BOYONG PENGANTIN MAMPIR KE BLEDUG KUWU, KRADENAN, GROBOGAN

BOYONG PENGANTIN MAMPIR KE BLEDUG KUWU, KECAMATAN KRADENAN, KABUPATEN GROBOGAN

Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Bulan Ruwah atau Bulan Sya’ban, sebelum bulan Puasa, biasanya banyak digunakan orang untuk melakukan hajatan. Undangan resepsi pernikahan hari Sabtu dan Minggu kadang satu hari bisa sampai dua, tiga, atau bahkan empat kali. Hal ini karena nanti kalau sudah memasuki bulan Puasa Ramadhan biasanya orang menghindari  menggunakannya untuk pesta pernikahan. Karena bulan puasa adalah bulan untuk beribadah, yang pada siang harinya orang Islam dilarang makan dan minum, sehingga orang Islam tidak mungkin akan menjamu tamu, apalagi pesta, pada waktu siang hari. Sedangkan malam harinya lebih baik untuk memperbanyak amal ibadah, sholat taraweh, dzikir dan tadarus, dari pada mendatangi pesta penikahan yang seharusnya dapat digelar di bulan lain. Akibatnya bulan Sya’ban dan bulan Syawal lebih banyak orang menggelar pesta pernikahan.
Demikianlah maka tanggal 28 Mei 2016 yang bertepatan dengan tanggal 22 Sya’ban tahun 1437 H. yang lalu, kakak saya Slamet Riyanto menikahkan putrinya Oktafia Purwanti, S.Pd dengan Masrukin putra Bapak-Ibu Suparno dari Dukuh Kliling, Desa Kunden, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Ketika menerima salam pamitan dari para pengiring pengantin laki-laki, setelah selesainya pesta pernikahan, ibu-ibu among tamu berjabat tangan sambil menawarkan agar mereka suka mampir ke obyek wisata Candi Prambanan, mumpung sudah ada di Klaten. Seperti kita ketahui bersama, Klaten dan Yogyakarta dikenal sebagai daerah seribu candi. Banyak candi besar kecil tersebar di sekitar wilayah Klaten dan Yogyakarta. Ini adalah kebanggaan kami. Dan kami selalu menawarkan kepada orang-orang luar daerah yang datang berkunjung ke daerah kami sebagai tamu, untuk mengunjungi candi-candi tersebut.

Entah tamu-tamu tersebut menurut mampir ke Candi Prambanan atau tidak, namun kemudian ketika tanggal 29 Mei 2016 kami ganti menjadi pengiring mengantar kedua mempelai ke Kliling, Kunden, Wirosari dalam acara Boyong Pengantin Oktafia Purwanti, S.Pd – Masrukin, ketika telah selesai acara, berpamitan untuk pulang kembali ke Klaten, kami disarankan mampir dulu ke obyek wisata Bledug Kuwu, yang jaraknya hanya sekitar 10 Km. Karena kami memang ingin melihat obyek wisata yang langka tersebut, kami pun menyempatkan diri mampir ke Bledug Kuwu.

Pejalanan Menuju ke Lokasi Bledug Kuwu

Dari jalan raya jurusan Solo – Blora, sampai di perempatan lampu merah di kota Wirosari, kalau dari arah Solo, ambil jalan belok kanan (ke selatan), sesuai papan penunjuk arah yang tertera di pinggir jalan. Perjalanan mengikuti jalan aspal/beton terus kira-kira sejauh 9 Km.  Di sepanjang jalan, di kanan kiri kita lihat tanah sawah yang luas terhampar. Bulir-bulir padi yang bernas berwarna kuning keemasan tandanya sebentar lagi minta dipanen menghiasi perjalanan kami. Kadang-kadang  diselingi perkampungan.

Setelah beberapa waktu bus kami berjalan akhirnya kami melihat di sebelah kanan jalan, hamparan tanah tandus tanpa tanaman yang sangat luas. Nun di kejauhan nampak seleret tanah lumpur berwarna hitam dan asap mengepul di atasnya.
”Nah, itu dia Bledug Kuwunya! Kita sudah sampai. Ayo kita mampir dulu!” teriakku.

Berwisata di Kawasan Bledug Kuwu

Ketika kami melihat ke depan, ternyata di pinggir jalan sudah ada beberapa bus dan mobil diparkir. Ternyata bus-bus tersebut membawa mahasiswa-mahasiswa Fakultas Teknik Geologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Mungkin mereka sedang mengadakan study tour atau penelitian. Kami pun lalu memarkir bus kami di antara bus-bus tersebut. Lalu kami menuju ke pintu gerbang obyek wisata. Di loket tertera harga tiket masuk Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah) untuk satu orang. Karena kami berjumlah 25 orang maka kami membayar Rp. 50.000,- untuk masuk ke kawasan wisata Bledug Kuwu.

Ketika kami masuk, di pintu gerbang kami ditawari buku kenang-kenangan yang ditata berjejer di atas meja. Buku tersebut adalah buku “Legenda Terjadinya BLEDUG KUWU” buku setebal 28 halaman tersebut dijual Rp. 10.000,- Karena saya memang menyukai cerita-cerita legenda yang berhubungan dengan suatu daerah tertentu maka saya membeli satu. Dengan harapan nanti akan saya buat ringkasannya untuk dibagikan kepada para pembaca di internet. Sayang buku yang diberi sambutan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Grobogan, H. Mulyono, U.S tahun 1995 itu tidak menyebutkan nama penulisnya.

Selain buku kami juga ditawari menyewa payung seharga Rp. 2.000,- Karena untuk mendekati obyek lumpur yang meletup-letup menimbulkan suara “Bleduuugggg….!” itu cukup jauh, di kanan kiri tidak ada tanaman peneduh maupun bangunan untuk berteduh, sehingga udaranya panas, maka ada yang menawarkan jasa penyewaan  payung. Saya lalu menyewa satu buah.

