Padusan Di Obyek Mata Air Cokro (OMAC) Tulung Klaten

PADUSAN DI OBYEK MATA AIR COKRO (OMAC)
 TULUNG KLATEN

Oleh: Sutardi MS Dihardjo

Satu hari atau dua hari menjelang bulan Puasa umat Islam di Kabupaten Klaten (mungkin juga di daerah lain) mempunyai tradisi melakukan ritual padusan, yaitu  sesuci atau membersihkan badannya dengan mandi keramas atau mengguyur seluruh tubuhnya dengan air bersih sebagai persiapan untuk menjalankan ibadah puasa. Ritual ini memang hanyalah tradisi, bukan syariat yang bisa membatalkan sahnya puasa kalau tidak dilakukan. Tetapi bagi yang sudah biasa melakukannya setiap tahun, rasanya kurang afdol menjalankan ibadah puasa kalau tidak didahului dengan padusan. Dengan melakukan padusan kita tidak hanya mempersiapkan datangnya bulan puasa secara batin (dengan niat, keikhlasan dan kegembiraan memasuki bulan Ramadhan) tetapi juga secara lahir. Diharapkan dengan lahiriah kita yang bersih suci kita akan lebih mantap melakukan ibadah puasa untuk mensucikan batin kita.

Ritual padusan dapat dilakukan di rumah di kamar mandi atau di luar rumah, seperti di belik (bak mata air yang ada di pinggir sungai),  di sendang, di pancuran atau di umbul (mata air besar). Karena umbul sekarang banyak yang sudah dibangun menjadi kolam renang, maka padusan juga dapat dilakukan di kolam renang.

Kabupaten Klaten, mungkin sebagai berkah adanya Gunung Merapi yang banyak ditumbuhi hutan lebat sebagai  penangkap dan penyimpan air hujan, maka di lereng-lerengnya banyak kita temui mata air. Air jernih yang memancar tersebut sebelum mengalir sebagai sungai untuk mengoncori tanah pertanian, sebelumnya ditampung di dalam umbul atau sendang. Dapat dipergunakan untuk kolam renang atau untuk air minum, dialirkan lewat pipa-pipa. Air minum di wilayah Solo atau Surakarta juga diambil dari umbul Cokro Tulung, dialirkan lewat pipa-pipa panjang. Bahkan air mineral Aqua juga diambil dari sumber air di Polanharjo Klaten.

Banyak umbul di Kabupaten Klaten yang kemudian dimanfaatkan untuk kolam renang dan dijadikan obyek wisata. Dapat disebutkan di sini yang besar yang sudah dijadikan obyek wisata anatara lain Obyek Mata Air Cokro (OMAC) Tulung, Umbul Ponggok, Umbul Jala Tunda, Umbul Pluneng, Umbul Brintik, Umbul Si-Nongko. Di samping yang sudah disebutkan tadi sebetulnya masih banyak lagi umbul-umbul yang lain yang sekarang sedang dibenahi masyarakat desa di sekitarnya untuk dijadikan destinasi wisata. Selain itu banyak pula kolam-kolam renang buatan yang airnya mengambil dari umbul-umbul tersebut, dialirkan lewat pipa ke kolam.

Pada hari-hari padusan umbul-umbul dan kolam-kolam renang tersebut ramai dikunjungi para wisatawan domestik untuk melakukan ritual padusan. Sebagai obyek wisata  umbul-umbul tersebut menjadi bertambah ramai karena banyaknya pengunjung yang sekedar ingin berwisata, karena di tempat itu selain bisa melihat orang dari berbagai penjuru berdatangan, juga dapat melihat pertunjukan terbuka yang biasa di gelar pada saat seperti itu. Band, dangdut ataupun campur sari biasa digelar oleh panitia untuk lebih memeriahkan dan menarik pengunjung.

Obyek Mata Air Cokro (OMAC)

Dari  sekian banyak umbul atau mata air yang dijadikan tujuan wisata di Kabupaten Klaten, OMAC di Cokro Tulung adalah yang terbesar dan teramai. Bahkan ritual padusan secara simbolik yang dilakukan Pemda Klaten di pusatkan di OMAC Cokro Tulung ini.

Obyek Mata Air Cokro Tulung sebagai tempat pemandian sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Namun kini ditata lebih baik lagi, dilengkapi dengan Water Boom, Flying fox (meluncur dari ketinggian di atas water sliding), Water Sliding (meluncur ke dalam air dan mengikuti arus air). Kolam renangnya pun ditata sedemikian rupa dalam berbagai kategori. Ada untuk anak-anak yang dilengkapi dengan mandi bola (mandi beneran dengan air yang ditaburi bola, bukan mandi dalam tumpukan bola tanpa air seperti di pasar malam). Ada untuk remaja dan dewasa. Dan ada pula yang berupa sungai yang jernih airnya. Pengunjung pun bias menyewa ban yang disediakan penyelenggara.

Obyek Mata Air Cokro yang memilki luas + 15.000 m2 memang sangat indah dan nyaman dijadikan tempat untuk rekreasi, berfoto selfi, karena obyek wisata ini terletak di tebing sungai busur yang membentang dari utara ke selatan. Tanahnya ada yang di bawah, ada yang di atas, dan ada yang di tempat lebih atas lagi. Kolam renang ada di semua tingkat. Tanahnya berundak-undak, di sana-sini mengalir sungai dengan airnya yang bersih, jernih dan dingin karena baru saja memancar dari mata air. Sungai-sungai ini juga dijadikan kolam renang yang pada hari-hari besar juga dipenuhi pengunjung. Suasana di tepi sungai sangat nyaman untuk bersantai karena diteduhi pohon-pohon besar, tinggi dan rindang.

