senjata mengerikan itu dari tubuhku!

MANGKUSUDIYONO

Kalau begitu tanda tangani surat Berita Acara Penyerahan Kekuasaan dan Persenjataan yang ada dalam kekuasaan Tuan.

YUGOSIRO

Aku boleh mati di tangan Tuan-tuan, tetapi sebentar lagi Tuan-tuan pun akan mati karena bala tentara Jepang yang ada di luar kota tentu akan segera dapat mengalahkan para pejuang kalian yang hanya dapat bertempur dalam jarak dekat. Bedil kami, pestol kami, tweeling kami, karaben kami, meriam kami, panser kami, tank-tank kami akan menggilas kalian sampai lumat tak berbekas.

SUNARTO KUSUMODIRJO

Jangan ngomyang seperti orang mabuk Tuan Yugosiro! Semua yang Tuan katakan itu hanya omong kosong. Itu semua hanya lamunan orang yang putus asa di ambang kematiannya!


YUGOSIRO

Kenapa Tuan mengatakan itu hanya lamunan? Tentara kami masih kuat di luar sana. Para pemuda dan rakyat jelata yang Tuan katakan sebagai para pejuang itu bukan tandingan mereka. Karena mereka adalah para perajurit  terlatih yang sudah sangat berpengalaman di medan tempur!

SUNARTO KUSUMODIRJO

Mungkin benar yang Tuan katakan. Tetapi mereka tidak akan dapat masuk ke kota Klaten. Karena saat ini jembatan-jembatan menuju ke kota Klaten sudah kami hancurkan! Jalan-jalan sudah kami penuhi dengan rintangan pohon-pohon besar yang kami tumbangkan melintang di jalan. Kalau toh nantinya mereka akan dapat masuk ke kota Klaten, tentu dibutuhkan waktu yang lama. Sementara itu bala bantuan kami pun akan segera datang untuk membentengi kota Klaten dari serbuan pasukan Tuan.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Ketahuilah Tuan Yugosiro. Saat ini kami sedang menghubungi Pemerintah Pusat di Jakarta dan KNI Yogyakarta untuk mendapatkan bantuan senjata dan tentara. Sesuai perhitungan kami sebentar lagi utusan kami akan datang mengabarkan keberhasilan usaha mereka.

DOMOPRANOTO

Kalau Tuan Yugosiro tidak segera menandatangani Berita Acara Penyerahan yang telah kami buat, apabila nanti bantuan senjata dan tentara yang kami minta sudah datang, karena saya pandang sudah tidak berguna, Tuan akan kami habisi. Demikian juga kawan-kawan Tuan yang masih ada di rumah tahanan, semua akan kami habisi malam ini juga. Setelah itu kami akan menyerbu orang-orang Jepang yang masih bercokol di wilayah Kabupaten Klaten.

YUGOSIRO

Tuan-tuan akan melakukan pembantaian dengan kejam menggunakan senjata bambu runcing itu?

DOMOPRANOTO

Apa boleh buat! Karena Tuan tidak mau diajak bekerja sama, daripada menjadi beban, lebih baik Tuan dan seluruh orang-orang Jepang yang ada di daerah kami akan kami habisi semua. Perkara memakai geranggang bambu runcing atau memakai senjata api, itu tergantung situasi dan kondisi. Kalau kalian tidak berdaya untuk melawan akan kami gunakan geranggang bambu runcing, tetapi kalau kalian masih bersenjata, akan kami gunakan bedil atau pestol juga.

YUGOSIRO

Tuan-tuan sungguh biadab!

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Tuan-tuanlah yang biadab! Tuan-tuan telah menghisap kekayaan bangsa kami. Sehingga orang-orang bangsa kami banyak yang mati karena busung lapar.

TIBA-TIBA DI LUAR TERDENGAR RIBUT-RIBUT ORANG-ORANG MENERIKKAN PEKIK KEMERDEKAAN.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Sdr. Totong, coba mintalah pejuang yang berjaga di luar untuk melihat apa yang terjadi ramai-ramai di luar!

TOTONG

(Sikap tegak) Siap! (Lalu kepada kawannya yang ada di luar) Coba lihat apa yang terjadi!

TAK LAMA KEMUDIAN SEORANG PEJUANG YANG BERJAGA DI LUAR MASUK UNTUK LAPORAN.

PEJUANG

(Memberi hormat cara militer lalu lapor dalam sikap tegak) Lapor, ramai-ramai di luar adalah menyambut kedatangan Sdr. Hadisinarto dan Sdr. Sumardi. Laporan selesai.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Laporan diterima. Kembali ke tempat!

PEJUANG

Siap! Saya kembali berjaga di luar.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Silakan. (Kepada Yugosiro) Tuan Yugosiro sudah dengar sendiri, di luar banyak para pejuang menyambut kedatangan Sdr. Hadisunarto yang kami utus minta bantuan ke KNI Yogyakarta dan Sdr. Sumardi yang juga kami utus ke stasiun minta bantuan ke Jakarta lewat telepon. Nah apakah Tuan Yugosiro masih tidak mau menandatangani Berita Acara Penyerahan?

YUGOSIRO

Utusan Tuan belum tentu berhasil. Karena mereka tentu membutuhkan untuk daerah mereka sendiri.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Kita lihat saja.

HADISUNARTO DAN SUMARDI MASUK. MEREKA MEMBERI HORMAT KEPADA DR SOERAJI TIRTONEGORO DAN KEPADA DOMOPRANOTO.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Bagaimana perjalananmu Sdr. Hadisunarto?

HADISUNARTO

Baik. Lancar, tidak ada halangan suatu apa.



DR SOERAJI TIRTONEGORO

Bagaimana hasilnya? Dapat bertemu dengan Sdr. Sugiyono Yudoningrat sendiri?

HADISUNARTO

Alahamdulillah saya dapat bertemu dengan Wakil Ketua KNI Yogyakarta Sdr. Sugiyono Yudoningrat sendiri. Beliau menyanggupkan untuk mengirimkan senjata dan pasukan ke Klaten malam ini juga. Tetapi beliau juga meminta agar pada saatnya nanti Klaten juga bersedia membantu mengirimkan bantuan pasukan ke Yogyakarta. Mereka juga sudah merencanakan akan melucuti senjata Jepang di Kotabaru dan di lain-lain tempat di Yogyakarta.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Tentu! Kita tentu akan mengirimkan bala bantuan ke Yogyakarta apabila dibutuhkan. Jadi sekarang senjata dan pasukan sudah diberangkatkan dari Yogyakarta?