Kawasan wisata Bledug Kuwu luasnya + 45 Ha. Berada pada ketinggian + 53 m di atas permukaan air laut. Untuk mendekati rawa berlumpur ini kita harus berjalan sejauh + 150 m melewati tanah retak-retak bekas luberan lumpur yang sudah mengeras tetapi masih labil. Kadang kita harus menghindari tanah yang masih becek. Kalau kita coba  melompat dengan keras, tanah yang kita pijak terasa bergoyang. Selanjutnya kita harus berhenti pada jarak kira-kira 30 m dari air lumpur yang meletup-letup, sesekali muncul gelembung lumpur besar, lalu meletus muncrat ke atas, meninggalkan asap mengepul ke udara. Memang tidak ada garis polisi atau garis larangan mendekat untuk keamanan pengunjung, tetapi biasanya pengunjung takut sendiri untuk lebih dekat lagi.
Gelembung lumpur yang kemudian meletup ke atas ini bisa besar dan tinggi bisa kecil dan pendek. Konon ada yang sudah meneliti,  gelembung lumpur yang oleh masyarakat dinamakan bledug itu yang terbesar, tingginya bisa mencapai + 530 Cm dan kelilingnya + 890 Cm. Sedangkan yang terkecil, tingginya + 90 Cm dan kelilingnya + 89 Cm. Oleh masyarakat setempat bledug yang besar yang biasanya muncul di sebelah timur dinamakan Jaka Tuwa, sedangkan yang kecil yang biasanya muncul di sebelah barat dinamakan Rara Denok.

Menurut penelitian, kawasan Bledug Kuwu ini dulunya adalah laut. Hal ini dibuktikan dengan keluarnya garam, di samping uap air yang berwarna putih, gas sulfatar dan gas mofet, di samping tanah lumpur pada setiap letupan bledug. Keluarnya lumpur menunjukkan bahwa gas yang mencari jalan keluar dari perut bumi mendesak bagian yang mengandung air dan tanah lumpur. Hal ini karena tanah yang mengandung lumpur lebih ringan dari pada tanah biasa. Gas lebih mudah lewat pada bagian tersebut. Karena ringan kemudian mendorong naik ke atas sehingga meletup ke muka bumi. Kandungan garam yang bercampur dengan lumpur merupakan bukti bahwa lumpur yang terdorong dari perut bumi tersebut adalah endapan hasil erosi di dasar laut Muria.

Keberadaan Bledug Kuwu sebenarnya tidak sendiri. Masih ada beberapa rawa lumpur di wilayah Kabupaten Grobogan yang satu sama lain mungkin saling berhubungan. Setidaknya dihubungkan dalam suatu cerita legenda, cerita perjalanan Jaka Linglung, ular raksasa yang mengaku putra Ajisaka. Rawa-rawa lumpur tersebut adalah rawa lumpur di Desa Jono Kecamatan Tawangharjo yang menghasilkan bleng (campuran untuk membuat krupuk), yang banyak dimanfaatkan penduduk untuk membuat garam dapur. Lalu rawa lumpur Crewek dan rawa lumpur Kesanga yang lebih luas dari rawa lumpur Bledug Kuwu dan rawa lumpur Ngramesan. Sayangnya kedatangan saya ke tempat ini bukan semata-mata untuk berwisata, tetapi kami hanya mampir setelah mengantarkan pengantin dalam acara boyong pengantin. Sehingga kami tidak bisa melihat rawa-rawa lumpur tersebut semuanya.

Cerita Prabu Dewata Cengkar

Menurut legenda yang diyakini masyarakat setempat dan dituturkan secara turun temurun, Adipati Dewata Cengkat  adalah salah satu putra Prabu Sindulaya Sang Hyang Prabu Watu Gunung yang berkuasa di Kerajaan Galuh, Jawa Barat. Ia anak kedua dari keempat anak Prabu Watu Gunung. Sebenarnya ia adalah putra mahkota yang nantinya akan menggantikan kedudukan sebagai raja setelah Prabu Watu Gunung lengser keprabon. Tetapi karena Adipati Dewata Cengkar mempunyai kegemaran memakan daging manusia, sudah diperingatkan ayahnya tetap nekat, akhirnya ia diusir dari Kerajaan Galuh.

Diikuti beberapa prajurit dan beberapa orang pengikut yang masih setia kepadanya, Adipati Dewata Cengkar dengan penuh rasa dendam pergi diam-diam meninggalkan istana Galuh. Perginya menuju ke  arah timur. Setelah berjalan beberapa hari mereka sampai di pegunungan Kendeng. Di daerah yang strategis, berhadapan dengan laut, teluk Lusi,  pemandangannya indah dan mudah untuk mengadakan hubungan ke luar melalui laut, Adipati Dewata Cengkar bersama para pengikutnya berhenti untuk menghimpun kekuatan. Kemudian ia mendirikan Kerajaan Medang Kamolan, dan mengangkat diri menjadi raja dengan gelar Prabu Dewata Cengkar. Pengkut setianya yang bernama Arya Tengger diangkat menjadi patih. Pengikut yang lain yang bernama Ruda Peksa  diangkat menjadi Tumenggung. Setelah merasa kuat Prabu Dewata Cengkar membawa bala tentaranya untuk membalas dendam menghancurkan Kerajaan Galuh yang dipimpin ayahnya sendiri.

Karena kekuatan Galuh sudah berkurang, yang disebabkan sebagian prajuritnya sudah  pergi mengikuti Dewata Cengkar, maka dengan mudah Kerajaan Galuh dapat dikalahkan. Prabu Watu Gunung sendiri mati di tangan Prabu Dewata Cengkar. Tetapi sebelum mati ia sempat mengutuk Prabu Dewata Cengkar yang kelakuannya seperti binatang, kelak Dewata Cengkar akan menjadi binatang sesungguhnya.

Prabu Dewata Cengkar sempat menyesal dan takut kalau kutukan itu menjadi kenyataan, tetapi perasaan itu terdesak oleh kegembiraan dan sorak sorai prajuritnya yang mengelu-elukan kemenangannya. Kemudian mereka pulang ke negara Medang Kamolan dengan penuh kegembiraan. Di sepanjang jalan mereka disambut dengan teriakan-teriakan kemenangan oleh rakyatnya.