Untuk memasuki obyek wisata ini pengunjung dapat lewat jembatan goyang yang terbuat dari kayu sepanjang 25 meter dengan ketinggian 10 meter, yang kalau dilewati bergoyang-goyang. Apalagi kalau yang lewat banyak orang. Sungguh mengasyikkan dan mendebarkan! Atau lewat jembatan di bawah yang dekat dengan air sungai yang mengalir jernih.

Berbeda dengan di kolam renang buatan, di Obyek Mata Air Cokro ini airnya  yang jernih selalu berganti karena memang dialirkan dari mata air alam. Sehingga pengunjung tidak perlu takut akan tertular penyakit pengunjung yang lain.

Fasilitas bagi pengunjung juga lengkap. Tempat bilas dan ganti pakaian pun disediakan. MCK bagi pengunjung yang kebelet juga ada. Untuk beribadah jika tiba waktunya juga disediakan masjid. Untuk keamanan pengunjung juga ada posko keamanan dengan petugas yang siap membantu.
Kalau setelah berenang pengunjung merasa lapar, di tepi-tepi kolam banyak dijajakan berbagai makanan di bawah payung yang dikembangkan penjual. Pengunjung dapat menikmati makanan yang disukai sambil duduk mengawasi keluarganya yang masih asyik berenang-renang. Bisa juga makan bekal yang dibawa dari rumah atau makanan yang dipesan di salah satu warung, sambil bersantai di bawah pohon rindang nan teduh, sambil dibelai angin semilir sejuk. Atau ingin ganti pakaian baru? Atau ingin membeli pakaian sebagai kenang-kenangan? Di tepi kolam pun sudah ada penjual menawarkan bermacam-macam pakaian yang sesuai dengan selera pengunjung.

Merasa sudah puas berenang, pengunjung ingin ganti suasana? Pengunjung dapat ikut beramai-ramai menikmati sajian musik yang digelar panitia. Tidak hanya pada waktu padusan saja sajian ini digelar, tetapi juga dapat dinikmati pada hari-hari libur, hari-hari besar seperti Tahun Baru dan Lebaran. Pengunjung dapat ikut berjoget dengan iringan lagu-lagu dangdut atau lagu campur sari atau tembang kenangan.

Padusan di OMAC

Ritual padusan di Obyek Mata Air Cokro secara simbolik dilakukan oleh Bupati Klaten dengan memandikan Mas dan Mbak Klaten yang terpilih tahun itu. Mas dan Mbak sebagai duta wisata yang diharapkan dapat membantu mempromosikan wisata di Kabupaten Klaten memperoleh kehormatan dimandikan oleh Bapak/Ibu Bupati dan para pejabat di Kabupaten Klaten. Ritual didahului dengan laporan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klaten, kemudian pidato sambutan Bupati Klaten. Baru setelah itu Mas dan Mbak Klaten menempatkan diri di tepi umbul tempat ritual untuk dimandikan. Bupati pun lalu mengguyur Mas dan Mbak dengan air umbul menggunakan gayung yang sudah disediakan panitia.

Untuk tahun 2014 dan 2015 karena bupati Klaten adalah Bapak H. Sunarno, SE, M.Hum, maka ritual dilakukan oleh Bapak H. Sunarno, SE, M.Hum. Kemudian diikuti Ibu Hj. Mulyani selaku istri bupati, baru kemudian diikuti para pejabat yang lainnya.  Tetapi karena tahun 2016 ini bupati Klaten adalah Ibu Hj. Sri Hartini, SE dan wakilnya adalah  Ibu Hj. Mulyani, maka ritual memandikan Mas dan Mbak Klaten tentunya akan dimulai dari Ibu Bupati Hj. Sri Hartini, SE, kemudian diikuti Ibu Hj. Mulyani, baru kemudian diikuti para pejabat yang lainnya.

Ritual padusan di OMAC tahun ini akan dilakukan pada hari Minggu tanggal 5 Juni 2016. Maka kepada para pembaca yang berminat mengikuti ritual ini, untuk persiapan ibadah puasa, sekaligus berekreasi di obyek wisata OMAC dipersilakan datang di Obyek Mata Arir Cokro Tulung Klaten. Tiket masuk ke lokasi hanya Rp. 7.500,- Tetapi mungkin pada hari-hari besar dimana di lokasi disajikan pertunjukan musik dengan mengundang penyanyi-penyanyi terkenal dari luar daerah, harga tiket agak dinaikkan sedikit. Rute perjalanan menuju obyek wisata ini pun tidak sulit, dapat di tempuh dari berbagai jurusan, yaitu dapat melalui:


  1. Klaten – Karanganom – Tulung – OMAC, atau
  2. Solo - Delanggu – Cokro – OMAC, atau
  3. Klaten – Jatinom – Tulung – OMAC, atau
  4. Boyolali – Mojosongo - Tulung – Omac


Obyek wisata ini dari kota Klaten jaraknya + 17 Km.

Galeri Foto 






Demikianlah laporan saya mengenai obyek wisata andalan Klaten Obyek Mata Air Cokro (OMAC) Tulung Klaten, semoga menambah informasi mengenai obyek wisata yang akan menarik pembaca untuk dikunjungi.

Related posts:

No response yet for "Padusan Di Obyek Mata Air Cokro (OMAC) Tulung Klaten"

Post a Comment