HADISUNARTO

Saya kira begitu. Tadi saya mendahului karena buru-buru akan memberi kabar ke mari. Sementara saya berangkat, mereka segera mempersiapkan bantuan ke mari.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Bagus. (Berpaling kepada Sumardi ) Sdr. Sumardi, kenapa lama sekali tidak segera memberi kabar? Bagaimana jawaban dari Jakarta?

SUMARDI

Maaf  saya agak lama baru dapat datang ke mari. Saya harus dapat memastikan jawaban dari Jakarta. Untuk menjawab pun mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya. Ya senjata ya kereta apinya. Jadi agak lama saya baru mendapat jawaban. Dan lama juga saya baru dapat datang kemari memberi kabar.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Bagaimana jawaban dari Jakarta?

SUMARDI

Mereka menyetujui memberi bantuan senjata. Saat ini senjata-senjata tersebut sudah diberangkatkan ke Klaten memakai Kereta Api Istimewa.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Bagus. Itu yang kita tunggu-tunggu.

SEMUA YANG HADIR, KECUALI YUGOSIRO NAMPAK LEGA. SEDANGKAN YUGOSIRO KELIHATAN GELISAH.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Tuan Yugosiro, Tuan sudah mendengar sendiri, saat ini bantuan dari Yogyakarta dan dari Jakarta sudah dalam perjalanan. Tidak berapa lama lagi kekuatan tempur di Klaten sini tentu amat kuat. Kamu dan pasukanmu tentu tidak akan mampu melawan kami yang bertempur dengan persenjataan kuat dan semangat tempur yang meluap-luap.

DOMOPRANOTO

Kalau sayang nyawa Tuan-tuan,  tanda tangani saja Berita Acara Penyerahan yang sudah kami buat. Dengan demikian jiwa Tuan ada dalam perlindungan kami. Pada saatnya nanti Tuan akan kami kembalikan ke negara Tuan sesuai perintah dari pusat.

YUGOSIRO

Baiklah Tuan-tuan. Saya akan tandatangani Berita Acara Penyerahan Kekuasaan dan Persenjataan itu. Dan kami minta perlindungan Tuan sampai kami dikembalikan ke negara kami.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Baiklah. Kalau begitu sekarang tandatangani Berita Acara Penyerahan ini.

DR. SOERAJI TIRTONEGORO MENYERAHKAN LEMBARAN BERITA ACARA PENYERAHAN KEKUASAAN DAN PERSENJATAAN KEPADA YUGOSIRO UNTUK DITANDA TANGANI. YUGOSIRO MENERIMA LEMBARAN BERITA ACARA ITU. SETELAH DIBACA LALU DITANDA TANGANI.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

(Kepada Totong) Sdr. Totong, bawa kembali Tuan Yugosiro kembali ke Rumah Tahanan di Mlinjon. Perlakukan dia dan kawan-kawannya dengan baik.

TOTONG

(Sikap tegak) Siap!

KEMUDIAN BEBERAPA PEJUANG MASUK. DENGAN PENGAWALAN KETAT DARI PARA PEJUANG BERSENJATA, TANPA DIIKAT TANGANNYA YUGOSIRO DIBAWA KE RUMAH TAHANAN DI MLINJON.

DOMOPARNOTO

Setelah mendapatkan pengakuan resmi dari pimpinan Jepang di Klaten, sekarang Saudara-saudara tinggal melanjutkannya ke tempat-tempat lain yang ada di Klaten. Saya kira dengan menunjukkan Berita Acara Penyerahan yang sudah ditanda-tangani Yugosiro, serdadu-serdadu Jepang yang ada di Klaten akan menyerahkan senjatanya kepada Saudara-saudara. Oleh karena itu kami akan pamit pulang kembali ke Solo. Namun sebelum kembali ke Solo, saya perlu mendengar kesanggupan Saudara-saudara untuk membantu kami yang ada di Solo, apabila kami nanti sudah mendapatkan waktu yang tepat untuk melucuti senjata orang-orang Jepang yang ada di Solo.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Tuan jangan khawatir! Kami tentu akan membantu apabila Tuan membutuhkan bantuan kami. Dan atas bantuan Tuan-tuan kami atas nama seluruh rakyat dan Pemerintah Kabupaten Klaten mengucapkan terima kasih.

DOMOPARNOTO

Baiklah. Karena tugas kami mendampingi Saudara-saudara mendapat pengakuan dari penguasa Jepang di Klaten sudah selesai, kami akan kembali ke Solo. Sekali lagi kami mohon pamit.

DR SOERAJI TIRTONEGORO

Silakan.

DOMOPARNOTO, SUNARTO KUSUMODIRJO DAN  MANGKUSUDIYONO BERDIRI MENGEPALKAN TANGAN KANAN KE ATAS SAMBIL MEMEKIKKAN SALAM KEMERDEKAAN.

DOMOPARNOTO, SUNARTO KUSUMODIRJO DAN  MANGKUSUDIYONO

Merdeka!

SEMUA YANG HADIR

Merdeka!

DOMOPARNOTO, SUNARTO KUSUMODIRJO DAN  MANGKUSUDIYONO KELUAR DIIKUTI DR. SOERAJI TIRTONEGORO DAN LAIN-LAIN.

LAYAR TURUN.


BAGIAN KELIMA

DI SEBUAH JALAN MENUJU KE MARKAS JEPANG DI BANYAKAN. SOENITIYOSO, MAJIMAN DAN KATAMSO DIIKUTI PARA PEJUANG YANG LAINNYA BERBONDONG-BONDONG SEDANG BERJALAN MENUJU KE MARKAS BANYAKAN. PERJALANAN MEREKA DIIRINGI LAGU ”MAJU TAK GENTAR” DI DEPAN MARKAS MEREKA BERHENTI UNTUK MEMPERSIAPKAN PERLUCUTAN SENJATA DI MARKAS TERSEBUT.

SOENITIYOSO

Kita berhenti dulu di sini. Sekarang kita mengatur strategi untuk dapat melucuti senjata tentara Jepang yang ada di sini, tanpa menimbulkan korban, terutama di pihak kita.

KATAMSO

Sebaiknya kita kepung markas ini dengan rapat. Pemuda-pemuda pejuang dan angota-anggota BKR kita kerahkan dengan senjata lengkap yang kita punyai dari segala penjuru.

MAJIMAN

Nanti selama kita berunding kita perintahkan mereka untuk berteriak-teriak menakut-nakuti, untuk memberikan tekanan, agar mereka cepat menyerah.

KATAMSO

Agar mereka tidak dapat meminta bala bantuan, sebaiknya semua kabel telepon yang memungkinkan mereka berhubungan dengan daerah lain kita putus.