Di Kerajaan Medang Kamolan pesta kemenangan digelar dengan makan minum dan tari-tarian sepuas-puasnya. Pada waktu mempersiapkan pesta kemenangan, tanpa sengaja seorang juru masak teriris jarinya. Potongan jari kelingking dan darah yang mengucur bercampur sayuran dan daging yang lainnya masuk ke dalam tempat memasak. Setelah selesai mengobati lukanya ia berusaha mencari potongan jari kelingking tersebut, tetapi tak ditemukannya. Anehnya rasa masakan itu, terutama potongan jari kelingking yang termakan oleh Prabu Dewata Cengkar terasa sangat enak. Hal ini mengingatkan kembali kebiasaan lama Sang Prabu yang setelah pergi meninggalkan Kerajaan Galuh terlupakan, karena kesibukan membangun kerajaan yang baru didirikan. Prabu Dewata Cengkar ketagihan lagi untuk menyantap daging manusia setiap hari! Ia memerintahkan patih dan tumenggungnya setiap hari menyediakan santapan daging yang tidak dijual di pasar itu.
Patih Arya Tengger bagaikan disambar petir menerima perintah itu. Ia tidak menyangka kalau rajanya mempunyai kebiasaan makan daging manusia. Memang ketika masih ada di Galuh dulu tidak banyak orang yang tahu kebiasaan buruk yang mengerikan itu. Kalau tahu tentu para prajurit tidak mau ikut pergi meninggalkan Galuh sebagai pengikut setianya. Takut kalau suatu saat mereka akan dijadikan santapan junjungan mereka sendiri.

Mula-mula yang dijadikan korban persembahan kepada rajanya adalah para narapidana di penjara. Kemudian ketika narapidana di penjara sudah habis, secara diam-diam ia memerintahkan prajurit khusus untuk menculik para pemuda. Tugas ini meski dilakukan secara rahasia akhirnya diketahui juga oleh rakyat Medang Kamolan, maka rakyat pun lalu secara diam-diam meninggalkan wilayah Kerajaan Medang Kamolan.

Setelah berkali-kali merasakan daging pemuda kemudian Prabu Dewata Cengkar ingin merasakan daging perempuan yang masih muda. Patih Arya Tengger merasa pusing karena penduduk yang mempunyai anak gadis sudah tidak ada di wilayah Medang Kamolan. Mereka kebanyakan sudah pergi mengungsi. Maka Ki Patih merasa senang ketika anak buah Tumenggung Ruda Peksa melapor bahwa di rumah Kaki Grenteng masih ada seorang gadis yang dapat dijadikan korban. Gadis tersebut bernama Rara Cangkek. Patih Arya Tengger segera memerintahkan prajuritnya untuk mengepung rumah Kaki Grenteng agar dapat menangkap anak gadisnya.

Kedatangan Ajisaka

Tersebutlah seorang pengembara muda dari tanah seberang yang bernama Ajisaka. Konon ia berasal dari tanah India. Ia diikuti kedua orang sahabat setianya bernama Dara dan Sembada. Mereka mengembara untuk menyebarkan agama yang dianutnya. Perjalanan mereka menuju tanah Jawa sampailah di sebuah pulau bernama Nusa Majedi. Di pulau tersebut Sembada ditinggal untuk sementara waktu. Sedangkan Dara mengikuti Ajisaka melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Medang Kamolan di Pulau Jawa.

Sebelum berangkat Ajisaka berpesan agar Sembada singgah dulu di Nusa Majedi, menjaga barang-barang perbekalan, pakaian dan keris pusaka Ajisaka. Pusaka itu agar dijaga baik-baik. Jangan sampai diberikan orang lain, kecuali Ajisaka sendiri yang datang memintanya. Sembada dengan penuh tanggung jawab menyanggupkan diri menerima amanat tersebut.

Sesampainya di wilayah Kerajaan Medang Kamolan Ajisaka merasa aneh, suasananya sepi dan demikian mencekam. Keterangan dari orang-orang yang terburu-buru pergi mengungsi mengatakan bahwa  kerajaan itu sedang dilanda mala petaka. Rajanya suka makan daging manusia. Satu persatu rakyatnya habis dibantai untuk santapan rajanya. Yang masih hidup pada lari mengungsi ke luar wilayah Kerajaan Medang Kamolan, mencari hidup. Ajisaka melanjutkan perjalanannya, ia ingin sekali menolong rakyat Medang Kamolan. Perjalanannya sampailah di rumah Kaki Grenteng. Rumah yang letaknya terpencil itu dihuni oleh tiga orang, yaitu Kaki dan Nyai Grenteng yang sudah tua, sehingga dagingnya sudah tidak menarik lagi bagi Prabu Dewata Cengkar, dan seorang anak gadisnya yang masih muda dan cantik, bernama Rara Cangkek.

Kedatangan Ajisaka dan Dara semula disambut dengan penuh kecurigaan oleh Kaki dan Nyai Grenteng. Tetapi setelah diketahui bahwa keduanya bukanlah mata-mata Prabu Dewata Cengkar yang sedang mencari korban, mereka berdua disambut dengan tangan terbuka oleh Kaki dan Nyai Grenteng. Kepada keduanya Kaki dan Nyai Grenteng menyuguhkan minuman untuk melepaskan dahaga dan sekedar hidangan untuk menghilangkan rasa lapar. Setelah puas makan dan minum tiba-tiba Ajisaka merasa kebelet untuk buang air. Ia minta ijin untuk buang air di belakang.

Setelah ditemukan letak kamar mandi yang juga berfungsi sebagai kamar kecil, sedianya Ajisaka akan langsung masuk ke kamar mandi. Tetapi sebelum masuk ia dikejutkan keluarnya Rara Cangkek dari kamar mandi tersebut. Keduanya saling berpandangan. Ajisaka gagah dan tampan, Rara Cangkek cantik dan montok.  Rara Cangkek merasa malu dan gugup karena sebagian tubuhnya terbuka. Kemudian ia berlari masuk ke kamarnya sambil  mencincingkan kain yang dipakainya. Ajisaka memandang Rara Cangkek tak berkedip. Hatinya bergetar! Perasaannya sebagai seorang laki-laki  terbangunkan. Ia tak menyangka di desa yang terpencil ini ada seorang gadis yang demikian cantiknya seperti bidadari.

Setelah sadar ia melanjutkan masuk ke kamar mandi untuk buang air yang sudah tidak dapat ditunda lagi. Bersamaan dengan itu, di luar ada seekor ayam jago yang sedang kehausan, datang dari jauh. Jago tersebut  segera minum air yang keluar dari saluran pembuangan limbah kamar mandi tersebut. Tidak seperti biasanya, kali ini yang diminum bukan air bekas mandi tetapi adalah air yang berasal dari air seni Ajisaka. Keajaiban pun terjadi. Begitu selesai minum air seni Ajisaka, sesaat kemudian ayam jago tersebut menunjukkan tingkah laku yang aneh. Ia melonjak-lonjak kegirangan dan berkokok seperti ayam betina yang akan bertelur.

Kokok ayam tersebut sempat mempengaruhi Rara Cangkek. Sehabis dandan ia keluar menangkap ayamnya yang sudah jinak. Digendongnya ayam tersebut seolah menggendong anaknya sendiri. Tahu kalau disayang-sayang majikannya, ayam jago tersebut menjulur-julurkan kepalanya, menggosok-gosokkannya ke leher Rara Cangkek,  minta disayang. Kemudian ayam jago tersebut dimasukkan ke dalam kurungan yang ada di dekat lumbung padi.

Pada saat itu sebetulnya rumah dan pekarangan Kaki Grenteng sudah dikepung prajurit Medang Kamolan di bawah pimpinan Patih Arya Tengger dan Tumenggung Ruda Peksa. Sebetulnya mereka menghindari bertemu dengan orang asing dalam melaksanakan aksinya, tetapi karena Ajisaka dan Dara tidak juga segera pergi dari rumah Kaki Grenteng akhirnya mereka tidak sabar lagi. Beberapa prajurit segera masuk ke rumah Kaki Grenteng. Kaki dan Nyai dipukul kepalanya hingga pingsan, Dara diikat dan dicampakkan di pojok ruangan. Kemudian mereka mengejar dan menangkap Rara Cangkek  di kamarnya. Rara Cangkek meronta-ronta dan berteriak-teriak minta tolong, tetapi tidak ada yang menolongnya.

Ajisaka yang selamat dari penganiayaan pada saat penculikan itu pun tidak dapat berbuat apa-apa. Baru setelah Rara Cangkek dibawa lari keluar pekarangan ia mengejar untuk menghentikan perjalanan para prajurit Medang Kamolan itu. Dikatakannya bahwa ia hendak menolong mereka dari tertular penyakit menular yang berbahaya, dengan cara melepaskan Rara Cangkek. Ajisaka mengatakan bahwa gadis yang mereka bawa itu mengidap penyakit menular yang berbahaya dan sulit disembuhkan. Maka sebagai gantinya Ajisaka bersedia dijadikan korban persembahan kepada Prabu Dewata Cengkar.

Mendengar penawaran itu, dan karena takut tertular penyakit berbahaya yang diderita gadis tangkapannya Patih Arya Tengger dan Tumenggung Ruda Peksa menyetujui. Apalagi setelah ia mengamat-amati Ajisaka yang masih muda, gagah, berdaging dan tampan. Tentu akan menyenangkan dan mengenyangkan Prabu Dewata Cengkar. Akhirnya Rara Cangkek dilepaskan. Sebagai gantinya mereka membawa Ajisaka dan Dara ke Medang Kamolan. Anehnya kedua tawanan ini tidak mau diikat namun juga tidak berusaha melarikan diri seperti tawanan-tawanan calon korban persembahan sebelumnya yang selalu meronta-ronta dalam ikatan.

Ajisaka Minta Tanah Seluas Sorban di Kepalanya

Di istana Medang Kamolan Prabu Dewata Cengkar melihat Patih Arya Tengger dan Tumenggung Ruda Peksa membawa seorang pemuda yang gagah dan tampan, air liurnya sudah mengucur. Ingin rasanya segera merasakan masakan lezat dari daging pemuda di hadapannya itu. Namun sebelum itu dilakukan ia perlu menanyakan permintaan terakhir korbannya terlebih dahulu.

Tak banyak yang diminta Ajisaka, ia hanya meminta tanah di alun-alun seluas sorban di kepalanya. Ia minta agar pengukurannya disaksikan seluruh rakyat Medang Kamolan. Prabu Dewata Cengkar menyanggupi memenuhi permintaan itu. Hari itu juga mulai dilakukan pengukuran. Dengan disaksikan seluruh rakyat Medang Kamolan Ajisaka mulai menggelar sorbannya. Ujung yang tergulung yang ada di bagian utara dipegang Ajisaka, ujung yang satunya yang ada di bagian selatan dipegang Prabu Dewata Cengkar. Patih Arya Tengger dan Tumenggung Ruda Peksa sebagai saksi memberi aba-aba mengikuti jalan Prabu Dewata Cengkar yang terus berjalan menarik ujung sorban mengukur luas tanah yang diminta Ajisaka.

Sejengkal demi sejengkal kain sorban digelar. Selangkah demi selangkah Prabu Dewata Cengkar melangkah menjauh dari ibukota menurutkan tarikan ujung sorban di tangannya. Anehnya kain sorban yang dikiranya hanya beberapa depa hanya cukup untuk mengubur sisa tulang belulang Ajisaka itu, ternyata terus terulur tidak ada habis-habisnya, sampai beratus-ratus hektar. Dalam pengukuran tersebut kadang melewati tanah yang tinggi, bukit-bukit dan gunung-gunung; kadang melewati lembah, ngarai dan jurang. Prabu Ajisaka sampai jatuh bangun kehabisan tenaga. Patih Arya Tengger dan Tumengung Ruda Peksa berulang kali mengingatkan Sang Prabu untuk menghentikan, tetapi ia tidak dapat lepas. Ketika mereka sampai di tebing Laut Selatan atau Samudra Kidul yang curam, Prabu Dewata Cengkar sudah tidak dapat bergerak lagi. Ia berteriak, ”Ajisaka....! Hentikan permainan ini, aku mengaku kalah. Negara dan kekuasaan Medang Kamolan aku serahkan kepadamu, asalkan aku masih hidup.”
Mendengar teriakan Prabu Dewata Cengkar tersebut rakyat Medang kamolan juga berteriak serentak memohon kepada Ajisaka, ”Tuan Ajisaka! Jangan turuti permintaan raja yang kejam itu, korban sudah banyak dan rakyat dibuat menderita karena kekejamannya.”
Ajisaka mempertimbangkan permohonan rakyat Medang Kamolan. Setelah ditimbang-timbang lebih baik membunuh Prabu Dewata Cengkar dari pada membiarkannya hidup yang tidak menutup kemungkinan akan mengulangi perbuatan jahatnya lagi. Maka Ajisaka pun mengibaskan ujung sorban yang dipegangnya. Tak ayal lagi Prabu Dewata Cengkar yang ada di ujung sorban di atas tebing Samudra Kidul terlempar ke udara kemudian jatuh masuk ke Samudra Kidul. Suatu keajaiban terjadi, tubuh Prabu Dewata Cengkar tidak mati ditelan ombak tetapi berubah ujud menjadi buaya putih. Terbuktilah kutukan ayahandanya Prabu Watu Gunung yang mati dipukul penggada anaknya sendiri. Namun demikian buaya putih itu masih mengancam akan memangsa anak cucu Ajisaka dan rakyat  Medang Kamolan yang lengah di Samudra Kidul.