SOENITIYOSO

Ide yang bagus! Kalau begitu, aku minta salah satu pemuda untuk dapat memanjat dinding, lalu naik ke atas genting untuk memutus kabel yang menghubungkan ke Solo, ke Boyolali, dan ke Yogyakarta. (Memandang ke kerumunan para pejuang) Siapa orangnya yang berani melakukan tugas berat ini?

KATAMSO

(Menunjuk salah seorang pemuda) Dia! Anak buahku itu biasa aku mintai bantuan  memperbaiki kerusakan genting atau atap rumah yang bocor di rumahku.

SOENITIYOSO

Kalau begitu, (Menunjuk pemuda yang ditunjukkan Katamso) Kamu ke mari!

SEORANG PEMUDA PEJUANG MAJU

PEMUDA PEJUANG

Saya?

SOENITIYOSO

Ya kamu, ke sini! Kamu dapat manjat dinding ke atas genting kan?


PEMUDA PEJUANG

Ya

SOENITIYOSO

Kamu aku tugaskan manjat dinding, naik ke atas genting untuk mutus kabel telepon yang menghubungkan ke arah Solo, Yogyakarta dan Boyolali. Pokoknya semua kabel telepon masuk markas dan yang menghubungkan ke luar, semua harus kamu potong. Kamu sudah bawa tang untuk memotong kabel?

PEMUDA PEJUANG

Perlengkapan yang diperlukan sudah ada dalam ransel saya.

SOENITIYOSO

Bagus! Kalau begitu, laksanakan sekarang juga!

PEMUDA PEJUANG

Siap!

SETELAH MEMBERI HORMAT, PEMUDA PEJUANG PERGI MENUJU KE DINDING MARKAS YANG PALING AMAN UNTUK MEMANJAT.

KATAMSO

Sdr. SOENITIYOSO, kalau boleh saya tahu, apa keputusan hasil rapat di Gedung Kejaksaan Klaten tanggal 30 September 1945 dan di Gedung Seng tanggal 1 Oktober 1945?

SOENITIYOSO

Baiklah Sdr. Katamso, dan untuk diketahui pula oleh yang lain-lainnya, dengarkan baik-baik. Rapat di Gedung Kejaksaan Klaten yang dihadiri antara lain oleh Wakil Bupati Klaten Sdr. Projosupadmo, wakil dari KNI dan wakil dari Kejaksaan, memutuskan:
-          Menyetujui pensitaan milik Jepang.
-          Dalam melaksanakan aksi pengambil-alihan, supaya sebelumnya diadakan rapat antara pihak pemuda dengan mengundang pihak pabrik dan rakyat.
-          Pimpinan aksi diserahkan kepada Sdr. Hadisunarto, Suparman, Hartono dan Sumardi. Sedangkan yang lain sebagai pembantu.
-          Keamanan diserahkan kepada Sdr. Budiarjo.

KATAMSO

Lalu hasil Rapat Umum di Gedung Seng?

SOENITIYOSO

Dalam Rapat Umum di Gedung Seng diambil kesepakatan pembagian tugas:
-          Pengambil-alihan pabrik-pabrik milik Jepang sektor kota dipimpin Sdr. Hadisunarto, Martijo dan Suparman. Tugas ini juga termasuk pencegatan dan penyitaan mobil-mobil Jepang yang lewat Kota Klaten.
-          Untuk sektor Ketandan – Ceper – Trucuk dan Pedan pengambil-alihan dipimpin Sdr. Budiarjo.
-          Selanjutnya Sdr. Juwardi dan kawan-kawan melakukan penyitaan di sektor Jatinom.
-          Sedangkan sektor Gondangwinangun, Prambanan dan Manisrenggo pengambil-alihan dipimpin Sdr. Juwandi, Projosupadmo dan Sudibyo.

KATAMSO

Jadi begitu pembagian tugasnya.

SOENITIYOSO

Ya. Kita harus mematuhi keputusan ini. Tetapi tidak menutup kemungkinan kita untuk saling membantu di sektor-sektor lain yang membutuhkan bantuan, apabila menemui kesulitan.

KATAMSO

Lalu kita bawa ke mana mobil-mobil sitaan dari orang-orang Jepang itu?

SOENITIYOSO

Mobil-mobil yang kita sita di jalan kita bawa ke lapangan terbang di Demangan. Bersama  mobil-mobil yang kita sita dari perusahaan-perusahaan yang semula dikuasai Jepang kita bagikan ke badan-badan perjuangan yang membutuhkan.

MAJIMAN

Lalu orang-orang Jepang yang kita cegat di jalan, kita apakan mereka?

SOENITIYOSO

Mereka kita jadikan tawanan. Kemudian mereka kita kirim ke tempat penahanan sementara di Tampir Boyolali. Pada saatnya mereka kita kembalikan ke negaranya.

MAJIMAN

Jadi begitu ya.

SEMENTARA ITU PEMUDA PEJUANG YANG DIPERINTAH UNTUK MEMUTUS KABEL TELEPON KE LUAR MARKAS BANYAKAN SUDAH KEMBALI. IA MENGHADAP DAN MEMBERI HORMAT KEPADA SOENITIYOSO.

PEMUDA PEJUANG

Lapor: tugas telah dilaksanakan dengan baik. Laporan selesai.

SOENITIYOSO

Laporan diterima. Terima kasih. Sekarang silakan bergabung dengan kawan-kawan lainnya.

PEMUDA PEJUANG

Siap.

PEMUDA PEJUANG BERGABUNG DENGAN PEMUDA-PEMUDA PEJUANG LAINNYA.SOENITIYOSO LALU MERUNDINGKAN RENCANA SELANJUTNYA BERSAMA MAJIMAN  DAN KATAMSO

SOENITIYOSO

Sekarang mari kita mulai melakukan aksi perlucutan senjata di Markas Banyakan ini. Saya: Soenitiyoso, bersama Sdr. Majiman dan Katamso masuk ke dalam kantor menemui komandan markas. Sedangkan yang lain-lainnya berjaga-jaga sambil berteriak-teriak memberi tekanan.

MAJIMAN DAN KATAMSO

Siap.

SOENITIYOSO

(Kepada yang lain-lainnya) Kalian semua berjaga-jaga, jangan sampai lengah! Nampaknya perundingan ini nanti akan berlangsung lama dan alot.

YANG LAIN-LAIN

Siap! (Mengangkat tangan terkepal) Merdeka!

SOENITIYOSO, KATAMSO DAN MAJIMAN

(Mengengkat tangan terkepal) Merdeka!