Setelah beramai-ramai menangkap Patih Arya Tengger dan Tumenggung Ruda Peksa yang dianggap pengikut setia Prabu Dewata Cengkar, lalu melemparkannya ke Samudra Kidul agar bergabung dengan rajanya, rakyat dan para prajurit yang sudah bertobat kembali ke istana Medang Kamolan. Mereka mengangkat Ajisaka menjadi raja mereka menggantikan raja lalim Prabu Dewata Cengkar.

Terciptanya Huruf Jawa

Kedaan negara Medang Kamolan yang kembali tentram dan damai mengingatkan kembali Prabu Ajisaka kepada sahabat sejatinya yang ditinggal di pulau Nusa Majedi. Maka diutusnya Dara untuk menjemput Sembada, sekalian membawa keris pusaka yang  dijaga sahabatnya tersebut di pulau Nusa Majedi.

Kedatangan Dara disambut dengan gembira oleh Sembada yang telah lama menunggu-nunggu kabar berita kepergiannya bersama Ajisaka. Mereka berangkulan melepas rindu. Namun ketika Dara menyampaikan maksud kedatangannya untuk menjemput Sembada sekalian meminta keris pusaka Ajisaka yang ditinggal di Nusa Majedi, mulai terjadi perselisihan di antara mereka. Sembada berpegang teguh pada amanah Ajisaka yang memerintahkan untuk menjaga barang-barang, merawat perbekalan, dan yang lebih penting lagi menjaga keris pusaka Ajisaka. Tidak boleh meminjamkan atau pun memberikan keris pusaka itu kepada siapa pun kecuali Ajisaka sendiri yang datang memintanya.

Sementara itu Dara pun juga berpegang teguh pada amanat Prabu Ajisaka yang memerintahkan mengambil kembali keris pusaka sebagai sipat kandel untuk menambah kekuatan batin Prabu Ajisaka dalam memerintah Kerajaan Medang Kamolan. Kedua-duanya sama-sama memegang amanah yang diembannya, karena tidak ada yang mau mengalah, keduanya lalu terlibat dalam suatu perkelahian yang seimbang. Mereka sama-sama kuat, sama-sama perkasa, sama-sama sakti, maka perkelahian pun berlangsung lama. Tetapi keadaan yang lebih menguntungkan adalah di pihak Sembada. Ia membawa keris pusaka Ajisaka. Dihunusnya keris itu lalu ditusukkannya ke dada Dara. Namun karena lengah, mengira Dara sudah mati, ia tidak tahu ketika Dara mencabut keris yang bersarang di dadanya lalu menusukkannya ke dada Sembada.

Akhirnya Dara dan Sembada mati sampyuh kehabisan darah, dalam keadaan sama-sama menjalankan tugas dan amanah yang diberikan kepadanya dari orang yang paling dihormati.
Prabu Ajisaka mendapat firasat yang kurang baik atas kepergian Dara yang tidak segera kembali bersama Sembada. Sang Prabu lalu memerlukan datang sendiri ke Nusa Majeti. Benarlah firasatnya, ternyata ia menjumpai kedua sahabatnya mati sampyuh dalam usahanya mempertahankan amanah yang diembannya. Untuk mengenang jasa atas kesetiaan Dara dan Sembada Prabu Ajisaka menulis huruf-huruf yang merupakan hasil perpaduan dari huruf PALAWA dan huruf DEWANEGARI pada sebuah batu besar sebagai prasasti. Tulisan tersebut menceritakan kejadian yang menimpa kedua orang sahabatnya, Dara dan Sembada, yang gugur dalam melaksanakan tugas. Jumlah huruf yang kemudian dikenal sebagai huruf Jawa tersebut 20 huruf. Huruf-huruf itu adalah sebagai berikut:

Ha Na Ca Ra Ka : artinya Ada utusan
Da Ta Sa Wa La : artinya Saling bertengkar
Pa Da Ja Ya Nya : artinya Sama-sama digdaya/sakti
Ma Ga Ba Tha Nga : artinya Sama jadi mayatnya

Ular Raksasa Mengaku Putra Ajisaka

Diceritakan yang ada di rumah Kaki Grenteng. Ayam jago yang tadinya dikurung di dekat lumbung padi ternyata benar-benar dapat bertelur. Telur satu-satunya yang berbentuk bulat dan besar itu oleh Rara Cangkek ditaruh di bawah tumpukan padi di dalam lumbung. Keanehan dirasakan Nyai Grenteng, tumpukan padi di lumbung setiap hari diambil tetapi nampaknya tidak berkurang, maka ia meminta suaminya untuk membongkar seluruh tumpukan padi di lumbung.

Tatkala pembongkaran sudah hampir selesai, tinggal sedikit lagi padi terbongkar, Kaki Grenteng melihat ada yang bergerak-gerak di bawah tumpukan padi yang tertinggal. Setelah diamat-amati ternyata itu adalah kepala ular raksasa. Dengan perasaan takut perlahan-lahan Kaki Grenteng mundur untuk meraih kayu palang pintu guna memukul kepala ular itu. Tetapi ia terkejut ketakutan dan palang pintu di tangannya pun terlepas ketika ia mendengar ular raksasa itu berbicara kepadanya.

”Kaki! Saya tidak mengganggu Kaki, jangan takut! Tolong aku hadapkan dengan Ibu Rara Cangkek, Kaki!” pinta ular raksasa tersebut.

Nyai Grenteng dan Rara Cangkek yang kemudian dipanggil ke lumbung padi, menjadi terkejut, ketakutan dan kemudian pingsan melihat ular besar di dalam lumbung padinya. Setelah dirawat Kaki Grenteng keduanya siuman kembali. Setelah diberi tahu ular raksasa di hadapannya mereka tahu bahwa ular tersebut berasal dari air seni Ajisaka yang diminum ayam jago, lalu jadi telur, kemudian menetas di bawah tumpukan padi di lumbung.  Mereka lalu berkesimpulan bahwa ular raksasa tersebut adalah anak Ajisaka.    

Ular raksasa kemudian menanyakan di mana ayahnya berada. Rara Cangkek pun memberitahukan bahwa ayahnya sekarang sudah menjadi raja bergelar Prabu Ajisaka tinggal di istana Medang Kamolan. Ular raksasa lalu mohon ijin dan doa restu untuk pergi menemui ayahnya. Setelah mendapat ijin ular raksasa itu pun keluar lumbung padi berjalan menuju ke Kerajaan Medang Kamolan. Karena tubuhnya yang besar dan panjang, banyak pepohonan yang roboh terlewati. Orang-orang yang sedang mencari kayu bakar di hutan pun ketakutan, lari tunggang langgang khawatir dimakan ular raksasa tersebut. Mereka banyak yang mati karena terjatuh ke jurang atau tertimpa pohon yang roboh.

Sesampainya di dekat pintu gerbang istana Medang Kamolan para prajurit berbaris siap menghadang ular raksasa yang akan masuk ke istana. Tetapi sebetulnya mereka ketakutan. Tubuhnya lemas tak berdaya, keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhnya. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara yang menggelegar dai mulut ular raksasa di hadapan mereka, ”Hai orang-orang Medang Kamolan....! Janganlah engkau mengganggu aku apabila ingin selamat. Ketahuilah, aku adalah putra Sang Prabu Ajisaka yang berasal dari desa Cangkek! Oleh sebab itu tolong sampaikan kepada ayahanda Prabu Ajisaka bahwa aku akan menghadap....”

Prajurit penjaga pintu gerbang istana segera berlari melapor kepada Prabu Ajisaka.  Mendengar laporan prajuritnya Prabu Ajisaka setengah tak percaya, namun ia penasaran, ingin tahu bagaimana ujud dan apa mau ular raksasa yang dapat berbicara itu.

”Prajurit...! Sekarang kawal ular itu masuk ke istana. Kalau ular baik tentu tidak berulah di sini, tetapi kalau jahat dan membuat kerusakan, kerahkan seluruh rakyat Medang Kamolan untuk membunuhnya!” perintah Prabu Ajisaka.

”Daulat Gusti Prabu! Hamba akan membawanya ke hadapan Gusti....”
Tak berapa lama kemudian ular raksasa itu pun sudah menghadap Prabu Ajisaka. Tubuhnya melingkar, kepalanya menjulur keluar tertunduk hormat. Prabu Ajisaka menghampiri ular tersebut tanpa rasa takut. Tanya jawab mengenai asal usul ular raksasa itu pun terjadi. Sekarang tahulah Prabu Ajisaka bahwa ular itu berasal dari air seninya yang diminum ayam jago sehingga menyebabkan ayam jago tersebut bertelur. Telur ayam jago yang ditaruh Rara Cangkek di bawah tumpukan padi di lumbungnya itulah yang kemudian menetas menjadi ular raksasa yang sekarang ada di hadapannya. Namun ia tidak mau mengakui begitu saja kalau ular raksasa itu adalah anaknya.

”Aku mau mengakui bahwa engkau adalah anakku, tetapi ada syaratnya,” kata Prabu Ajisaka.
”Apa syaratnya ayahanda Prabu....?”

”Aku mempunyai musuh yang sangat berbahaya terhadap keselamatan rakyat Medang Kamolan. Ujudnya buaya putih yang berada di Samudera Kidul. Kalau kamu dapat membunuhnya, dan kembali ke Medang Kamolan melalui dasar bumi, baru aku akui sebagai anakku. Apa kamu sanggup...?” tanya Prabu Ajisaka.

”Sanggup ayahanda Prabu! Demi rakyat Kerajaan Medang Kamolan semua perintah ayahanda Prabu akan hamba laksanakan. Dan apa pun yang terjadi hamba rela menjadi korban.”

Pertarungan Dengan Buaya Putih

Setelah mendapat ijin dan doa restu Prabu Ajisaka, ular raksasa itu pun keluar meninggalkan istana Medang Kamolan menuju Samudera Kidul. Kebetulan ketika ular raksasa itu sampai di Samudera Kidul, buaya putih jelmaan Prabu Dewata Cengkar sedang berjemur di tepi pantai. Ular raksasa segera menyerangnya. Terjadi pergulatan yang seru anatara ular raksasa dengan buaya putih. Keduanya sama-sama sakti dan perkasa. Tubuhnya pun sama-sama besar melebihi ukuran binatang yang biasa. Mereka saling banting, saling gigit, saling lempar dan saling kejar. Pergulatan di tengah samudera yang menjadi merah karena darah yang mengucur dari luka pun berlangsung berhari-hari. Hingga Samudera Kidul yang semula tenang menjadi berombak besar dan tinggi.  Namun kemudian segera terbukti bahwa ular raksasa ternyata lebih unggul dan lebih sakti. Tubuhnya yang panjang dan besar melilit kuat sekali tubuh buaya putih yang sudah hampir kehabisan tenaga. Kemudian dengan taringnya yang tajam digigitnya leher buaya putih hingga mati terpisah kepalanya. Ular raksasa lalu menelan kepala buaya putih untuk dibawa ke Medang Kamolan dijadikan bukti di hadapan Prabu Ajisaka.