SOENITIYOSO, KATAMSO DAN MAJIMAN MELANGKAH MASUK KE KANTOR MARKAS BANYAKAN DENGAN LANGKAH  MANTAP. MEREKA MASUK KE DALAM KANTOR, BERTEMU DENGAN HAMANU, KOMANDAN SERDADU JEPANG DI BANYAKAN.

HAMANU TERKEJUT MELIHAT KEDATANGAN SOENITIYOSO, KATAMSO DAN MAJIMAN.  IA NAMPAK GUGUP, LALU BERDIRI DENGAN GELISAH.

SOENITIYOSO

Selamat pagi, Tuan Hamanu. Tenang saja Tuan. Tidak usah gelisah. Duduk saja, Tuan, kita bicara baik-baik.

HAMANU

Ada perlu apa Tuan-tuan datang ke markas kami?

SOENITIYOSO

Tenang. Kita bicara baik-baik. Kita akan rundingkan penyerahan senjata yang ada di markas ini, dari tangan Tuan kepada kami perwakilan bangsa Indonesia yang ada di Klaten.

HAMANU

Tuan-tuan mengatas-namakan perwakilan bangsa Indonesia yang ada di Klaten?

KATAMSO

Ya kami adalah para pejuang bangsa Indonesia. Kami ditugaskan untuk melucuti senjata Tuan-tuan  serdadu Jepang yang ada di Markas Banyakan ini.


HAMANU

Kami tidak berani bertindak sendiri. Kami adalah tentara, kami bekerja atas instruksi dan perintah atasan. Kami tidak boleh mengambil keputusan sendiri.

KATAMSO

Bangsa Tuan sudah kalah perang.  Bangsa Tuan sudah bertekuk lutut kepada Sekutu. Serdadu-serdadu Tuan sudah tidak berhak angkat senjata lagi. Kamilah sekarang yang berhak angkat senjata.

HAMANU

Bangsa kami kalah perang melawan Sekutu. Tetapi kami tidak kalah perang melawan orang-orang Indonesia. Kami hanya boleh memberikan senjata kami kepada tentara Sekutu. Merekalah yang nanti akan melucuti senjata kami.

MAJIMAN

Di dalam Sekutu ada Belanda. Kami tidak ingin dijajah Belanda lagi. Senjata Tuan jangan diserahkan kepada Sekutu. Serahkan saja kepada kami para pejuang. Kami butuh senjata itu untuk melawan Belanda kalau mereka akan kembali menjajah kami.

HAMANU

Kami tidak berani! Kami menunggu perintah dari atasan kami di Solo.

SOENITIYOSO

Apakah Tuan tidak takut kepada para pemuda pejuang yang sekarang ini sudah mengepung markas Tuan? Lihatlah mereka semua sudah siap membantai Tuan dengan senjata bedil maupun geranggang bambu runcing yang mengerikan?

KATAMSO

Ya kesabaran kami ada batasnya. Kalau mereka menunggu-nunggu di luar belum juga ada keputusan menyerah dari Tuan, mereka tentu akan segera menyerbu ke mari.

HAMANU

Tuan-tuan menakut-nakuti saya?

KATAMSO

Saya tidak menakut-nakuti. Saya hanya mengatakan kemungkinan yang dapat terjadi kalau Tuan tidak mau menuruti kemauan mereka menyerahkan senjata-senjata Tuan.

HAMANU

Saya tidak berani mengambil keputusan sendiri. Saya harus melapor ke atasan saya dulu di Solo. Kalau atasan saya menyetujui, saya akan serahkan senjata-senjata kami kepada Tuan.

SOENITIYOSO

Silakan hubungi atasan Tuan lewat telepon.

HAMANU MERAIH PESAWAT TELEPON YANG ADA DI SAMPINGNYA. IA MENCOBA MENGHUBUNGI ATASANNYA DI SOLO LEWAT TELEPON. TETAPI SETELAH BERULANG KALI MEMUTAR NOMOR TELEPON TERNYATA ATASANNYA DI SOLO TIDAK DAPAT DIHUBUNGI.

SOENITIYOSO

Bagaimana? Sudah terhubung dengan atasan Tuan di Solo?

HAMANU

(Geleng-geleng kepala) Saya tidak dapat menghubungi. Tidak terdengar apa-apa. Nampaknya pesawat telepon ini rusak.

KATAMSO

Begini saja. Sekarang Tuan kami antarkan ke kantor telepon untuk menghubungi atasan Tuan di Solo. Bersedia?

HAMANU

Kami harus melalui anak buah Tuan yang siap dengan senjata di tangan? Apakah mereka dapat dikendalikan untuk tidak membunuh saya tiba-tiba?

SOENITIYOSO

Jangan khawatir. Mereka ada di bawah kendali perintah saya. Saya jamin keamanan dan keselamatan Tuan apabila kami menyertai di belakang dan di samping Tuan.

HAMANU

Kalau begitu saya ikut petunjuk Tuan. Mari kita ke kantor telepon terdekat.

SOENITIYOSO

Silakan Tuan Hamanu berjalan di depan. Kami akan mengawal.

HAMANU BERJALAN KELUAR, DIDAMPINGI SOENITIYOSO DAN KATAMSO. SEDANGKAN MAJIMAN MENGAWAL DI BELAKANGNYA. HAMANU BERJALAN DENGAN LANGKAH AGAK RAGU DAN TAKUT-TAKUT. SEDANGKAN PARA PEJUANG YANG BERSAMANYA BERJALAN DENGAN MANTAP. SEMENTARA ITU PARA PEJUANG YANG BERJAGA-JAGA YANG MEREKA LALUI  DENGAN BERSEMANGAT MEMERIKKAN PEKIK KEMERDEKAAN.

BEBERAPA SAAT KEMUDIAN HAMANU MERASA ADA YANG GANJIL. IA BERHENTI.

HAMANU

Sebentar Tuan. Kita berhenti dulu. Apa kita ini tidak salah jalan? Setahu saya kantor telepon itu ada di sana (Menunjuk ke sebelah kanan). Kenapa kita  justru berbelok ke arah lain?




SOENITIYOSO

Mulai kemarin pagi kantor telepon sudah pindah Tuan. Sekarang ada di rumah yang ada di depan itu. (Sambil menunjuk ke rumah yang ada di depannya)

MEREKA BERJALAN MENUJU RUMAH YANG ADA DI  DEPANNYA. SESAMPAI DI DEPAN RUMAH, HAMANU BERHENTI TERMANGU-MANGU. NAMPAK SEKALI IA BIMBANG.