Terjadinya Bledug Kuwu dan Rawa-rawa Lumpur Lainnya

Sesuai pesan ayahandanya ia tidak boleh pulang ke Medang Kamolan lewat di atas bumi, karena akan membuat kerusakan dan menakuti rakyat. Maka ia lewat dasar bumi, mulai menerobos sejak dari tebing laut yang curam. Sebetulnya ia bingung juga menerobos dasar bumi yang gelap dan tanpa rambu-rambu penunjuk arah. Tapi karena ini merupakan kesanggupannya menerima perintah ayahandanya maka ia lakukan juga. Karena perjalanan sudah dirasakan cukup lama, ia memerlukan muncul ke muka bumi untuk melihat keadaan di muka bumi, juga untuk mengetahui arah yang harus ditempuh. Ular raksasa itu pun memunculkan kepalanya ke permukaan bumi yang pertama kali di desa Jono, Kecamatan Tawangharjo. Sehingga di desa ini sekarang dapat dijumpai kubangan  atau rawa lumpur yang dimanfaatkan penduduk untuk membuat bleng dan garam dapur.

Oleh karena yang diperkirakan masih jauh maka ular raksasa itu pun masuk lagi ke perut bumi untuk melanjutkan perjalanan ke arah timur, menuju ke Medang Kamolan. Beberapa saat kemudian ia memunculkan lagi kepalanya ke permukaan bumi untuk melihat arah. Kemunculannya kali ini di desa Crewek. Di desa ini pun sekarang juga dapat dijumpai kubangan lumpur gas.
Setelah mengambil nafas di permukaan bumi beberapa saat, ular raksasa itu kembali masuk ke perut bumi untuk melanjutkan perjalanan. Lama ia berjalan di dalam gelap perut bumi. Karena merasa sudah tidak tahan lagi terlalu lama berjalan di dalam perut bumi, dikerahkannya seluruh kekuatannya untuk mengangkat badannya keluar dari dalam bumi. Kemunculannya yang ketiga kalinya ke permukaan bumi kali ini di desa Kuwu, Kecamatan Kradenan. Ia muncul dengan seluruh badannya, dengan tenaga yang penuh, menimbulkan suara letupan, ”Bleduuuu....gggg!”  Maka tempat itu sampai sekarang dinamakan Bledug Kuwu.

Karena tenaganya sudah hampir habis ia tidak dapat melanjutkan perjalanannya ke Medang Kamolan. Terjadi keajaiban di sini. Tubuhnya yang lumpuh itu mengecil, terus mengecil... dan kemudian menjelma menjadi seorang anak kecil yang lumpuh duduk di pinggir jalan. Untung kemudian lewat seorang dukun bayi di tempat itu. Melihat anak kecil mengalami lumpuh karena kelelahan dan kehabisan tenaga maka dukun bayi mendekatinya, lalu mengurut-urutnya sehingga tenaganya pulih kembali. Ketika ditanya siapa namanya, anak kecil jelmaan ular raksasa yang merasa bingung, menjawab bahwa dirinya linglung (bingung tidak tahu apa-apa), maka dipanggilah anak itu Jaka Linglung.

”Akan ke manakah arah tujuanmu, Jaka Linglung?”  tanya Mbah Dukun Bayi.
”Akan ke Medang Kamolan kok Mbah...! Kalau dari sini terus arahnya ke mana lagi?” kata Jaka Linglung ganti bertanya.

”Ah begitu...! Medang Kamolan sudah dekat, dari sini terus ke arah timur nanti cepat sampai,” jawab Mbah Dukun Bayi.

Setelah Mbah Dukun Bayi berlalu, anak kecil tersebut berubah kembali menjadi ular raksasa seperti semula. Kemudian ia masuk ke lubang yang ada di depannya untuk melanjutkan perjalanan ke Medang Kamolan. Lubang bekas masuknya Jaka Linglung kemudian menutup kembali, penuh berisi lumpur, disusul dengan suara bledug...bledug...!

Terjadinya Kesanga

Ular raksasa Jaka Linglung muncul di istana Kerajaan Medang Kamolan. Karena sudah dapat menunaikan tugasnya membunuh buaya putih dengan mempersembahkan bukti kepala buaya putih, maka Jaka Linglung diakui sebagai anak Prabu Ajisaka. Tetapi karena ujudnya ular raksasa yang menyeramkan, Prabu Ajisaka khawatir akan membuat takut rakyatnya kalau ia tetap berada di istana raja. Maka Jaka Linglung diperintahkan menempati Kebun Raja bersama binatang-binatang lainnya. Jaka Linglung pun menerima dengan senang hati.

Pertama kali menempati Kebun Raja, Jaka Linglung merasa senang karena banyak temannya dan diberi makan cukup. Tetapi beberapa hari kemudian nasib Jaka Linglung tidak diurusi. Karena makannya terlalu banyak maka banyak jatah makan hewan-hewan lainnya dimakannya, sehingga banyak hewan lain tidak kebagian makan. Bukan itu saja! Karena tidak kuat menahan lapar maka satu persatu hewan-hewan di Kebun Raja itu habis dimakannya. Hal ini menimbulkan kecurigaan para penjaga Kebun Raja. Mereka lalu mengintai apa yang sebenarnya terjadi. Setelah perhatian penjaga tertuju pada kandang Jaka Linglung yang ternyata kosong, mereka melacak kepergian ular raksasa itu. Pada waktu itu Jaka Linglung sedang menikmati makan seekor binatang. Mulutnya masih berlepotan darah korbannya. Secara spontan penjaga Kebun Raja berteriak, ”Ular makan binatuuuuuuang....!”

Ketahuan perbuatannya, Jaka Linglung kebingungan. Tapi mau lari ke mana? Orang-orang sudah telanjur tahu. Maka ia pun tetap makan dengan tenangnya, meskipun banyak orang menontonnya. Penjaga Kebun Raja segera melaporkan kejadian itu kepada Prabu Ajisaka di istana. Prabu Ajisaka segera ke Kebun Raja menemui Jaka Linglung.