SOENITIYOSO

Kenapa berhenti lagi? Mari masuk Tuan! Jangan ragu-ragu, mari masuk. Kalau ragu-ragu terus, kelamaan, para pemuda pejuang yang bersenjata itu keburu tidak sabar. Kalau mereka telah kehilangan kesabaran, saya tidak bisa lagi mengendalikan mereka. Saya tidak lagi bertanggung jawab atas keselamatan Tuan.

MAJIMAN

(Mendorong tubuh Hamanu agar segera masuk rumah) Mari masuk Tuan! Jangan ragu. Pesawat telepon ada di dalam.

HAMANU MASUK KE DALAM RUMAH DENGAN PERASAAN RAGU, DIIKUTI PARA PEJUANG YANG MENGIRINGKAN.  SAMPAI DI DALAM HAMANU DIMASUKKAN KE DALAM RUANG TAHANAN.

HAMANU

Tuan Senitiyoso, apa artinya ini?

MAJIMAN MAJU SAMBIL MENODONGKAN SENJATANYA. PESTOL MAJIMAN  MENEMPEL DI KEPALA HAMANU.

MAJIMAN

(Mengancam) Sekarang serahkan senjata Tuan! Atau Tuan saya habisi sekarang juga.

HAMANU GEMETAR KETAKUTAN, KETIKA IA MELIHAT SEKELILING TERNYATA SEMUA YANG ADA DI SITU JUGA MENODONGKAN SENJATANYA KE ARAHNYA. TERPAKSA IA MENYERAHKAN SEMUA SENJATA YANG DIBAWANYA. PESTOL YANG TERSELIP DI PINGGANG DAN PEDANG SAMURAI YANG MENGGANTUNG DI PINGGANG, SEMUA IA CABUT DAN SERAHKAN KEPADA MAJIMAN DAN SOENITIYOSO. KATAMSO MAJU LALU MENGGELEDAH SEKUJUR TUBUH HAMANU, MENCARI KALAU-KALAU MASIH ADA SENJATA LAIN YANG DIBAWA.

HAMANU

Tuan-tuan, ini benar-benar keterlaluan! Penipuan dan perampasan habis-habisan! Kalian semua curang. Kalian main keroyok, tidak memberi kesempatan saya untuk membela diri.

SOENITIYOSO

Tenang Tuan Hamanu. Tuan beristirahat saja dengan tenang. Rumah ini lebih aman bagi Tuan. Di sini Tuan kami amankan dari amuk kemarahan rakyat.


HAMANU

Saya tidak mengerti... katanya saya diantar ke kantor telepon untuk menghubungi atasan saya di Solo, kenapa saya justru Tuan-tuan tahan di sini?

SOENITIYOSO

Sambungan telepon di kantor Tuan memang kami yang sengaja memutuskannya, agar Tuan tidak dapat menghubungi atasan Tuan di Solo, di Semarang ataupun di Yogyakarta untuk meminta bantuan. Jadi tidak mungkin kami mengijijnkan Tuan menghubungi atasan Tuan di Solo. Sekarang keputusan ada di tangan Tuan sendiri. Bersediakah Tuan menandatangani Berita Acara Penyerahan Senjata yang ada di Markas Banyakan kepada kami?

HAMANU

Bagero! Saya tidak mau! Ini penipuan namanya Tuan Soenitiyoso!

KATAMSO

Bukan! Ini bukan penipuan! Tapi ini adalah taktik untuk dapat mencapai tujuan kami, tanpa harus menumpahkan darah. Namun semua tergantung kepada Tuan. Apakah Tuan menghendaki pertumpahan darah, atau Tuan akan menyerahkan yang kami minta dengan  baik-baik.

HAMANU

Saya tetap pada pendirian saya. Saya tidak akan menyerahkan senjata-senjata yang menjadi tanggung jawab saya, sebelum mendapat persetujuan dari atasan saya.

SOENITIYOSO

Sekarang beristirahatlah dahulu. Renungkan baik-baik tawaran saya untuk berdamai dan menyerahkan baik-baik semua senjata yang ada di markas Banyakan. Dan bayangkan apa yang mungkin terjadi seandainya Tuan tetap menolak tawaran kami. Puluhan para pemuda bersenjata geranggang bambu runcing yang sudah mengepung rumah tahanan ini dan ratusan pejuang yang bersenjata lengkap mengepung markas Banyakan. Mereka siap tempur, membantai anak buah Tuan yang ada di markas tersebut.

KATAMSO

Apakah Tuan tidak merasa berdosa kalau anak buah Tuan sampai mati sia-sia dibantai anak buah saya? Bagi kami, para pejuang adalah pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan negaranya. Sedangkan anak buah Tuan, kalau sampai mati di sini, adalah para penjajah bangsa lain yang sudah sepatutnya dienyahkan.

HAMANU

(Berteriak) Kalian telah menipu saya! Kalian telah menjebak saya! Kalian main keroyok! Kalian penipu! Kalian tidak berjiwa satria!

MAJIMAN  MELOMPAT, MENODONGKAN SENAPANNYA KE MUKA HAMANU SAMBIL BERTERIAK MENGANCAM




MAJIMAN

(Membentak) Diam! Aku tembak mulutmu kalau kamu masih terus berteriak-teriak memaki kami!

HAMANU

(Menyodorkan badannya) Tembak! Hayo, tembak! Jangan hanya mengancam! Saya tidak takut, silakan tembak!

MAJIMAN

(Mengacungkan senjatanya ke arah Hamanu) Kamu kira aku tidak berani? Aku tembak kepalamu mampus kamu!

SOENITIYOSO

(Mencegah tindakan Majiman) Sudah! Tarik kembali senjatamu Sdr. Majiman! Bukan tujuan kita kemari untuk membunuh Tuan Hamanu. Mari kita tinggalkan dulu dia sendirian. Biar dia merenungkan apa yang telah dilakukannya, dan apa akibatnya kalau ia menolak tawaran kita.

SOENITIYOSO, KATAMSO DAN MAJIMAN KELUAR. TINGGAL HAMANU SENDIRIAN DI PENJARA. IA SELALU MENGUMPAT-UMPAT DAN MENYESALI KESALAHANNYA TELAH MENURUTI AJAKAN PARA PEJUANG REPUBLIK HINGGA IA TERJEBAK DI RUMAH TAHANAN ITU.