”Jaka Linglung..., kamu ini memang binatang yang tidak pantas dikasih hati. Engkau ditempatkan di sini bukan untuk menghabiskan binatang-binatang yang lain, tetapi supaya hidup rukun, bukan kebalikannnya, Lingluuuuung! Sekarang keadaan Kebun Raja sudah rusak, rusak karena kamu yang merusaknya. Kalau hal ini sampai berlanjut, semua rakyat Medang Kamolan pun akan habis menjadi makananmu...!” ujar Prabu Ajisaka marah.

”Sekarang kamu harus pergi dari sini. Kamu harus pindah ke hutan Klampis! Dan tidak boleh makan makanan, kecuali ada makanan yang datang sendiri,” perintah Prabu Ajisaka kemudian.
Jaka Linglung pun menurut. Ia pindah ke hutan Klampis. Di hutan  Klampis Jaka Linglung membuat jebakan agar ada makanan yang datang sendiri ke mulutnya. Kepalanya dimasukkan ke semak-semak, mulutnya yang kelewat besar dibuka menganga sehingga tampak seperti goa.
Tempat persembunyian Jaka Linglung tanahnya memang lapang dan rumputnya hijau segar sehingga sering dijadikan tempat penggembalaan ternak. Banyak anak-anak menggembalakan ternaknya di situ. Ketika kemudian terjadi hujan deras, anak-anak gembala yang berjumlah sepuluh orang itu berlari-lari mencari tempat yang teduh. Salah seorang di antaranya menemukan sebuah goa yang lebar. Kemudian sembilan orang yang lainnya menyusul, tetapi salah seorang di antaranya ditolak karena ia menderita penyakit kulit yang baunya anyir. Mereka merasa takut kalau penyakitnya itu menular.

Anak yang diusir itu kemudian berlindung di bawah sebuah pohon yang rindang. Setelah hujan reda ia mencari teman-temannya yang berlindung di dalam goa tetapi tidak menemukan. Goanya pun sudah tidak ada. Baru kemudian ia tahu bahwa yang dikira mulut goa itu sebetulnya adalah mulut ular raksasa, buktinya ia melihat ada ular raksasa  mulutnya masih berlepotan darah segar setelah makan korbannya.  Tentu itu adalah darah kawan-kawannya yang dimakan si ular raksasa. Kejadian ini segera dilaporkan kepada orang tua masing-masing korban.

Kejadian itu membuat suasana di sekitar hutan Klampis menjadi resah. Orang-orang tua khawatir anaknya juga menjadi korban ular raksasa. Mereka tahu ular raksasa itu adalah Jaka Linglung putra raja Prabu Ajisaka. Mereka lalu berduyun-duyun menghadap ke istana Medang Kamolan seperti orang mau berdemo. Mereka menuntut agar Jaka Linglung dibunuh.

Prabu Ajisaka lalu memerintahkan untuk memanggil Kaki dan Nyai Grenteng serta Rara Cangkek datang menghadap ke istana Medang Kamolan. Prabu Ajisaka minta bantuan Kaki Grenteng untuk membunuh Jaka Linglung. Dengan berat hati, karena untuk ketentraman Kerajaan Medang Kamolan, terpaksa Kaki Grenteng melaksanakan titah rajanya. Padahal mereka bertiga merasa ada hubungan batin yang kuat dengan Jaka Linglung yang menetas dan besar di rumahnya.
Kaki Grenteng bertiga dibantu beberapa prajurit dan penduduk Medang Kamolan bersama-sama menuju hutan Klampis. Sampai di tempat yang dituju kaki Grenteng disambut Jaka Linglung dengan deraian air mata. Terlebih bagi Rara cangkek yang sudah menganggap Jaka Linglung sebagai anak sendiri, air matanya terus bercucuran. Ia bersedih akan berpisah dengan anaknya untuk selama-lamanya.

Jaka Linglung sudah mengetahui maksud kedatangan mereka. Ia sudah menyerah dan menganggap semua ini sudah suratan takdir. Ia harus mati di tangan kakeknya sendiri. Ia tidak akan melawan. Ia sudah pasrah kepada kehendak Yang Maha Kuasa.

”Kakiiii...! Sejak dulu sudah aku katakan kepada Sang Prabu Ajisaka, bahwa sekalipun aku harus mati, aku sudah rela apabila Kaki, Nyai dan Ibu Rara Cangkek berada di hadapanku. Atas perintah Sang Prabu Ajisaka kepada Kaki laksanakan saja. Saya sudah siap mati, Kaki....!”
Untuk menghindari adanya korban berikutnya Kaki Grenteng kemudian mencengkal mulut Jaka Linglung yang menganga dengan kayu besar yang kuat, sehingga tidak dapat mengatup lagi. Kemudian seluruh badan jaka Linglung sejak dari leher sampai ekornya dipantek dengan bambu yang diruncingkan, sampai Jaka Linglung tidak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya Jaka lilung pun mati.

Mereka kemudian kembali ke istana Medang Kamolan melaporkan apa yang sudah tejadi. Dan ternyata kemudian bersamaan dengan hilangnya tubuh Jaka Linglung yang telah mati, hutan Klampis berubah menjadi padang tandus yang luas yang di dalamnya ada rawa-rawa lumpur seperti Bledug Kuwu. Padang tandus tersebut dinamakan Kesanga.

Galeri Foto











Begitulah cerita legenda terjadinya Bledug Kuwu. Ada banyak pelajaran kearifan lokal yang dapat kita petik dari cerita tersebut. Di antaranya adalah, bahwa seorang pemimpin haruslah dapat menjadi pelindung, pengayom dan menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya, bukan sebaliknya justru mencelakai, dan membuat rakyatnya hidup dalam ketakutan dan kekurangan. Seorang pemimpin harus bijaksana, berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam memberikan tugas kepada anak buahnya. Jangan sampai perintahnya justru dapat ditafsirkan mengadu domba antar anak buahnya. Boleh saja seorang anak buah mematuhi perintah atasannya, tetapi tidak boleh patuh buta, semuanya harus dipertimbangkan baik buruknya bagi kemaslahatan bersama. Selain itu, kalau kita mau menggali, masih banyak hikmah pelajaran yang dapat kita petik dari legenda Terjadinya Bledug Kuwu.

Related posts:

No response yet for "BOYONG PENGANTIN MAMPIR KE BLEDUG KUWU, KRADENAN, GROBOGAN"

Post a Comment