HAMANU

(Bicara sendiri) Bagero! Orang-orang Republik penipu! Malu aku, dengan mudahnya aku kena tipu muslihat mereka. Bodoh! Bodoh sekali, kenapa aku tadi percaya dan menurut saja mereka ajak ke mari. (Memukuli kepalanya sendiri, melepaskan topinya, kemudian menjambak-jambak rambutnya) Aku sudah tidak pantas hidup lagi. Mestinya aku harus melakukan harakiri. Tetapi samuraiku juga sudah mereka rampas. Lalu pakai apa aku harus melakukan harakiri? (Hamanu berjalan mondar-mandir gelisah dan bingung mencari akal untuk melakukan harakiri)

PINTU DIBUKA. SOENITIYOSO MASUK DENGAN MEMBAWA MAP BERISI BERITA ACARA PENYERAHAN SENJATA YANG BERADA DI MARKAS BANYAKAN. DIIKUTI  KATAMSO DAN MAJIMAN. MAJIMAN MEMBAWA GERANGGANG BAMBU RUNCING DI TANGANNYA. MEREKA LANGSUNG MENEMUI HAMANU YANG MASIH MONDAR-MANDIR DENGAN LANGKAH-LANGKAH YANG MENUNJUKKAN KEGELISAHAN.

SOENITIYOSO

Apa kabar Tuan Hamanu? Sudah Tuan renungkan dan pikir baik-baik permintaan kami? Sekarang Tuan sudah dapat mengambil keputusan?

HAMANU

Tuan Soenitiyoso! Kembalikan saya ke markas! Tuan telah menipu saya. Saya tidak bisa berpikir tenang di tempat seperti ini.




SOENITIYOSO

Saya tidak akan memutar balik jarum jam ke tempat semula. Waktu telah berlalu. Babak itu telah dilalui. Sekarang kita sudah sampai pada babak dimana Tuan harus mengambil keputusan untuk menyerahkan seluruh senjata yang ada di markas Tuan kepada kami. Atau...

HAMANU

(Memotong) Atau apa?

KATAMSO

Atau Tuan kami habisi dengan cara yang mengerikan.

MAJIMAN

(Mengacungkan Geranggang Bambu Runcing) Geranggang Bambu Runcing ini akan menembus ngodhel-odhel perut Tuan, hingga usus Tuan, berikut seluruh isinya akan terburai ke luar berceceran.

HAMANU

(Ketakutan) Mengerikan! Perlakuan yang sungguh kejam!

KATAMSO

Tuan dan orang-orang Tuan juga kejam. Kalian telah menjadikan rakyat kami sebagai romusha. Bekerja paksa tanpa dikasih makan yang layak, sehingga banyak rakyat kami yang jadi korban. Tubuhnya kurus tinggal lung-lit, balung (tulang) dan kulit. Lalu banyak yang mati mengenaskan. Tuan tahu, bagaimana rasanya perut lapar melilit-lilit, dipaksa bekerja keras mengangkuti beban yang melebihi kekuatannya?

HAMANU

(Memandang kepada Katamso dengan penuh penyesalan) Kami hanya menjalankan perintah.

KATAMSO

Sama saja. Kami juga hanya menjalankan perintah. Kami harus memaksa Tuan menandatangani Berita Acara Penyerahan Senjata di Markas Tuan. Kalau Tuan tidak mau, kami diperintah untuk memaksa Tuan, atau bahkan membunuh Tuan dengan cara yang kami sukai, sebagai pelajaran bagi kawan-kawan Tuan yang lain.

HAMANU

Saya tidak berani melanggar perintah atasan. Saya tidak berani mendahului. Lebih baik saya kalian bunuh. Tetapi jangan pakai cara mengerikan seperti itu. Tembak saja kepala saya! Saya mati. Habis perkara. Silakan Tuan-tuan ambil semua senjata, tapi bukan atas tanggung jawab saya.

KATAMSO

Enak saja Tuan memilih cara mati. Ditembak dor! Hilang nyawa. Lalu sudah tidak merasakan apa-apa. Tapi kami ingin tidak seperti itu. Sama-sama mati, Tuan harus merasakan siksaan yang amat pedih untuk jangka waktu yang cukup lama. Isi perut Tuan berceceran. Darah Tuan berlelehan. Sakit, pedih dan lemas harus Tuan rasakan mengiringi keluarnya nyawa Tuan perlahan-lahan dari tubuh Tuan.

HAMANU

(Semakin merasa ngeri, lalu menjerit) Jangan Tuan! Jangan lakukan itu! Saya amat takut mati seperti itu! Lebih baik biarkan saya melakukan harakiri. Pinjami saya pedang atau belati Tuan. Biar saya tusuk sendiri perut saya. Lalu penggallah kepala saya. Saya ingin mati secara terhormat. Dan saya akan merasa sangat berterima kasih kalau Tuan-tuan mau melakukan seperti yang saya minta.

SOENITIYOSO

Enak saja. Bagi kami Tuan dan bangsa Tuan adalah penjajah, pemeras, dan pembuat sengsara rakyat Indonesia. Kenapa kami harus memberi kesempatan kepada Tuan untuk mati secara terhormat? Kalian telah membuat bangsa kami tersiksa dan sengsara, sudah sewajarnya kalau kami juga menyiksa dan membuat sengsara Tuan. Kematian di ujung geranggang bambu runcing itulah mati yang tepat bagi Tuan. Kecuali...

HAMANU

(Memotong) Kecuali apa Tuan?

SOENITIYOSO

Kecuali apabila Tuan bersedia menandatangani Berita Acara Penyerahan Senjata yang sudah kami buat ini (Mengulurkan map).

HAMANU

Tidak! Kami tidak akan tandatangani Berita Acara itu tanpa persetujuan dari atasan saya di Solo.

KATAMSO

Jadi Tuan tetap pada pendirian Tuan? Tuan tetap tidak mau menyerah baik-baik?

HAMANU

Saya seorang prajurit. Saya taat pada atasan sebagai wakil Kaisar di sini. Kalau atasan saya memerintah menyerahkan semua senjata pada Tuan-tuan. Semua akan saya serahkan. Tidak satu pun akan saya sembunyikan. Tetapi kalau atasan saya memerintah saya untuk mempertahankan, maka akan saya pertahankan sampai titik darah penghabisan.

KATAMSO

Tuan Hamanu ini memang orang yang tidak tahu diri. Sekarang ini negara Tuan sudah kalah perang. Kalian sudah takluk. Kalian sudah tidak berhak lagi menduduki daerah jajahan. Apalagi negara yang Tuan jajah itu sekarang sudah menyatakan diri sebagai negara yang merdeka. Jadi kalian harus pergi dari negeri ini. Atau kalian menyerahkan seluruh senjata Tuan, lalu kami akan memulangkan Tuan ke negeri Tuan.





HAMANU

Kami memang kalah perang, tetapi tidak oleh bangsa Indonesia. Kami kalah oleh Sekutu. Kami memang akan menyerahkan semua senjata kami, tetapi tidak kepada orang-orang Indonesia, tetapi kepada tentara Sekutu.

KATAMSO

Kalau begitu Tuan memang harus kami paksa untuk menyerah dan mau menandatangani Berita Acara penyerahan ini.

HAMANU

Dipaksa pun kami tetap tidak akan mau!

MAJIMAN

Brengsek! Lama-lama saya jadi tidak sabar menghadapi orang ngeyel yang tidak dapat melihat situasi dan kondisi ini. (Semakin maju sambil menodongkan geranggang bambu runcingnya sambil mengancam) Mau menandatangani apa tidak?

HAMANU

Bunuh saja saya! Saya sudah tidak takut mati lagi. Bunuh saja saya! Ayo, bunuh saya!

MAJIMAN

Kurang ajar! Benar-benar orang ini menguras kesabaran saya. Sedikit lagi bambu runcing ini akan menembus perutmu Jepang gendut!

SOENITIYOSO

(Mendekati Majiman dan mencegah) Jangan! Tahan emosimu Sdr. Majiman! Mari kita tenangkan diri dulu. Mari kita keluar dulu agar Tuan Hamanu dapat berpikir lebih jernih lagi. Kita pun perlu mencari cara untuk dapat mendapatkan ikan tanpa mengotori airnya. (Menarik tangan Majiman dan mengajak yang lain-lainnya untuk ke luar. Majiman pun mengikut. Sebelum mereka semua keluar Soenitiyoso berpesan kepada Hamanu) Tuan Hamanu, coba pikirkan baik-baik sekali lagi, apakah Tuan bersedia menandatangani Berita Scara Penyerahan senjata yang kami buat atau Tuan memilih mati dengan cara yang menyakitkan di ujung bambu runcing Sdr. Majiman? Sekarang kami akan keluar, sebentar lagi kami akan kembali untuk mendapatkan kepastian dari Tuan.

SOENITIYOSO, KATAMSO DAN MAJIMAN KELUAR. HAMANU SENDIRI LAGI. IA NAMPAK SANGAT GELISAH. BERJALAN MONDAR-MANDIR SAMBIL MELIHAT KE SANA KE MARI MENCARI SESUATU YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK BUNUH DIRI.

HAMANU

Orang-orang Indonesia itu sudah keterlaluan. Mereka telah menipu saya. Sekarang mereka memaksa aku menandatangani Berita Acara Penyerahan Senjata. Bahkan mereka sekarang mengancam aku akan membunuh aku dengan cara yang sangat kejam tak berperikemanusiaan. Hukuman tembak itu lebih baik. Tapi ini, perut ditusuk diodhol-odhol pakai senjata bambu runcing yang tidak setajam pedang atau tombak. Sungguh mengerikan!

HAMANU BERHENTI DARI BERJALAN MONDAR-MANDIR. IA BERPIKIR LALU IA SEPERTI MENEMUKAN AKAL.

HAMANU

(Bicara sendiri) Satria-satria Jepang diajar menjaga kehormatan dengan melakukan harakiri. Untuk menjaga kehormatan, karena merasa gagal dalam menjalankan tugas, lebih baik harakiri, bunuh diri menusuk perut sendiri dengan samurai atau belati. Tetapi aku tidak punya samurai atau belati. Semua sudah diambil orang-orang yang mengaku pejuang itu. Lalu sekarang yang ada hanya kain. Ya hanya pakaian yang melekat di badan. Akankah aku menggantung diri dengan memakai pakaian saya saja ya? Tetapi apakah mati gantung diri juga dapat dikatakan sebagai harakiri? Atau aku membentur-benturkan kepalaku ke dinding hingga pecah kepalaku, dan otakku berceceran juga merupakan harakiri? Pusing aku! Pusiiiiiiiing!

HAMANU LALU MENDEKATI DINDING. IA BERANCANG-ANCANG AKAN MEMBENTURKAN KEPALANYA KE DINDING. TETAPI KETIKA KEPALANYA SUDAH MENDEKATI DINDING, IA URUNGKAN  NIATNYA.

 HAMANU

(Bicara sendiri) Ini sungguh sakit. Mengerikan! Mengerikan sekali! Kepala membentur dinding. Ya kalau terus pecah, otaknya keluar, nyawa melayang. Mati. Kalau tidak sampai pecah? Tidak sampai mati? Hanya sakit yang amat sangat. Gegar otak. Woww... aku bisa gila! Aku bisa jadi orang gila kalau sampai begitu. (Hamanu diam. merenung) Mungkin lebih baik kalau aku gantung diri saja. Pakaian aku robek-robek, lalu aku sambung-sambung , lalu aku ikatkan ke leherku. Tapi, mana tumpuan yang akan aku injak lalu aku tendang, agar aku dapat menggantung? Lagipula, apakah mati gantung diri juga termasuk harakiri? Apakah mati gantung diri termasuk mati terhormat, seperti harakiri dengan menusuk perut atau jantung sampai mati? Pusing aku! Lagi-lagi pusing aku!

TIBA-TIBA SOENITIYOSO, KATAMSO DAN MAJIMAN MASUK LAGI UNTUK MENEMUI HAMANU.   

SOENITIYOSO

Bagaimana Tuan Hamanu? Sudah mendapat keputusan?

HAMANU

Tuan Soenitiyoso, kalau boleh memilih, saya lebih suka kalau Tuan mengijinkan saya melakukan harakiri. Tuan pinjamkan pedang Tuan atau belati Tuan, untuk  saya tusukkan ke perut saya. Lalu Tuan penggal kepala saya. Semua senjata boleh Tuan ambil di luar tanggung jawab saya.

SOENITIYOSO

Saya tidak akan melakukan itu Tuan Hamanu. Pilihan yang saya tawarkan hanya dua. Tuan menyerah, menandatangani Berita Acara Penyerahan Senjata yang ada di Markas Banyakan. Lalu Tuan bersama anak buah Tuan kami angkut ke penampungan sementara di Tampir Boyolali. Atau Tuan tetap menolak maka akan kami siksa dengan tusukan geranggang bambu runcing sampai Tuan mati kehabisan darah. Cuma itu pilihan Tuan.




HAMANU

Saya amat ngeri membayangkan mati perlahan-lahan di ujung bambu runcing Tuan yang kelihatan amat mengerikan itu. Tapi sebetulnya juga amat takut untuk mengambil keputusan mendahului perintah atasan saya.

SOENITIYOSO

Tuan jangan khawatir. Urusan dengan atasan Tuan nanti saya yang akan tanggung. Amat mungkin saat ini atasan Tuan di Solo sana juga sedang menghadapi tekanan para pejuang di Solo untuk menyerahkan senjatanya. Saat ini bangsa kami memang sedang melakukan gerak kilat untuk melucuti senjata serdadu Tuan yang ada di Indonesia. Mumpung Sekutu yang amat mungkin diboncengi Belanda belum datang ke sini.

KATAMSO

Sebetulnya sama saja bagi Tuan, menyerahkan senjata kepada kami Bangsa Indonesia atau kepada Sekutu. Bagi kami, apabila Tuan mau menyerahkan senjata berarti Tuan membantu perjuangan suci kami untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tetapi apabila Tuan menyerahkan senjata Tuan kepada Sekutu, berarti Tuan membantu musuh yang akan melakukan kejahatan kepada bangsa kami.

SOENITIYOSO

Benar apa yang dikatakan Sdr. Katamso. Sekarang bagaimana keputusan Tuan?

HAMANU

Berhubung kemungkinan atasan saya di Solo juga sedang mendapat kesulitan seperti yang saya alami sekarang ini, maka saya menyatakan diri menyerah.

SOENITIYOSO

Jadi Tuan mau menandatangani Berita Acara ini? (Menunjukkan map di tangannya)

HAMANU

Tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Saya harus menandatangani Berita Acara itu. Sekarang bawalah ke mari, saya akan menandatanganinya.

DENGAN GEMBIRA SOENITIYOSO MENDEKATI HAMANU, LALU MEMBUKA MAP YANG BERISI BERITA ACARA PENYERAHAN SENJATA. IA JUGA MEMBERIKAN  PENA UNTUK TANDA TANGAN. KATAMSO, DAN MAJIMAN IKUT MERUBUNG HAMANU YANG SEDANG TANDA TANGAN. KETIKA PENANDATANGANAN SUDAH SELESAI MEREKA MERASA LEGA.

SOENITIYOSO

(Mengajak Hamanu) Marilah Tuan bergabung dengan yang lain-lainnya. Anak buah Tuan sudah siap kami berangkatkan ke penampungan sementara di Tampir Boyolali.

HAMANU

Baiklah. Tapi jangan perlakukan saya kasar seperti tawanan yang hina.



SOENITIYOSO

Tidak. Kami tetap menjaga kehormatan Tuan Hamanu sebagai seorang komandan. Silakan jalan di depan.

HAMANU LALU KELUAR, DIIKUTI SOENITIYOSO, KATAMSO DAN MAJIMAN.
DI LUAR MEREKA DISAMBUT DENGAN PEKIK MERDEKA BERULANGKALI.

LAYAR TURUN.


EPILOG


DIIRINGI LAGU MARS “INDONESIA TETAP MERDEKA”, NARATOR BERDIRI DI PANGGUNG BELAKANG YANG AGAK TINGGI MEMBACAKAN NARASI:

Begitulah
dengan diplomasi para pemimpinnya
disertai tekanan dan ancaman para
pemuda dan pejuang lainnya
satu demi satu
pucuk-pucuk senjata Jepang
jatuh ke tangan para pejuang

Setelah di Kantor Polisi dan di Markas Banyakan
ganti Sri Yunanto,  Midun dan Hartono melakukan
perundingan di lapangan terbang Demangan
Setelah melalui perdebatan sengit serta
tekanan para pemuda di luar pagar
akhirnya pihak Jepang di bawah pimpinan
Kapten Yamato
menyerahkan senjata-senjata:
karabijn, pestol, senapan, granat dan lain-lain
Sedangkan senjata-senjata berat
dan tentara Jepang yang ada di Demangan
dikirim ke Lapangan Terbang Maguwo

Keberhasilan perlucutan senjata ini
diikuti perlucutan senjata di Jatinom
di Ponggok, di Gedaren, di Karanganom
dan di tempat-tempat lain
Di Jatinom, Wedono Projosumarto dengan
dukungan para pemuda pejuang
berhasil mengambil alih pabrik gula yang
banyak menyimpan perbekalan makanan,
tekstil, obat-obatan dan lain-lainnya
Wedono Projosupadmo dengan dukungan
para pemuda pejuang
setelah melalui perundingan yang alot dan lama
dengan Komandan Tentara Jepang
akhirnya berhasil membuat tekuk lutut
1 kompi pasukan dan melucuti 140 senjata

Untuk pengambil-alihan pabrik-pabrik dan
perusahaan-perusahaan
dari tangan Jepang
Moh Bustanim, Suwoto dan Dukut
ke Solo menemui Kooti Jimu Kyookan
Meskipun pimpinan Jepang di Solo itu
tidak berani menyerahkan secara resmi
setelah melalui perundingan yang cukup lama akhirnya
ia mau membuat surat secara pribadi kepada para
pimpinan pabrik gula dan perusahaan-perusahaan lainnya
agar secara damai menyelesaikan dengan wakil-wakil
pemerintah setempat

Dengan surat itu, dan atas desakan dari
kekuatan setempat seperti BKR,
Angkatan Muda, Barisan Buruh Indonesia
dan lain-lain Badan Perjuangan setempat
Pimpinan Pabrik Gula dan Pabrik Tembakau
berhasil diambil alih dari tangan Jepang
kepada Bangsa Indonesia

Selanjutnya perkembangan pengorganisasian perjuangan kemerdekaan
berjalan terus dan semakin ditingkatkan
disesuaikan dengan instruksi-instruksi dari pusat
Angkatan Muda Tentara, para pemuda bekas PETA,
bekas HEIHO, bekas KAIGUN Heiho,
bekas Keibodan, bekas Seinendan, bekas Suisintai,
bekas Jibakutai dan lain-lain pemuda pejuang
dihimpun dan dibentuk menjadi TKR
dipimpin Mayor Soenitiyoso

Begitulah, Klaten semakin siap menghadapi jaman baru
jaman kemerdekaan
untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia
mewujudkan masyarakat adil makmur
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
meskipun masih banyak halangan dan rintangan
yang mesti dialami.

LAYAR TURUN
SELESAI
                                                                                    
                                                                                          
                                                                                          Klaten, 25 Oktober 2014

DAFTAR PUSTAKA:
Panitiya Pembangunan Monumen Perjoangan ’45 Klaten. 1976. ”Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Klaten”.su

Related posts:

No response yet for "Naskah Drama Sejarah: Gelora Proklamasi Kemerdekaan"

Post a Comment